Anda di halaman 1dari 39

Respon Sel

terhadap Stres dan Toksik

Fadhlina Muharmi Harahap

PATOLOGI
Ilmu yang mempelajari
perubahan struktural,
biokimia, dan fungsional
dalam sel, jaringan, dan
organ yang mendasari
penyakit.

PATOLOGI
UMUM
Reaksi umum sel dan
jaringan terhadap
rangsangan berbahaya

SISTEMIK
Meneliti perubahan dan
mekanisme yang mendasari
penyakit organ tertentu

4 Aspek Utama Patologi

Respon
Sel
terhadap
Stres &
Rangsang
an
Berbahaya

Respon Sel terhadap Jejas


Penyebab jejas

Respon Sel

Perubahan fisiologis ; jejas non letal


- Kebutuhan , stimulasi
(cth : faktor pertumbuhan, hormon)
- Nutrisi <<< , stimulasi
- Iritasi kronik (fisika atau kimia)

Adaptasi sel
-Hiperplasia, hipertrofi

<<< suplai O2; jejas kimia; infeksi


mikroba
-Akut dan sesaat

Jejas sel
-Jejas sel akut dan
reversibel
-Perubahan pembengkakan
lemak

- Atrofi
- Metaplasia

-Progresif dan berat


-Jejas ireversibel
kematian sel
Necrosis
Apoptosis
Perubahan metabolik, genetik atau
didapat; jejas kronik

Akumulasi intraseluler;
kalsifikasi

Penebal
an
dinding
ventrikel
kiri

Area
iskem
ik
Nekros
is

Adaptasi Pertumbuhan &


Differensiasi Sel
HIPERTROFI
ukuran sel ukuran organ
Sel baru (-) sel bertambah besar
ukuran sel sintesis dan penambahan
komponen struktur intrasel
Fisiologis hipertrofi uterus selama
kehamilan
Patologis hipertrofi miokard pada
hipertensi

Hipertrofi Fisiologis pada Uterus


Selama Kehamilan

Mekanisme Biokimia pada


Hipertrofi Miokard

HIPERPLASIA
jumlah sel
Sering terjadi bersama hipertrofi dan
dicetuskan oleh stimulus eksternal yang
sama
Hiperplasia sel yang dapat membelah
Fisiologis dan Patologis

Fisiologis aksi hormon atau faktor


pertumbuhan :
Kebutuhan untuk kapasitas fungsional
hormon organ sensitif
Proliferasi epitel glandular mammae sewaktu
pubertas dan kehamilan juga disertai dengan
hipertrofi

Kebutuhan untuk kompensasi setelah


kerusakan
Parsial hepatektomi sel yang tertinggal
berproliferasi

Patologis aksi berlebihan oleh hormon


atau faktor pertumbuhan pada sel terget
Hiperplasia endometrium
Benign prostatic hyperplasia (BPH)
Hiperplasia oleh infeksi virus (papillomavirus)

Mekanisme Hiperplasia
Proliferasi sel matur yang dikendalikan
oleh faktor pertumbuhan, output selsel baru dari sel induk jaringan
(beberapa kasus) hiperplasia

ATROFI
ukuran dan jumlah sel <<< ukuran
organ atau jaringan
Fisiologis dan Patologis
Fisiologis
Notochord dan duktus tiroglosus
Ukuran uterus mengecil setelah persalinan

Patologis

Penurunan beban kerja (atrophy of disuse)


Hilangnya persarafan (denervation atrophy).
Suplai darah berkurang
Nutrisi yang inadekuat
Hilangnya stimulus endokrin
Tekanan

Atrofi
otak

82
tahun
(serebrovaskular
aterosklerosis)

<<< pasokan darah. Hilangnya substansi otak


mempersempit gyrus, memperlebar sulcus

Mekanisme Atrofi
sintesis protein dan degradasi
protein di dalam sel
sintesis protein <<< aktivitas
metabolik

METAPLASIA
Perubahan reversibel; sel matur tertentu
berubah menjadi sel matur yang lain
Perubahan epitel kolumnar skuamosa
[iritasi kronik saluran napas]
Predisposisi metaplasia menetap
inisiasi transformasi maligna pada epitel
metaplastik

Metaplasia
Epitel
Kolumnar
Skuamosa
(Bronkus)

Mekanisme Metaplasia
Metaplasia hasil dari pemrograman
ulang sel stem yang diketahui ada di
jaringan normal, atau sel mesenkim
tidak berdifferensiasi yang ada dalam
jaringan ikat.

Jejas Sel dan Kematian Sel


Jejas sel:
Sel mengalami kerusakan berat tidak
dapat beradaptasi
Sel terpapar agen perusak atau
menderita kelainan intrinsik.

Jejas sel mungkin akan berlanjut ke


tahap reversibel dan berujung pada
kematian sel

Jejas Sel Reversibel


Jejas tahap awal/ ringan perubahan
fungsional dan morfologis reversibel
sumber jejas dihilangkan.
Jejas reversibel :
fosforilasi oksidatif ATP
perubahan konsentrasi ion masuknya
air pembengkakan seluler
Perubahan organel intraselular
(mitokondria dan sitoskeleton)

Kematian Sel
Kerusakan terus berlanjut jejas
ireversibel sel mati.
Kematian sel :
Nekrosis
Apoptosis

Nekrosis
Kerusakan membran sel dan hilangnya
homeostasis ion nekrosis
Kerusakan berat pada membran enzim lisosom
masuk ke sitoplasma mencerna sel
serangkaian perubahan morfologis yang
digambarkan sebagai nekrosis.
Isi sel keluar melalui membran plasma yang rusak
ke dalam ruang ekstraselular reaksi
peradangan.
Proses patologis

Apoptosis
Kematian sel ditandai dengan pelarutan nuklear,
fragmentasi sel tanpa kehilangan seluruh
integritas membran, dan pembuangan cepat
debris sel.
Apotosis isi sel tidak keluar (-) reaksi
inflamasi
Dikendalikan serangkaian jalur genetik
kematian sel terprogram.
Proses patologis & fisiologis, tidak selalu terkait
dengan cedera sel.

