Anda di halaman 1dari 23

Askep BPH

Benigna Prostat Hipertropi (BPH)


A. Pengertian
Hipertropi Prostat adalah hiperplasia dari kelenjar periurethral yang kemudian mendesak
jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah. (Jong, Wim de, 1998).
Benign Prostatic Hypertrophy ( BPH ) adalah pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh
karena hiperplasi beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar / jaringan
fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika (Lab / UPF Ilmu Bedah
RSUD dr. Sutomo, 1994 : 193).
Askep BPH
B. Etiologi
Penyebab terjadinya Benigna Prostat Hipertropi belum diketahui secara pasti. Tetapi hanya 2
faktor yang mempengaruhi terjadinya Benigne Prostat Hypertropi yaitu testis dan usia lanjut.
Ada beberapa teori mengemukakan mengapa kelenjar periurethral dapat mengalami hiperplasia,
yaitu :
Teori Sel Stem (Isaacs 1984)
Berdasarkan teori ini jaringan prostat pada orang dewasa berada pada keseimbangan antara
pertumbuhan sel dan sel mati, keadaan ini disebut steady state. Pada jaringan prostat terdapat sel
stem yang dapat berproliferasi lebih cepat, sehingga terjadi hiperplasia kelenjar periurethral.
Teori MC Neal (1978)
Menurut MC. Neal, pembesaran prostat jinak dimulai dari zona transisi yang letaknya sebelah
proksimal dari spincter eksterna pada kedua sisi veromontatum di zona periurethral.
Askep BPH
C. Anatomi Fisiologi
Kelenjar proatat adalah suatu jaringan fibromuskular dan kelenjar grandular yang melingkari
urethra bagian proksimal yang terdiri dari kelnjar majemuk, saluran-saluran dan otot polos
terletak di bawah kandung kemih dan melekat pada dinding kandung kemih dengan ukuran
panjang : 3-4 cm dan lebar : 4,4 cm, tebal : 2,6 cm dan sebesar biji kenari, pembesaran pada
prostat akan membendung uretra dan dapat menyebabkan retensi urine, kelenjar prostat terdiri
dari lobus posterior lateral, anterior dan lobus medial, kelenjar prostat berguna untuk melindungi
spermatozoa terhadap tekanan yang ada uretra dan vagina. Serta menambah cairan alkalis pada
cairan seminalis.
Askep BPH
D. Patofisiologi

Menurut Mansjoer Arif tahun 2000 pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan pada traktus
urinarius. Pada tahap awal terjadi pembesaran prostat sehingga terjadi perubahan fisiologis yang
mengakibatkan resistensi uretra daerah prostat, leher vesika kemudian detrusor mengatasi
dengan kontraksi lebih kuat.
Sebagai akibatnya serat detrusor akan menjadi lebih tebal dan penonjolan serat detrusor ke dalam
mukosa buli-buli akan terlihat sebagai balok-balok yang tampai (trabekulasi). Jika dilihat dari
dalam vesika dengan sitoskopi, mukosa vesika dapat menerobos keluar di antara serat detrusor
sehingga terbentuk tonjolan mukosa yang apabila kecil dinamakan sakula dan apabila besar
disebut diverkel. Fase penebalan detrusor adalah fase kompensasi yang apabila berlanjut detrusor
akan menjadi lelah dan akhirnya akan mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk
kontraksi, sehingga terjadi retensi urin total yang berlanjut pada hidronefrosis dan disfungsi
saluran kemih atas.
Askep BPH
E. Tanda dan Gejala
Hilangnya kekuatan pancaran saat miksi (bak tidak lampias)
Kesulitan dalam mengosongkan kandung kemih.

Rasa nyeri saat memulai miksi/

Adanya urine yang bercampur darah (hematuri).

F. Komplikasi
Aterosclerosis
Infark jantung

Impoten

Haemoragik post operasi

Fistula

Striktur pasca operasi & inconentia urine

G. Pemeriksaan Diagnosis
1. Laboratorium
Meliputi ureum (BUN), kreatinin, elekrolit, tes sensitivitas dan biakan urin.
2. Radiologis
Intravena pylografi, BNO, sistogram, retrograd, USG, Ct Scanning, cystoscopy, foto
polos abdomen. Indikasi sistogram retrogras dilakukan apabila fungsi ginjal buruk,

ultrasonografi dapat dilakukan secara trans abdominal atau trans rectal (TRUS = Trans
Rectal Ultra Sonografi), selain untuk mengetahui pembesaran prostat ultra sonografi
dapat pula menentukan volume buli-buli, mengukut sisa urine dan keadaan patologi lain
seperti difertikel, tumor dan batu (Syamsuhidayat dan Wim De Jong, 1997).
3. Prostatektomi Retro Pubis
Pembuatan insisi pada abdomen bawah, tetapi kandung kemih tidak dibuka, hanya ditarik
dan jaringan adematous prostat diangkat melalui insisi pada anterior kapsula prostat.
4. Prostatektomi Parineal
Yaitu pembedahan dengan kelenjar prostat dibuang melalui perineum.
H. Penatalaksanaan
1. Non Operatif
o Pembesaran hormon estrogen & progesteron
o

Massase prostat, anjurkan sering masturbasi

Anjurkan tidak minum banyak pada waktu yang pendek

Cegah minum obat antikolinergik, antihistamin & dengostan

Pemasangan kateter.

