Anda di halaman 1dari 22

I- LATAR BELAKANG

Vulva kaya dengan suplai darah dari pembuluh darah dan limfatik. Saluran
ini dapat mengalami obstruksi, dilatasi, ruptur, infeksi, atau dapat berkembang
menjadi lesi tumor, yang biasanya merupakan malformasi non-neoplasma.
Gangguan jinak pada vulva dan vagina adalah penyebab umum untuk kunjungan
ke dokter perawatan primer. Untungnya, sebagian besar gangguan yang
melibatkan vulva dan vagina adalah yang nonmalignant. Ini adalah kewajiban,
untuk memeriksa dan membedakannya dengan penyakit yang ganas dan
memerlukan penelitian lebih lanjut dan intervensi berbanding dengan penyakit
yang hanya perlu terapi topikal. 1,2
Gold standar untuk pengelolaan penyakit kronis vulva adalah biopsi untuk
menetapkan diagnosis jaringan. Jika ada keraguan mengenai lesi yang muncul,
biopsi harus dilakukan. Ketika mengevaluasi lesi vulva, tiga fitur harus
dipertimbangkan: (a) jenis lesi, (b) lokasi lesi, dan (c) temuan sistemik dan
laboratorium terkait.2 Tidak banyak dijumpai tumor pada daerah vulva dan vagina.
Pertumbuhan neoplastik di daerah ini terutama berasal dari epitel skuamosa dan
papiler serta jaringan masenkim. Jarang sekali ditemukan tumor jinak yang
berasal dari sel stroma pada daerah vagina.3
Daerah kulit di vulva adalah lebih lunak berbanding dengan tisu sekitarnya
karena perbedaan dari struktur, hidrasi, oklusi dan kerentangan terhadap geseran.
Karena itu, patologi yang melibatkan vulva sering muncul, walaupun estimasi
dari insiden adalah sedikit karena pasien tidak dilaporkan dan kesalahan dalam
mendiagnosa. Lesi bisa muncul akibat infeksi, trauma, neoplasia, atau dari respon
imun. Sebagai hasilnya, gejala yang muncul berbeda seperti nyeri, pruritus,
disparonia, perdarahan dan pelepasan sekret dan sebagainya.4

II- ANATOMI VULVA

Vulva (pukas) atau pudenda, meliputi seluruh struktur eksternal yang


dapat dilihat mulai dari pubis sampai perineum, yaitu mons veneris, labia mayora
dan labia minora, klitoris, selaput dara (hymen), vestibulum, muara uretra,
berbagai kelenjar, dan struktur vaskular.5

GAMBAR 1: ANATOMI VULVA (dikutip dari


kepustakaan 6)

Mons veneris
Mons veneris atau mons pubis adalah bagian yang menonjol di atas
simfisis dan terdiri dari jaringan lemak dan pada perempuan setelah pubertas
ditutupi oleh rambut kemaluan. Pada perempuan umumnya batas atas rambut
melintang sampai pinggir atas simfisis, ke bawah sampai sekitar anus dan paha.5,7
Labia mayora
Labia adalah lipatan kulit dan lemak yang terdiri dari mons pubis hingga
ke perineum. Permukaan labia lateral berpigmen dan berbulu, bagian dalam halus
dan mengandung banyak kelenjar sebasea, keringat dan kelenjar apokrin yang
mengeluarkan bau khas vulva. Substansi labia terdiri dari jaringan lemak vaskular
dengan banyak sistem limfatik, dan juga sisa-sisa peninggalan dari otot dartos. Ke
bawah dan ke belakang kedua labia mayora bertemu dan membentuk kommisura
posterior. Labia mayora analog dengan skrotum pada pria. Ligamentum rotundum
berakhir di batas labia mayora. Setelah perempuan melahirkan beberapa kali, labia
mayora menjadi kurang menonjol dan pada usia lanjut mulai mengeriput. Di

bawah kulit terdapat massa lemak dan mendapat pasokan pleksus vena yang pada
cedera dapat pecah dan menimbulkan hematoma.5,7

Gambar 2: Mons pubis dan Labia mayora (dikutip dari kepustakaan 7)


Klitoris dan labia minora
Klitoris adalah homolog penis dan terbentuk dengan cara yang sama dari
dua corpora cavernosa dan kelenjar jaringan ereksi spons yang memiliki banyak
suplai darah dari arteri klitoris. Klitoris berukuran kira-kira sebesar kacang ijo,
tertutup oleh preputium klitoridis dan terdiri atas glans klitoris terdiri atas jaringan
yang dapat mengembang, penuh dengan urat saraf, sehingga sangat sensitif.5,7
Labia minora adalah suatu lipatan tipis dari kulit sebelah dalam labia
majora. Ke depan kedua labia minora bertemu yang di atas klitoris membentuk
preputium klitoridis dan yang di bawah klitoris membentuk frenulum klitoridis.
Ke belakang kedua labia minora juga bersatu dan membentuk fossa navikulare.
Fossa navikulare ini pada perempuan yang belum pernah bersalin tampak utuh,
cekung seperti perahu; pada perempuan yang pernah melahirkan kelihatan tebal
dan tidak rata. Kulit yang meliputi labia minora mengandung banyak pembuluh
darah dan beberapa otot polos yang menyebabkan labia minora ini dapat
mengembang.5

