Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Penelitian adalah suatu proses mencari tahu sesuatu secara sistematis
dalam waktu yang relatif lama dengan menggunakan metode ilmiah serta
aturan-aturan yang berlaku. Berdasarkan metodenya, penelitian dibagi
menjadi tiga jenis yaitu penelitian sejarah, penelitian deskriptif dan
penelitian eksperimen.
Masalah penelitian dapat dibagi dalam berbagai bidang diantaranya
bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dan lain-lain. Salah satu
bidang penelitian yang memerlukan perhatian khusus adalah bidang
penelitian pendidikan. Secara umum metode penyelesaian masalah pada
penelitian pendidikan ada dua, yaitu metode kualitatif dan kuantitatif.
Metode kualitatif yang yang pengumpulan datanya berinteraksi langsung
dengan objek penelitianya dan hasilnya tidak diperoleh melalui prosedur
statistik. Sedangkan metode kuantitatif, pengumpulan datanya melalui
instrumen penelitian berupa populasi dan sampel serta hasilnya diperoleh
melalui prosedur statistic. Salah satu peneltian yang penting dan bermanfaat
dalam dunia pendidikan adalah penelitian korelasional.
Penelitian korelasional merupakan penelitian yang paling banyak
digunakan dan telah memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi
perkembangan pengetahuan di bidang pendidikan (Cornell dalam Hadjar,
1999:277). Dalam penelitian jenis ini, peneliti berusaha menghubungkan
suatu variabel dengan variabel yang lain untuk memahami suatu fenomena
dengan cara menentukan tingkat atau derajat hubungan di antara variabelvariabel tersebut. Fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan terdapat
hubungan antarunsur-unsurnya. Seperti hubungan antara guru dengan siswa,
guru dengan materi/kurikulum, materi dengan evaluasi, dan lain-lain .
Tingkat hubungan tersebut ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi yang
berfungsi sebagai alat untuk membandingkan variabilitas hasil pengukuran
terhadap variabel-variabel tersebut. Pengetahuan tentang tingkat hubungan

tersebut diharapkan dapat menambah pemahaman tentang faktor-faktor


dalam karakteristik yang kompleks dari suatu fenomena seperti prestasi
belajar. Hubungan-hubungan tersebut dapat diketahui tingkat korelasinya
secara ilmiah secara statistik melalui metode penelitian korelasional.
B. RUMUSAN MASALAH
Sehubungan dengan latar belakang diatas maka masalah yang akan
dibahas dalam makalah ini adalah :
1. Apakah pengertian penelitian korelasional ?
2. Apakah tujuan penelitian korelasional ?
3. Bagaimanakah ciri-ciri penelitian korelasional ?
4. Berapa macam penelitian korelasi ?
5. Bagaimana desain dasar penelitian korelasi ?
6. Bagaimana metode penelitian korelasi ?
7. Bagaimana struktur rancangan penelitian korelasional
8. Apakah kelemahan dan kelebihan penelitian korelasional ?
9. Bagaimana struktur laporan penelitian korelasi ?
10. Bagaimana contoh suatu penelitian korelasi ?
C. TUJUAN
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui dan memahami
hal-hal dibawah ini sebagai berikut :
1. Pengertian korelasional.
2. Tujuan penelitian korelasional.
3. Ciri-ciri penelitian korelasional.
4. Memahami macam penelitian korelasi.
5. Desain dasar penelitian korelasi.
6. Metode penelitian korelasi.
7. Struktur rancangan penelitian korelasional
8. Kelemahan dan kelebihan penelitian korelasional
9. Struktur laporan penelitian korelasi.
10. Contoh suatu penelitian korelasi.

BAB II
ISI
A. PENGERTIAN PENELITIAN KORELASI
Penelitian korelasi adalah suatu penelitian yang melibatkan tindakan
pengumpulan data guna menentukan, apakah ada hubungan dan tingkat
hubungan antara dua variabel atau lebih. Adanya hubungan dan tingkat
variabel ini penting, karena dengan mengetahui tingkat hubungan yang ada,
peneliti akan dapat mengembangkannya sesuai dengan tujuan penelitian.
Menurut Gay dalam Sukardi (2008:166) menyatakan bahwa; penelitian
korelasi merupakan salah satu bagian penelitian ex-postfacto karena biasanya
peneliti tidak memanipulasi keadaan variabel yang ada dan langsung mencari
keberadaan hubungan dan tingkat hubungan variabel yang direfleksikan
dalam koefisien korelasi. Walaupun demikian ada peneliti lain seperti di
antaranya Nazir dalam Sukardi (2008:166); mengelompokkan penelitian
korelasi ke dalam penelitian deskripsi, karena penelitian tersebut juga
berusaha menggambarkan kondisi yang sudah terjadi. Dalam penelitian ini,
peneliti berusaha menggambarkan kondisi sekarang dalam konteks kuantitatif
yang direfleksikan dalam variabel.
Penelitian korelasi mempunyai tiga karakteristik penting untuk para
peneliti yang hendak menggunakannya. Tiga karakteristik tersebut, adalah:

1. Penelitian korelasi tepat jika variabel kompleks dan peneliti tidak


mungkin melakukan manipulasi dan mengontrol variabel seperti dalam
penelitian eksperimen.
2. Memungkinkan variabel diukur secara intensif dalam setting
(lingkungan) nyata.
3. Memungkinkan peneliti mendapatkan derajat asosiasi yang signifikan.

B. TUJUAN PENELITIAN KORELASIONAL


Tujuan penelitian korelasional menurut Suryabrata (1994:24) adalah
untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan
dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada
koefisien korelasi. Sedangkan menurut Gay dalam Emzir (2007:38); Tujuan
penelitian korelasional adalah untuk menentukan hubungan antara variabel,
atau untuk menggunakan hubungan tersebut untuk membuat prediksi.
Studi hubungan biasanya menyelidiki sejumlah variabel yang dipercaya
berhubungan dengan suatu variabel mayor, seperti hasil belajar variabel yang
ternyata tidak mempunyai hubungan yang tinggi dieliminasi dari perhatian
selanjutnya.
Di samping itu, penelitian korelasi juga dilakukan, untuk menjawab tiga
pertanyaan penelitian tentang dua variabel atau lebih. Pertanyaan tersebut
adalah:
1. Adakah hubungan antara dua variabel? Jika ada, kemudian diikuti
dengan pertanyaan, yaitu :
2. Bagaimana arah hubungan tersebut? Dan selanjutnya pertanyaan,
3. Berapa besar hubungan kedua variabel tersebut dapat diterangkan?
Dalam penelitian korelasi, para peneliti biasanya hanya mendasarkan
pada penampilan variabel sebagaimana adanya, tanpa mengatur kondisi atau
memanipulasi variabel tersebut. Oleh karena itu, peneliti hendaknya
mempunyai cukup banyak alasan yang kuat guna mempertahankan hasil
hubungan yang ditemukan.
Penelitian korelasi lebih tepat, jika dalam penelitian memfokuskan usaha
dalam mencapai informasi yang dapat menerangkan adanya fenomena yang
kompleks melalui hubungan antar variabel. Sehingga peneliti juga dapat

melakukan eksplorasi studi melalui teknik korelasi parsial, di mana peneliti


mengeliminasi salah satu pengaruh variabel agar dapat dilihat hubungan dua
variabel yang dianggap penting.

C. CIRI-CIRI PENELITIAN KORELASIONAL


1. Penelitian macam ini cocok dilakukan bila variabel-variabel yang diteliti
rumit dan/atau tak dapat diteliti dengan metode eksperimental atau tak
dapat dimanipulasi.
2. Studi macam ini memungkinkan pengukuran beberapa variabel dan
saling hubungannya secara serentak dalam keadaan realistiknya.
3. Output dari penelitian ini adalah taraf atau tinggi-rendahnya saling
hubungan dan bukan ada atau tidak adanya saling hubungan tersebut.
4. Dapat digunakan untuk meramalkan variabel tertentu berdasarkan
variabel bebas
5. Penelitian korelasional juga mengandung kelebihan-kelebihan, antara
lain: kemampuannya untuk menyelidiki hubungan antara beberapa
variabel secara bersama-sama (simultan); dan Penelitian korelasional
juga dapat memberikan informasi tentang derajat (kekuatan) hubungan
antara variabel-variabel yang diteliti.
D. MACAM-MACAM PENELITIAN KORELASI
a. Penelitian Hubungan
Penelitian hubungan, relasional, atau korelasi sederhana (seringkali
hanya disebut korelasi saja) digunakan untuk menyelidiki hubungan antara
hasil pengukuran terhadap dua variabel yang berbeda dalam waktu yang
bersamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat atau derajat
hubungan antara sepasang variabel (bivariat).
Lebih lanjut, penelitian jenis ini seringkali menjadi bagian dari penelitian
lain, yang dilakukan sebgai awal untuk proses penelitian lain yang kompleks.
Misalnya, dalam penelitian korelasi multivariat yang meneliti hubungan
beberapa variabel secara simultan pada umumnya selalu diawali dengan
penelitian hbungan sederhana untuk melihat bagaimana masing-masing
variabel tersebut berhubungan satu sama lain secara berpasangan.

