Anda di halaman 1dari 10

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Lebih kurang tiga perempat bagian dari permukaan bumi tertutup air. Dari
segi ekosistem kita dapat membedakan air tawar, air laut, dan air payau seperti
yang terdapat di muara sungai yang besar. Dari ketiga ekosistem perairan tersebut,
air laut dan air payau merupakan bagian yang terbesar, yaitu lebih dari 97%.
Sisanya adalah air tawar yang justru dibutuhkan oleh manusia dan banyak jasad
hidup lainnya untuk keperluan hidupnya. Sebagian besar dari air tawar yang ada
di permukaan bumi tersimpan dalam bentuk massa es yang sangat besar di daerah
kutub dan sebagai gletser di daerah pegunungan tinggi. Selain itu, air tawar juga
terdapat dalam tanah yang muncul sebagai mata air, mengalir di permukaan
sebagai sungai, dan menggenang dalam danau dan kolam yang jumlahnya lebih
kurang 0,3% dari total volum air (Barus, 2004).
Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan untuk hajat hidup orang
banyak, bahkan oleh semua makhluk hidup. Oleh karena itu sumber daya air
tersebut harus dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan dengan baik oleh manusia
dan makhluk hidup lainnya. Pemanfaatan air untuk berbagai kepentingan harus
dilakukan secara bijaksana dengan memperhitungkan kepentingan generasi
sekarang dan generasi mendatang. Salah satu sumber air yang banyak
dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dan makhluk hidup
lainnya yaitu sungai (Ali, dkk., 2013).
Semua organisme yang hidup tersusun dari sel-sel yang berisi air
sedikitnya 60% dan aktivitas metaboliknya mengambil tempat di larutan air.
Dapat disimpulkan bahwa untuk kepentingan manusia dan kepentingan komersial
lainnya, ketersediaan air dari segi kualitas maupun kuantitas mutlak diperlukan.
Untuk tanaman, kebutuhan air juga mutlak. Pada kondisi tidak ada air terutama
pada musim kemarau tanaman akan segera mati. Sehingga dalam pertanian
disebutkan bahwa kekeringan merupakan bencana terparah dibandingkan bencana
lainnya. Bila kebanjiran, tanaman masih bisa hidup, kekurangan pupuk masih bisa
diupayakan. Air juga merupakan bagian penting dari sumber daya alam yang

mempunyai karakteristik unik dibandingkan dengan sumber daya lainnya. Air


bersifat sumber daya yang terbarukan dan dinamis. Artinya sumber utama air yang
berupa hujan akan selalu datang sesuai dengan waktu atau musimnya sepanjang
tahun. Namun pada kondisi tertentu air bisa bersifat tak terbarukan, misalnya pada
kondisi geologi tertentu di mana proses perjalanan air tanah membutuhkan waktu
ribuan tahun, sehingga bilamana pengambilan air tanah secara berlebihan, air akan
habis (Kodoatie dan Sjarief, 2010).
Saat ini, masalah utama yang dihadapi oleh sumber daya air meliputi
kuantitas air yang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan yang terus
meningkatdan kualitas air untuk keperluan domestik yang semakin menurun.
Kegiatan industri, domestik, dan kegiatan lain berdampak negatif terhadap sumber
daya air, antara lain menyebabkan penurunan kualitas air. Kondisi ini dapat
menimbulkan gangguan, kerusakan, dan bahaya bagi semua makhluk hidup yang
bergantung pada sumber daya air. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan dan
perlindungan sumber daya air secara seksama (Effendi, 2003).
Istilah Kualitas Air digunakan untuk mendefenisikan karakteristik kimia,
fisika, biologi atau radiologi yang mengevaluasi penerimaan air. Kualitas air
bersih mungkin atau tidak dapat diterima oleh pengguna. Jika tidak memuaskan,
sebuah pabrik pengolahan dapat dirancang untuk menghasilkan air yang
berkualitas. Kualitas jangka air harus dipertimbangkan terhadap usulan pengguna
air. Orang mungkin berbicara air sebagai kualitas yang buruk, kualitas medium,
atau kualitas yang sangat baik ketika datang ke individu

(Borchardt, 1971).

