Anda di halaman 1dari 11

B.

Hubungan Fungsional Kloroplas dan Mitokondria dalam Pembentukan Energi


Kloroplas dan Mitokondria memiliki hubungan fungsional dalam pembentukan
energi. Di dalam kloroplas akan terjadi fotosintesis yang menghasilkan oksigen dan
molekul organik yang digunakan oleh mitokondria sel eukariotik sebagai bahan bakar
dalam respirasi sel. Proses respirasi akan memecah bahan bakar tersebut dan
menghasilkan ATP. Produk buangan respirasi, yaitu CO2 dan air, akan digunakan kembali
untuk proses fotosintesis.
1. Fotosintesis dalam Kloroplas
Kloroplas merupakan organel yang terdapat pada jaringan tumbuhan yang
berfungsi sebagai penyerap energi cahaya, sintesis karbohidrat, dan evolusi
oksigen yang ketiga proses tersebut secara bersama dinamakan fotosintesis.
Rekasi kimia dari fotosintesis dapat dilihat sebagai berikut :
6 CO2 + 12 H2O + light energy
C6H12O6 + 6 O2 + 6 H2O
Reaksi tersebut menggunakan glukosa untuk menyederhanakan hubungan
antara fotosintesis dalam kloroplas dengan respirasi dalam mitokondria, tetapi
sebenarnya produk langsung dari proses fotosintesis adalah gula berkarbon tiga
yang dapat digunakan untuk membuat glukosa. Dari persamaan tersebut dapat
diketahui bahwa seluruh perubahan kimiawi selama fotosintesis merupakan
kebalikan dari persamaan respiorasi sel. Namun, kloroplas tidak mensitesis
glukosa hanya dengan membalikkan reaksi dalam respirasi.
Fotosintesis tersusun dari dua proses, yaitu reaksi terang dan rekasi gelap.
a. Reaksi Terang
Reaksi terang adalah proses untuk menghasilkan ATP dan reduksi NADPH2.
Reaksi ini terjadi di membran tilakoid yang mengandung enzim-enzim yang
lengkap untuk melaksanakan reaksi-reaksi fotosintesis yang bergantung cahaya.
Membaran ini merupakan tempat klorofil, pembawa-pembawa elektron dan
faktor-faktor yang menggabungkan transpor elektron dengan fosforilasi.
Reaksi ini memerlukan molekul air dan cahaya matahari. Proses diawali
dengan penangkapan foton oleh pigmen sebagai antena. Foton yang dimaksud
adalah segmen spektrum yang paling penting bagi kehidupan yaitu pita sempit
antara panjang gelombang sekitar 380 nm sampai 750 nm. Radiasi ini dikenal
sebagai cahaya tampak, karena dapat dideteksi sebagai beraneka ragam warna
oleh mata manusia.

Gambar 1. Spektrum Elektromagnetik


Membran tilakoid memiliki suatu fotosistem yaitu suatu unit yang mampu
menangkap energi cahaya matahari yang terdiri dari klorofil a, kompleks antena
dan akseptor elektron. Di dalam kloroplas terdapat beberapa macam klorofil dan
pigmen lain, seperti klorofil a yang berwarna hijau muda, klorofil b berwarna
hijau tua, dan karoten yang berwarna kuning sampai jingga.Pigmen-pigmen
tersebut mengelompok dalam membran tilakoid dan membentuk perangkat
pigmen yang berperan penting dalam fotosintesis. Klorofil a berada dalam bagian
pusat reaksi. Klorofil ini berperan dalam menyalurkan elektron yang berenergi
tinggi ke akseptor utama elektron. Elektron ini selanjutnya masuk ke sistem
siklus elektron. Elektron yang dilepaskan klorofil a mempunyai energi tinggi
sebab memperoleh energi dari cahaya yang berasal dari molekul perangkat
pigmen yang dikenal dengan kompleks antena.
Fotosistem sendiri dapat dibedakan menjadi dua, yaitu fotosistem I dan
fotosistem II. Pada fotosistem I ini penyerapan energi cahaya dilakukan oleh
klorofil a yang sensitif terhadap cahaya dengan panjang gelombang 700 nm
sehingga klorofil a disebut juga P700. Energi yang diperoleh P700 ditransfer dari
kompleks antena. Pada fotosistem II penyerapan energi cahaya dilakukan oleh
klorofil a yang sensitif terhadap panjang gelombang 680 nm sehingga disebut
P680. P680 yang teroksidasi merupakan agen pengoksidasi yang lebih kuat
daripada P700. Dengan potensial redoks yang lebih besar, akan cukup elektron
negatif untuk memperoleh elektron dari molekul-molekul air.

