Anda di halaman 1dari 15

BAB III

TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian
Pengkajian ini dilakukan pada hari Sabtu 16 Februari 2013 pukul 08.00
WIB di ruang Bougenville Rumah Sakit Umum Daerah Sukoharjo.
1. Identitas
Identitas pasien: nama Ny.K berumur 40 tahun, berjenis
kelamin perempuan, pendidikan SD, memiliki pekerjaan sebagai ibu
rumah tangga, alamat Duren, Nguter, Sukoharjo, dengan diagnosa
medis ibu hamil dengan pre-eklampsia berat, tanggal masuk 15
Februari 2013 pukul 11.00 WIB. Identitas penanggung jawab: nama
penanggung jawab adalah Tn.R, berusia 40 tahun, pendidikan terakhir
SMP, memiliki pekerjaaan wiraswata, alamat Duren, Nguter,
Sukoharjo, hubungan dengan pasien adalah suami pasien.
2. Status kesehatan klien
Keluhan utama: pasien mengatakan pusing dan nyeri kepala.
Riwayat kehamilan sekarang: pasien mengatakan ini kehamilan yang
keempat (G4.P3,A0). Selama hamil pasien memeriksakan kandungannya
2 bulan sekali, dan imunisasi lengkap. HPHT (Hari Pertama Haid
Terakhir) adalah pada tanggal 26 Juni 2012. Dan HPL (Hari Perkiraan
Lahir) adalah pada tanggal 3 April 2013.
Riwayat persalinan sekarang: pasien mengatakan ini kehamilan
anak yang keempat ini berusia 32 minggu. Riwayat haid: pasien
mengatakan menarche pertama pada usia 12 tahun, lama haid 6 hari,
siklus haid 28 hari, setiap haid kadang-kadang merasakan disminore,
pasien menikah pada usia 20 tahun, lama pernikahan 20 tahun.
26

27
3. Pola fungsional
Pola persepsi kesehatan & manajemen kesehatan: pasien
mengatakan sehat adalah bisa beraktifitas dan bisa mengurus anakanaknya. Upaya yang dilakukan pasien untuk menjaga kesehatan
makan-makanan yang bergizi dan selalu menjaga kebersihan
lingkungan.
Pola nutrisi dan metabolisme: asupan makanan; pasien
mengatakan sebelum sakit; makan 3 kali habis 1 porsi, pagi, siang, dan
sore, selama sakit; pasien mengatakan nafsu makan menurun makan 3
kali habis porsi, pagi, siang, dan sore dengan menu nasi, sayur, lauk
dan buah. Pasien tidak mempunyai alergi makanan. Tugor kulit: warna
sawo matang, tidak terdapat lesi, penyebaran rambut merata dan tidak
terdapat jaringan parut. Asupan cairan: asupan cairan yang
dikonsumsi; sebelum sakit; pasien mengatakan minum habis 6 gelas,
jumlah 1500 cc, jenisnya air putih dan air teh. Selama sakit: pasien
mengatakan minum habis 4 gelas, jumlah 1000 cc, jenisnya air putih
dan air teh, selama di rumah sakit pasien tidak mengalami mual dan
muntah.
Pola eliminasi: BAB; sebelum sakit; pasien mengatakan BAB 1
kali sehari setiap pagi, karakteristik lembek, warna kuning, bau khas
feses, tidak ada dorongan BAB, faktor yang mempengaruhi BAB
adalah jumlah makanan yang dikonsumsi. Selama sakit: pasien
mengatakan BAB 1 kali setiap pagi, karakteristik lembek, warna
kuning, bau khas feses, tidak ada dorongan BAB, faktor yang
mempengaruhi BAB adalah jumlah makanan yang dikonsumsi dari

