Anda di halaman 1dari 13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian
Menurut Bobak (2004) pre-eklampsia merupakan suatu kondisi
spesifik kehamilan dimana hipertensi terjadi setelah minggu ke-20 pada
wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal.
Menurut Sastrawinata (2005) pre-eklampsia adalah penyakit
primigravida dan jika timbul pada seorang multigravida, biasanya ada faktor
predisposisi seperti hipertensi, diabetes dan kehamilan ganda.
Menurut Mitayani (2009) pre-eklampsia adalah keadaan dimana
hipertensi disertai dengan proteinuria, edema, atau kedua-duanya yang terjadi
akibat kehamilan setelah minggu ke-20 atau kadang-kadang timbul lebih awal
bila terdapat perubahan hidatidiformis yang luas pada vili dan korialis.
Menurut Sujiyatini (2009) pre-eklampsia berat adalah suatu
komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya hipertensi 160/110
mmHg atau lebih disertai proteinuria dan/atau edema pada kehamilan 20
minggu atau lebih.
Menurut Prawirohardjo (2009) pre-eklampsia berat ialah preeklampsia dengan tekanan darah sistolik 160 mmHg dan tekanan darah
diastolik 110 mmHg disertai proteinuria lebih 5 g/24 jam.
Menurut Rukiyah (2010) pre-eklampsia berat adalah suatu komplikasi
kehamilan yang ditandai dengan timbulnya hipertensi 160/110 mmHg atau
lebih disertai proteinuria dan/atau edema pada kehamilan 20 minggu atau
lebih.
Pre-eklampsia adalah suatu keadaan yang terjadi pada ibu hamil yang
ditandai dengan tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih, yang terjadi pada
usia kehamilan 20 minggu disertai dengan proteinuria dan edema.
9

10

B. Klasifikasi
Menurut Sarwono (2009) pre-eklampsia berat dibagi menjadi dua golongan
antara lain:
1. Pre-eklampsia berat tanpa impending eklampsia
2. Pre-eklampsia berat dengan impending eklampsia
Disebut impending eklampsia bila pre-eklampsia berat disertai gejala
gejala subjektif berupa nyeri kepala hebat, gangguan visus, muntahmuntah, nyeri epigastrius, dan kenaikan progresif tekanan darah.
C. Penyebab
Menurut Bobak (2004) dalam Zuspan (1991) penyebab pre-eklampsia antara
lain:
1. Primigravida
2. Grade Multigravida
3. Janin Besar
4. Kehamilan dengan janin lebih dari satu
5. Morbid Obesitas
D. Manifestasi Klinis
Menurut Sarwono (2009) pre-eklampsia digolongkan pre-eklampsia berat bila
ditemukan salah satu atau lebih gejala sebagai berikut:
a. Tekanan darah sistolik 160 mmHg dan tekanan darah diastolik 110
mmHg. Tekanan darah ini tidak menurun meskipun ibu hamil sudah
b.
c.
d.
e.

dirawat di rumah sakit dan sudah menjalani tirah baring.


Proteinuria lebih 5 g/24 jam atau 4 + dalam pemeriksaan kualitatif
Oliguria, yaitu produksi urin berkurang dari 500 cc/24 jam.
Kenaikan kadar kreatinin plasma
Gangguan visus dan serebral: penurunan kesadaran, nyeri kepala, skotoma

dan pandangan kabur.


f. Nyeri epigastrium atau nyeri pada kuadran kanan atas abdomen (akibat
tergangnya kapsula Glisson).
g. Edema paru dan sianosis
h. Hemolisis mikroangiopatik

11
i. Trombositopenia berat: 100.000 sel/mm3 atau penurunan trombosit
dengan cepat
j. Gangguan fungsi hepar (kerusakan hepatoseluler): peningkatan kadar
alanin dan aspartate aminotrasferase
k. Pertumbuhan janin intrauterine yang terhambat
l. Sindrom HELLP (Hemolisis, Elevated, Liver, Enzymes, dan Low Plated
Count)
E. Patofisiologi
Patofisiologi pre-eklampsia menurut Bobak (2004) adalah: volume
plasma yang beredar menurun, sehingga terjadi hemokonsentrasi dan
peningkatan hematokrit maternal. Perubahan ini membuat perfusi organ
maternal menurun, termasuk perfusi ke unit janin-uteroplasenta. Vasospasme
siklik lebih lanjut menurunkan perfusi organ dengan menghancurkan sel-sel
darah merah, sehingga kapasitas oksigen maternal menurun.
Vasospasme merupakan sebagian mekanisme dasar tanda dan gejala
yang menyertai pre-eklampsia. Vasospasme merupakan akibat peningkatan
sensitivitas terhadap tekanan peredaran darah, seperti angiotensin II
kemungkinan suatu ketidakseimbangan antara prostasiklin prostaglandin dan
tromboksan A2.
Peneliti telah menguji kemampuan aspirin (suatu inhibitor
prostaglandin) untuk mengubah patofisiologi pre-eklampsia dengan
menggunakan produksi tromboksan. Investigasi pemakaian aspirin sebagai
suatu pengobatan profilaksis dan mencegah pre-eklampsia dan rasio untung
rugi pada ibu dan janin/neonatus masih terus berlangsung. Peneliti lain sedang