Dalam penelitian korelasi sederhana ini hubungan antar variabel tersebut


ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi, suatu alat statistik yang digunakan
untuk membantu peneliti dalam memahami tingkat hubungan tersebut. Nilai
koefisien tersebut, bervariasi dari -1,00 sampai +1,00 diperoleh dengan
menggunakan teknik statistik tertentu sesuai dengan karakter dari data
masing-masing variabel.
Pada dasarnya, desain penelitian hubungan ini cukup sederhana, yakni
hanya dengan mengumpulkan skor dua variabel dari kelompok subjek yang
sama dan kemudian menghitung koefisien korelasinya. Oleh karena itu,
dalam melakukan penelitian ini, pertama-tama peneliti menentukan sepasang
variabel yang akan diselidiki tingkat hubungannya. Pemilihan kedua variabel
tersebut harus didasarkan pada teori, asumsi, hasil penelitian yang
mendahului, atau pengalaman bahwa keduanya sangat mungkin berhubungan.
b. Penelitian Prediktif
Dalam pelaksanaan di bidang pendidikan, banyak situasi yang
menghendaki dilakukannya prediksi atau peramalan. Pada awal tahun ajaran
baru, misalnya, setiap sekolah karena keterbatasan fasilitas, seringkali harus
menyeleksi para pendaftar yang akan diterima menjadi calon siswa baru.
Penelitian korelasi jenis ini memfokuskan pada pengukuran terhadap satu
variabel atau lebih yang dapat dipakai untuk memprediksi atau meramal
kejadian di masa yang akan datang atau variabel lain (Borg & Gall dalam
Hadjar; 1999:285). Penelitian ini sebagaimana penelitian relasional,
melibatkan penghitungan korelasi antara suatu pola tingkah laku yang
kompleks, yakni variabel yang menjadi sasaran prediksi atau yang diramalkan
kejadiannya (disebut kriteria), dan variabel lain yang diperkirakan
berhubungan dengan kriteria, yakni variabel yang dipakai untuk memprediksi
(disebut prediktor). Teknik yang digunakan untuk mengetahui tingkat prediksi
antara kedua variabel tersebut adalah teknik analisis regresi yang
menghasilkan nilai koefisien regresi, yang dilambangkan dengan R.
Perbedaan yang uama antara penelitian relasional dan penelitian jenis in
terletak pada asumsi yang mendasari hubungan antar variabel yang diteliti.

Dalam penelitian relasional, peneliti berasumsi bahwa hubungan an tar


kedua variabel terjadi secara dua arah atau dengan kata lain, ia hanya ingi
menyelidiki apakah kedua variabel mempunyai hbungan, tanpa mempunyai
anggapan bahwa variabel yang muncul lebih awal dari yang lain. Oleh karena
itu, kedua variabel biasanya diukur dalam waktu yang bersamaan. Sedang
dalam penelitian prediktif, di samping ingin menyelidiki hubungan antara dua
variabel, peneliti juga mempunyai anggapan bahwa salah satu variabel
muncul lebh dahulu dari yang lain, atau hubungan satu arah.
Oleh karena itu, tidak seperti penelitian relasional, kedua variabel diukur
dalkam waktu yang berurutan, yakni variabel prediktor diukur sebelum
variabel kriteria terjadi, dan tidak dapat sebaliknya.
c. Korelasi Multivariat
Teknik untuk mengukur dan menyelidiki tingkat hubungan antara
kombinasi dari tiga variabel atau lebih disebut teknik korelasi multivariat.
Ada beberapa teknik yang dapat digunakan, dua diantaranya yang akan
dibahas di sini adalah: regresi ganda atau multiple regresion dan korelasi
kanonik.
1) Regresi ganda
Memprediksi suatu fenomena yang kompleks hanya dengan
menggunakan stu faktor (variabel prediktor) seringkali hanya memberikan
hasilyang kurang akurat. Dalam banyak hal, semakin banyak informasi yang
diperoleh semakin akurat prediksi yang dapat dibuat (Mc Millan &
Schumaker dalam Hadjar; 1999:288), yakni dengan menggunakan kombinasi
dua atau lebih variabel prediktor, prediksi terhadap variabel kriteria akan
lebih akurat dibanding dengan hanyamenggunakan masing-masing variabel
prediktorsecara sendiri-sendiri. Dengan demikian, penambahan jumlah
prediktor akan meningkatkan akurasi prediksi kriteria.
2) Korelasi kanonik.
Pada dasarrnya teknik ini sama dengan regresi ganda, dimana beberapa
variabel dikombinasikan untuk memprediksi variabel kriteria. Akan
tetapi,tidak seperti regresi ganda yang hanya melibatkan satu variabel kriteria,
korelasi kanonik melibatkan lebih dari satu variabel kriteria. Korelasi ini