28
rumah sakit. BAK: sebelum sakit; pasien mengatakan BAK selama
hamil sehari 8 kali pagi, siang, sore dan malam hari, berwarna kuning
jernih, bau khas amoniak, tidak ada dorongan BAK, faktor yang
mempengaruhi BAK adalah faktor intake minum yang adekuat.
Selama sakit: pasien mengatakan selama sakit BAK 5 kali pagi, siang,
sore dan malam hari berwarna kuning, bau khas amoniak, ada
dorongan BAK, faktor yang mempengaruhi BAK adalah faktor intake
cairan yang adekuat.
Pola aktifitas dan latihan: mobilisasi; masa tonus otot kiri atas
3, kanan atas 4, kanan bawah 4, kiri bawah 4, postur tubuh tegap,
rentang gerak terbatas karena terpasang infus, faktor yang
mempengaruhi rentang gerak dan latihan adalah terpasangnya infus
dan istirahat anjuran perawat dan dokter. Posisi: posisi pasien saat
dikaji dalam keadaan berbaring di tempat tidur, pasien bisa miring
kanan dan miring kiri.
Pola persepsi kognitif: pada saat dikaji pasien bisa melafalkan
huruf 1 sampai 5, maupun melafalkan mundur 5 kata MAKAN.
Memori dekat: pasien mampu mengingat kapan masuk rumah sakit,
memori jauh; pasien mampu mengingat tanggal, bulan, dan tahun lahir.
Stimulus: penglihatan pasien mampu melihat gorden yang terpasang di
jendela dengan jarak 1 meter. Pendengaran pasien mampu
mendengarkan suara dengan jelas. Pengecapan pasien mampu
membedakan rasa manis gula dan rasa asin garam. Pembau/penciuman
pasien mampu mencium bau minyak kayu putih. Peraba/sentuhan

29
pasien mampu merasakan sentuhan kasar dengan stetoskop dan
sentuhan halus dengan bolpoin. Stimulus lingkungan pasien hanya
berbaring di tempat tidur rumah sakit. Fungsi kognitif: pasien dapat
berorientasi terhadap waktu tempat dan mampu menyebutkan orang di
sekitarnya. Observasi tingkat nyeri (PQRST): pasien mengatakan nyeri
di kepala, rasanya seperti tertusuk-tusuk, dengan skala 6 (sedang),
muncul hilang timbul 1 menit lamanya.
Pola persepsi diri dan konsep diri: gambaran diri; pasien
mengatakan menyukai semua anggota tubuhnya tetapi yang paling
sering disukai adalah jari-jari tangannya. Identitas diri: pasien ia adalah
sebagai ibu rumah tangga di rumah. Peran diri: pasien mengatakan
sebagai ibu rumah tangga dan berperan sebagai ibu dan melayani
suami dengan baik. Ideal diri: pasien mengatakan ingin segera cepat
sembuh dan bisa berkumpul lagi dengan anak dan keluarga. Harga diri:
pasien mengatakan hubungan dengan keluarga sangat baik dan peran
di masyarakat juga baik terbukti keluarga, dan tetangganya yang mau
menjenguk di rumah sakit.
Pola istirahat dan tidur: sebelum sakit; pasien mengatakan
sebelum sakit tidur 2 jam pada siang hari dari pukul 12.0014.00 WIB.
Pada malam hari tidur selama 8 jam dari pukul 21.0005.00 WIB.
Pasien tidak menggunakan obat tidur. Selama sakit: pasien mengatakan
tidur 5 jam dari pukul 21.0002.00 WIB pasien tidak menggunakan
obat tidur.
Pola psikososial dan hubungan peran: pasien mengatakan peran
sosial di keluarga sebagai ibu rumah tangga baik dan di lingkungan

30
masyarakat juga baik, dibuktikan tetangganya ada yang menjenguk
pasien di rumah sakit.

Struktur Keluarga

Keterangan :
: Laki-laki meninggal

: Pasien

: Perempuan meninggal

: Tinggal serumah

: Laki-laki

: Garis keturunan

: Perempuan
Pola reproduksi dan seksual: riwayat perkawinan; pasien
mengatakan usia pada waktu menikah pada waktu menikah usia 20
tahun, menikah 1 kali lama pernikahan 20 tahun. Riwayat reproduksi:
pasien mengatakan saat menstruasi pertama pada usia 12 tahun,
lamanya 6 hari, siklus haid 28 hari, pasien kadang-kadang mengalami

