Anda di halaman 1dari 5

B.

Pembahasan
Pencandraan adalah teknik penggambaran sifat-sifat tanaman dalam tulisan verbal
yang dapat dilengkapi dengan gambar, data penyebaran, habitat, asal-usul, dan manfaat dari
golongan tanaman yang dimaksud. Pencandraan terhadap keragaman tingkat spesies tanaman
sangat penting fungsinya dalam kegiatan pemuliaan tanaman. Pemuliaan tanaman yang
terdiri atas tiga gatra, yaitu variabilitas, seleksi, dan hibridisasi, membutuhkan kemampuan
khusus dalam pencandraan tanaman oleh para pelakunya.
Fungsinya antara lain adalah untuk menunjukkan adanya variabilitas pada tanaman,
untuk melakukan seleksi dalam kegiatan pemuliaan tanaman, untuk membedakan keragaman
yang ada pada tingkat spesies, serta sebagai langkah dalam pengamatan dan identifikasi
plasma nutfah dengan berbagai sifat penting. Pencandraan secara visual dengan melakukan
evaluasi terhadap penampilan fenotipik tanaman pada lingkungan tertentu, dengan faktor
penilaian berupa sifat-sifat agronomi, morfologi, serta kenampakan atau sifat lain yang
menjadi pembeda antara suatu varietas dengan varietas lainnya.
Tanaman bawang merah termasuk tanaman semusim berbentuk rumpun dan tumbuh
tegak yang termasuk kedalam famili Liliaceae. Klasifikasi tanaman bawang merah dalam
(Hendro dan Prasodjo, 1983) adalah sebagai berikut :
Divisio

: Spermatophyta

Subdivisio : Angiospemae
Kelas
Famili

Monocotyledoneae
: Liliaceae

Genus

: Allium

Spesies

: Allium ascalonicum L.

Bunga tanaman bawang merah termasuk bunga majemuk dan berbentuk tandan, yang
bertangkai 50 sampai 200 kuntum bunga. Pada ujung dan pangkal tangkai mengecil
sedangkan di bagian tengah menggembung. Bunga bawang merah merupakan bunga
sempurna yang tiap bunganya terdiri dari lima sampai enam benangsari dan satu buah putik
dengan daun bunga yang berwarna putih. Bakal buah duduk di atas membentuk bangun
segitiga hingga nampak seperti kubah. Bunga dari suku Liliaceae kebanyakan merupakan
bunga banci alomorf (Gembong, 1988).

Banyak varietas bawang merah yang dibudidayakan di Indonesia. Sampai saat ini
perbanyakan dari varietas-varietas tersebut dilakukan secara vegetatif dengan umbi, padahal
varietas tersebut mampu berbunga dan berbiji secara alami kecuali varietas Sumenep.
Karena selalu dibiak secara vegetatif maka praktis tidak ada perubahan susunan genetiknya
dan karena itu sampai sekarang tidak didapatkan varietas yang tahan terhadap penyakit daun
yang sering menggagalkan pertanaman bawang merah. Dari 141 varietas bawang merah yang
ada termasuk varietas introduksi belum didapatkan varietas yang tahan terhadap penyakit di
atas kecuali varietas Sumenep yang relatif tahan terhadap penyakit Otomatis tetapi tidak
tahan terhadap penyakit Alternaria. Sayangnya varietas ini tidak mampu berbunga dan
belum diketahui cara merangsang bunganya, serta berumur panjang walaupun mempunyai
kualitas terbaik untuk bawang goreng (Permadi, 1992).
Bawang merah yang ditanam di Indonesia berdasarkan warna kulitnya dapat
dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu (Singgih, 1990) :
1. Kelompok yang umbinya berwarna merah tua, seperti kultivar Medan, Gugur, Maja
dan Sri Sakate.
2. Kelompok yang umbinya berwarna kuning muda pucat, seperti kultivar Sumenep.
3. Kelompok yang umbinya berwarna kekuning-kuningan sampai merah muda seperti
kultivar Kuning, Lampung, Bima, dan Ampenan.
Pada praktikum ini bahan yang digunakan adala 4 varietas bawang merah, yaitu
crocs, sumenep, biru, dan tiron. Dari keempat varietas tersebut memiliki karakterisasi
yang berbeda. Sehingga dilakukan karakterisasi dan identifikasi varietas tanaman. Dari
hasil pengamatan diketahui karakterisasi masing-masing varietas bawang merah adalah
varietas crock,tiron,sumenep, dan biru. Masing-masing varietas memiliki kenampakan
yang berbeda. Daun bawang merah hanya mempunyai satu permukaan, berbentuk bulat
kecil, memanjang dan berlubang. Untuk crock jumlah daun per umbi sebanyak 3-8 daun.
Dari keempat varietas, bawang merah biru paling banyak jumlah bunganya yaitu
sebanyak 56 helaian per rumpun. Bunga tanaman bawang merah berwarna putih termasuk
bunga majemuk.Dari bunga ini dapat dihasilkan biji yang berwarna hitam untuk varietas
crock,sumenep dan biru. Sedangkan biji berwarna abu-abu untuk varietas tiron. Bentuk
biji rata-rata berbentuk bulat lonjong.
Varietas biru memiliki jumlah anakan yang paling bnayak yaitu sekitar 10-12
anakan. Masing-masing anakan ini akan membentuk tunas pada ujung umbi, warna tunas

