Anda di halaman 1dari 12

LAHAR, LAVA, GAS VULKANIK, HUJAN ABU DAN AWAN PANAS.

LAHAR kata ini berasal dari bahasa Jawa, tapi sudah menjadi istilah internasional dan
dikenal luas di kalangan ahli volkanologi internasional : adalah aliran material vulkanik yang
biasanya berupa campuran batu, pasir dan kerikil akibat adanya aliran air yang terjadi di
lereng gunung (gunung berapi). Di Indonesia khususnya, aktivitas aliran lahar ini akan
meningkat seiring dengan meningkatnya intensitas curah hujan.
Aliran lahar sangat berbahaya terutama bagi penduduk yang tinggal di perkampungan yang
berada di lereng gunung ataupun bagi para penambang pasir yang sering berada di daerah
aliran lahar ini. Lahar dapat mengalir dengan kecepatan beberapa puluh meter per detik
menempuh jarak sampai beberapa kilometer membawa energi yang cukup besar. Untuk itu
biasanya lahar dibuatkan saluran khusus yang di dalam ilmu geoteknik dikenal
sebagai "sabo". Beberapa gunung di Indonesia yang mempunyai aktivitas aliran lahar ini
misalnya Gunung Galunggung di Jawa Barat dan Gunung Merapi di Jawa Tengah/Yogyakarta.
LAHAR (DINGIN) : Lahar berasal dari dari Bhs Jawa, tapi sudah menjadi istilah internasional
dan dikenal luas di kalangan ahli volkanologi internasional, adalah aliran air (air hujan, salju
yang meleleh) yang bercampur rombakan tefra (material vulkanik) yang masih lepas-lepas,
berasal dari bagian atas tubuh gunungapi mengalir dengan kecepatan dan densitas yang
tinggi sehingga mampu melanda dan membawa serta bongkah batu berdiameter sampai 2
meter. Suhu lahar adalah sama dengan suhu di sekitarnya, endapannya adalah breksi lahar
dengan fragmen yang sudah subrounded.
LAHAR PANAS : sama dengan lahar (dingin) hanya saja suhunya di atas suhu sekitar. Lahar
panas HANYA dapat dihasilkan oleh gunungapi yang mempunyai DANAU KEPUNDAN seperti
G. Kelud, sedangkan gunungapi yang tidak punya danau kepundan tidak mungkin
menghasilkan lahar panas. Suhunya tidak akan mencapai 100 C, suhu yang meningkat ini
akibat dari air danau kawah yang dipanaskan oleh magma di bawahnya sebelum erupsi,
pada saat terjadi erupsi (tidak usah terjadi ledakan). air yang telah panas ini akan meluap
bercampur dengan tefra (selanjutnya seperti pada proses lahar dingin), dan membentuk
endapan lahar. Lahar panas ini tidak akan menghanguskan tumbuhan atau makhluk hidup
seperti pada awan panas!!!!, karena suhunya hanya di bawah 100C.
LAVA : adalah cairan larutan magma pijar yang mengalir keluar dari dalambumi melalui
kawah gunung berapi atau melalui celah (patahan) yang kemudian membeku menjadi
batuan yang bentuknya bermacam-macam. Bila cairan tersebut encer akan meleleh jauh
dari sumbernya membentuk aliran seperti sungai melalui lembah dan membeku menjadi
batuan seperti lava ropi atau lava blok (umumnya di Indonesia membentuk lava blok). Bila
agak kental, akan mengalir tidak jauh dari sumbernya membentuk kubah lava dan pada
bagian pinggirnya membeku membentuk blok-blok lava tetapi suhunya masih tinggi, bila
posisinya tidak stabil akan mengalir membentuk awan panas guguran dari lava.
MENGAPA LAVA BEGITU PANAS ?
Lava panas karena dua alasan:
1. Disebabkan oleh panas di dalam bumi (sekitar 150 km ke bawah) di mana batu mencair
yang akhirnya menjadi magma.
2. Batu disekitar magma adalah insulator yang baik, sehingga magma tidak kehilangan
banyak panas dalam perjalanan ke permukaan.
MENGAPA LAVA MEMILIKI WARNA YANG BERBEDA ?
Warna lava tergantung pada suhu.
Saat Lava mulai keluar berwarna oranye terang (1000-1150 C). Karena ada pengaruh udara
dingin lava berubah warna menjadi merah terang (800-1000 C), kemudian menjadi merah