12
mempelajari pemakaian suplemen kalsium untuk mencegah hipertensi pada
kehamilan.
Selain kerusakan endotelial vasospasme arterial turut menyebabkan
peningkatan permeabilitas kapiler. Keadaan ini meningkatkan edema dan lebih
lanjut menurunkan volume intravaskular, mempredisposisi pasien yang
mengalami pre-eklampsia mudah menderita edema paru.
Easterling dan Benedetti menyatakan bahwa pre-eklampsia ialah suatu
keadaan hiperdinamik dimana temuan khas hipertensi dan proteinuria
merupakan akibat hiperfungsi ginjal. Untuk mengendalikan sejumlah besar
darah yang berfungsi di ginjal, timbul vasospasme ginjal sebagai suatu
mekanisme protektif, tetapi hal ini akhirnya akan mengakibatkan proteinuria
dan hipertensi yang khas untuk pre-eklampsia.
Hubungan sistem imun dengan pre-eklampsia menunjukan bahwa
faktor-faktor imunologi memainkan peran penting dalam perkembangan preeklampsia. Kebenaran protein asing, plasenta, dan janin biasa membangkitkan
respon imunologis lanjut. Teori ini didukung oleh peningkatan insiden preeklampsia-eklampsia pada ibu baru (pertama kali terpapar jaringan hamil) dan
pada ibu hamil pada pasangan baru (materi genetik yang berbeda).

13

14

F. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Mitayani (2009) pemeriksaan penunjang pre-eklampsia adalah
sebagai berikut:
a. Pemeriksaan laboratorium
1) Pemeriksaan darah lengkap dengan hapusan darah.
a) Penurunan hemoglobin (nilai rujukan atau kadar normal
hemoglobin untuk wanita hamil adalah 12-14 gr%).
b) Hematokrit meningkat (nilai rujukan 37-43 fol%).
c) Trombosit menurun (nilai rujukan 150-450 ribu/mm3)
2) Urinalisis
Ditemukan protein dalam urin
3) Pemeriksaan fungsi hati
a) Bilirubin meningkat (N=<1mg/dl)
b) LDH (Laktat Dehidrogenase) meningkat
c) Aspartat Aminom Transferase (AST) > 60 UL
d) Serum Glutamat Pirufat Transaminase (SGPT) meningkat (N=1545 U/ml)
e) Serum Glutamat Oxaloacetic trasaminase (SGOT) meningkat
(N=<31 u/l)
f) Total protein serum menurun (N=6,7-8,7 g/l)
4) Tes kimia darah
Asam Urat meningkat (N=2,4-2,7 mg/dl)
b. Radiologi
1) Ultrasonografi (USG)
Ditemukannya retardasi pertumbuhan janin intrauterus.
Pernafasan intrauterus lambat, aktifitas janin lambat, dan volume
cairan ketuban sedikit.

15
2) Kardiotografi
Diketahui denyut jantung bayi lemah.
c. Data sosial ekonomi
Pre-eklampsia berat lebih banyak terjadi pada wanita dan golongan
ekonomi rendah, karena mereka kurang mengkonsumsi makanan yang
mengandung protein dan juga kurang melakukan perawatan antenatal
yang teratur.
d. Data psikologis
Biasanya ibu pre-eklampsia ini berada dalam kondisi yang labil dan
mudah marah, ibu merasa khawatir akan keadaan dirinya dan keadaan
janin dalam kandungannya, dia takut anaknya lahir cacat atau meninggal
dunia sehingga ia takut untuk melahirkan.
G. Komplikasi
Menurut Mitayani (2009) komplikasi pre-eklampsia sebagai berikut antara
lain:
1. Pada Ibu
a. Eklampsia
b. Solusio plasenta
c. Perdarahan subkapsula hepar
d. Kelainan pembekuan darah (DIC)
e. Sindrom HELLP (Hemolisis, Elevated, Liver, Enzymes, dan Low
Platelet Count)
f. Ablasio retina
g. Gagal jatung hingga syok dan kematian
2. Pada Janin
a. Terhambatnya pertumbuhan dalam uterus
b. Pre-matur
c. Asfiksia neonatorum
d. Kematian dalam uterus
e. Peningkatan angka kematian dan kesakitan perinatal
H. Penatalaksanaan
Menurut Saifuddin (2006) penanganan untuk pre-eklampsia antara lain
sebagai berikut:
1. Keperawatan
a. Penanganan umum

