Anda di halaman 1dari 7

METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS SEBAGAI PENDETEKSI PENCEMARAN AIR

TANAH DI SEKITAR TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA)


Septiandi Akhmad Perdana, Galih Amirul Husna, Achmad Fakhrus Shomim.
Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya

ABSTRAK
Masalah sampah menjadi masalah utama pada wilayah pemukiman penduduk. Penanganan sampah
yang kurang tepat dapat mengakibatkan permasalahan lingkungan, salah satunya adalah pencemaran air tanah.
Air lindi adalah cairan yang dihasilkan oleh pemaparan air hujan pada timbunan sampah. Oleh karena itu perlu
adanya metode pendeteksi pencemaran air tanah secara efektif, sehingga dapat segera dilakukan upaya
pencegahan sebelum pencemaran semakin meluas.
Metode geolistrik resistivitas adalah salah satu metode geofisika yang dapat memberikan informasi
keadaan di bawah tanah berdasarkan properti fisika resistivitas atau tahanan jenis. Prinsip pengukuran nilai
resistivitas yaitu dengan memberikan injeksi arus listrik ke bawah tanah oleh elektroda arus kemudian potensial
listrik yang terjadi diukur oleh elektroda potensial. Data yang diperoleh adalah nilai resistivitas semu. Dengan
mengetahui rentang nilai resistivitas air bersih dan air lindi, serta akuisisi data yang dilakukan secara mapping,
maka dapat dilakukan identifikasi arah aliran air lindi tersebut.
Melalui studi literatur, paper ini menjelaskan keberhasilan metode geolistrik resistivitas dan
penerapannnya sebagai solusi pendeteksi pencemaran air tanah akibat rembesan air lindi. Hal tersebut telah
dibuktikan dengan adanya beberapa penelitian yang menjelaskan bahwa resistivitas air bersih memiliki rentang
nilai resistivitas 10 100 m, sedangkan air tercemar dibawah 10 m.

Kata Kunci : Geolistrik, resistivitas, air tanah, air lindi


PENDAHULUAN
Setiap aktivitas manusia menyisakan zat sisa
yang sudah tidak diperlukan yang berupa sampah
dan/atau limbah. Definisi sampah dan limbah menurut
Undang-Undang RI No.18 Tahun 2008 [6], sampah
adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau
proses alam yang berbentuk zat padat. Sedangkan
limbah adalah sisa hasil kegiatan produksi atau usaha.
Di banyak negara maju dan perkotaan di Indonesia,
hampir seratus persen (100%) sampah dibuang di
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) [5]. Namun
sayangnya pengelolaan sampah di banyak TPA di
Indonesia masih kurang baik. Berdasarkan data
Rencana Strategis Direktorat Jendral Cipta Karya
2010-2014 [3], di Indonesia 80,6% TPA yang ada
masih menggunakan metode open dumping. Metode
open dumping adalah teknik pembuangan sampah
dengan cara menimbun sampah di lahan terbuka tanpa
dilakukan pengurugan hingga lahan tersebut penuh,
kemudian lahan tersebut ditinggalkan.
Dampak yang diakibatkan oleh TPA jenis open
dumping adalah pencemaran air, tanah, udara, dan
juga sebagai sumber penyakit. Apabila timbunan
sampah tersebut terpapar oleh air hujan maka dari
timbunan sampah tersebut menghasilkan air lindi. Air
lindi adalah cairan yang dikeluarkan dari sampah
akibat proses degradasi biologis. Karena pada TPA
open dumping tidak dilengkapi dengan saluran air
lindi maka air lindi tersebut dapat merembes dan
sangat berpotensi untuk mencemari air bawah tanah.
Apabila air tanah sudah tercemar oleh air lindi, maka
perlu diketahui arah aliran dari air lindi tersebut untuk

dapat dicegah alirannya sebelum pencemaran semakin


meluas.
Tujuan penulisan paper ini adalah untuk
menjelaskan metode geolistrik resistivitas sebagai
pendeteksi adanya rembesan air lindi yang berasal
dari TPA open dumping yang berpotensi mencemari
air tanah. Sehingga berdasarkan hasil survei
resistivitas dapat dilakukan tindakan pencegahan dan
peringatan dini kepada warga di sekitar TPA.