Perbedaan Nekrosis dan Apoptosis


Nekrosis

Apoptosis

Ukuran sel

Membengkak

Menyusut

Nukleus

Piknosis karioheksis Fragmentasi ke dalam


ukuran fragmen nukleosom
kariolisis

Membran plasma

Terganggu

Utuh; struktur berubah,


terutama orientasi lipid

Isi sel

Pencernaan
enzimatik; mungkin
keluar dari sel

Utuh; mungkin akan


dilepaskan pada
badan apoptosis

Inflamasi sekitar

Sering

Tidak

Peran fisiologis atau


patologis

Selalu patologis
(puncak dari cedera
sel ireversibel)

Sering fisiologis, berarti


menghilangkan sel-sel yang
tidak diinginkan; mungkin
patologis setelah beberapa
menghasilkan cedera sel,
terutama kerusakan DNA

Penyebab Jejas Sel


Hipoksia
Defisiensi O2 <<< respirasi oksidatif aerob
jejas sel
Penyebab :
<<< aliran darah (iskemia)
Oksigenasi inadekuat cardiorespiratory failure
<<< darah pembawa O2 anemia, keracunan CO

Adaptasi sel tergantung beratnya keadaan


hipoksia jejas atau kematian

Agen Fisik
Trauma
mekanik
Temperatur
yang ekstrim
(luka bakar,
deep cold)
Perubahan
tekanan atm
mendadak
Elektrik

Agen Kimia dan Obat-obatan


Glukosa, garam (konsentrasi
hipertonik) ggn
keseimbangan elektrolit
jejas
O2 konsentrasi tinggi
Arsen, sianida, garam merkuri
Polutan udara, insektisida
Bahaya industri dan kerja
Alkohol
Obat-obatan

Agen Infeksius
Virus
Jamur

- Bakteri
- Parasit

Kelainan genetik
Defisiensi protein
fungsional (kelainan
enzim metabolisme
error bawaan,
akumulasi DNA rusak,
protein yang gagal
melipat)
Sindrom down, sickle
cell anemia

Reaksi Imunologis
Penyakit autoimun
Reaksi imun terhadap
agen eksternal (virus dll)

Ketidakseimbangan
nutrisi
Kekurangan gizi
Kekurangan protein
kalori
Kekurangan vitamin

Kelebihan gizi
Kelebihan kolesterol
Obesitas

Perubahan Morfologi pada Jejas


Sel
Semua stres/trauma dan rangsangan berbahaya
berefek di tingkat molekular atau biokimia
Ada jeda waktu terjadi trauma s/d perubahan
morfologi jejas sel atau kematian sel
Durasi keterlambatan bervariasi sesuai sensitivitas
metode yang digunakan
Histokimia atau teknik ultrastruktural menit s/d
jam
Mikroskop cahaya atau pemeriksaan gross jam
s/d hari

Iskemia miokardium
Pembengkakan sel (perubahan morfologi
reversibel); hitungan menit ireversibel; 1-2
jam
Mikroskopis cahaya kematian sel tidak dapat
dilihat sampai 4 - 12 jam setelah onset iskemia.

Jejas reversibel sel & organel bengkak,


membran plasma melepuh, ribosom lepas
dari RE, kromatin menggumpal

Perubahan morfologi ATP, hilangnya integritas


membran sel, <<< sintesis protein synthesis,
rusaknya sitoskeletal dan DNA
Rangsangan bahaya mereda : jejas reversibel
normal
Rangsangan bahaya menetap : jejas reversibel
jejas ireversibel dan kematian sel
Rangsangan berbahaya yang berbeda nekrosis
atau apoptosis
Mitokondria rusak berat, <<< ATP, lisosomal dan
membran plasma pecah nekrosis

n
Morfologi
Jejas Sel

Kematian
Sel

Jejas Reversibel
Mikroskop cahaya pembengkakan sel dan
perlemakan sel
Pembengkakan sel ketidakmampuan sel
mempertahankan keseimbangan ion dan cairan
kegagalan pompa ion di m. plasma
Perlemakan sel
Jejas hipoksik, jejas toksik atau jejas metabolik
Vakuola lipid pada sitoplasma
Sel yang terlibat dan bergantung pada metabolisme lemak
(hepatosit & sel miokard)

Morfologi
Pembengkakan sel
Manifestasi awal pada hampir semua jejas sel
Sulit dilihat menggunakan mikroskop cahaya
Lebih jelas terlihat bila telah mengenai seluruh
organ
Jumlah banyak pucat, turgor , berat organ

Reversibel

Pemeriksaan mikroskopik
Vakuola kecil jernih di sitoplasma
pembengkakan RE perubahan hidrofik
(degenerasi vakuolar)
Warna eosinofilik
(semakin nekrosis, warna eosinofilik semakin
)

Perubahan ultrastruktur jejas reversibel


Perubahan membran plasma
(blebbing, blunting, dan hilangnya mikrovili)
Perubahan mitokondria
(pembengkakan dan tampak kepadatan amorf
kecil)
Pelebaran RE
(polysomes lepas; myelin intrasitoplasma
mungkin ada)
Perubahan nuklear
(disagregasi granular dan elemen fibrillar)

...terima kasih...