16
1) Jika ibu tidak sadar atau kejang mintalah pertolongan. Segera
mobilisasi seluruh tenaga yang ada dan siapkan fasilitas tindakan
gawat darurat.
2) Segera lakukan penilaian terhadap keadaan umum termasuk tanda
vital (nadi, tekanan darah, dan pernafasan) sambil mencari riwayat
penyakit sekarang dan terdahulu dari pasien atau keluarganya.
3) Jika pasien tidak bernafas atau pernafasan dangkal
a) Periksa dan bebaskan jalan nafas
b) Jika tidak bernafas mulai ventilasi dengan masker atau balon
c) Intubasi jika perlu
d) Jika pasien bernafas, beri oksigen 4-6 liter permenit melalui
masker atau kanul nasal.
4) Jika pasien tidak sadar atau koma:
a) Bebaskan jalan nafas
b) Baringkan pada sisi kiri
c) Ukur suhu
d) Periksa apakah ada kaku tengkuk
5) Jika kejang:
a) Baringkan pada sisi kiri, tempat tidur arah kepala ditinggikan
sedikit untuk mengurangi kemungkinan aspirasi sekret, muntah
b)
c)
d)
e)

atau darah.
Bebaskan jalan nafas
Hindari jatuhnya pasien dari tempat tidur
Lakukan pengawasan ketat
Jika penyebab kejang belum diketahui tangani sebagai

eklampsia sambil mencari penyebab lainnya.


2. Medis
a. Penanganan kejang
1) Beri obat antikonvulsan.
2) Beri oksigen 4-6 liter permenit
b. Penanganan umum
1) Pasang infus dengan jarum besar (16 gauge atau lebih besar).
2) Jika tekanan diastolik lebih dari 110 mmHg berikan obat
antihipertensi sampai tekanan diastolik di antara 90-100 mmHg.
3) Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload cairan.

17
4) Kateterisasi urine untuk membantu memantau pengeluaran urine
dan proteinuria.
5) Jika jumlah urine kurang dari 30 ml/jam:
a) Hentikan Magnesium Sulfat (MgSO4) dan berikan cairan I.V
(NaCl 0,9% atau ringer laktat) pada kecepatan 1 liter/8 jam.
b) Pantau kemungkinan edema paru.
c) Auskultasi paru untuk mencari tanda-tanda edema paru.
d) Hentikan pemberian cairan I.V dan berikan diuretik misalnya
furosemid 40 mg I.V. Sekali saja jika ada edema paru.
I. Fokus Pengkajian
Menurut Mitayani (2009) Pengkajian pada ibu pre-eklampsia antara lain
sebagai berikut:
1. Identitas umum ibu
2. Data riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan dahulu
1) Kemungkinan ibu menderita penyakit hipertensi sebelum hamil
2) Kemungkinan ibu mempunyai riwayat pre-eklampsia pada
kehamilan terdahulu
3) Biasanya mudah terjadi pada ibu dengan obesitas.
4) Ibu mungkin pernah menderita penyakit ginjal kronis
b. Riwayat kesehatan sekarang
1) Ibu merasa sakit kepala di daerah frontal.
2) Terasa sakit di ulu hati/nyeri epigastrium.
3) Gangguan visus: penglihatan kabur, skotoma, dan diplopia.
4) Mual dan muntah, tidak ada nafsu makan.
5) Gangguan serebral lainnya: terhuyung-huyung, refleks tinggi,
dan tidak tenang.
6) Edema pada ekstremitas.
7) Tengkuk terasa berat.
8) Kenaikan berat badan 1 Kg seminggu.
c. Riwayat kesahatan keluarga
Kemungkinan mempunyai riwayat pre-eklampsia dan eklampsia
dalam keluarga.
d. Riwayat perkawinan
Biasanya terjadi pada wanita yang menikah di bawah usia 20 tahun
atau di atas 35 tahun.
e. Pemeriksaan fisik biologis

18
Keadaan umum: lemah.
Kepala: sakit kepala, wajah edema.
Mata: konjungtiva sedikit anemis, edema pada retina.
Abdomen: nyeri darah epigastrium, anoreksia, mual, muntah.
Ekstremitas: edema pada kaki dan tangan juga pada jari-jari.
Sistem persyarafan: hiperrefleksia, klonus pada kaki.
Genitourinaria: noliguria, proteinuria.
Pemeriksaan janin: bunyi jantung janin tidak teratur, gerakan janin
melemah.

