Anda di halaman 1dari 18

PROSESI DAN MAKNA UPACARA DEWA YADNYA DI PURA

DALEM MANDUNG

Di susun oleh :

1. Ida Ayu Agung Tikayanti


2. Luh Putu Artina Saridewi Tangkas

( 050113a021 )
( 050113a030 )

PROGRAM STUDY DASAR FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
NGUDI WALUYO UNGARAN
2013/2014

KATA PENGANTAR
Puja dan ouji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa / Ida
Sang Hyang Widhi Wasa, karena berkat rahmatNyalah dan kerja keras penulis dalam
mengerjakan makalah ini dengan tepat waktu, sehingga dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul Prosesi dan Makna Upacara Dewa Yadnya di Pura Dalem Mandung.
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini merupakan tugas kelompok dalam
pelajaran agama hindu khususnya materi upacara yadnya. Penulisan makalah ini diharapkan
bermanfaat bagi pembaca dan penulis sendiri, untuk mengetahui rangkaian upacara dewa
yadnya khususnya bagi yang beragama hindu.
Pada kesempatan ini tidak lupa penilis mengucapkan terima kasih pada pihakpihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini antara lain :
1. Kedua orang tua penulis yang telah mendukung dan membantu dalam
penyelesaikan makalah ini
2. Teman teman dekat penulis yang senantiasa membantu apabila penulis
mengalami kesulitan dalam penyelesaian makalah ini
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Maka penulis
mengharapkan kritik dan saran yang nantinya dapat melengkapi kesempurnaan makalah ini.

Ungaran, 29 November 2013

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewa Yadnya adalah merupakan upacara agama hindu dalam hal persembahan
kepada Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa sehingga dewasa ayu atau hari yang
baik dan hari yang harus dihindari dalam upacara ini sangat penting untuk ditinjau. Menurut
kalender Bali Digital, sebagai contoh dalam dewasa bulan desember 2011 yang dapat
dijabarkan dalam ala ayuning dewasa yaitu sebagai berikut :

Hari yang dipakai: Amerta Akasa, Amerta Buwana, Amerta Dadi, Amerta Dewa, Amerta
Dewa Jaya, Amerta Masa, Amerta Pageh, Amerta Wija, Ayu Dana, Ayu Nulus, Buda Gajah,
Buda Ireng, Buda Suka, Dewa Stata, Dewa Werdi, Dewasa Mentas, Dewasa Ngelayang,
Werdi Suka, Wredhi Guna.

Hari yang dihindari: dalam melakukan upacara dewa yadnya yaitu :

Amerta Papageran, Asuasa, Dadig Krana, Dina Carik, Geheng Manyinget, Geni
Agung,

Kala yang dihindari : Kala Bregala, Kala Dangastra, Kala Garuda, Kala Mretyu, Kala
Ngruda, Kala Pati, Kala Pegat, Kala Prawani, Kala Sungsang, Kala Suwung, Kala
Temah, Kala Tumpar, Kala Wong, Kaleburau, Macekan Lanang, Mreta Sula,
Pamacekan, Panca Prawani, Pati Paten, Purnama Danta, Purwani, Purwanin Dina,
Sarik Agung, Uncal Balung.

Mengingat pentingnya upacara ini seperti yang dikutip dari Parisada Hindu
Dharma Indonesia tentang Dewa Yadnya, upacara ini merupakan pemujaan atau persembahan
sebagai perwujudan bakti kepada Hyang Widhi dalam berbagai manifestasinya, yang
diwujudkan dalam bermacam-macam bentuk upakara.Bakti dalam dewa yadnya ini,

bertujuan untuk mengucapkan terima kasih kepada Hyang Widhi terhadap hamba-Nya dan
mohon Kasih-Nya agar kita mendapatkan berkah, rahmat dan karunia-Nya sehingga kita
dapat hidup dengan selamat.Upacara Dewa Yadnya dapat dilaksanakan di Sanggah atau
Pemerajan, di Pura atau Khayangan-khayangan dan ditempat-tempat suci yang setingkat
dengan itu.Upacara Dewa Yadnya dapat dilakukan pada tiap-tiap hari dan ada pula yang
dilakukan secara periodik (berkala). Upacara Dewa Yadnya yang dilakukan setiap hari dapat
dilaksanakan dengan melakukan Puja Tri Sandya dan Yadnya Sesa.Sedangkan Upacara Dewa
Yadnya yang dilaksanakan secara periodik, dapat dilakukan pada hari-hari tertentu, misalnya
kebaktian yang dilakukan pada Hari Galungan, Kuningan, Saraswati, Siwa Ratri, Purnama,
Tilem, Piodalan-piodalan dan lain sebagainya, demikian pula dengan mengadakan Tirtha
Yatra ke tempat-tempat suci.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apakah dewa yadnya itu ?
1.2.2

Bagaimana prosesi pelaksanaan dewa yadnya ?