gelap (650-800 C), dan merah kecoklatan (500-650 C) dan terakhir adalah Lava Solid yang
berwarna hitam (tapi masih bisa sangat panas).
ALIRAN LAVA (lava flow) : adalah magma yang keluar dari permukaan dan mengalir
dipermukaan, bisa di darat, bisa di dasar laut. Ini adalah betul-betul material magma (cairan
silikat) bersuhu tinggi, bisa mencapai 1300C. Hasil endapannya adalah batuan ekstrusif
yang masif atau brecciated. Jadi yang sering terlihat sebagai aliran berpijar dari kepundan
(crater) pada waktu malam saat terjadi letusan gunungapi adalah ALIRAN LAVA dan BUKAN
lahar panas.
Istilah GUGURAN LAVA sudah sangat umum dipakai di bidang volkanologi, yaitu adalah
identik dengan ROCK FALL tetapi khusus terjadi pada puncak gunungapi, terjadinya adalah
sbb.: lava yang sudah mendingin menjadi batuan volkanik (misalnya andesit) di puncak
gunungapi membentuk sumbat lava (volcanic plug) yang bisa menutupi seluruh atau
sebagian lubang kepundan, tergantung bentuknya, bisa berupa kubah ataupun tiang.
Biasanya terjadinya guguran lava dalam skala yang besar mengindikasikan akan terjadi
erupsi, karena adanya peningkatan desakan magma dan tekanan gas dari bawah,
mengakibatkan sumbat lava ini mengalami deformasi, terangkat, retak-2 dan akhirnya
rontok membentuk guguran lava. Jadi BUKAN lava pijar yang gugur.
Selain LAHAR dan LAVA ada beberapa hasil dari letusan gunung berapi lainnya,
yaitu :
GAS VULKANIK :
Gas yang dikeluarkan gunung berapi pada saat meletus. Gas tersebut antara lain Karbon
monoksida (CO), Karbon dioksida (CO2), Hidrogen Sulfida (H2S), Sulfur dioksida (S02), dan
Nitrogen (NO2) yang dapat membahayakan manusia dan bisa mnyebabkan kematian.
HUJAN ABU atau ABU VULKANIK :
Abu vulkanik terdiri dari tefra kecil yang merupakan bubuk batuan dan kaca yang terbentuk
dari letusan gunung berapi dengan diameter kurang dari 2 mm (0,1 in). Karena sangat
halus, abu letusan dapat terbawa angin dan dirasakan sampai ratusan kilometer jauhnya.
Abu letusan ini bisa menganggu pernapasan.
AWAN PANAS :
Awan panas atau dikenal juga dengan wedhus gembel atau aliran piroklastik (ledakan
freatik atau juga ultra vulcanian eruptions) terjadi bila magma yang sedang naik menyentuh
air tanah atau air di permukaan bumi. Suhu tinggi dari magma ( antara 600C sampai
1.170C) membuat air langsung menguap dan terjadi letusan uap, air, debu, batu
dan volcanic bomb. Hasil letusannya yang mengalir bergulung seperti awan, aliran ini dapat
bergerak dari gunung berapi dengan kecepatan 700 km/jam. Di dalam gulungan ini terdapat
batuan pijar yang panas dan material vulkanik padat dengan suhu lebih dari 1000 C. Awan
panas dapat mengakibatkan luka bakar pada tubuh yang terbuka seperti kepala, lengan,
leher atau kaki dan juga dapat menyebabkan sesak napas bahkan kematian.
Vulkanisme
Vulkanisme adalah proses yang berhubungan peristiwa keluarnya magma ke permukaan
bumi.
Istilah-istilah yang berhubungan dengan gejala vukanisme :
magma : cairan pijar yang terdapat di dalam bumi.(suhu magma di dalam bumi kirakira 1200 'C)
lava : magma yang keluar ke permukaan bumi.
lahar : lava yang sudah bercampur dengan material pasir, batu, dan air. Lahar
dibedakan menjadi dua yaitu, lahar panas dan lahar dingin. Lahar panas adalah lahar

yang baru keluar dari lubang kepundan. Lahar dingin adalah lahar yang telah
mengalami proses pendinginan dan telah bercampur dengan air hujan.
vulkanologi : ilmu yang mempelajari tentang gunung api.
Peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan vulkanisme :
1. Erupsi magma. Erupsi magma adalah proses keluarnya yang sampai ke permukaan
bumi.Macam-macam erupsi antara lain : (1) Erupsi Efusif, yaitu erupsi di mana
magma yang keluar kepermukaan bumi berupa lelehan. Jenis erupsi ini akan
menghasilkan bentuk vulkan perisai atau tameng. Jenis vulkan ini banyak terdapat di
kepulauan hawai. contoh gunung Monaloa, dan Gunung Kalauea. (2) Erupsi
Eksplosif, yaitu erupsi yang terjadi jika magma yang keluar ke permukaan bumi
secara meletus atau letusan. Jenis erupsi ini akan menghasilkan bentuk vulkan
Maar/Corong/Kaldera. Contoh gunung Lamongan dan gunung Kelud. (3) Erupsi
Campuran, yaitu erupsi di mana keluarnya magma ke permukaan bumi secara
bergantian antara erupsi efusif dengan erupsi eksplosif. Erupsi ini akan
menghasilkan bentuk vulkan kerucut atau Strato. Bentul vulkan kerucut inilah yang
merupakan cirikhas vulkan mayoritas di Indonesia.
2. Instrusi magma. Instrusi magma yaitu proses penerobosan magma tetapi belum
sampai ke permukaan bumi. Di bawah ini merupakan macam-macam istilah yang
berhubungan dengan Instrusi Magma antara lain : (1) Batolit, yaitu dapur atau pusat
magma. (2) Lakolit, yaitu magma yang bentuknya atas cembung bawah datar.
(3)Lapolit, yaitu magma yang bentuknya atas datar bawah cembung. (3) Sill, yaitu
magma yang berbentuk pipih yang tertahan di antara dua lapisan batuan induk.
(4)Dike/Diatrema, yaitu pipa kawah gunung berapi. (5) Gang, yaitu cabang dari Dike
yang memotong lapisan batuan secara vertikal.

