Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

BUDIDAYA CABAI MERAH (Capsicum annum L.)


Disusun untuk memenuhi tugas akhir Mata Kuliah Budidaya Tanaman Semusim
Dosen Pengampu Ir. Veronica Krestiani, MP

Disusun oleh :
Kelompok II
1.
2.
3.
4.

Ari Nur Hidayat


Shoviatun Nikhmah
Bambang Mustofa
Sri Setiawan Budi Santoso

201241011
201241013
201241020
201241026

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MURIA KUDUS
2014/2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur selalu terlimpahkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
kesehatan dan kesempatan sehingga penyusun dapat menyelesaikan penyusunan
Laporan Praktikum Budidaya Tanaman Cabe Merah (Capsicum annum L.) dengan
lancar.
Penyusun menyadari bahwa terselesaikannya laporan ini tidak lepas dari campur
tangan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan yang
berbahagia ini penyusun ingin menyampaikan terima kasih kepada :
1. Ibu Ir. Veronica Krestiani, MP selaku dosen pengampu mata kuliah
Budidaya Tanaman Semusim yang telah membimbing kepada kami
semua dengan penuh kesabaran.
2. Teman-teman seperjuangan di Fakultas Pertanian, terkhusus angkatan
2012.
3. Semua pihak terkait yang tidak bisa kami sebut satu persatu.
Semoga dengan tersusunnya laporan ini dapat memberikan manfaat bagi
pembaca umumnya dan bagi penyusun khususnya. Penyusun menyadari sepenuhnya
bahwa penyusunan laporan ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kami mengharapkan
kritik maupun saran dari pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan
penyusunan laporan ini.

Kudus, 5 Januari 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...................................................................................................................i
KATA PENGANTAR.................................................................................................................ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................................iii
BAB I.........................................................................................................................................1
PENDAHULUAN......................................................................................................................1
A.Latar Belakang....................................................................................................................1
B.Tujuan.................................................................................................................................1
BAB II........................................................................................................................................2
TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................................................2
A. Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Cabai.....................................................................2
B.Tata Laksana Budidaya Tanaman Cabai Merah..................................................................4
BAB III.......................................................................................................................................6
HASIL DAN PEMBAHASAN..................................................................................................6
A.Hasil....................................................................................................................................6
B.Pembahasan........................................................................................................................7
BAB IV......................................................................................................................................9
PENUTUP..................................................................................................................................9
A. Kesimpulan.....................................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................10

