Anda di halaman 1dari 33

A.

Konsep Dasar Keluarga


1. Pengertian Keluarga
Menurut Salvacion G. Bailon dan Aracelis Maglaya (1989 dikutip
dari Mubarak 2005), keluarga adalah dua atau lebih individu yang
tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau
pengangkatan, hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama
lain, serta mempertahankan kebudayaan.
Menurut Departemen kesehatan RI (1998, dikutip dari Mubarak
2005), keluarga adalah unit terkecil dari suatu masyarakat yang terdiri
atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal
dalam suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling
ketergantungan.
Dari penjelasan diatas penulis menyimpulkan keluarga terdiri dari
orang-orang yang tinggal dalam satu rumah, mempunyai hubungan, saling
berinteraksi dalam peran, dan mempertahankan kebudayaan.
2. Tipe atau Bentuk Keluarga
Secara umum di negara Indonesia dikenal dua tipe keluarga, yaitu
tipe keluarga tradisional dan tipe keluarga non tradisional.
Menurut Mubarak (2005), yang termasuk tipe keluarga tradisional yaitu :
a. Keluarga inti (Traditional nuclear). Keluarga inti yang terdiri dari
ayah, ibu, dan anak yang tinggal dalam satu rumah ditetapkan oleh
Saksi-saksi legal dalam suatu ikatan perkawinan, satu/keduanya
bekerja di luar rumah.
3. Peran Keluarga
Setiap posisi formal dalam keluarga adalah peran-peran yang
terkait, yaitu sejumlah perilaku yang kurang lebih bersifat homogen.
Keluarga membagi peran secara merata kepada setiap anggotanya.
Peran dasar (formal) yang membentuk posisi sebagai suami-ayah,
istri-ibu antara lain sebagai berikut :
a. Peran sebagai provider atau penyedia.
b. Sebagai pengatur rumah tangga.
c. Perawatan anak, baik yang sehat maupun yang sakit.
d. Sosialisasi anak.
e. Rekreasi.
f. Persaudaraan (kinship), memelihara hubungan keluarga paternal dan
maternal.
g. Peran seksual.
h. Peran teraupetik (memenuhi kebutuhan afektif dari pasangan).
Selain peran formal terdapat juga peran informal, peran informal
bersifat implisit, biasanya tidak tampak, dimainkan hanya untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan emosional individu dan/atau untuk
menjaga keseimbangan dalam keluarga.Beberapa contoh peran informal
yang bersifat adaptif dan merusak kesejahteraan keluarga diantaranya
sebagai berikut.

Menurut Mubarak (2005), Peran adaptif antara lain :


a. Pendorong seperti memuji, setuju, dan memberikan kontribusi dari
orang lain.
b. Pengharmonis seperti penghibur, dan menyatukan kembali perbedaan
pendapat.
c. Pendamai, berarti jika terjadi konflik maka dapat diselesaikan dengan
jalan musyawarah.
d. Pencari nafkah, berarti peran yang dijalankan oleh orang tua dalam
memenuhi kebutuhan anggota keluarga.
e. Perawatan keluarga, berarti peran yang dijalankan terkait merawat
anggota keluarga jika ada anggota keluarga yang sakit.
Peran yang merusak antara lain sebagai berikut:
a. Penghalang.
b. Dominator
Dominator adalah kecenderungan memaksakan atau superioritas
dengan memanipulasi anggota kelompok tertentu, membanggakan
kekuasaannya, bertindak seakan-akan ia mengetahui segala-galanya,
dan tampil sempurna.
c. Penyalah (suka menyalahkan orang lain).
d. Martir
Martir yaitu tidak menginginkan apapun untuk dirinya, ia hanya
berkorban untuk keluarganya.
e. Kambing hitam keluarga. ( Mubarak, 2005 )
4. Fungsi Keluarga
Menurut Mubarak (2005), Lima fungsi keluarga yang paling erat saat
mengkaji dan mengintervensi keluarga antara lain :
a. Fungsi afektif
Fungsi afektif yaitu fungsi yang berhubungan dengan fungsi internal
keluarga yang merupakan basis kekuatan dari keluarga.
b. Fungsi sosialisasi
Sosialisasi merupakan proses dimana individu secara kontinu
mengubah perilaku mereka sebagai respon terhadap situasi yang
terpola secara sosial.
c. Fungsi reproduksi
Fungsi reproduksi keluarga berfungsi untuk meneruskan
kelangsungan keturunan dan menambah sumber daya manusia.
d. Fungsi ekonomi
Fungsi ekonomi keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti
makanan, pakaian, rumah, maka keluarga memerlukan sumber
keuangan.
e. Fungsi perawatan keluarga / pemeliharaan kesehatan

Fungsi perawatan kesehatan keluarga bukan hanya fungsi mendasar


dan vital, melainkan fungsi yang berfokus dalam keluarga keluarga
yang sehat dan berfungsi dengan baik.
Menurut Pratt (1982, dikutip dari Mubarak 2006), menyatakan
semakin banyak keluarga menjalankan fungsi ini dengan baik maka
semakin baik status kesehatan keluarga. Dalam fungsi perawatan
keluarga berfokus pada pertanyaan bagaimana keluarga memenuhi
fungsi perawatan kesehatan dengan baik Agar keluaga dapat menjadi
sumber kesehatan yang efektif dan utama, keluarga harus lebih terlibat
dalam kegiatan perawatan kesehatan, dan dalam hal ini petugas
kesehatan berperan penting dalam memberikan perawatan kesehatan.
Agar klien dapat ikut dalam perawatan diri yang efektif, keluarga
harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk
memberikan perawatan kesehatan yang baik, dan dalam hal ini
keluarga perlu memperoleh informasi yang cukup dari petugas
kesehatan.
5. Tahap Perkembangan Keluarga
Perkembangan keluarga adalah proses perubahan dari sistem keluarga
yang terjadi dari waktu ke waktu meliputi perubahan interaksi dan
hubungan di antara keluarga dari waktu ke waktu. Perkembangan ini
terbagi dalam beberapa tahapan, setiap tahapan memiliki tugas
perkembangan yang harus dipenuhi agar tahapan tersebut dapat dilalui
dengan sukses.
Menurut Duvall & Miller (1985; dikutip dari Mubarak 2006), siklus
kehidupan keluarga terdiri dari delapan tahapan yang mempunyai tugas
dan resiko tertentu pada setiap tahapan perkembangannya. Adapun
delapan tahapan perkembangan tersebut adalah:
1. Tahap I keluarga pemula, dimulai saat individu membentuk keluarga
melalui perkawinan.
Tugas perkembangan:
1) Membina hubungan intim yang memuaskan kehidupan baru.
2) Membina hubungan dengan teman lain, keluarga lain.
3) Membina keluarga berencana.
Masalah kesehatan: masalah seksual, peran perkawinan, kehamilan
yang kurang direncanakan.
2. Tahap II keluarga dengan kelahiran anak pertama, dimulai sejak anak
pertama lahir sampai berusia 30 bulan
Tugas perkembangan:
1) Perubahan peran menjadi orang tua.
2) Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga.
3) Mempertahankan
hubungan
yang
memuaskan
dengan
pasangannya.

3.

4.

5.

6.

Masalah kesehatan: pendidikan meternitas, perawatan bayi yang baik,


pengenalan dan penanganan masalah kesehatan fisik secara dini,
imunisasi, tumbuh kembang dan lain-lain.
Tahap III keluarga dengan anak pra sekolah, dimulai anak pertama
berusia 2 6 tahun.
Tugas perkembangan:
1) Memenuhi kebutuhan anggota keluarga.
2) Membantu anak bersosialisasi, beradaptasi dengan lingkungan.
3) Beradaptasi dengan anak yang baru lahir sementara kebutuhan
anak yang lain juga harus dipenuhi.
4) Mempertahankan hubungan yang sehat baik di dalam maupun di
luar keluarga.
5) Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak-anak.
6) Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.
7) Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh dan kembang anak.
Masalah kesehatan:
1) Masalah kesehatan fisik: penyakit menular pada anak.
2) Masalah kesehatan psikososial : hubungan perkawinan,
perceraian.
3) Persaingan antara kakak adik.
4) Pengasuhan anak.
Tahap IV keluarga dengan anak usia sekolah, dimulai saat anak
pertama berusia 6 13 tahun
Tugas perkembangan:
1) Membantu sosialisasi anak dengan tetangga, sekolah dan
lingkungan.
2) Mempertahankan hubungan perkawinan bahagia.
3) Memenuhi kebutuhan dan biaya hidup yang semakin meningkat.
4) Meningkatkan komunikasi terbuka.
Tahap V keluarga dengan anak remaja, dimulai saat anak pertama
berusia 13 20 tahun.
Tugas perkembangan:
1) Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab,
meningkatkan otonominya.
2) Mempererat hubungan yang intim dalam keluarga.
3) Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dengan orang
tua.
4) Perubahan sistem peran dan peraturan tumbuh kembang keluarga.
Masalah kesehatan: penyalahgunaan obat-obatan dan penyakit
jantung.
Tahap VI keluarga dengan anak dewasa, dimulai saat anak pertama
meninggalkan rumah sampai anak terakhir, lamanya tergantung
dengan jumlah anak atau banyaknya anak belum menikah dan tinggal
dalam rumah:
Tugas perkembangan:

1) Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.


