Anda di halaman 1dari 21

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pelayaran seKota Administrasi Jakarta Utara pada kelas XI semester 2 (genap) Tahun
Pelajaran 2014/2015, dan berlangsung selama 4 bulan dimulai dari bulan Maret
sampai dengan Juni 2015.
Tabel 3.1 Jadual Kegiatan Penelitian
Kegiatan
Penyerahan
proposal
Persetujuan
judul
Survei lokasi dan
persiapan
Pelaksanaan
penelitian
Pengolahan hasil
penelitian
Penyusunan
laporan
Pembuatan
laporan

Maret
2 3 4

April
2 3

Mei
2 3

Juni
2 3

75

76

B. Metode Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan memverifikasi pengaruh
penerapan pendekatan saintifik (scientific learning) terhadap kemampuan berpikir
kritis dan pemecahan masalah matematika siswa. Penelitian ini dilakukan dengan
pendekatan kuantitatif, menggunakan metode penelitian eksperimen. Penelitian ini
menempatkan kemampuan berpikir kritis matematika (Y 1) dan pemecahan
masalah

matematika

(Y2)

sebagai

variabel

kriteria/terikat.

Pendekatan

pembelajaran saintifik (scientific learning) (A) sebagai variabel bebas treatment


terdiri atas dua model pembelajaran, yaitu model discovery learning (A1) dan
model problem-based learning (A2).
Eksperimen ini menggunakan desain yang dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 3.2 Desain Penelitian
A
A1
Y1
Y1A1

A2
Y2
Y2A1

Y1
Y1A2

Y2
Y2A2

Keterangan:
A

: Pendekatan Saintifik

A1

: Model discovery learning

A2

: Model problem-based learning

Y1

: Kemampuan berpikir kritis matematika

Y2

: Kemampuan pemecahan masalah matematika

Y1A1

: Kemampuan berpikir kritis matematika siswa yang diberi pembelajaran


dengan pendekatan saintifik model discovery learning.

77

Y1A2

: Kemampuan berpikir kritis matematika siswa yang diberi pembelajaran


dengan pendekatan saintifik model problem-based learning.

Y2A1

: Kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diberi


pembelajaran dengan pendekatan saintifik model discovery learning.

Y2A2

: Kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diberi


pembelajaran dengan pendekatan saintifik model problem-based
learning.

C. Validasi Penelitian
Penelitian ini mengandung 2 (dua) validasi, yaitu validitas internal dan
validitas eksternal. Validitas internal terkait dengan tingkat pengaruh perlakuan
(treatment) artribut yang ada terhadap kemampuan berpikir kritis matematika
yang didasarkan atas kebenaran argumen, strategi dan taktik serta penarikan
kesimpulan, sedangkan kemampuan pemecahan masalah matematika yang
didasarkan atas kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah yang
berkaitan dengan identifikasi masalah, rencana pemecaham masalah, pelaksanaan
rencana pemecahan masalah, dan memeriksa kembali hasil yang diperoleh.
Sedang validitas eksternal terkait dengan dapat tidaknya hasil penelitian ini untuk
digeneralisasikan pada subyek lain yang tidak memiliki kondisi dan karakteristik
sama. Dalam penelitian ini tidak dilakukan pengontrolan terhadap pengaruh
variabel-variabel ekstra, sebagai berikut:
1. Pengaruh variabel sejarah, dikontrol dengan pemberian materi pelajaran yang
sama, dalam jangka waktu yang sama dan oleh guru yang sama.