LANDASAN TEORI
Metode Geolistrik Resistivitas dan Air Tanah
Metode resistivitas adalah metode geofisika yang
digunakan untuk menduga struktur bawah permukaan
dengan menerapkan sifat penjalaran arus listrik
dibawah permukaan. Selain untuk tujuan eksplorasi
mineral, metode geolistrik resistivitas dapat digunakan
untuk menganalisis kualitas air tanah [8]. Lapisan
akuifer air tanah merupakan lapisan batuan yang
memiliki rentang nilai resistivitas yang luas, yaitu
antara 1 m hingga 10 8 m [telford]. Faktor faktor
yang mempengaruhi nilai resistivitas akuifer antara
lain komposisi litologi, kondisi batuan, komposisi
mineral, dan jenis fluida yang terkandung.
Air yang mengalir di atas maupun di bawah
permukaan tanah, mengandung zat padat terlarut yang
berasal dari mineral dan garam-garaman. Apabila air
tercemar oleh limbah atau sampah yang berasal dari
industri, kandungan zat padat tersebut menjadi
meningkat. Jumlah zat padat terlarut tersebut dapat
digunakan sebagai indikator terjadinya pencemaran
air [10]. Untuk kasus di sekitar TPA, ion logam dalam
larutan air lindi akan mengalami perubahan ion, serta

Septiandi Akhmad Perdana / Metode Geolistrik Resistivitas Sebagai Pendeteksi Pencemaran Air Tanah
di Sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA)

presipitasi, kemudain akan terjadi perubahan nilai


resistivitas [8]. Nilai konduktivitas elektrik akan
menurun (resistivitas bertambah tinggi) ketika
konsentrasi zat padat terlarut juga menurun [7].
Karena air lindi lebih konduktif, maka nilai resistivitas
air lindi lebih kecil dibanding air tanah yang tidak
tercemar.
Akuisisi data Resistivitas
Prinsip dasar metode resistivitas ini adalah
hukum Ohm yang menerangkan hubungan antara beda
potensial, arus listrik, dan hambatan dengan
menganggap lapisan tanah berupa resistor. Tiap
lapisan memiliki nilai tahanan jenis yang berbedabeda sehingga dengan menganlisa nilai tahanan jenis
tersebut dapat diperkirakan litologi batuan bawah
permukaan. Nilai tahanan ini disebut resistivitas semu.
Resistivitas semu adalah nilai tahanan jenis lapisan
bawah permukaan akibat lapisan permukaan yang
tidak homogen. Nilai resistivitas semu dicari
menggunakan persamaan 1.1. Nilai resistivitas semu
tergantung pada konfigurasi elektroda. Tiap
konfigurasi elektroda memiliki nilai K yang berbedabeda. K merupakan faktor geometri yang dicari
dengan persamaan 1.2. Ketika arus listrik diinjeksikan
kedalam bumi melalui elektroda arus maka beda
potensial dapat diukur. Karena arus listrik yang
diinjeksikan berupa variabel yang dikontrol maka
resistivitas semu dapat dihitung menggunakan
persamaan 1.2 [4].
(1.1)

Gambar 1. Penempatan elektroda dengan konfigurasi Wenner. C1 dan C2


sebagai elektroda arus, P1 dan P2 sebagai elektroda potensial [2]

Gambar 2. Sebaran datum point untuk konfigurasi Wenner [2]

Konfigurasi Schlumberger menggunakan dua


elektroda arus dan dua elektroda potensial yang pada
umumnya digunakan untuk meneliti pada arah
vertikal. Elektroda disusun dalam satu garis lurus
dengan elektroda potensial terletak di tengah dan
diapit oleh dua elektroda arus. Yang membedakan
dengan konfigurasi Wenner adalah spasi antar
elektroda dan pola pengambilan datanya. Saat
pengambilan
data
menggunakan
konfigurasi
Schlumberger elektroda arus bergerak saling menjauhi
hingga batas tertentu, selanjutnya elektroda potensial
di ubah spasinya (gambar 3). Datum point yang
teramati pada konfigurasi Schlumberger seperti
gambar 4.

a=n ( n+1 ) a

V
I

(1.4)

(1.2)

Konfigurasi Elektroda
Konfigurasi Wenner menggunakan dua elektroda
arus dan dua elektroda potensial. Elektroda disusun
dalam satu garis lurus dengan spasi antar elektroda
dibuat sama (gambar 1). Saat pengambilan data
seluruh elektroda begerak dengan rentang jarak yang
konstan sehingga diperoleh datum point seperti
gambar 2. Nilai resistivitas semu pada konfigurasi
Wenner di cari menggunakan persamaan 1.3.
Konfigurasi Wenner pada umumnya digunakan dalam
pemetaan.