31
disminore. Pola seksual: pasien mengatakan selama di rumah sakit pola
seksual dengan suaminya harmonis.
Pola koping dan toleransi terhadap stress. Faktor penyebab
stress, pasien mengatakan penyebab stress adalah jika pasien
kecapekan, akibat dari respon dengan koping pasien tersebut adalah:
pasien mengatakan selama sakit butuh ditemani keluarga untuk
menghindari stress dan pasien berharap segera sembuh.
Pola keyakinan dan nilai: pandangan pasien mengenal agama;
pasien percaya kepada Alloh SWT dan menjadi pedoman kehidupan,
pasien mengatakan beragama Islam. Sebelum sakit: pasien rajin
menjalankan sholat 5 waktu, selama sakit; pasien mengatakan saat ini
sedang tidak sholat 5 waktu karena sedang sakit.
4. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum pasien lemah, kesadaran Glasglow Coma Scale
(GCS) pasien 15, TTV (Tanda-tanda vital): tekanan darah; 160/140
mmHg, suhu; 36oC, RR; 24 x/menit, Nadi; 80 x/menit. Kulit: inspeksi;
berwarna coklat sawo matang, tidak terdapat lesi. Rambut: penyebaran
merata, warna hitam. Palpasi: tidak ada nyeri tekan capilary refile >1
detik. Kepala: inspeksi; rambut warna hitam, bentuk mesochepal,
penyebaran rambut tidak merata. Palpasi: tidak ada nyeri tekan, tidak
ada lesi.
Mata: inspeksi; simetris, sklera berwarna putih, konjungtiva
anemis, tidak terdapat penumpukan kelenjar lakrimalis, kornea
berwarna hitam, pupil berukuran 1 mm, bereaksi terhadap cahaya,
mengecil saat terdapat cahaya. Telinga: inspeksi; berwarna sawo

32
matang, bentuk simetris, berukuran sedang, bersih, tidak ada
penumpukan serumen, pendengaran berfungsi baik. Hidung: inspeksi;
berwarna sawo matang, ukuran lubang kanan dan kiri sama. Perkusi:
tidak teraba nyeri tekan pada sinus, fungsi penciuman baik.
Mulut dan tenggorokan: inspeksi; bibir berwarna merah muda,
tidak terdapat lesi, mukosa bibir lembab, rongga mulut bersih, lidah
bersih, gusi berwarna merah muda, jumlah gigi 32 buah, tidak terdapat
pembesaran kelenjar pada tenggorokan tidak terdapat vena jugularis,
tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid.
Leher: inspeksi; berwarna sawo matang, tidak terdapat lesi,
tidak terdapat jaringan parut. Dada: inspeksi; berwarna coklat sawo
matang, palpasi; pengembangan paru sama, perkusi; sonor, auskultasi;
vesikuler. Payudara: inspeksi; ukuran simetris, warna kulit sawo
matang, kontur kencang, puting simetris, arah puting keluar
(vollunter), belum ada pengeluaran ASI.
Abdomen: inspeksi; kulit abdomen berwarna sawo matang,
tidak terdapat lesi, terdapat striae. Auskultasi: peristaltik usus 18
x/menit. Palpasi: leopold; letak TFU 4 jari di bawah px, leopold II;
letak punggung janin di kiri (puki), leopold III; presentasi kepala,
leopold IV; kepala belum masuk PAP (Pintu Atas Panggul), DJJ 140
x/menit, perkusi; tympany. Ekstremitas: ekstremitas atas; dapat
digerakkan, tidak terdapat oedem, tangan kiri terpasang infus,
ekstremitas bawah; dapat digerakan bebas, tidak terdapat oedem.

33

5. Pemeriksaan penunjang
Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 15 Februari 2013 Jam
16.00 WIB: RBC; 4,53 12/l, MCV; 80,5 f/l, HCT; 36,5 %, PLT; 106
10g/l, PDW; 13,0 %, PCT; 0,08 %, WBC; 9,1 10g/l, HGB; 11,4 g/dL,
MCH; 25,3 pg, MCHC; 31,4 10g/L, kimia protein; +2, golongan darah;
A, HbsAg; (negatif). Terapi tanggal 15 Februari 2013: Nifedipin 3x1
10 mg, MgSo4 2x3 gr bokong kanan kiri, assering 20 tpm makro.
B. Diagnosa Keperawatan
Langkah-langkah penulisan diagnosa keperawatan melalui beberapa
tahapan yaitu pengumpulan data fokus, merumuskan analisa data, dan
memprioritaskan diagnosa keperawatan. Tahap-tahap penyusunan sebagai
berikut:
1. Data fokus
Data subjektif: pasien mengatakan pusing. Pasien mengatakan
lemah. Pasien mengatakan nyeri skala 6, P: nyeri kepala, Q; rasanya
tertusuk-tusuk, R; di kepala, S; 6 (sedang), T; hilang timbul 1 menit.
Pasien mengatakan jantungnya berdebar. Pasien mengatakan belum
mengetahui tentang penyakitnya.
Data objektif: pasien pusing memegangi kepala. Pasien terlihat
lemah. Pasien jantungnya berdebar. Tanda-tanda vital: tekanan darah;
160/140 mmHg, suhu; 36o C, respirasi; 24 x/menit, nadi: 80 x/menit.
Pasien lulusan SD. Pasien menggelengkan kepala saat ditanya tentang
pre-eklampsia berat.
2. Analisa data