78

2. Pengaruh variabel kematangan, dikontrol dengan cara proses treatment dalam


variabel internal waktu yang tidak terlalu lama. Demikian diharapkan mereka
memiliki kesempatan perubahan mental maupun fisik yang sama pula.
3. Pengaruh variabel pretesting, dikontrol dengan jalan tidak memberikan
pretest pada kedua kelompok sampel. Hal ini dilakukan agar pengalaman
pretest tersebut tidak mempengaruhi penampilan subjek selama proses
perlakuan.
4. Pengaruh variabel instrument, dikontrol dengan pemberian test yang sama
pada kelompok eksperimen.
5. Pengaruh variabel mortalitas, dikontrol dengan pemberian perlakuan yang
sama pada siswa lain yang tidak menjadi anggota sampel, sehingga jika
terjadi mortalitas dapat secepatnya diganti dengan siswa lain yang setara.
6. Pengaruh interaksi antar subjek, dikontrol dengan tidak memberitahukan
bahwa sedang dilakukan proses penelitian dan memberi kegiatan proses
pembelajaran yang berbeda.
Sebagai usaha mengontrol validitas eksternal dilakukan sebagai berikut:
1. Interaksi pembelajaran dengan pendekatan saintifik model discovery learning
kelompok eksperimen dan model problem-based learning kelompok kontrol,
dengan pengambilan kelas eksperimen dan kelas kontrol seimbang. Hal ini
dilakukan agar kondisi awal pada kedua kelas diasumsikan sama. Kemudian
kedua percobaan diberi perlakuan yang berbeda.
2. Pengaturan penelitian reaktif, dikontrol dengan:
a) Suasana perlakuan tidak artificial sehingga tidak merasa sedang diteliti.
b) Subjek tidak diberikan informasi bahwa sedang diteliti.
c) Perlakuan untuk semua siswa dalam satu kelas belajar sama, baik yang
dijadikan sampel maupun siswa yang tidak dijadikan sampel.
d) Guru diusahakan hanya satu orang untuk kedua kelas eksperimen.

79

D. Populasi dan Sampel


1. Populasi Target
Populasi target disebut populasi teoritik, yaitu keseluruhan subyek penelitian
secara teori yang banyaknya tidak terjangkau atau terbilang. Menurut Supardi,
dkk (2013:25), dalam penelitian kuantitatif populasi adalah subyek yang berada
pada suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan dengan
masalah atau objek penelitian. Dengan kalimat tersebut, maka populasi target
dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMK Pelayaran se-Kota Administrasi
Jakarta Utara.
2. Populasi Terjangkau
Yang dimaksud populasi terjangkau yaitu populasi atau keseluruhan subjek
penelitian yang banyaknya terjangkau atau terbilang. Oleh karenanya populasi
terjangkau dalam penelitian ini seluruh siswa kelas XI SMK Pelayaran se-Kota
Administrasi Jakarta Utara. Yang berjumlah 230 siswa dan terdaftar pada tahun
pelajaran 2014/2015.
3. Sampel
Sampel adalah sebagaian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi. Sampel dalam penelitian kuantitatif merupakan subyek penelitian yang
dianggap mewakili populasi, dan biasanya disebut responden penelitian. Sampel
penelitian adalah siswa kelas XI SMK Pelayaran se-Kota Administrasi Jakarta
Utara dengan jumlah siswa sebanyak 40 siswa yang terdiri dari 20 siswa kelas XIB dan 20 siswa kelas XI-E di SMK Pelayaran Jakarta Raya sebagai kelas
eksperimen, serta 40 siswa terdiri dari 20 siswa kelas XI-A dan 20 siswa kelas XIB di SMK Pelayaran Jakarta sebagai kelas kontrol dan dengan perlakuan yang
berbeda dari masing-masing sekolah.
4. Teknik Sampling

80

Pengambilan sampel menggunakan teknik multistage sampling sebanyak tiga


tahap. Tahap pertama, memilih sekolah tempat penelitian dengan menggunakan
teknik purposive sampling. Tahap kedua, memilih kelas penelitian dengan teknik
random kelas. Tahap ketiga, memilih siswa sebagai subjek sampel dengan
menggunakan teknik simple random sampling. Sampel dalam penelitian ini
diambil dari rombongan belajar (kelas) yang terpilih sebagai sampel dengan
karakteristik siswa yang relatif homogen. Roscoe (dalam Sugiyono, 2007:74)
mengatakan bahwa untuk penelitian eksperimen yang sederhana, yang
menggunakan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, maka jumlah anggota
sampel masing-masing kelompok antara 10 s/d 20. Untuk itu dalam penelitian ini
peneliti menetapkan banyak atau ukuran sampel penelitian sebanyak 80 siswa
dengan rincian masing-masing kelompok penelitian 20 siswa.

