Anda di halaman 1dari 23

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Pernikahan Dini
Perkawinan menurut undang-undang No. 1 tahun 1974 pasal 1,
perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang
wanita sebagai seorang suami istri dengan tujuan membentuk keluarga
(rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa, (Jamali. A, 2006).
Menurut Puspitasari dalam Jamali. A (2006) perkawinan adalah
suatu ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita, hidup
bersama dalam rumah tangga, melanjutkan keturunan menurut ketentuan
hukum syariat islam.
Ada banyak pengertian pernikahan dini, disini akan menyebutkan
dua diantaranya. Yang pertama yaitu menurut Prof. Dr. Sarlito Wirawan.
Beliau mengatakan pernikahan dini adalah sebuah nama yang lahir dari
komitmen moral dan keilmuan yang sangat kuat, sebagai sebuah solusi
alternative. Sedangkan Al-Quran mengistilahkan ikatan pernikahan dengan
mistaqan ghalizhan , artinya perjanjian kokoh atau agung yang diikat
dengan sumpah, (Luthfiyah, 2008).
Menurut Peraturan menteri Agama No.11 Tahun 2007 tentang
pencatatan nikah bab IV pasal 7 menyatakan bahwa syarat pernikahan dini
adalah Apabila seorang calon mempelai belum mencapai umur 21
(duapuluh satu) tahun, harus mendapat izin tertulis kedua orang tua.

Sedangkan menurut

Dlori (2005) mengemukakan

bahwa :

pernikahan dini merupakan sebuah perkawinan dibawah umur yang target


persiapannya belum dikatakan maksimal persiapan fisik, persiapan mental,
juga persiapan materi. Karena demikian inilah maka pernikahan dini bisa
dikatakan sebagai pernikahan yang terburu-buru, sebab segalanya belum
dipersiapkan secara matang. Jika dilihat dari sudut pandang Islam bahwa
dalam Islam telah diberi keluasan bagi siapa saja yang sudah memiliki
kemampuan untuk segera menikah dan tidak mundur untuk melakukan
pernikahan bagi mereka yang sudah mampu bagaimana yang akan dapat
menghantarkannya kepada perbuatan haram (dosa) karena selain itu
Rasulullah telah memberikan panduan bagi laki-laki kapan saja untuk
mencari pasangan yang memiliki potensi kesuburan untuk memiliki
keturunan ,(shaheed,2007).

2.2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pernikahan Dini


Menurut Alfiyah (2010), ada beberapa faktor yang mendorong
terjadinya perkawinan usia muda yang sering dijumpai dilingkungan
masyarakat kita yaitu :
2.2.1

Ekonomi
Perkawinan usia muda terjadi karena adanya keluarga yang hidup
digaris kemiskinan, untuk meringankan beban orang tuanya maka
anak wanitanya dikawinkan dengan orang yang dianggap mampu.

2.2.2

Pendidikan
Rendahnya tingkat pendidikan maupun pengetahuan orang tua, anak
dan masyarakat, menyebabkan adanya kecenderungan mengawinkan
anaknya yang masih dibawah umur.

2.2.3

Faktor Orang Tua


Orang tua khawatir kena aib karena anak perempuannya berpacaran
dengan laki-laki yang sangat lengket sehingga segera mengawinkan
anaknya.

2.2.4

Media Massa
Gencarnya expose seks dimedia massa menyebabkan remaja modern
kian permisif terhadap seks.

2.2.5

Faktor Adat
Perkawinan usia muda terjadi karena orang tuanya takut anaknya
dikatakan perawan tua sehingga segera dikawinkan.

2.2.6

Keluarga Cerai ( Broken Home )


Banyak anak-anak korban perceraian terpaksa menikah secara dini
karena berbagai alasan, misalnya: tekanan ekonomi, untuk
meringankan beban orang tua tunggal, membantu orang tua,
mendapatkan pekerjaan, meningkatkan taraf hidup.

Menurut Puspitasari dalam Jaya dinigrat A (2006) sebab-sebab utama dari


perkawinan usia dini adalah :
2.2.1

Keinginan untuk segera mendaptkan tambahan anggota keluarga.

2.2.2

Tidak adanya pengertian mengenai akibat buruk perkawinan terlalu


muda, baik bagi mempelai itu sendiri maupun keturunannya.