Gambar 3: Klitoris dan labia minora (dikutip dari kepustakaan 7)


Vestibulum
Vestibulum adalah daerah antara labia minora. Vestibuli

mempunyai

bukaan dari uretra dan vagina orifisium dan kelenjar Bartholini dan kelenjar
Skene. Fossa navikularis hilang ketika melahirkan. Kelenjar vestibular yang letak
lebih rendah adalah kelenjar mukosa yang muncul pada permukaan vestibuli.7

Gambar 4:
Vestibulum
(dikutip dari
kepustakaan 7)

Orfisium urethra eksterna

Orifisium uretra eksternal dalam keadaan normal adalah sebuah tonjolan


kecil dengan celah vertikal. Orifisium kecil pada saluran paraurethral (Skene)
terletak di dalam atau di luar meatus. Kelenjar paraurethral merupakan homolog
dari prostat dan membentuk sistem kelenjar tubular sekitar sebagian besar uretra.7

Gambar 5 : Orifisium urethra eksterna (dikutip dari kepustakaan 7)


Orifisium Vagina
Orifisium vagina terletak di garis tengah tertutup sepenuhnya dengan
himen. Himen merupakan septum jaringan tipis dibatasi oleh epitel skuamosa
dengan lubang kecil (kadang-kadang beberapa) sebagai aliran darah ketika
menstruasi. Himen robek oleh coitus dan bisa hilang ketika melahirkan. Beberapa
bagian kulit tertinggal disebut karunkulae mirtiformis. Bentuk himen tidak dapat
diandalkan sebagai bukti medikolegal, apakah keperawanan atau sudah
melahirkan.7

Gambar 6: orifisium vagina dan himen (dikutip dari kepustakaan 7)


Kelenjar Bartholini

Kelenjar Bartholini adalah homolog dari kelenjar bulbourethral (Cowper)


pada pria tetapi terletak dangkal pada membran perineal. Setiap kelenjar
sebagiannya tertutup oleh jaringan bulbus ereksi dan disalurkan oleh duktus
dengan panjang sekitar 2 cm yang berhubung ke vagina orifisium lateralis ke
selaput dara. Kelenjar Bartholini tidak teraba dalam keadaan sehat.5

Gambar 7 : kelenjar Bartholini dan Bulbus


vestibuli (dikutip dari kepustakaan 7)

Bulbus Vestibuli
Bulbus vestibuli sinistra et dekstra merupakan pengumpulan vena terletak
di bawah selaput lendir vestibulum, dekat ramus ossis pubis. Panjangnya 3-4 cm,
lebarnya 1-2 cm dan tebalnya 0,5-1 cm. Bulbus vestibuli mengandung banyak
pembuluh darah, sebagian tertutup oleh muskulus iskio kavernosus dan muskulus
konstriktor vagina. Embriologik sesuai dengan korpus kavernosum penis. Pada
waktu persalinan biasanya kedua bulbus tertarik ke arah atas ke bawah arkus
pubis, akan tetapi bagian bawahnya yang melingkari vagina sering mengalami
cedera dan sekali-sekali timbul hematoma vulva atau perdarahan.5

III- ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO


6

Etiologi sebenar terjadinya tumor vulva masih tidak diketahui. Namun


antara faktor predisposisi terjadinya tumor vulva adalah infeksi. Pertamanya
infeksi bakteri. Infeksi bakteri yang biasa menyebabkan timbul gejala adalah
Staphylococcus atau Streptococcus dan lain-lain. Selain itu, infeksi Virus Herpes
Simpleks adalah penyebab biasa terjadi ulkus atau benjolan pada vulvar. Selain
itu, penyebab lain adalah seperti kongenital stenosis atau atresia pada kelenjar di
vulva, pengentalan mukus, trauma mekanikal seperti laserasi atau disebabkan oleh
episiotomi bisa menyebabkan timbulnya benjolan atau massa.8,9
Faktor risiko yang bisa terjadinya tumor vulva adalah yang berkait dengan
aktivitas seksual, penggunaan produk feminin kebersihan (douching, sabun,
parfum), dan obat-obatan (pil kontrasepsi oral, antibiotik) dapat mengubah flora
normal vagina. Kondisi medis yang mendasari, seperti diabetes, dapat
mempengaruhi perkembangan gangguan vulvovaginal tertentu. Selain itu, pakaian
yang terbuat dari kain sintetik yang menahan panas dan kelembaban dapat
memperburuk gejala vulvovaginal.1

IV- DIAGOSIS TUMOR VULVA


Evaluasi pasien dengan tumor vulva membutuhkan anamnesis terpimpin
dan pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan mukosa dan permukaan kulit
lainnya. Pertanyaan khusus mengenai gejala vulva, rasa gatal, dan infeksi
sebelumnya harus ditanyakan.1 Gold standar untuk mendiagnosa lesi atau benjolan
di vulva adalah dengan melakukan biopsi untuk mendapatkan diagnosa secara
histologi.2

V- TUMOR JINAK PADA VULVA


A.