E. Teknik Pengumpulan Data


Pengumpulan data ini untuk mengetahui seberapa jauh pelaksanaan
pendekatan saintifik dalm proses pembelajaran matematika serta untuk mengukur
kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah matematika siswa.
1. Teknik Mendapatkan Data
Instrumen penelitian yang digunakan untuk pengumpulan data terdiri atas tes
kemampuan berpikir kritis matematika dan tes kemampuan pemecahan masalah
matematika. Tes kemampuan berpikir kritis matematika dan tes kemampuan
pemecahan masalah matematika menggunakan soal yang berbentuk uraian
terstruktur. Bentuk uraian ini bertujuan untuk mengungkapkan langkah dan cara
berpikir siswa dalam menyelesaikan soal dapat tergambar dengan jelas. Hal ini
sesuai dengan yang dikemukakan oleh Wiersma dan Juers (dalam Supardi,

81

2013:84), Essay items provide the students with an opportunity to organize,


analyze, and synthesize ideas. Its potential for measuring higher level or
complex learning outcomes. Butir tes uraian memberi kesempatan kepada siswa
untuk menyusun menganalisis dan mensintesiskan ide-ide, dan siswa harus
mengembangkan sendiri buah pikirannya serta menuliskannya dalam bentuk yang
tersusun atau terorganisasi.
2. Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini, digunakan dua macam variabel yaitu: variabel kriteria/
terikat dan variabel bebas treatment.
a. Variabel Kriteria/Terikat (Y)
Veriabel kriteria/terikat pada penelitian ini terdiri atas dua, yaitu: kemampuan
berpikir kritis matematika (Y1) dan kemampuan pemecahan masalah matematika
(Y2).
b. Variabel Bebas Treatment
Veriabel bebas treatment pada penelitian ini adalah penerapan pendekatan
saintifik (A) yang terdiri dari dua model pembelajaran yaitu: model discovery
learning (A1) dan model problem-based learning (A2).
F. Pengembangan Instrumen Penelitian
1. Instrumen Kemampuan Berpikir Kritis Matematika (Y1)
a. Definisi Konseptual
Kemampuan berpikir kritis matematika pada penelitian ini mengacu pada
konsep kemampuan berpikir kritis yang dikembangkan oleh Ennis (dalam
Husnidar, 2014:74-75) yang mencakup: (1) memberikan penjelasan sederhana
(elementary clarification); (2) membangun keterampilan dasar (basic
support); (3) menyimpulkan (inference); (4) membuat penjelasan lebih lanjut
(advance clarification); dan (5) mengatur strategi dan taktik (strategies and
tactics).

82

b. Definisi Operasional
Kemampuan berpikir kritis matematika adalah skor yang diperoleh siswa
dari hasil tes kemampuan berpikir kritis pada pembelajaran matematika
ditinjau dari ranah kognitif, yang meliputi bahan ajar SMK kelas XI semester
2 pada kompetensi dasar:
3.24. Mendeskripsikan konsep turunan dan menggunakannya untuk
menganalisis grafik fungsi dan menguji sifat-sifat yang dimiliki untuk
mengetahui fungsi naik dan fungsi turun.
4.19. Menyajikan data dari situasi nyata,

memilih

variabel

dan

mengomunikasikan-nya dalam bentuk model matematika berupa


persamaan fungsi, serta menerapkan konsep dan sifat turunan fungsi
dalam memecahkan masalah maksimum dan minimum.
c. Kisi-kisi Instrumen
Instrumen untuk mengukur kemampuan berpikir kritis matematika siswa
terdiri dari 5 butir soal yang berbentuk uraian terstruktur dengan kisi-kisi soal
sebagai berikut:
Tabel 3.3 Kisi-kisi Instrumen Kemampuan Berpikir Kritis
Kompetensi Dasar