2) Mempertahankan keintiman pasangan.
3) Membantu orang tua yang sedang sakit dan memasuki masa tua.
4) Membantu anak untuk mandiri di masyarakat.
5) Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga
Masalah kesehatan:
1) Masa komunikasi dewasa muda dengan orang tua tidak lancar.
2) Transisi peran suami istri.
3) Memberi perawatan.
4) Kondisi kesehatan kronis.
5) Masalah menopause.
6) Efek dari obat-obatan, merokok, diet dan lain-lain.
7. Tahap VII keluarga dengan usia pertengahan, dimulai saat anak
terakhir meninggalkan rumah dan berakhir saat pensiunan atau salah
satu pasangan meninggal.
Tugas perkembangan:
1) Mempertahankan kesehatan.
2) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman
sebaya dan anak-anak.
3) Meningkatkan keakraban pasangan.
Masalah kesehatan:
1) Promosi kesehatan.
2) Masalah hubungan dengan perkawinan.
3) Komunikasi dan hubungan dengan anak cucu dan lain-lain.
4) Masalah hubungan dengan perawatan.
8. Tahap VIII keluarga dengan usia lanjut, dimulai salah satu meninggal
atau pensiun sampai dengan dua-duanya meninggal.
Tugas perkembangan:
1) Mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan.
2) Menyesuaikan terhadap pendapatan yang menurun.
3) Mempertahankan hubungan perkawinan.
4) Menyesuaikan diri terhadap kehilangan pasangan.
5) Mempertahankan ikatan keluarga antar generasi.
6) Meneruskan untuk memahami ekstensi mereka.
B. Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga
1. Pengkajian
Pengkajian adalah tahapan dimana seorang perawat mengambil
informasi secara terus menerus terhadap anggota keluarga yang
dibinanya. Secara garis besar data dasar yang dipergunakan mengkaji
status keluarga. Menurut Mubarak (2005), antara lain:
a. Struktur dan karakteristik keluarga.
b. Sosial, ekonomi, budaya.
c. Faktor lingkungan.
d. Riwayat kesehatan dan medis dari setiap anggota keluarga.
e. Psikososial keluarga. (Mubarak, 2005).

Menurut Friedman (1998 dikutip dari Mubarak 2006), Pada tahap


pengkajian hal-hal yang perlu dikaji adalah:
a. Data Umum
1) Meliputi nama kepala keluarga, alamat, pekerjaan dan
pendidikan kepala keluarga, komposisi keluarga yang terdiri dari
nama, jenis kelamin, hubungan dengan KK, umur, pendidikan,
status imunisasi dari masing-masing anggota keluarga serta
genogram.
2) Type keluarga
Menjelaskan mengenai jenis tipe keluarga beserta kendala atau
masalah yang terjadi dengan jenis tipe keluarga tersebut.
3) Suku bangsa
Mengkaji asal suku bangsa keluarga serta mengidentifikasi
budaya suku bangsa tersebut terkait dengan kesehatan.
4) Agama
Mengkaji agama yang dianut oleh keluarga serta kepercayaan
yang dapat mempengaruhi kesehatan.
5) Status sosial ekonomi keluarga
Status sosial ekonomi keluarga ditentukan oleh pendapatan baik
dari kepala keluarga maupun dari anggota keluarga yang lain.
Selain itu status sosial ekonomi keluarga ditentukan pula oleh
kebutuhan-kebutuhan yang dikeluarkan oleh keluarga serta
barang-barang yang dimiliki oleh keluarga.
6) Aktifitas rekreasi keluarga
Rekreasi keluarga tidak hanya dilihat kapan saja keluarga pergi
bersama-sama untuk mengunjungi tempat rekreasi tertentu
namun dengan menonton TV dan mendengarkan radio juga
merupakan aktifitas rekreasi.
b. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga
1) Tahap perkembangan keluarga saat ini
Dimana ditentukan oleh anak tertua dari keluarga inti.
2) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Menjelaskan bagaimana tugas perkembangan yang belum
terpenuhi oleh keluarga serta kendalanya.
3) Riwayat kelurga inti
Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga inti,
yang meliputi riwayat penyakit keturunan, riwayat kesehatan
masing-masing anggota dan sumber pelayanan yang digunakan
keluarga. (Mubarak, 2005).
c. Pengkajian Lingkungan
1) Karakteristik rumah
Diidentifikasi dengan melihat luas rumah, tipe rumah, jumlah
ruangan, jumlah jendela, pemanfaatan ruangan, peletakan
perabotan rumah, dan denah rumah.
2) Karakteristik tetangga

Menjelasakan mengenai karakteristik tetangga dan komunitas


setempat yang meliputi kebiasaan, lingkungan fisik, aturan atau
kesepakatan penduduk setempat, budaya yang mempengaruhi
kesehatan.
3) Mobilitas geografis keluarga
Mobilitas geografis keluarga yang ditentukan dengan kebiasaan
keluarga berpindah tempat.
4) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Menjelaskan mengenai waktu yang digunakan keluarga untuk
berkumpul serta perkumpulan keluarga yang masih ada.
5) Sistem pendukung keluarga
Yang termasuk sistem pendukung adalah jumlah anggota
keluarga yang sehat, fasilitas fisik, psikologis, atau dukungan
dari anggota keluarga dan fasilitas sosial atau dukungan
masyarakat setempat. (Mubarak, 2005)
d. Struktur Keluarga
1) Pola komunikasi keluarga
Menjelaskan mengenai cara berkomunikasi antar anggota
keluarga.
2) Struktur kekuatan keluarga
Kemampuan
anggota
keluarga
mengendalikan
dan
mempengaruhi orang lain.

3) Struktur peran
a) Struktur peran formal
Bagaimana peran formal yang dipenuhi oleh tiap-tiap
anggota keluarga, apakah terdapat konflik peran, bagaimana
keluarga melaksanakan fungsi peran secara kompeten,
apakah peran fleksibel saat dibutuhkan.
b) Struktur peran informal
Apakah dalam keluarga terdapat peran-peran informal yang
tidak jelas, apakah tujuan dari anggota keluarga yang
melaksanakan peran tersebut, jika peran informal ada siapa
yang melaksanakannya di genersi sebelumnya, apakah
dampak yang terjadi setelah pelaksanaan peran informal
tersebut.
c) Analisa model-model peran
Siapa yang menjadi sosok teladan dalam keluarga yang
mempengaruhi pelaksanaan peran setiap individu, dan siapa
yang melaksanakan peran orang tua dalam keluarga.
d) Variabel-variabel yang mempengaruhi struktur peran
Bagaimana masyarakat mempengaruhi peran dalam
keluarga, bagaimana budaya mempengaruhi peran dalam

keluarga, dan bagaimana masalah kesehatan mempengaruhi


peran dalam keluarga (Friedman, 1998).
4) Nilai atau norma keluarga
Menjelaskan mengenai nilai dan norma yang dianut keluarga,
yang berhubungan dengan kesehatan ( Mubarak, 2005).
e. Fungsi Keluarga
Menurut Friedman (1998), fungsi keluarga yaitu:
1) Fungsi afektif
Pengkajian fungsi afektif meliputi :
a) Pola kebutuhan keluarga
Keluarga mengetahui kebutuhan masing-masing individu
lain dalam keluarga, orang tua mampu menggambarkan
kebutuhan anak-anak mereka. Serta sejauh mana keluarga
menghargai kebutuhan yang dirasakan oleh anggota
keluarga yang lain.
b) Saling memperhatikan, keakraban, dan identifikasi
Keluarga memperhatikan masing-masing anggota keluarga,
bagaimana mereka saling mendukung satu sama lain, dan
mempunyai perasaan akrab dan intim antara anggota
keluarga. Serta bentuk kasih sayang yang ditunjukkan
keluarga.
c) Keterpisahan dan keterkaitan dalam keluarga
Sikap keluarga menghadapi isu-isu tentang keterpisahan dan
keterkaitan, bagaimana keluarga memotivasi anggota
keluarga agar selalu bersama dan memelihara hubungan.
Serta bagaimana upaya keluarga untuk menghadapi setiap
perpisahan sesuai dengan tahap perkembangan. (Friedman,
1998)
2) Fungsi sosialisasi
Menurut Friedman (1998), Pengkajian fungsi sosialisasi
meliputi:
a) Kaji praktek membesarkan anak dalam keluarga seperti
kontrol perilaku otonomi dan ketergantungan, memberi dan
menerima cinta, latihan perilaku yang sesuai dengan tingkat
usia.
b) Seberapa adaptif praktik membesarkan anak untuk sebuah
keluarga dan dalam situasi tertentu.
c) Siapa yang berperan dalam membesarkan anak, jika
bersama bagaimana ini dapat diatur.
d) Bagaimana anak-anak dihargai dalam keluarga.
e) Keyakinan dan budaya yang mempengaruhi pola dalam
membesarkan anak.
f) Faktor-faktor dari masyarakat yang mempengaruhi pola
membesarkan anak.

