Anda di halaman 1dari 12

Feline lower urinary tract disease (FLUTD) yang dikenal juga dengan feline

urologic syndrome (FUS) merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi


pada kucing terutama kucing jantan. Masalah kesehatan ini mengganggu vesika
urinaria (VU) dan uretra kucing. Gangguan pada uretra terjadi disebabkan oleh
struktur uretra kucing jantan yang berbentuk seperti tabung memiliki bagian
yang menyempit sehingga sering menimbulkan penyumbatan urin dari VU ke
luar tubuh. Feline lower urinary tract disease (FLUTD) meliputi beberapa
kondisi yang terjadi pada saluran urinaria kucing (Nash 1997). Sindrom yang
terjadi pada kucing ini ditandai dengan pembentukan kristal (paling sering
struvite) di dalam VU. Kristal tersebut kemudian akan menyebabkan inflamasi,
perdarahan pada urin, kesulitan buang air kecil, serta beberapa kasus dapat
menyebabkan obstruksi aliran normal urin keluar dari VU yang dapat
menyebabkan kematian (Pinney 2009). Manifestasi penyakit yang disebabkan
oleh akumulasi kristal mineral pada saluran urinaria antara lain, adalah: a.
peradangan kandung kemih cystitis akibat iritasi dari kristal pada dinding VU,
b. urolithiasis yaitu pembentukan batu VU, c. pembentukan sumbat pada uretra
berupa pasir kristal mineral (blokade uretra), d. uremia yaitu akumulasi zat
kimia yang beracun pada aliran darah ketika blokade pada uretra (Duval 2002).
Pada beberapa keadaan urin yang tertahan dalam VU dapat berbalik mengalir ke
ginjal yang menyebabkan kematian oleh gagal ginjal akut atau cystitis parah.
Kematian terjadi karena toksin menyebar melalui aliran darah menyebabkan
sepsis (Pinney 2009).
Kucing jantan dan betina sama-sama beresiko menderita FLUTD, namun
kucing jantan beresiko lebih besar terhadap obstruksi yang mematikan karena
uretra jantan lebih kecil dibandingkan betina dan memiliki bagian yang
mengecil (gambar 1) sehingga penyumbatan lebih gampang terjadi (Pinney
2009).
Beberapa kausa dari terbentuknya kristal mineral yang dapat mengiritasi
mukosa VU dan menyebabkan blokade urehra adalah : a. Faktor asupan
makanan (diet). Pakan yang kaya magnesium menyebabkan pH urine menjadi
basa (alkalis). Kenaikan pH mempermudah pembentukan kristal mineral. b.
Penurunan frekuensi urinasi. Hal ini dapat disebabkan oleh menurunnya supan
air, pakan yang kering, air yang terlalu hangat, terlalu dingin, menurunnya
aktivitas fisik, hal ini dapat disebabkan karena kucing mengalami obesitas
bahkan kandang yang kotor dapat menyebabkan kucing segan untuk urinasi
(Duval 2002; Oaks Vet 2002) Gejala klinis awal merupakan hasil dari iritasi
yang disebabkan oleh kristal dalam VU. Gejala klinis tersebut antara lain
kesulitan urinasi (kucing sering buang air kecil tidak pada tempatnya), sering
menjilat daerah genital, merejan saat buang air kecil (kadang disertai suara