2.2.3

Sifat kolot orang jawa yang tidak mau menyimpang dari keturunan
adat. Kebanyakan orang desa mengatakan bahwa mereka itu
mengawinkan anaknya begitu muda hanya karena mengikuti adat
kebiasaan saja.

Terjadinya perkawinan usia muda menurut Puspitasari dalam suryono


(1992) disebabkan oleh:
2.2.1

Masalah ekonomi keluarga.

2.2.2

Orang tua dari gadis meminta masyarakat kepada keluarga laki-laki


apabila mau mengawinkan anak gadisnya. Bahwa dengan adanya
perkawinan anak-anak tersebut, maka dalam keluarga gadis akan
berkurang satu anggota keluarganya yang menjadi tanggung jawab
(makanan, pakaian, pendidikan, dan sebagainya).

Adapun menurut shappiro, 2000 hal-hal yang mempengaruhi perkawinan


usia muda antara lain:
2.2.1

Minimnya pengetahuan dan pemahaman tentang arti dan makna


sebuah perkawinan

2.2.2

Rendahnya tingkat pendidikan terutama bagi masyarakat yang


tinggal di pedesaan.

2.2.3

Karena tekanan ekonomi yang semakin sulit berakibat timbulnya


rasa frustasi, sehingga pelariannya adalah kawin.

2.3. Skema faktor-faktor yang mempengaruhi pernikahan dini

Gambar 1. Skema faktor-faktor penyebab pernikahan dini

2.4. Akibat/Dampak Pernikahan Dini


Dalam Kamus Bahasa Indonesia (Ahmad, 1996) resiko diartikan
sebagai

bahaya/kerugian/kerusakan.

Sedangkan

pernikahan

diartikan

sebagai suatu perkawinan, sementara dini yaitu awal/muda. Jadi


perkawinan dini merupakan perkawinan yang dilakukan pada usia yang
masih muda yang dapt merugikan (Anonymous, 2013).
Dlori (2005) mengemukakan bahwa pernikahan dini merupakan
sebuah perkawinan dibawah umur yang target persiapannya belum
dikatakan maksimal persiapan fisik, persiapan mental, juga persiapan
materi. Karena demikian inilah maka pernikahan dini dapat dikatakan
sebagai pernikahan yang terburu-buru, sebab segalanya belum dipersiapkan
secara matang. Nikah usia dini pada wanita tidak hanya menimbulkan
persoalan

hukum,

melanggar

undang-undang

10

tentang

pernikahan,

perlindungan anak dan Hak Asasi Manusia, tapi juga menimbulkan


persoalan bisa menjadi peristiwa traumatik yang akan menghantui seumur
hidup dan timbulnya persoalan resiko terjadinya penyakit pada wanita serta
resiko tinggi berbahaya saat melahirkan, baik pada si ibu maupun pada anak
yang dilahirkan. Resiko penyakit akibat nukah usia dini beresiko tinggi
terjadinya panyakit kanker leher rahim, neoritis depesi, dan konflik yang
berujung perceraian ,(kawakib, 2009).
Menurut Lenteraim (2010) pernikahan dini memiliki beberapa
dampak sebagai berikut :
2.4.1

Kesehatan Perempuan
2.4.1.1

Kehamilan dini dan kurang terpenuhinya gizi bagi dirinya


sendiri

2.4.1.2

Resiko anemia dan meningkatnya angka kejadian depresi

2.4.1.3

Beresiko pada kematian usia dini

2.4.1.4

Meningkatnya Angka Kematian Ibu (AKI), ingat 4T

2.4.1.5

Study epidemiologi kanker serviks: resiko meningkat lebih


dari 10x bila jumlah mitra seks 6/lebih atau bila
berhubungan seks pertama dibawah usia 15 tahun

2.4.1.6

Semakin muda wanita memiliki anak pertama, semakin


rentang terkena kanker serviks

2.4.1.7

Resiko terkena penyakit menular seksua

11

2.4.2

Kualitas Anak
2.4.2.1 Bayi berat lahir rendah (BBLR) sangat tinggi, adanya
kebutuhan

nutrisi

yang

harus

lebih

banyak

untuk

kehamilannya dan kebutuhan pertumbuhan ibu sendiri


2.4.2.2 Bayi-bayi yang dilahirkan dari ibu yang berusia dibawah 18
tahun rata-rata lebih kecil dan bayi dengan BBR memiliki
kemungkinan 5-30x lebih tinggi untuk meninggal
2.4.3