1.2.3

Apakah makna dalam pelaksanaan dewa yadnya ?

1.3 Tujuan Pembahasan


1.3.1

Menjelaskan dewa yadnya

1.3.2

Menjelaskan prosesi pelaksanaan dewa yadnya

1.3.3

Menjelaskan makna dalam pelaksanaan dewa yadnya

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Dewa Yadnya

Pengertian Yadnya
Kata Yadnya berasal dari bahasa sansekerta, yaitu dari akar kata yaj yang artinya
memuja, mempersembahkan, atau korban. Kemudian penulisannya diindonesiakan dari Yajna
menjadi Yadnya. Dalam kitab Bhagawadgita dijelaskan Yadnya artinya suatu perbuatan yang
dilakukan dengan penuh keiklasan dan kesadaran untuk melaksanakan persembahan kepada
Tuhan. Yadnya berarti upacara persembahan korban suci. Pemujaan yang dilakukan dengan
mempergunakan korban suci sudah barang tentu memerlukan dukungan sikap dan mental
yang suci juga.
Tujuan Yadnya
Bila direnungkan tujuan diadakannya sebuah Yadnya yaitu untuk membalas Yadnya
yang dahulu dilakukan oleh Ida Sang Hyang Widhi ketika menciptakan alam semesta beserta
isinya. Hal tersebut dapat kita lihat dari sloka dibawah ini:
sahayajnah prajah srishtva, paro vacha pajapatih,
Anema prasavish dhvam, esha yostvisha kamaduk

Artinya:
Pada zaman dulu kala Praja Pati (Tuhan Yang Maha Esa) menciptakan manusia dengan
Yadnya dan bersabda. Dengan ini engkau akan mengembang dan akan menjadi kamanduk
(memenuhi) dari keinginanmu.
Dari sloka di atas dapat kita lihat secara jelas, bahwa kita melaksanakan Yadnya atas
dasar Tuhan mengawali menciptakan dunia besrta isinya berdasarkan Yadnuhan itu
diteruskan agar kehidupan di dunia ini berlanjut terus dengan saling beryadnya. Bukankah
akibat dari Tuhan berbuat Yadnya itu menimbulkan Rnam (hutang). Kemudian agar tercipta
hukum keseimbangan, maka hutang itu harus dibayar dengan Yadnya (Tri Rna). Tri Rna ini
dalam kehidupan sehari-hari dapat dibayar dengan melaksanakan Panca Yadnya. Dimana
Dewa Rna dibayar dengan Dewa Yadnya dan dibayar dengan Bhuta Yadnya, kemudian Rsi
Rna dibayar dengan Rsi Yadnya, dan yang terakhir yaitu Pitra Rna dibayar dengan Pitra
Yadnya dan Manusa Yadnya. Memang konsep Agama Hindu adalah mewujudkan
keseimbangan. Dengan terwujudnya keseimbangan berarti terwujud pula keharmonisan hidup
yang didambakan oleh setiap orang di dunia ini. Untuk terwujudnya keseimbangan tersebut
dalam Umat Hindu diajarkan Tri Hita Karana yaitu tiga factor yang menyebabkan
terwujudnya suatu kebahagiaan.
Berkaitan dengan itu, dalam Bhagawadgita III.2 menyebutkan:
ishtan bhogan hivodeva, donsyante yajna bhavitah,
tair dattan apradayabho, yobhunkte stena eca sah
Artinya:
Dipelihara oleh Yadnya Para Dewa, akan memberikan kamu kesenangan yang kamu
inginkan. Ia yang menikmati pemberian ini, tanpa memberikan balasan kepadanya adalah
pencuri.
Selanjutnya seloka Bhagawadgita III.13 menyebutkan:
yajna sisyah sinah santo, nucyanta sarwa kilbisaih,
bhujate tuagham papa, ye pacauty atmakatanat

Artinya:
Orang yang baik, maka apa yang tersisa dari Yadnya, mereka itu terlepas dari segala dosa,
akan tetapi mereka yang jahat yang menyediakan makanan kepentingan sendiri, mereka itu
adalah makan dosanya sendiri.
Jadi dengan petikan sloka di atas dapat ditegaskan bahwa Yadnya itu bertujuan untuk
melangsungkan kehidupan yang berkesinambungan yaitu dengan cara:

Membayar Rna (hutang) untuk mencapai kesempurnaan hidup.