tangisan), serta darah pada urin. Selain itu, kucing dengan FLUTD biasanya
tidak nafsu makan. Pada keadaan yang lebih serius kucing jantan yang
mengalami obstruksi uretra komplit akan menunjukkan gejala muntah,
kelemahan, serta perut yang menegang dan sakit (Pinney 2009).
Diagnosa FLUTD didasarkan pada gejala klinis, pemeriksaan fisik, dan
urinalisis. Pada kasus yang sudah parah dapat dipalpasi pembesaran dan rasa
sakit VU. Jika diduga terjadi infeksi pada VU maka kultur urin dapat dilakukan.
Kucing yang mengalami obstruksi saluran urinaria memiliki tingkat enzim
ginjal yang tinggi (blood urea nitrogen (BUN), dan kreatinin) dalam darah
(Pinney 2009).
Terapi yang diberikan kepada pasien FUS adalah kateterisasi
urin sehingga terjadi pengeluaran urin dan kristal dari vu.
Penyuntikan cairan fisiologis intravena atau perinfusi diperlukan
ketika sindrom uremia terjadi (depresi, muntah, dehidrasi)
dengan tujuan mengganti cairan tubuh dan menstabilkan pH
cairan tubuh. Pemberian antibiotik diperlukan untuk mencegah
infeksi sekunder oleh bakteri dan obat-obatan
parasimpatomimretik yang menstimulasi otot VU berkontraksi
dan relaksasi uretra diperlukan. Dalam beberapa kasus, tindak
bedah diperlukan untuk menghilangkan sumbatan atau
mencegah terjadinya pengulangan timbulnya kristal mineral
(Duval 2002). Setelah dipasang kateter uFeline Lower Urinary
Tract Disease (FLUTD) Pada Kucing Ras (II)
Posted by: redakturhosonlineFebruary 1, 2015 Reply
Oleh : drh. Putut Pantoyo
Salam Veteriner. Selamat berjumpa kembali kepada seluruh pembaca Koran
OKU EKSPRES, salah satu Koran kebangaan masyarakat Baturaja dan
sekitarnya.
Melanjutkan tulisan minggu kemarin yang mengenai Feline Lower Urinary
Tract Disease(FLUTD), sekarang kita akan membahas tentang tanda tanda
klinis, pencegahan dan pengobatan FLUTD. Tanda tanda klinis awal pada
kucing yang menderita Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD)
merupakan hasil dari iritasi yang disebabkan oleh kristal yang terbentuk di
dalam vesika urinaria atau uretra kucing.
Biasanya kucing yang menderita Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD)
akan menunjukkan gejala klinis sebagai berikut: kesulitan urinasi (disuria).
Biasanya urinasi dalam waktu yang lama dengan hanya mengeluarkan urin

dalam jumlah sangat sedikit dan kucing merejan saat buang air kecil (kadang
disertai suara tangisan)
(Gambar 1); peningkatan frekuensi urinasi (polakisuria); kucing sering buang
air kecil tidak pada bak pasir yang sudah disediakan; sering menjilat daerah
genital
(Gambar 2); kadang-kadang terdapat darah pada urin (haematuria); urin berbau
busuk dan keruh; kucing tidak nafsu makan; pada keadaan yang lebih serius,
dimana terjadi obstruksi pada saluran urinari komplit yang biasanya terjadi pada
kucing jantan dapat mengakibatkan kucing tidak dapat urinasi.
Selain itu juga menunjukkan gejala muntah, kelemahan, serta perut yang
menegang dan sakit. Karakteristik dari feline lower urinary tract
disease (FLUTD) ditandai dengan pembentukan kristal (paling sering struvite)
di dalam vesika urinaria atau terjadi penyumbatan di uretra kucing. Kristal
tersebut akan menyebabkan inflamasi, perdarahan pada vesika urinaria atau
uretra dan beberapa kasus dapat mengakibatkan obstruksi pada saluran urinari
sehingga aliran urin keluar terhambat. Hal ini akan menimbulkan komplikasi
dan dapat menyebabkan kematian pada kucing apabila tidak cepat ditangani.
Akibat yang ditimbulkan dari penumpukan Kristal mineral pada vesika urinaria
adalah munculnya peradangan pada dinding vesika urinaria; terbentuknya
urolithiasis yaitu pembentukan batu pada vesika urinaria; pembentukan batu
ginjal pada saluran vesika urinaria; adanya penyumbatan pada saluran vesika
urinaria menyebabkan air kencing tertahan di dalam vesika urinaria, akibat yang
ditimbulkan adalah kucing dapat keracunan dari air kencingnya sendiri yang
sudah bersifat toksik. Diagnosa FLUTD didasarkan pada gejala klinis,
pemeriksaan fisik, dan urinalisis. Pada kasus yang sudah parah dapat dipalpasi
pembesaran dan rasa sakit pada vesika urinaria. Jika diduga terjadi infeksi pada
vesika urinaria, maka kultur urin dapat dilakukan. Kucing yang mengalami
obstruksi saluran urinaria memiliki tingkat enzim ginjal yang tinggi (blood urea
nitrogen(BUN) dan kreatinin) dalam darah.
Gambar 3 Hasil X-ray bagian abdomen kucing yang menderita FLUTD dimana
terlihat pembesaran pada vesika urinaria (kiri) karena tidak dapat urinasi dan
dibandingkan dengan hasil x-ray kucing yang normal (kanan)
Adapun pengobatan yang perlu diberikan pada kasus FLUTD yaitu: Eliminasi
kristal mineral atau batu pada saluran urinari kucing dapat dilakukan
melalui diet atau makanan khusus yang dapat melarutkan kristal mineral atau
batu tersebut serta dapat juga melalui operasi pengeluaran kristal mineral atau
batu pada saluran urinari kucing. Dalam beberapa kasus tindak bedah
diperlukan selain untuk menghilangkan sumbatan pada uretra, juga untuk
mencegah terjadinya pengulangan timbulnya kristal mineral.

