Anda di halaman 1dari 5

MAKALAH MANAJEMEN PEMASARAN 2

ANALISA POTENSI PASAR


ANALISA PERILAKU KONSUMEN
ANALISA BENCHMARK INDUSTRI

Analisa Potensi Pasar


Market Intelligence merupakan kegiatan yang sangat penting untuk memperoleh informasi, mengolah,
menganalisis, menyusun strategi dan program mengenai potensi pasar, persaingan, tingkat persaingan,
customer dan potensi sumber daya dalam proses pengambilan keputusan. Sistem intelijen pemasaran
merupakan bagian dari sistem informasi pemasaran serta sangat erat kaitannya dengan sistem catatan intern
perusahaan dan riset pemasaran. Informasi tersebut dapat berasal dari dalam perusahaan sendiri, konsultan
riset pemasaran, biro periklanan, pemasok, pelanggan, bahkan pesaing.
Dengan melakukan market intelligence ini, peserta dapat mengetahui sejauh mana respon pasar terhadap
produk dan jasa yang kita miliki, yaitu dengan cara melakukan analisis terhadap kondisi dan peluang pasar,
analisis customer, dan analisis pesaing. Tujuannya adalah untuk menciptakan pertumbuhan ekspor produk dan
jasa Indonesia, peningkatan market share, serta memaksimalkan revenues, dengan cara menyeimbangkan
antara cost dan price dari berbagai produk/jasa yang kita miliki.
Training ini, diharapkan dapat memberikan bekal kepada seluruh peserta agar dapat lebih melihat peluang untuk
meningkatkan networking dalam rangka memasarkan produk-produk Indonesia ke dunia internasional.
Tujuan
Tujuan yang diharapkan dari kegiatan pelatihan ini antara lain:
1.

Peserta mampu melihat dan memanfaatkan potensi dan peluang pasar dari aktivitas usaha
yang dijalankan

2.

Memperoleh besaran biaya yang efisien sehingga dapat menawarkan harga yang lebih
bersaing

3.

Memperoleh informasi mengenai kinerja pesaing dan tingkat persaingan

4.

Memperoleh peningkatan customer responsiveness

5.

Memperoleh peningkatan loyalitas customer melalui consumer behavior.

6.

Dapat membuat action plan untuk peningkatan kinerja marketing dan promosi secara
berkesinambungan

.Analisa Perilaku Konsumen


Perilaku konsumen dapat dianalisis melalui pendekatan IC. Definisi IC adalah kurva yang menunjukkan
tempat kedudukan titik-titik yang menunjukkan kombinasi antara barang yang dikonsumsi (2 barang)
yang memberikan kepuasan yang sama. Kepuasan maksimum konsumen dalam mengkonsumsi