a=

2 a V
I

Gambar 3. Penempatan elektroda dengan konfigurasi Schlumberger. C1


dan C2 sebagai elektroda arus, P1 dan P2 sebagai elektroda potensial [2]

(1.3)
Gambar 4. Sebaran datum point untuk konfigurasi Schlumberger [2]

Interpretasi Penampang Resistivitas


LsiS Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada
PESTAGAMA 2014

Septiandi Akhmad Perdana / Metode Geolistrik Resistivitas Sebagai Pendeteksi Pencemaran Air Tanah
di Sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA)

Data resistivitas yang diperoleh dari perhitungan


perkalian nilai resistansi dengan faktor geometri
selanjutnya diolah menggunakan software Res2dinv
dan IP2Win untuk dilakukan inversi. Inversi
merupakan salah satu jenis pemodelan untuk
mendapatkan model bawah tanah/permukaan bumi
dengan parameter fisis tertentu [6]. Dari pemodelan
inversi 2 dimensi menghasilkan suatu penampang
bawah tanah/permukaan bumi dengan sumbu
horisontal merupakan posisi pada lintasan pengukuran
Jenis Material/Batuan
Resistivitas (m)
Air Tanah
10 100
Air Lindi
< 10
Batu Lempung
1 100
Batu Pasir
8 4 103

dan sumbu vertikal merupakan posisi kedalaman.


Sebaran nilai resistivtas digambarkan oleh sebaran
warna, dengan tiap warna mewakilkan nilai
resistivitas tertentu. Karena tiap jenis batuan memiliki
nilai resistivitas yang berbeda-beda maka dapat
diperkirakan jenis batuan bawah permukaan melalui
penampang resistivitas tersebut. Tabel 1 menunjukkan
nilai resistivitas beberapa mineral atau batuan.
Tabel 1. Nilai resistivitas berbagai mineral dan batuan [1]

100 104
50 400

Dolomit
Batu Gamping
Basalt

103

Alluvium
Granit

106

10 800
5

103 106

Gambar 5. Contoh penampang resistivitas sebagi hasil inversi [2]

METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi dan waktu penelitian dalam studi kasus
ini disajikan dalam tabel 2.
Tabel 2. Lokasi dan waktu penelitian pada kedua studi kasus

Parameter

TPA Temesi

Lokasi

Tenggara kota
Gianyar, Bali
(8o3370 LS
115o2040
BT)

Waktu
Penelitian

Juli Nopember

TPA Supit Urang


Kelurahan
Mulyorejo,
Kecamatan Sukun,
Malang,
Jawa timur
(758'59" LS
11234'41" BT)
Februari 2012
(musim penghujan)

2011 (transisi
musim
penghujan kemarau)
Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam akuisisi data
geolistrik resistivitas adalah sebagai berikut:
1. Resistivitymeter
2. Kabel roll
3. Empat buah batang besi sebagai elektroda
arus dan potensial
4. Palu
5. Meteran
6. Kompas
7. GPS
8. Handy talkie
9. Alat tulis

LsiS Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada
PESTAGAMA 2014

Septiandi Akhmad Perdana / Metode Geolistrik Resistivitas Sebagai Pendeteksi Pencemaran Air Tanah
di Sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA)

10. Laptop/komputer
11. Software Microsoft Excel
12. Software Res2Dinv
Prosedur
Akuisisi data geolistrik resistivitas diawali
dengan penentuan lokasi lintasan pengukuran.
Penentuan lokasi lintasan pengukuran didasarkan oleh
beberapa faktor, diantaranya adalah kondisi lapangan
atau medan, posisi singkapan formasi batuan, serta
alokasi waktu dan dana.
Alur kerja yang digunakan dalam kedua studi
kasus ini secara garis besar sama, yaitu studi
pendahuluan, akuisisi data, pengolahan data,
interpretasi dan analisis arah rembesan air lindi. Dari
kedua studi kasus ini yang membedakan adalah pada
penggunaan konfigurasi elektroda untuk akuisisi data.
Alur kerja kedua studi kasus disajikan pada gambar 6
dan 7 berikut:

Gambar 7. Alur kerja studi kasus TPA Supit Urang [4]

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 6. Alur kerja studi kasus TPA Temesi [5]