Pada kasus obstruksi uretra oleh kristal mineral atau batu (blocked urethra),
memerlukan perawatan darurat yang meliputi pembilasan (flushing) atau
kateterisasi uretra untuk mengeluarkan urin dan kristal pada vesika urinaria.
Sebelum dilakukan pembilasan (flushing) atau kateterisasi uretra, kucing
terlebih dahulu diberikan anestesi umum yang kerjanya singkat. Penyuntikan
cairan fisiologis secara intravena diperlukan ketika sindrom uremia terjadi
(depresi, muntah, dehidrasi) dengan tujuan mengganti cairan tubuh dan
menstabilkan pH cairan tubuh.
Pemberian antibiotik diperlukan untuk mencegah infeksi sekunder oleh bakteri.
Sediaan obat parasimpatomimretik juga dapat diberikan untuk menstimulasi
otot vesika urinaria berkontraksi dan relaksasi uretra diperlukan. Tindakan
pencegahan terjadinya FLUTD pada kucing dapat dilakukan dengan cara
sebagai berikut: FLUTD dapat dicegah melalui pemberian pakan khusus yang
rendah Mg, tinggi Na atau pakan yang mempunyai pH cukup rendah (acidified
diets).
Pakan yang rendah pH ini akan meningkatkan absorbsi Na dan meningkatkan
pengeluaran phospat sebagai unsur pembentuk batu ginjal; Selain diet,
diupayakan agar kucing diberiakan pakan yang basah, penyediaan air segar
sebagai sumber air minumnya yang cukup setiap hari; kucing harus dibiasakan
dengan aktifitas fisik (exercise) dan hindari kondisi obesitas serta pembersihan
kandang dan liternya secara rutin.
Demikian artikel mengenai kesehatan hewan dan peternakan, semoga
bermanfaat. Untuk pertanyaan, kritik, dan saran dapat langsung ke redaksi Oku
Ekspres atau ke alamat Email :pututpantoyo@yahoo.com. Bravo Veteriner. (*)
rin kucing Memo dirawat inap, selama rawat inap diberikan terapi antibiotik
Amcilin dan infus Ringer Lactate. Terdapat tiga macam kateter urin yaitu yaitu
flexible rubber feeding tube (gambar 2a), kateter open-ended polypropylene
(gambar 2b), dan close-ended polypropylene (gambar 2c). Ukuran kateter yang
biasa digunakan untuk kucing jantan adalah 3 1/2 Fr. Jenis kateter yang
digunakan untuk pasien Memo adalah kateter close-ended polypropylene (2c)
(College of Veterinary Medicine 2009).

