Anda di halaman 1dari 8

GCS tidak bisa dipakai untuk menilai tingkat kesadaran pada anak

berumur kurang dari 5 tahun. Atau jika ditotal skor GCS dapat diklasifikasikan :
a.
b.
c.
d.
e.

Skor 14-15 : compos mentis


Skor 12-13 : apatis
Skor 11-12 : somnolent
Skor 8-10 : stupor
Skor < 5 : koma

Derajat Kesadaran

Sadar : dapat berorientasi dan komunikasi


Somnolens : dapat digugah dengan berbagai stimulasi, bereaksi secara

motorik / verbal kemudian terlelap lagi. Gelisah atau tenang.


Stupor : gerakan spontan, menjawab secara refleks terhadap rangsangan
nyeri, pendengaran dengan suara keras dan penglihatan kuat.
Verbalisasi mungkin terjadi tapi terbatas pada satu atau dua kata saja.

Non verbal dengan menggunakan kepala.


Semi Koma : tidak terdapat respon verbal, reaksi rangsangan kasar dan

ada yang menghindar (contoh menghindari tusukan).


Koma : tidak bereaksi terhadap stimulus.

Kualitas Kesadaran
-

Compos mentis : bereaksi secara adekuat.


Abstensia drowsy / kesadaran tumpul : tidak tidur dan tidak
begitu waspada. Perhatian terhadap sekeliling berkurang.

Cenderung mengantuk.
Bingung / confused : disorientasi terhadap tempat, orang

dan waktu.
Delirium : mental dan motorik kacau, ada halusinasi dan

bergerak sesuai dengan kekacauan pikirannya.


Apatis : tidak tidur, acuh tak acuh, tidak bicara dan
pandangan hampa.

PEMERIKSAAN DARAH RUTIN MELIPUTI 6 JENIS PEMERIKSAAN:


1.

Hemoglobin / Haemoglobin (Hb)

2.

Hematokrit (Ht)

3.

Leukosit: hitung leukosit (leukocyte count) dan hitung jenis (differential


count)

4.

Hitung trombosit / platelet count

5.

Laju endap darah (LED) / erythrocyte sedimentation rate (ESR)

6.

Hitung eritrosit (di beberapa instansi)

Hemoglobin (Hb)
Nilai normal dewasa pria 13.5-18.0 gram/dL, wanita 12-16 gram/dL, wanita hamil
10-15 gram/dL
Nilai normal anak 11-16 gram/dL, batita 9-15 gram/dL, bayi 10-17 gram/dL,
neonatus 14-27 gram/dL

Hb rendah (<10 gram/dL) biasanya dikaitkan dengan anemia defisiensi


besi. Sebab lainnya dari rendahnya Hb antara lain pendarahan berat, hemolisis,
leukemia leukemik, lupus eritematosus sistemik, dan diet vegetarian ketat (vegan).
Dari obat-obatan: obat antikanker, asam asetilsalisilat, rifampisin, primakuin, dan
sulfonamid. Ambang bahaya adalah Hb < 5 gram/dL.

Hb tinggi (>18 gram/dL) berkaitan dengan luka bakar, gagal jantung,


COPD (bronkitis kronik dengan cor pulmonale), dehidrasi / diare, eritrositosis,
polisitemia vera, dan pada penduduk pegunungan tinggi yang normal. Dari obatobatan: metildopa dan gentamisin.
Hematokrit
Nilai normal dewasa pria 40-54%, wanita 37-47%, wanita hamil 30-46%
Nilai normal anak 31-45%, batita 35-44%, bayi 29-54%, neonatus 40-68%
Hematokrit merupakan persentase konsentrasi eritrosit dalam plasma darah.
Secara kasar, hematokrit biasanya sama dengan tiga kali hemoglobin.

Ht tinggi (> 55 %) dapat ditemukan pada berbagai kasus yang


menyebabkan kenaikan Hb; antara lain penyakit Addison, luka bakar, dehidrasi /
diare, diabetes melitus, dan polisitemia. Ambang bahaya adalah Ht >60%.