Indikator

3.24 Mendeskripsikan

1. Menganalisis kurva y

konsep turunan dan

= f(x) berdasarkan

menggunakannya

sketsa kurva turunan

untuk menganalisis

pertamanya

grafik fungsi dan


menguji sifat-sifat
yang dimiliki untuk

Abilit

Nomor

Soal
1

y
C4

Soal
1

C4

2a, 2b

2. Menganalisis dan
mensketsa kurva
suatu fungsi

mengetahui fungsi
naik dan fungsi turun.
4.19 Menyajikan data

Jumlah

3. Menerapkan konsep

83

Kompetensi Dasar

Indikator

dari situasi nyata,

dan sifat turunan

memilih variabel dan

fungsi dalam

mengomunikasikan-

memecahkan

nya dalam bentuk

masalah maksimum

model matematika

dan minimum

Jumlah

Abilit

Nomor

Soal
1

y
C4

Soal
3

berupa persamaan
fungsi, serta
menerapkan konsep
dan sifat turunan
fungsi dalam
memecahkan masalah
maksimum dan
minimum.
Rubrik penskoran untuk soal-soal kemampuan berpikir kritis matematika
dirancang seperti pada tabel berikut ini:
Tabel 3.4 Pedoman Penskoran Kemampuan Berpikir Kritis Matematika
No.
1
2

Kriteria Penilaian
Identifikasi argumen, memberikan alasan serta
menganalisa argumen dan memberikan kesimpulan.
Identifikasi argumen, memberikan alasan serta

Skor
4
3

mencoba menganalisa argumen dan memberikan


3

kesimpulan.
Identifikasi salah, jarang menerangkan alasan dan

pandangan berdasarkan minat diri atau praduga.


Menggunakan argumen-argumen keliru atau alasan

tidak sesuai, tidak memberikan hasil atau langkah


penjelasan salah.
5
Tidak ada respon
0
2. Instrumen Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika (Y2)

84

a. Definisi Konseptual
Kemampuan pemecahan masalah matematika pada penelitian ini
mengacu pada konsep kemampuan pemecahan masalah yang dikembangkan
oleh Polya (dalam Sugandi, 2014:27) yang mencakup: (1) memahami
masalah; (2) merencanakan penyelesaian; (3) menyelesaikan rencana
penyelesaian; (4) memeriksa kembali.
b. Definisi Operasional
Kemampuan pemecahan masalah matematika adalah skor yang diperoleh
siswa dari hasil tes kemampuan pemecahan masalah pada pembelajaran
matematika ditinjau dari ranah kognitif, yang meliputi bahan ajar SMK kelas
XI semester 2 pada kompetensi dasar:
3.24. Mendeskripsikan konsep turunan dan menggunakannya untuk
menganalisis grafik fungsi dan menguji sifat-sifat yang dimiliki untuk
4.19.

mengetahui fungsi naik dan fungsi turun dan


Menyajikan data dari situasi nyata, memilih

variabel

dan

mengomunikasikan-nya dalam bentuk model matematika berupa


persamaan fungsi, serta menerapkan konsep dan sifat turunan fungsi
dalam memecahkan masalah maksimum dan minimum.
d. Kisi-kisi Instrumen
Instrumen untuk mengukur kemampuan berpikir kritis matematika siswa
terdiri dari 5 butir soal yang berbentuk uraian terstruktur dengan kisi-kisi soal
sebagai berikut:
Tabel 3.5 Kisi-kisi Instrumen Kemampuan Pemecahan Masalah
Kompetensi Dasar

Indikator

3.24 Mendeskripsikan

1. Menentukan interval

konsep turunan dan

naik dan interval

menggunakannya

turun dari suatu

Jumla

Abilit

Nomor

h Soal
1

y
C3

Soal
1

85

Kompetensi Dasar
untuk menganalisis

Indikator

Jumla

Abilit

Nomor

h Soal

Soal

C4

C4

3, 4

fungsi

grafik fungsi dan


menguji sifat-sifat
yang dimiliki untuk
mengetahui fungsi

2. Menerapkan konsep

naik dan fungsi turun.