Mengetahui tentang FUS (Feline Urologic Syndrome)


Feline Urologic Syndrome (FUS) atau Feline Lower Urinary Tract Disease, or FLUTD
adalah suatukondisi dimana terdapatnya bentukan crystal yang menyumbat saluran urinasi
bagian bawah seperti vesicaurinaria,
bladder sphincter
, dan uretra, sehingga kucing mengalami kesulitan urinasi. Kondisi ini seringterjadi pada
kucing muda, bisa jantan ataupun betina, namun lebih sering terjadi pada kucing
jantan(Anonim
1
, 2006).
A.
ETIOLOGI
Beberapa factor berkontribusi untuk penyakit ini termasuk infeksi bacterial dan viral, trauma,
adanya kristaldi urine, batu di vesica urine, tumor pada saluran urinaria, dan abnormiltas
congenital. Factor yang berkontribusi terhadap perkembangan FUS antara lain:a.
FULTD dapat disebabkan uretra yang tersumbat oleh semacam pasta, komposisi material
batu atau pasirdan kristal struvite (magnesium ammonium fosfat), yang berhubungan dengan
jumlah garam. MeskipunKristal struvit merupakan penyebab utama sumbatan, namun jenis
Kristal lain dapat ditemui. Beberapasumbatan menyebabkan terbentuknya mucus, darah, dan
sel darah putih. b.
FLUTD dapat dihubungkan dengan kristal-uroith atau batu yang ditemukan di saluran
urinaria. Tipeurolith ervariasi, tergantung dari diet dan factor pH urine. Dua tipe yang sangat
sering ditemukan adalahstruvite (magnesium fosfat) dan kalsium oksalat. Factor yang
mempengaruhi pembentukan urolit padakucing termasuk infeksi bakteri yang bersamaan;
jarang uric,nasi akibat litter box yang kotor; kurangnyaaktifitas fisik; dan kurang minum atau
kualitas minum yang buruk atau tidak tersedianya air, dan bias juga karena selalu diberi
pakan kering (dryfood).
Urine kucing normalnya sedikit asam. Factor yang menyebabkan urin alkalis yaitu jenis
pakan, adanya bakteri di saluran urinaria. Urin yang bersifat asam memiliki property
antibacterial. Namun ada beberpakasus dumana FUS memiliki urine yang asam. Kucing
tersebut mungkin menderita akibat yrolithkalsium oksalat. Jika urolith terjadi di urethra,
maka obstruksi dapat mengancam kehidupan karenasangat sulit disembuhkan.d.
Cystitis bacterial dan urethritis (radang pada urethra) juga dapat menjadi penyebab dasar
FUS.
Cystitis bacterial mungkin dapat menjadi penyebab yang penting dari serangan yang berulang
. Infeksi bakteritersebut memiliki potensi untuk peningkatan infeksi dengan sumbatan. Infeksi
berulang dapatmenyebabkan resistensi antibiotik.e.
Intake diet dan air minum. Kucing yang memakan pakan kering akan mendapat sedikit air
dari pakanereka, selain itu didukung pula dengan kurangnya minum. Pakan kering akan
menyebabkan urin lebihterkonsentrasi dan jumlah sedimen yang lebih besar.(Carlson, 2008)
Faktor predisposisi pembentuk urolit traktus urinarius
1.