Pada akhir-akhir ini proses industrialisasi sangatlah pesat dibarengi dengan


pertambahan penduduk di mana-mana yang sangat cepat. Kenyataan itu
menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap mutu dan keberadaan sumber
daya alam dan lingkungan. Ekosistem air sebagai bagian dari sumber daya alam
juga tidak luput dari segala segi negatif yang timbul. Pemanfaatan air oleh
manusia berpengaruh terhadap keadaan fisika dan kimianya. Sebagai akibatnya,
ekosistem air sebagai habitat berbagai jenis jasad air mengalami perubahan yang
sangat tajam (Barus, 2004).
Penurunan kualitas air akan menyebabkan terjadinya perubahan ekologis
pada perairan, yang memberikan pengaruh terhadap keanekaragaman organisme

yang hidup di dalamnya. Keanekaragaman spesies dapat dijadikan sebagai


indikator kualitas air. Suatu komunitas dikatakan memiliki keanekaragaman
spesies yang tinggi bila terdapat banyak spesies dengan jumlah individu masingmasing species relatif merata. Bila suatu komunitas hanya terdiri dari sedikit
spesies dengan jumlah individu yang tidak merata maka komunitas tersebut
mempunyai keanekaragaman yang rendah dan itu menjadi indikasi bahwa suatu
perairan telah tercemar (Fitra, 2008).
Perubahan kondisi kualitas air pada perairan merupakan dampak dari
buangan dari penggunaan lahan yang ada. Perubahan pola pemanfaatan lahan
menjadi lahan pertanian, tegalan dan permukiman serta meningkatnya aktivitas
industri akan memberikan dampak terhadap kondisi hidrologis dalam suatu daerah
perairan. Selain itu, berbagai aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya yang berasal dari kegiatan industri, rumah tangga, dan pertanian akan
menghasilkan limbah yang memberi sumbangan pada penurunan kualitas air
(Agustiningsih, dkk., 2012).
Pengelolaan sumber daya air sangat penting, agar dapat dimanfaatkan
secara berkelanjutan dengan tingkat mutu yang diinginkan. Salah satu langkah
pengelolaaan yang dilakukan adalah pemantauan dan interpretasi data kualitas air,
mencakup kualitas fisika, kimia, dan biologi. Namun, sebelum melangkah pada
tahap pengelolaan, diperlukan pemahaman yang baik tentang terminologi,
karakteristik, dan interkoneksi parameter-parameter kualitas air (Effendi, 2003).
Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui kondisi perairan sekitar.
2. Untuk mengetahui parameter-parameter kualitas air.
3. Untuk mendapatkan kualitas air yang baik untuk kehidupan.
Manfaat
Adapun manfaat dari makalah ini adalah untuk menambah wawasan
pembaca tentang kualitas perairan, memberikan informasi mengenai perairan yang
baik untuk kesehatan dan kehidupan sehari-hari.

TINJAUAN PUSTAKA
Kualitas Air

Kualitas air, yaitu sifat air dan kandungan makhluk hidup, zat, energi, atau
komponen lain di dalam air. Kualitas air dinyatakan dengan beberapa parameter,
yaitu parameter fisika (suhu, kekeruhan, padatan terlarut, dan sebagainya)
parameter kimia (pH, oksigen terlarut, BOD, kadar logam, dan sebagainya), dan
parameter biologi (keberadaan plankton, bakteri dan sebagainya). Peraturan
Pemerintah No. 20 Tahun 1990 mengelompokkan kualitas air menjadi beberapa
golongan

menurut

peruntukannya.

Adapun

penggolongan

air

menurut

peruntukannya adalah sebagai beikut (Effendi, 2003) :


