Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN LABIRINITIS

1;

DEFINISI
Labirinitis adalah inflamasi telinga dalam dan dapat disebabkan oleh bakteri
maupun virus. Labirinitis bacterial, meskipun cukup jarang sejak dikenalnya
antibiotika, paling sering terjadi sebagai komplikasi meningitis bakterial. Infeksi
berkembang ke telinga dalam melalui kanalis auditorius internus atau aquaduc
koklear. Labirinitis adalah infeksi pada telinga dalam (labirin).

2; ETIOLOGI
Secara etiologi labirinitis terjadi karena penyebaran infeksi ke ruang perlimfa.
Terdapat dua bentuk labirinitis, yaitu labirinitis serosa dan labirinitis supuratif.
Labirinitis serosa dapat berbentuk labirinitis serosa difus dan labirinitis serosa
sirkumskripta. Labirinitis supuratif dibagi dalam labirinitis supuratif akut difus dan
labirinitis supuratif kronik difus.
Pada labirinitis serosa toksin menyebabkan disfungsi labirin tanpa invasi sel
radang, sedangkan pada labirin supurati dengan invasi sel radang ke labirin., sehingga
terjadi

kerusakan

yan

iereversibel,

seperti

fibrosa

dan

osifikasi.

Pada kedua jenis labirinitis tersebut operasi harus esgera dilakukan untuk
menghilangkan infeksi dari telinga tengah. Kadang kadang diperlukan juga drenase
nanah dari labirin untuk mencegah terjadinya meningitis. Pemberian antibiotika yang
adekuat terutama ditujukan kepada pengobatan otitis media kronik
3; ANATOMI DAN HISTOLOGI TELINGA
Telinga merupakan organ pendengaran sekaligus juga organ keseimbangan.
Telinga terdiri atas 3 bagian yaitu telinga luar, tengah dan dalam .
1; Telinga Luar

Telinga luar terdiri atas aurikula,meatus akustikus eksternus dan membran


timpani. Aurikulum disusun oleh tulang rawan elastin yang ditutupi oleh kulit tipis
yang melekat erat pada tulang rawan. Dalam lapisan subkutis terdapat beberapa
lembar otot lurik yang pada manusia rudimenter. Meatus akustikus eksternus
berbentuk tabung dengan panjangnya kira-kira 2,5- 3 cm manakala diameternya
bervariasi yaitu lateral biasanya lebih lebar dari medial.Meatus akustikus
eksternus terdiri dari dua bagian yaitu bagian lateral dan medial.Bagian lateral
adalah pars kartilagenus yaitu 1/3 luar merupakan lanjutan dari aurikulum,

mempunyai rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar serumenalis serta kulit melekat
erat dengan perikondrium.
Bagian medial adalah pars osseus yaitu 2/3 medial merupakan bagian dari os
temporalis, tidak berambut, ada penyempitan di istmus yaitu kira-kira 5 mm dari
membaran timpani.\
Membran timpani memisahkan meatus acusticus externus dan telinga
tengah.Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang
telinga dengan diameter kira-kira 1 cm. Bagian atas disebut pars flaksida
sedangkan bahgaian bawah pars tensa.Pars flaksida hanya berlapis dua , yaitu
bagian luar ialah lanjutan epitel kulit liang telinga dan bagian dalam dilapisi oleh
sel kubus bersilia.Pars tensa mempunyai satu lapis lagi ditengah, yaitu lapisan
yang terdiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin yang berjalan secara radier
dibagian luar dan sirkuler dibagian dalam. Serat inilah yang menyebabkan refleks
cahaya.Refleks cahaya terletak dikuadran anterior inferior.Bayangan penonjolan
bagian bawah maleus pada membran timpani disebut umbo.Membran timpani
dibagi dalam 4 kuadran, dengan menarik garis searah dengan prosessus longus
maleus dan garis yang tegak lurus pada garis itu di umbo, sehingga didapatkan
bagian superior-anterior,superior-posterior, inferior-anterior serta inferiorposterior, untuk menyatakan letak perforasi membran timpani.
2; Telinga Tengah