34
Analisa data berdasarkan pengelompokan data pada tanggal 16
Februari 2013 dirumuskan diagnosa keperawatan dengan analisis suatu
masalah sebagai berikut:
a. Data subjektif: pasien mengatakan pusing. Pasien mengatakan
lemah. Pasien mengatakan nyeri skala 6, P: nyeri kepala,
Q; rasanya tertusuk-tusuk, R; di kepala, S; 6 (sedang), T; hilang
timbul 1 menit. Pasien mengatakan jantungnya berdebar. Data
objektif: pasien pusing memegangi kepala. Pasien terlihat lemah.
Pasien jantungnya berdebar. Tanda-tanda vital: tekanan darah;
160/140 mmHg, suhu; 36o C, respirasi; 24 x/menit, nadi; 80
x/menit. Problem: gangguan perfusi jaringan. Etiologi: penurunan
curah jantung.
b. Data subjektif: pasien mengatakan belum mengetahui tentang
penyakitnya. Data objektif: pasien lulusan SD. Pasien
menggelengkan kepala saat ditanya tentang pre-eklampsia berat.
Problem: kurangnya pengetahuan. Etiologi: kurangnya informasi.

3. Prioritas diagnosa keperawatan


Berdasarkan analisa data di atas dapat diprioritaskan masalah
keperawatan sebagai berikut:
a. Diagnosa keperawatan I: gangguan perfusi jaringan berhubungan
dengan penurunan curah jantung, yang ditandai dengan: data

35
subjektif; pasien mengatakan pusing. Pasien mengatakan lemah.
Pasien mengatakan nyeri skala 6, P; nyeri kepala, Q; rasanya
tertusuk-tusuk, R; di kepala, S; 6 (sedang), T; hilang timbul 1
menit. Pasien mengatakan jantungnya berdebar. Data objektif:
pasien pusing memegangi kepala. Pasien terlihat lemah. Pasien
jantungnya berdebar. Tanda-tanda vital: tekanan darah; 160/140
mmHg, suhu; 36o C, respirasi; 24 x/menit, nadi; 80 x/menit.
b. Diagnosa keperawatan II: kurangnya pengetahuan berhubungan
dengan kurangnya informasi, yang ditandai dengan: data subjektif;
pasien mengatakan belum mengetahui tentang penyakitnya. Data
objektif: pasien lulusan SD. Pasien menggelengkan kepala saat
ditanya tentang pre-eklampsia berat.

C. Perencanaan
Diagnosa I: gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan
penurunan curah jantung, yang ditandai dengan: data subjektif; pasien
mengatakan pusing. Pasien mengatakan lemah. Pasien mengatakan nyeri
skala 6, P; nyeri kepala, Q; rasanya tertusuk-tusuk, R; di kepala, S; 6
(sedang), T; hilang timbul 1 menit. Pasien mengatakan jantungnya
berdebar. Data objektif: pasien pusing memegangi kepala. Pasien terlihat
lemah. Pasien jantungnya berdebar. Tanda-tanda vital: tekanan darah;
160/140 mmHg, suhu; 36o C, respirasi; 24 x/menit, nadi; 80 x/menit.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x60 menit pasien