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Laju permintaan cabai yang terus meningkat sejalan dengan kebutuhan untuk
konsumsi dan industri olahan yang makin berkembang merupakan pertimbangan
pentingnya adanya peningkatan dan kesinambungan produksi cabai. Produksi cabai
merah pada musim penghujan sangat rendah sehingga merupakan masalah bagi
kesinambungan pasokan cabai di pasaran, karena keadaan tersebut bisa menjadi
penyebab terjadinya fluktuasi hasil dan kenaikan harga yang cukup tinggi.
Cabe (Capsicum Annum varlongum) merupakan salah satu komoditas
hortikultura yang memiliki nilai ekonomi penting di Indonesia. Cabe merupakan
tanaman perdu dari famili terongterongan yang memiliki nama ilmiah Capsicum sp.
Cabe beras dari benua Amerika tepatnya daerah Peru dan menyebar ke negaranegara
benua Amerika, Eropa dan Asia termasuk Negara Indonesia.
Tanaman cabe banyak ragam tipe pertumbuhan dan bentuk buahnya.
Diperkirakan terdapat 20 spesies yang sebagian besar hidup di Negara asalnya.
Masyarakat pada umumnya hanya mengenal beberapa jenis saja, yakni Cabe besar,
cabe keriting, cabe rawit dan paprika. Secara umum cabe memiliki banyak
kandungan gizi dan vitamin.
Diantaranya Kalori, Protein, Lemak, Kabohidarat, Kalsium, Vitamin A, B1
dan Vitamin C. Selain digunakan untuk keperluan rumah tangga, cabe juga dapat
digunakan untuk keperluan industri diantaranya, Industri bumbu masakan, industry
makanan dan industri obatobatan atau jamu. Buah cabe ini selain dijadikan
sayuran atau bumbu masak juga mempunyai kapasitas menaikkan pendapatan
petani. Disamping itu tanaman ini juga berfungsi sebagai bahan baku industri,
yang memiliki peluang eksport, membuka kesempatan kerja. Oleh karenanya
budidaya tanaman cabe merah ini harus tetap ditingkatkan melihat dari permintaan
yang semakin banyak dan dapat dijadikan sebagai suatu usaha yang lumayan
menghasilkan.
Cabai merah (Capsicum annuum L.) termasuk kedalam famili Solanaceae.
Terdapat sekitar 20-30 spesies yang termasuk kedalam genus Capsicum, termasuk
diantaranya adalah lima spesies yang telah dibudidayakan, yaitu C. baccatum,C.
pubescens, C. annuum, C. chinense,danC. frutescens (Greenleaf, 1986; Pickersgill,
1989). C. baccatum dan C. pubescens mudah diidentifikasi dan dibedakan satu dengan
lainnya, karena terdapat perbedaan yang jelas pada kedua spesies tersebut. Namun C.
annuum, C. chinense,danC. frutescens hampir mempunyai banyak sifat yang sama.
Untuk membedakannya dapat dengan mengamati komposisi bunga dan buah dari
masing-masing spesies.
B.Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui tata cara/ langkah-langkah
budidaya cabe merah secara semi organik.
1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Cabai
Klasifikasi tanaman cabai adalah sebagai berikut (Lawrence, 1951) :
Kingdom
: Plantae
Divisi
: Spermatophyta
Sub Divisi
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledone
Ordo
: Tubiflorae
Famili
: Solanaceae
Genus
: Capsicum
Spesies
:Capsicum annuum L.
Cabai atau lombok termasuk dalam suku terong-terongan (Solanaceae) dan
merupakan tanaman yang mudah ditanam di dataran rendah ataupun di dataran tinggi.
Tanaman cabai banyak mengandung vitamin A dan vitamin C serta mengandung
minyak atsiri capsaicin, yang menyebabkan rasa pedas dan memberikan kehangatan
panas bila digunakan untuk rempahrempah (bumbu dapur). Cabai dapat ditanam
dengan mudah sehingga bias dipakai untuk kebutuhan sehari-hari tanpa harus
membelinya di pasar ( Harpenas, 2010). Seperti tanaman yang lainnya, tanaman cabai
mempunyai bagian-bagian tanaman seperti akar, batang, daun, bunga, buah dan biji.
1. Akar
Menurut (Harpenas, 2010), cabai adalah tanaman semusim yang berbentuk perdu
dengan perakaran akar tunggang. Sistem perakaran tanaman cabai agak menyebar,
panjangnya berkisar 25-35 cm. Akar ini berfungsi antara lain menyerap air dan zat
makanan dari dalam tanah, serta menguatkan berdirinya batang tanaman. Sedangkan
menurut (Tjahjadi, 1991) akar tanaman cabai tumbuh tegak lurus ke dalam tanah,
berfungsi sebagai penegak pohon yang memiliki kedalaman 200 cm serta berwarna
coklat. Dari akar tunggang tumbuh akar- akar cabang, akar cabang tumbuh horisontal
didalam tanah, dari akar cabang tumbuh akar serabut yang berbentuk kecil- kecil dan
membentuk masa yang rapat.
2. Batang
Batang utama cabai menurut (Hewindati, 2006) tegak dan pangkalnya berkayu
dengan panjang 20-28 cm dengan diameter 1,5-2,5 cm. Batang percabangan berwarna
hijau dengan panjang mencapai 5-7 cm, diameter batang percabangan mencapai 0,5-1
cm. Percabangan bersifat dikotomi atau menggarpu, tumbuhnya cabang beraturan
secara berkesinambungan. Sedangkan menurut (Anonimb, 2009), batang cabai
memiliki Batang berkayu, berbuku-buku, percabangan lebar, penampang bersegi,
batang muda berambut halus berwarna hijau. Menurut (Tjahjadi, 1991) tanaman cabai
berbatang tegak yang bentuknya bulat. Tanaman cabai dapat tumbuh setinggi 50-150
2