Gambar 2. Proses Fotosistem 1 dan 2


Mekanisme reaksi terang diawali dengan tahap dimana fotosistem II
menyerap cahaya Matahari sehingga elektron klorofil pada PS II tereksitasi dan
menyebabkan muatan menjadi tidak stabil. Untuk menstabilkan kembali, PS II
akan mengambil elektron dari molekul H2O yang ada disekitarnya. Molekul air
akan dipecahkan oleh ion mangan (Mn) yang bertindak sebagai enzim. Hal ini
akan mengakibatkan pelepasan H+ di lumen tilakoid. Dengan menggunakan
elektron dari air, selanjutnya PS II akan mereduksi plastokuinon (PQ) membentuk
PQH2.
Plastokuinon merupakan molekul kuinon yang terdapat pada membran lipid
bilayer tilakoid. Plastokuinon ini akan mengirimkan elektron dari PS II ke suatu
pompa H+ yang disebut sitokrom b6-f kompleks.
Sitokrom b6-f kompleks berfungsi untuk membawa elektron dari PS II ke PS
I dengan mengoksidasi PQH2 dan mereduksi protein kecil yang sangat mudah
bergerak dan mengandung tembaga, yang dinamakan plastosianin (PC). Kejadian
ini juga menyebabkan terjadinya pompa H+ dari stroma ke membran tilakoid.
Elektron dari sitokrom b6-f kompleks akan diterima oleh fotosistem I. Fotosistem
ini menyerap energi cahaya terpisah dari PS II, tapi mengandung kompleks inti
terpisahkan, yang menerima elektron yang berasal dari H2O melalui kompleks inti
PS II lebih dahulu.Sebagai sistem yang bergantung pada cahaya, PS I berfungsi
mengoksidasi plastosianin tereduksi dan memindahkan elektron ke protein Fe-S
larut yang disebut feredoksin.
Selanjutnya elektron dari feredoksin digunakan dalam tahap akhir
pengangkutan elektron untuk mereduksi NADP+ dan membentuk NADPH.
Reaksi ini dikatalisis dalam stroma oleh enzim feredoksin-NADP+ reduktase. Ion
H+ yang telah dipompa ke dalam membran tilakoid akan masuk ke dalam ATP
sintase.ATP sintase akan menggandengkan pembentukan ATP dengan
pengangkutan elektron dan H+melintasi membran tilakoid. Masuknya H+ padaA
TP sintase akan membuat ATP sintase bekerja mengubah ADP dan fosfat
anorganik (Pi) menjadi ATP.

Reaksi terang menggunakan tenaga matahari untuk menghasilkan ATP dan


NADPH yang menyediakan energi kimia dan kekuatan pereduksi untuk
digunakan dalam siklus Calvin (suatu tahapan reaksi pensintesa karbohidrat).
Perubahan energi yang terjadi pada elektron dalam menempuh aliran reaksi pada
tahap reaksi terang secara mekanis ditunjukkan oleh analogi pada gambar berikut.

Gambar 3 . analogi mekanik reaksi terang


b. Reaksi Gelap
Siklus ini menggunakan ATP dan NADPH sebagai sumber energi dan NADPH
sebagai tenaga pereduksi pembuatan gula. Karbohidrat yang dihasilkan langsung
dari siklus Calvin sebenarnya bukan glukosa melainkan gula berkarbon tiga yang
disebut gliseraldehida 3 fosfat (G3P). Berdasarkan Campbell (2002) daur Calvin
dapat dibagi ke dalam 3 fase sebagai berikut:
a.
Pengikatan (fiksasi) CO2
CO2 diikat oleh senyawa ribulosa bifosfat (RuBP) untuk membentuk
senyawa C-6 yang akan terurai menjadi dua molekul 1,3 bifosfogliserat.
Enzim yang berperan dalam fiksasi CO2 adalah RuBP karboksilase atau
rubisko.
b. Reduksi
Tiap-tiap molekul 3-fosfogliserat menerima tambahan gugus fosfat dari
ATP dan membentuk 1,3-bisfosfogliserat. Selanjutnya, sepasang elektron yang
didonasikan oleh NADPH mereduksi molekul tersebut yang juga akan
kehilangan gugus fosfatnya menjadi G3P. Pada setiap 3 molekul CO2 akan
dihasilkan 6 molekul G3P tetapi hanya satu molekul G3P yang dapat dihitung
sebagai produk netto karbohidrat. Satu molekul tersebut keluar dari siklus dan
digunakan oleh tumbuh-tumbuhan sedangkan 5 molekul yang lain didaur
ulang untuk menghasilkan tiga molekul RuBP.
c. Regenerasi pernerima molekul CO2 (RuBP)