Tumor Kistik Vulva


Kista Barthholini

1)

Kelenjar Bartholini menghasilkan sekresi bening, mukoid yang


menyediakan pelumasan yang terus menerus untuk permukaan vestibular.
Kelenjar ini terletak di posisi jam 5:00 dan 7:00 pada cincin himen.
Kelenjar ini dilapisi oleh epitel transisional dan rentan terhadap obstruksi,
yang menghasilkan pembentukan kista. Kista ini dapat menjadi
superinfeksi, yang bermanifestasi sebagai abses. Lesi ini biasanya
polymikrobial, meskipun sekitar 10% dapat disebabkan oleh Neisseria
gonorrhoeae.8
Kista bartholini terjadi akibat radang. Terjadi akibat oklusi duktus
kelenjar Bartholini oleh akumulasi mukus. Kista Bartholini diawali oleh
infeksi akut pada vulva, terutama oleh Gonokokkus yang kemudian
membentuk abses. Umumnya asimptomatik dan berukuran 1 hingga 8
sentimeter.8,10
Obstruksi saluran utama adalah hasil dari retensi sekresi kelenjar
Bartholin dan dilatasi kistik. Infeksi merupakan penyebab penting
obstruksi; Namun, penyebab lain termasuk mukus mengental dan kelainan
bawaan yaitu penyempitan dari saluran kelenjar Bhartholini antara faktor
terjadi kista Bartholini. Infeksi sekunder dapat menyebabkan pembentukan
abses

berulang.

Pembesaran

kelenjar

Bhartholini

pada

pasien

pascamenopause mungkin merupakan proses yang ganas (meskipun


insiden adalah <1%), dan harus dipertimbangkan untuk dilakukan biopsi.
Gejala akut biasanya terjadi akibat infeksi, yang meimbulkan gejala seperti
rasa nyeri, dan dispareunia. Jaringan sekitarnya menjadi edematous dan
meradang. Sebuah massa yang lembut berfluktuasi biasanya bisa teraba.
Jika suatu proses inflamasi yang luas terjadi, muncul gejala sistemik atau
tanda-tanda cenderung infeksi.1
Gambaran Klinik
Bila pembesaran kistik ini disertai dengan infeksi lanjutan atau
sekunder, umumnya tidak akan menimbulkan gejala-gejala khusus dan
hanya dikenali melalui palpasi. Sementara itu, infeksi akut disertai
penyumbatan, indurasi, dan peradangan. Gejala akut inilah yang sering
membawa penderita untuk memeriksakan dirinya. Gejala utama akibat
8

infeksi biasanya berupa nyeri sentuh dan dispareunia. Pada tahap


supuratif, dinding kista berwarna kemerahan, tegang, dan nyeri. Bila
sampai tahap eksudatif di mana sudah terjadi abses, maka rasa nyeri dan
ketegangan dinding kista menjadi sedikit berkurang disertai dengan
penipisan dinding di area yang lebih putih dari sekitarnya. Umumnya
hanya terjadi gejala dan keluhan lokal dan tidak menimbulkan gejala
sistemik kecuali apabila terjadi infeksi yang berat dan luas.3
Terapi pada Kista Bartholini
Kista pada vulva ini umum hanya memerlukan pengangkatan jika
hanya menganggu saja. Pada kista yang mengalami infeksi dapat
dilakukan insisi.7 Salah satu kesalahan umum dalam manajemen kista
Bartholini adalah insisi prematur dan drainase pada kista. Pengobatan
primer terdiri dari drainase kista yang terinfeksi atau abses, sebaiknya
dengan memasukkan kateter Word (bola lampu berujung kateter tiup) atau
dengan marsupilasasi (Gambar 8). Insisi sederhana dan drainase dapat
memberikan bantuan sementara. Namun, bisa menjadi terhambat dan
dilatasi kistik berulang bisa kambuh. Antibiotik yang tepat harus
diberikan jika peradangan sekitarnya terjadi. Eksisi kista mungkin
diperlukan

dalam

kasus-kasus

berulang

atau

pada

pasien

pascamenopause.1
Abses harus dibiarkan sepenuhnya matur sehingga berkembang
dengan baik, dengan struktur tidak berdinding terbentuk. Pada titik ini,
sayatan harus dibuat di sisi mukosa, dimana rongga abses paling dekat
dengan mukosa. Pengobatan mungkin termasuk insisi sederhana dan
drainase, penggunaan kateter Word, atau marsupilasasi. Obat penahan
sakit dan kompres hangat dilakukan sampai abses berkembang dengan
baik. Pasien pascamenopause dengan pembesaran kelenjar atau saluran
kista Bartholini harus dilakukan tindakan segera karena ada peningkatan
risiko keganasan dalam kelompok usia ini,2
Jika kista asimtomatik dan kecil, tidak diperlukan perawatan. Kista
yang memiliki pembentukan abses berulang, merupakan gejala, atau
keduanya membutuhkan perawatan bedah. Insisi sederhana dan drainase