Studi Kasus TPA Supiturang Malang


Pengukuran resistivitas menggunakan empat
lintasan pengukuran. Lintasan 1 diambil pada jarak 50
m dari TPA, lintasan 2 diambil pada jarak 166,3 m
dari TPA, serta lintasan 3 dan 4 diambil pada jarak
berturut-turut 315,4 m dan 456,3 m. Dalam kasus ini
penentuan lintasan pengukuran didasarkan area yang
dapat terjangkau.
Setelah proses inversi dengan menggunakan
software Res2Dinv, dihasilkan penampang resistivitas
dengan sumbu horisontal adalah panjang lintasan
pengukuran yaitu 150 m dan sumbu vertikal adalah
kedalaman yaitu hingga 24,9 m dengan distribusi
resistivitas bawah tanah diwakili oleh skala warna.
Hasil interpretasi keberadaan air lindi pada 4
(empat) lintasan resistivitas bawah tanah disajikan
dalam tabel 3 berikut:
Tabel 3. Interpretasi penampang resistivitas untuk studi kasus TPA Temesi

No.
Lintasan
1
2
3
4

Resistivitas (m)

Kedalaman (m)

0,74 - 23,4
3,51 - 175
2,31 - 215
1,96 - 122

7,5 - 24,9
7,5 - 24,9
7,5 - 24,9
7,5 18,5

LsiS Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada
PESTAGAMA 2014

Septiandi Akhmad Perdana / Metode Geolistrik Resistivitas Sebagai Pendeteksi Pencemaran Air Tanah
di Sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA)

Untuk membuktikan bahwa air lindi sudah


mencemari air tanah penduduk perlu dilakukan
pengambilan sampel air di sumur kontrol milik TPA
Supit Urang yang berada di 500 m dari TPA, yaitu
perbatasan area TPA dengan daerah pemukiman.
Apabila sudah terbukti terdapat pencemaran harus
segera dilkukan peringatan dini kepada warga dan
teknik penimbunan sampah di TPA Supit Urang
dialihkan dari open dumping menjadi sanitary landfill.

Gambar 8. Desain survei Geolistrik Resistivitas untuk studi kasus TPA


Suipt Urang. Zona I sampai IV adalah lokasi timbunan sampah, K adalah
kantor TPA, P adalah pohon jati, dan S adalah sumur pantau [11]

Gambar 9. Interpolasi 4 lintasan pengukuran studi kasus TPA Supit


Urang. Air lindi diidentifikasi sebagai warna biru tua dengan resistivitas
0,74 m hingga 8,45 m [11]

Akumulasi rembesan air lindi yang berasal


dari pembusukan sampah di TPA Supit Urang ini
diidentifikasi paling banyak di lintasan 1, karena
letaknya yang terdekat dengan zona penimbunan
sampah. Nilai resistivtas pada lintasan 1 ditemukan
adalah yang paling rendah yaitu 0,74 m hingga 5,32
m. Kemudian nilai resisvitas tersebut semakin
berkurang pada lintasan kedua hingga keempat.
Semakin kecil nilai resistivitas berasosiasi dengan
semakin buruk kualitas air. Sehingga diduga air lindi
yang ada di area lintasan satu ini yang nantinya akan
berpotensi merembes dan mencemari air tanah di
sekitar TPA.
Berdasarkan hasil interpolasi keempat lintasan
pengukuran, air lindi di TPA Supit Urang ini memiliki
kecenderungan untuk mengalir ke arah selatan dan
timur. Hal ini dipengaruhi oleh topografi area sekitar
TPA, dimana kondisi di bagian selatan dan timur lebih
rendah dibanding di daerah lain. Rembesan air lindi
teridentifikasi hingga kedalaman 24,9 m dan
diperkirakan dapat merembes mencapai radius 500 m
yaitu memasuki area pemukiman penduduk.

Studi Kasus TPA Temesi Gianyar


Akuisisi data dilakukan dengan jumlah lintasan
pengukuran sebanyak 8, yang mana 6 lintasan
ditempatkan pada sekitar lokasi TPA sebagai indikator
arah aliran lindi dan 2 lintasan ditempatkan jauh dari
TPA sebagai kontrol. Yang dimaksud sebagai kontrol
adalah sebagai pembanding antara lokasi yang
berpotensi tercemar dengan lokasi yang bersih dan
juga sebagai indikator sejauh mana air lindi telah
merembes.
Setelah dilakukan proses inversi dengan
menggunakan
software
Res2Dinv
dihasilkan
penampang
resistivitas
bawah
tanah
yang
digambarkan oleh sumbu horisontal untuk lintasan L1
sebesar 36 m; L2 sebesar 50 m; L3 dan L7 sebesar 40
m; L8, L4 hingga L6 sebesar 30 m. Kemudian untuk
sumbu vertikal menggambarkan nilai kedalaman
untuk lintasan L1, L3 dan L7 sebesar 6,91 m; L2
sebesar 10,5 m; L4 hingga L6 sebesar 5,37 m dengan
distribusi resistivitas bawah tanah yang diwakili oleh
skala warna.
Hasil interpretasi keberadaan air lindi pada 8
(delapan) penampang resistivitas bawah tanah
disajikan dalam tabel 4 berikut:
Tabel 4. Interpretasi penampang resistivitas untuk studi kasus TPA Temesi