cm, merupakan tanaman perdu yang warna batangnya hijau dan beruas-ruas yang
dibatasi dengan buku-buku yang panjang tiap ruas 5-10 cm dengan diameter data 5-2
cm.
3. Daun
Daun cabai menurut (Dermawan, 2010) berbentuk hati , lonjong,matau agak bulat
telur dengan posisi berselang-seling. Sedangkan menurut (Hewindati, 2006), daun
cabai berbentuk memanjang oval dengan ujung meruncing atau diistilahkan dengan
oblongus acutus, tulang daun berbentuk menyirip dilengkapi urat daun. Bagian
permukaan daun bagian atas berwarna hijau tua, sedangkan bagian permukaan bawah
berwarna hijau muda atau hijau terang. Panjang daun berkisar 9-15 cm dengan lebar
3,5-5 cm. Selain itu daun cabai merupakan Daun tunggal, bertangkai (panjangnya 0,52,5 cm), letak tersebar. Helaian daun bentuknya bulat telur sampai elips, ujung
runcing, pangkal meruncing, tepi rata, petulangan menyirip, panjang 1,5-12 cm, lebar
1-5 cm, berwarna hijau.
4. Bunga
Menurut (Hendiwati, 2006), bunga tanaman cabai berbentuk terompet
kecil,umumnya bunga cabai berwarna putih, tetapi ada juga yang berwarna ungu.
Cabai berbunga sempurna dengan benang sari yang lepas tidak berlekatan. Disebut
berbunga sempurna karena terdiri atas tangkai bunga, dasar bunga, kelopak bunga,
mahkota bunga, alat kelamin jantan dan alat kelamin betina. Bunga cabai disebut juga
berkelamin dua atau hermaphrodite karena alat kelamin jantan dan betina dalam satu
bunga. Sedangkan menurut (Anonima, 2007) bunga cabai merupakan bunga tunggal,
berbentuk bintang, berwarna putih, keluar dari ketiak daun. (Tjahjadi, 2010)
menyebutkan bahwa posisi bunga cabai menggantung. Warna mahkota putih,
memiliki kuping sebanyak 5-6 helai, panjangnya 1- 1,5 cm, lebar 0,5 cm, warna
kepala putik kuning.
5. Buah dan Biji
Buah cabai menurut (Anonimc, 2010), buahnya buah buni berbentuk kerucut
memanjang, lurus atau bengkok, meruncing pada bagian ujungnya, menggantung,
permukaan licin mengkilap, diameter 1-2 cm, panjang 4-17 cm, bertangkai pendek,
rasanya pedas. Buah muda berwarna hijau tua, setelah masak menjadi merah cerah.
Sedangkan untuk bijinya biji yang masih muda berwarna kuning, setelah tua menjadi
cokelat, berbentuk pipih, berdiameter sekitar 4 mm. Rasa buahnya yang pedas dapat
mengeluarkan air mata orang yang menciumnya, tetapi orang tetap membutuhkannya
untuk menambah nafsu makan.
Syarat Tumbuh Tanaman Cabai
Tanaman cabai mempunyai daya adaptasi yang cukup luas. Tanaman ini dapat
diusahakan pada setiap jenis tanah, baik pada tanah ringan sampai tanah berat.
Tanaman ini dapat ditanam di dataran rendah (suhu tinggi) maupun dataran tinggi
3

(suhu rendah) sampai pada ketinggian 1400 m diatas permukaan laut (m dpl), tetapi
pertumbuhannya di dataran rendah lebih cepat. Curah hujan 15002500 mm pertahun
dengan distribusi merata. Suhu udara 16 32 C. Saat pembungaan sampai dengan
saat pemasakan buah, keadaan sinar matahari cukup (10 12 jam).
Kondisi fisik tanah yang baik untuk pertanaman cabai adalah tanah yang
strukturnya remah dan kaya akan bahan organik, pH tanah antara 6.0-7.0, dan Lahan
pertanaman terbuka atau tidak ada naungan serta tidak becek/ ada genangan air. Pada
umumnya, cabai ditanam di sawah setelah panen padi, tetapi ada pula yang ditanam di
tegalan. Apabila ditanam di sawah, biasanya ditanam pada akhir musim hujan,
sedangkan di tegalan biasanya ditanam pada awal musim hujan. Pemilihan musim ini
diharapkan agar di tanah sawah kandungan airnya tidak berlebihan dan di tanah
tegalan cukup air untuk pertumbuhan cabai. Namun pada waktu tanaman berbunga
dan berbuah, keadaannya sedang tidak hujan lebat, karena dapat mengakibatkan
banyak bunga dan bakal buah yang gugur serta busuk (Suwandi, 1995).
B.Tata Laksana Budidaya Tanaman Cabe Merah
a) Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Praktikum Budidaya Cabe Merah ini dilaksanakan mulai dari awal pembibitan
yang dimulai tanggal 17 September 2013 sampai dengan Desember 2013 di Lahan
Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Muria Kudus.
b) Bahan dan Alat
Bahan : benih cabe merah, pupuk organik cair, pupuk SP 36.
Alat : Cangkul, polybag besar dan kecil, media semai, sprayer, gelas ukur,
timbangan analitik, meteran, ember, selang dan kanebo.
c) Metode Pelaksanaan
Langkah kerja :
1. Persiapan untuk media tanam
a. Menyiapkan media untuk menanan benih yang sudah disemai pada kanebo,
media tanamnya (campuran tanah dan kompos dengan perbandingan (1:1)
pada polybag kecil.
b. Menyiapkan media tanam untuk pindah tanam bibit yang sudah tumbuh untuk
dipindahkan pada polybag besar, media tanamnya (campuran tanah dan
kompos dengan perbandingan (2:1) lalu dimasukkan pada polybag besar.
c. Polybag yang sudah terisi kemudian di tata rapi dan diberi jarak antar polybag
50cm x 50cm.
2. Persiapan bibit
a. Persemaian dimulai dengan menggulung benih dalam kanebo.
b. Setelah muncul akar kemudian benih dipindahkan dalam media tanam
(campuran tanah dan kompos dengan perbandingan (1:1) pada polybag kecil
dan membiarkannya tumbuh sampai menjadi bibit yang siap untuk
dipindahkan ke polybag besar.
3. Cara Penanaman
a. Penanaman dilakukan waktu pagi hari dengan jumlah bibit 38 buah dengan
jarak antar polybag 50 cm x 50 cm.
b. Cara penanaman dengan cara ditugal kemudian polybag disobek dengan
gunting dan tanah dalam polybag ikut dibenamkan kedalam tanah.
c. Menyiram setiap polybag setelah penanaman.
4