4.19 Menyajikan data

dan sifat turunan

dari situasi nyata,


memilih variabel dan
mengomunikasikan-

fungsi dalam
memecahkan masalah
kecepan dan

nya dalam bentuk

percepatan
3. Menerapkan konsep

model matematika

dan sifat turunan

berupa persamaan

fungsi dalam

fungsi, serta

memecahkan masalah

menerapkan konsep

maksimum dan

dan sifat turunan

minimum

fungsi dalam
memecahkan masalah
maksimum dan
minimum.
Rubrik penskoran untuk soal-soal kemampuan pemecahan masalah
matematika dirancang seperti pada tabel berikut ini:

Tabel 3.6 Pedoman Penskoran Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika


No.
1

Kriteria Penilaian
Menunjukkan pemahaman yang lebih terhadap
konsep, menggunakan strategi yang sesuai,

Skor
4

86

No.

Kriteria Penilaian
perhitungan seluruhnya benar, dan melebihi

Skor

pemecahan masalah yang diinginkan


2

Menunjukkan pemahaman terhadap konsep,

menggunakan strategi yang sesuai, perhitungan


sebagian besar benar, dan memenuhi semua
3

pemecahan masalah yang diinginkan


Menunjukkan pemahaman terhadap sebagian besar

konsep, tidak menggunakan strategi yang sesuai,


perhitungan sebagian besar benar, dan memenuhi
4

sebagian besar pemecahan masalah yang diinginkan


Menunjukkan sedikit atau tidak ada pemahaman

terhadap konsep, tidak menggunakan strategi yang


sesuai, perhitungan tidak benar, dan tidak memenuhi
5

pemecahan masalah yang diinginkan


Tidak ada respon

Sebelum digunakan untuk menjaring data penelitian, instrumen tes


kemampuan berpikir kritis matematika dan tes kemampuan pemecahan masalah
matematika tersebut di atas terlebih dulu dilakukan uji coba instrumen. Instrumen
diuji cobakan kepada 30 siswa kelas XII salah satu SMK (di luar subjek
penelitian). Uji coba tes kedua bentuk tes tersebut dilaksanakan pada waktu yang
berbeda. Uji coba kedua perangkat tes ini dilakukan untuk mengetahui validitas
tes, reliabilitas, daya pembeda dan indeks kesukaran butir tes.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam mengolah data hasil uji coba tes
kemampuan berpikir kritis matematika dan tes kemampuan pemecahan masalah
matematika sebagai berikut:
1. Uji Validitas Butir Tes
Validitas butir secara statistik dianalisis berdasakan jenis data yang
terkumpul. Karena data pada penelitian ini adalah hasil tes yang berbentuk uraian

87

terstruktur sehingga uji validitas butir soal dilakukan dengan menggunakan rumus
korelasi product moment Pearson (Supardi, 2013:169), yaitu:
n XY X Y
rxy
2
2
n X 2 X n Y 2 Y

Keterangan:
rxy

= Koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y, dalam hal ini

Y
X

variabel X adalah skor tiap item/faktor dan Y adalah skor total


= Jumlah skor per item
= Jumlah skor total
= Jumlah kuadrat skor per item

= Jumlah kuadrat skor total


n
= Banyak responden
Nilai rxy yang diperoleh dari perhitungan dikonsulkasikan dengan nilai rtabel
dengan taraf nyata 5% jika nilai dari rxy > rtabel maka soal tersebut valid. Adapun
interpretasi koefisien korelasi (rxy) yang diperoleh mengikuti kategori berikut:

Tabel 3.4 Interpretasi Koefisien Korelasi


Interval Koefisien
0,00 0,199
0,20 0,399
0,40 0,599
0,60 0,799
0,80 1,000
Sumber: Sugiyono (2007:231)

Intrepretasi
Sangat Rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat Tinggi

2. Uji Reliabilitas Tes


Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menentukan realibilitas suatu
alat evaluasi, salah satunya yaitu dengan menggunakan tes tunggal. Artinya,