1. Golongan A, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air minum secara
langsung, tanpa pengolahan terlebih dahulu.
2. Golongan B, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air baku air minum.
3. Golongan C, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan
dan peternakan.
4. Golongan D, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian,
usaha di perkotaan, industri, dan pembangkit listrik tenaga air.
Kualitas air mempelajari bagaimana menetukan sikap terhadap zat pencemar
masalah lingkungan pada umumnya. Yaitu, penentuan racun dari banyak zat
pencemar, atau paling tidak bentuk-bentuk zat pencemar yang lebih khusus lagi,
yang seharusnya dibuat. Logam berat, bahan pengotor, organisme patogen, dan
lain-lain seharusnya dipahami dengan baik dalam kehidupan mereka pada sistem
alami dan kemampuan yang merugikan lingkungan. Dengan informasi ini,
ancaman zat pencemar bisa diatasi dan bisa diatur melalui standar yang luas biasa
(Waite, 1984).
Model kualitas air bisa digunakan untuk menaksir keadaan tetap air, yang
nilai kualitas air dan variabel kuantitas yang tidak berubah seiring berjalannya
waktu, atau menaksir keadaan yang berubah-ubah. Model terakhir yang
dibolehkan adalah sebuah evaluasi atau penilaian dari fenomena sekitar seperti
badai dan tragedi pencemaran. Model tetap biasanya lebih mudah dan
membutuhkan lebih sedikit usaha komputer daripada model dinamis, dan lagi
berhubungan dengan temperatur jangka panjang daripada pengaturan tenperatur
jangka pendek dan kontrolnya (Biswas, 1981).
Parameter Kualitas Air

Parameter Fisiska
Menurut Sari dan Usman (2012), Parameter Fisika meliputi :
1. Suhu
Suhu dipengaruhi oleh cuaca, kedalaman air, gelombang, waktu pengukuran,
pergerakan konveksi, letak ketinggian dari muka laut (altitude), upwelling,
musim, konvergensi, divergensi, dan kegiatan manusia di sekitar perairan
tersebut serta besarnya intensitas cahaya yang diterima perairan. Meskipun
suhunya relatif tinggi, namun masih dalam batastoleransi bagi kehidupan ikan
bahwa suhu yang berkisar antara 270C - 320C baik untuk kehidupan organisme
perairan.

2. Arus
Arus merupakan faktor yang sangat penting terutama bagi alat tangkap yang
pengoperasiannya memanfaatkan arus seperti alat tangkap gombang dan
pengerih. Kecepatan arus dapat dibedakan dalam 4 kategori yakni kecepatan
arus 0-0,25 m/dtk yang disebut arus lambat, kecepatan arus 0,25-0,50 m/dtk
yang disebut arus sedang, kecepatan arus 50 - 1 m/dtk yang disebut arus
cepat, dan kecepatan arus diatas 1 m/dtk yang disebut arus sangat cepat.
3. Kecerahan Perairan
Kecerahan perairan adalah suatu kondisi yang menunjukkan kemampuan
cahaya untuk menembus lapisan air pada kedalaman tertentu. Pada perairan
alami kecerahan sangat penting karena erat kaitannya dengan aktifitas
fotosintesa. Kecerahan merupakan faktor penting bagi proses fotosintesa dan
produksi primerdalam suatu perairan.
Menurut Barus (2004), parameter fisika perairan terdiri dari :
4. Intensitas Cahaya Matahari
Faktor cahaya matahari yang masuk ke dalam air akan mempengaruhi sifatsifat optis dari air. Sebagian cahaya matahari tersebut akan diabsorbsi dan
sebagian lagi akan dipantulan ke luar dari permukaan air. Dengan
bertambahnya kedalaman lapisan air intensitas cahaya tersebut akan
mengalami perubahan yang signifikan baik secara kualitatif mauun
kuantitatif. Penetrasi cahaya akan berbeda pada setiap ekosistem air yang
berbeda. Pada batas akhir penetrasi cahaya disebut sebagai titik kompensasi
cahaya, yaitu titik pada lapisan air, di mana cahaya matahari mencapai nilai