4. Pemeliharaan
a. Penyiraman dilakukan secara rutin tiap pagi dan sore terutama pada awal-awal
penanaman. Ketika mulai musim penghujan penyiraman dihentikan karena
suplai air sudah tercukupi.
b. Pemupukan dengan pupuk organik cair Biofarm yang telah dicairkan.
Pemupukan dilakukan setiap satu minggu sekali dengan dosis 240 ml/polybag
dengan cara disiramkan pada setiap polybag, pemberian pupuk SP 36 dengan
dosis 2,5 gr/tanaman diberikan pada umur 5 MST dengan cara ditugal lalu
pupuknya dimasukkan dalam tanah lalu ditutup kembali.
c. Pembubunan dilakukan jika tanah mulai memadat ( setiap 2 mingggu sekali),
pembubunan bertujuan untuk menutupi bagian akar yang terlihat pada
permukaan tanah.
d. Penyiangan dilakukan setiap ada gulma disekitar area pertanaman (seminggu
sekali).
e. Penanggulangan hama & penyakit dilakukan ketika tanaman terserang
penyakit. Penanggulangan hama & penyakit ini menggunakan pestisida nabati
yang terbuat dari bawang putih.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.Hasil
NO

GAMBAR

KETERANGAN

Pengamatan umur 2 MST


(foto tanggal 10/11/2014)

Cabai terserang penyakit yang


disebabkan oleh Gemini virus
(foto pada tanggal 17/11/2014)

Fase awal pembungaan


(foto tanggal 11/12/2014)

Mulai pembentukan buah


(foto pada tanggal 18/12/2014)

Cabe yang rontok karena busuk di


pohon (foto tanggal 29/12/2014)