No.
Lintasan
1
2
3
4
5
6
7
8

Resistivitas (m)

Kedalaman (m)

4,14 8,91
1,84 7,36
3,22 9,87
4,96 9,80
5,78 9,67
6,39 9,34
4,63 7,48
12,9 29,2
(belum tercemar)

1,55 5,40
37
2 3,5
2,4 4,3
1,6 4,5
2,8 5,37
5,3 6,9
2,7 5,3

LsiS Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada
PESTAGAMA 2014

Septiandi Akhmad Perdana / Metode Geolistrik Resistivitas Sebagai Pendeteksi Pencemaran Air Tanah
di Sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA)

KESIMPULAN

Gambar 10. Kiri: foto udara lokasi peneitian dan desain survei
geolistrik resistivitas. Kanan: peta kontur yang menggambarkan
topografi daerah sekitar TPA. Tanda panah menunjukkan prediksi
aliran air lindi [12]

Gambar 11. Hasil pencocokan antara penampang resistivitas


dengan peta topografi daerah sekitar TPA Temesi Gianyar. Tanda
panah merupakan prediksi aliran air lindi. Air lindi cenderung
mengalir menuju daerah dengan toporafi rendah [12]

Berdasarkan gambar 10 dan 11, arah


rembesan air lindi digambarkan dalam tanda panah
berwarna merah, dimana untuk lintasan 2, 3, dan 6 air
lindi merembes ke arah selatan TPA. Arah aliran ini
disebabkan karena faktor topografi di area selatan
TPA lebih rendah dibandingkan posisi TPA. Karena
air lindi adalah fluida maka akan cenderung mengalir
ke tempat yang lebih rendah karena pengaruh gaya
gravitasi bumi. Terdapat faktor lain yang
menyebabkan air lindi cenderung mengalir ke arah
selatan, yaitu terdapat air yang berasal dari irigasi
sawah sehingga memicu pergerakan air lindi lebih
cepat merembes hingga jauh. Terbukti pada lintasan 7
yang jaraknya lebih dari 400 m dari TPA masih
teridentifikasi adanaya rembesan air lindi di bawah
tanah. Untuk lintasan 8 tidak ditemukan adanya
resistivitas dibawah 10 m. Karena nilai
resistivitasnya diatas 10 m maka tidak diidentifikasi
sebagai air lindi atau air tanah yang tidak tercemar
oleh air lindi. Hal ini diduga karena faktor topografi
pada lintasan 8 yang lebih tinggi dibanding lokasi
TPA.

Metode geolistrik dapat digunakan untuk


menduga adanya rembesan air lindi yang dihasilkan
dari timbunan sampah di TPA. Keberadaan air lindi
ditandai dengan adanya nilai resistivitas rendah yaitu
<10 m. Dengan menggunakan interpolasi
penampang resistivitas bawah tanah 2 dimensi dapat
diidentifikasi arah rembesan atau aliran air lindi.
Pada studi kasus TPA Supit Urang rentang nilai
resistivitas air lindi yang terendah sebesar 0,74 m
dan yang tertinggi sebesar 8,45 m. Sedangkan pada
studi kasus TPA Temesi rentang nilai resistivitas air
lindi yang terendah sebesar 1,84 m dan yang
tertinggi sebesar 9,87 m. Antara kedua studi kasus
memiliki kesamaan dalam pola aliran lindi, yaitu
menuju ke tempat bertopografi yang lebih rendah,
sehingga untuk warga yang bermukim di area yang
lebih rendah dari lokasi TPA perlu memperhatikan
kondisi air tanahnya.
Untuk menindak lanjuti pencemaran air tanah
akibat air lindi diharapkan Pemerintah dan Instansi
terkait melakukan tindakan nyata, salah satunya
dengan mengalihkan teknik open dumping menjadi
teknik sanitary landfill. Untuk meminimalisir
pencemaran lingkungan perlu peran serta masyarakat,
yaitu dengan mengurangi, menggunakan kembali, dan
daur ulang sampah. (reduce, reuse, and recycle).