Melebur dosa untuk mencapai kebebasan yang sempurna.
Fungsi dan Makna Yadnya
Jika kita lihat dari tujuan pelaksanaan Yadnya yang dijelaskan diatas maka secara
umum fungsi daripada Yadnya adalah sebagai sarana untuk mengembangkan serta
memelihara kehidupan agar terwujud kehidupan yang sejahtra dan bahagia atau kelepasan
yakni menyatu dengan Sang Pencipta.
Berdasarkan uraian diatas dapat dijabarkan fungsi dari pelaksanaan Yadnya, yaitu sebagai
berikut:

1. Sarana untuk mengamalkan Weda

Yadnya adalah sarana untuk mengamalkan Weda yang dilukiskan dalam bentuk
symbol-simbol atau niyasa. Yang kemudian symbol tersebut menjadi realisasi dari ajaran
Agama Hindu.
2. Sarana untuk meningkatkan kualitas diri
Setiap kelahiran manusia selalu disertai oleh karma wasana. Demikian pula setiap
kelahiran bertujuan untuk meningkatkan kualitas jiwatman sehingga tujuan tertinggi yaitu

bersatunya atman dengan brahman ( brahman atman aikyam ) dapat tercapai. Dalam upaya
meningkatkan kualitas diri, umat Hindu selalu diajarkan untuk buatan baik. Perbuatan baik
yang paling utama adalah melalui Yadnya. Dengan demikian setiap yadnya yang kita lakukan
hasilnya adalah terjadinya peningkatan kualitas jiwatman.
3. Sebagai sarana penyucian
Dengan sebuah Yadnya sesuatu hal bisa disucikan seperti diadakannya Dewa
Yadnya, Bhuta Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya yaitu pada bagianbagian tertentu mengandung makna dan tujuan untuk penyucian atau pembersihan.
4. Sarana untuk terhubung Kepada Ida Sang Hyang Widhi
Yadnya merupakan sarana yang dapat digunakan untuk mengadakan hubungan
dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya, seperti yang sering dilakukan
dalam kehidupan sehari-hari.
5. Sarana untuk mengungkapkan rasa terima kasih
Dengan sebuah yadnya seseorang mampu mengungkapkan rasa syukur dan ucapan
terimakasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sesame manusia, maupun kepada alam,
seperti yang sudah biasa dilakukan dalam penerapan Panca Yadnya.

Panca Yadnya
Panca Yadnya terdiri Atas dua kata, yaitu: Panca artinya lima dan Yadnya artinya
korban suci atau persembahan suci. Jadi Panca Yadnya adalah lima persembahan suci yang
tulus ikhlas.

Jenis-jenis Panca Yadnya, yaitu:


a. Dewa Yadnya

adalah persembahan suci yang ditujukan kepada Sang Hyang Widhi dan para
Dewa. Dewa Yadnya biasanya dilakukan di Pura, mrajan, atau di tempat yang
bersih, yang memiliki nilai kesucian. Tujuan dari Dewa Yadnya adalah
menyampaikan rasa bhakti dan syukur kepada Sang Hyang Widhi atas segala
anugerah-Nya.

b. Pitra Yadnya
adalah persembahan suci yang ditujukan kepada leluhur dan bhatara-bhatar
Tujuannya adalah menyucikan roh-roh leluhur agar mendapat tempat yang lebih
baik.

c. Rsi Yadnya
adalah persembahan suci yang ditujukan kepada para Rsi dan guru untuk menjaga
kesejahteraannya. Rsi adalah orang-orang yang bijaksana dan berjiwa suci. Pendeta
atau Sulinggih atau guru dapat juga disebut orang suci karena beliau merupakan
orang bijaksana yang memberikan bimbingan kepada murid-muridnya.