Ciri-ciri Gunung berapi yang akan meletus :


Suhu di sekitar gunung naik
Banyak tumbuhan yang mengering
Terjadi peningkatan bau belerang yang menyengat
Sering terjadi Gempa
Sering terdengar suara gemuruh
Hewan-hewan turun gunung
Manfaat dari Gunung berapi :
Tanah di sekitar gunung berapi subur
Sebagai daerah tangkapan hujan
Sebagai sumber mata air
Dapat dijadikan obyek wisata
Dapat dijadikan sebagai pembangkit listrik tenaga panas bumi.
Material-material yang dikeluarkan gunung berapi antara lain :

Material Padat, antara lain yaitu: 1. Bongkahan batu besar (Bom), 2. Bongkahan batu
kecil (lapili), 3. Pasir 4. Debu.
Material Gas, antara lain yaitu: 1. Gas Belerang (Solfatar), 2. Gas Karbon
Dioksida(Asam arang), 3. Gas Karbon Monoksida (Mofet)
Material Cair, antara lain yaitu: 1. Lahar 2. Uap Air.

Tanaman yang dapat menahan gelombang, gempa dan tumbukan lempeng adalah
seperti tanaman palem,ketapang,beringin,dan lainnya.
Perkembangan Islam di Indonesia
Posted by Rizki Puji Friday, 15 August 2014 3 comments
Sejak dahulu bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang ramah dan suka bergaul
dengan bangsa lain. Oleh karena itu, banyak bangsa lain yang datang ke wilayah Nusantara
untuk menjalin hubungan dagang. Ramainya perdagangan di Nusantara yang melibatkan
para pedagang dari berbagai negara disebabkan melimpahnya hasil bumi dan letak
Indonesia pada jalur pelayaran dan perdagangan dunia. Pada sekitar abad ketujuh, Selat
Malaka telah dilalui oleh pedagang Islam dari India, Persia, dan Arab dalam pelayarannya
menuju negara-negara di Asia Tenggara dan Cina. Melalui hubungan perdagangan tersebut,
agama dan kebudayaan Islam masuk ke wilayah Indonesia. Pada abad kesembilan, orangorang Islam mulai bergerak mendirikan perkampungan Islam di Kedah (Malaka), Aceh, dan
Palembang.

Ilustrasi
Waktu kedatangan Islam di Indonesia masih ada perbedaan pendapat. Sebagian ahli
menyatakan bahwa agama Islam itu masuk ke Indonesia sejak abad ke-7 sampai dengan
abad ke-8 Masehi. Pendapat itu didasarkan pada berita dari Cina zaman Dinasti Tang yang
menyebutkan adanya orang-orang Ta Shih (Arab dan Persia) yang mengurungkan niatnya
untuk menyerang Ho Ling di bawah pemerintahan Ratu Sima (674).
Sebagian ahli yang lain menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia baru abad ke-13.
Pernyataan ini didasarkan pada masa runtuhnya Dinasti Abbassiah di Bagdad (1258). Hal itu
juga didasarkan pada berita dari Marco Polo (1292), berita dari Ibnu Batuttah (abad ke-14),
dan Nisan Kubur Sultan Malik al Saleh (1297) di Samudera Pasai. Pendapat itu diperkuat

