Anda di halaman 1dari 9

Artikel Program Unggulan

Pembuatan Database Kependudukan Gendu Untuk Mewujudkan


Slogan Desa Yaitu Bebas Buang Air Besar Sembarangan
Disusun Oleh:
Kelompok KKN ND69

Kependudukan merupakan hal yang berkaitan dengan jumlah, pertumbuhan,


persebaran,

mobilitas,

penyebaran,

kualitas,

kondisi

kesejahteraan,

yang

menyangkut politik, ekonomi, sosial, budaya, agama serta lingkungan ( UU No. 23 Th


2006).
Aspek kependudukan merupakan hal paling mendasar dalam pembangunan. Dalam
nilai universal, penduduk merupakan pelaku dan sasaran pembangunan sekaligus yang
menikmati hasil pembangunan. Dalam kaitan peran penduduk tersebut, kualitas mereka
perlu ditingkatkan melalui berbagai sumber daya yang melekat, dan pewujudan keluarga
kecil yang berkualitas, serta upaya untuk menskenario kuantitas penduduk dan persebaran
kependudukan dan jika tidak terorganisir dengan baik akan berakibat pada masalah
kependudukan.
Selain itu masalah lingkungan adalah persoalan yang timbul sebagai akibat dari
berbagai gejala alam. Dalam arti ini masalah lingkungan adalah sesuatu yang melekat pada
lingkungan itu sendiri, dan sudah ada sejak alam semesta ini, khususnya bumi dan segala
isinya diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Namun, tidak semua masalah lingkungan itu
disebabkan oleh ejala alam, malah sebagian besar terjadi ulah tangan manusia. Dalam arti
ini masalah lingkungan adalah sesuatu yang melekat pada lingkungan itu sendiri, dan sudah
ada sejak alam semesta ini, khususnya bumi dan segala isinya diciptakan oleh Tuhan Yang
Maha Esa maupun karena sesuatu yang disebabkan oleh manusia sendiri..
Masalah kependudukan dan masalah lingkungan hidup merupakan masalah yang
cukup mendapat perhatian dunia. Masalah kependudukan mendapat perhatian karena
dikhawatirkan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan manusia itu sendiri

beserta lingkungannya. Kelestarian lingkungan hidup yang menyangkut kawasan laut, darat
dan udara dipantau terus karena pada akhir-akhir ini menunjukkan gejala kemerosotan
makin meningkat dari tahun ke tahun.
Indonesia adalah salah satu negara yang tidak luput dari masalah kependudukan.
Pertambahan penduduk yang cepat, penyebaran penduduk yang tidak merata dan kualitas
penduduk yang rendah merupakan ciri-ciri masalah kependudukan di Indonesia.
Pertumbuhan penduduk yang cepat (lebih dari 2%), akan mengakibatkan terjadinya struktur
penduduk muda sehingga akan ketergantungan tinggi. Beberapa langkah telah dilakukan
untuk mengatasi masalah kependudukan tersebut, diantaranya program keluarga berencana
dan pendidikan kependudukan.
Salah satu pertemuan di Pounex, Swiss, menyimpulkan bahwa masalah lingkungan
tidak saja disebabkan oleh kemajuan melainkan juga oleh keterbelakangan dan kemiskinan.
Masalah lingkungan yang akhir ini misalnya penyakit menular yang disebabkan oleh
lingkungan yang kotor dan erosi yang disebabkan karena kerusakan hutan. Sementara di
negara maju kerusakan lingkungan disebabkan oleh kurang atau tidaknya adanya
pembangunan. Oleh karena itu, tanpa pembangunan masalah lingkungan justru akan
menjadi makin parah. Selain itu masalah lingkungan yang menjadi perhatian khusus
adalah pencemaran lingkungan akibat sampah dan buang air besar sembarangan.
Sampai saat ini masih banyak masyarakat yang terbiasa untuk buang hajat di
sembarangan tempat, seperti di kebun, empang, sungai dan bahkan dilahan terbuka
disekitar rumah tinggal. Berbagai program telah dilakukan untuk mengatasi masalah
tersebut, namun hasilnya masih belum menunjukan hal yang menggembirakan. Beberapa
faktor yang menyebabkan kegagalan beberapa program sanitasi diantaranya adalah opsi
teknologi terbatas dan relatif mahal (300 ribu sampai 1.6 juta rupiah). Dana bergulir yang
terlalu mahal mengakibatkan target pembangunan untuk masyarakat miskin menjadi tidak
tercapai. Selain itu pendekatan dana bergulir untuk sanitasi rawan macet karena seringkali
masyarakat menganggap itu sebagai dana gratis, serta faktor strategi promosi kurang
berhasil menimbulkan motivasi atau kebutuhan sanitasi. Pendekatan dari aspek kesehatan
sering kali tidak dapat secara langsung menggerakkan masyarakat untuk mau membuat
jamban.