36
tidak pusing, ekspresi wajah rileks, dengan kriteria hasil: 1. pusing
berkurang, 2. jantung tidak berdebar, 3. nyeri berkurang skala 1 sampai 3,
4. tanda-tanda vital; tekanan darah; 120/80 mmHg, suhu; 36,5o C, nadi; 60100 x/menit, respirasi; 16-24 x/mmHg. Rencana tindakan yang disusun
untuk mengatasi masalah tersebut antara lain sebagai berikut: 1. pantau
keadaan umum, 2. pantau tanda-tanda vital, 3. ajarkan teknik nafas dalam,
4. beri posisi yang nyaman, 5. masase pijatan di kepala, 6. ciptakan
lingkungan yang nyaman, 7. laksanakan advise dokter dalam pemberian
terapi Nifedipin 3x1 mg.
Diagnosa keperawatan II: kurangnya pengetahuan berhubungan
dengan kurangnya informasi yang ditandai dengan: data subjektif; pasien
mengatakan belum mengetahui tentang penyakitnya. Data objektif: pasien
lulusan SD. Pasien menggelengkan kepala saat ditanya tentang preeklampsia berat. Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
1x60 menit pasien mengetahui tentang penyakitnya, dengan kriteria hasil:
pasien dapat menjelaskan ulang tentang pre-eklampsia berat. Rencana
tindakan yang disusun untuk mengatasi masalah tersebut antara lain
sebagai berikut: 1. kaji tingkat pengetahuan pasien, 2. beri pendidikan
kesehatan tentang pre-eklampsia berat.

D. Implementasi
Berdasarkan rencana tindakan yang telah disusun, implementasi yang
dilakukan antara lain:
Implementasi diagnosa I pada tanggal 16 Februari 2013 pukul
08.00 WIB, mengkaji TTV, respon subjektif: -, respon objektif; S; 36o C,

37
TD; 160/140 mmHg, RR; 24 x/menit, N; 80 x/menit. Pukul 09.00 WIB,
mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam. Respon subjektif: pasien
mengatakan nyeri skala 5, P; nyeri di kepala, Q; rasanya tertusuk-tusuk,
R; di kepala, S; skala 5 (sedang), T; hilang timbul 1 menit. Respon
objektif: pasien pusing memegangi kepala.
Implementasi diagnosa II pada pukul 10.00 WIB, mengkaji
pengetahuan pasien. Respon subjektif: pasien mengatakan belum
mengetahui tentang penyakitnya. Respon objektif: pasien menggelengkan
kepala saat ditanya tentang pre-eklampsia berat. Pukul 11.00 WIB,
memberikan pendidikan kesehatan tentang pre-eklampsia berat. Respon
subjektif: pasien mengatakan bersedia untuk diberi pendidikan kesehatan.
Respon objektif: pasien mendengarkan dan terlihat memperhatikan. Pukul
11.30 WIB, mendiskusikan dengan pasien. Respon subjektif: pasien
mengatakan paham tentang pre-eklampsia berat. Respon objektif: pasien
terlihat tenang. Pukul 11.45 WIB, mengevaluasi pengetahuan pasien
tentang pre-eklampsia berat. respon subjektif: pasien dapat menjawab
dengan benar. Respon objektif: pasien terlihat tenang. Pukul 12.00 WIB,
memotivasi pasien untuk melakukan tindakan keperawatan. Respon
subjektif: pasien mengatakan bersedia. Respon objektif: pasien pusing
memegangi kepala.
Implementasi diagnosa I pada tanggal 17 Februari 2013 pukul
08.30 WIB, mengkaji TTV, respon subjektif: -. respon objektif; S; 37o C,
TD; 150/110 mmHg, RR; 24 x/menit, N; 94 x/menit. Pukul 09.30 WIB,
memantau keadaan umum. Respon subjektif: -. Respon objektif: pasien
terlihat membaik. Pukul 08.30 WIB, mengajarkan teknik nafas dalam.