88

seperangkat tes dikenakan terhadap siswa dalam satu kali pertemuan, kemudian
diperoleh sekelompok data. Dari sekelompok data yang diperoleh, selanjutnya
dihitung koefisien realibilitasnya. Dalam penelitian ini, tes kemampuan berpikir
kritis matematika dan tes kemampuan pemecahan masalah matematika berbentuk
uraian, sehingga rumus yang digunakan untuk mencari koefisien realibilitas kedua
perangkat tes tersebut yaitu rumus Cronbachs Alpha (Sudijono, 2013:208)
sebagai berikut:

si 2
n

r11
1 2
st
n 1

Keterangan:
r11
: Koefisien realibilitas
n
: Banyak butir item yang dikeluarkan dalam tes

st

: Jumlah varian skor dari tiap-tiap butir item, dan

: Varian total
Tolak ukur untuk menginterpretasikan koefisien realibilitas tes dapat dilihat
pada tabel berikut ini:
Tabel 3.5 Interpretasi Koefisien Realibilitas
Koefisien Realibilitas
r11 0,70
r11< 0,70
Sumber: Sudijono (2013:209)

Intrepretasi
Reliable
Un-reliable

3. Menentukan Daya Pembeda (DP) Butir Tes


Menurut Arikunto (2012:226), daya pembeda soal adalah kemampuan soal
untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang
berkemampuan rendah. Secara sederhana, sebuah soal dikatan memiliki daya
pembeda yang baik jika siswa yang pandai mengerjakan dengan baik, sementara
siswa yang kurang tidak dapat mengerjakan dengan baik soal yang diberikan.

89

Daya pembeda atau discriminatory power dihitung dengan membagi siswa


kedalam dua kelompok (atas dan bawah). Kelompok atas (the higher group) yaitu
kelompok siswa yang tergolong berkemampuan tinggi dan kelompok bawah (the
lower group) yaitu kelompok siswa yang tergolong berkemampuan rendah. Jika
subjek pada uji coba soal termasuk kelompok besar, maka untuk keperluan
perhitungan daya pembeda cukup diambil 27% untuk kelompok atas dan 27%
untuk kelompok bawah (Arikunto, 2012:227).
Tahapan yang dapat dilakukan untuk mengetahui daya pembeda butir tes
adalah sebagai berikut:
a. Urutkan skor tes siswa dari skor tertinggi hingga skor terendah.
b. Ambil sebanyak 27% siswa skor tinggi, yang selanjutnya disebut kelompok
atas dan 27% siswa skor rendah, yang selanjutnya disebut kelompok bawah.
c. Tentukan daya pembeda butir tes. Adapun rumus yang dapat digunakan
adalah sebagai berikut:

DP

JBA JBB
JS A

Keterangan:
DP
: Daya Pembeda
JBA
: Jumlah skor siswa kelompok atas pada butir tes yang diolah
JBB
: Jumlah skor siswa kelompok bawah pada butir tes yang diolah
JSA
: Jumlah skor maksimal ideal pada butir tes yang diolah
Daya pembeda butir tes diinterpretasikan berdasarkan kategori pada tabel di
bawah ini:
Tabel 3.6 Interpretasi Koefisien Daya Pembeda
Koefisien Daya Pembeda

Interpretasi

DP < 0,00

Semuanya tidak baik

0,00 < DP 0,20


0,20 < DP 0,40
0,40 < DP 0,70
0,70 < DP 1,00

Jelek (poor)
Cukup (statistifactory)
Baik (good)
Sangat Baik (excellent)

Sumber: Arikunto (2012:232)

90

4. Menentukan Indeks Kesukaran (IK) Butir Tes


Kualitas setiap butir tes dapat diketahui berdasarkan indeks kesukaran atau
tingkat kesukaran yang dimiliki oleh masing-masing butir tes tersebut. Menurut
Sudijono (2013:370), butir-butir tes dapat dinyatakan sebagai butir tes yang baik
apabila butir-butir tes tersebut tidak terlalu sukar dan tidak pula terlalu mudah.
Dengan kata lain, tingkat kesukaran butir tes adalah sedang atau cukup.
Indeks kesukaran butir tes dapat dihitung dengan menggunakan rumus
berikut:

IK

JBA JBB
2 JS A

Keterangan:
IK
: Indeks Kesukaran
JBA
: Jumlah skor siswa kelompok atas pada butir tes yang diolah
JBB
: Jumlah skor siswa kelompok bawah pada butir tes yang diolah
JSA
: Jumlah skor maksimal ideal pada butir tes yang diolah
Untuk mengidentifikasi indeks kesukaran butir tes, digunakan kategori seperti
terlihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 3.7 Interpretasi Koefisien Indeks Kesukaran
Koefisien Indeks Kesukaran
0,00 <IK 0,30
0,30 <IK 0,70
0,70 <IK 1,00
Sumber: Sudjana (2009:137)