2. Operatif
Indikasi : terjadi pelebaran kandung kemih dan urine sisa 750 ml
o

TUR (Trans Uretral Resection)

STP (Suprobic Transersal Prostatectomy)

Retropubic Extravesical Prostatectomy)

Prostatectomy Perineal

Askep BPH

Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Benigna Prostat Hipertropi (BPH)


A. Pengkajian
1. Data subyektif :
o Pasien mengeluh sakit pada luka insisi.

Pasien mengatakan tidak bisa melakukan hubungan seksual.

Pasien selalu menanyakan tindakan yang dilakukan.

Pasien mengatakan buang air kecil tidak terasa.

2. Data Obyektif :
o

Terdapat luka insisi (terjadi karena teriris oleh instrumen yang tajam.

Takikardi (denyut jantung yang lebih cepat daripada denyut jantung

Gelisah

Tekanan darah meningkat

Ekspresi w ajah ketakutan

Terpasang kateter

Misal yang terjadi akibat pembedahan. Luka bersih (aseptik) biasanya


tertutup oleh sutura seterah seluruh pembuluh darah yang luka diikat
(Ligasi).)
normal)

B. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul


1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan spasme otot spincter
2. Kurang pengetahuan : tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri / efek pembedahan
C. Intervensi
1. Diagnosa Keperawatan 1. :
Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan spasme otot spincter
Tujuan :
Setelah dilakukan perawatan selama 3-5 hari pasien mampu mempertahankan derajat
kenyamanan secara adekuat.
Kriteria hasil :
o Secara verbal pasien mengungkapkan nyeri berkurang atau hilang.
o

Pasien dapat beristirahat dengan tenang.

Intervensi :
o
o

Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0 - 10)


Monitor dan catat adanya rasa nyeri, lokasi, durasi dan faktor pencetus serta
penghilang nyeri.

Observasi tanda-tanda non verbal nyeri (gelisah, kening mengkerut, peningkatan


tekanan darah dan denyut nadi)

Beri ompres hangat pada abdomen terutama perut bagian bawah.

Anjurkan pasien untuk menghindari stimulan (kopi, teh, merokok, abdomen


tegang)

Atur posisi pasien senyaman mungkin, ajarkan teknik relaksasi

Lakukan perawatan aseptik terapeutik

Laporkan pada dokter jika nyeri meningkat.

2. Diagnosa Keperawatan 2. :
Kurang pengetahuan: tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi
Tujuan :
Klien dapat menguraikan pantangan kegiatan serta kebutuhan berobat lanjutan .
Kriteria hasil :
o

Klien akan melakukan perubahan perilaku.

Klien berpartisipasi dalam program pengobatan.

Klien akan mengatakan pemahaman pada pantangan kegiatan dan kebutuhan


berobat lanjutan.

Intervensi :
o
o

Beri penjelasan untuk mencegah aktifitas berat selama 3-4 minggu.


Beri penjelasan untuk mencegah mengedan waktu BAB selama 4-6 minggu; dan
memakai pelumas tinja untuk laksatif sesuai kebutuhan.

Pemasukan cairan sekurangkurangnya 2500-3000 ml/hari.

Anjurkan untuk berobat lanjutan pada dokter.

Kosongkan kandung kemih apabila kandung kemih sudah penuh.

3. Diagnosa Keperawatan 3. :
Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri / efek pembedahan
Tujuan :
Kebutuhan tidur dan istirahat terpenuhi
Kriteria hasil :
o

Klien mampu beristirahat / tidur dalam waktu yang cukup.

Klien mengungkapan sudah bisa tidur.

Klien mampu menjelaskan faktor penghambat tidur.

Intervensi :
o

Jelaskan pada klien dan keluarga penyebab gangguan tidur dan kemungkinan cara
untuk menghindari.
Ciptakan suasana yang mendukung, suasana tenang dengan mengurangi
kebisingan.

o
o

Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan penyebab gangguan tidur.


Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat yang dapat mengurangi nyeri
(analgesik).

Daftar Pustaka
Doenges, M.E., Marry, F..M and Alice, C.G., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan :
Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta, Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Long, B.C., 1996. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan.
Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Lab / UPF Ilmu Bedah, 1994. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. Surabaya, Fakultas
Kedokteran Airlangga / RSUD. dr. Soetomo.
Hardjowidjoto S. (1999).Benigna Prostat Hiperplasia. Airlangga University Press.
Surabaya
Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta.

NOMOR DUA B: MASALAH KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL


KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi pada hipertropi prostat adalah:
a. Retensi kronik dapat menyebabkan refluks vesiko-ureter, hidroureter,
hidronefrosis, gagal ginjal.
b. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi pada waktu miksic
Hernia / hemoroidd. Karena selalu terdapat sisa urin sehingga menyebabkan
terbentuknya batue. Hematuriaf. Sistitis dan Pielonefritis
Komplikasi yang mungkin muncul:

Aterosclerosis
Infark jantung

Impoten

Haemoragik post operasi

Fistula (koneksi abnormal antara pembuluh darah, usus, organ, atau struktur
lainnya. Fistula biasanya terjadi akibat dari cedera, pembedahan, infeksi atau
peradangan.)