38
Respon subjektif: pasien mengatakan nyeri skala 5, P; nyeri di kepala,
Q; rasanya tertusuk-tusuk, R; di kepala, S; skala 5 (sedang), T; hilang
timbul 2 menit. Respon objektif: pasien pusing memegangi kepala.
Pukul 10.30 WIB, beri posisi yang nyaman, respon subjektif; pasien
mengatakan pusing, respon objektif: pasien pusing memegangi kepala.
Pukul 11.30 WIB, melaksanakan advise dokter dalam pemberian terapi
nifedipin 3x1 10 mg, respon subjektif: pasien mengatakan pusing
berkurang, respon objektif: pasien sedikit pusing memegangi kepala.
Pukul 12.00 WIB, mengkaji TTV, respon subjektif: -, respon objektif; TD;
150/100 mmHg, S; 36,5o C, RR; 24 x/menit, N; 94 x/menit.
Implementasi diagnosa I pada tanggal 18 Februari 2013 pukul
08.00 WIB, pantau keadaan umum. Respon subjektif: -, respon objektif;
pasien terlihat membaik. Pukul 08.15 WIB, mengkaji TTV: TD; 150/110
mmHg, S; 37o C, RR; 24 x/menit, N; 92 x/menit. Pukul 08.30 WIB,
melaksanakan advise dokter dalam pemberian terapi nifedipin 3x1 10 mg,
respon subjektif: pasien mengatakan pusing berkurang, respon objektif;
pasien sedikit pusing memegangi kepala. Pukul 10.00 WIB, mengajarkan
teknik nafas dalam. Respon subjektif: pasien mengatakan nyeri skala 4,
P; nyeri di kepala, Q; rasanya tertusuk-tusuk, R; di kepala, S; Skala 4
(sedang), T; hilang timbul 5 menit, respon objektif; pasien sedikit pusing
memegangi kepala. Pukul 10.30 WIB, memasase pijatan di kepala. Respon
subjektif: pasien mengatakan pusing berkurang, respon objektif: pasien
sedikit pusing memegangi kepala. Pukul 11.30 WIB, mengkaji TTV,

39
respon subjektif: -, respon objektif: TD; 160/110 mmHg, S; 36o C, RR; 22
x/menit, N; 90 x/menit.

E. Evaluasi
Berdasarkan Implementasi yang dilakukan pada tanggal 16-18 Februari
2013 dapat dideskripsikan suatu evaluasi tindakan keperawatan sebagai
berikut:
Evaluasi tanggal 16 Februari 2013. Diagnosa I: subjektif: pasien
mengatakan nyeri skala 5, P; nyeri di kepala. Q; rasanya tertusuk-tusuk,
R; di kepala, S; skala 5 (sedang), T; hilang timbul 1 menit. Objektif:
pasien pusing memegangi kepala, TD; 160/140 mmHg, S; 36o C, RR; 24
x/menit, N; 80 x/menit. Analisa: masalah belum teratasi. Planning: kaji
TTV. Pantau keadaan umum. Ajarkan teknik nafas dalam. Beri posisi yang
nyaman. Laksanakan advise dokter dalam pemberian terapi nifedipin 3x1
10 mg.
Diagnosa II: subyektif; pasien mengatakan bersedia untuk diberi
pendidikan kesehatan, pasien mengatakan paham tentang pre-eklampsia
berat, pasien dapat menjawab dengan benar. Objektif: pasien
mendengarkan dan terlihat memperhatikan, pasien terlihat tenang. Analisa:
masalah teratasi. Planning: intervensi dipertahankan.
Evaluasi tanggal 17 Februari 2013. Diagnosa I: subjektif; pasien
mengatakan nyeri skala 5, P; nyeri di kepala, Q; rasanya tertusuk-tusuk,
R; di kepala, S; skala 5 (sedang), T; hilang timbul 2 menit, pasien
mengatakan pusing berkurang. Objektif: pasien terlihat membaik, pasien

40
sedikit pusing memegangi kepala, TD; 150/100 mmHg, S; 36,5o C, RR; 24
x/menit, N; 94 x/menit. Analisa: masalah belum teratasi. Planning: pantau
keadaan umum. Kaji TTV. Ajarkan teknik nafas dalam. Massase pijatan di
kepala. Laksanakan advise dokter dalam pemberian terapi nifedipin 3x1 10
mg.
Evaluasi tanggal 18 Februari 2013. Diagnosa I: subjektif: pasien
mengatakan pusing berkurang. Pasien mengatakan nyeri skala 4, P; nyeri
di kepala, Q; rasanya tertusuk-tusuk, R; di kepala, S; skala 4 (sedang),
T; hilang timbul 5 menit. objektif: pasien terlihat membaik. TD: 160/110
mmHg, S; 36o C, RR; 22 x/menit, N; 90 x/menit. Analisa: masalah belum
teratasi. Planning: pantau keadaan umum. Kaji TTV. Ajarkan teknik nafas
dalam. Ciptakan lingkungan yang nyaman. Laksanakan advise dokter
dalam pemberian terapi nifedipin 3x1 10 mg.