Ht rendah (< 30 %) dapat ditemukan pada anemia, sirosis hati, gagal


jantung, perlemakan hati, hemolisis, pneumonia, dan overhidrasi. Ambang bahaya
adalah Ht <15%.
Leukosit (Hitung total)
Nilai normal 4500-10000 sel/mm3
Neonatus 9000-30000 sel/mm3, Bayi sampai balita rata-rata 5700-18000 sel/mm 3,
Anak 10 tahun 4500-13500/mm3, ibu hamil rata-rata 6000-17000 sel/mm3,
postpartum 9700-25700 sel/mm3
Segala macam infeksi menyebabkan leukosit naik; baik infeksi bakteri, virus,
parasit, dan sebagainya. Kondisi lain yang dapat menyebabkan leukositosis yaitu:

Anemia hemolitik

Sirosis hati dengan nekrosis

Stres emosional dan fisik (termasuk trauma dan habis berolahraga)

Keracunan berbagai macam zat

Obat: allopurinol, atropin sulfat, barbiturat, eritromisin, streptomisin, dan


sulfonamid.
Leukosit rendah (disebut juga leukopenia) dapat disebabkan oleh agranulositosis,
anemia aplastik, AIDS, infeksi atau sepsis hebat, infeksi virus (misalnya dengue),
keracunan kimiawi, dan postkemoterapi. Penyebab dari segi obat antara lain
antiepilepsi,

sulfonamid,

kina,

kloramfenikol,

leishmaniasis), dan beberapa antibiotik lainnya.


Leukosit (hitung jenis)

diuretik,

arsenik

(terapi

Nilai normal hitung jenis

Basofil 0-1% (absolut 20-100 sel/mm3)

Eosinofil 1-3% (absolut 50-300 sel/mm3)

Netrofil batang 3-5% (absolut 150-500 sel/mm3)

Netrofil segmen 50-70% (absolut 2500-7000 sel/mm3)

Limfosit 25-35% (absolut 1750-3500 sel/mm3)

Monosit 4-6% (absolut 200-600 sel/mm3)

Penilaian hitung jenis tunggal jarang memberi nilai diagnostik, kecuali untuk
penyakit alergi di mana eosinofil sering ditemukan meningkat.

Peningkatan jumlah netrofil (baik batang maupun segmen) relatif


dibanding limfosit dan monosit dikenal juga dengan sebutan shift to the left.
Infeksi yang disertai shift to the left biasanya merupakan infeksi bakteri dan
malaria. Kondisi noninfeksi yang dapat menyebabkan shift to the left antara lain
asma dan penyakit-penyakit alergi lainnya, luka bakar, anemia perniciosa,
keracunan merkuri (raksa), dan polisitemia vera.

Sedangkan peningkatan jumlah limfosit dan monosit relatif dibanding


netrofil disebut shift to the right. Infeksi yang disertai shift to the rightbiasanya
merupakan infeksi virus. Kondisi noninfeksi yang dapat menyebabkan shift to the
right antara lain keracunan timbal, fenitoin, dan aspirin.
Trombosit
Nilai normal dewasa 150.000-400.000 sel/mm3, anak 150.000-450.000 sel/mm3.

Penurunan trombosit (trombositopenia) dapat ditemukan pada demam


berdarah dengue, anemia, luka bakar, malaria, dan sepsis. Nilai ambang bahaya
pada <30.000 sel/mm3.

Peningkatan trombosit (trombositosis) dapat ditemukan pada penyakit


keganasan, sirosis, polisitemia, ibu hamil, habis berolahraga, penyakit imunologis,
pemakaian kontrasepsi oral, dan penyakit jantung. Biasanya trombositosis tidak
berbahaya, kecuali jika >1.000.000 sel/mm3.
Laju endap darah
Nilai normal dewasa pria <15 mm/jam pertama, wanita <20 mm/jam pertama
Nilai normal lansia pria <20 mm/jam pertama, wanita <30-40 mm/jam pertama
Nilai normal wanita hamil 18-70 mm/jam pertama
Nilai normal anak <10 mm/jam pertama

LED yang meningkat menandakan adanya infeksi atau inflamasi, penyakit


imunologis, gangguan nyeri, anemia hemolitik, dan penyakit keganasan.

LED yang sangat rendah menandakan gagal jantung dan poikilositosis.


Hitung eritrosit
Nilai normal dewasa wanita 4.0-5.5 juta sel/mm3, pria 4.5-6.2 juta sel/mm3.
Nilai normal bayi 3.8-6.1 juta sel/mm3, anak 3.6-4.8 juta sel/mm3.

Peningkatan jumlah eritrosit ditemukan pada dehidrasi berat, diare, luka


bakar, perdarahan berat, setelah beraktivitas berat, polisitemia, anemiasickle cell.

Penurunan jumlah eritrosit ditemukan pada berbagai jenis anemia,


kehamilan, penurunan fungsi sumsum tulang, malaria, mieloma multipel, lupus,
konsumsi obat (kloramfenikol, parasetamol, metildopa, tetrasiklin, INH, asam
mefenamat)

sumber :
Chernecky CC & Berger BJ. Laboratory Tests and Diagnostic Procedures 5th
edition. Saunders-Elsevier, 2008 dan http://hnz11.wordpress.com/

Gambaran Klinis Tetanus adalah:

Gejala-gejala biasanya muncul dalam waktu 5 10 hari setelah terinfeksi,


tetapi bisa juga timbul dalam waktu 2 hari atau 50 hari setelah terinfeksi.