Keharmonisan Keluarga dan Perceraian


2.4.3.1 Banyaknya pernikahan usia muda berbanding lurus dengan
tingginya angka perceraian
2.4.3.2

Ego remaja yang masih tinggi

2.4.3.3 Banyaknya kasus perceraian merupakan dampak dari


mudanya usia pasangan bercerai ketika memutuskan untuk
menikah
2.4.3.4 Perselingkuhan
2.4.3.5 Ketidakcocokan hubungan dengan orang tua maupun
mertua
2.4.3.6 Psikologis yang belum matang, sehingga cenderung labil
dan emosional
2.4.3.7 Kurang mampu untuk bersosialisasi dan adaptasi
Tanpa kita sadari menurut Hidayat (2010) banyak dampak dari
pernikahan dini. Ada yang berdampak bagi kesehatan, ada pula yang
berdampak bagi psikis dan kehidupan remaja yaitu seperti :

12

2.4.1

Kanker leher rahim


Perempuan yang menikah dibawah umur 20 tahun beresiko
terkena kanker leher rahim. Pada usia remaja, sel-sel leher rahim
belum matang. Kalau terpapar human papiloma virus atau HPV
pertumbuhan sel akan menyimpang akan menjadi kanker. Leher
rahim ada dua lapis epitel, epitel skuamosa dan epitel kolumner.
Pada sambungan kedua epitel terjadi pertumbuhan yang aktif,
terutama pada usia muda. Epitel kolumner akan berubah menjadi
epitel skuamosa. Perubahannya disebut metaplasia. Kalau ada HPV
menempel, perubahan menyimpang menjadi dysplasia yang
merupakan awak dari kanker. pada usia lebih tua, diatas 20 tahun,
sel-sel sudah matang, sehingga resiko makin kecil. Gejala awal
perlu diwaspadai, keputihan yang berbau, gatal, serta pendarahan
setelah senggama. Jika diketahui pada stadium sangat dini atau
prakanker, kanker leher rahim bisa diatasi secara total. Untuk itu
perempuan yang aktif secara seksual dianjurkan melakukan tes
Papsmear 2-3 tahun sekali.

2.4.2 Neuritis depresi

Depresi berat atau neuritis depresi akibat pernikahan dini ini,


bisa terjadi pada kondisi kepribadian yang berbeda. Pada pribadi
introvert (tertutup) akan membuat si remaja menarik diri dari
pergaulan. Dia menjadi pendiam, tidak mau bergaul, bahkan
menjadi seorang yang schizophrenia atau dalam bahasa awam yang
dikenal orang adalah gila. Sedang depresi berat pada pribadi

13

ekstrovert (terbuka) sejak kecil,si remaja terdorong melakukan halhal aneh untuk melampiaskan amarahnya. Seperti, perang piring,
anak dicekik dan sebagainya. Dengan kata lain, secara psikologis
kedua bentuk depresi sama-sama berbahaya. Dalam pernikahan
dini sulit membedakan apakah remaja laki-laki atau remaja
perempuan yang biasanya mudah mengendalikan emosi. Situasi
emosi mereka jelas labil, sulit kembali pada situasi normal.
Sebaiknya, sebelum ada masalah lebih baik diberi prevensi dari
pada mereka diberi arahan setelah menemukan masalah. Biasanya
orang mulai menemukan masalah kalau dia punya anak. Begitu
punya anak, berubah 100 %. Kalau berdua tanpa anak, mereka
masih bisa enjoy, apalagi kalau keduanya berasal dari keluarga
cukup mampu, keduanya masih bisa menikmati masa remaja
dengan bersenang-senang meski terikat dalam tali pernikahan. Usia
masih terlalu muda, banyak keputusan yang diambil berdasar emosi
atau mungkin mengatasnamakan cinta yang membuat mereka salah
dalam bertindak. Meski tak terjadi Married By Accident (MBA)
atau menikah karena kecelakaan, kehidupan pernikahan pasti
berpengaruh besar pada remaja. Oleh karena itu, setelah dinikahkan
remaja tersebut jangan dilepas begitu saja.
2.4.3

Konflik yang berujung perceraian


Sibuknya seorang remaja menata dunia yang baginya sangat
baru dan sebenarnya dia belum siap menerima perubahan ini.
Positifnya, dia mencoba bertanggung jawab atas hasil perubahan