dengan masa penyebaran ajaran tasawuf. Sebenarnya kita perlu memisahkan pengertian
proses masuk dengan berkembangnya agama Islam di Indonesia, seperti berikut:
1. masa kedatangan Islam (kemungkinan sudah terjadi sejak abad ke-7 sampai
dengan abad ke-8 Masehi);
2. masa penyebaran Islam (mulai abad ke-13 sampai dengan abad ke-16
Masehi, Islam menyebar ke berbagai penjuru pulau di Nusantara);
3. masa perkembangan Islam (mulai abad ke-15 Masehi dan seterusnya melalui
kerajaan-kerajaan Islam).
Terdapat berbagai pendapat pula mengenai negeri asal pembawa agama serta kebudayaan
Islam ke Indonesia. Ada yang mengatakan bahwa kebudayaan dan agama Islam datang dari
Arab, Persia, dan India (Gujarat dan Benggala). Akan tetapi, para ahli menitikberatkan
bahwa golongan pembawa Islam ke Indonesia berasal dari Gujarat (India Barat). Hal itu
diperkuat dengan bukti-bukti sejarah berupa nisan makam, tata kehidupan masyarakat, dan
budaya Islam di Indonesia yang banyak memiliki persamaan dengan Islam di Gujarat.
Pembawanya adalah para pedagang, mubalig, dan golongan ahli tasawuf. Ketika Islam
masuk melalui jalur perdagangan, pusat-pusat perdagangan dan pelayaran di sepanjang
pantai dikuasai oleh raja-raja daerah, para bangsawan, dan penguasa lainnya, misalnya raja
atau adipati Aceh, Johor, Jambi, Surabaya, dan Gresik. Mereka berkuasa mengatur lalu lintas
perdagangan dan menentukan harga barang yang diperdagangkan. Mereka itu yang mulamula melakukan hubungan dagang dengan para pedagang muslim. Lebih-lebih setelah
suasana politik di pusat Kerajaan Majapahit mengalami kekacauan, raja-raja daerah dan
para adipati di pesisir ingin melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit. Oleh karena itu,
hubungan dan kerja sama dengan pedagang-pedagang muslim makin erat. Dalam suasana
demikian, banyak raja daerah dan adipati pesisir yang masuk Islam. Hal itu ditambah
dengan dukungan dari pedagang-pedagang Islam sehingga mampu melepaskan diri dari
kekuasaan Majapahit.
Setelah raja-raja daerah, adipati pesisir, para bangsawan, dan penguasa pelabuhan masuk
Islam rakyat di daerah itu pun masuk Islam, contohnya Demak (abad ke-15), Ternate (abad
ke-15), Gowa (abad ke-16), dan Banjar (abad ke-16).
Proses masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Islam di Indonesia berlangsung
secara bertahap dan dilakukan secara damai sehingga tidak menimbulkan ketegangan
sosial. Cara penyebaran agama dan kebudayaan Islam di Indonesia melalui berbagai saluran
berikut ini.
1. Saluran Perdagangan
Saluran yang digunakan dalam proses islamisasi di Indonesia pada awalnya melalui
perdagangan. Hal itu sesuai dengan perkembangan lalu lintas pelayaran dan perdagangan
dunia yang ramai mulai abad ke-7 sampai dengan abad ke- 16, antara Eropa, Timur Tengah,
India, Asia Tenggara, dan Cina.
Proses islamisasi melalui saluran perdagangan ini dipercepat oleh situasi politik beberapa
kerajaan Hindu pada saat itu, yaitu adipati-adipati pesisir berusaha melepaskan diri dari
kekuasaan pemerintah pusat di Majapahit. Pedagang-pedagang muslim itu banyak menetap
di kota-kota pelabuhan dan membentuk perkampungan muslim. Salah satu contohnya
adalah Pekojan.
2. Saluran Perkawinan
Kedudukan ekonomi dan sosial para pedagang yang sudah menetap makin baik. Para
pedagang itu menjadi kaya dan terhormat, tetapi keluarganya tidak dibawa serta. Para
pedagang itu kemudian menikahi gadis-gadis setempat dengan syarat mereka harus masuk
Islam. Cara itu pun tidak mengalami kesulitan. Saluran islamisasi lewat perkawinan ini lebih
menguntungkan lagi apabila para saudagar atau ulama Islam berhasil menikah dengan anak
raja atau adipati. Kalau raja atau adipati sudah masuk Islam, rakyatnya pun akan mudah
diajak masuk Islam.
Misalnya, perkawinan Maulana Iskhak dengan putri Raja Blambangan yang melahirkan
Sunan Giri; perkawinan Raden Rahmat (Sunan Ngampel) dengan Nyai Gede Manila, putri