Telinga tengah atau rongga telinga adalah suatu ruang yang terisi udara yang
terletak di bagian petrosum tulang pendengaran. Ruang ini berbatasan di sebelah
posterior dengan ruang-ruang udara mastoid dan disebelah anterior dengan faring
melalui tuba Eustachius. Epitel yang melapisi rongga timpani dan setiap bangunan
di dalamnya merupakan epitel selapis gepeng atau kuboid rendah, tetapi di bagian
anterior pada pada celah tuba Eustachius epitelnya selapis silindris bersilia.
dibagian dalam rongga ini terdapat tiga jenis tulang pendengaran yaitu tulang
maleus, inkus dan stapes.
Ketiga tulang ini merupakan tulang kompak tanpa rongga sumsum tulang.
Tulang maleus melekat pada membran timpani. Tulang maleus dan inkus
tergantung pada ligamen tipis di atap ruang timpani. Lempeng dasar stapes
melekat pada tingkap celah oval (fenestra ovalis) pada dinding dalam. Ada dua
otot kecil yang berhubungan dengan ketiga tulang pendengaran. Otot tensor
timpani terletak dalam saluran di atas tuba auditiva, tendonya berjalan mula-mula
ke arah posterior kemudian mengait sekeliling sebuah tonjol tulang kecil untuk
melintasi rongga timpani dari dinding medial ke lateral untuk berinsersi ke dalam
gagang maleus. Tendo otot stapedius berjalan dari tonjolan tulang berbentuk
2

piramid dalam dinding posterior dan berjalan anterior untuk berinsersi ke dalam
leher stapes. Otot-otot ini berfungsi protektif dengan cara meredam getarangetaran berfrekuensi tinggi.
3; Telinga Dalam

Telinga dalam adalah suatu sistem saluran dan rongga di dalam pars petrosum
tulang temporalis. Telinga dalam di bentuk oleh labirin tulang (labirin oseosa)
yang di da-lamnya terdapat labirin membranasea. Labirin tulang berisi cairan
perilimf sedangkan labirin membranasea berisi cairan endolimf.Labirin tulang
terdiri atas tiga komponen yaitu kanalis semisirkularis, vestibulum, dan koklea
tulang
Labirin tulang ini di sebelah luar berbatasan dengan endosteum, sedangkan di
bagian dalam dipisahkan dari labirin membranasea yang terdapat di dalam labirin
tulang oleh ruang perilimf yang berisi cairan endolimf.Vestibulum merupakan
bagian tengah labirin tulang, yang berhubungan dengan rongga timpani melalui
suatu membran yang dikenal sebagai fenestra ovale. Ke dalam vestibulum
bermuara tiga buah kanalis semisirkularis yaitu kanalis semisirkularis anterior,
posterior dan lateral yang masing-masing saling tegak lurus. Setiap saluran
semisirkularis mempunyai pelebaran atau ampula. Walaupun ada tiga saluran
tetapi muaranya hanya lima karena ujung posterior saluran posterior yang tidak
berampula menyatu dengan ujung medial saluran anterior yang tidak bermapula
dan bermuara ke dalam bagian medial vestibulum oleh krus kommune. Ke arah
anterior rongga vestibulum berhubungan dengan koklea tulang dan fenestra
rotundum.Koklea merupakan tabung berpilin mirip rumah siput.
Bentuk keseluruhannya mirip kerucut dengan dua tiga-perempat putaran.
Sumbu koklea tulang di sebut mediolus. Tonjolan tulang yang terjulur dari
modiolus membentuk rabung spiral dengan suatu tumpukan tulang yang disebut
lamina spiralis. Lamina spiralis ini terdapat pembuluh darah dan ganglion spiralis,
yang merupakan bagian koklear nervus akustikus.
Labirin membransea terletak di dalam labirin tulang, merupakan suatu sistem
saluran yang saling berhubungan dilapisi epitel dan mengandung endolimf.
Labirin ini dipisahkan dari labirin tulang oleh ruang perilimf yang berisi cairan
perilimf. Pada beberapa tempat terdapat lembaran-lembaran jaringan ikat yang
mengandung pembuluh darah melintasi ruang perilimf untuk menggantung labirin
membranasea.Labirin membranasea terdiri atas duktus semisirkularis
membranasea,ultrikulus, sakulus dan ductus koklearis.
4; FISIOLOGI TELINGA
3