g) Identifikasi apakah keluarga beresiko tinggi mendapat


masalah dalam membesarkan anak.
h) Apakah lingkungan rumah cocok dengan tahap
perkembangan anak (Friedman, 1998).
3) Tugas Perawatan Keluarga
Menurut Friedman (1998 dikutip dari Mubarrak 2006),
Tugas Keluarga di Bidang Kesehatan
Keluarga mempunyai tugas di bidang kesehatan yang perlu
dipahami dan dilakukan, meliputi :
a) Mengenal masalah kesehatan keluarga
Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang
tidak boleh diabaikan karena tanpa kesehatan segala sesuatu
tidak akan berarti dan karena kesehatanlah kadang seluruh
kekuatan sumber daya dan dana keluarga habis. Orang tua
perlu mengenal keadaan kesehatan dan perubahanperubahan yang dialami anggota keluarga. Perubahan
sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak
langsung menjadi perhatian orang tua/keluarga. Apabila
menyadari perubahan keluarga, perlu dicatat kapan
terjadinya, perubahan apa yang terjadi dan seberapa besar
perubahannya.
b) Memutuskan tindakan yang tepat bagi keluarga
Merupakan upaya keluarga yang utama untuk
mencari pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan
keluarga, dengan pertimbangan siapa diantara keluarga yang
mempunyai kemampuan memutuskan untuk menentukan
tindakan keluarga. Tindakan kesehatan yang dilakukan oleh
keluarga diharapkan tepat agar masalah kesehatan dapat
dikurangi atau bahkan teratasi. Jika keluarga mempunyai
keterbatasan dapat meminta bantuan kepada orang di
lingkungan tinggal keluarga.
c) Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan
Seringkali keluarga telah mengambil tindakan yang
tepat dan benar, tetapi keluarga memiliki keterbatasan yang
telah diketahui oleh keluarga sendiri. Jika demikian,
anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan
perlu memperoleh tindakan lanjutan atau perawatan agar
masalah yang lebih parah tidak terjadi. Perawatan dapat
dilakukan di institusi pelayanan kesehatan atau di rumah
apabila keluarga telah memiliki kemampuan melakukan
tindakan untuk pertolongan pertama.

d) Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin


kesehatan keluarga.
e) Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan disekitarnya
bagi keluarga (Mubarak, 2006).
4) Fungsi reproduksi
Mengkaji berapa jumlah anak, merencanakan jumlah anggota
keluarga, metode apa yang digunakan keluarga dalam
mengendalikan jumlah anggota keluarga (Mubarak, 2005).
5) Fungsi ekonomi
Mengkaji sejauh mana keluarga memenuhi kebutuhan sandang,
pangan dan papan, dan memanfaatkan sumber yang ada di
masyarakat dalam upaya meningkatkan kesehatan keluarga
(Mubarak, 2005).
f. Stress dan Koping Keluarga
1) Sressor jangka pendek
Yaitu stressor yang dialami keluarga yang memerlukan
penyelesaian dalam waktu 6 bulan dan jangka panjang yaitu
memerlukan yang memerlukan penyelesaian lebih dari 6 bulan.
2) Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi atau stressor
Mengkaji sejauhmana keluarga berespon tehadap situasi atau
stressor.
3) Strategi koping yang digunakan
Strategi koping apa yang digunakan keluarga bila menghadapi
permasalahan.
4) Strategi adaptasi disfungsional
Dijelaskan mengenai adaptasi disfungsional yang digunakan
keluarga bila menghadapi permasalahan. (Mubarak, 2005)
g. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan pada semua anggota keluarga. Metode
yang digunakan pada pemeriksaan fisik, tidak berbeda dengan
pemeriksaan fisik di klinik. (Mubarak, 2005)
h. Harapan Keluarga
Pada akhir pengkajian, perawat menanyakan harapan keluarga
terhadap petugas kesehatan yang ada. (Mubarak, 2005)
2. Diagnosa Keperawatan Keluarga
Tabel 2.1. Daftar diagnosis keperawatan keluarga berdasarkan NANDA
tahun 2012-2014.
Kategori
Diagnostik
NANDA
Ketidakefektifan
Manajemen
Kesehatan Diri

Batasan Karakteristik

Pola perawatan kesehatan keluarga.


Kurang pengetahuan.
Kompleksitas sistem pelayanan kesehatan.
Konflik pengambilan keputusan.

Ketidakmampuan
Koping Keluarga

Disfungsi Proses
Keluarga
Kesiapan
Meningkatkan
Proses Keluarga

Resiko Gangguan
Perlekatan Keluarga

Ketidakefektifan
Manajemen
Regimen Terapeutik
Keluarga

- Perawatan yang mengabaikan klien dalam hal


pengobatan penyakit.
- Terlalu khawatir terus-menerus mengenai klien.
- Penanganan resistensi keluarga terhadap pengobatan
yang beruah-ubah.
- Kurang keterampilan pemecahan masalah.
- Ketidakmampuan menerima bantuan.
- Ketidakadekuatan keterampilan koping.
- Perubahan proses keluarga
- Aktifitas mendukung pertumbuhan anggota keluarga.
- Fungsi keluarga memenuhi kebutuhan anggota keluarga.
- Peran keluarga sesuai dengan tahap perkembangan.
- Ketidakmampuan orang tua untuk memenuhi kebutuhan
personal.
- Anak sakit yang tidak dapat memulai kontak dengan
orang tua secara afektif akibat gangguan organisasi
perilaku.
- Akselerasi gejala penyakit dari anggota keluarga.
- Kurang perhatian dari penyakit.
- Kegagalan untuk melakukan tindakan untuk mengurangi
factor risiko.
- Ketidak tepatan aktivitas keluarga untuk memenuhi
tujuan kesehatan.
- Kegagalan untuk melakukan tindakan untuk mengurangi
faktor resiko.
- Kurang perhatian pada penyakit.

Setelah data dianalisis, kemungkinan perawat akan menemukan


lebih dari satu masalah. Mengingat keterbatasan sumber daya maka
masalah tidak dapat ditangani sekaligus. Oleh karena itu, perawat
kesehatan masyarakat dapat menyusun prioritas masalah kesehatan
keluarga (Mubarak, 2009).
Diagnosa keperawatan adalah respon individu pada masalah
kesehatan baik yang actual maupun potensial. Masalah actual adalah
masalah yang diperoleh pada saat pengkajian, sedangkan masalah
potensial adalah yang mungkin timbul kemudian. (American Nurses Of
Association (ANA). Jadi diagnosis keperawatan adalah suatu pernyataan
yang jelas, padat dan pasti tentang status dan masalah kesehatan pasien
yang dapat diatasi dengan tindakan keperawatan. Dengan demikian
diagnosis keperawatan ditetapkan berdasarkan masalah yang ditemukan.
Diagnosis keperawatan akan memberikan gambaran tentang
masalah dan status kesehatan masyarakat baik yang nyata (actual), dan
yang mungkin terjadi (potensial). Diagnosis keperawatan mengandung
komponen utama yaitu :

1)Problem (masalah)
:
Problem
merupakan kesenjangan atau penyimpangan
dari keadaan normal yang seharusnya terjadi.
2)Etiologi (penyebab)
:
Menunjukkan
penyebab
masalah
kesehatan
atau
keperawatan yang dapat memberikan arah
terhadap intervensi keperawatan, yang
meliputi :
a. Perilaku individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat.
b. Lingkunagn fisik, biologis, psikologis dan
sosial.
c. Interaksi perilaku dan lingkungan.
3) Sign atau symptom (tanda atau gejala)
a. Informasi yang perlu untuk merumuskan diagnose.
b. Serangkaian petunjuk timbulnya masalah.
Perumusan diagnosis keperawatan dapat dilakukan dengan 2 cara
yaitu :
1. Dengan rumus PES
Rumus

: DK = P + E + S

DK :
P
:
E
:
S
:
2. Dengan rumus PE
Rumus

Diagnosis keperawatan
Problem atau masalah
Etiologi
Siymptom atau gejala

: DK = P + E

DK : Diagnosis keperawatan
P
: Problem atau masalah
E
: Etiologi
Formula diagnosa keperawatan keluarga
Problem : mengacu pada rumusan diagnosa keperawatan keluarga yang
mungkin muncul pada diagnosa Nanda 2012-2014
Etiologi : mengacu pada lima tugas keluarga dibidang kesehatan yang
mungkin muncul pada keluarga.
Tabel 2.2. Prioritas masalah kesehatan menurut Bailon dan Maglaya 1978, Cit.
Mubarak 2006, prioritas masalah kesehatan keluarga dengan
menggunakan proses skoring sebagai berikut :

No.

Kriteria

Skor

Bobot

1.

2.

3.

4.