14

yang dilakukan bersama pacaranya. Hanya satu persoalannya,


pernikahan usia dini sering berbuntut perceraian. Mampukah
remaja itu bertahan? Ada apa dengan cinta? Mengapa pernikahan
yang umumnya dilandasi rasa cinta bisa berdampak buruk, bila
dilakukan oleh remaja? Pernikahan dini atau menikah dalam usia
muda, memiliki dua dampak cukup berat. Dari segi fisik, remaja itu
belum kuat, tulang punggungnya masih terlalu kecil sehingga bisa
membahayaka proses persalinan. Oleh karena itu pemerintah
mendorong masa hamil sebaiknya dilakukan pada usia 20-30 tahun.
Dari segi mental pun, emosi remaja belum stabil. Kestabilan emosi
umumnya terjadi pada usia 24 tahun, karena pada saat itulah orang
mulai memasuki usia dewasa. Masa remaja, boleh dibilang baru
berhenti pada usia 19 tahun. Dan pada usia 20-24 tahun dalam
psikologis, dikatakan sebagai usia dewasa muda atau lead edolesen.
Pada masa ini biasanya mulai timbul tradisi dari gejolak remaja ke
masa dewasa yang lebih stabil. Maka, kalau pernikahan dilakukan
dibawah umur 20 tahun secara emosi si remaja masih ingin
bertualang menemukan jati dirinya. Bayangkan kalau orang seperti
itu menikah, ada anak, si istri hatus melayani suami dan suami
tidak bisa kemana-mana karena harus bekerja untuk belajar
bertanggung jawab terhadap masa depan keluarga. Ini yang
menyebabkan gejolak dalam rumah tangga sehingga terjadi
perceraian dan pisah rumah.

15

2.4.4

Resiko kehamilan usia dini


Menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN) tahun 2005 usia untuk hamil dan melahirkan adalah 20
sampai 30 tahun atau kurang dari usia tersebut adalh beresiko.
Kesiapan seorang perempuan untuk hamil dan melahirkan atau
mempunyai anak ditentukan oleh kesiapan dalam tiga hal, yaitu
kesiapan fisik, kesiapan mental/emosi/psikologi dan kesiapan
soial/ekonomi. Secara umum, seorang perempuan dikatakan siap
secara fisik jika telah menyelesaikan pertumbuhan tubuhnya
(ketika tubuhnya berhenti tumbuh), yaitu sekitar usia 20 tahun.
Sehingga usia 20 tahun bisa di jadikan pedoman kesiapan fisik.
Penyulit pada kehamilan pada remaja, lebih tinggi dibandingkan
kurun waktu reproduksi sehat antara umur 20 sampai 30 tahun.
Keadaan ini disebabkan belum matangnya alat reproduksi untuk
hamil,

sehingga

dapat

merugikan

kesehatan

ibu

mampu

perkembangan dan pertumbuhan janin. Keadaan tersebut akan


makin menyulitkan bila ditambah dengan tekanan (stress)
psikologi, sosial, ekonomi, sehingga memudahkan terjadinya
keguguran, persalinan prematur, Berat Badan Lahir Rendah
(BBLR) dan kelainan bawaan dan mudah terjadi infeksi
(Manuaba,1998)
2.4.5

Resiko Persalinan Usia Dini


Melahirkan terutama kelahiran bayi pertama mengandung
resiko kesehatan bagi semua wanita. Bagi seorang wanita yang

16

kurang dari usia 17 tahun yang belum mencapai kematangan fisik,


resikonya semakin tinggi. Remaja usia muda, terutama mereka
yang belum 15 tahun lebih besar kemungkinannya mengalami
kelahiran secara prematur (prematur labor), keguguran dan
kematian

bayi

atau

jabang

bayi

dalam

kandungan,

dan

kemungkinannya meninggal akibat kehamilan, empat kali lipat dari


wanita yang lebih tua berusia 20 tahun ke atas. Lagi pula bayi
mereka lebih besar kemungkinan lahir dengan berat yang kurang
normal dan meninggal sebelum usia satu tahun dari pada bayi-bayi
yang dilahirkan oleh para wanita dewasa ,(Manuaba,1998).