berguna untuk menjawab pertanyaan, bagaimana serangkaian variabel


prediktor memprediksi serangkai variabel kriteria?. Dengan demikian,
korelasi kanonik ini dapatdianggap sebagai perluasan dari regresi ganda,dan
sebaliknya, regresi berganda dapat dianggap sebagai bagian dari korelasi
kanonik (Pedhazur dalam Hadjar; 1999:289).
Seringkali korelasi ini digunakan dalam penelitian eksplorasi yang bertujuan
untuk meentukan apakah sejumlah variabel.mempunyai hubungan satu sama
lain yang serupa atau berbeda.
E. DESAIN DASAR PENELITIAN KORELASI
Pada dasarnya penelitian korelasioanal, baik relasional, prediktif,
maupun multivariat, melibatkan perhitungan korelasi antara variabel yang
kompleks (variabel kriteria) dengan variabel lain yang dianggap mempuyai
hubungan (variabel prediktor). Untuk menguji hubungan tersebut, desain atau
langkah-langkah yang ditempuh untuk penelitian relasional dan prediksi sama
meskipun detail masing-masing langkah untuk keduanya berbeda, terutama
dalam pengumpulan dan analsis data. Langkah-langkah tesebut, yang paling
pokok, adalah : penentuan masalah, penentuan subjek, pengumpulan data, dan
analisis data.
1) Penentuan masalah
Sebagaimana dalam setiap penelitian, langkah awal yang harus dilakukan
peneliti adalahmenentukan masalah penelitian yang akan menjadi fokus
studinya. Dalam penelitian korelasional, masalah yang dipilih harus
mempunyai nilai yang berarti dalam pola perilaku fenomena yang
kompleks yang memrlukan pemahaman. Disamping itu, variabel yang
dimasukkan dalam penelitian harus didasarkan pada pertimbangan, baik
secara teoritis maupun nalar, bahwa variabel tersebut mempunyai
hubungan tertentu. Hal ini biasanya dapat diperoleh berdasarkan hasil
penelitian yang terdahulu atau terdahulu.
2) Penentuan subyek
Subyek yang dilibatkan dalam penelitian ini harus dapat diukur dalam
variabel-variabel yang menjadi fokus penelitian. Subyek tersebut harus
relatif homogen dalam faktor-faktor di luar variabel yang diteliti yang
mungkin dapat mempengaruhi variabel terikat. Bila subyek yang
8

dilibatkan mempunyai perbedaan yang berarti dalam faktor-faktor


tersebut, korelasi antar variabel yang diteliti menjadi kabur.
Untuk mengurangi heterogenitas tersebut, peneliti dapat
mengklasifikasikan subyek menjadi beberapa kelompok berdasarkan
tingkat faktor tertentu dan, kemudian menguji hubungan antar variabel
penelitian untuk masing-masing kelompok.
3) Pengumpulan data
Berbagai jenis instrumen dapat digunakan untuk mengukur dan
mengumpulkan data masing-masing variabel, seperti angket, tes,
pedoman interview dan pedoman observasi, tentunya disesuaikan dengan
kebutuhan. Data yang dikumpulkan dengan instrumen-instrumen tersebut
harus dalam bentuk angka. Dalam penelitian relasional, pengukuran
variabel dapat dilakukan dalam waktu yang relatif sama. Sedang dalam
penelitian prediktif, variabel prediktor harus diukur selang beberapa
waktu sebelum variabel kriteri terjadi. Jika tidak demikian, maka prediksi
terhadap kriteria tersebut tidak ada artinya.
4) Analisis data
Pada dasarnya, analisis dalam penelitian korelasional dilakukan dengan
cara mengkorelasikan hasil pengukuran suatu variabel dengan hasil
pengukuran variabel lain. Dalam penelitian relasional, teknik korelasi
bivariat, sesuai dengan jenis datanya, digunakan untuk menghitung
tingkat hubungan antara vaiabel yang satu dngan yang lain. Sedang
dalam penelitian prediktif, teknik yang digunakan adalah analisis regresi
untuk mengetahui tingkat kemampuan prediktif variabel prediktor
terhadap variabel kriteria. Namun demikian, dapat pula digunakan
analisis korelasi biasa bila hanya melibatkan dua variabel. Bila
melibatkan lebih dari dua variabel, misalnya untuk menentukan apakah
dua variabel prediktor atau lebih dapat digunakan untuk memprediksi
variabel kriteria lebih baik daripada bila digunakan secara sendiri-sendiri,
teknik analisis regresi ganda, multiple regresion atau analisis kanonik
dapat digunakan. Hasil analisis tersebut biasanya dilaporkan dalam
bentuk nilai koefisien korelasi atau koefisien regresi serta tingkat