Tumenggung Wilatikta; perkawinan putri Kawunganten dengan Sunan Gunung Jati di


Cirebon; perkawinan putri Adipati Tuban (R.A. Teja) dengan Syekh Ngabdurahman (muslim
Arab) yang melahirkan Syekh Jali (Jaleluddin).
3. Saluran Tasawuf
Tasawuf adalah ajaran ketuhanan yang telah bercampur dengan mistik dan hal-hal magis.
Oleh karena itu, para ahli tasawuf biasanya mahir dalam soal-soal magis dan mempunyai
kekuatan menyembuhkan. Kedatangan ahli tasawuf ke Indonesia diperkirakan sejak abad
ke-13, yaitu masa perkembangan dan penyebaran ahli-ahli tasawuf dari Persia dan India
yang sudah beragama Islam.
Bersamaan dengan perkembangan tasawuf, para ulama dalam mengajarkan agama Islam di
Indonesia menyesuaikan dengan pola pikir masyarakat yang masih berorientasi pada agama
Hindu dan Buddha sehingga mudah dimengerti. Itulah sebabnya, orang Jawa begitu mudah
menerima agama Islam. Tokoh-tokoh tasawuf yang terkenal, antara lain Hamzah Fansyuri,
Syamsuddin as Sumatrani, Nur al Din al Raniri, Abdul al Rauf, Sunan Bonang, Syekh Siti
Jenar, dan Sunan Panggung.
4. Saluran Pendidikan
Lembaga pendidikan Islam yang paling tua adalah pesantren. Murid-muridnya (santri)
tinggal di dalam pondok atau asrama dalam jangka waktu tertentu menurut tingkatan
kelasnya. Pengajarnya adalah para guru agama (kiai atau ulama). Para santri itu jika sudah
tamat belajar, pulang ke daerah asal dan mempunyai kewajiban mengajarkan kembali
ilmunya kepada masyarakat di sekitar. Dengan cara itu, Islam terus berkembang memasuki
daerah-daerah terpencil.
Pesantren yang telah berdiri pada masa pertumbuhan Islam di Jawa, antara lain Pesantren
Sunan Ampel di Surabaya yang didirikan oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan Pesantren
Sunan Giri yang santrinya banyak berasal dari Maluku (daerah Hitu). Raja-raja dan
keluarganya serta kaum bangsawan biasanya mendatangkan kiai atau ulama untuk menjadi
guru dan penasihat agama. Misalnya, Kiai Ageng Selo adalah guru Jaka Tingkir; Kiai Dukuh
adalah guru Maulana Yusuf di Banten; Maulana Yusuf adalah penasihat agama Sultan Ageng
Tirtayasa.
5. Saluran Seni Budaya
Berkembangnya agama Islam dapat melalui seni budaya, misalnya seni bangunan (masjid),
seni pahat (ukir), seni tari, seni musik, dan seni sastra. Seni bangunan masjid, mimbar, dan
ukir-ukirannya masih menunjukkan seni tradisional bermotifkan budaya IndonesiaHindu,
seperti yang terdapat pada candi-candi Hindu atau Buddha. Hal itu dapat dijumpai di Masjid
Agung Demak, Masjid Sendang Duwur Tuban, Masjid Agung Kasepuhan Cirebon, Masjid
Agung Banten, Masjid Baiturrahman Aceh, dan Masjid Ternate. Pintu gerbang pada kerajaan
Islam atau makam orang-orang yang dianggap keramat menunjukkan bentuk candi bentar
dan kori agung. Begitu pula, nisan-nisan makam kuno di Demak, Kudus, Cirebon, Tuban, dan
Madura menunjukkan budaya sebelum Islam. Hal itu dimaksudkan untuk menunjukkan
bahwa Islam tidak meninggalkan seni budaya masyarakat yang telah ada, tetapi justru ikut
memeliharanya. Seni budaya yang tetap dipelihara dalam rangka proses islamisasi itu
banyak sekali, antara lain perayaan Garebek Maulud (Sekaten) di Yogyakarta, Surakarta, dan
Cirebon.
Islamisasi juga dilakukan melalui pertunjukkan wayang yang telah dipoles dengan unsurunsur Islam. Menurut cerita, Sunan Kalijaga juga pandai memainkan wayang. Islamisasi
melalui sastra ditempuh dengan cara menyadur buku-buku tasawuf, hikayat, dan babad ke
dalam bahasa pergaulan (Melayu).
6. Saluran Dakwah
Gerakan penyebaran Islam di Jawa tidak dapat dipisahkan dengan peranan Wali Songo.
Istilah wali adalah sebutan bagi orang-orang yang sudah mencapai tingkat pengetahuan dan
penghayatan agama Islam yang sangat dalam dan sanggup berjuang untuk kepentingan

agama tersebut. Oleh karena itu, para wali menjadi sangat dekat dengan Allah sehingga
mendapat gelar Waliullah (orang yang sangat dikasihi Allah). Sesuai dengan zamannya, waliwali itu juga memiliki kekuatan magis karena sebagian wali juga merupakan ahli tasawuf.
Para Wali Sanga yang berjuang dalam penyebaran agama Islam di berbagai daerah di Pulau
Jawa adalah sebagai berikut.
1.
Maulana Malik Ibrahim
2.
Sunan Ampel
3.
Sunan Drajad
4.
Sunan Bonang
5.
Sunan Giri
6.
Sunan Kalijaga
7.
Sunan Kudus
8.
Sunan Muria
9.
Sunan Gunung Jati
Referensi :
Suryandari. 2007. Sejarah untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen
Pendidikan Nasional.
Sejarah Perkembangan Islam Di Indonesia
A. Kedatangan dan Penyebaran Islam di Indonesia
Pada abad ke-1 hingga ke-7 M, pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatra dan Jawa sering
disinggahi pedagang asing, seperti Pelabuhan Lamuri (Aceh), Barus dan Palembang di
Sumatra serta Pelabuhan Sunda Kelapa dan Gresik di Jawa.