a; Pendengaran

Mendengar adalah kemampuan untuk mendeteksi tekanan vibrasi udara


tertentu dan menginterpretasikannya sebagai bunyi. Telinga mengkonversi energi
gelombang tekanan menjadi impuls syaraf, dan korteks serebri mengkonversi
impuls ini menjadi bunyi.Bunyi memiliki frekuensi, amplitude dan bentuk
gelombang. Frekuensi gelombang bunyi adalah kecepatan osilasi gelombang
udara per unit waktu. Telinga manusia dapat menangkap frekuensi yang bervariasi
dari sekitar 20 sampai 18,000 Hertz (Hz).
Satu hertz adalah satu siklus per detik.Amplitudo adalah ukuran energi atau
intensitas fluktuasi tekanan. Gelombang bunyi dengan amplitude yang berbeda
diinterpretasikan sebagai perbedaan dalam kekerasan.Ukuran bunyi dalam decibel
(dB).Gelombang bunyi ditangkap oleh aurikulum dan ditransmisikan ke dalam
meatus aukustikus eksternus kemudian bergerak menuju kanalis akustikus
eksternus ke arah membran timpani.Gelombang bunyi menyebabkan vibrasi
membran timpani. Sifat membrane adalah aperiodis yang tidak memiliki frekuensi
alaminya sendiri tetapi mengambil karakteristik vibrasi yang terjadi.Getaran
tersebut menggetarkan membran timpani diteruskan ke telinga tengah melalui
rangkaian tulang pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya
ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membaran timpani
dengan fenestra ovale.Muskulus stapedius dan tensor timpani berkontraksi secara
reflektorik sebagai respons terhadap bunyi yang keras.Kontraksi akan
menyebabkan membran timpani menjadi tegang osikular lebih kaku dan dengan
demikian mengurangi transmisi suara.
Energi getar yang telah diamplifikasikan ini diteruskan ke stapes yang akan
menggerakan fenestra ovale sehingga perilimfa pada skala vestibuli
bergerak.Getaran mennggerakkan membrana Reissner mendorong endolimfa
sehingga akan menimbulkan gerakan relatif antara membran basilaris dan
membran tektoria.Proses ini merupakan rangsangan mekanik yang menyebabkan
defleksi seterosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi
penglepasan ion bermutan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses
depolarisasi sel-sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmiter ke dalam sinaps
yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke
nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran(area 39-40) di lobus
temporalis.
b; Keseimbangan

Keseimbangan dan orientasi tubuh seseorang terhadap lingkungan di


sekitarnya tergantung pada input sensorik dari reseptor vestibuler di labirin, organ
4

visual dan proprioseptif. Reseptor keseimbangan terdiri dari macula yaitu reseptor
keseimbangan statis yang terdapat di utrikulus dan sakulus manakala krista
ampularis yaitu reseptor keseimbangan dinamis yang terdapat pada kanal
semisrkular, bereaksi terhadap gerakan rotasi pada sumbu bidang.
Gerakan atau perubahan kepala dan tubuh akan menimbulkan perpindahan cairan
endolimfa di labirin dan selanjutnya silia sel rambut akan menekuk
Tekukan silia menyebabkan permeabilitas membran sel berubah, sehingga ion
kalsium akan masuk ke dalam sel yang menyebabkan terjadinya proses
depolarisasi dan akan merangsang penglepasan neurotransmitter eksitator yang
selanjutnya akan meneruskan impuls sensoris melalui saraf aferen ke pusat
keseimbangan di otak.
Sewaktu berkas silia terdorong ke arah berlawanan, maka terjadi
hiperpolarisasi.Organ vestibuler berfungsi sebagai transduser yang mengubah
energi mekanik akibat rangsangan otolit dan gerakan endolimfa di dalam kanalis
semisirkularis menjadi energi biolistrik, sehingga dapat memberi informasi
mengenai perubahan posisi tubuh akibat percepatan linier atau percepatan sudut.
Dengan demikian dapat memberi informasi mengenai semua gerak tubuh yang
sedang berlangsung.
5;