dapat memberikan bantuan sementara. Namun, dengan insisi cenderung


terjadi obstruksi, pelebaran kistik, dan dapat menyebabkan infeksi, atau
keduanya. Dengan demikian, insisi permanen untuk drainase harus
ditetapkan, atau total eksisi kelenjar dan saluran harus dilakukan.9
Kista Bartholini ini biasanya terjadi pada wanita yang lebih muda,
dan pengobatan pada wanita muda diberikan hanya jika kista terinfeksi,
membesar, atau menghasilkan gejala. Duktus kista atau kelenjar itu
sendiri dapat terinfeksi dan membentuk abses. Infeksi ini biasanya
polimikrobial, dengan anaerobik dan bakteri vagina aerobik terisolasi.
Kista Kelenjar atau duktus Bartholini yang terinfeksi harus ditangani
dengan antimikroba (misalnya, Ceftriaxone 125 mg intramuskuler atau
Cefixime 400 mg secara oral); Klindamisin (atau Flagyl) dapat
ditambahkan untuk infeksi anaerob. Azitromisin ditambahkan jika
Chlamydia trachomatis hadir.2

10

Gambar 8: A. Insisi pada Marsupialisasi. B.Marsupialisasi kista


Bartholini (dikutip dari kepustakaan 11)
Gambar 9: Eksisi kelenjar kista Bartholini. A. Insisi dilakukan
pada mukosa kista. B. Diseksi bermula, dengan menggunakan
skapel. C. Diseksi dilanjutkan dengan diseksi tajam dan tumpul.
D. Diseksi hampir selesai. E. Kista intak setelah diangkat.
(dikutip dari kepustakaan 11)

2) Kista Pilosebasea
Kista yang berasal dari epidemal yang berhubung dengan skuama
epithelium yang mengandung minyak dan sel epithelium deskuamasi.
Kista inklusi epidermal ini bisa terjadi akibat trauma jahitan pada fragmen
kulit ketika penutupan mukosa dan kulit vulva setelah trauma atau

11

episiotomi. Namun, kebayakan kista muncul dari oklusi dari kelenjar


pilosebasea. Kista ini biasanya kecil, soliter, dan asimptomatik.1
Merupakan kista yang paling sering ditemukan di vulva. Kista ini
terbentuk akibat adanya penyumbatan yang disebabkan oleh infeksi atau
akumulasi material sebum pada saluran tersebut pada duktus sekretorius
kelenjar sebasea. Kista yang berasal dari lapisan epidermal biasanya
dilapisi oleh epitel skuamosa dan berisi material seperti minyak atau lemak
dan epitel yang terlepas dari dinding dalam kista. Kista inklusi epidermal
dapat terjadi dari trauma (benturan) atau prosedur klinik (penjahitan)
mukosa vulva yang membawa material atau fragmen epidermal.3
Gambaran Klinik
Sebagian besar kista epidermal terbentuk dari oklusi duktus
pilosebasea. Kista jenis ini, umumnya berdiameter kecil, soliter dan
asimtomatik. Pada kondisi tertentu, kista ini dapat terjadi di beberapa
tempat pada labia mayora. Pembentukan kista pilosebasea jenis inklusif,
tidak terkait dengan trauma dan fragmen epidermal di lapisan bawah kulit.
kista jenis ini berasal dari jaringan embrionik yang pada akhirnya
membentuk susunan epitel kelenjar pada lapisan dermis. Umumnya, kista
pilosebasea tidak membesar dan asimtomatik kecuali apabila dianggap
menganggu estetik atau mengalami infeksi sekunder maka perlu dilakukan
eksisi dan terapi antibiotika.1,3

Terapi
Walaupun dapat berjumlah lebih dari satu, kista pilosebasea tidak
banyak menimbulkan keluhan kecuali apabila terjadi infeksi sehingga
menimbulkan rasa nyeri lokal dan memerlukan tindakan insisi dan
drainase.3
3) Kista Papilaris
Kulit di daerah mons pubis dan labia mayora, banyak mengandung
kelenjar keringat. Kelenjar apokrin ini akan mulai berfungsi secara normal
setelah masa pubertas. Sebagian besar hidradenoma merupakan kista
soliter dan dengan diameter kurang dari 1 cm. Hidradenoma pada vulva
12