d. Manusa Yadnya
adalah upacara yang dipersembahkan untuk memelihara hidup, kesempurnaan dan
kesejahteraan manusia.

e. Bhuta Yadnya
adalah persembahan suci yang ditujukan kepada Bhuta Kala atau makhluk bawahan.
Bhuta Kala adalah kekuatan-kekuatan alam yang bersifat negative yang perlu kita
lebur (somya) agar kembali pada sifat-sifat positif agar tidak mengganggu

ketenangan hidup umat manusia

Contoh pelaksanaan Panca Yadnya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:


a. Contoh pelaksanaan Dewa Yadnya dalam kehidupan sehari-hari adalah:
1. Melakukan Tri Sandhya tiga kali dalam sehari.
2.

Selalu berdoa terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan.

3.

Menjaga kebersihan tempat suci.

4.

Mempelajari dan mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

5.

Melaksanakan persembahyangan pada hari-hari suci seperti Purnama atau Tilem

b. Contoh pelaksanaan Pitra Yadnya dalam kehidupan sehari-hari adalah:


1. Berpamitan pada orang tua ketika akan bepergian
2.

Menghormati orang tua

3.

Menuruti nasehat orang tua

4.

Membantu dengan rela pekerjaan yang sedang dilakukan orang tua

5.

Merawat orang tua yang sedang sakit

c. Contoh pelaksanaan Rsi Yadnya dalam kehidupan sehari-hari adalah:


1. Belajar dengan tekun
2.

Menghormati guru

3.

Menuruti perintahnya

4.

Mentaati dan mengamalkan ajarannya

5.

Memelihara kesejahteraan dan kesehatan orang suci (Sulinggih dan pemangku).

d. Contoh pelaksanaan Manusia Yadnya dalam kehidupan sehari-hari adalah:


1. Tolong-menolong antar sesame
2.

Belas kasihan terhadap orang yang menderita

3.

Saling menghormati dan menghargai antar sesame

4.

Melaksanakan upacara untuk menyucikan lahir bathin manusia, seperti :

1. Upacara selamatan bayi dalam kandungan.


2. Upacara selamatan bayi baru lahir.
3. Upacara selamatan bayi berumur 42 hari.
4. Upacara selamatan bayi berumur 105 hari.
5. Upacara selamatan bayi berumur 210 hari.
6. Upacara meningkat dewasa dan potong gigi.
7. Upacara perkawinan atau pawiwahan.
e. Contoh pelaksanaan Bhuta Yadnya dalam kehidupan sehari-hari adalah:
1. Merawat dan memelihara tumbuh-tumbuhan dengan baik
2.

Merawat binatang peliharaan dengan baik

3.

Menjaga kebersihan lingkungan

4.

Menyayangi makhluk lain

2.2

Prosesi Pelaksanaan Dewa Yadnya di Pura Dalem

Pada hakikatnya pelaksanaan dewa yadnya adalah peringatan hari kelahiran (hari jadi)
sebuah pura, semacam perayaan ulang tahun kalau pada manusia. Kalau pada manusia, hari
jadi atau ultahnya diperingati berdasarkan perhitungan saat kelahiran menurut penanggalan
(hari, tanggal, bulan dan tahun). Sedangkan kalau untuk pura atau kahyangan peringatan
tegak odalan ditentukan berdasarkan perhitungan sasih atau wewaran terutama memadukan
sapta wara dan panca wara serta wuku.
Jika didasarkan atas perhitungan sasih maka umumnya selalu di kaitkan dengan saat
datangnya bulan sempurna (purnama). Sehingga odalan atau piodalan yang berdasarkan sasih
selalu mangambil saat purnama. Maka begitulah banyak pura yang tegak odalannya jatuh
pada Purnama dengan sasih yang berbeda-beda, dan datangnya setiap setahun sekali.
Sementara itu apabila didasarkan atas perhitungan wewaran dan wuku, maka tegak odalan
sebuah pura akan dating 210 hari sekali.
Kemudian setelah diketahui dasar-dasar perhitungan tegak odalan, maka untuk
menjatuhkan satu pilihan lagi odalan sebuah pura ditentukan atau diputuskan berdasarkan
waktu atau saat diadakan upacara pemelaspas atau ngenteg lingih dari pura tersebut.
Kapan saat pemelaspas atau ngenteg linggihnya, saat itulah biasanya dijadikan sebagai tegak
odalan berikutnya
Urut-urutan piodalan sebagai berikut:
1. Membuat tirta-tirta (dengan petunjuk surya sewana), yaitu tirta pelukatan/ pebersihan.
Atau kalau belum bisa, agar memohon tirta pelukatan/ pebersihan, tirta banten, tirta
penugrahan, tirta caru dari Geria Ida Sang Wiku.
2. Mereresik dengan sarana yang ada, apakah pedudusan alit, atau madya.
3. Mepiuning ring Sanggar Surya
4. Mecaru (menurut jenis caru yang tersedia)
5. Nuwur/ nedunang Ida Bhatara
6. Nyuciang Ida Bhatara dengan banten kalahyas, prayascita, durmenggala.