Di dalam serangkaian reaksi yang kompleks, rangka karbon dari lima


molekul G3P dirancang kembali dalam fase akhir siklus Calvin menjadi tiga
molekul RuBP. Untuk mencapai tahap pembentukan RuBP, ATP digunakan
sebagai sumber energi (3 molekul ATP). RuBP ini kemudian siap untuk
menerima CO2 lagi dan siklus berlulang secara terus menerus. Untuk
menghasilkan satu molekul G3P, siklus Calvin membutuhkan sebanyak 9 ATP
dan 6 NADPH (reaksi terang menghasilkan ATP dan NADPH). Molekul G3P
yang keluar dari siklus Calvin menjadi materi awal dalam sintesis materi
organik melalui jalur metabolisme termasuk sintesis glukosa dan karbohidrat
lainnya.

Gambar 4. Siklus Calvin


2. Metabolisme Energi dalam Mitokondria
Untuk menghasilkan energi, glukosa hasil dari proses fotosintesis akan
melalui proses metabolisme dalam mitokondria. Proses metabolisme glukosa
berlangsung melalui dua mekanisme utama yaitu melalui proses anaerobik dan
proses aerobik. Proses metabolisme sacara anaerobik berlangsung di
dalamsitoplasma sedangkan metabolisme aerobik berlangsung dalam mitokondria
dengan menggunakan enzim sebagai katalis.
a. Proses Glikolisis

Tahap awal metabolisme konversi glukosa menjadi energi di dalam tubuh


akan berlangsung secara anaerobik melalui proses yang dinamakan Glikolisis
(Glycolysis). Proses ini berlangsung dengan mengunakan bantuan 10 jenis enzim
yang berfungsi sebagai katalis di dalam sitoplasma (cytoplasm) yang terdapat
pada sel eukaryotik (eukaryotic cells). Inti dari keseluruhan proses Glikolisis
adalah untuk mengkonversi glukosa menjadi produk akhir berupa piruvat. Pada
proses Glikolisis, 1 molekul glukosa yang memiliki 6 atom karbon pada rantainya
(C H O ) akan terpecah menjadi produk akhir berupa 2 molekul piruvat
(pyruvate) yang memiliki 3 atom karbom (C H O ). Proses ini berjalan melalui
beberapa tahapan reaksi yang disertai dengan terbentuknya beberapa senyawa
antara seperti Glukosa 6-fosfat dan Fruktosa 6-fosfat. Selain akan menghasilkan
produk akhir berupa molekul piruvat, proses glikolisis ini juga akan
menghasilkan molekul ATP serta molekul NADH (1 NADH3 ATP). Molekul ATP
yang terbentuk ini kemudian akan diekstrak oleh sel-sel tubuh sebagai komponen
dasar sumber energi. Melalui proses glikolisis ini 4 buah molekul ATP & 2 buah
molekul NADH (6 ATP) akan dihasilkan serta pada awal tahapan prosesnya akan
mengkonsumsi 2 buah molekul ATP sehingga total 8 buah ATP akan dapat
terbentuk.
b. Respirasi seluler
Tahap metabolisme energi berikutnya akan berlangsung pada kondisi
aerobik dengan mengunakan bantuan oksigen (O ). Bila oksigen 2 tidak tersedia
maka molekul piruvat hasil proses glikolisis akan terkonversi menjadi asam laktat.
Dalam kondisi aerobik, piruvat hasil proses glikolisis akan teroksidasi menjadi
produk akhir berupa H O dan CO di dalam 2 2 tahapan proses yang dinamakan
respirasi selular (Cellular respiration). Proses respirasi selular ini terbagi menjadi
3 tahap utama yaitu produksi Acetyl-CoA atau Dekarboksilasi oksidatif, proses
oksidasi Acetyl-CoA dalam siklus asam sitrat (Citric-Acid Cycle) atau siklus kreb
serta Rantai Transpor Elektron (Electron Transfer Chain/Oxidative
Phosphorylation).
Tahap kedua dari proses respirasi selular yaitu Siklus Asam Sitrat
merupakan pusat bagi seluruh aktivitas metabolisme tubuh. Siklus ini tidak hanya
digunakan untuk memproses karbohidrat namun juga digunakan untuk memproses
molekul lain seperti protein dan juga lemak.
1) Dekarboksilasi oksidatif