pH
urin pH urin berperan sangat penting dalam pembentukan kalkuli, beberapa garam (oksalat),
dan asamurat lebih mudah mengendap pada pH asam. Struvit dan karbonat lebih mudah
mengendap pada pH alkalin.
2.
Infeksi bakteriKoloni bakteri, pengelupasan epitel, atau leukosit dapat berperan penting
sebagai nidus untuk pengendapan unsur mineral urolit. Urolit yang unsur penyusunnya terdiri
dari magnesium ammonium fosfatterbentuk karena adanya infeksi bakteri penghasil urease
atau pemecah urea (proteus dan beberapastaphilococci) yang mengkonversi urea menjadi
amoniak .infeksi dalam traktus urinarius merupakan faktorterbesar penyebab terbentuknya
urolit struvit. Jenis urolit lain kadang-kadang juga dapat ditemui padatraktus yang terinfeksi,
namun terbentuknya urolit non struvit tersebut tidak disebabkan oleh adanya infeksitetapi
justru infeksi disebabkan adanya urolit dalam traktus urinarius.
3.
DietDiet yang mengandung protein tinggi membantu pembentukan urolit struvit karena
konsumsi protein tinggi dapat meningkatkan konsentrasi urea dan NH4 dalam urin. Diet yang
mengandung oksalat,defisiensi vitamin A (karena menyebabkan perubahan metaplastik epitel
transisional),
dan
dehidrasi
(akibat pemasukan air yang terbatas sehingga memberi kesempatan unsur mineral tetap berad
a dalam urin yangkonsentrasinya sangat jenuh) adalah faktor yang dapat menyebabkan
urolitiasis. Konsentrasi urin yangsangat jenuh tersebut umumnya disebabkan bekurangnya
jumlah air yang diminum (kurang minum).Memperbanyak minum air (meskipun air yang
diminum mengandung fosfat, karbonat, silicate, kalsium, danmagnesium dalam jumlah
tinggi) umunya hanya sedikit berpengaruh atau bahkan tidak berpengaruhterhadap
urolitiasis.Hal ini disebakan karena kandungan mineral dalam air minum lebih sedikit
dibandingdengan jumlah mineral yang berasal dari pakan.Di samping itu dengan
memperbanyak minum juga dapatmenurunkan konsentrasi urin dan meningkatkan volume
urin.Hal yang demikian tidak terjadi jika minera
yang menjadi unsur pembentuk urolit dikonsumsi dalam bentuk makanan.Mineral dalam
pakan dapatmenjadi faktor penyebab urolitiasis pada domba yang diberi paka fosfat tinggi,
atau mengandung okasalat.4.
HerediterUrolit kebanyakan ditemukan pada Kucing Persian.5.
Urin stasisMerupakan faktor predisposisi pembentukan urolit tanpa memperhatikan macam
mineral. Turunnyafrekuensi urinasi dan meningkatnya kadar unsur pembentuk urolit dalam
urin dapat menyebabkankonsentrasi urin menjadi sangat jenuh. Urin yang sangat jenuh dapat
menjadi predisposisi presipitasi unsurmineral pada hewan.6.
Breed predileksi7.
Sex predileksiLebih sering terjadi pada hewan jantan karena diameter uretra nya lebih sempit
dan lebih panjang.8.
Umur predileksi9.
Tempat predileksi(Nelson et.al., 2003)

B.
PATOGENESIS
Sel hidup (Living cells) memproduksi produk yang harus dibuang seperti nitrogen dan
kreatinin,yang dibuang ke aliran darah lalu dibawa ke ginjal kemudian difiltrasi seperti
halnya garam dan mineral.Materi yang telah difilter kemudian dibawa ke vesica
urinaria.Pakan kering, dengan air minum yang kurang, dapat menyebabkan pH urine lebih
tinggi atau lebih rendahdaripada biasanya. Pada kondisi tersebut, kristal dapat terbentuk, yang
kemudian dapat menyumbat urethra,dan menghambat urinasi. Karena ginjal memompa zat
tersebut ke vesica urinaria, maka vesica urinaria akanterisi. Normalnya, kucing urinasi
beberapa hari sekali. Vesica urinaria yang bersifat elastic dapatmenampung urine dengan
volume yang lebih. Setelah 24-36 jam, vesica urinaria akan terisi dengansempurna. Pada saat
itulah, toksin mulai menggangu filtrasi ginjal. Pada saat ginjal berhenti memfilterdarah,
toksin akan memenuhi aliran darah (Anonim
2
, 2007).
Patogenesis Pembentukan Urolith dan Pertumbuhannya
4 faktor utama dalam pembentukan urolit adalah kejenuhan/supersaturasi,
kristalisasi/nukleasi, berkurangnya factor penghambat, kelainan anatomi organ
uropoetica.Pembentukan urolit meliputi fase awal pembentukan dan fase pertumbuhan. Fase
awal pembentukan urolitdimulai dari terbentuknya nidus kristal (embrio kristal).
Pembentukan
nidus
kristal
tersebut
tergantung
pada pusat nukleasi atau matriks (meskipun substansi
matriks protein nonkristal juga
berperan sebagai nukleasi)dan supersaturasi urin oleh kristal kalkulogenik. Sedangkan derajat
supersaturasi urin dipengaruhi oleh
banyaknya kristal yang diekskresikan ginjal dan volume urin. Fase pertumbuhan nidus krista
l tergantung pada :1.
Kemampuan untuk tetap bertahan dalam lumen traktus ekskretorius sistem urinarius.2.
Derajat dan durasi superstaurasi urin yang mengandung kristal baik yang identik atau
berbedadengan kristal yang ada di dalam nidus.3.
Sifat fisik nidus kristal. Ika suatu kristal mempunyai sifat yang cocok dengan kristal lain,
maka beberapa kristal dapat saling menggabungkan diri dan tumbuh pada permukaan nidus
atau kristal lain.(Nelson et.al., 2003).a.
Struvite crystals terbentuk dari magnesium, ammonium, dan phospat. Kristal ini terbentuk
dalamsuasana urin yang alkalis. Beberapa factor yang mempengaruhi timbulnya Kristal
struvit adalah pHurin, dan konsumsi air yang rendah. Diet rendah magnesium dapat
membantu penurunan pH urin,sehingga pH menjadi asam. Hal ini dapat membantu dalam
treatment dan pencegahan karena dapatmenurunkan resiko terbentuknya kristal pada urin.
Namun pemberian diet yang berlebihan dapatmemicu timbulnya kristal calcium oxalate
(Nash, 2008).Gambar : Kristal dan batu struvit b.
Kalsium oksalatc.
Terbentuknya kristal oksalat terjadi pada urin yang bersifat asam dan jika kucing
memilikikandungan kalsium yang tinggi di dalam darah. Penyebabnya bias karena