Interpretasi
Sukar
Sedang
Mudah

G. Teknik Analisis Data


Dalam penelitian ini data yang diolah adalah data kuantitatif yang dianalisis
secara statistik. Secara umum, pengolahan dan analisis data kuantitatif dari
hasiltes kemampuan berpikir kritis matematika dan tes kemampuan pemecahan
masalah matematika, dilakukan dengan langkah-langkah berikut:
1. Analisis Deskriptif
Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap deskripsi data ini adalah
membuat tabulasi data untuk setiap variabel, mengurutkan data secara interval dan

91

menyusunnya dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan grafik histogram dan
poligon, mencari rata-rata (mean), modus, median, simpangan baku, dan varians
data. Deskripsi data dilakukan dengan menggunakan program komputer IBM
SPSS Statistic 21.
2. Uji Prasyarat Analisis
a. Uji Normalitas
Uji normalitas data dilakukan untuk mengetahui apakah data dari
masing-masing kelompok berdistribusi normal atau tidak. Normalitas data
diperlukan untuk menentukan uji statistik data dari kelompok sampel yang
digunakan. Untuk menguji normalitas data, digunakan uji KolmogorovSmirnov Z (K-S Z) yang dilakukan dengan berbantuan software IBM SPSS
Statistics 21. Adapun hipotesis dan kriteria ujinya adalah:
H0 : Data dari masing-masing kelompok berdistribusi normal
Hi : Data dari masing-masing kelompok tidak berdistribusi normal
Kriteria pengujian: tolak H0 jika nilai signifikansi uji statistik KolmogorovSmirnov Z (K-S Z) < 0,05.
b. Uji Homogenitas Varians
Uji homogenitas varians dilakukan untuk mengetahui apakah tiap-tiap
kelompok data maupun data keseluruhan memiliki variansi yang homogen
atau tidak. Untuk menguji homogenitas varians data, digunakan uji statistik
Levenes yang dilakukan dengan berbantuan software IBM SPSS Statistics 21.
Adapun hipotesis dan kriteria ujinya adalah:
H0 : Varians antar kelompok data homogen
Hi : Varians antar kelompok data tidak homogen
Kriteria pengujian: tolak H0 jika nilai signifikansi uji statistik Levenes < 0,05.
c. Uji Homogenitas Matriks Varians-Kovarians
Salah satu dari asumsi dasar pengujian MANOVA adalah uji
homogenitas matriks varians-kovarians. Untuk menguji homogenitas matriks
varians-kovarians, digunakan uji statistik Boxs M yang dilakukan dengan

92

berbantuan software IBM SPSS Statistics 21. Adapun hipotesis dan kriteria
ujinya adalah:
H0 : Matriks varians-kovarians antar kelompok data treatment homogen.
Hi : Matriks varians-kovarians antar kelompok data treatment heterogen.
Kriteria pengujian: tolak H0 jika nilai signifikansi uji statistik Boxs M < 0,05.
3. Uji Hipotesis
Teknik pengujian menggunakan teknik Multivariate Analysis of Varians
(MANOVA). MANOVA adalah teknik statistik yang digunakan untuk memeriksa
hubungan antara beberapa variabel bebas (biasa disebut perlakuan) dengan dua
atau lebih variabel tak bebas secara simultan. Pada MANOVA ada beberapa
statistik uji yang dapat digunakan untuk membuat keputusan, yaitu:
a. Pillais Trace. Statistik uji ini paling cocok digunakan jika asumsi
homogenitas matriks varians-kovarians tidak dipenuhi, ukuran-ukuran
sampel kecil, dan jika hasil-hasil dari pengujian bertentangan satu sama
lain yaitu jika ada beberapa vektor rata-rata yang bereda sedang yang lain
tidak. Semakin tinggi nilai statistik Pillais Trace, pengaruh terhadap
model semakin besar. Statistik uji Pilllais Trace dirumuskan sebagai:
p
i
|B|
1
P=
=tr i ( 1+ i ) =tr
|B+W |
i=1 1+ i

( )

di mana

1 , 2 , , p

adalah akar-akar karakteristik dari ( W ) ( B ) .