signifikansinya, disamping proporsi variansi yang disumbangkan oleh


variabel bebas terhadap variabel terikat.
F. METODE PENELITIAN KORELASI
1) Penelitian ini mengkaji hubungan dua variabel, variabel bebad dan
variabel tak bebas atau terikat. Penelitian ini menggunakan pertimbangan
kedua

variabel

yang

diteliti

telah

terjadi

sebelumnya

tanpa

memanipulasinya.
2) Instrumen yang digunakan adalah :
a. Kuesioner yaitu instrumen yang digunakan untuk mengungkap
variabel bebas.
b. Dokumentasi yakni instrumen yang digunakan untuk memperoleh
data terikat.
3) Jumlah sampel untuk setiap kategori diusahakan sama, dan dipilih
berdasarkan acak secara sistematis dari jumlah sampel yang ada.
Pemilihan sampel dalam penelitian korelasi perlu untuk dipilih atau
menciptakan ukuran ukuran yang valid dan reliabel dari variabel
variabel yang sedang diselidiki.
4) Teknik analisi data menggunakan dua cara yaitu kuantitatif dan kualitatif.
Cara Kuantitatif menggunakan dua macam statistika diskriptif dan
statistika analitik.
a. Statistika deskriptif ditujukan untuk mendiskriptifkan variabel
penelitian melalui nilai rata, simpangan baku, grafik, diagram,
ataupun tabel tabel distribusi skor.
b. Statistika analitik dugunakan untuk menguji hipotesis.
G. STRUKTUR RANCANGAN PENELITIAN KORELASIONAL
Menurut Creswell (2012: 339-342), ada dua rancangan utama dalam
penelitian korelasional yaitu explanatory research design dan prediction
research design.
10

1) Explanatory Research Design (Rancangan Penelitian Penjelasan).


Merupakan desain korelasional di mana peneliti tertarik dalam dua
variabel (atau lebih) bervariasi, yaitu di mana perubahan dalam satu
variabel merefleksi perubahan variable lain. Berikut adalah struktur
rancangan penelitian penjelasan (explanatory research design):
a. Para peneliti dapat mengkorelasikan dua variabel atau lebih.

b.
c.
d.

Para peneliti mengumpulkan data pada satu titik waktu. Bukti


ditemukan dalam administrasi instrumen.
Peneliti menganalisis semua variabel.
Peneliti memperoleh setidaknya dua skor untuk masing-masing

e.

variabel.
Peneliti melaporkan penggunaan statistik uji korelasi dalam

f.

analisis data.
Di akhir, peneliti membuat interpretasi atau menarik kesimpulan dari
hitungan hasil tes.

2) The Prediction Design (Rancangan Penelitian Prediksi)


Prediktor adalah variabel yang digunakan untuk membuat prediksi
tentang hasil dalam penelitian korelasional. Hasil prediksinya itu disebut
kriteria variabel. Berikut adalah struktur rancangan dari penelitian
prediksi, antara lain:
a. Para penulis biasanya memasukan kata prediksi di dalam judul.

b.