minimum yang menyebabkan proses asimilasi dan respirasi berada dalam


keseimbangan.
Parameter Kimia
Menurut Barus (2004), parameter kimia perairan terdiri dari :
1. Karbondioksida
Meskipun karbondioksida sangat mudah larut dalam air, umumnya zat ini
tidak terdapat bebas melainkan dalam keadaan berikatan dengan air
membentuk asam karbonat (H2CO3). Apakah karbondioksida terdapat dalam
bentuk bebas atau dalam bentuk berikatan, sangat dipengaruhi oleh nilai pH
air. Pada pH yang rendah (pH=4) karbondioksida terdapat dalam bentuk yang
terlarut, pada pH antara 7 sampai 10 semuanya membentuk ion HCO 3-,
sementara pada pH sekitar 11 umumnya dijumpai CO32-. Jadi dalam suasana
basa akan menyebabkan pertambahan ion bikarbonat dan karbonat dalam air.
2. pH
Nilai pH menyatakan nilai konsentrasi ion hidrogen dalam suatu larutan,
didefenisikan sebagai logaritma dari resiprokal aktivitas ion hidrogen dan
secara matematis dinyatakan sebagai pH = log l/H+, dimana H+ adalah
banyaknya ion hidrogen dalam mol per liter larutan. Kemampuan air untk
mengikat atau melepaskan sejumlah ion Hidrogen akan menunjukkan apakah
larutan tersebut bersifat asam atau basa. Organisme air dapat hidup dalam
suatu perairan yang mempunyai nilai pH netral dengan kisaran toleransi
antara asam lemah sampai basa lemah. Nilai ph yang ideal bagi kehidupan
organisme air pada umunya terdapat antara 7 sampai 8,5. Kondisi perairan
yang bersifat sangat asam maupun sangat basa akan membahayakan
kelangsungan hidup organisme karena akan meyebabkan terjadinya gangguan
metabolisme dan respirasi. Disamping itu pH yang sangat rendah akan
menyebabkan mobilitas berbagai senyawa logam berat terutama ion
Aluminium yang bersifat toksik, semakin tinggi yang tentunya akan
mengancam kelangsungan hidup organisme air. Sedangkan pH yang tinggi
akan menyebabkan keseimbangan antara amonium dan amoniak dalam air
akan terganggu.
3. BOD dan COD

Nilai BOD (Biochemical Oxygen Demand) menyatakan jumlah okigen yang


dibutuhkan mikroorganisme aerobik dalam proses penguraian senyawa
organik, yang diukur pada temperatur 200C. Pengukuran BOD didasarkan
kepada kemampuan mikroorganisme untuk menguraikan senyawa organik,
artinya hanya terhadap senyawa yang mudah diuraikan secara biologis seperti
senyawa yang pada umunya terdapat dalam limbah rumah tangga. Untuk
produk-produk kimiawi seperti senyawa minyak dan buangan kimia lainnya
akan sangat sulit ataubahkan tidak bisa diuraikan oleh mikroorganisme. Oleh
karena itu disamping mengukur nilai BOD perlu dilakukan pengukuran
terhadap jumlah oksigen yang dibutuhkan dalam proses oksidasi kimia yang
dikenal sebagai COD (Chemical Oxygen Demand) yang dinyatakan dalam
mgO2/l. Dengan mengukur nilai COD maka akan diperoleh nilai yang
menyatakan jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk proses oksidasi terhadap
total senyawa organik baik yang mudah diuraikan secara biologis maupun
terhadap yang sukar/ tidak bisa diuraikan secara biologis.
4. Amonium dan Amoniak
Dari hasil penelitian diketahui bahwa keseimbangan antara amonium dan
amoniak didalam air sangat dipengaruhi oleh nilai pH air. Pada pH 6, yang
terdapat dalam air adalah 100% amonium, pada pH 7 perbandingan antara
keduanya adalah 1% amoniak dan 99% amonium, pada pH 8 terdapat 4%
amoniak dan 96% amonium, pada pH 9 terjadi lonjakan dimana amoniak
sebesar 25% dan amonium sebesar 75%. Jadi semakin tinggi nilai pH akan
menyebabkan keseimbangan antara amonium dan amoniak semakinbergeser
kearah amoniak, artinya kenaikan pH akan meningkatkankonsentrasi amoniak
yang diketahui bersifat sangat toksik bagi organisme air.
5. Konduktivitas
Nilai konduktivitas merupakan ukuran terhadap konsentrasi total elektrolit
didalam air. Kandungan elektrolit yang pada prinsipnya merupakan garamgaram yang terlarut dalam air, berkaitan dengan kemampuan air dalam
menghantarkan arus listrik. Semakin banyak garam-garam yang terlarut,
semakin baik daya hantar listrik air tersebut. Air suling yang tidak
mengandung garam-garam terlarut, dengan demikian bukan merupakan

penghantar listrik yang baik. Selain dipengaruhi oleh jumlah garam-garam


terlarut konduktivitas juga dipengaruhi oleh nilai temperatur. Peningkatan
temperatur sebesar 10C akan meningkatkan nilai konduktivitas sebesar kurag
lebih 2%.
Pencemaran Air
Masalah yang selalu timbul perairan adalah pencemaran lingkungan yang
disebabkan oleh berbagai kegiatan disekitar perairan maupun perairan itu sendiri.
Pencemaran ini dapat berupa pencemaran fisika kimia khususnya (suhu,
kecerahan,

pH,

oksigen

terlarut,

nitrat,

fosfat,

amoniak

dan

BOD)