barang akan tercapai, apabila garis anggaran bersinggungan dengan IC. Premis yang digunakan dalam
menjelaskan definisitersebut adalah:
a. konsumen selalu berusaha memaksimumkan kepuasan.
b. cita rasa konsumen tercermin dalam IC yang jumlahnya tak terhingga dan tidak saling berpotongan
satu sama lain.
c. pendapatan konsumen dan harga-harga barang diketahui dan tergambar dalam garis anggaran
(budget constraint).
Dampak perubahan harga barang, penghasilan konsumen, dan selera konsumen terhadap jumlah
barang yang diminta adalah:
a. apabila harga barang yang dihadapi konsumen berubah, maka konsumen akan mengubah pola
konsumsinya. Inforinasi ini relevan bagi perusahaan dalam menentukan hargajual barang.
b. apabila penghasiian konsumen mengalami perubahan, maka konsumen akan mengubah pola
konsumsinya. Analisis ini mendasari konsepelastisitas pendapatan yang berguna untuk meramalkan
pengaruh perubahan suasana dunia usaha terhadap fungsi permintaan dan fungsi potensi pasar.
c. apabila selera konsumen terhadap suatu barang berubah, maka IC akan berubah juga. Informasi ini
berguna untuk melihat dampak perikianan terhadap selera konsumen yang selanjutnya mempengaruhi
permintaan barang.
Di samping menggunakan pendekatan IC, perilaku konsumen dalam mengkonsumsi barang dapat
dianalisis dengan menggunakan pcndekatan atribut. Definisi atribut adalah semua jasa yang dihasilkan
dari penggunaan dan atan pemilikan barang tersebut. Contoh atribut, sebuah mobil antara lain: jasa
pengangkutan, prestise, keamanan, dan lain sebagainya. Sedang yang dimaksud dengan garis batas
efisiensi (efficiency frontier) adalah batas luar dan merupakan kombinasi dua atribut yang dapat dicapai
konsumen dengan batas anggaran tertentu (budget constraint). Kepuasan maksimurri konsumen
tercapai apabila efficiency frontier disinggung oleh IC konsurnen tersebut.
Perubahan harga barang, penghasilan konsumen, dan persepsi konsumen terhadap efficiency frontier
adalah:
a. apabila harga barang tunin, maka efficiency frontier bergeser keluar dan sebaliknya apabila harga
barang naik, efficiency fronhier bergeserke dalam
mendekati titik asal nol (O),
b. apabila penghasilan meningkat dan barang yang dikonsumsi itu normal sifatnya tentu efficiency
frontier seluruhnya bergeser sejajar keluar dan
sebaliknya penghasilan menurun, maka efficiency frontier akan bergeser kekiri.
c. persepsi konsumen berhubungan dengan jumlah atribut yang terdapat dalam suatu barang. Apabila
konsumen merasa atribut suatu barang meningkat, maka efficiency frontier akan bergeser ke kanan.
Simpulan
Pendekatan teori konsumen seperti yang telah diuraikan di muka ada dua (2) yaitu: pendekatan IC dan
pendekatan atribut. Penghasilan konsumen, selera
konsumen, dan persepsi konsumen alkan mengubah IC dan efficiency frontier yang selanjutnya akan
mengubah posisi/titik kepuasan maksimum konsumen tersebut. Pada pendekatan atribut ada beberapa
atribut barang (misalnya: prestise, status, keamanan dan sebagainya) yang hanya dapat ditentukan
secara subyektif. Analisis pendekatan IC dan atribut menghasilkan informasi yang relevan bagi
perusabaan dalam menentukan harga jual barang, mengetahui potensi pasar, melihat dampak
perikianan suatu produk dan lain sebagainya

Analisis Benchmark Industri

Benchmarking dapat diartikan sebagai metode sistematis untuk


mengidentifikasi, memahami, dan secara kreatif mengembangkan proses,
produk, layanan, untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Manfaat bagi
perusahaan dengan mengembangkan benchmarking, antara lain:
Untuk menetapkan sasaran yang menantang dan realistis

Untuk menentukan bagaimana sasaran dapat dicapai


Perlunya adanya terobosan peningkatan dalam organisasi
Perlunya memperoleh ide-ide baru
12. Beberapa Kendala

Berhubung proses identifikasi dan transfer praktek bisnis cenderung memakan


waktu (time consuming) ,maka kendala yang terutama dalam melakukan
benchmarking adalah kurangnya motivasi untuk mengadopsi praktek bisnis,
kurangnya informasi yang memadai mengenai cara adaptasi dan
penggunaannya secara efektif dan kurangnya kapasitas (sumberdaya ataupun
keterampilan) dalam penyerapan praktek bisnis Kebanyakan orang mempunyai
kecenderungan untuk belajar, membagi pengalaman, dan bertindak lebih baik.
Kecenderungan ini dihalangi oleh sebab-sebab administratif, struktural, budaya
yang berpengaruh negatif pada keseluruhan organisasi, antara lain:
Struktur organisasi silo, di mana masing-masing unit fokus pada tujuan sendiri,
sehingga kepentingan bersama lebih dipandang dari sudut pandang masingmasing unit.
Budaya menghargai keahlian dan penciptaan pengetahuan lebih dominan
disbanding budaya membagi keahlian.
Kurangnya kontak, hubungan dan perspektif bersama dalam suatu organisasi.
Sistem yang tidak memungkinkan atau menghargai upaya untuk melakukan
knowledge sharing atau keterampilan
Faktor-faktor budaya yang menghambat proses knowledge sharing yaitu:
Kurangnya kepercayaan
Perbedaan budaya, kosa kata, dan kerangka berpikir
Kurangnya sarana baik waktu, tempat pertemuan, kesempatan untuk
menampung ide-ide yang menunjang produktivitas
Penghargaan atau status tetap dimiliki oleh unit yang di-benchmark.
Kurangnya kapasitas untuk menyerap pengetahuan
Kepercayaan bahwa pengetahuan tetap dimiliki oleh unit yang di-benchmark,
atau sindrom bukan hasil karya unit kami
Kurang toleransi terhadap kesalahan atau dalam membutuhkan pertolongan
13. Langkah-langkah Melakukan Benchmarking
Secara umum tahap-tahap pelaksanaan dalam benchmarking dapat disampaikan
sebagai berikut :
Merencanakan proses benchmarking dan karakterisasi target yang akan dibenchmark
Pengumpulan dan analisis data internal