Para peneliti biasanya mengukur variabel prediktor pada satu titik

waktu dan variabel kriteria pada suatu titik waktu selanjutnya.


c. Para peneliti memperkirakan kinerja masa depan.
Sebuah penelitian prediksi akan melaporkan analisa korelasi
menggunakan uji statistik korelasi. Sebagai contoh, penulis mungkin
tertarik di beberapa prediktor yang membantu menjelaskan kriteria dari
setiap variable.
Disisi lain, menurut Fraenkel, Walen, dan Hyun (2012: 363) struktur
rancangan dalam penelitian korelasi antara lain adalah memilih masalah,
memilih sampel, memilih atau mengembangkan instrumen, penentuan

11

prosedur, mengumpulkan dan menganalisis data, dan


menginterpretasikan hasil.
H. KELEMAHAN DAN KELEBIHAN PENELITIAN KORELASIONAL
Penelitian korelasional mengandung kelebihan-kelebihan, antara lain:
kemampuannya untuk menyelidiki hubungan antara beberapa variabel
secara bersama-sama (simultan); dan Penelitian korelasional juga dapat
memberikan informasi tentang derajat (kekuatan) hubungan antara variabelvariabel yang diteliti (Abidin, 2010). Selanjutnya, Sukardi menambahkan
kelebihan penelitian ini adalah penelitian ini berguna untuk mengatasi
masalah yang berkaitan dengan bidang pendidikan, ekonomi, sosial. Dengan
penelitian ini juga memungkinkan untuk menyelidiki beberapa variabel
untuk diselidiki secara intensif dan penelitian ini dapat melakukan analisis
prediksi tanpa memerlukan sampel yang besar.
Sedangkan, kelemahan penelitian korelasional, antara lain: Hasilnya
cuma mengidentifikasi apa sejalan dengan apa, tidak mesti menunjukkan
saling hubungan yang bersifat kausal; Jika dibandingkan dengan penelitian
eksperimental, penelitian korelasional itu kurang tertib- ketat, karena kurang
melakukan kontrol terhadap variabel-variabel bebas; Pola saling hubungan
itu sering tak menentu dan kabur; ering merangsang penggunaannya sebagai
semacam short-gun approach, yaitu memasukkan berbagai data tanpa pilihpilih dan menggunakan setiap interpretasi yang berguna atau bermakna.
(Abidin, 2010).
I. STRUKTUR LAPORAN PENELITIAN KORELASIONAL
BAB I
1.1
1.2
1.3
1.4
1.1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Berisi alasan dan penjelasan dilakukannya penelitian.
Tujuan Penelitian
Berisi tujuan dilaksanakannya penelitian.
Rumusan Masalah
Masalah yang dirumuskan dari penelitian yang dilakukan.
Batasan Masalah
Pembatasan masalah dari rumusan masalah yang dikemukakan.
Manfaat Penelitian

12

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1

Landasan Teori
Berisi seluruh teori dan pendapat-pendapat para ahli yang relevan
dengan variabel yang diteliti. Kemudian dilakukan penarikan

2.2

kesimpulan terhadap teori yang ditulis.


Kerangka Berpikir
Penjabaran hubungan antara masing-masing variabel yang diteliti.
Minimal

untuk setiap kerangka berpikir terdiri dari 3 paragraf, di

mana 1 paragraf untuk variabel pertama, 1 paragraf untuk variabel


kedua dan 1 paragraf lagi untuk pendugaan variabel 1 terhadap
2.3

variabel 2.
Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan
masalah yang kita ajukan. Banyaknya jumlah hipotesis tergantung
dari banyaknya rumusan masalah dan kerangka berpikir yang kita

ajukan.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1

Waktu dan Tempat Penelitian


Di bagian ini dijabarkan profil tempat penelitian serta berapa lama
penelitian akan diadakan, termasuk jadwal rinci dengan langkah-

3.2

langkah penelitian yang akan dilakukan.


Jadwal diupayakan dibuat dalam bentuk tabel kerja.
1. Tempat Penelitian
2. Waktu dan Jadwal Penelitian
Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Di sini dijabarkan jenis penelitian yang dilakukan. Dijelaskan
pula definisi jenis penelitian yang dilakukan.
2. Desain Penelitian
Di sini digambarkan desain penelitian yang dilakukan. Ada yang
berbentuk korelasi dan regresi sederhana, korelasi dan regresi
ganda, analisis jalur, perbandingan 2 kelompok sampel,
perbandingan 3 atau lebih kelompok sampel dengan interaksi,
perbandingan 3 atau lebih kelompok sampel tanpa interaksi.

3.3

Populasi, Sampel dan Teknik Sampling


1. Populasi Target

13

Keseluruhan populasi yang ada di sebuah tempat penelitian.


Misalnya SMP X, maka populasinya adalah seluruh siswa di
SMP X.
2. Populasi Terjangkau
Bagian dari populasi target, dimana sudah diarahkan di kelas
mana akan diambil sampel. Misalnya penelitian hanya untuk
kelas 8, maka populasi terjangkaunya adalah seluruh siswa kelas
8 SMP X.
3. Sampel
Bagian kecil dari populasi terjangkau yang diambil
menggunakan teknik sampling tertentu. Disampaikan pula
berapa banyak sampel yang diambil serta teknik sampling yang
3.4

digunakan untuk pengambilan sampel.