Cikal bakal keberadaan Islam di Nusantara telah dirintis pada periode abad ke-1 hingga ke-5
H atau abad ke-7 hingga ke-8 M. Pada periode ini, para pedagang dan mubalig membentuk
komunitas Islam. Para mubalig memperkenalkan dan mengajarkan Islam kepada penduduk
setempat tentang Islam. Ajaran-ajaran Islam tersebut antara lain sebagai berikut :
1. Islam mengajarkan toleransi terhadap sesama manusia, saling menghormati dan tolong
menolong.
2. Islam mengajarkan bahwa dihadapan Allah, derajat semua manusia sama, kecuali
takwanya.
3. Islam mengajarkan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Pengasih dan
Penyayang, dan mengharamkan manusia saling berselisih, bermusuhan, merusak, dan
saling mendengki.
4. Islam mengajarkan agar manusia menyembah hanya kepada Allah dan tidak
menyekutukannya serta senantiasa setiap saat berbuat baik terhadap sesama manusia
tanpa pilih kasih.
Ajaran Islam ini sangat menarik perhatian penduduk Indonesia. Dengan demikian, dakwah
dan pengaruh Islam makin meluas, baik di kalangan masyarakat biasa, maupun bangsawan
atau penguasa.

Proses Islamisasi diperkirakan sudah berlangsung sejak persentuhan itu terjadi. Di Aceh,
kerajaan Islam Samudra Pasai berdiri pada pertengahan abad ke-13 M sehingga
perkembangan masyarakat muslim di Malaka semakin pesat. Ibnu Batutah menceritakan,
Sultan Kerajaan Samudra Pasai, Sultan Al Malik Az Zahir dikelilingi oleh ulama dan mubalig

Islam.

Sementara itu di Jawa proses penyebaran Islam sudah berlangsung sejak abad ke-11 M
dengan ditemukannya makam Fatimah binti Maimun di Leran Gresik yang bertahun 475
H/1082 M.
Pengaruh Islam yang masuk ke Indonesia bagian timur, terutama Maluku, tidak dapat
dipisahkan dari jalur perdagangan yang terbentang sepanjang pusat lalu lintas pelayaran
internasional di Malaka, Jawa, dan Maluku.

Menurut Tome Pires, masyarakat yang masuk Islam di Maluku dimulai kira-kira tahun 14601465 M. Mereka datang dan menyebarkan pembelajaran Islam melalui perdagangan,
dakwah, dan perkawinan.

Sulawesi, terutama bagian selatan, sejak abad 15 M sudah didatangi oleh pedagangpedagang muslim yang kemungkinan berasal dari Malaka, Jawa, dan Sumatra. Pada abad ke16 di daerah Goa sebuah kerajaan terkenal di daerah itu telah terdapat masyarakat muslim.
B. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan
1. Ilmu-ilmu Keagamaan
Perjuangan itu dilakukan, diberbagai aspek antara lain pendidikan, kesehatan, dakwah,
sosial, politik hingga teknologi. Setidaknya ada dua cara yang dilakukan oleh para ulama
dalam menumbuhkembangkan ajarannya yaitu sebagai berikut :
a. Membentuk kader-kader ulama yang akan bertugas sebagai mubalig ke daerah-daerah
yang lebih luas.
b. Melalui karya-karya tulisan yang tersebar dan dibaca di seluruh Nusantara. Karya-karya
itu mencerminkan perkembangan pemikiran dan ilmu-ilmu agama di Indonesia pada masa
itu.
Ilmuwan-ilmuwan muslim di Indonesia tersebut, antara lain :
a. Hamzah Fansuri (sufi) dari Sumatera Utara. Karyanya yang berjudul Asrar Al Arifin fi
Bayan ila Suluk wa At Tauhid.
b. Syamsuddin As Sumatrani dengan karyanya berjudul Miratul Mumin (Cermin Orang
Beriman).
c. Nurrudin Ar Raniri, yaitu seorang yang berasal dari India keturunan Arab Quraisy
Hadramaut. Karya-karyanya meliputi ilmu fikih, hadis, akidah, sejarah, dan tasawuf yang
diantaranya adalah As Sirat Al Mustaqim (hukum), Bustan As Salatin (sejarah), dan Tibyan fi
Marifat Al Adyan (tasawuf).
d. Abdul Muhyi yang berasal dari Jawa. Karyanya adalah kitab Martabat Kang Pitu (Martabat
yang Tujuh).
e. Sunan Bonang dengan karyanya Suluk Wijil
f. Ronggowarsito dengan karyanya Wirid Hidayat Jati
g. Syekh Yusuf Makasar dari Sulawesi (1629-1699 M). Karya-karyanya yang belum
diterbitkan sekitar 20 buah yang masih berbentuk naskah.
h. Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (1812 M) seorang ulama produktif yang menulis kitab
sabitul Muhtadil (fikih).
i. Syekh Nawawi Al Bantani yang menulis 26 buah buku diantaranya yang terkenal Tafsir Al

Muris
j. Syekh Ahmad Khatib dari Minangkabau (1860-1916 M)
2. Arsitektur Bangunan
Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau memiliki penduduk yang juga terdiri dari beragam
suku, bangsa, adat, kebiasaan dan kebudayaan masing-masing. Oleh karena itu perbedaan
latar belakang tersebut, arsitektur bangunan-bangunan Islam di Indonesia tidak sama antara
satu tempat dengan tempat yang lainnya. Beberapa hasil seni bangunan pada masa
pertumbuhan dan perkembangan Islam di Indonesia antara lain. Masjid-masjid kuno di
Demak, Sandang Duwur Agung di Kasepuhan Cirebon, Masjid Agung Banten dan Masjid
Baiturahman di Aceh.