mirip dengan gangguan serupa yang terjadi pada daerah aksila dan akan
semakin bermasalah jika disertai dengan iritasi lokal yang kronis.3
Hidradenoma pada vulva merupakan tumor jinak yang jarang
terjadi. Pertama kali dinyatakan oleh Sschikele pada tahun 1902.
Karakteristik tumor ini berbentuk adematous, dimana sering disalah
diagnosa sebagai sebuah kanker.11
Gambaran Klinik
Terjadi penyumbatan pada duktus sekretorius kelenjar keringat
dapat menimbulkan kista-kista kecil (microcyst) yang disertai rasa gatal
dan hal ini dikenal sebagai penyakit Fox-Fordyce. Penyebab utama infeksi
kelenjar apokrin di daerah ini adalah streptokokus dan stafilokokus. Infeksi
berulang dan berat dapat menimbulkan abses dan sinus-sinus eksudatif di
bawah kulit di mana kondisi ini dikenal sebagai hidradenitis supurativa,
yang seringkali dikelirukan sebagai folikulitis. Pada kondisi yang semakin
buruk, dapat terjadi destruksi jaringan, eksudasi, dan limmfadema
sehingga menyerupai limfopatia. Tahapan akhir dari hidradenoma,
menyebabkan bintik-bintik atau penonjolan halus papilomatosa pada kulit
vulva sehingga menyerupai infeksi difus pada kelenjar sebasea.3
Secara klinis, hidradenoma berukuran sangat kecil, dengan
diameter kurang dari 1 cm. Konsistensinya bisa bervariasi dari lunak
hingga ke sangat lunak seperti kista sebasea, yang sering mengelirukan
Kebanyakan lesi ini ditemukan pada lipatan interlabia, pada labia mayora
atau pada perineum. Tumor ini berasal dari apokrin, jarang ditemukan pada
labia minora.11
Penyakit Fox-Fordyce ini mempunyai karakteristik dengan erupsi
pruritus kronis dengan papula kecil atau bentuk kista dari keratin yang ada
pada kelenjar apokrin. Ia biasanya muncul pada abdomen bawah, mons
pubis, labia mayora, dan bagian dalam lipatan paha. Hidradenitis
supurativa adalah kondisi kronis yang melibatkan kelenjar apokrin dengan
pembentukan multipel nudular, berparut, terowong, sinus yang muncul
pada aksila, vulva dan perineum. Hiperpigmentasi dan infeksi sekunder
sering terjadi. Hidradenitis supurativa bisa menjadi sangat nyeri.12

13

Terapi
Intervensi
pertumbuhan

terapi

bakteri,

dalah
terapi

bertujuan

infeksi,

dan

untuk

mengurangkan

mengurangkan

atau

menghilangkan nyeri, drainase dan odor. Untuk lesi ringan yang disertai
pembentukan

pustulasi

berulang,

perjalanan

penyakitnya

dapat

dimodifikasi dengan penggunaan pil kontrasepsi hormonal karena sekresi


kelenjar apokrin fungsional pada area lesi dapat dikurangi. Pil kontrasepsi
hormonal tersebut dapat pula digunakan untuk mengurangi pruritus kronis
pada sindroma Fox-Fordyce pada penderita hidradenoma. Eksisi hanya
dapat dilakukan pada hidradenoma soliter dengan keluhan utama pruritus
vulva. Pada gangguan yang bersifat supuratif dan ekstensif, biasanya
dilakuakan tindakan debridement untuk menghentikan proses destruktif
terhadap struktur normal jaringan epidermal vulva.Hidradenitis supurativa
bisa menjadi sangat nyeri. Ia sering diterapi dengan antibiotik (dengan
meliputi kedua-dua bakteri aerob dan anaerob). Terapi estrogen dan
antiandrogen telah dilaksanakan, terapi bedah dengan eksisi luas dilakukan
bila perlu. Terapi dengan isoteritenoin dan steroid telah dilporkan telah
berjaya menangani masalah ini.1,2,3,12
4) Hidrokel Kanalis Nuck
Penyumbatan prosesus vaginalis yang persisten (canal of Nuck)
juga dapat menimbulkan tumor kistik atau hidrokel. Dalam fase tumbuh
kembang bayi di dalam kandungan, inersio dari ligamentum rotundum
pada labia mayora, diikuti dengan lipatan peritoneum yang dikenal sebagai
kanalis dari Nuck. Kanalis ini akan mengalami obliterasi pada
pertumbuhan selanjutnya. Pada kondisi tertentu, kanalis ini tetap ada
hingga usia dewasa sehingga menjadi tempat akumulasi cairan serosa dan
terbentuk hidrokel.3 Hidrokel adalah tumor kistik vulva yang jarang
terjadi. Kista ini muncul karena dilatasi pada labium mayus dan sudut
labium minora dan harus dibedakan dari kista kelenjar Bartholini.11
Gambaran Klinik

14

Tumor kistik ini bermanefestasi sebagai penonjolan translusen


yang memanjang pada 1/3 atas labium mayus dan dapat meluas hingga ke
kanalis inguinalis. Kadangkala cairan di dalam kista tersebut dapat
dikempiskan dengan cara menekan penonjolan kistik tersebut secara
perlahan-lahan atau, malahan dapat mengempis sendiri apabila penderita
berbaring karena adanya hubungan kanalis Nuck dengan kavum
peritoneum. Jika terjadi hernia inguinalis pada penderita ini, maka jalur
masuk usus ke labium mayus adalah melalui kanalis Nuck.3
Hidrokel merupakan sebuah kista, hernia yang berisi cairan dari
peritoneum dan meluas dari kanalis inguinalis hingga ke vulva. Apabila
kantung ini meluas ke kanalis inguinalis, tumor kistik ini dikenali sebagai
kista kanalis Nuck. Pada kasus yang jarang terjadi, bagian dari usus bisa
mengikuti jalur dari ligamentum, membentuk hernia dalam vulva.11