Metode Pengumpulan Data
1. Variabel Penelitian
Seluruh variabel yang akan diteliti dituliskan
2. Sumber Data
Dituliskan dari siapa data diambil, untuk setiap variabel
penelitian.
3. Teknik Pengumpulan Data
Penjelasan dengan media apa data dikumpulkan. Media ini
bisa berupa instrumen tes atau nontes.
4. Instrumen Penelitian
Bagian ini dibagi menjadi:
a) Definisi Konseptual
Berisi konstruk yang telah dibuat di BAB II
b) Definisi Operasional
Berisi konstruk yang telah dibuat di BAB II ditambah
dengan cara untuk mendapatkan data. Misalnya, akan
diukur dengan menggunakan angket berskala Likert
berjumlah 25 soal.
c) Kisi-kisi
Ditulis sesuai teori kisi-kisi dari setiap variabel. Di mana
untuk setiap indikator memiliki beberapa soal, sehingga
hasilnya nanti dapat diverifikasi dengan baik.
d) Uji Coba Instrumen
Berisi rumusan serta hasil perhitungan dalam rangka uji
validitas dan reliabilitas instrumen penelitian. Soal yang

14

rusak diganti.
e) Instrumen Final
Berisi instrumen yang sudah valid dan reliabel.
Keseluruhan Bagian ini dilakukan untuk semua variabel,
sehingga bila ada 3 variabel, maka akan ada 3 kali penulisan
definisi konseptual, operasional, dll.
3.5 Teknik Analisis Data
1. Teknik Analisis Deskriptif
Berisi seluruh rumus yang akan kita gunakan, seperti Mean,
Modus, Median, Simpangan Baku dan Tabel Distribusi
Frekuensi.
2. Uji Persyaratan Analisis Data
Berisi semua rumus yang akan digunakan untuk menguji
kualitas data, misalnya rumus Uji Normalitas, Homogenitas
(untuk komparasi), Linieritas (korelasi) dan Uji Pelanggaran
Asumsi Klasik (multikolinieritas, autokorelasi dan
heterokedastisitas).
3. Uji Hipotesis
Berisi rumus yang akan digunakan untuk uji hipotesis
3.6

termasuk dengan kriteria penerimaan Ho dan H1.


Hipotesis Statistik
Hipotesis dituliskan dengan menggunakan simbol-simbol

matematika, misalnya menggunakan lambang rho, dll.


BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1

Karakteristik Responden
Berisi penjelasan karakteristik responden, termasuk umur, tempat
tinggal, jenis kelamin, pendidikan dan lain sebagainya.

4.2

Statistik Deskriptif Variabel


Berisi hasil perhitungan statistik deskriptif tiap-tiap variabel.
Dimulai dari pembuatan tabel distribusi frekuensi, perhitungan
modus, median, mean dan simpangan baku serta gambar
histogramnya.

4.3

Uji Persyaratan Analisis Data


Berisi hasil perhitungan terhadap uji persyaratan analisis data
yang dilakukan. Hasil perhitungan uji normalitas, uji

15

4.4

homogenitas, uji linieritas dan uji pelanggaran asumsi klasik.


Uji Hipotesis
Berisi langkah-langkah pengujian hipotesis.
Jika 2 variabel bertipe interval diuji dengan korelasi dan

regresi sederhana,
Jika 3 atau lebih variabel bertipe interval diuji dengan

korelasi dan regresi ganda,


Jika 3 atau lebih variabel bertipe interval (pengembangan

regresi) diuji dengan analisis jalur


Jika 2 kelompok sampel atau 2 variabel dengan tipe data

berbeda diuji dengan uji beda rata-rata


Jika 3 atau lebih kelompok sampel atau 3 variabel dengan
tipe data berbeda

dan antar variabel ada interaksi diuji

dengan ANOVA/ANAVA
Jika 3 atau lebih kelompok sampel atau 3 variabel dengan
tipe data berbeda dan antarvariabel tidak ada interaksi

4.5

diuji dengan ANKOVA.


Pembahasan Hasil Penelitian
Berisi interpretasi terhadap hasil perhitungan yang dilakukan.
Termasuk keterbatasan-keterbatasan dalam pelaksanaan

penelitian.
BAB V PENUTUP
5.1

Kesimpulan
Berisi kesimpulan dari seluruh penelitian yang kita lakukan.