Sifat masalah
- Tidak/kurang sehat
- Ancaman kesehatan
- Krisis atau keadaan sejahtera

3
2
1

Kemungkinan masalah dapat diubah


- Dengan mudah
- Hanya sebagian
- Tidak dapat

2
1
0

Potensial masalah dapat diubah


- Tinggi
- Cukup
- Rendah

3
2
1

Menonjolnya masalah
- Masalah berat, harus segera ditangani
- Ada masalah, tetapi tidak perlu segera
ditangani
- Masalah tidak dirasakan

1
2
1
0

Proses skoring dilakukan untuk setiap diagnosis keperawatan


dengan cara berikut ini :
a. Tentukan skor untuk kriteria yang telah dibuat.
b. Selanjutnya skor dibagi dengan angka tertinggi yang dikalikan
dengan bobot
Skor
Angka tertinggi x Bobot
c. Jumlahkan skor untuk setiap kriteria, skor tertinggi adalah 5,
sama dengan seluruh bobot.
Menurut Mubarak (2005), Empat kriteria yang dapat mempengaruhi
penentuan prioritas masalah:
a. Sifat masalah
Sifat masalah kesehatan dapat dikelompokkan kedalam tidak
atau kurang sehat diberikan bobot yang lebih tinggi karena
masalah tersebut memerlukan tindakan yang segera dan
biasanya masalah disadari oleh keluarga. Krisis atau keadaan
sejahtera diberikan bobot yang paling sedikit atau rendah karena
faktor kebudayaan biasanya dapat memberikan dukungan bagi
keluarga untuk mengatasi dengan baik.
b. Kemungkinan masalah dapat diubah

Adalah kemungkinan berhasilnya mengurangi atau mencegah


masalah jika ada tindakan (intervensi). Faktor-faktor yang perlu
diperhatika dalam menentukan skor kemungkinan yaitu;
pengetahuan dan tindakan yang dapat dilakukan keluarga,
sumber daya yang dimiliki keluarga, sumber daya dari
keperawatan misalnya dalam bentuk pengetahuan dan
keterampilan serta waktu. Juga sumber daya masyarakat
misalnya dalam bentuk fasilitas kesehatan, organisasi
masyarakat serta dukungan sosialisasi masyarakat.
c. Potensi masalah bila dicegah
Menyangkut sifat dan beratnya masalah yang akan timbul dapat
dikurangi atau dicegah. Faktor-faktor yang mempengaruhi
dalam menentukan skor yaitu; kepelikan masalah seperti
beratnya masalah atau prognosis masalah untuk dapat diubah,
lamanya masalah berkaitan dengan jangka waktu terjadinya
masalah tersebut, serta adanya kelompok resiko tinggi yang
dapat menambah potensi masalah dapat dicegah.
d. Menonjolnya masalah
Merupakan cara keluarga melihat dan menilai masalah
mengenai beratnya masalah serta mendesaknya masalah untuk
diatasi. Hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan skor
pada kriteria ini, perawat perlu menilai persepsi atau bagaimana
keluarga tersebut melihat masalah. Dalam hal ini, jika keluarga
menyadari masalah dan merasa perlu untuk menangani segera,
maka harus diberi skor yang tinggi. (Mubarak, 2009)
3. Intervensi Keperawatan
Rencana keperawatan keluarga merupakan kumpulan tindakan
yang direncanakan oleh perawat untuk dilaksanakan dalam
menyelesaikan atau mengatasi masalah kesehatan yang telah
diidentifikasi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
mengembangkan keperawatan keluarga diantaranya.
a. Rencana keperawatan harus didasarkan dari analisis yang
menyeluruh.
b. Rencana yang baik harus realistis, artinya dapat dilaksanakan dan
dapat menghasilkan apa yang diharapkan.
c. Rencana keperawatan harus sesuai dengan tujuan dan falsafah
instansi kesehatan. Misalnya bila instansi kesehatan pada daerah
tersebut tidak memungkinkan pemberian pelayanan cuma-cuma maka
perawat harus mempertimbangkan hal tersebut dalam rencana.
d. Rencana keperawatan harus dibuat dengan keluarga, hal ini sesuai
prinsip bahwa perawat bekerjasama dengan keluarga.

e. Rencana keperawatan sebaiknya dibuat secara tertulis.


Langkah-langkah dalam mengembangkan rencana keperawatan
keluarga.
a. Menentukan sasaran atau goal.
b. Menentukan tujuan atau objektif.
c. Menentukan pendekatan dan tindakan keperawatan yang akan
dilakukan.
d. Menentukan kriteria dan standar kriteria
Kriteria merupakan tanda atau indikator yang digunakan untuk
mengukur pencapaian tugas. Sedangkan standar menunjukkan tingkat
penampilan yang diinginkan untuk membandingkan. (Mubarak, 2009)

Tabel 2.3 Dalam menentukan pendekatan dan tindakan keperawatan yang akan
dilakukan,Menurut Mubarak (2005):
Hal yang difokuskan
Cara
Tindakan keperawatan dengan mensti- 1. Memperluas informasi dan pengetamulasi kesadaran dan penerimaan
huan keluarga.
2.
Membantu keluarga untuk mengeterhadap masalah atau kebutuhan
tahui dampak dari masalah yang
keluarga.
ada.
3. Menghubungkan kebutuhan dengan
sasaran yang diharapkan.
4. Menunjang sikap atau emosi yang
sehat dalam menghadapi masalah.
Tindakan perawat untuk menolong 1.
keluarga
agar
dapat
menentukan
keputusan yang tepat.
2.

3.

Tindakan perawat untuk meningkatkan 1.


kepercayaan
diri
keluarga
dalam
memberikan perawatan kepada anggota 2.
keluarga yang sakit.
3.

Mendiskusikan konsekuensi yang


timbul jika tidak segera dilakukan
tindakan.
Memperkenalkan kepada keluarga
solusi alternatif kemungkinan yang
dapat diambil
Mendiskusikan dengan keluarga
manfaat
dari
masing-masing
alternative.
Mendemonstrasikan tindakan yang
diperlukan.
Memanfaatkan sarana dan fasilitas
yang ada di keluarga.
Menghindarkan hal-hal yang dapat
mengganggu keberhasilan keluarga
dalam menunjuk klien atau mencari

Tindakan perawat dalam upaya mening- 1.


katkan kemampuan keluarga dalam
menciptakan lingkungan yang menunjang 2.
kesehahatan keluarga.
3.

4.

pertolongan kepada tim kesehatan


yang ada.
Membantu mencari cara menghindari adanya ancaman kesehatan.
Membantu keluarga memperbaiki
fasilitan fisik yang sudah ada.
Menghindarkan ancaman psikologis dalam keluarga dengan memperbaiki pola komunikasi keluarga,
memperjelas masing-masing anggota,
dan lain-lain.
Mengembangkan
kesanggupan
keluarga menemukan kebutuhan
psikososial.

4. Implementasi Keperawatan
Pelaksanaan merupakan bagian dari proses keperawatan keluarga
dimana perawat mendapat kesempatan untuk membangkitkan minat
keluarga dalam mengandalkan perbaikan ke arah perilaku hidup sehat.
Adanya kesulitan, kebingungan, serta ketidakmampuan yang dihadapi
keluarga harus menjadikan perhatian. Oleh karena itu, diharapkan
perawat dapat memberikan kekuatan dan membantu mengembangkan
potensi-potensi yang ada, sehingga keluarga mempunyai kepercayaan diri
dan mandiri dalam menyelesaikan masalah. (Mubarak, 2009)
5. Evaluasi Keperawatan
Sesuai dengan rencana tindakan yang telah diberikan, tahap
penilaian dilakukan untuk melihat keberhasilannya. Bila tidak/belum
berhasil, maka perlu disusun rencana baru yang sesuai. Semua tindakan
keperawatan mungkin tidak dapat dilakukan dalam sekali kunjungan ke
keluarga. Oleh karena itu, kunjungan dapat dilaksanakan secara bertahap
sesuai dengan waktu dan kesediaan keluarga. Langkah-langkah dalam
mengevaluasi pelayanan keperawatan yang telah diberikan sebagai
berikut :
a. Tentukan garis besar masalah yang dihadapi dan bagaimana keluarga
mengatasi masalah tersebut.
b. Tentukan bagaimana rumusan tujuan perawatan yang akan dicapai.
c. Tentukan kriteria dan standar untuk evaluasi.
d. Bandingkan ke arah yang nyata (sesudah perawatan) dengan kriteria
dan standar untuk evaluasi.
e. Identifikasi penyebab atau alasan penampilan yang tidak optimal atau
pelaksanaan yang kurang memuaskan.
f. Perbaiki tujuan berikutnya. Bila tujuan tidak tercapai. Perlu
ditentukan alasan kemungkinan tujuan tidak realistis, tindakan tidak

tepat, atau kemungkinan ada faktor lingkungan yang tidak dapat


diatasi. (Mubarak, 2009)