Striktur pasca operasi & inconentia urine

NOMOR 1: ANATOMI FISIOLOGI URINARIA (DI PDF BAB II)

NOMOR 2: ANATOMI FISIOLOGI GASTROINTESTINAL

Anatomi dan Fisiologi Sistem Gastrointestinal (OLEH PSIK JABBAR YOUNG)


Anatomi dan Fisiologi Sistem Gastrointestinal
1. Rongga Mulut
Secara umum berfungsi untuk menganalisis makanan sebelum menelan, proses penghancuran
makanan secara mekanis oleh gigi, lidah dan permukaan palatum, lubrikasi oleh sekresi saliva
serta digesti pada beberapa material karbohidrat dan lemak (Simon, 2003).
a.

Mulut
Mulut dibatasi oleh mukosa mulut, pada bagian atap terdapat palatum (langit langit
mulut) dan bagian posterior mulut terdapat uvula (sepotong kecil jaringan lunak) yang
tergantung pada palatum.

b. Lidah
Lidah terdiri dari jaringan epitel dan jaringan epitelium lidah dibasahi oleh sekresi dari
kelenjar ludah yang menghasilkan sekresi berupa air, mukus dan enzim lipase. Enzim ini
berfungsi untuk menguraikan lemak terutama trigleserida sebelum makanan di telan. Fungsi
utama lidah meliputi, proses mekanik dengan cara menekan, melakukan fungsi dalam proses
menelan, analisis terhadap karakteristik material, suhu dan rasa serta mensekresikan mukus dan
enzim.
c.

Kelenjar saliva
Kira-kira 1500 mL saliva disekresikan per hari, pH saliva pada saat istirahat sedikit lebih
rendah dari 7,0, tetapi selama sekresi aktif, pH mencapai 8,0. Saliva mengandung 2 enzim yaitu
lipase lingual disekresikan oleh kelenjar pada lidah dan -amilase yang disekresi oleh kelenjarkelenjar saliva. Kelenjar saliva tebagi atas 3, yaitu kelenjar parotis yang menghasilkan serosa

yang mengandung ptialin. Kelenjar sublingualis yang menghailkan mukus yang mengandung
musin, yaitu glikoprotein yang membasahi makanan dan melndungi mukosa mulut dan kelenjar
submandibularis yang menghasilkan gabungan dari kelenjar parotis dan sublingualis. Saliva
juga mengandung IgA yang akan menjadi pertahanan pertama terhadapkuman dan virus.
d. Gigi
Fungsi gigi adalah sebagai penghancur makanan secara mekanik. Pada gigi seri, terdapat
di bagian depan rongga mulut berfungsi untuk memotong makanan yang sedikit lunak dan
potongan yang dihasilkan oleh gigi seri masih dalam bentuk potongan yang kasar, nantinya
potongan tersebut akan dihancurkan sehingga menjadi lebih lunak oleh gigi geraham dengan
dibantu oleh saliva sehingga nantinya dapat memudahkan makanan untuk menuju saluran
pencernaan seterusnya. Gigi taring lebih tajam sehingga difungsikan sebagai pemotong daging
atau makanan lain yang tidak mampu dipotong oleh gigi seri.
2. Faring
Faring merupakan jalan untuk masuknya material makanan, cairan dan udara menuju
esofagus. (Snell, 2006).
3. Laring
Laring adalah organ yang mempunyai sfingter pelindung pada pintu masuk jalan nafas.
Sfingter tersebut merupakan epiglotis. Epiglotis akan menutup jalan masuk udara saat makanan
ingin masuk ke esofagus (Snell, 2006).
4. Esofagus
Esofagus adalah berfungsi membawa bolus makanan dan cairan menuju lambung
(Gavaghan, 2009). Pada tempat lain, otot rangka melingkari esofagus (sfrinter ekstrinsik) dan
bekerja sebagai keran jepit untuk esofagus. Sfringte ekstrinsik dan intrinsik akan bekerjasama

untuk memungknkan aliran makanan yang teratur kedalam lambung dan mencegah refluks isi
lambung kembali ke esofagus.
5. Lambung
Lambung terletak di bagian kiri atas abdomen tepat di bawah diafragma. Pada saat
lambung kosong atau berelaksasi, mukosa masuk ke lipatan yang dinamakan rugae. Sfingter
pada kedua ujung lambung mengatur pengeluaran dan pemasukan lambung. Sfingter kardia,
mengalirkan makanan masuk ke lambung dan mencegah refluks isi lambung memasuki esofagus
kembali. Sedangkan sfingter pilorus akan berelaksasi saat makanan masuk ke dalam duodenum
dan ketika berkontraksi, sfingter ini akan mencegah aliran balik isi usus halus ke lambung
(Corwin, 2007).
Fisiologi lambung terdiri dari dua fungsi yaitu, fungsi motorik sebagai proses pergerakan
dan fungsi pencernaan yang dilakukan untuk mensintesis zat makanan, dimana kedua fungsi ini
akan bekerja bersamaam.
b. Fungsi pencernaan :
1) Pencernaan protein, yang dilakukan oleh pepsin dan sekresi HCl dimulai pada saat tersebut.
Pencernaan kabohidrat dan lemak oleh amilase dan lipase dalam lambung sangat kecil.
2) Sistesis dan pelepasan gastrin, hal ini dipengaruhi oleh protein yang dimakan, peregangan
3)

antrum, alkalinisasi antrum dan rangsangan vagus.