5.2

Saran
Berisi saran-saran sehubungan dengan kesimpulan yang kita buat.

J. CONTOH PENELITIAN KORELASIONAL


Judul : HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN GURU
DENGAN MOTIVASI BELAJAR PAI SISWA KELAS 3 MI IANATUSH
SHIBYAN BAWU TAHUN AJARAN 2010/2011.
Dalam dunia pendidikan peran seorang guru sangatlah penting. Kemampuan
guru dalam menguasai kelas sangat menentukan motivasi belajar para
siswanya. Tingkat pendidikan guru mempunyai pengaruh yang besar terhadap
kemampuan guru, karena kemampuan guru dalam menguasai kelas
16

tergantung dari seberapa besar pengetahuan yang dimiliki oleh masig


masing guru. Biasanya seorang guru yang sudah Sarjana atau S1 lebih matang
penguasaan kelasnya daripada penguasaan guru yang belum Sarjana.
Sehingga motivasi belajar siswa berbeda didalam kelas dengan guru Sajana
dan kelas Guru yang non Sarjana. Dalam kasus diatas yakni hubungan tingkat
pendidikan guru terhadap motivasi belajar siswa dengan tujuan untuk
meneliti permasalahan tersebut maka dilakukan pengontrolan menjadi dua
kategori yaitu kategori guru dengan pendidikan S1 dan guru yang Non S1.
Motivasi belajar siswa dapat diukur dengan melihat absensi siswa serta
penilaian terhadap antusias siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
Langkah-langkah yang dilakukan untuk menjawab penelitian tersebut :
1) Menentukan Variabel X dan Y
X : Motivasi belajar siswa
Y : Tingkat pendidikan Guru
2) Membuat Ha dan Ho dalam bentuk kalimat dan statistik
Ha : adanya hubungan antara tingkat pendidikan guru dengan motivasi
belajar siswa dalam mata pelajaran PAI ( 0)
Ho : Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan guru dengan motivasi
belajar siswa dalam mata pelajaran PAI ( = 0)
3) Pengumpulan data
Disini peneliti mengambil beberapa sampel untuk diteliti, pengumpulan
data dalam penelitian ini dapat menggunakan angket, observasi dan
wawancara.
Peneliti dapat menggunakan daftar absensi siswa yang dimiliki oleh
masing masing guru serta mengamati secara langsung bagaimana
antusias siswa didalam kelas. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan
satu sempel dengan siswa yang sama namun menggunakan dua waktu,
waktu pertama kelas tersebut diisi dengan guru S1 kemudian waktu
kedua diisi dengan guru non S1. Peneliti mengamati perkembangan atau
antusias siswa selama pembelajran.
4) Mengambil kesimpulan

17

Dari hasil pemelitian tersebut remaja yang memiliki pemahaman diri


yang tinggi cenderung mempunyai rasa percaya diri yang tinggi pula,
karena dia mampu membawa dan menguasai dirinya dalam berbagai
situasi dan kondisi di sekitarnya.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN

18

Penelitian korelasi mencakup kegiatan pengumpulan data guna


menentukan adakah hubungan antarvariabel dalam subjek atau objek yang
menjadi perhatian untuk diteliti. Adanya korelasi antara dua variabel atau
lebih, tidak berarti adanya pengaruh atau hubungan sebab akibat dari suatu
variabel terhadap variabel lainnya.
Meskipun dari kenyataan ada hubungan yang erat antara dua variabel,
seseorang tidak dapat menyimpulkan bahwa variabel yang satu adalah
penyebab dari variabel yang lain. Hal ini disebabkan mungkin ada faktor
ketiga yang mempengaruhi variabel pertama, variabel kedua, atau
mungkin mempengaruhi kedua-duanya. Dengan mengabaikan ada atau
tidaknya suatu hubungan sebab akibat, adanya hubungan yang erat
memungkinkan kita untuk membuat perakiraan.
B. SARAN
Saran yang perlu kami sampaikan kepada pembaca adalah hendaknya
sebelum melakukan penelitian perlu mengetahui dan memahami prinsipprinsip dari jenis penelitian korelasional. Hal ini berguna agar jenis
penelitian yang digunakan tepat sasaran. Dan dalam Penelitian
Korelasional, sering ditemukan kesalahan-kesalahan yang kadang-kadang
dilakukan oleh peneliti dalam penelitian korelasional, yang mungkin hal
ini harus diperhatikan lebih jauh.

19