(Tatangindatu, 2013).
Pencemaran air, yaitu masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi,
dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga kualitas air
menurun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan tidak lagi berfungsi sesuai
dengan peruntukannya (Effendi, 2003).
Menurut Mukono (2000), beberapa sumber pencemaran air yaitu:
1. Domestik (Rumah tangga)
Yaitu berasal dari pembuangan air kotor dari kamar mandi, kakus dan dapur.
2. Industri
Jenis polutan yang dihasilkan oleh industri sangat bergantung pada jenis
industrinya sendiri, sehingga jenis polutan yang dapat mencemari air
tergantung pada bahan baku, proses industri, bahan bakar sistem pengelolaan
limbah cair dalam industri tersebut.
3. Pertanian dan Perkebunan
Polutan air dari pertanian dapat berupa zat kimia misalnya, dari penggunaan
pupuk, pestisida seperti (DDT, Dieldrin dan lain-lain); Mikrobiologi
misalnya, virus, bakteri, parasit yang berasal dari kotoran ternak dan cacing
tambang di lokasi perkebunan; zat radioaktif yang dipakai dalam proses
pematangan buah, mendapatkan bibit unggul, dan mempercepat pertumbuhan
tanaman.

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan

Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa :


1. Perairan yang baik adalah perairan yang sesuai dengan kriteria kualitas air.
2. Parameter air yang sesuai dengan ketentuan akan menjadikan air yang lebih
bersih dan lebih sehat.
Saran
Kepada praktikan lebih memperhatikan asisten yang memberikan materi
dan kepada asisten laboratorium agar lebih kreatif dalam menyampaikan materi
kepada praktikan.

DAFTAR PUSTAKA

10

Agustiningsih, D., Sasongko, S. B., Sudarno.2012. Analisis Kualitas Air dan


Strategi Pengendalian Pencemaran Air Sungai Blukar Kabupaten Kendal.
Universitas Diponegoro. Semarang.
Ali, A., Soemarno, Mangku Purnomo. 2013. Kajian Kualitas Air dan Status Mutu
Air Sungai Metro di Kecamatan Sukun Kota Malang. Universitas
Brawijaya. Surabaya.
Barus, A. T. 2004. Pengantar Limnologi Studi Tentang Ekosistem Air Daratan.
USU Press: Medan.
Biswas, A. K. 1981. Models for Water Quality Management. United States
America. New York.
Borchardt, J. A. 1971. Water Quality and Treatment. McGRAW-HILL. New York.
Effendi. H. 2003. Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumber Daya dan
Lingkungan Perairan. Kanisius: Yogyakarta.
Fitra, E. 2008. Analisis Kualitas Air dan Hubungannya dengan Keanekaragaman
Vegetasi Akuatik di Perairan Parapat Danau Toba (Tesis). Universitas
Sumatera Utara. Medan.
Kodoatie, R. J. Dan Sjarief, R. 2010. Tata Ruang Air. ANDI: Yogyakarta.
Mukono, H. J. 2000. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan. Airlangga University
Press: Surabaya.
Sari, T. E. Y., dan Usman. 2012. Studi Parameter Fisika dan Kimia Daerah
Penangkapan Ikan Perairan Selat Asam Kabupaten Kepulauan Meranti
Provinsi Riau. Universitas Riau. Riau.
Tatangindatu, F., Kausaran, O., Robert Rompas. 2013. Studi Parameter Fisika
Kimia Air pada Areal Budidaya Ikan di Danau Tondano Desa Pauloan,
Kabupaten Minahasa. Sulawesi Utara.
Waite. T. D. 1984. Principles of Water Quality. Academic Press. Inc. New York.