( W ) = matriks varians-kovarians galat pada MANOVA

( B ) = matriks varians-kovarians perlakuan pada MANOVA


b. Wilks Lambda. Statistik uji digunakan jika terdapat lebih dari dua
kelompok variabel independen dan asumsi homogenitas matriks varianskovarians dipenuhi. Semakin rendah nilai statistik Wilks Lambda,
pengaruh terhadap model semakin besar. Nilai Wilks Lambda berkisar
antara 0-1. Statistik uji Wilks Lambda dirumuskan sebagai:

93

U= ( 1+ i)1=
i=1

|W |

|B+W |

c. Hotellings Trace. Statistik uji ini cocok digunakan jika hanya terdapat
dua kelompok variabel independen. Semakin tinggi nilai statistik
Hotellings Trace, pengaruh terhadap model semakin besar. Nilai
Hotellings Trace > Pillais Trace. Statistik uji Hotellings dirumuskan
sebagai:
p

T = i =tr i =tr ( W ) ( B )
1

i=1

d. Roys Largest Root. Statistik uji ini hanya digunakan jika asumsi
homogenitas varians-kovarians dipenuhi. Semakin tinggi nilai statistik
Roys Largest Root, pengaruh terhadap model semakin besar. Nilai Roys
Largest Root > Hotellings Trace > Pillais Trace. Dalam hal pelanggaran
asumsi normalitas multivariat, statistik ini kurang robust (kekar)
dibandingkan dengan statistik uji yang lainnya. Statistik uji Roys
Largest Root dirumuskan sebagai:
R= maks=maks ( 1 , 2 , , p )
akar karakteristik maksimum dari ( W )1 ( B ) .
Setelah dilakukan pengujian dan hasilnya signifikan dalam arti terdapat
perbedaan antar kelompok (perlakuan), maka perlu dilakukan uji lanjut untuk
mengetahui variabel mana yang paling berpengaruh dalam membentuk perbedaan
antar grup. Hal ini perlu dilakukan karena tidak semua variabel mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap perbedaan antar grup. Kemudian setelah itu
dilakukan uji lanjut untuk mengetahui perbedaan masing-masing individu dalam

94

grup berdasarkan variabel yang membentuk perbedaan antar grup. Prosedur


demikian dinamakan uji Post Hoc. Beberapa prosedur Post Hoc yang umum
yaitu: metode Scheffe, metode Tukeys (HSD), pendekatan Fisher (LSD), uji
Duncon dan uji Newman. Proses perhitungan dilakukan menggunakan program
olah data IBM SPSS Statistics 21.

H. Hipotesis Statistik
Penelitian ini menggunakan teknik analisis data Manova dengan hipotesis
statistik sebagai berikut:
11 12

21 22
a. H0 :
11 12

21 22
Ha :

11 12

b. H0 :
Ha :
c. H0 :

11 12

21 22
21 22

Ha :
Hipotesis secara verbal:
a. H0

Tidak terdapat pengaruh penerapan pendekatan

saintifik (scientific learning) terhadap kemampuan berpikir kritis


Ha

dan pemecahan masalah matematika siswa secara multivariat.


: Terdapat pengaruh penerapan pendekatan saintifik (scientific
learning) terhadap kemampuan berpikir kritis dan pemecahan
masalah matematika siswa secara multivariat.

95

b. H0

Tidak terdapat pengaruh penerapan pendekatan

saintifik (scientific learning) terhadap kemampuan berpikir


Ha

kritismatematika siswa.
: Terdapat pengaruh penerapan pendekatan saintifik (scientific
learning) terhadap kemampuan berpikir kritismatematika siswa.
c. H0
:
Tidak terdapat pengaruh penerapan pendekatan
saintifik (scientific learning) terhadap kemampuan pemecahan

Ha

masalah matematika siswa.


: Terdapat pengaruh penerapan pendekatan saintifik (scientific
learning) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika
siswa.