2.5. Upaya Mencegah Pernikahan Dini


Upaya preventif ahli kesehatan masyarakat dalam masalah pernikahan
dini dapat menggunakan teori perubahan perilaku dari Green (1999), yaitu
dipengaruhi oleh 3 faktor (predisposing, enabling, dan reinforcing factor).
2.5.1

Predisposing Factor
Adanya faktor yang menginisisaasi terjadinya pernikahan
dini pada remaja. Faktor ini antara lain adalah faktor nilai dan norma
yang berkembang di masyarakat sekitar tempat tinggal remaja.
Mereka beranggapan bahwa jika seorang anak tidak segera menikah
maka akan timbul julukan perawan tua. Hal inilah yang memicu
terjadinya pernikahan dini pada remaja.
Sebagai
ahli
kesehatan
masyarakat

kita

harus

mampumengadakan upaya preventif dengan cara memberdayakan

17

remaja

akan

pentingnya

pendidikan

untuk

meningkatkan

pengetahuan remaja sehingga produktivitas remaja meningkat.


Selain meningkatkan ilmu pengetahuan para remaja dengan adanya
pemahaman remaja tentang pentingnya pendidikan

maka akan

membentuk pola pemikiran remaja untuk menunda usia pernikahan


karena ia sedang menuntut pendidikan, sehingga masalah pernikahan
dini beserta dampak negatifnya berkurang.
2.5.2

Enabling Factor
Merupakan faktor pendorong terjadinya perilaku. Pendorong
terjadinya pernikahan dini pada remaja antara lain persepsi keluarga
bahwa dengan menikahkan anaknya, maka dapat meringankan beban
ekonomi keluarga.
Oleh karena itu, sebagai ahli kesehatan masyarakat, hendaknya bisa :
2.5.2.1 Bekerjasama dengan perangkat desa atau kelurahan agar
lebih teliti dalam mengeluarkan surat keterangan umur
untuk persyaratan pernikahan bagi warganya sehingga tidak
ada yang memanipulasi umur pernikahan sehingga lolos
dalam persyaratan pernikahan.
2.5.2.2 Adanya acara yang bermanfaat bagi remaja. Dapat
dilakukan dengan meningkatkan keikutsertaan remaja
dalam ekstrakurikuler di sekolah dan di karang taruna desa.
2.5.2.3 Adanya fasilitasn bimbingan dan konseling remaja di
sekolahnya agar mendukung remaja untuk memperoleh
informasi informasi mengenai tahap perkembangan
remaja pada umumnya.
2.5.2.4 Adanya program wajib belajar 12 tahun.

18

2.5.2.5 Bekerjasama dengan KUA agar lebih ketat mengeluarkan


persyaratan menikah
2.5.3

Reinforcing Factor
2.5.3.1 memberikan pemahaman pada keluarga tentang masa
pertumbuhan dan perkembangan, serta tugas perkembangan
yang seharusnya dipenuhi oleh remaja pada umumnya.
2.5.3.2 Bekerjasama dengan perangkat desa dan tokoh masyarakat
dalam memberikan pemahaman kepada remaja dan keluarga
mengenai dampak negative pernikahan dini dan menjadikan
tokoh masyarakat sebagai panutan untuk tidak melakukan
pernikahan dini.

2.6. Peran Ahli Kesehatan Masyarakat dalam Upaya Edukasi


Sebagai ahli kesehatan masyarakat, dapat memberikan upaya edukasi pada
masyarakat mengenai dampak negatif pernikahan dini, meliputi :
2.6.1

Memberikan penyuluhan tentang kesehatan reproduksi mengenai


kanker serviks

2.6.2

Memberikan edukasi tentang undang undang perkawinan

2.6.3

Mengadakan lomba karya ilmiah remaja tentang pernikahan dini dan


dampaknya

2.6.4

Membuka

konseling

mengenai

masalah

remaja

di

instansi

pendidikan termasuk dalam layanan BK


2.6.5

Memberikan pendidikan kepada ibu-ibu PKK tentang pernikahan


dini dan dampaknya sehingga dapat diterapkan di keluarganya.

19

2.7.