pakan yang tinggi kalsium, protesodium, atau vitamin D. beberapa penyakit metabolic
seperti hiperparathiroidism, kanker, dapatmenyebabkan kristal oksalat lebih mudah
berkembang. Kristal oksalat juga sering terjadi padakucing dengan kadar kalsium darah
normal (Nash, 2008).Gambar : Kristal dan batu kalsium oksalat
Hubungan pH dengan terbentuknya kristal struvit
Kucing memiliki kemampuan untuk mengonsentrasikan urin dengan tujuan menyimpan
air, berkaitan dengan evolusinya yaitu kehidupan kucing yang tinggal di padang pasir. Produk
yang tidakterpakai (waste product) di urine sangat pekat dan mengandung Mg, ammonium,
dan ion phosphate yang
dapat berkristalisasi pada urine yang netral dan alkalis untuk membentuk struvite. Pada pH
urine di bawah6,6 struvite dapat larut, sedangkan pada pH di atas 7,1 akan terkristalisasi
secara spontan. Oksidasi dariasam amino sulfur selama proses katabolisme asam amino dari
protein ke urea, CO2, sulfat, dan air,memiliki bentuk yang asam, mempengaruhi
keseimbangan asam-basa dalam tubuh dan urin. Proses ini tidakterjadi jika lemak dan
karbohidrat terkatabolisme. Kucing merupakan karnivora, yang memakan dagingdalam
jumah banyak, diet protein tinggi akan memproduksi urin dengan pH rendah (asam). Saat ini,
kucing peliharaan banyak yang diberi pakan pabrik dengan dasar sayuran. Komposisi sayuran
tersebut akanmemproduksi urin yang netral ataupun basa, yang dapat menjadi predisposisi
kristalisasi mineral di urin(Anonim
3
, 2009).
C.
GEJALA KLINIS
a.
Depresi b.
lemahc.
Muntahd.
Nafsu makan menurune.
Biasanya disertai cystitis, infeksi saluran urinaria bagian bawah, adanya sumbatan (debris dan
Kristalmembentuk sumbatan di urethra), uremia (akumulasi produk toksik seperti nitrogen
dan kreatinindalam aliran darah)f.
Hematuria (adanya darah dalam urine)g.
Polliuria (peningkatan frekuensi urinasi)h.
Dysuriai.
Urinasi tidak pada tempatnya (tidak di litter box) j.
Sering menjilati daerah genital.k.
Mengeong ketika urinasi, karena terasa sakit.(Nelson et.al., 2003)
D.