Sekresi faktor intrinsik, yang memungkinkan terjadinya absorpsi vitamin B 2 dari usus halus

bagian distal.
4) Sekresi mukus, sekresi ini membentuk selubung yang melindungi lambung serta berfungsi
sebagai pelumas sehigga makanan lebih mudah diangkut.
6. Usus Halus
Bagian awal dari usus halus adalah duodenum (usus dua belas jari) atau lebih sering
disebut duodenal cup atau bulb. Pada bagian ligamentum Treitz, duodenum berubah menjadi
jejunum (usus halus). Proses digesti kimia dan absorpsi nutrisi terjadi dalam jejunum sedangkan

ileum (usus penyerapan) mempunyai panjang sekitar 3,5 m. Mukus usus terdiri dari berbagai
macam enzim,seperti disakaridase, peptidase dan enzim lain yang terlibat dalam penguraian
asam nukleat.
7. Usus Besar (Kolon)
Kolon memiliki diameter yang lebih besar dari usus halus. Kolon terdiri atas sekumsekum yang membentuk kantung-kantung sebagai dinding kolon (haustra). Pada pertengahannya
terdapat serat-serat lapisan otot eksterrnalnya tekumpul menjadi 3 pita longitudinal yang disebut
taenia koli. Bagian ileum yang mengandung katup ileosekum sedikit menonjol ke arah sekum,
sehingga peningkatan tekanan kolon akan menutupnya sedangkan peningkatan tekanan ileum
akan menyebabkan katup tersebut terbuka. Katup ini akan secara efektif mencegah refluks isi
kolon ke dalam ileum. Dalam keadaan normal katup in akan tertutup. Namun, setiap gelombang
peristaltik, katup akan terbuka sehingga memungkinkan kimus dari ileum memasuki sekum.
Pada kolon terjadi penyerapan air, natrium dan mineral lainnya. Kontraksi kerja massa pada
kolon akan mendorong isi kolon dari satu bagian kolon ke bagian lain. Kontraksi ini juga akan
mendorong isi kolon menuju ke rektum. Dari rektum gerakan zat sisa akan terdorong keluar
menuju anus dengan perenggangan rektum dan kemudian mencetus refleks defekasi.

SALIVA
Kelenjar saliva yang utama adalah kelenjar parotis, submandibularis, dan sublingualis. Sekresi saliva normal seharihari berkisar antara 800-1500 mililiter dengan pH sekitar 6 sampai 7. Saliva terutama mengandung sejumlah besar
ion kalium dan ion bikarbonat, kebalikan dari plasma dimana lebih banyak mengandung ion natrium dan klorida.
Saliva mengandung 2 tipe sekresi protein yang utama:

1. sekresi serosa yang mengandung ptialin (suatu amilase), sebuah enzim untuk mencernakan serat.
2. sekresi mukosa yang mengandung musin, sebuah glikoprotein yang melubrikasi makanan dan memproteksi
mukosa oral. Musin jug mengandung IgA, sistem imun yang pertama menghadang bakteri dan virus;
lisozim, berfungsi menghacurkan dinding bakteri; laktoferin, mengikat zat besi; dan protein kaya akan
prolin, memproteksi gigi. Oleh karena itu pada keadaan defisit saliva (xerostomia) ronga mulut menjadi
berulserasi, terinfeksi, dan karies gigi akan meluas.

Masing-masing kelenjar menghasilkan tipe sekresi yang berbeda.


Kelenjar

Tipe sekresi

Sifat sekresi

Persentase dari total saliva *


(1,5 L)

Parotis

Serosa

Berair

20

Submandibularis

Serosa dan mukosa

Agak kental

70

Sublingualis

Mukosa

kental

*5% volume saliva total dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar minor di rongga mulut.
Kelenjar submaksilaris mengandung asinus mukosa maupun asinus serosa. Sekresi primer dihasilkan oleh kedua
asinus ini yang berupa ptialin dan/atau musin. Sewaktu sekres primer mengalir melalui duktus, terjadi dua proses
transpor aktif utama yang memodifikasi komposisi ion saliva.

1. ion-ion natrium secara aktif direabsorbsi dari semua duktus salivarius (interkalatus), dan ion-ion natrium

2.

disekresi secara aktif sebagai pengganti natrium. Oleh karena itu, konsentrasi natrium dari saliva sangat
berkurang, sedangkan konsentrasi ion kalium meningkat. Karena reabsorbsi ion natrium melebihi sekresi
ion kalium, menyebabkan konsentrasi ion klorida turun menjadi sangat rendah, menyesuaikan penurunan
pada konsentrasi ion natrium.
ion-ion bikarbonat disekresi oleh epitel duktus ke dalam lumen duktus. Hal ini sedikitnya sebagian
disebabkan oleh pertukaran ion bikarbonat dengan ion klorida.