Beberapa masjid masih memiliki seni masih memiliki seni bangunan yang menyerupai
bangunan merupai pada zaman Hindu. Ukiran-ukiran pada mimbar, hiasan lengkung pola
kalamakara, mihrab dan bentuk mastaka atau memolo menunjukkan hubungan yang erat
dengan kebudayaan agama Hindu, seperti Masjid Sendang Duwur.
C. Peranan Umat Islam pada Masa Penjajahan, Masa Kemerdekaan dan Masa
Perkembangan
1. Masa penjajahan
Jauh sebelum Belanda masuk ke Indonesia, sebagian besar masyarakat Nusantara telah
memeluk agama Islam yang ajarannya penuh kedamaian, saling menghormati, dan tidak
bersikap buruk sangka terhadap bangsa asing. Semula bangsa asing seperti Portugis dan
Belanda datang ke Indonesia hanya untuk berdagang, tetapi dalam perkembangan
selanjutnya niat itu berubah menjadi keinginan untuk menjadikan Indonesia sebagai koloni
di bawah kekuasaan dan jajahannya. Portugis berhasil meluaskan wilayah dagangnya
dengan menguasai Bandar Malaka di tahun 1511 sehingga akhirnya mereka dapat masuk ke
Maluku, Ternate dan Tidore.

Portugis juga mematikan aktivitas perdagangan kaum muslim Indonesia di daerah lainnya
seperti Demak. Pada tahun 1527 M, Demak di bawah pimpinan Fatahillah berhasil
menguasai Banten. Banten dan Aceh kemudian menjadi pelabuhan yang ramai
menggantikan Bandar Malaka.

Dilandasi semangat tauhid dan hasil pendidikan yang diperoleh dari pesantren
menyebabkan semakin bertambahnya kader pemimpin dan ulama yang menjadi pengayom
masyarakat. Kaum bangsawan dan kaum adat yang semula tidak memahami niat para
ulama untuk mempertahankan Indonesia dari cengkeraman penjajah secara perlahan
bersatu padu untuk mempertahankan Nusantara dari ekspansi Belanda.

Contoh perlawanan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh tersebut antara lain:


1. Tuanku Imam Bonjol melalui Perang Paderi (1821-1837) di Sumatera Barat.
2. Pangeran Diponegoro (1815-1838) melalui Perang Diponegoro di Jawa Tengah.
3. Perang Aceh (1873-1904) di bawah pimpinan Panglima Pilom, Teuku Cik Ditiro, Teuku
Umar, dan Cut Nyak Din.

2. Masa Kemerdekaan
Umat Islam kemudian mengganti perjuangannya melawan penjajahan dengan strategi atau
jalan mendirikan organisasi-organisasi Islam yang diantaranya sebagai berikut :
a. Syarikat Dagang Islam
Syarikat Dagang Islam yang kemudian berubah menjadi Syarikat Islam berdiri pada tahun
1905 dipimpin oleh H. samanhudi, A.M. Sangaji, H.O.S. Cokroaminoto dan H. Agus Salim.
perkumpulan ini berdiri dengan maksud untuk meningkatkan taraf hidup bangsa ndonesia,
terutama dalam dunia perniagaan.

b. Jamiatul Khair
Berdiri pada tahun 1905 M di Jakarta adalah pergerakan Islam yang pertama di pulau Jawa.
Anggotanya kebanyakan keturunan (peranakan) Arab.

c. Al Irsyad
Al Irsyad adalah organisasi Islam yang didirikan tahun 1914 M oleh para pedagang dan
ulama keturunan Arab, seperti Syekh Ahmad Sorkali.

d. Perserikatan Ulama
Gerakan modernis Islam yang berdiri pada tahun 1911 M oleh Abdul Halim dan berpusat di
Majalengka Jawa Barat. Organisasi ini diakui keberadaannya oleh Belanda tahun 1917 dan
bergerak dibidang ekonomi dan sosial, seperti mendirikan panti asuhan yatim piatu pada
tahun 1930 M.

e. Muhammadiyah
Muhammadiyah didirikan di Yogyakarta 18 November 1912 oleh KH. Ahmad Dahlan
bertepatan tanggal 8 Zulhijah 1330. Muhammadiyah bukan merupakan partai politik, tetapi
gerakan Islam yang bergerak dalam bidang sosial dan pendidikan.