Gambar 10: hidrokel yang disebabkan oleh ekstensi dari


kantong peritoneum dengan ligamentum bulat dari kanalis
Terapi
inguinals
vulva. (dikutip dari
11)dilakukan dengan
Upaya
untuk ke
menghilangkan
kistakepustakaan
kanalis Nuck

jalan melakukan eksisi kantung kista yang terjadi. 3 Apabila hidrokel


diterapi sebagai kista kelenjar Bartholini dengan insisi dan drainase, cairan
peritoneum akan terkumpul kembali di atas area drainase, dan hidrokel
kembali terjadi. Terapi bedah untuk hidrokel dimulai dengan insisi massa

15

kistik. Cincin inguinalis eksternal diidentifikasi dengan memasukkan jari


ke dalam kista secara anterior ke kanalis inguinalis. Jalur peritoneum di
eksisi dari kavum, dan cincin inguinalis eksternal ditutup bersamaan
dengan tisu pada vulva anterior. Jika hernia muncul, herniorafi dilakukan
dengan eksisi peritoneum yang menutupi ligamen.11
B. Tumor Solid Vulva
1) Fibroma
Fibroma merupakan tumor padat vulva yang paling banyak
ditemukan. Tumor ini merupakan proliferasi dari jaringan fibroblas
labium mayus. Secara mikroskopik, ia menyerupai fibroid dari uterus.
Proses jinak ini harus disingkirkan karena leiomiosarkoma atau sarkoma
dari vulva bisa muncul di area yang sama, dan pengangkatan perlu
dilakukan untuk menegakkan diagnosa. Dilaporkan insidens terjadinya
fibroma adalah 0,03 persen.2,3,4
Gambaran Klinik
Fibroma muncul dari hasil proliferasi fibroblast dan mempunyai
ukuran yang bervariasi dari sekecil nodul subkutaneus hinggan sebesar
tumor polipoid. Tumor yang besar biasanya terjadi degenerasi
myxomatous dan sangat lunak dan kistik pada palpasi.1 Hampir sebagian
besar fibroma pada vulva merupakan tumor bertangkai dengan diameter
kecil dan tidak dikenali oleh penderita. Pertumbuhan lanjut dan
pembesaran ukuran fibroma sehingga menimbulkan gangguan aktivitas
seksual/membatasi mobilitas penderita menyebabkan mereka datang ke
fasilitas kesehatan atau klinisi. Dengan demikian, gangguan atau gejala
yang ditimbulkan sangat tergantung dari diameter tumor. Penderita
mungkin tidak menyadari adanya pertumbuhan neoplastik dan tidak
mengeluhkan sesuatu tetapi bila pertumbuhan tumor tergolong cepat
maka dapat timbul gejala-gejala mekanis seperti nyeri, dorongan pada
uretra, gangguan pada saat senggama terkait dengan diameter tumor dan
organ sekitar yang terdesak/terdorong. Lesi pertamanya muncul di labia

16

mayora, dan ukuran rata-rata dari 0,6 hingga 0,8 cm. Lesi yang besar
sering menjadi pedunkulasi dengan tangkai yang panjang dan bisa
meyebabkan nyeri atau dispareunia.3,4
Terapi
Eksisi fibroma melalui prosedur operatif merupakan cara terbaik
untuk mengangkat tumor pada vulva. Seperti halnya dengan beratringannya gejala maka mudah-susahnya eksisi fibroma tergantung dari
lokasi dan diameter tumor. Eksisi bedah merupakan terapi primer untuk
lesi yang simptomatik.3,4
2) Polip Fibroepitel
Polip fibropitel merupakan tumor jinak dan harus diangkat untuk
memastikan ia tidak ganas. Tumor ini bisa tumbuh dari dinding lateral
vagina setelah histerektomi. Tumor padat yang merupakan campuran dari
jaringan fibrosa dan epitel dapat terjadi di area mana pun di vulva
terutama apabila area tersebut rentan terhadap iritasi.2,3
Gambaran Klinik
Polip fibroepitelial disebut juga dengan akrokordon atau tonjolan
kulit (skin tag), merupakan tojolan kulit polipoid, bertekstur lunak dan
halus, berwarna kemerahan seperti jaringan otot. Tumor ini hampir tidak
pernah tumbuh ke arah ganas dan hanya mempunyai arti klinis bila
struktur polipoid ini mengalami trauma dan terjadi perdarahan.tumor ini
jinak tapi perlu di eksisi untuk mendiagnosa.2,3
Terapi
Terapi untuk polip fibroepitel ini adalah eksisi sederhana (bedah
minor) atau menggunakan teknik kauterisasi unipolar atau bipolar. Polip
fibroepitel ini tidak perlu dibuang kecuali menimbulkan gejala.3,8

3) Lipoma

17

Lipoma merupakan tumor jinak vulva kedua paling banyak.