C. Konsep Dasar Penyakit


1. Definisi
Gastritis adalah proses inflamasi pada lapisan mukosa dan
submukosa lambung. Secara histopatologi dapat dibuktikan dengan
adanya infiltrasi sel-sel radang daerah tersebut. Gastritis merupakan salah
satu penyakit dalam pada umumnya. Secara garis besar, gastritis dapat
dibagi menjadi beberapa macam :
a. Gastritis akut adalah suatu peradangan permukaan mukosa lambung
yang akut dengan kerusakan-kerusakan erosi.
b. Gastritis kronis adalah inflamasi lambung yang lama dapat
disebabkan oleh ulkus benigna atau malignadari lambung, atau oleh
bakteri Helicobacter pylory (Soeparman, 2001).
2. Etiologi
Gastritis dapat terjadi tanpa diketahui penyebabnya. Pada sebagian
besar kasus, gastritis erosive menyertai timbulnya keadaan klinis yang
berat.keadaan klinis yang sering menimbulkan gastritis erosive misalnya
trauma yang luas, operasi besar, gagal ginjal, gagal napas, penyakit hati
yang berat, renjatan, luka bakar yang luas, trauma kepala, dan septicemia.
Kira-kira, 80-90% pasien yang dirawat diruang intensif menerita gastritis
akut erosive ini. Gastritis akut jenis ini sering disebut gastritis akut stress.
(Soeparman, 2001).
3. Patofisiologi
Seluruh mekanisme yang menimbulkan gastritis erosife karena
keadaan-keadaan klinis yang berat belum diketahui benar. Faktor-faktor
yang amat penting adalah ischemia pada mukosa gaster di samping factor
popsin, refluks empedu dan cairan pakreas.
Aspirin dan obat
antiinflamasi nonsteroid merusak mukosa lambung melalui beberapa
mekanisme. Obat-obat ini dapat menghambat aktivitas siklooksigenese
mukosa. Siklooksigenese merupakan enzim yang penting untuk
pembentukan prostaglandin dari asam arakidonat. Prostaglandin mukosa
merupakan salah satu factor defensive mukosa lambung yang amat
penting. Selain menghambat prostaglandin mukosa, aspirin dan obat
antiinflamasi nonsteroid tertentu dapat merusak mukosa secara topical.
(Soeparman, 2001).

4. Pathway
Obat-obatan

Stres

Gangguan Mobilitas

Alkohol

Korteks

gastroistinal

Hipotalamus

Medula

Refluks gaster

Sekresi asam

duodenum

lambung biarbonat

Hipertensi/vasokotriksi

Radikal bebas

naik turun
Anoreksia mual muntah

Iritasi mukosa

Lambung flow menurun


mikrosirkulas menurun

Nutrisi

Volume

kurang

cairan
Kurang

Nyeri

permebalitas naik
Progtaglin

Cemas
Mukus menurun
Proliferasi

Bikromat opitel
impermebalitas

Aliran Darah
pH intramukal
Keasaman jaringan
kritis
Erosi/ulserasi
Sumber : Hirlan 2001

5. Manifestasi Klinis
Menurut Baughman, D, C & Hackley, J, C, (2000). Manifestasi
klinis pada pasien dengan gastritis adalah sebagai berikut :
a. Dapat terjadi ulserasi superficial dan mengarah pada hemoragi.
b. Rasa tak nyaman pada abdomen dengan sakit kepala, kelesuan,
mual, dan anorexsia. Mungkin terjadi muntah dan cegukan.
c. Beberapa pasien menunjukkan asimptomatik.
d. Dapat terjadi kolik dan diare jika makan yang mengiritasi tidak
dimuntahkan, tetapi malah mencapai usus.
e. Pasien biasanya pulih kembali sekitar sehari, meskipun nafsu makan
mungkin akan hilang selama 1 sampai 3 hari.
6. Komplikasi
Menurut Mansjoer (2005), komplikasi yang mungkin terjadi meliputi:
a. Perdarahan saluran cerna bagian atas.
b. Ulkus peptikum, perforasi dan anemia karena gangguan absorbsi
vitamin. (Mansjoer, 1999)
7. Penatalaksanaan
Gastritis diatasi dengan menginstruksikan pasien untuk
menghindari alkohol dan makanan sampai gejala berukurang. Bila pasien
mampu makan melalui mulut, diet mengandung gizi dianjurkan. Bila
gejal menetap, caira perlu diberikan secara parenteral. Bila perdarahan
terjadi, maka penatalaksanaan adalah serupa dengan prosedur yang
dilakukan untuk hemoragi saluran gastrointestinal atas. Bila gastritis
diakibatkan oleh mencerna makanan yang sangat asam atau alkali,
pengobatan terdiri dari pengenceran dan penetralisasian agen penyebab.
(Suzane & Smelzhert, 2001)
8. Diagnosa Keperawatan
Menurut Seitawan & Dermawan (2008) diagnosa keperawatan
adalah kumpulan pernyataan, uraian dari hasil wawancara, pengamatan
langsung, dan pengukuran dengan menunjukkan status kesehatan mulai
dari potensial, resiko tinggi, sampai masalah aktual.
Setelah mengumpulkan data dan menganalisa, maka diagnosa
keperawatan keluarga yang mungkin terjadi pada keluarga dengan
masalah gastritis menurut klasifikasi NANDA dapat dirumuskan sebagai
berikut :
a. Nyeri akut/kronis
b. Kerusakan mobilitas fisik
c. Gangguan citra tubuh
d. Gangguan pemenuhan nutrisi
e. Kurang perawatan diri
f. Kurang pengetahuan mengenai penyakit.
9. Intervensi Keperawatan

Menurut ANA (1995) intervensi sebagai rencana tindakan perawat


untuk kepentingan klien atau keluarga. Perencanaan pada masalah yang
dilengkapi dengan kriteria dan standar yang mengacu pada penyebab,
selanjutnya merumuskan tindakan keperawatan yang berorientasi pada
kriteria dan standar.
Hal penting dalam penyusunan rencana asuhan keperawatan :
a. Tujuan hendaknya logis, sesuai masalah dan mempunyai jangka
waktu yang sesuai dengan kondisi klien.
b. Kriteria hasil hendaknya dapat diukur dengan alat ukur dan
diobservasi dengan pancaindra perawat yang objektif.
c. Rencana tindakan disesuaikan dengan sumber daya dan dana yang
dimiliki ketergantungan dapat diminimalisasi.
10. Implementasi
Implementasi merupakan aktualisasi dari perencanaan yang telah
disusun sebelumnya. Prinsip yang mendasari implementasi keperawatan
keluarga antara lain (Setiawan & Dermawan 2008) :
a. Implementasi mengacu pada rencana perawatan yang dibuat.
b. Implementasi dilakukan dengan tetap memperhatikan prioritas
masalah.
c. Kekuatan-kekuatan kleuarga berupa finansial, motivasi dan sumbersumber pendukung lainnya jangan diabaikan.
d. Pedokumentasian implementasi keperawatan keluarga janganlah
terlupakan dengan menyertakan tanda tangan petugas sebagai bentuk
tanggung gugat dan tanggung jawab profesi.
11. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan tahapan terakhir dari proses keperawatan
keluarga. Eveluasi merupakan tahapan yang menentukan apakah tujuan
dapat tercapai sesuai yang ditetapkan dalam tujuan direncanakan
keperawatan. Apabila setelah dilakukan evaluasi tujuan tidak tercapai
maka ada beberapa kemungkinan yang ditinjau kembali yaitu (Setiawan
& Dermawan, 2008) :
a. Tujuan tidak realistis.
b. Tindakan keperawatan tidak tepat
c. Faktor-faktor lingkungan yang tidak bisa diatasi.

A. PENGKAJIAN
Pengkajian dilakukan pada hari senin tanggal 12 April 2013 jam
10.00 WIB.
1. DATA UMUM
Pada pengkajian didapatkan data umum dari keluarga Tn.
D dimana Tn. D sebagai kepala keluarga berjenis kelamin laki-laki,

berumur 56 th, pekerjaan PNS, pendidikan terakhir S1 dan tinggal di


Jalan Debong Tengah RT 02 RW 02 Kecamatan Tegal Selatan Kota
Tegal.
Ny. S sebagai istri dari Tn. D, jenis kelamin perempuan,
berumur 50 th, pendidikan terakhir SLTA, pekerjaan ibu rumah tangga
dan Ny. S sedang menderita penyakit gastritis. Sdr. F sebagai anak
dari Tn. D dan Ny. S, jenis kelamin laki-laki, berumur 26 th,
pendidikan terakhir S1, pekerjaan sebagai Guru. Sdr. T sebagai anak
ke 2 dari Tn. D dan Ny. S, jenis kelamin laki-laki, berumur 23 th,
pendidikan terakhir Diploma 3, status terkini masih sebagai pelajar.
Sdr. I sebagai anak ketiga dari Tn. D dan Ny. S, jenis kelamin lakilaki, pendidikan terakhir Diploma 3, status terkini masih sebagai
pelajar.
Genogram:

Keterangan:
: Laki-laki

: Laki-laki meninggal

: Tinggal serumah
: Perempuan

: Menikah
: Klien

: Perempuan meninggal

1. Tipe Keluarga
Keluarga Tn. D termasuk tipe keluarga inti karena terdiri dari Ayah,
Ibu, anak dalam 1 rumah.
2. Suku Bangsa
Seluruh anggota keluarga Tn. D adalah suku bangsa jawa. Bahasa
yang digunakan dalam keluarga Tn. D adalah bahasa jawa dan
bahasa Indonesia. Dalam masalah kesehatan, keluarga Tn. D lebih

sering memeriksakan dan mengontrol kesehatanya pada petugas


kesehatan, apabila ada anggota keluarga yang sakit maka Tn. D
memeriksakannya ke tempat Pelayanan Kesehatan seperti RS /
Puskesmas.
3. Agama
Seluruh anggota keluarga Tn. D menganut agama islam. Tn. D dan
Ny. S rutin menjalankan sholat 5 waktu dan mengaji dalam
kehidupan sehari-hari. Tn. D mengatakan dalam keluarganya
mereka hanya percaya dengan Allah SWT semata.
4. Status Sosial Ekonomi
Tn. D sebagai seorang pensiunan PNS pendapatan yang diterima
setiap bulan + Rp 2.500.000,-. Ny. S hanya sebagai ibu rumah
tangga. Anak pertama dari Tn. D dan Ny. S ada yang bekerja.
Sedangkan Ny. S juga bekerja sebagai ahli Gizi di salah satu rumah
sakit. Keluarga Tn. D mempunyai 1 rumah dan 4 motor. Setiap
bulan Ny. S mengeluarkan uangnya untuk dibelikan kebutuhankebutuhan bulanan seperti kebutuhan pangan, alat mandi,
keperluan mencuci dan sebagainya. Jumlah pengeluaran Keluarga
Tn. D tiap bulannya untuk kebutuhan sehari-hari + Rp 3.000.000,-.
5. Aktifitas Rekreasi Keluarga.
Keluarga Tn. D jarang melakukan rekreasi ke luar kota ataupun
tempat-tempat rekreasi. Keluarga Tn. D melakukan rekreasi
keluarga 1 minggu sekali , bersama Sdr. A bermain badminton.
2. Riwayat dan tahap Perkembangan Keluarga
a. Tahap perkembangan keluarga saat ini
Tn. D dan Ny. S mempunyai 3 orang anak. 3 anaknya belum
menikah dan masih tinggal bersama dengan Tn. D dan Ny. S.
Ketiga anaknya masih menjadi pelajar dan ada juga yang sudah
bekerja yaitu Sdr. F. Maka keluarga Tn. D berada pada tahap
keluarga dengan anak usia dewasa.
b. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi.
Tahap perkembangan yang belum terpenuhi adalah tahap
perkembangan pada Adaptasi dengan perubahan yg akan terjadi:
pernikahan anak-anaknya. Tn. D mengatakan sangat mengkhawatirkan kesehatan istrinya, apalagi jika penyakit istrinya sering
kambuh. Tn. D juga mengatakan tugasnya untuk menikahkan anak
pertamanya belum bisa tercapai, kendalanya karena anaknya belum
siap untuk menikah.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga Inti
Tn. D mempunyai riwayat penyakit Tekanan darah tinggi.
Tn. D belum pernah dirawat di Rumah Sakit. Jika sedang sakit Tn.
D hanya memeriksakannya ke puskesmas. Ny. S mempunyai
riwayat gastritis. Ny. S pernah dirawat di RSUD Kardinah Tegal.

Sdr. F tidak mempunyai riwayat penyakit yang serius atau


kronik. Sdr. F hanya mengalami sakit batuk pilek. Sdr. F belum
pernah dirawat di Rumah Sakit. Jika sedang sakit Sdr. F hanya beli
obat di warung terdekat.
Sdr. T juga tidak mempunyai riwayat penyakit yang serius
atau kronik. Sdr. T hanya mengalami sakit batuk pilek. Sdr. T
belum pernah dirawat di Rumah Sakit. Jika sedang sakit Sdr. T
hanya beli obat di warung terdekat.
Sdr. A juga tidak mempunyai riwayat penyakit yang serius
atau kronik. Sdr. A hanya mengalami sakit batuk pilek. Sdr. A
belum pernah dirawat di Rumah Sakit. Jika sedang sakit Sdr. A
hanya beli obat di warung terdekat.
d. Riwayat Kesehatan Keluarga Sebelumnya
Dari keluarga Tn. D dan Ny. S tidak ada anggota keluarga
yang memiliki penyakit keturunan dan menular.
3. Data Lingkungan
a. Karakteristik Rumah
Luas rumah Tn. D sekitar + 200 m, jenis bangunan rumah
Tn. D permanen, beratap genteng, ada 3 kamar tidur, ada 4
ruangan, 2 kamar mandi, terdapat sumur dan wc, untuk
pembuangan limbah air melalui got. Terdapat ventilasi yang cukup,
pembuangan sampah dengan cara dibuang di TPA, sumber air
minum menggunakan air ledeng, jarak septic tank dengan sumber
air kira-kira lebih dari 100 m.

DENAH RUMAH
MCK

MCK

Kamar 3

Dapur 1

Kamar 2

Ruang makan dan


keluarga

Ruang tamu

Kamar 1

KET:
Gudang

= Pintu

Teras

b. Karakteristik Tetangga dan Komunitasnya


Keluarga Tn. D tinggal di lingkungan yang padat penduduk
dan jaraknya dekat. Tn. D dan Ny. S aktif mengikuti pengajian.
c. Mobilitas Geografi Keluarga
Keluarga Tn. D tinggal di rumah milik sendiri dan belum
pernah pindah rumah. Saudara-saudara dari keluarga Tn. D
maupun Ny. D tinggal tidak jauh dari rumah Tn. D. Saudarasaudara Tn. D dan Ny. S tinggal di kelurahan yang sama dengan
Tn. D.
d. Perkumpulan keluarga dan Interaksi dengan masyarakat
Keluarga Tn. D tidak pernah mengadakan perkumpulan
keluarga seperti arisan. Anggota keluarga Tn. D biasa berkumpul
pada hari raya / besar.
e. Sistem Pendukung Keluarga
Keluarga Tn. D berjumlah 5 orang, 4 orang sehat dan 1
orang sakit tapi tidak terlalu parah, cuma sering kambuh. Keluarga
Tn. D tidak mempunyai fasilitas kesehatan seperti P3K di rumah.
Tetapi Keluarga Tn. D mempunyai asuransi kesehatan.

4. Struktur Keluarga
a. Struktur Peran
1) Peran formal
Tn. D berperan sebagai suami / ayah / KK. Bertugas
mencari nafkah, sebagai pendidik, pelindung, dan pemberi rasa
aman. Sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai
anggota masyarakat dari lingkungannya.
Ny. D berperan sebagai istri sekaligus bekerja dan ibu
bagi anak-anaknya berperan untuk mengurus rumah tangga,
sebagai pengasuh dan pendidik anak-anak, pelindung dan

sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta


sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.
Sdr. F berperan sebagai anak, bertugas melaksanakan
peran sebagai anak. Sdr. F sudah bekerja dan sambil duduk di
bangku kuliah.
Sdr. T berperan sebagai anak, bertugas melaksanakan
peran sebagai anak. Sdr. T belum bekerja dan masih duduk di
bangku kuliah.
Sdr. A berperan sebagai anak, bertugas melaksanakan
peran sebagai anak. Sdr. T belum bekerja dan masih duduk di
bangku kuliah.
2) Peran Informal
Didalam Anggota keluarga Tn. D yang menjadi
pengambil keputusan jika ada masalah adalah Tn. D sendiri
dan yang memberikan sanksi kepada anggota keluarga yang
melanggar aturan juga Tn. D sendiri. Setiap anggota keluarga
berperan sebagai pendorong jika ada salah satu anggota
keluarga yang bermasalah, sebagai sahabat bagi semua anggota
keluarga dan sebagai penghibur apabila ada anggota keluarga
yang sedang bersedih.
b. Nilai atau Norma Keluarga
Dalam keluarga Tn. D sikap saling menghormati,
menyayangi dan menghargai selalu dijalankan. Keluarga Tn. D
tidak percaya terhadap dukun, kalau ada anggota keluarga yang
sakit segera dibawa ke Puskesmas / RS.
c. Pola Komunikasi Keluarga
Dalam keluarga Tn. D untuk berkomunikasi menggunakan
bahasa Jawa dan bahasa Indonesia antara satu dengan yang lain
baik dalam keluarga maupun masyarakat. Pengambil keputusan
utama dalam keluarga Tn. D adalah Tn. D sendiri.

d. Struktur Kekuatan Keluarga


Dalam pemecahan masalah, keluarga Tn. D mengambil
keputusan dengan musyawarah mufakat.
5. Fungsi Keluarga
a. Fungsi Ekonomi.
Tn. D sudah pensiun. Pendapatan pensiunan yang diterima
setiap bulan + Rp 2.500.000,-. Ny. S sebagai ibu rumah tangga
sekaligus bekerja dengan pendapatan yang diterima setiap bula
1.500.000,-. Ketiga anak dari Tn. D dan Ny. S ada yang sudah
bekerja yaitu Sdr. F dan sambil duduk di bangku kuliah sarjana.

b.

c.

d.

e.