Dekarbosilasi adalah reaksi yang mengubah asam piruvat yang beratom 3 C


menjadi senyawa baru yang beratom 2 C, yaitu asetil koenzim-A (asetil ko-A). Reaksi
dekarboksilasi oksidatif ini (disingkat DO) dan sering juga disebut sebagai tahap
persiapan untuk masuk ke siklus Krebs. Reaksi DO ini berlangsung di intermembran
mitokondria.
Proses ini berjalan dengan bantuan multi enzim 2 pyruvate dehydrogenase
complex (PDC) melalui 5 urutan reaksi yang melibatkan 3 jenis enzim serta 5 jenis
coenzim. 3 jenis enzim yang terlibat dalam reaksi ini adalah enzim Pyruvate
Dehydrogenase (E1), dihydrolipoyl transacetylase (E2) & dihydrolipoyl
dehydrogenase (E3), sedangkan coenzim yang telibat dalam reaksi ini adalah TPP,
NAD+, FAD, CoA.
Pertama-tama, molekul asam cuka yang dihasilkan dari reaksi glikolisis akan
melepaskan satu gugus karboksilnya yang sudah teroksidasi sempurna dan
mengandung sedikit energi, yaitu dalam bentuk molekul CO2. Setelah itu, 2 atom
karbon yang tersisa dari piruvat akan dioksidasi menjadi asetat (bentuk ionisasi asam
asetat). Selanjutnya, asetat akan mendapat transfer elektron dari NAD+ yang tereduksi
menjadi NADH. Kemudian, koenzim A (suatu senyawa yang mengandung sulfur yang
berasal dari vitamin B) diikat oleh asetat dengan ikatan yang tidak stabil dan
membentuk gugus asetil yang sangat reaktif, yaitu asetil koenzim-A, yang siap
memberikan asetatnya ke dalam siklus Krebs untuk proses oksidasi lebih lanjut .
Selama reaksi transisi ini, satu molekul glukosa yang telah menjadi 2 molekul asam
piruvat lewat reaksi glikolisis menghasilkan 2 molekul NADH.
2) Proses oksidasi Acetyl-CoA (Citric-Acid Cycle) atau siklus kreb
Molekul Acetyl CoA yang merupakan produk akhir dari proses konversi
Pyruvate kemudian akan masuk kedalam Siklus Asam Sitrat. Secara sederhana
persamaan reaksi untuk 1 Siklus Asam Sitrat (Citric Acid Cycle) dapat dituliskan :
Acetyl-CoA + oxaloacetate + 3 NAD + GDP + Pi +FAD --> oxaloacetate + 2 CO +
FADH + 3 NADH + 3 H + GTP
Siklus ini merupakan tahap akhir dari proses metabolisme energi glukosa.
Proses konversi yang terjadi pada siklus asam sitrat berlangsung secara aerobik di
matriks mitokondria dengan bantuan 8 jenis enzim. Inti dari proses yang terjadi pada
siklus ini adalah untuk mengubah 2 atom karbon yang terikat didalam molekul
Acetyl-CoA menjadi 2 molekul karbondioksida (CO ), membebaskan koenzim A serta
2 memindahkan energi yang dihasilkan pada siklus ini ke dalam senyawa NADH,
FADH dan GTP. Selain 2 menghasilkan CO dan GTP, dari persamaan reaksi 2 dapat

terlihat bahwa satu putaran Siklus Asam Sitrat juga akan menghasilkan molekul
NADH & molekul FADH . Untuk melanjutkan proses metabolisme energi, 2 kedua
molekul ini kemudian akan diproses kembali secara aerobik di dalam membran sel
mitokondria melalui proses Rantai Transpor Elektron untuk menghasilkan produk
akhir berupa ATP dan air (H O).