UCAPAN TERIMA KASIH


Penulis ucapkan terima kasih kepada
Mohammad Noor Alamsyah (Mas Koko) sebagai
pembimbing dan penasehat penulisan paper, Bapak
Adi Susilo, Ph.D selaku dosen penasehat, warga desa
kelurahan
Mulyorejo kecamatan
Sukun, kota
Malang, serta rekan kami Bella Dinna Safitri yang
telah membantu kegiatan survei di lapangan.

DAFTAR PUSTAKA
Buku:
[1] Loke, M.H., 2000, Electrical Imaging Surveys for
Environental and Enineering Studes, Penang
[2] Loke, M.H., 2004., A Course Note, 1996-2004:
Tutorial: 2-D and 3-D Electrical Imaging Surveys,
(Online), (www.geoelectrical.com, diakses 20 Agustus
2014)
[3] Perencanaan Pembangunan Umum. 2010. Rencana
Strategis Direktorat Jendral Cipta Karya. Jakarta:
Direktorat Jendral Cipta Karya Kementrian Pekerjaan
Umum.
[4] Telford, W.M., Geldart, L.P., Sheriff, R.E., Keys,
D.A., 1976, Applied Geophysics, Edisi 1, Cambridge
University Press, Cambridge.
Jurnal:
[5] Barker R.D., 1996. The Application Of Electrical
Tomography in Groundwater Contamination Studies.

LsiS Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada
PESTAGAMA 2014

Septiandi Akhmad Perdana / Metode Geolistrik Resistivitas Sebagai Pendeteksi Pencemaran Air Tanah
di Sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA)

[6]

[7]

[8]

[9]

EAGE 58th Conference and Technical Exhibition


Extended Abstracts P082.
Bernstoned C. et al., 1999. Assessment of Two
Automated Electrical Resistivity Data Acquisition
Systems for Landfill Location Surveys : Two Case
Studies. Swedia : Jurusan Geotechnology Universitas
Lund Jurnal Environmental and Engineering
Geophysics JEEG, June 1999, Volume 4, Issue 2,
pp.113-121
Cabala J. et. al,. 2008. Geochemical and Geophysical
Study of Historical Zn-Pb Ore Processing Waste
Dump Areas (Southern Poland). Polandia : Fakultas
Kebumian Universitas Silesia Polish J. of Environ.
Stud. Vol. 17, No. 5 (2008), 693-700 Diterima: 28
January, 2008 Dipublikasiakn: 17 April, 2008
Maxwell A.M., 2000. Geoelectrical Investigation of
Oldrabandoned, Covered Landfill Sites in Urban
Areas: Model Development With A Genetic Diagnosis
Approach Environmental and Industrial Geophysics.
Leicester : Tim Riset Jurusan Geologi Universitas
Leicester Jurnal Applied Geophysics 44 2000 115150
Onwuka O.S. et. al., 2013. Geoelectrical and
Hydrogeochemical Assessment of the Groundwater
Potentials of Ehandiagu, Enugu State, Southeastern
Nigeria University of Nigeria, Nsukka. Nigeria :

Federal University Ndufu Alike. Jurnal Jordan Earth


and Environmental Sciences diterima 11 April, 2013;
dipublikasikan 10 Okt., 2013
[10] Wijaya, L., Legowo, B., Ramelan, A.H., 2009,
Identifikasi Pencemaran Air Tanah Dengan Meode
Geolistrik di Wilayah Ngringo Jaten Karanganyar,
Teknologi dan Keselamtan PLTN Serta Fasilitas
Nuklir, hal 234 240, Surakarta, 17 Oktober 2009.
Skripsi/tesis
[11] Hakim, A. R. 2012. Studi Akumulasi Rembesan Air
Lindi Dengan Menggunakan Metode Geolistrik
Resistivitas Konfigurasi Wenner Mapping. Malang:
Universitas Brawijaya.
[12] Putra, I. K. 2012. Identifikasi Arah Rembesan dan
Letak Akumulasi Lindi Dengan Metode Geolistrik
Resistivitas Konfigurasi Wenner- Schlumberger di
TPA Temesi Kabupaten Gianyar. Denpasar:
Universitas Udayana.
Undang - undang
[13] Republik Indonesia. 2008. Undang-Undang No.
18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.
Lembaran Negara RI Tahun 2008. Sekertariat Negara,
Jakarta.

LsiS Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada
PESTAGAMA 2014