Pengumpulan dan analisis data eksternal


Peningkatan kinerja target benchmarking
Peningkatan secara berkelanjutan
Adapun tahap-tahap dalam proses transfer atau benchmark adalah:
Inisiasimeliputi semua hal yang membawa kepada keputusan mengenai
perlunya untuk mentransfer praktek, seperti penemuan, ataupun proses kerja
yang efektif dalam sebuah organisasi.Implementasialiran sumber daya antara
penerima dan unit sumber, hubungan social terjalin, dan upaya-upaya untuk
melakukan transfer sudah lebih dapat diterima oleh pelaku benchmark Ramp-up
dimulai ketika penerima mulai menggunakan pengetahuan yang diperoleh,
dengan cara mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang tak terduga,
sehingga kinerja meningkat secara bertahap Integrasidimulai ketika penerima
menerima hasil yang memuaskan dengan penggunaan pengetahuan yang
diperoleh, dan terjadi proses institusionalisasi pengetahuan dan keterampilan
yang diperoleh Proses benchmark bukan menyontek, tetapi membandingkan
keberadaan suatu proses di satu pihak dengan pihak lain yang melakukan proses
yang sama. Hasil analisa yang diperoleh digunakan sebagai alat untuk
melakukan perbaikan sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerja. Silakan
mencoba melakukan benchmark, pasti banyak perubahan positif yang bisa
diterapkan di dalam organisasi anda
14.

Kesimpulan Dan Saran

Dapat dikatakan bahwa benchmarking membutukan kesiapan Fisik dan


Mental. Secara Fisik karena dibutuhkan kesiapan sumber daya manusia dan
teknologi yang matang untuk melakukan benchmarking secara akurat.
Sedangkan secara Mental Adalah bahwa pihak manajemen perusahaan harus
bersiap diri bila setelah dibandingkan dengan pesaing, ternyata mereka
menemukan kesenjangan yang cukup tinggi.Maka dapat disimpulkan beberapa
hal yang harus diketahui oleh perusahaan maupun mereka yang berkecimpung
dalam dunia bisnis bahwa:
Benchmarking merupakan kiat untuk mengetahui tentang bagimana dan
mengapa suatu perusahaan yang memimpin dalam suatu industri dapat
melaksanakan tugas-tugasnya secara lebih baik dibandingkan dengan yang
lainnya.
Fokus dari kegiatan benchmarking diarahkan pada praktik terbaik dari
perusahaan lainnya. Ruang lingkupnya makin diperluas yakni dari produk dan
jasa menjalar kearah proses, fungsi, kinerja organisasi, logistik, pemasaran, dll.
Benchmarking juga berwujud perbandingan yang terus-menerus, jangka panjang
tentang praktik dan hasil dari perusahaan yang terbaik dimanapun perusahaan
itu berada.
Praktik banchmarking berlangsung secara sistematis dan terpadu dengan praktik
manajemen lainnya, misalnya TQM, corporate reengineering, analisis pesaing, dll
Kegiatan benchmarking perlu keterlibatan dari semua pihak yang
berkepentingan, pemilihan yang tepat tentang apa yang akan di- benchmarking-

kan, pemahaman dari organisasi itu sendiri, pemilihan mitra yang cocok dan
kemampuan untuk melaksanakan apa yang ditemukan dalam praktik bisnis