Mengacu pada target MDGs tujuan ke 7 di mana setiap negara memastikan


keberlanjutan lingkungan hidup, maka semua negara harus dapat mengurangi separuh
proporsi penduduk tanpa akses berkelanjutan pada air minum yang aman dan sanitasi dasar
di tahun 2015. Begitu pula halnya dengan Indonesia yang harus mencapai target MDGs
pada tahun 2015 nanti.
Langkah Indonesia akan terasa lebih berat karena berdasarkan data, posisi Indonesia
dari target MDGs masih jauh. Data Kementerian Kesehatan menyebutkan, untuk target
MDGs masalah sanitasi, Indonesia berada pada posisi pencapaian 55,6 persen dari target
62,41 persen. Sedangkan untuk target MDGs masalah air minum, Indonesia baru mencapai
42,76 persen dari trget MDGs 68,8 persen.
Program pembuatan database kependudukan padukuhan Gendu dilakukan karena
data kependudukan setiap waktu dapat berubah dapat berupa penambahan dan pengurangan
jumlah penduduk. Hal ini dapat mempengaruhi keseharian dan program yang diusung
pemerintah untuk daerah itu. Selain itu monitoring data kependudukan sangan diperlukan
untuk acuan program selanjutnya dan untuk meningkatkan akses jumlah warga miskin
perdesaan dan pinggiran kota yang dapat terlayani perbaikan pelayanan sanitasi dan
fasilitas air minum meningkatkan nilai dan perilaku hidup bersih dan sehat.
Salah satu komponen dari Program pembuatan database kependudukan adalah
Komponen Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dan

layanan hygiene dan

sanitasi. Melalui komponen ini diharapkan dapat membantu masyarakat dan institusi local
dalam pencegahan dampak sanitasi buruk dan air yang tidak bersih, yang berpotensi
mengakibatkan penyakit berbasis air dan lingkungan terutama diare. Tujuan dari komponen
kesehatan sendiri adalah meningkatkan kapasitas dan kemampuan masyarakat serta
pemerintah daerah dalam

merencanakan dan melaksanakan program pengembangan

cakupan sanitasi melalui pengembangan jamban keluarga dan pembangunan sarana sanitasi
di sekolah / tempat ibadah serta memperluas manfaat kesehatan yang dirasakan melalui
pengembangan sarana air bersih dan sanitasi serta perilaku hidup bersih dan sehat untuk
mewujudkan slogan Bebas Buang Air Besar Sembarangan.
Melalui pendataan guna pembuatan database kependudukan, pendataan ketersediaan
sanitasi pada setiap kepala keluarga, dan pengenalan slogan diatas merupakan suatu

pendekatan partisipatif yang mengajak masyarakat untuk mengalisa kondisi sanitasi mereka
sehingga masyarakat dapat berpikir dan mengambil tindakan untuk meninggalkan
kebiasaan buang air besar mereka yang masih di tempat terbuka dan sembarang tempat dan
dapat menjadi pertimbangan pemerintah untuk merealisasikan program tersebut.
Hal yang dilakukan dalam pembuatan database kependudukan adalah mendatangi
setiap rumah penduduk dan mendata identititas semua anggota keluarga yang meliputi :

Nama

Status

Tempat dan tanggal lahir

Pendidikan terakhir

Profesi

Sumber air

Sanitasi

Semua langkah di atas sudah mencakup juga segala bidang kegiatan masyrakat dan
pendataan potensi wilayah dan potensi KK, termasuk pertanian, perkebunan, perdagangan,
transportasi dan kriteria rumah. Semua kegiatan merupakan langkah untuk mengetahui
kemampuan setiap kepala keluarga dalam menciptakan sanitasi yang baik dan menjadi
dasar pemerintah untuk mengetahui dan mempertimbangkan bantuan kepada warga yang
tidak memiliki sanitasi yang baik.
Hasil sensus berupa buku database kependudukan yang berisi informasi yang
diperoleh dari warga yang meliputi biodata setiap warga, piramida kependudukan, grafik
mata pencaharian dan mapping wilayah padukuhan. Kegiatan ini di laksanakan pada
tanggal 14-19 Juli, 21-25 Juli, 1,2 Agustus, 4-12 Agustus pada waktu yang tidak pasti
antara pukul 09.00-12.00. Kendala yang dialami selama kegiatan ini adalah waktu yang
berbenturan dengan kesibukan masyarakat dan lokasi yang cukup sulit ditempuh. Sehingga
untuk menyiatsatinya menvariasi waktu sensus dan mencari informasi dari orang terdekat
dan kepala dukuh.