Perlunya Dilakukan Surveilans Atau Screening


Berdasarkan uraian di atas, menurut kelompok kami perlu
dilakukan surveilan mengenai masalah pernikahan dini. Sebelumnya
berkaitan tentang surveilans, yaitu kegiatan yang dilakukan secara
sistematis dan terus menerus terhadap penyakit dan masalah-masalah
kesehatan serta kondisi yang memperbesar resikonya melalui proses
pengumpulan data, pengolahan, dan penyebaran informasi epidemiologi
kepada penyelenggara program kesehatan agar dapat melakukan tindakan
penanggulangan secara efektif dan efisien. Surveilans yang dimaksud
disini khususnya adalah surveilans epidemiologi. Surveilans epidemiologi
memiliki banyak ruang lingkup, diantaranya : penyakit menular, penyakit
tidak menular, kesehatan lingkungan, perilaku kesehatan, masalah
kesehatan, kesehatan matra, kesehatan kerja, dan kecelakaan kerja.
Menurut kelompok kami, masalah pernikahan dini termasuk di dalam
surveilans perilaku kesehatan, berdasarkan data RISKESDAS tahun 2010
yang menyatakan bahwa Indonesia termasuk Negara dengan presentasi
pernikahan usia muda ranking 37 di dunia Perempuan muda di Indonesia
dengan usia 10-14 tahun menikah sebanyak 0.2 persen atau lebih dari
22.000 wanita muda berusia 10-14 tahun di Indonesia sudah menikah.
Jumlah dari perempuan muda berusia 15-19 yang menikah lebih besar jika
dibandingkan dengan laki-laki muda berusia 15-19 tahun (11,7 % P : 1,6
%L). diantara kelompok umur perempuan 20-24 tahun -lebih dari 56,2
persen sudah menikah. (BKKBN,2010) , Sehingga perlu dilakukan

20

surveilans untuk memantau kasus pernikahan dan dapat digunakan untuk


dasar pembuat kebijakan.
Selain itu, akibat dari pernikahan dini salah satunya yaitu kanker leher
rahim dikarenakan organ reproduksi belum matang. Di Indonesia angka
kematian ibu dan anak dan angka kematian akibat penyakit reproduksi
masih tinggi. Oleh karena itu, perlu dilakukan kegiatan surveilans yang
mampu memberikan dukungan upaya program terkait dengan kesehatan
ibu, anak dan penyakit organi reproduksi

dalam daerah kerja

Kabupaten/Kota, Propinsi dan Nasional.

BAB 3
KASUS

3.1

Kasus pernikahan dini di Kulon Progo, Yogyakarta


Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu Kabupaten yang ada
di DIY.

Menurut data yang ada di Kabupaten Kulon Progo, kasus


21

pernikahan usia dini sejak tahun 2006 hingga akhir 2012 terjadi pasang
surut dan sempat meledak di tahun 2008. Berdasarkan laporan dari Kantor
Kemenag Kabupaten Kulon Progo, bila sepanjang tahun 2006 hanya terjadi
19 kasus, di tahun 2007 naik menjadi 41 kasus dan di tahun 2008
membengkak hingga 68 kasus. Selanjutnya di tahun 2009 sedikit turun
menjadi 54 kasus dan tahun 2010 turun lagi menjadi 36 kasus. Kemudian
tahun 2011 naik lagi menjadi 37 kasus dan tahun 2012 turun menjadi 29
kasus.

Ukuran usia yang dijadikan patokan sebagai pernikahan usia dini


adalah UU Perkawinan No 1 Tahun 1974 di mana seorang laki-laki
diperbolehkan menikah pada usia 19 tahun ke atas dan perempuan dan
perempuan pada usia 16 tahun ke atas. Fluktuasi kasus pernikahan usia dini
ini perlu diwaspadai, karena tampaknya ada kaitan antara jumlah kasus
pernikahan usia dini dengan besarnya persentase calon pengantin (catin)
hamil. Berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon
Progo, bila di tahun 2006 kasus catin hamil baru 9,9% maka di tahun 2007
kasusnya naik menjadi 13,32% dan tahun 2008 turun menjadi 10,24%.
Namun di tahun 2009 naik lagi menjadi 11,20% dan tahun 2010 menjadi
11,66%. Pada tahun 2011 kasusnya masih mengalami kenaikan menjadi
11,78% dan baru akhir tahun 2012 mengalami penurunan menjadi 8,18%.
Dalam kurun waktu 3 tahun di Kulonprogo terjadi peningkatan permintaan
dispensasi pernikahan disebabkan banyak remaja berusia 12 15 tahun
yang telah hamil akibat berhubungan seksual sebelum menikah, selama

22

tahun 2011, paling tidak ada 70 kasus permintaan dispensasi karena remaja
yang telah hamil.