7. Ngelinggihang Ida Bhatara


8. Ngaturang ayaban/ wali
9. Muspa
10. Mewangsuhpada/ mabija
11. Parama santhi.
2.3 Makna Pelaksanaan Upacara Dewa Yadnya di Pura Dalem

Membuat tirta-tirta (dengan petunjuk surya sewana), yaitu tirta pelukatan/ pebersihan.
Atau kalau belum bisa, agar memohon tirta pelukatan/ pebersihan, tirta banten, tirta
penugrahan, tirta caru dari Geria Ida Sang Wiku.
Makna dari membuat tirta adalah simbul dari permohonan berkah dari Tuhan atau
ISWW yang berstana di pura tersebut.

Mereresik dengan sarana yang ada, apakah pedudusan alit, atau madya.
Makna dari mereresik adalah membersihkan lingkungan pura, selain itu juga pada saat
mereresik segala alat-alat sarana prasarana upacara dan upakara juga disucikan atau
dibersihkan dengan tirta yang telah dibuat.

Mepiuning ring bhatara-bhatari yang berstana di pura dalem


Makna mepiuning : mohon ijin agar diberikan tuntunan atas apa yang dilaksanakan.

Mecaru (menurut jenis caru yang tersedia)


Makna dari mecaru adalah : nyomiang bhuta maknanya adalah menetralisir hal yang
bersifat negative menjadi positif ( nyomiang bhuta menadi dewa).

Nuwur/ nedunang Ida Bhatara

Makna dari mecaru adalah : adalah sama dengan Ida Bathara turun Kabeh maknanya
adalah Ida Bathara yang berstana di Kyangan setempat agar tedun ( turun)
memberikan sinar suci dalam rangka upacara yang dilaksanakan.

Nyuciang Ida Bhatara dengan banten kalahyas, prayascita, durmenggala.


Makna dari nyuciang bhatara adalah : membersihkan lingkungan sekitar agar pada
saat Ida Bathara turun ( Tedun ) tempat tersebut sudah bersih dari hal yang bersifat
negatif.

Ngelinggihang Ida Bhatara


Makna dari ngelinggihan ida bhatara : mengembalikan Ida Bathara ke posisinya
masing masing.

Ngaturang ayaban/ wali


Makna dari ngaturang ayaban : sebagai perwujudan terima kasih atau sujud bhakti
melalui upacara ayaban.

Muspa
Makna dari muspa adalah : sebagai wujud rasa bhakti serta terima kasih kita
kehadapan ISHWW dan memohon anugrah dari Beliau.

Mewangsuhpada/ mabija
Makna dari mewasuhpada adalah : symbol dari berkah dan berkat.

Parama santhi.
Makna dari paramasanthia adalah : menghanturkan terima kasih kehapan ISHWW.

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
3.1.1 Yadnya artinya suatu perbuatan yang dilakukan dengan penuh keiklasan dan
kesadaran untuk melaksanakan persembahan kepada Tuhan. Yadnya berarti
upacara persembahan korban suci. Pemujaan yang dilakukan dengan
mempergunakan korban suci sudah barang tentu memerlukan dukungan sikap
dan mental yang suci juga. Bila direnungkan tujuan diadakannya sebuah
Yadnya yaitu untuk membalas Yadnya yang dahulu dilakukan oleh Ida Sang
Hyang Widhi ketika menciptakan alam semesta beserta isinya. Yadnya yang
dijelaskan diatas maka secara umum fungsi daripada Yadnya adalah sebagai
sarana untuk mengembangkan serta memelihara kehidupan agar terwujud
kehidupan yang sejahtra dan bahagia atau kelepasan yakni menyatu dengan
Sang Pencipta yang dilaksanakan sebagai Sarana untuk mengamalkan Weda,
Sarana untuk meningkatkan kualitas diri , Sebagai sarana penyucian , Sarana
untuk terhubung Kepada Ida Sang Hyang Widhi , Sarana untuk
mengungkapkan rasa terima kasih. Adapun jenis jenis panca yadnya adalah
dewa yadnya , pitra yadnya , manusa yadnya , bhuta yadnya , rsi yadnya.
3.12