NOMOR 3: MASALAH KESEHATAN PADA KEBUTUHAN ELIMINASI URIN

E. Perubahan Pola Eliminasi Urin


1. Frekuensi : meningkatnya frekuensi berkemih tanpa intake cairan yang
meningkat, biasanya terjadi pada cystitis, stres dan wanita hamil.
2. Urgency : perasaan ingin segera berkemih dan biasanya terjadi pada
anak-anak karena kemampuan spinter untuk mengontrol berkurang.
3. Dysuria : rasa sakit dan kesulitan dalam berkemih misalnya pada infeksi
saluran kemih, trauma dan striktur uretra.
4. Polyuria (diuresis) : produksi urine melebihi normal, tanpa peningkatan
intake cairan misalnya pada pasien DM.
5. Urinary suppression : keadaan di mana ginjal tidak memproduksi urine
secara tiba-tiba. Anuria (urine kurang dari 100 ml/24 jam), olyguria (urine
berkisar 100-500 ml/jam).
F. Masalah-Masalah Pada Kebutuhan Eliminasi Urin
1. Retensi urine
Retensi urine merupakan penumpukan urine dalam kandung kemih akibat
ketidakmampuan kandung kemih untuk mengosongkan kandung kemih. Hal
ini menyebabkan distensi vesika urinaria atau merupakan keadaan ketika
seseorang mengalami pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap.
2. Inkontinensia Urine
Inkontinensia urine merupakan ketidakmampuan otot sphincter eksternal
sementara atau menetap untuk mengontrol ekskresi urine. Secara umum,
penyebab dari inkontinensia urine adalah proses penuaan, pembesaran
kelenjar prostat, serta penuaaan kesadaran, serta penggunaan obat narkotik.
3. Enuresis
Enuresis merupakan ketidaksanggupan menahan kemih yang diakibatkan
tidak mampu mengontrol sphincter eksternal. Biasanya, enuresis terjadi
pada anak atau orang jompo. Umumnya enuresis terjadi pada malam hari.
4. Perubahan Pola Eliminasi Urine
Perubahan pola eliminasi urine merupakan keadaan seseorang yang
mengalami gangguan pada eliminasi urine karena obstruksi anatomis,
kerusakan motorik sensorik, dan infeksi saluran kemih. Perubahan pola
eliminasi terdiri atas:
a. Frekuensi : merupakan banyaknya jumlah berkemih dalam sehari.
Peningkatan frekuensi berkemih dikarenakan meningkatnya jumlah cairan
yang masuk. Frekuensi yang tinggi tanpa suatu tekanan asupan cairan dapat
disebabkan oleh sistisis. Frekuensi tinggi dapat ditemukan juga pada
keadaan stres atau hamil.

b. Urgensi : perasaan seseorang yang takut mengalami inkontinensia jika


tidak berkemih. Pada umumnya, anak kecil memiliki kemampuan yang buruk
dalam mengontrol sphincter eksternal. Biasanya, perasaan segera ingin
berkemih terjadi pada anak karena kurangnya pengontrolan pada sphincter.
c. Disuria : rasa sakit dan kesulitan dalam berkemih. Hal ini sering
ditemukan pada penyakit infeksi saluran kemih, trauma, dan striktur uretra.
d. Poliuria : merupakan produksi urine abnormal dalam jumlah besar oleh
ginjal, tanpa adanya peningkatan asupan cairan. Biasanya, hal ini dapat
ditemukan pada penyakit diabetes mellitus dan penyakit ginjal kronis.
e. Urinaria Supresi : berhentinya produksi urine secara mendadak. Secara
normal, urine diproduksi oleh ginjal pada kecepatan 60 120 ml/jam secara
terus menerus.

MASALAH KEBUTUHAN ELIMINASI FEKAL

1. Konstipasi
Konstipasi merupakan gejala, bukan penyakit yaitu menurunnya frekuensi BAB disertai dengan
pengeluaran feses yang sulit, keras, dan mengejan. BAB yang keras dapat menyebabkan nyeri
rektum. Kondisi ini terjadi karena feses berada di intestinal lebih lama, sehingga banyak air
diserap.
2. Impaction
Impaction merupakan akibat konstipasi yang tidak teratur, sehingga tumpukan feses yang keras
di rektum tidak bisa dikeluarkan. Impaction berat, tumpukan feses sampai pada kolon sigmoid.
Penyebabnya pasien dalam keadaan lemah, bingung, tidak sadar, konstipasi berulang dan
pemeriksaan yang dapat menimbulkan konstipasi. Tandanya : tidak BAB, anoreksia,
kembung/kram dan nyeri rektum.
3. Diare
Diare merupakan BAB sering dengan cairan dan feses yang tidak berbentuk. Isi intestinal
melewati usus halus dan kolon sangat cepat. Iritasi di dalam kolon merupakan faktor tambahan
yang menyebabkan meningkatkan sekresi mukosa. Akibatnya feses menjadi encer sehingga
pasien tidak dapat mengontrol dan menahan BAB.
4. Inkontinensia fecal
Yaitu suatu keadaan tidak mampu mengontrol BAB dan udara dari anus, BAB encer dan
jumlahnya banyak. Umumnya disertai dengan gangguan fungsi spingter anal, penyakit
neuromuskuler, trauma spinal cord dan tumor spingter anal eksternal. Pada situasi tertentu secara
mental pasien sadar akan kebutuhan BAB tapi tidak sadar secara fisik. Kebutuhan dasar pasien
tergantung pada perawat.
5. Flatulens
Yaitu menumpuknya gas pada lumen intestinal, dinding usus meregang dan distended, merasa
penuh, nyeri dan kram. Biasanya gas keluar melalui mulut (sendawa) atau anus (flatus). Hal-hal
yang menyebabkan peningkatan gas di usus adalah pemecahan makanan oleh bakteri yang
menghasilkan gas metan, pembusukan di usus yang menghasilkan CO2. Makanan penghasil gas
seperti bawang dan kembang kol.
6. Hemoroid
Yaitu dilatasi pembengkakan vena pada dinding rektum (bisa internal atau eksternal). Hal ini
terjadi pada defekasi yang keras, kehamilan, gagal jantung dan penyakit hati menahun.
Perdarahan dapat terjadi dengan mudah jika dinding pembuluh darah teregang. Jika terjadi inflamasi dan pengerasan, maka pasien merasa panas dan gatal. Kadang-kadang BAB dilupakan oleh
pasien, karena saat BAB menimbulkan nyeri. Akibatnya pasien mengalami konstipasi.