Gambar 5. Siklus kreb


3) Rantai Transpor Elektron
Proses konversi molekul FADH dan NADH yang dihasilkan dalam siklus asam
sitrat (citric acid cycle) 2 menjadi energi dikenal sebagai proses fosforilasi oksidatif
(oxidative phosphorylation) atau juga Rantai Transpor Elektron (electron transport
chain). Di dalam proses ini, elektron-elektron yang terkandung didalam molekul
NADH & FADH ini akan dipindahkan ke dalam aseptor utama yaitu oksigen (O ).
Pada akhir tahapan proses ini, elektron yang terdapat di dalam molekul NADH akan
mampu untuk menghasilkan 3 buah molekul ATP sedangkan elektron yang terdapat
dalam molekul FADH akan menghasilkan 2 buah molekul ATP.

Rantai transpor elektron tidak membuat ATP secara langsung. Akan tetapi, rantai ini
memudahkan kejatuhan elektron dari makanan ke oksigen, menguraikan penurunan energibebas dalam jumlah besar menjadi serangkaian langkah yang lebih kecil, yang melepaskan
energi dalam jumlah yang mudah dikelola. Mitokondria (atau membran plasma prokariota)
menggandengkan transpor elektron dan pelepasan energi ini dengan sintesis ATP suatu
mekanisme yang disebut kemiosmosis.
1. Pengertian Kemiosmosis
Teori kemiosmosis pertama kali dipaparkan oleh Peter D. Mitchel pada tahun 1961. Teori
ini menyatakan bahwa sebagian besar pembentukan ATP dalam proses respirasi sel berasal
dari gradien elektrokimia yang melewati membran mitokondria sebelah dalam dengan
menggunakan energi dari NADH dan FADH2 yang merupakan hasil dari pemecahan molekul
kaya energi, misalnya glukosa.
Proses ini berhubungan dengan proses pembentukan ATP karena pergerakan ion Hidogen
yang melewati membran. Proses ini disebut kemiosmosis karena mirip dengan terjadinya
osmosis, yaitu difusi air melewati membran.
2. Tahap Kemiosmosis
Pembentukan ATP yang melibatkan peristiwa kemiosmosis terjadi di mitokondria dan
kloroplas. Di dalam sel, peristiwa kemiosmosis melibatkan proton motive force (PMV).
Terbentuknya PMV diawali dengan proses terjadinya pergerakan elektron pada rantai
transpor elektron. Elektron pada rantai transpor elektron digerakkan dengan adanya pelepasan
elektron. Elektron tersebut bersal dari NADH atau FADH yang tereduksi apabila fosforilasi
terjadi pada mitokondria sedangkan pada kloroplas, energi cahaya memecah molekul air
menjadi ion H+ dan oksigen dan disertai pelepasan elektron.
Pergerakan elektron menimbulkan energi. Energi tersebut digunakan untuk memompa
proton. Proton bergerak dari dalam membran ke membran antara di dalam sel mitokondria
atau kloroplas. Pergerakan proton ke luar membran menyebabkan konsentrasi tinggi pada
partikel ion positif sehingga terjadi perbedaan konsentrasi antara di dalam dan di luar

membran. Perbedaan ini menghasilkan gradien elektrokimia. Gradien tersebut menghasilkan


perbedaan tingkat

PH dan tingkat

muatan listrik. Kedua

perbedaan inilah

yang disebut PMV.

Setelah terjadi

PMV bergeraklah

proton dari

konsentrasi ion H+

yang tinggi ke ion

H+ yang rendah yang

disebut difusi ion.

Difusi ion ini

menmyebabkan

adanya aliran proton

yang hanya dapat

masuk ke membran

melalui enzim ATP

synthase yang

membawa cukup

energi untuk

menggabungkan

ADP dan fosfat

anorganik maka

terbentuklah ATP.

Gambar 1. Peristiwa Kemiosmosis


Daftar Pustaka :
Champbell, NA dan Reece, JB. 2008. Biologi. Edisi ke delapan. Jilid satu. Jakarta : Erlangga
Irawan, MA. 2007. Glukosa dan Metabolisme Energi. Jurnal Polton Sports Science and
Performance Lab. Vol 01 (06): 1-5. Diakses melalui ww.pssplab.com pada tanggal
14 Maret 2015.
Utomo, B. 2007. Fotosintesis Pada Tumbuhan. Karya Ilmiyah. Medan : Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara.

Saefudin. Tanpa Tahun. Struktur dan Fungsi Sel [pdf]. (Online). Diakses melalui
http://file.upi.edu/Direktori/SPS/PRODI.PENDIDIKAN_IPA/196307011988031SAEFUDIN/Biologi_sel_PLPG.pdf pada tanggal 14 Maret 2015.