Prosesi pelaksanaan dewa yadnya antara lain yaitu : 1.Membuat tirta-tirta


(dengan petunjuk surya sewana), yaitu tirta pelukatan/ pebersihan. Atau kalau
belum bisa, agar memohon tirta pelukatan/ pebersihan, tirta banten, tirta
penugrahan, tirta caru dari Geria Ida Sang Wiku, 2.Mereresik dengan sarana
yang ada, apakah pedudusan alit, atau madya, 3.Mepiuning ring Sanggar
Surya, 4.Mecaru (menurut jenis caru yang tersedia), 5.Nuwur/ nedunang Ida
Bhatara, 6.Nyuciang Ida Bhatara dengan banten kalahyas, prayascita,
durmenggala, 7.Ngelinggihang Ida Bhatara, 8.Ngaturang ayaban/ wali,
9.Muspa, 10.Mewangsuhpada/ mabija, 11.Parama santhi.

3.1.2

Makna dari setiap prosesi pelaksanaan dewa yadnya yaitu : Makna dari membuat tirta
adalah simbul dari permohonan berkah dari Tuhan atau ISWW yang berstana di pura
tersebut. Makna dari mereresik adalah membersihkan lingkungan pura, selain itu juga
pada saat mereresik segala alat-alat sarana prasarana upacara dan upakara juga

disucikan atau dibersihkan dengan tirta yang telah dibuat. Makna mepiuning : mohon
ijin agar diberikan tuntunan atas apa yang dilaksanakan. Makna dari mecaru adalah :
nyomiang bhuta maknanya adalah menetralisir hal yang bersifat negative menjadi
positif ( nyomiang bhuta menadi dewa). Makna dari mecaru adalah : adalah sama
dengan Ida Bathara turun Kabeh maknanya adalah Ida Bathara yang berstana di
Kyangan setempat agar tedun ( turun) memberikan sinar suci dalam rangka upacara
yang dilaksanakan. Makna dari nyuciang bhatara adalah : membersihkan lingkungan
sekitar agar pada saat Ida Bathara turun ( Tedun ) tempat tersebut sudah bersih dari
hal yang bersifat negatif. Makna dari ngelinggihan ida bhatara : mengembalikan Ida
Bathara ke posisinya masing masing. Makna dari ngaturang ayaban : sebagai
perwujudan terima kasih atau sujud bhakti melalui upacara ayaban. Makna dari muspa
adalah : sebagai wujud rasa bhakti serta terima kasih kita kehadapan ISHWW dan
memohon anugrah dari Beliau. Makna dari mewasuhpada adalah : symbol dari berkah
dan berkat. Makna dari paramasanthia adalah : menghanturkan terima kasih kehapan
ISHWW. Makna dari mewasuhpada adalah : symbol dari berkah dan berkat. Makna
dari paramasanthia adalah : menghanturkan terima kasih kehapan ISHWW

3.2 Saran
Dengan adanya makalah ini agar pembaca lebih bisa memaknai dan
mengetahui prosesi sekaligus makna yang terkandung dalam pelaksanan dewa
yadnya ini . khususnya bagi umat hindu sedharma agar bisa dijadikan panutan
dan di terapkan dalam kehidupan sehari hari.

DAFTAR PUSTAKA
http://congkodok.blogspot.com/2013/01/upacara-yadnya.html
http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=474&Itemid=96
http://www.parissweethome.com/bali/cultural_my.php?id=7
http://delyylovina.blogspot.com/2012/11/upacara-dewa-yadnya-pada-hari-raya.html
http://www.hindubatam.com/upacara/dewa-yadnya/tata-upacara.html
http://sejarahharirayahindu.blogspot.com/2011/12/dewa-yadnya.html
http://dwi-marsayella.blogspot.com/2013/01/makalah-yadnya-agama-hindu.html