Dari hasil pendataan dapat diketahui beberapa hal secara umum yaitu :
a. Keadaan Ekonomi
Mata pencaharian penduduk Pedukuhan gendu adalah mayoritas sebagai petani
dan sedikit diantaranya yang bekerja sebagai wiraswasta. Sedangkan pada sektor Polisi,
Bidan dan PNS masih sangat sedikit.
Pada sektor pertanian mayoritas tanaman yang ditanam adalah cengkeh, kakao,
ketela, dan rempah-rempah (jahe, lengkuas, dll). Bidang pertanian untuk lingkungan
Pedukuhan Gendu pada umumnya bertumpu pada tanaman pokok yaitu cengkeh.
Kenyataan yang demikian tidak menyebabkan penghasilan bagi penduduk Gendu
tinggi. Tanaman yang dibudidayakan oleh warga setempat adalah cengkeh dan tanaman
kayu. Ada juga pohon kakao namun pemanfaatanya belum maksimal karena belum ada
kesadaran serta pengetahuan yang cukup mengenai cara budidaya pohon tersebut dan
pemasaran yang masih sempit.
Penduduk gendu juga memiliki usaha sampingan yaitu dengan memelihara
ternak seperti kambing, dan ayam. Namun, usaha tesebut masih belum dikembangkan
secara maksimal dan jumlah hewan ternak yang dimiliki penduduk sangat terbatas.
Jumlah kambing yang dimiliki sekitar 2-3 ekor dan jumlah ayam pun masih terbatas.
b. Tingkat Pendidikan
Secara umum, tingkat pendidikan di Pedukuhan Gendu sudah berjenjang yaitu
mulai dari tingkat dasar hingga SLTA/sederajat.

Rata-rata tingkat pendidikan

masyarakat Pedukuhan Gendu adalah sampai ke tingkat menengah atas.


c. Data Jumlah penduduk
-

RT 98
Jumlah penduduk total

: 58 Jiwa

Jumlah penduduk berjenis kelamin

Laki-laki

: 28 Jiwa

Perempuan

: 30 Jiwa

RT 99
Jumlah penduduk total

: 39 Jiwa

Jumlah penduduk berjenis kelamin

Laki-laki

: 19 Jiwa

Perempuan

: 20 Jiwa

RT 100
Jumlah penduduk total

: 63 Jiwa

Jumlah penduduk berjenis kelamin

Laki-laki

: 32 Jiwa

Perempuan

: 31 Jiwa

RT 101
Jumlah penduduk total

: 58 Jiwa

Jumlah penduduk berjenis kelamin

Laki-laki

: 28 Jiwa

Perempuan

: 30 Jiwa

RT 102
Jumlah penduduk total

: 79 Jiwa

Jumlah penduduk berjenis kelamin

Laki-laki

: 41 Jiwa

Perempuan

: 38 Jiwa

RT 103
Jumlah penduduk total

: 56 Jiwa

Jumlah penduduk berjenis kelamin

Laki-laki

: 29 Jiwa

Perempuan

: 27 Jiwa

RT 104
Jumlah penduduk total

: 48 Jiwa

Jumlah penduduk berjenis kelamin

Laki-laki

: 22 Jiwa

Perempuan

: 26 Jiwa

RT 105
Jumlah penduduk total

: 70 Jiwa

Jumlah penduduk berjenis kelamin

Laki-laki

: 33 Jiwa

Perempuan

: 37 Jiwa

RT 106
Jumlah penduduk total

: 48 Jiwa

Jumlah penduduk berjenis kelamin

Laki-laki

: 22 Jiwa

Perempuan

: 26 Jiwa

RT 107
Jumlah penduduk total

: 43 Jiwa

Jumlah penduduk berjenis kelamin


Laki-laki

: 20 Jiwa

Perempuan

: 23 Jiwa

d. Keadaan Sanitasi (Jamban)


-

RT 98
Jumlah KK

: 18

Ketersediaan sanitasi

: 18

RT 99
Jumlah KK

: 12

Ketersediaan sanitasi

: 12

RT 100
Jumlah KK

: 20

Ketersediaan sanitasi

: 19

RT 101
Jumlah KK

: 17

Ketersediaan sanitasi

: 17

RT 102
Jumlah KK

: 26

Ketersediaan sanitasi

: 22

RT 103
Jumlah KK

: 17

Ketersediaan sanitasi

: 17

RT 104
Jumlah KK

: 14

Ketersediaan sanitasi

: 14

RT 105
Jumlah KK

: 22

Ketersediaan sanitasi

: 22

RT 106
Jumlah KK

: 12

Ketersediaan sanitasi

: 10

RT 107
Jumlah KK

: 14

Ketersediaan sanitasi

: 13

Dari 172 kepala keluarga dipadukuhan Gendu hanya 8 yang tidak mempunyai
sanitasi (jamban). Hal ini menunjukkan presentasi keberadaan sanitasi (jamban) sangat
baik yaitu 95,48% dan siap mendukung slogan yang diusung pemerintah yaitu Bebas
Buang Air Besar Sembarangan.

Dokumentasi Kegiatan

Gambar 1. Proses pengumpulan data dengan wawancara langsung ke warga

Gambar 2. Salah satu rumah sensus dan proses kegiatannya