NOMOR 4: FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ELIMINASI URIN DAN


FEKAL
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ELIMINASI FEKAL

Faktor eliminasi fekal:


1. Usia
Perubahan dalam tahapan perkembangan dalam mempengaruhi status eliminasi terjadi
disepanjang kehidupan. Seorang bayi memiliki lambung yang kecil dan lebih sedikit menyekresi
enzim pencernaan. Beberapa makanan, seperti zat pati yang kompleks, ditoleransi dengan buruk.
Bayi tidak mampu mengontrol defekasi karana kurangnya perkembangan neuromuskolar.
Perkembangan ini biasanya tidak terjadi sampai 2 sampai 3 tahun. Pertumbuhan usus besar
terjadi sangat pesat selama masa remaja. Sekresi HCL meningkat khususnya pada anak laki-laki.
Anak remaja biasanya mengkonsumsi makana dalam jumlah lebih besar. Sistem GI pada lansia
sering mengalami perubahan sehingga merusak proses pencernaan dan eliminasi. Beberapa
lansia mungkin tidak lagi memiliki gigi sehingga mereka tidak mampu mengunyah makanan
dengan baik. Makanan yang memasuki saluran GI hanya dikunyah sebagian dan tidak dapat
dicerna karena jumlah enzim pencernaan didalam saliva dan volume asam lambung menurun
seiring dengan proseas penuaan. Ketidakmampuan untuk mencerna makanan yang mengandung
lemak mencerminkan terjadinya kehilangan enzim limpase.
2. Diet
Asupan makanan setiap hari secara teratur membantu mempertahankan pola peristaltic yang
teratur di dalam kolon. Makanan yang dikonsumsi individu mempengaruhi eliminasi. Serat,
residu makanan yang tidak dapat dicerna, memungkinkan terbentuknya masa dalam materi feses.
Makanan pembentuk masa mengabsorbsi cairan sehingga meningkatkan masa feses. Dinding
usus teregang, menciptakan gerakan peristaltic dan menimbulkan reflex defekasi. Usus bayi yang
belum matang biasanya tidak dapat mentoleransi makanan berserat sampai usianya mencapai
beberapa bulan. Dengan menstimulasi peristaltic, masa makanan berjalan dengan cepat melalui
usus, mempertahankan feses tetap lunak. Makanan-makanan berikut mengandung serat dalam
jumlah tinggi (masa).
i. Buah-buahan mentah (apel,jeruk)
ii. Buah-buahan yang diolah (prum,apricot)
iii. Sayur-sayuran (bayam,kangkung,kubis)
iv. Sayur-sayuran mentah (seledri,mentimun)
v. Gandum utuh (sereal, roti)
Mengkonsumsi makanan tinggi serat meningkatkan kemungkinan normalnya pola eliminasi jika
factor lain juga normal. Makanan yang menghasilkan gas, seperti bawang, kembang kol, dan
buncis juga menstimulasi peristaltic. Gas yang dihasilkan membuat dinding usus berdistensi ,
meningkatkan motilitas kolon. Beberapa makanan pedas dapat meningkatkan peristaltic , tetapi
juga dapat menyebabkan pencernaan tidak berlangsung dan feses menjadi encer.
Beberapa jenis makanan, seperti susu dan produk-produk susu, sulit atau tidak mungkin dicerna
oleh beberapa individu. Hal ini disebabkan oleh intoleransi laktosa. Laktosa, suatu bentuk
karbohidrat sederhana yang ditemukan di dalam susu, secara normal dipecah oleh enzim lactase.
Intoleransi terhadap makana tertentu dapat mengakibatkan diare, distensi gas, dank ram.