DIAGNOSIS
a.
Anamnesa (perubahan lingkunagn, pakan, stress) b.
Gejala klinis, pemeriksaan fisik (palpasi abdomen: FUS jika dipalpasi terasa sakit)
c.
Analisis urin1.
Pemeriksaan visuala.
Pemeriksaan turbiditas (cloudnes / kekeruhan) b.
warna urinnormal : kuning , bersihabnormal : keruh, tercampur darah bila berbusa ada
masalah di hati pink, biru karena pengaruh obat2.
Specific Gravity (SG)
mengukur seberapa baik ginjal mampu mengkonsentrat urin dan jumlah zat yang
terlarutdalam urin. Tes ini digunakan untuk mengukur berat urin disbanding dengan jumlah
airnya.Bila SG urin naik, menunjukkan bahwa terdapat banyak materi padat yang terlarut
dalam urin.3.
Dipstik analisisTes kimia berupa strip yang digunakan untuk mengukur /melihat darah,
glukosa, protein, bilirubin,dan keton dalam urin.4.
White Blood Cell (pyuria)Dalam keadaan normal tidak ditemukan WBC, namun
bila ditemukan adanya WBC dalam urin dapatdiindikasikan terjadinya infeksi pada saluran
urinasi, sakit ginjal, atau kanker.5.
Red Blood Cell (hematuria)Sama halnya dengan WBC, dalam keadan normal RBC tidak
ditemukan dalam urin. Bila ditemukanRBC dalam urin, kemungkinan terjadi radang,
penyakit atau luka pada ureter, vesica urinaria, atauuretra.6.
Protein (proteinuria)Pada keadaan normal tidak ada. Protein pada diute urin lebih signifikan
daripada concentraled urin.Hasil ini akan berhubungan dengan SG.Hal ini mengindikasikan
terjadinya radang, hemoraghi atau penyakit ginjal7.
Glukosa (glukosuria)Glukosa merupakan type gula yang ditemukan dalam darah, bila
terdapat glukosa dalam urinmengindikasikan adanya penyakit diabetes8.
Bilirubin (bilirubinuria)Bilirubin merupakan Orange-bile-pigmen yang dibentuk dihati, yang
kemudian dieksresikan melaluiurin. Bila terlalu banyak terdapat bilirubin mengindikasikan
adanya hepatitis/hemolisis (destruksiRBC), penyakit ginjal, FIP, Feline hepatic lipidosis9.
KetonKeton normalnya tidak terdapat dalam urin. Seperti halnnya glukosa, keton diproduksi
dari pemecahan
lemak
untuk
kemudian
diubah
menjadi
energy. Namun bila terdapat keton dalam urin, mengindikasikan adanya penyakit diabetes,ket
oacidosis/insuficien food intake/malnutrisi.10.

pH urinnormal pH urin adalah 6-7. Namun semua tergantung dari diet, obat-obatan serta
penyakit.Kucing cenderung sedikit acidic pH.
11.Pemeriksaan mikroskopikPemeriksaan mikroskopis dilakukan dengan pengambilan
sample urin yang disentrifuge (sedimentasiurin) kemudian dilihat sedimennya dengan
menggunakan mikroskop untuk melihat adanya Crystal,RBC, WBC, bakteri, jamur,
cast.
a.
Cast (cylinduria)
Bentukan siindris dari mukoprotein yang beku dalam tubulus renalis.Dibentuk karena
bedatipe material termasuk RBC, WBC, lemak,
renal tubulus epithelial cell cast
/ protein Bisa digunakan untuk membantu diagnose penyakitnya b.
Crystal (crystaluria)Dalam pemeriksaan urin dapat ditemukan beberapa tipe crystal yang
berbeda, namun yang palingumum adalah crystal stuvit, dan calcium oxalate.c.
BakteriBila dalam pengambilan sample urin yang dilakukan secara steril terdapat bakteri
dalam jumlah banyak, mengindikasikan aadanya infeksi pada vesica urinaria.Cara
pengambilan sample urin1.
Cateterisasi2.
Cystocentesis untuk mengkultur urin,Dengan menggunakan spuit melalui dindding
abdominal untuk mendapatkan sample sterillangsung dari
bladder.
d.
Free catchedPengambilan sample langsung saat kucing urinasi, namun kemungkinan
kontaminasi tinggi.
12. Komponen urin kucing normala.
Ammonia 0,05 %, sulfat 0,18 %, fosfat 12 %, Cl 0,6 %, Sodium 0,1 %, Creatinin 0,1 %, Uric
acid0,003 %, Urea 2 %, dan Air 95 %. b.
Selama 24 jam produksi urin mencapai 20