Lipoma merupakan tumor jinak yang terdiri dari tisu adipose. Walaupun
cukup banyak sel lemak yang membentuk struktur di daerah mons pubis
dan vulva tetapi jarang sekali ditemukan lipoma di daerah ini. Elemem
utama penyusun lipoma adalah sel lemak dan jaringan fibrosa.2,3,8

Gambar 10 : Lipoma (dikutip dari kepustakaan 6)


Gambaran Klinik
Lipoma terdiri dari kombinasi sel lemak yang matang dan jaringan ikat. Ia
tidak dapat dibedakan dengan fibroma degeneratif kecuali dilakukan pemeriksaan
histologi. Gambaran klinik lipoma dapat dikatakan sama degan fibroma dengan
ukuran kecil dan sedang di daerah vulva. Kadang-kadang diperlukan pemeriksaan
mikroskopik atau histopatologi untuk membedakan dua kelainan ini. Lipoma pada
vulva merupakan tumor jinak dengan batas yang tegas dan dapat digerakkan bebas
dari dasarnya. Jarang sekali pasien mengeluhkan tumor ini karena tidak
menyebabkan gangguan yang berarti di daerah genital ataupun gangguan aktivitas
seksual.1,3

Terapi
Terapi bedah secara eksisi merupakan terapi primer pada tumor ini. Lesi
tumor ini kurang kapsul jaringan ikat dan diseksi menyeluruh bisa dipersulit
18

dengan perdarahan dan memerlukan insisi yang lebih luas. Eksisi bedah ini
memerlukan anestesi yang secukupnya dan alatan yang lengkap.3,4
4) Kondiloma akuminatum
Kondiloma akuminata (kutil kelamin) disebabkan oleh kelompok
papovavirus.1 Merupakan salah satu dari tumor solid vulva yang berasal dari
epitel. Penyakit ini disebabkan oleh virus HPV tipe 6 dan II, dan akhir-akhir ini
juga dimasukkan ke dalam golongan penyakit yang ditularkan melalui hubungan
seksual. Gambar histologik adalah suatu papiloma yang sekali-kali setelah lama
dapat menjadi ganas gambaran makroskopik adalah seperti jengger ayam.
Kondiloma akuminatum dapat tumbuh pada vulva dan sekitar anus sampai vagina
dan serviks. 3 Kondiloma akuminata yang disebabkan oleh infeksi human
papillomavirus (HPV). Mereka dicirikan sebagai jenis berisiko tinggi (HPV 16,
18, 31, 33, dan 35), yang dikaitkan dengan peningkatan risiko neoplasia serviks
dan jenis rendah risiko (6, 11, 42, 43), yang berhubungan dengan kutil kelamin.8
Gambaran Klinik
Kondiloma akuminata adalah daging berwarna dan sering multifokal dan
mungkin papiler, verrucous, atau papular dalam penampilan. Lesi eksofitik
mungkin pruritus dan dapat berdarah atau menjadi superinfeksi. Di antara
perempuan yang aktif secara seksual, lebih dari 50% telah terinfeksi dengan satu
atau lebih jenis HPV genital. Sekitar 15% memiliki bukti infeksi saat ini, 45%
sampai 50% dari yang dengan jenis resiko tinggi, dan 1% memiliki kutil kelamin;
50% sampai 70% dari pasangan seksual pasien dengan kutil kelamin juga
ditemukan terinfeksi. Kekambuhan adalah umum. Laporan transmisi ibu-janin
melalui jalan lahir sangat langka.8
Pertumbuhan papiler, kecil pada awalnya, cenderung menyatu dan
membentuk massa seperti kembang kol besar yang dapat berkembang biak dengan
cepat selama kehamilan.Sebelum pengobatan dilakukan, seluruh saluran kelamin
harus diperiksa dengan colposcope dan smear sitologi yang diambil dari leher
rahim. Mengingat koeksistensi sering penyakit menular seksual lainnya, studi
yang sesuai ditunjukkan. Ada variasi dalam potensi onkogenik dari papovaviruses
manusia; Oleh karena itu, biopsi dapat diindikasikan. Masa inkubasi munculnya
penyakit klinis setelah terpapar adalah 3 bulan atau lebih. Penyakit klinis yang
jelas mungkin hanya mewakili area kecil dari permukaan yang terinfeksi. Kambuh
setelah pengobatan yang cepat dapat mewakili reinfeksi atau manifestasi klinis
penyakit laten. Selama perawatan, pasien harus menjaga area kelamin sebersih
mungkin dan menjauhkan diri dari hubungan seksual atau pasangannya