Sebenarnya beberapa SKPD telah mempunyai program untuk


Kesehatan Reproduksi Remaja seperti BPMPDP dan KB yang mempunyai
program PIK R dari data yang ada, hingga akhir 2012 jumlah kelompok PIK
Remaja baru mencapai 40 kelompok yang terdiri dari 22 PIK Remaja Jalur
Sekolah dan 18 jalur non sekolah dan tersebar di 12 kecamatan se
Kabupaten Kulon Progo. Pelaksanaan program tersebut belum mampu
menjawab akan kebutuhan informasi kesehatan reproduksi dimasyarakat.
Permasalahan seperti Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) seakan menjadi
berita yang selalu muncul dalam perbincangan masyarakat. Apalagi
ditambah dengan belum berperannya lembaga pemerintah di dalam
pemenuhan hak untuk masyarakat.

Kata tabu untuk isu kesehatan reproduksi seakan masih menjadi sejata
utama di masyarakat untuk menjauhi informasi mengenai kesehatan
reproduksi.

Padahal

sebenarnya

remaja

dan

masyarakat

faktanya

membutuhkan informasi tersebut. Ada sebuah kontribusi terhadap


penurunan angka pernikahan dini seandainya pemenuhan pendidikan
kesehatan dan reproduksi ini diberikan.

3.2

Analisa kasus pernikahan dini di Kulon Progo, Yogyakarta


Menurut paparan kasus tersebut, maka pengingkatan kasus pernikahan
dini pada remaja adalah dikarenakan oleh calon penganrin yang hamil
23

sebelum dilakukan pernikahan yang sah. Kejadian ini terjadi pada remaja
umur 12 15 tahun dan mengingkatkan dispensasi untuk mengadakan
pernikahan di bawah umur yang telah ditentukan. Dari kejadian terebut,
maka sangat dibuthkan penyebaran informasi dampak kehamilan tidak
diinginkan akibat pernikahan dini. Pemerintah juga telah membentuk
berbagai metode yang digunakan untuk menyebarluaskan informasi tersebut
pada remaja, diantaranya melalui kegiatan PIK Remaja. Namun ternyata
usaha ini belum juga meningkatkan penhetahuan remaja tentang dampak
negatif pernikahan dini. Maka dari itu, dibutuhkan penyebaran informasi
yang lebih intensif pada remaja dan keluarganya tentang pernikahan dini
dan kesehatan reproduksi untuk mengurangi ketabuan masyarakat tentang
dampak negatif yang ditimbulkan oleh pernikahan dini beserta dampak
negatif pada kesehatan reproduksinya.

BAB 4
PENUTUP

24

4.1 Kesimpulan
Pernikahan dini merupakan sebuah perkawinan dibawah umur yang
target persiapannya belum dikatakan maksimal persiapan fisik, persiapan
mental, juga persiapan materi. Beberapa faktor yang mempengaruhi
pernikahan dini, yaitu terdapat faktor internal dan eksternal. Faktor internal :
ekonomi, pendidikan, faktor orang tua, broken home. Dan faktor eksternal
yaitu, media massa, adat.
Dampak dari pernikahan dini sangat kompleks, dapat mempengaruhi
kesehatan perempuan dikarenakan usia yang masih belum cukup, kualitas
bayi yang dilahirkan tidak sesempurna misalnya bayi lahir dengan berat
badan rendah,bahkan dapat memicu kematian bayi dan ibu. keharmonisan
keluarga dan berdampak perceraian dikarenakan ego dari masing-masing
pasangan masih labil dan belum dewasa sepenuhnya. Penyakit fisik yang
dapat ditimbulkan dari pernikahan dini yaitu kanker leher rahim dikarenakan
organ reproduksi yang belum matang. Organ reproduksi akan matang jika
wanita telah berusia minimal 20 tahun dan neuritris deresi. Upaya preventif
ditujukan kepada faktor-faktor yang beresiko yaitu para remaja yang dapat
dilakukan dengan memperkuat penegakkan hukum sehingga remaja yang
ingin melakukan pernikahan dini dapat berpikir dua kali, mensosialisasikan
Undang-Undang terkait pernikahan anak di bawah umur, serta sanksi-sanksi
yang diberikan.
Upaya edukasi ditujuan kepada sasaran yaitu remaja, dan dapat
ditujuan kepada orang tua. Disini peran orangtua juga sangat penting.