B.Pembahasan
Dari hasil praktikum budidaya cabai merah yang awal penanaman bibit 38 buah,
dari 38 bibit tersebut hanya dapat tumbuh 29 buah. Hal ini terjadi pada 9 bibit yang
mati dikarenakan bibit tersebut sangat kecil ketika dipindah tanam pada polybag dan
tidak dapat beradaptasi pada lingkungan sekitar. Budidaya cabai merah sangatlah
diperlukan ketekunan dan kesabaran, karena membutuhkan keterampilan yang cukup
dalam pemeliharaanya.
Pada umur 3 MST cabai merah terserang penyakit yang disebabkan oleh Gemini
virus. Tanaman cabe yang terserang virus kuning, daun dan batangnya akan terlihat
menguning. Penyakit ini disebut juga penyakit bule atau bulai. Penyebabnya adalah
virus gemini, penyakit ini bisa dibawa dari benih atau biji dan ditularkan oleh kutu.
Penyakit yang disebabkan virus tidak akan mempan dengan penyemprotan
pestisida nabati maupun kimia. Pengendalian harus dilakukan semenjak dini, dengan
memilih benih unggul dan tahan serangan virus. Selain itu bisa juga dengan
membasmi hama yang menjadi vektornya, seperti kutu. Untuk pengendalianya
disemprotkan pestisida nabati dari bawang putih tetapi tetap saja virus tersebut tidak
dapat hilang dikarenakan ada tanaman yang terkena virus tersebut dekat dengan
budidaya cabai merah ini sehingga masih saja terkena virus.
Penyakit antraknosa atau patek pada tanaman cabai disebabkan oleh Cendawan
Colletotricum capsici dan Gloesporium piperatum. Kedua jamur tersebut bisa
menyerang sendiri-sendiri maupun bersamaan (kombinasi keduanya). Penyakit
antraknosa atau patek ini merupakan momok bagi para petani cabai karena bisa
menghancurkan panen hingga 20-90 % terutama pada saat musim hujan, cendawan
penyebab penyakit antraknosa atau patek ini berkembang dengan sangat pesat bila
kelembaban udara cukup tinggi yaitu bila lebih dari 80 % dengan suhu 32 0
celcius.Biasanya cendawan C. capsici menyerang tanaman dengan menginfeksi
jaringan buah dan membentuk bercak cokelat kehitaman yang kemudian meluas
menjadi busuk lunak. Serangan yang berat menyebabkan buah mengering dan keriput
seperti jerami.
Pada bagian tengah bercak yang mengering terlihat kumpulan titik-titik hitam dari
koloni cendawan.Sedangkan cendawan G. piperatum menyerang tanaman cabe pada
saat buah masih berwarna hijau dan menyebabkan mati ujung (die back). Ciri-ciri
yang dapat dikenali akibat serangan cendawan ini adalah buah yang terserang terlihat
bintik-bintik kecil berwarna kehitaman dan berlekuk. Bintik-bintik ini pada bagian

tepi berwarna kuning, membesar dan memanjang. Pada kondisi lembab, cendawan
memiliki lingkaran memusat berwarna merah jambu.
Gejala serangan penyakit antraknosa atau patek pada buah ditandai buah busuk
berwarna kuning-coklat seperti terkena sengatan matahari diikuti oleh busuk basah
yang terkadang ada jelaganya (noda) berwarna hitam. Sedangkan pada biji dapat
menimbulkan kegagalan berkecambah atau bila telah menjadi kecambah dapat
menimbulkan rebah kecambah. Percikan air hujan atau air siraman yang mengenai
buah cabai. Akibatnya buah cabai diselimuti air hujan atau air siraman tersebut
menimbulkan jamur. Maka untuk pengendaliannya harus menggunakan penutup
tanah.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Dari praktikum yang telah dilakukan oleh kelompok II dapat disimpulkan
bahwa budidaya cabai merah belum maksimal, Terutama dilihat dari hasil
yang didapatkan. Cabai terserang berbagai penyakit yang dapat menyebabkan
hasil cabai tidak maksimal.
2. Penyebab utama ketidakberhasilannya adalah disebabkan ketidaktentuan iklim
saat budidaya dilaksanakan.
3. Cuaca yang terlalu panas saat tanam dan hujan deras saat menjelang
pembungaan menjadi faktor utama ketidakberhasilan pada budidaya cabai,
karena tanaman tumbuh tidak seragam, banyak bunga yang gugur dan busuk
di pohon sebelum panen. Faktor lahan juga menjadisalah satu alasan mengapa
hasil yang didapatkan kurang begitu maksimal.

DAFTAR PUSTAKA
Hama

dan Penyakit Pada Tanaman Cabai. 2014. Tersedia pada


http://organichcs.com/2014/05/27/mengenal-lebih-dekat-dengan-hamadan-penyakit-yang-sering-menyerang-tanaman-cabe/ Di unduh pada
tanggal 20 desember 2014.
Laporan
praktikum
tanaman
hortikultura.
2011
Tersedia
pada
http://sptaji.blogspot.com/2011/12/laporan-praktikum-tanamanhortikultura.html Di unduh pada tanggal 25 Desember 2014.
Penyakit Porong pada Cabai Antraknosa. 2013. Tersedia pada http://hephphia.blogspot.com/2013/05/penyakit-porong-pada-cabaiantraknosa.html. Di unduh pada tanggal 29 Desember 2014.
Sardiyanto. 2012. Kerusakan Hama Penyakit Tanaman Cabai. Tersedia pada
http://sardianto-aet12.blogspot.com/2014/01/kerusakan-hama-penyakittanaman-cabai.html. Di unduh pada tanggal 31 Desember 2014.

10