Sedangkan Sdr. T dan Sdr. A juga masih duduk di bangku kuliah


Diploma. Keluarga Tn. D mempunyai 1 rumah dan 4 motor. Setiap
bulan Ny. S mengeluarkan uangnya untuk dibelikan kebutuhankebutuhan bulanan seperti kebutuhan pangan, alat mandi,
keperluan mencuci dan sebagainya. Jumlah pengeluaran Keluarga
Tn. D tiap bulannya untuk kebutuhan sehari-hari + Rp 3.000.000,-.
Fungsi mendapatkan status Sosial
Keluarga Tn. D sudah diakui di warga desanya. Warga
menerima dengan baik kehadiran keluarga Tn. D.
Fungsi Pendidikan
Pendidikan terakhir Tn. D adalah S1 sedangkan pendidikan
terakhir Ny. S adalah SLTA. Pendidikan terakhir Sdr. F adalah
STM dan Sdr. T dan Sdr. A adalah SMA. Bagi keluarga Tn. D
pendidikan itu sangatlah penting buat masa depan anak-anaknya
kelak.
Fungsi Sosialisasi
Hubungan dalam keluarga Tn. D cukup harmonis, interaksi
dengan anggota keluarga berjalan dengan baik. Dalam masyarakat
pun keluarga Tn.D berinteraksi dengan baik. Dalam keluarga Tn.D
diajarkan untuk displin keluarga Tn.D juga mengikuti nilai, norma
dan budaya yang berlaku di masyarakat. Keluarga Tn.D juga
berperilaku baik dalam masyarakat.
Tugas keluarga di Bidang Kesehatan
1) Kemampuan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan
Keluarga Tn. D mengatakan tidak mengetahui secara
jelas tentang penyakit gastritis (maagh) yang diderita Ny.D.
Keluarga Tn.D tidak mengetahui apa definisi, penyebab,
penatalaksanaan dan pencegahan dari penyakit gastritis. Tn.D
mengatakan hanya tahu penyakit gastritis (maagh) adalah
penyakit yang mengenai lambung. Apabila Ny. S telat makan
dan makan makanan yang pedas penyakit gatritis akan kambuh.
Pengetahuan keluarga Tn. D mengenal penyakit gastritis
memang terbatas, ditandai dengan ketika pengkajian keluarga
terlihat bingung.
2) Kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan mengenai
tindakan kesehatan yang tepat.
Keluarga Tn.D kurang mengerti tentang apa yang harus
dilakukan bila ada anggota yang sakit, ditandai dengan apabila
ada anggota keluarga yang sakit hanya membeli obat di warung
dan mengkonsumsi jamu dan menyarankan untuk istirahat yang
cukup. Bila tidak kunjung sembuh baru berobat ke puskesmas.
3) Kemampuan keluarga merawat anggota yang sakit.

Ny. S mengatakan saat ini perutnya terasa nyeri. Nyeri


timbul jika Ny. S sedang beraktivitas, nyeri terasa seperti
ditusuk-tusuk, nyeri di abdomen bagian ulu hati, nyeri dengan
skala 5 dan nyeri biasanya timbul selama 3 jam. Ny. S hanya
mengolesi perutnya dengan minyak kayu putih dan memijat di
area perutnya yang terasa nyeri sampai terasa baikan, bila
dengan hal ini sakitnya tidak hilang maka Ny. S baru membeli
obat di warung (Promagh).
Tn.D mengatakan jika ada anggota keluarga yang sakit
hanya membeli obat di warung dan menyarankan untuk
istirahat yang cukup. Bila tidak kunjung sembuh baru berobat
ke Puskesmas.
4) Kemampuan keluarga menggunakan pelayanan kesehatan
Keluarga mengatakan dengan jelas tentang segala
fasilitas-fasilitas kesehatan yang ada di sekitar kelurahannya
seperti Puskesmas dan Posyandu.
Keluarga memahami dan mengerti keuntungankeuntungan yang diperoleh jika mereka memanfaatkan
pelayanan kesehatan dengan optimal, tetapi Ny. S agak malas
untuk berobat namun bila penyakitnya tidak sembuh baru Ny. S
memanfaatkan pelayanan kesehatan yaitu Puskesmas.
5) Kemampuan keluarga memelihara lingkungan rumah yang
sehat
Keluarga Tn.D mengetahui keuntungan / kerugian
dalam pemeliharaan lingkungan di sekitar rumah sehingga
rumah terlihat bersih, baik pagi dan sore selalu dibersihkan.
e. Fungsi Religius
Keluarga Tn. D rutin menjalankan shalat 5 waktu dan
mengaji. Keluarga Tn. D juga aktif mengikuti kegiatan-kegiatan
pengajian yang ada di lingkungan kelurahannya.
f. Fungsi Rekreasi
Keluarga Tn. D biasanya melakukan rekreasi keluar kota
ataupun tempat-tempat rekreasi 1 minggu sekali. Keluarga Tn. D
juga sangat senang dengan acara rekreasi karenanya membuat
pikiran lebih tenang dan santai. Bersama Sdr. A, Tn. D juga
mengikuti latihan bulutangkis yang di adakan setia hari minggu
dan sabtu.
g. Fungsi Reproduksi
Keluarga Tn. D mempunyai 3 anak yang usianya sudah
dewasa semua dan belum ada yang menikah. Setelah kelahiran
anaknya yang terakhir, Ny. S menggunakan KB steril.

h. Fungsi Afeksi
Dalam keluarga Tn.D sikap saling menghormati,
menyayangi, dan menghargai selalu dijalankan. Jadi dalam
keluarga Tn. D tercipta rasa salig memiliki dan dimiliki. Dalam
keluarga Tn. D saling memberi dukungan antara satu sama lain.
Sehingga kehangatan tercipta dalam keluarga Tn. D.
6. Stress dan koping Keluarga
a. Stressor jangka pendek dan panjang
Stressor jangka pendek keluarga Tn. D adalah kondisi
Ny. S ketika penyakitnya kambuh lagi sewaktu-waktu.
Sedangkan stressor jangka panjang dalam keluarga Tn. D adalah
menikahkan kedua anaknya ketika anak-anaknya sudah merasa
siap.
b. Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor.
Kemampuan keluarga Tn. D dalam berespon terhadap
stres keluarga berusaha menyelesaikan masalah dengan
musyawarah.
c. Strategi koping yang digunakan
Keluarga Tn. D memecahkan masalah dengan
musyawarah untuk mufakat.
7. Pemeriksaan Fisik
8. Tabel 3.1 Pemeriksaan fisik tiap anggota keluarga Tn. D
Jeni

s
10.
Tn. D (KK)
meriksaan
TT 16. TD :
140/100 mmHg
17. RR :
22x/mnt
18. N :
86x/mnt
19. S :
36,50C
Kep 37.
Rambut agak
botak & tidak ada
benjolan
Mat 43.
Kedua mata
simetris konjungtiva,
tidak anemis, reflek,
pupil +, penglihatan baik
Hid 49.
Simetris, agak
g
man-cung, tidak ada
polip, penciuman baik
Mul 55.
Tidak ada kerias
gigi, tidak ada nyeri

11.
20. TD :
mmHg
21. RR :
22. N :
23. S :

Ny. S
90/60

12.

24. TD :
mmHg
22x/mnt 25. RR :
80x/mnt 26. N :
380C
27. S :

38.
Rambut beruban,
gelombang, bersih tidak
ada benjolan
44.
Kedua mata
simetris, konjungtiva,
tidak anemis, reflek, pupil
+, penglihatan baik
50.
Simetris, agak
pesek, tidak ada polip,
pen-ciuman baik
56.
Tidak ada kerias
gigi, lidah kering & pucat,

An. F
120/80
24x/mnt
82x/mnt
36,5 C

39.
Rambut hitam,
pendek tidak ada benjolan &
bersih
45.
Kedua mata
simetris, konjungtiva, tidak
anemis, reflek, pupil +,
penglihatan baik
51.
Simetris, mancung
tidak ada polip, penciuman
baik
57.
Tidak ada kerias
gigi, lidah bersih, tidak ada

13.
28. TD :
mmHg
29. RR :
30. N :
31. S :

An. T
120/70

14.