Gejala yang paling sering ditemukan adalah kekakuan rahang dan sulit
dibuka (trismus) karena yang pertama terserang adalah otot rahang.

Selanjutnya muncul gejala lain berupa gelisah, gangguan menelan, sakit


kepala, demam, nyeri tenggorokan, menggigil, kejang otot dan kaku
kuduk, lengan serta tungkai.

Kejang pada otot-otot wajah menyebabkan ekspresi penderita seperti


menyeringai (risus sardonikus) dengan kedua alis yang terangkat.

Kekakuan atau kejang otot-otot perut, leher dan punggung bisa


menyebabkan kepala dan tumit penderita tertarik ke belakang sedangkan
badannya melengkung ke depan yang disebut epistotonus.

Kejang pada otot sfingter perut bagian bawah bisa menyebabkan retensi
urin dan konstipasi.

Gangguan-gangguan yang ringan, seperti suara berisik, aliran angin atau


goncangan, bisa memicu kekejangan otot yang disertai nyeri dan keringat
yang berlebihan.

Selama kejang penderita tidak dapat berbicara karena otot dadanya kaku
atau terjadi kejang tenggorokan sehingga terjadi kekurangan oksigen yang
menyebabkan gangguan pernafasan. Biasanya tidak terjadi demam. Laju
pernafasan dan denyut jantung serta refleks-refleks biasanya meningkat.
Tetanus juga bisa terbatas pada sekelompok otot di sekitar luka. Kejang di
sekitar luka ini bisa menetap selama beberapa minggu.

ABSES OTAK PADA ANAK


PATOFISIOLOGI
Penyebab terbanyak adalah bakteri anaerobik (70%). Bakteri lain yang jadi
penyebab adalah Streptococcus sp, Staphylococcus sp, Bacteriodes fragilis.

Pada bayi baru lahir biasanya disebabkan oleh Proteus sp, E coli, Group B
Streptococcus.
Abses otak dapat terjadi karena:
1.

Penyebaran langsung dari fokus infeksi yang berdekatan dengan otak,


misalnya infeksi telinga tengah, sinusitis paranasalis dan mastoiditis

2.

Penyebaran dari fokus infeksi yang jauh secara hematogen

3.

Infeksi akibat trauma tembus kepala

4.

Infeksi pasca operasi kepala

Penyakit jantung bawaan sianotik dengan pirau dari kanan ke kiri (misalnya
pada Tetralogy of Fallot), terutama pada anak berusia lebih dari 2 tahun,
merupakan faktor predisposisi terjadinya abses otak
Terjadinya abses otak melalui 4 stadium, yaitu:
1.

Stadium serebritis dini (hari ke 1 3)

2.

Stadium serebritis lambat (hari ke 4 9)

3.

Stadium pembentukan kapsul dini (hari ke 10 14)

4.

Stadium pembentukan kapsul lambat (setelah hari ke 14)

GEJALA KLINIS

Tidak ada satupun gejala klinis khas untuk abses otak.

Gambaran klasik yang sering dijumpai berupa sakit kepala, panas, defisit
neurologis fokal, kejang dan gangguan kesadaran.

PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS

Anamnesis:
Sakit kepala merupakan keluhan dini yang paling sering dijumpai (70
90%). Terkadang juga didapatkan mual, muntah dan kaku kuduk (25%).

Pemeriksaan fisik:
Panas tidak terlalu tinggi. Defisit neurologis fokal menunjukkan adanya
edema di sekitar abses. Kejang biasanya bersifat fokal. Gangguan
kesadaran mulai dari perubahan kepribadian, apatis sampai koma. Apabila

dijumpai papil edema menunjukkan bahwa proses sudah berjalan lanjut.


Dapat dijumpai hemiparese dan disfagia.

Pemeriksaan laboratorium:
o Darah: jarang dapat memastikan diagnosis. Biasanya lekosit
sedikit meningkat dan laju endap darah meningkat pada 60% kasus
o Cairan Serebro Spinal (CSS): dilakukan bila tidak ada tandatanda peningkatan tekanan intra kranial (TIK) oleh karena
dikhawatirkan terjadi herniasi

Pemeriksaan radiologi:
CT Scan: CT scan kepala dengan kontras dapat dipakai untuk memastikan
diagnosis. Pada stadium awal (1 dan 2) hanya didapatkan daerah hipodens
dan daerah irreguler yang tidak menyerap kontras. Pada stadium lanjut (3
dan 4) didapatkan daerah hipodens dikelilingi cincin yang menyerap
kontras (sumber www.pediatrik.com)