19

menggunakan kondom. Jika penyakit klinis berulang, maka pasangan seksual


harus diperiksa dan diobati seperlunya.1
Terapi
Pengobatan standar adalah untuk menutupi kutil dengan asam
trikloroasetat atau bikloroasetik setiap minggu sampai kutil hilang. Bentuk-bentuk
alternatif pengobatan termasuk cryosurgery, electrosurgical, eksisi, dan laser
penguapan. Beberapa penulis merekomendasikan ablasi laser semua lesi terlihat
ditambah marjin kulit yang berdekatan yang normal di bawah bimbingan
kolposkopi. Interferon intralesi telah terbukti efektif dalam kasus-kasus refrakter.
Obat self-administered termasuk podofiloks solusi 0,5% atau gel atau imiquimod
5% kream. Agen kemoterapi seperti 5-fluorouracil salep atau bleomycin dalam
bentuk suntikan intralesi dapat digunakan sebagai terapi lini kedua. Vaksin
terhadap HPV tipe risiko tinggi tertentu telah baru-baru ini dikembangkan. Studi
awal telah membuktikan vaksin aman dan efektif dalam pencegahan infeksi HPV
persisten serta neoplasia intraepitel serviks (CIN) .1,8

VI- KESIMPULAN

20

Penyakit Vulvovaginal dapat menjadi masalah yang menantang. Banyak


masalah bisa timbul jika diagnosis yang akurat tidak didirikan. Untuk
menegakkan diagnosis penyakit maka harus dilakukan biopsi. Jika ada sebarang
kekeliruan, biopsi adalah wajib dilakukan untuk menyingkirkan keganasan.
Setelah diagnosis yang akurat didirikan, terapi dapat selektif diarahkan ke
masalah.Penyakit bisa dapat menjadi kronis, dan penyakit ini dapat berkembang
dari waktu ke waktu. Dengan demikian, kewaspadaan konstan dan pemeriksaan
ulang dengan rebiopsy mungkin diperlukan ketika mengikuti pasien. Hasil yang
memuaskan biasanya dapat dicapai bila diagnosis yang akurat ditegakkan.2
Kadar insiden untuk tumor jinak solid vulva adalah rendah, tetapi
mempunyai banyak variasi, tumor ini termasuk fibroma, fibromioma, fibromioma,
lipoma dan lain-lain yang dilaporkan. Tumor-tumor ini bisa berasal dari tiga
lapisan germinal yang terdapat di area anogenital. Perubahan degeneratif dan
nekrosis sering terjadi pada tumor yang besar dan tidak harus dikelirukan dengan
tumor yang ganas. Lipoma sering kali dikelirukan dengan lesi kista karena
konsistensinya.11
Iritasi dari vulva akan menyebabkan pruritus dengan ekskoriasi, maserasi
kulit vulva, atau fisura yang bisa berdarah. Pemeriksaan yang teliti harus
dilakukan apabila munculnya gejala di genitalia. Abses dari kelenjar Bartholini
dan kelenjar Skene berkait dengan kedua-dua organisme aerob dan anaerob,
dengan infeksi campuran yang diperkirakan hampir 60% daripadanya, dan abses
vulva dan labia yang selebihnya.12

REFERENSI
1. Alan H., Lauren N., Murphy D, Neri Laufer, Preinvasive disease of the
vulva, Current diagnosis and treatment in obstetric and gynecology, The
Mc Graw Hill Companies, USA,2007.

21

2. Wilson Sawa, Michael P. Hopkins, Benign disorder of vulva and vagina,


Glass office gyneology, sixth edition, Lippincolt Willian & Wilkins,
Texas, 2006.
3. Mas Soetomo Joedso Poetro S..Tumor jinak pada alat-alat genital; vulva,
Ilmu kandungan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta,
2014. Halaman 261-263.
4. Schorge, Schaffer, Halvorson et all, Benign disorder of the lower
reproductive tract, Williams Gynecology, The McGraw-Hill Companies,
US, 2008.
5. Hanifa Winknjosastro, Anatomi alat kandungan, Ilmu Kebidanan, Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 2014. Halaman 115-117.
6. Pteifer, Samantha M., Vulvovaginitis, NMS obstetric and gynecology,
sixth edition, Wippincolt Williams and Wilkins, Philadelphia, 2008.
7. David Mc Kay Hart, Jane Norman, Anatomy of reproductive tract,
Gynecology illustrated, Harcourt Publishers limited, London, 2000.
Halaman 13-15.
8. Julie Philips, Kamal Hamod, Robert L., Diseases of vulva, The Johns
Hopkins manual of gynecology and obstetrics, third edition, Lippincolt
Williams & Wilkins, Maryland, 2007.
9. Havens, Carol S., Sullivan, Nancy D, Diseases of vulva, Manual of
outpatient gynecology, fourth edition, Lippincolt Williams & Wilkins,
Caifornia, 2007.
10. Lori A., Colleen M, Benign vulvovaginal disorders, Danforths obstetrics
and gynecology, Tenth edition, Lippincoltt Williams & Wilkins, California,
2008.
11. John A. Rock, Howard W. Jones III, Surgery condition of vulva, Te
Lindes Operative Gynecology, tenth edition, Lippincolt Williams &
Wilkins, New York, 2008.
12. Paula J. Hillard Adams, Benign disease of female reproductive tract, Berek
& Novaks Gynecology, fourteenth edition, Lippincolt Williams &
Wilkins, California, 2007.

22