3. Asupan Cairan
Asupan cairan yang tidak adekuat atau gangguan yang menyebabkan kehilangan cairan (seperti
muntah) mempengaruhi karakter feses. Cairan mengencerkan isi usus, memudahkannya bergerak
melalui kolon. Asupan cairan yang menurun memperlambat pergerakan makanan yang melalui
usus. Orang dewasa harus minum 6 sampai 8 gelas (1400 sampai 2000ml) cairan setiap hari.
Minuman ringan yang hangat dan jus buah memperlunak feses dan meningkatkan peristaltic.
Konsumsi susu dalam jumlah besar dapat memperlambat peristaltic pada beberapa individu dan
menyebabkan konstipasi.
4. Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik meninkatkan peristaltic, sementara imobilisasi menekan motilitas kolon. Ambulasi
dini setelah klien menderita suatu penyakit dianjurkan untuk meningkatkan dipertahankannya
eliminasi normal
Upaya mempertahankan tonus otot rangka, yang digunakan selama proses defekasi, merupakan
hal yang penting. Melemahnya otot-otot dasar panggul dan abdomen merusak kemampuan
individu untuk meningkatkan tekanan intraabdomen dan untuk mengontrol sfingter eksterna.
Tonus otot dapat melemah atau hilang akibat penyakit yang berlangsung dalam jangka waktu
lama atau penyakit neurologis yang merusak transmisi saraf.
5. Faktor Psikologis
Fungsi dari hampir semua sistem tubuh dapat mengalami gangguan akibat stress emosional yang
lama. Apabila individu mengalami kecemasan, ketakutan, atau marah, muncul respons stress,
yang memungkinkan tubuh membuat pertahanan. Untuk menyediakan nutrisi yang dibutuhkan
dalam upaya pertahanan tersebut, proses pencernaan dipercepat dan peristaltic meningkat. Efek
samping peristaltic yang meningkat antara lain diare dan distensi gas. Apabila individu
mengalami depresi, sistem saraf otonom memperlambat impuls saraf dan peristaltic dapat
menurun. Sejumlah penyakit pada saluran GI dapat dikaitkan dengan stress. Penyakit ini meliputi
colitis ulseratif, ulkus lambung, dan penyakit crohn. Upaya penelitian berulang yang dilakukan
sejak lama telah gagal membuktikan mitos bahwa penyebab klien mengalami penyakit tersebut
adalah karena memiliki kondisi psikopatologis. Namu, ansietas dan depresi mungkin merupakan
akibat dari masalah kronik tersebut (cooke,1991)
6. Kebiasaan pribadi
Kebiasaan eliminasi pribadi mempengaruhi fungsi usus. Kebanyakan individu merasa lebih
mudah melakukan defekasi dikamar mandi mereka sendiri pada waktu yang paling efektif dan
paling nyaman bagi mereka. Jadwal kerja yang sibuk dapat mengganggu kebiasaan dan
mengakibatkan perubahan seperti konstipasi. Individu harus mencari waktu terbaik untuk
melaksanakan eliminasinya. Reflex gastrokolik adalah reflex yang paling mudah distimulasi
untuk menimbulkan defekasi setelah sarapan.
7. Posisi Selama Defekasi
Posisi jongkok merupakan posisi yang normal saat melakukan defekasi. Toilet modern dirancang
untuk memfasilitasi posisi ini, sehingga memungkinkan individu untuk duduk tegak ke arah
depan, mengeluarkan tekanan intraabdomen dan mengontraksi otot-otot pahanya. Namun,
klien lansia atau individu yang menderita penyakit sendi, seperti artritis, mungkin tidak mampu

bangkit dari tempat duduk tpilet memampukan klienuntuk bangun dari posisi duduk di toilet
tanpa bantuan. Klien yang mengguanakan alat tersebut dan individu yang berposter pendek,
mungkin membutuhkan pijakan kaki yang memungkinkan ia menekluk pinggulnya dengan
benar.
Untuk klien imobilisasi di tempat tidur, defekasi seringkali dirasakan sulit. Posisi telentang tidak
memungkinkan klien mengontraksi otot-otot yang digunakan selama defekasi. Membantu klien
ke posisi duduk yang lebih normal pada pispot. Akan meningkatkan kemampuan defekasi.
8. Nyeri
Dalam kondisi normal, kegiatan defekasi tidak menimbulkan nyeri. Namun, pada sejumlah
kondisi, termasukhemoroid, bedah rectum, fistula rectum, bedah abdomen, dan melahirkan anak
dapat menimbulkan rasa tidak nyaman ketika defekasi. Pada kondisi-kondisi seperti ini, klien
seringkali mensupresi keinginanya untuk berdefekasi guna menghindari rasa nyeri yang mungkin
akan timbul. Konstipasi merupakan masalah umum pada klien yang merasa nyeri selama
defekasi.
9. Kehamilan
Seiring dengan meningkatnya usia kehamilan dan ukuran fetus, tekanan diberikan pada rectum.
Obsetruksi semenmtara akibat keberadaan fectus mengganggu pengeluaran feses. Konstipasi
adalah masalah umum yang muncul pada trimester terakhir. Wanita hamilselama defekasi dapat
menyebabkan terbentukannya hemoroid yang permanen.
10. Pembedahan dan Anestesia
Agen anestesi yang digunakan selama proses pembedahan, membuat gerakan peristaltic berhenti
untuk sementara waktu. Agens anestesi yang dihirup menghambat impuls saraf parasimpatis ke
otot usus. Kerja anestesi tersebut memperlambat atau menghentikan gelombang peristaltic. Klien
yang menerima anestesi local atau regional beresiko lebih kecil untuk mengalami perubahan
eliminasi karena aktivitas usus hanya dipengaruhi sedikitt atau bahkan tidak dipengaruhi sama
sekali.
Pembedahan yang melibatkan manipulasi usus secara langsung, sementara akan menghentikan
gerakan peristaltic. Kondisi ini disebut ileus paralitik yang biasanya berlangsung sekitar 24
sampai 48 jam. Apabila klien tetap tidak aktif atau tidak dapat makan setelah pembedahan,
kembalinya fungsi normal usus dapat terhambat lebih lanjut.
11. Obat-obatan
Obat-obatan untuk meningkatkan defekasi telah tersedia . laksatif dan katartik melunakkan feses
dan meningkatkan peristaltic. Obat-obatan seperti disiklomin HCL (Bentyl) menekan gerakan
peristaltic dan mengobati diare. Beberapa obat memiliki efek samping yang dapat mengganggu
eliminasi. Obat analgesic narkotik menekan gerakan peristaltic. Opiat umumnya menyebabkan
konstipasi.
Obat-obatan antikolinergik, seperti atropin, atau glikopirolat (robinul), menghambat sekresi asam
lambung dan menekan motilitas saluran GI. Walupun bermanfaat dalam mengobati gangguan
usus, yakni hiperaktivitas usus, agens antikolinegik dapat menyebabkan konstipasi, banyak
antibiotik menyebabkan diare dengan menggangu flora bakteri normal didalam saluran GI.