44 ml/kg.c.
Produksi urin meningkat feline polyuria, disebabkan karena pengaruh fisiologis seperti
efek
samping dari obat-obatand.
Produksi urin turun bias diebabkan karena dehidrasi, gagal ginjal, blockade urinariae.
Bau urinAmm

onia kuat infeksi bakteri


.
Ammonia lemah normal
.
Acetonnemia obesitas / DM
13.Pemeriksaan darah: complete blood cell count (CBC) dan serum chemistries
14.Abdominal radiographyPembuatan foto Rontgen atau pemeriksaan dengan USG bagian
abdomen dengan posisi rebah samping
15.Abdominal ultra sounds16.
Pemeriksaan Cystoscopy atau endoscopic pada urethra dan bladder17.
Bladder biopsi
E.
TERAPI DAN PENCEGAHAN
a.
Fluid theraphy (subkutan atau intraena) dapat membantu jika terjadi dehidrasi. Selain itu fuid
therapy juga dapat menyebabkan produksi urine lebih cair, membantu eliminasi dari debris ra
dang dan kristal.Cairan infus yang perlu diberikan ialah larutan Ringer Laktat 5% dengan
dosis 20

40 cc/kgBB/hari.Bilamana anjing banyak muntah (karena sudah terjadi uremia/gagal ginjal),


maka cairan yang diberikanialah Ringer Dextrose 5% (Merck, 2005). b.
Antibiotic, biasanya jika disertai dengan infeksi bakteri (Merck, 2005).c.
Additional medications , seperti tranquilizers, anti-inflammatory agents dan analgesics
(pain killers)(Merck, 2005).d.
Kateterisasi. Sebelum dipasang kateter, dapat dianastesi terlebih dahulu, kemudian masukan
kateterkecil yang dimasukkan ke urethra untuk menghilangkan sumbatan, kemudian lalu ke
vesica urinaria untukmengeluarkannya (Merck, 2005).
Pencegahan
a.
Diet rendah Mg.
b.
Hindari obesitas.
c.
Litter box yang bersih dan mudah dijangkau, agar kucing mau urinasi.
d.

Beri minum ad libitum


(Anonim
1
, 2006).
DAFTAR PUSTAKA
Anonim
1
. 2006.
Feline Urologic Syndrome (FUS).
http://www.randolphanimal.com/articles_search.php?category=57&id=239
,
diakses hari Senin, 20Juni 2011, Yogyakarta.
Anonim
2
. 2007.
Feline Urologic Syndrome
. http://www.uvhberkeley.com/index.php?Page=fus, diakses hariSenin,
Yogyakarta.Anonim
3
. 2009.
Magnesium in the Feline Diet, and its association with FUS.
http://www.felinefuture.com/?p=574,

20

Juni

2011,

diakses hari Senin, 20 Juni 2011, Yogyakarta.Carlson, D. 2008.


Feline Lower Urinary Tract Disease
.http://www.medicinenet.com/pets/cat-health/feline_lower_urinary_tract_disease.htm, diakses
hari Senin, 20 Juni 2011, Yogyakarta.Koesharyono, C. 2008.
Penanganan Kasus Urolithiasis Pada Anjing
. http://www.anjingkita.com/, diakseshari Selasa, 21 Juni 2011, Yogyakarta.Merck, 2005.
The Merck Veterinary Manual
,
Ninth Edition
, National Publishing, Inc. Philadelphia. Nash, H. 2008.
Urine Crystals and Bladder Stones in Cats: Formation, Diet and other Treatment
.http://www.peteducation.com/article.cfm?c=1+2243+2244&aid=2660, diakses hari Selasa,
21 Juni2011, Yogyakarta. Nelson, R.W. and Couto, C.G. 2003.
Small Animal Internal Medicine 3
rd
Edition

, Mosby Inc. Missoury,London.