f. Nahdatul Ulama
Didirikan pada bulan Januari 1926 oleh KH. Hasyim Asyari yang bertujuan membangkitkan
semangat para ulama Indonesia dengan cara meningkatkan dakwah dan pendidikan karena
saat itu Belanda melarang umat Islam mendirikan sekolah-sekolah yang bernafaskan Islam
seperti Pesantren.
3. Masa Perkembangan
Di masa perkembangan atau setelah memperoleh kemerdekaan, umat Islam juga memiliki
peranan yang sangat penting dalam upaya memajukan bangsa dan negara. Peran-peran
tersebut antara lain dilakukan melalui hal-hal sebagai berikut.

a. Membentuk Departemen Agama


Tujuan dan fungsi Departemen Agama dirumuskan sebagai berikut:
1) Mengurus serta menuntut pendidikan agama di sekolah-sekolah serta membimbing

perguruan-perguruan agama.
2) Mengikuti dan memperhatikan hal-hal yang bersangkutan dengan agama dan
keagamaan.
3) Memberi penerangan dan penyuluhan agama.
b. Di Bidang Pendidikan
Salah satu bentuk pendidikan Islam tertua di Indonesia adalah pesantren yang tersebar di
berbagai pelosok daerah. Lembaga ini dipimpin oleh seorang kyai dan saat ini sudah banyak
muncul pesantren yang bersifat modern. Artinya, pendidikan Islam tersebut memiliki
kurrikulum dan jenjang-jenjang pendidikan mulai dari tingkat dasar (ibtidaiyah), menengah
(tsanawiyah), dan tingkat atas (aliyah), bahkan sampai ke tingkat perguruan tinggi, seperti
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) yang sekarang
telah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN).

c. Majelis Ulama Indonesia


Selain Departemen Agama, pemerintah Indonesia juga mendirikan Majelis Ulama Indonesia
(MUI), yaitu suatu wadah kerja sama antara pemerintah dan ulama dalam urusan
keorganisasian, khususnya agama Islam. Majelis Ulama Indonesia bergerak dalam bidang
dakwah dan pendidikan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat berdiri pada bulan Oktober
1962 yang memiliki tujuan awal antara lain sebagai berikut :
1) Pembinaan mental dan agama bagi masyarakat.
2) Ikut ambil bagian dalam penyelenggaraan revolusi dan pembangunan semesta berencana
dalam rangka demokrasi terpimpin.
D. Hikmah Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia
Setelah memahami bahwa perkembangan Islam di Indonesia memiliki warna atau ciri yang
khas dan memiliki karakter tersendiri dalam penyebarannya, kita dapat mengambil hikmah,
diantaranya sebagai berikut:
1. Islam membawa ajaran yang berisi kedamaian.
2. Penyebar ajaran Islam di Indonesia adalah pribadi yang memiliki ketangguhan dan pekerja
keras.
3. Terjadi akulturasi budaya antara Islam dan kebudayaan lokal meskupin Islam tetap
memiliki batasan dan secara tegas tidak boleh bertentangan dengan ajaran dasar dalam
Islam.
E. Manfaat dari Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia
Banyak manfaat yang dapat kita ambil untuk dilestarikan diantaranya sebagai berikut:
1. Kehadiran para pedagang Islam yang telah berdakwah dan memberikan pengajaran Islam
di bumi Nusantara turut memberikan nuansa baru bagi perkembangan pemahaman atas
suatu kepercayaan yang sudah ada di nusantara ini.
2. Hasil karya para ulama yang berupa buku sangat berharga untuk dijadikan sumber
pengetahuan.
3. Kita dapat meneladani Wali Songo telah berhasil dalam hal-hal seperti berikut.
a. Menjadikan masyarakat gemar membaca dan mempelajari Al Quran.
b. Mampu membangun masjid sebagai tempat ibadah dalam berbagai bentuk atau
arsitektur hingga ke seluruh pelosok Nusantara
4. Mampu memanfaatkan peninggalan sejarah, termasuk situs-situs peninggalan para
ulama, baik berupa makam, masjid, maupun peninggalan sejarah lainnya.

5. Seorang ulama atau ilmuwan dituntut oleh Islam untuk mempraktikkan tingkah laku yang
penuh keteladanan agar terus dilestarikan dan dijadikan panutan oleh generasi berikutnya.
6. Para ulama dan umara bersatu padu mengusir penjajah meskipun dengan persenjataan
yang tidak sebanding.
F. Perilaku Penghayatan Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia
Ada beberapa perilaku yang merupakan cerminan dari penghayatan terhadap manfaat yang
dapat diambil dari sejarah perkembangan Islam, yaitu antara lain sebagai berikut:
1. Berusaha menjaga persatuan dan kerukunan antaraumat beragama, saling menghormati,
dan tolong menolong.
2. Menyikapi kejadian masa lalu dengan sikap sabar dan tetap meyakini bahwa setiap
kejadian pasti ada hikmahnya.
3. Sumber ilmu pengetahuan yang berupa karya tulis dari para ulama hendaknya terus
digali atau dipelajari dan dipahami maksudnya.