rata-rata berwarna hijau muda sampai hijua tua. Morfologi akar untuk masing-masing
varietas hampir sama yaitu rambut akar banyak tumbuh didekat ujung akar dan umumnya
relatif pendek dengan tipe perakaran yang serabut.
Bawang merah memiliki berbagai macam varietas, namun dalam praktikum ini hanya
4 jenis varietas yang di karakterisasi. Masing-masing varietas memiliki keunggulan yaitu :

Bawang merah tiron memiliki beberapa keunggulan antara lain :


Mampu membentuk anakan yang cukup banyak, berumur genjah, potensi hasil cukup
tinggi, dapat dikembangkan pada lahan berpasir dan lahan sawah berpengairan, cocok
ditanam pada ketinggian 0 -100 dpl, tahan ditanam pada musim penghujan, tahan

terhadap penyakit busuk umbi (Windi, 2010).


Bawang merah crocs memiliki beberapa keunggulan yaitu produktivitas tinggi, umbi
berukuran besar, mampu beradaptasi dengan baik pada dataran rendah dengan ketinggian 15

m dpl.
Keunggulan bawang merah sumenep adalah kualitas hasil baik, tahan kekeringan, aroma

sering digemari, mampu ditanam saat musim huja dan musim kering.
Keunggulan bawang merah biru adalah produktivitas tinggi, kualitas baik, tahan ditanam

pada musim penghujan dan kering , tahan terhadap penyakit busuk umbi.
Bawang merah yang cocok ditanam di daerah Yogyakata adalah bawang merah
varietas tiron, sumenep, biru dan crocs. Hal ini dikarenakan keempat varietas bawang merah
ini cocok tumbuh pada dataran rendah. Seperti halnya tiron yang merupakan varietas lokal
daerah DIY yang sudah dirilis oleh Menteri Pertanian sebagai varietas unggul kawasan
Bantul Selatan, karena memberikan pendapatan yang tinggi pada petani.

Kesimpulan

1. Bawang merah yang digunakan dalam karakterisasi dan identifikasi varietas tanam
adalah bawang merah varietas tiron, sumenep, crocs, dan biru.
2. Bawang merah varietas sumenep, tiron, crocs, dan biru cocok ditanam pada daerah
dataran rendah.
3. Bawang merah

varietas crock,tiron,sumenep, dan biru, masing-masing varietas

memiliki kenampakan yang berbeda.Untuk crock jumlah daun per umbi sebanyak 3-8
daun. Varietas biru paling banyak jumlah bunganya yaitu sebanyak 56 helaian per
rumpun. Bentuk biji rata-rata berbentuk bulat lonjong. Varietas biru memiliki jumlah
anakan yang paling bnayak yaitu sekitar 10-12 anakan. Morfologi akar untuk masingmasing varietas hampir sama yaitu rambut akar banyak tumbuh didekat ujung akar
dan umumnya relatif pendek dengan tipe perakaran yang serabut.

DAFTAR PUSTAKA

Windi, W. 2010. http://blogs.unpad.ac.id/windiwidiaastuti/2010/06/04/4/. Diakses tanggal 5


Juni 2014.
Gembong , T. 1988. Taksonomi Tumbuhan. Gajah Mada Press. Yogyakarta.
Hendro, S ., dan S. Prasodjo. 1983. Budidaya Bawang Merah. Sinar Baru. Bandung.
Permadi, A.H, 1992. Pemuliaan tanaman bawangmerah. dalam Teknologi Produksi
Bawangmerah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. Jakarta.
Singgih, W. 1990. Budidaya Bawang Putih, Bawang Merah dan Bawang Bombay. Penebar
Swadaya. Jakarta.