32. TD :
mmHg
22x/mnt 33. RR :
80x/mnt 34. N :
36 C
35. S :

40.
Rambut hitam,
gimbal, bersih tidak ada
benjolan
46.
Kedua mata
simetris, konjungtiva,
tidak anemis, reflek, pupil
+, penglihatan baik
52.
Simetris,
mancung tidak ada polip,
penciuman baik
58.
Tidak ada kerias
gigi, lidah bersih, tidak

An

13

22
80
36

41.
Rambut hi
dek, berminyak dan
benjolan
47.
Kedua mat
konjungtiva, tidak a
reflek, pupil +, peng
baik
53.
Simetris, a
cung, tidak ada poli
penciuman baik
59.
Tidak ada
gigi, lidah bersih, tid

en

tekan, lidah bersih, tidak tidak ada nyeri tekan,


ada pembesa-ran tonsil tidak ada pembesaran
tonsil
Teli 61.
Bersih, simetris, 62.
Bersih, simetris,
pendengaran kurang
pendengaran baik
Jant 67. I : bentuk dada
71. I : bentuk dada
simetris
simetris
68. P : ictuscordis
72. P : ictuscordis teraba
teraba
73. P
:
pekak
69. P
:
pekak 74. A
:
tidak ada
70. A
:
tidak
bunyi tamba-han
ada bunyi tambahan
Abd 88. I : tidak ada pem- 92. I : tidak ada pembesaran hepar
besaran hepar
89. A
:
bising 93. A
:
bising
usus 18x/menit
usus 16x/menit
90. P : timpani
94. P : timpani
91. P : tidak ada nyeri 95. P : nyeri tekan pada
tekan
bagian gastriam

8.
Ekst 109.
Ekstermitas atas
mitas
dan extremitas bawah
normal, gerak aktif, tidak
ada luka maupun jejas.

nyeri tekan, tidak ada


pembesaran tonsil

ada nyeri tekan, tidak ada nyeri tekan, tidak ad


pembesaran tonsil
pembesaran tonsil

63.
Bersih, simetris,
pendengaran baik
75. I : bentuk dada
simetris
76. P : ictuscordis teraba
77. P
:
pekak
78. A
:
tidak ada
bunyi tamba-han

64.
Bersih, simetris, 65.
Bersih, sim
pendengaran baik
pendengaran baik
79. I : bentuk dada
83. I : bentuk dad
simetris
84. P : ictuscordis
80. P : ictuscordis teraba 85. P
:
pe
81. P
:
pekak 86. A
:
tid
82. A
:
tidak
bunyi tamba-h
ada bunyi tamba-han

96. I : tidak ada pem100.


besaran hepar
97. A
:
bising usus
20x/menit
101.
98. P : timpani
99. P : tidak ada nyeri
102.
tekan
103.

110.
Ekstermitas atas 111.
Ekstermitas atas
dan extremitas bawah
bawah normal, gerak aktif,
normal, gerak aktif namun
sedikit lemas, tidak ada
luka maupun cidera.

114.

I :
tidak
ada pem-besaran
hepar
A :
bising
usus 18x/menit
P :
timpani
P :
tidak
ada nyeri tekan
112.
Ekstermitas atas
bawah normal, gerak aktif

104. I :
tid
pem-besaran h
105. A :
bi
16x/menit
106. P :
tim
107. P :
tid
nyeri tekan

113.
Ekstermits
bawah normal, gera

115.

Harapan Keluarga
116. Keluarga Tn. D berharap seluruh anggota keluarganya sehat dan
berharap semoga dengan adanya kunjungan rumah, keluarga Tn. D mengerti akan
pentingnya kesehatan dan perawatannya serta mengetahui kondisi kesehatan fisik
secara langsung tanpa harus ke Puskesmas.
117.
B. Analisa Data
118.
Tabel 3.2 Analisa data
119.
120. Data
121. Etiologi
122. Masalah
No
123.
124. Ds :
132. Ketidakmampua 133. Nyeri akut
1- Keluaraga Tn D mengatakan tidak n kelu-arga merawat
mengetahui secara jelas tentang anggota keluarga yang
penyakit gastritis yang diderita sakit
Ny. S.
- Keluarga Tn D mengatakan tidak
mengetahui apa definisi, penyebab, penatalaksanaan, pencegahan
dari penyakit gastritis.
- Ny S. mengatakan saat beraktifitas perutnya terasa nyeri, nyeri
yang dirasakan seperti ditusuktusuk,dengan skala 5 rasa nyeri
dirasakan dibagian perut atas
bagian tengah, biasanya nyeri 20
menit.
125.
126.
Do:
- Wajah Ny. S tampak meringis
kesakitan
127. P : Nyeri jika beraktifitas
128. Q : Nyeri seperti ditusuktusuk
129. R : Di abdomen atas bagian
tengah
130. S : Skala 5
131. T : lamanya 20 menit
134.
135. Ds :
140. Ketidak
141. Resiko
2- Ny S mengatakan sering sekali mampuan
kelu-arga kekambuhan
telat makan, karena Ny S sibuk mengenal
penyakit penyakit
gastritis
dengan kegiatannya.
gastritis
(magh).
- Ny S mengatakan ketika penyakitnya kambuh, Ny S hanya
mengolesi
perutnya
dengan
minyak kayu putih dan memijat

di area perutnya yang terasa nyeri


sampai baikan bila dengan hal ini
sakitnya tidak hilang maka Ny S
baru membeli obat di warung
(promagh).
- Tn D mengatakan jika ada anggota
keluarga yang sakit hanya
membeli obat diwarung dan
mengkonsumsi
jamu
dan
menyarankan untuk istirahat
yang cukup. Bila tidak kunjung
sembuh baru berobat ke Dokter.
136.
137.
Do:
- Pengetahuan keluarga mengenal
penyakit
gastritis
terbatas,
keluarga sedikit mengerti hal-hal
yang
dapat
menyebabkan
kekambuhan dan caranya untuk
mencegah kekambuhan ditandai
dengan ketika pengkajian keluarga tampak bingung.
138. Ny S saat ini tidak
mempu-nyai
obat
maag.
139.
142.
C. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut b.d ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.
2. Resiko kekambuhan penyakit gastritis b.d ketidakmampuan keluarga mengenal
penyakit gastritis.
143.
144. Skoring Prioritas Masalah
145.
Tabel 3.3 Hasil skoring prioritas masalah kesehatan keluarga Tn. D
146. Dia
147. Kriteria
148.
149.
150.151. Pembenaran
gnosa
S
B
S
152. Ny 153. 1.
Sifat
eri akut b.d
masalah
ketidak
154.
Tidak atau
mampuan
kurang sehat
keluarga
155.

merawat
Ancaman
anngota
156.
Krisis

157.
158.
3
159.
2
160.
1

161.
1
162.

163.164. Keluarga
3/ Tn.
D
kurang
mengetahui
bagaimana
cara
penanganan
bila
nyeri perut Ny. S
kambuh

keluarga
yang sakit

166.

2.
Kemungkinan
masalah dapat diubah
167. Mudah
168. Sebagian
169. Tidak dapat

179. 3.
Potensial
dapat dicegah
180. Tinggi
181. Cukup
182. Rendah

196.

213.

219.

197. 4.
Menonjolnya
masalah
198.
Masalah
berat harus cepat
ditangani
199.
Masalah ada
tapi tidak perlu segera
ditangani
200.
Masalah tidak
dirasakan

214.

Total Skor

170.
171.
172.
2
173.
1
174.
0
183.
184.
3
185.
2
186.
1
201.
202.
203.
2
204.

205.
1
206.
207.
208.
0
215.

175.
2

176.177. Ny.
S
menggunakan
minyak kayu putih
saat nyeri perutnya
kambuh

187.
1
188.
189.
190.
191.

192.195. Nyeri pada


3/ Ny. S dapat dicegah
dengan ketepatan
193.dalam makan, kesadaran Ny. S
194.

209.
1

210.212. Keluarga
mengang-gap
penyakit gastri-tis
211.ini seperti biasa
tidak meng-anggu
kegiatan sehari-hari

216.

217.218.
3

Tabel 3.4 Hasil skoring prioritas masalah kesehatan keluarga Tn. D


220.
221. Kriteria
222.
223.
224. 225. Pembenara
Diag
S
B
Sk n
n
o
s
a
226. Keti 227. 1. Sifat masalah :
231.
235.
236. 237.
Keluarga
dakefektifan
228. Tidak/kurang
232.
1
2/3 Tn.
D
kurang
pemeli3
mengetahui
atau
sehat
haraan kese- 229. Ancaman
233.
mengenal tentang
hatan
b.d 230. Krisis
2
penyakit
gastritis
ketidakmamp
234.
yang diderita oleh

uan keluarga
239. 2.
mengenal
Kemungkinan
penyakit
masalah dapat diubah
gastritis
240. Mudah
241. Sebagian
242. Tidak dapat

252. 3.
Potensi
masalah untuk dicegah
253. Tinggi
254. Cukup
255. Rendah

265. 4. Menonjolnya
masalah
266.
Masalah
berat harus cepat
ditangani
267. Masalah ada
tetapi tidak perlu
segera ditangani
268. Masalah tidak
dirasakan
279.
280. Total
Skor

1
243.
244.
245.
2
246.
1
247.
0
256.
257.
258.
3
259.
2
260.
1
269.
270.
2
271.
272.
1
273.
274.
275.
0
281.

248.
2

261.
1

Ny. S
249. 250. Kekambuh
an
penyakit
gastritis Ny. S
dapat
dicegah
dengan ketepatan
dalam makan. Ny.
S dalam menjaga
pola makan.
262. 263. Keluarga
2/3 Tn. D berusaha
mengobati
penyakit Ny. S

276.
1

277. 278. Apabila


masalah
tidak
segara
ditangani
dapat
berakibat
fatal pada Ny. S

282.

283. 284.
2

285.
286.
287. Prioritas Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut b.d ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.
2. Resiko kekambuhan penyakit gastritis b.d ketidakmampuan keluarga mengenal penyakit
gastritis.