25

Penyuluhan tentang dampak dari pernikahan dini tidak hanya diberikan


kepada sasaran utama remaja, tetapi juga harus diberikan kepada orangtua,
guru di sekolah. Karena tanpa orangtua juga paham atau mengerti tentang
dampak yang diakibatkan dar pernikahan dini hasilnya tidak akan maksimal.
Setelah orangtua sadar dan mengerti sebaiknya menunggu usia anak cukup
untuk menikah akan dapat mengontrol anak jika anak menginginkan menikah
di usia muda. Begitu juga penyuluhan pada guru sekolah(SD dan SMP), guru
akan dapat memberikan wawasan kepada anak didiknya mengenai dampak
yang diakibatkan dari ernikahan dini, dan guru dapat memotivasi anak didik
untuk lebih fokus kepada pendidikan mereka terlebiha dahulu untuk
mendapatkan masa depan yang lebih baik.
4.2 Saran
Sebagau ahli kesehatan masyarakat, hendaknya dapat melakukan
upaya preventif untuk pencegah terjadinya atau berkembangnya kasus
pernikahan dini pada remaja. Karena masa masa pertumbuhan baik fisik
maupun psikologis pada masa remaja sangat menentukan akan bagaimana
remaja ersebut menjalani hidupnya di masa mendatang. Upaya ini tidak akan
berhasil jika tidak diimbangi atau dibantu oleh berbagai pihak terkait se[erti
instansi pendidikan dimana remaja tersebut bersekolah, keluar, dan
masyarakat sekitar yang dapat mempengaruhi perilaku remaja tersebut. Oleh
karena itu, sangat penting bila ahli kesehatan masyarakat dapat melakukan
upaya kerjasama untuk melakukan upaya upaya tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

26

Ahmad dan Santoso, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, 1996.


Ahmad, Pencegahan Pernikahan Usia Dini, (http//alfiyah23.student.umm.ac.id.)
2010 di akses pada tanggal 3 Desember 2014.
Alfyah, Sebab-sebab Pernikahan Dini, Jakarta, EGC, 2009
Alfyah, Sebab-sebab Pernikahan Dini, Jakarta, EGC, 2010
Alfiyah, Pernikahan Dini, (http//alfiyah23.student.umm.ac.id.) 2010 di akses pada
tanggal 3 Desember 2014.
BKKBN. Policy Brief Pusat penelitian dan Pengembangaan Kependudukan,
Perkawinan Muda di Kalangan Perempuan. 2011. Diakses pada 13 Desember
2014.
BKKBN, Kesiapan Kehamilan, (http://www.BKKBN.co.id), Hindari Kawin
Muda Agar Hidup Bahagia, 2005, di akses pada tanggal 3 Desember 2014.
Burhani,R,BKKBN : Nikah Usia Muda Penyebab Kanker Serviks.
(http://www.antaranews.com), 2009, di akses pada tanggal 3 Desember
2014.
Depkes RI, Resiko Pada Kehamilan Usia Dini, Dirjen Bina Kepustakaan
Masyarakat, 2005
Dlori, Jeratan Nikah Dini, Wabah Pergaulan, Media Abadi, 2005
Glasier A, Model Penelitian Agama dan Dinamika Sosial, Jakarta, EGC, 2006
Jamali A, Undang-undang Pernikahan, Jakarta, 2008
Lenteraim, Pernikahan Usia Muda. (http://lenteraim.com), 2010 di akses pada
tanggal 3 Desember 2014.
Luthfiyah, D. Pernikahan Dini Pada Kalangan Remaja (15-19 Tahun), 2008
(http://nyna0626.com) di akses pada tanggal 3 Desember 2014.
Manuaba, Resiko Kehamilan Pada Usia Dini, Jakarta, 1998
Manuaba, Ida Bagus Gde, Kapita Selekta Pelaksanaan Rutin. Obstetri Ginekologi
dan Keluarga Berencana, Editor. Lia Astika Sari, EGC, Jakarta, 2001
Notoatmodjo, S. Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta, 2003
Nursalam, Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.
Selemba Medika, Jakarta, 2003
Puspitasari, Reproduksi Sehat, Jakarta, EGC, 2006
27

Shappiro, Frank. Mencegah Perkawinan Yang Tidak Bahagia. Cetakan Ke1.


Jakarta. Restu Agung. 2000.
http://pkbikulonprogo.wordpress.com/2013/12/19/kasus-pernikahandini-kulon-progo/diakses tanggal 4 Desember 2014.

28