J. Fokus Intervensi
Menurut Mitayani (2009) fokus intervensi pre-eklampsia berat adalah
sebagai berikut:
1. Kelebihan volume cairan interstisial yang berhubungan dengan
penurunan tekanan osmotik, perubahan permeabilitas pembuluh darah,
serta retensi sodium dan air.
Tujuan: volume cairan kembali seimbang.
Rencana tindakan:
a. Pantau dan catat intake dan output setiap hari
Rasional: dengan memantau intake dan output diharapkan dapat
diketahui adanya keseimbangan cairan dan dapat diramalkan
keadaan dan kerusakan glumerolus.
b. Pemantauan tanda-tanda vital, catat waktu pengisian kapiler
(Capillary Refill TimeCRT).
Rasional: dengan memantau tanda-tanda vital dan pengisian
kapiler dapat dijadikan pedoman untuk penggantian cairan atau
menilai respons dari kardiovaskuler.
c. Memantau atau menimbang berat badan ibu
Rasional: dengan memantau berat badan ibu dapat diketahui berat
badan yang merupakan indikator yang tepat untuk menentukan
keseimbangan cairan.
d. Observasi keadaan edema

19
Rasional: keadaan edema merupakan indikator keadaan cairan
dalam tubuh.
e. Berikan diet rendah garam sesuai hasil kolaborasi dengan ahli gizi
Rasional: diet rendah garam akan mengurangi terjadinya kelebihan
cairan.
f. Kaji distensi vena jugularis dan perifer
Rasional: retensi cairan yang berlebihan bisa dimanifestasikan
dengan pelebaran vena jugularis dan edema perifer.
g. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian diuretik.
Rasional: diuretik dapat meningkatkan filtrasi glomerulus dan
menghambat penyerapan sodium dan air dalam tubulus ginjal.
2. Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan hipovolemi/
penurunan balik vena.
Tujuan: agar curah jantung kembali normal
Rencana tindakan:
a. Pemantauan nadi dan tekanan darah
Rasional: dengan memantau nadi dan tekanan darah dapat melihat
peningkatan volume plasma, relaksasi vaskuler dengan penurunan
tahanan perifer.
b. Lakukan tirah baring pada ibu dengan posisi miring ke kiri
Rasional: meningkatkan aliran balik vena, curah jantung, dan
perfusi ginjal.
c. Pemantauan parameter hemodinamik invasif (kolaborasi)
Rasional: memberikan gambaran akurat dari perubahan vaskular
dan volume cairan. Konstruksi vaskular yang lama, peningkatan
dan hemokonsentrasi, serta perpindahan cairan menurunkan curah
jantung.
d. Berikan obat antihipertensi sesuai kebutuhan berdasarkan
kolaborasi dengan dokter.

20
Rasional: obat antihipertensi bekerja secara langsung pada arteriol
untuk meningkatkan relaksasi otot polos kardiovaskular dan
membantu meningkatkan suplai darah.
e. Pemantauan tekanan darah
Rasional: mengetahui efek samping yang terjadi seperti takikardi,
sakit kepala, mual, muntah, dan palpitasi.
3. Risiko cidera pada janin yang berhubungan dengan tidak adekuatnya
perfusi darah ke plasenta.
Tujuan: agar cidera tidak terjadi pada janin.
Rencana tindakan:
a. Istirahatkan ibu
Rasional: dengan mengistirahatkan ibu diharapkan metabolisme
tubuh menurun dan peredaran darah ke plasenta menjadi adekuat,
sehingga kebutuhan oksigen janin dapat terpenuhi.
b. Anjurkan ibu agar tidur miring ke kiri
Rasional: dengan tidur miring ke kiri diharapkan vena kava di
bagian kanan tidah tertekan oleh uterus yang membesar, sehingga
aliran darah ke plasenta menjadi lancar.
c. Pantau tekanan darah ibu
Rasional: dengan memantau tekanan darah ibu dapat diketahui
keadaan aliran darah ke plasenta seperti tekanan darah tinggi,
alirah darah ke plasenta berkurang, sehingga suplai oksigen ke
janin berkurang.

d. Memantau bunyi jantung ibu


Rasional: dengan memantau bunyi jantung janin lemah atau
menurun menandakan suplai oksigen ke plasenta berkurang,
sehingga dapat direncanakan tindakan selanjutnya.
e. Beri obat hipertensi setelah kolaborasi dengan dokter

21
Rasional: dengan minum obat antihipertensi akan menurunkan
tonus arteri dan menyebabkan penurunan afterload jantung
dengan vasodilatasi pembuluh darah, sehingga tekanan darah
turun. Dengan menurunnya tekanan darah, maka aliran darah ke
plasenta menjadi kuat.