Apabila diare dan kram abdomen yang terkait dengan diare semakin parah, obat-obatan yang
diberikan kepada klien mungkin perlu diubah. Intervensi keperawatan dapat digunakan untuk
diare osmotic, yang disebabkan oleh obat-obatan hiperosmolar telah diuraikan oleh Fruto(1994)
12. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik, yang melibatkan visualisasi struktur saluran GI, sering memerlukan
dikosongkannya isi dibagian usus. Klien tidak diizinkan untuk makan atau minum setelah tengah
malam jika esoknya akan dilakukan pemeriksaan, seperti pemeriksaan yang menggunakan
barium enema, endoskopi saluran GI bagian bawah atau serangkaian pemereksaan saluran GI
bagian atas. Pada kasus penggunaan barium enema atau endoskopi, klien biasanya meneri,ma
katartik dan enema. Pengosongan usus dapat mengganggu eliminasi sampai klien dapat makan
dengan normal.
Prosedur pemeriksaan menggunakan barium menimbulkan masalah tambahan. Barium mengeras
jika dibiarkan di dalam saluran GI. Hal ini dapat menyebabkan konstipasi atau impaksi usus.
Seorang klien harus menerima katartik untuk meningkatkan eliminasi barium setelah prosedur
dilakukan. Klien yang mengalami kegagalan dalam mengevakuasi semua barium, mungkin usus
klien perlu dibersihkan dengan menggunakan enema.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ELIMINASI URIN


Faktor-faktor yang Mempengaruhi Eliminasi Urine
1. Diet dan Asupan (intake)
Jumlah dan tipe makanan merupakan faiKtcw utama yang memengaruhi output
urine (jumlah urine). Protein dapat menentukan jumlah urine yang dibentuk. Selain
itu, juga dapat meningkatkan pembentukan urine.
2. Respons Keinginan Awal untuk Berkemih
Kebiasaan mengabaikan keinginan awal untuk berkemih dapat menyebabkan urine
banyak tertahan di dalam urinaria sehingga memengaruhi ukuran vesika urinaria
dan jumlah urine.
3. Gaya Hidup
Perubahan gaya hidup dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi dalam
kaitannya terhadap tersedianva fasilitas toilet.
4. Stres Psikologis
Meningkatnya stres dapat mengakibatkan meningkatnya frekuensi keinginan
berkemih. Hal ini karena meningkatnya sensitivitas untuk keinginan berkemih dan
jumlah urine yang diproduksi.
5. Tingkat Aktivitas
Eliminasi urine membutuhkan tonus otot vesika urinaria yang baik untuk fungsi
sfingter. Hilangnya tonus otot vesika urinaria menyebabkan kemampuan
pengontrolan berkemih menurun dan kemampuan tonus otot didapatkan dengan
beraktivitas.
6. Tingkat Perkembangan
Tingkat pertumbuhan dan perkembangan juga dapat memengaruhi pola berkemih.
I-Ial tersebut dapat ditemukan pada anak, yang lebih memiliki mengalami kesulitan
untuk mengontrol buang air kecil. Namun dengan usia kemampuan dalam
mengontrol buang airkecil
7. Kondisi Penyakit
Kondisi penyakit dapat memengaruhi produksi urine, seperti diabetes melitus.
8. Sosiokultural
Budaya dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi urine, seperti adanya
kultur pada masyarakat tertentu yang meaarang untuk buang air kecil di tempat
tertentu9. Kebiasaan Seseorang
Seseorang yang memiliki kebiasaan berkemih di mengalamikesulitan untuk
berkemih dengan melalui urineal/pot urine bila dalam keadaan sakit.

10. Tonus Otot


Tonus otot yang memiliki peran penting dalam membantu proses berkemih adalah
otioti kandung kemih, otot abdomen dan pelvis. Ketiganya sangat berperan dalam
kontraksi pengontirolan pengeluaran urine.
11. Pembedahan
Efek pembedahan dapat menye;babkan penurunan pemberian obat anestesi
menurunkan filtrasi glomerulus yang dapat jumlah produksi urine karena dampak
dari
12. Pengobatan
Pemberian tindakan pengobatan dapat berdampak pada terjadinya peningkatan
atau penurunan proses perkemihan. Misalnya pemberian diure;tik dapat
meningkatkan jumlah urine, se;dangkan pemberian obat antikolinergik dan
antihipertensi dapat menyebabkan retensi urine.
13. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik ini juga dap'at memengaruhi kebutuhan eliminasi urine,
khususnya prosedur-prosedur yang berhubungan dengan tindakan pemeriksaan
saluran kemih seperti IVY (intra uenus pyelogram), yang dapat membatasi jumlah
asupan sehingga mengurangi produksi urine. Se;lain itu tindakan sistoskopi dapat
menimbulkan edema lokal pada uretra yang dapat mengganggu pengeluaran urine.

NOMOR LIMA: INDIKATOR URIN NORMAL