Anda di halaman 1dari 1

2.

4 Tinjauan Pelepasan Obat


Sistem pemberian obat transdermal cenderung untuk mendukung lalu lintas bahan
obat dari permukaan kulit melalui bermacam-macam lapisan ke dalam sirkulasi sistemik. Ada
dua tipe dasar pada sistem penyampaian obat secara transdermal; (1) yang dapat mengatur
laju obat untuk diberikan pada kulit, dan (2) yang dapat memungkinkan kulit untuk mengatur
absorpsi obat. Tipe kedua ini berguna untuk obat-obat yang daya cakupan konsentrasi
plasmanya luas terhadap efektivitas obat ini, tapi tidak menjadi racun (Ansel,1989). Absorpsi
perkutan obat dari sediaan topikal merupakan perjalanan melalui kulit yang meliputi disolusi
obat dalam pembawanya, difusi obat terlarut dari pembawa ke permukaan kulit dan penetrasi
obat melalui stratum korneum (Martin et al., 1993).
Secara umum mekanisme transpor obat dari bentuk sediaan terjadi dalam dua tahap.
Tahap pertama adalah pelepasan obat dari pembawa dan tahap kedua adalah penetrasi melalui
barier. Proses transpor terutama terjadi karena adanya gradien konsentrasi (Martin et al.,
1993).
Proses tranpor obat melalui barier didasari oleh hukum Fick 1, yaitu jumlah molekul
senyawa yang melewati setiap unit barier dalam setiap satuan waktu, yang dinyatakan
sebagai flux (J) (Martin et al., 1993).
J=dM / S.dt
dengan, J adalah fluks yaitu jumlah massa zat (M) yang berdifusi melalui satuan unit luas
bidang difusi (A) persatuan waktu (t), dan besarnya fluks ini sebanding dengan konsentrasi
gradien, dengan persamaan
J= -D (dC/Dx)
dengan D = koefisien difusi, C =
konsentrasi dan x = jarak gerakan tegak
lurus dari permukaan batas tersebut.
Tanda negatif pada persamaan (2)
menunjukkan difusi berjalan dengan
arah berlawanan dengan naiknya
konsentrasi, berarti difusi berjalan seiring dengan menurunnya konsentrasi
(Martin et al., 1993)