KLASIFIKASI
a; Labirinitis yang mengenai seluruh bagian labirin, disebut labirinitis umum
(general ), dengan gejala fertigo berat dan tuli saraf berat, sedangkan labirinitis
yang terbatas ( labirinitis sirkumskripta ) menyebabkan terjadinya vertigo saja /
tuli saraf saja.
b; Labirinitis terjadinya oleh karena penyebaran infeksi ke ruang perlimfa. Terdapat
dua bentuk labirinitis yaitu labirinitis serosa dan labirinitis supuratif. Labirinitis
serosa dapat berbentuk labirinitis serosa difus dan labirinitis serosa sirkumskripta.
Labirinitis supuratif dibagi dalam bentuk labirinitis supuratif akut difus dan
labirinitis supuratif kronik difus.
c; Labirinitis serosa toksin menyebabkan disfungsi labirin tanpa invasi sel radang,
sedangkan pada labirinitis supuratif, sel radang menginvasi labirin, sehingga
terjadi kerusakan yang ireversibel, seperti fibrosis dan osifikasi. Pada kedua
bentuk labirinitis itu operasi harus segera dilakukan untuk menghilangkan infeksi
dari telinga tengah. Kadang kadang diperlukan juga drenase nanah dari labirin
untuk mencegah terjadinya meningitis. Pemberian antibiotika yang adekuat
terutama ditujukan kepada pengobatan otitis media kronik dengan atau tanpa
kolesteatoma.
5

6; TANDA DAN GEJALA

Gejala yang timbul pada labirinitis lokalisata merupakan hasil dari gangguan
fungsi vestibular dan gangguan koklea yaitu terjadinya vertigo dan kurang
pendengaran derajat ringan hingga menengah secara tiba-tiba. Pada sebagian besar
kasus, gejala ini dapat membaik sendiri sejalan dengan waktu dan kerusakan yang
terjadi juga bersifat reversible.
Pada labirinitis difusa (supuratif)
Gejala yang timbul sama seperti gejala pada labirinitis lokalisata tetapi
perjalanan penyakit pada labirinitis difusa berlangsung lebih cepat dan hebat,
didapati gangguan vestibular, vertigo yang hebat, mual dan muntah dengan disertai
nistagmus. Gangguan pendengaran menetap, tipe sensorineural pada penderita ini
tidak dijumpai demam dan tidak ada rasa sakit di telinga. Penderita berbaring
dengan telinga yang sakit ke atas dan menjaga kepala tidak bergerak. Pada
pemeriksaan telinga tampak perforasi membrana timpani.
Pada labirinitis viral
Penderita didahului oleh infeksi virus seperti virus influenza, virus mumps,
timbul vertigo, nistagmus kemudian setelah 3-5 hari keluhan ini berkurang dan
penderita normal kembali. Pada labirinitis viral biasanya telinga yang dikenai
unilateral.
Terjadi tuli total disisi yang sakit, vertigo ringan nistagmus spontan biasanya
kea rah telinga yang sehat dapat menetap sampai beberapa bulan atau sampai sisa
labirin yang berfungsi dapat menkompensasinya. Tes kalori tidak menimbulkan
respons disisi yang sakit dan tes fistulapur negatif walaupun dapat fistula.
Labirintitis ditandai oleh awitan mendadak vertigo yang melumpuhkan,
bisanya disertai mual dan muntah, kehilangan pendengaran derajat tertentu, dan
mungkin tinnitus. Episode pertama biasanya serangan mendadak paling berat, yang
biasanya terjadi selama periode beberapa minggu sampai bulan, yang lebih ringan.
Pengobatan untuk labirintitis balterial meliputi terapi antibiotika intravena,
penggantian cairan, dan pemberian supresan vestibuler maupun obat anti muntah.
Pengobatan labirintitis viral adalah sintomatik dengan menggunakan
obatantimuntah dan antivertigo.
7; PATOFISIOLOGI

Kira kira akhir minggu setelah serangan akut telinga dalam hampir
seluruhnya terisi untuk jaringan gramulasi, beberapa area infeksi tetap ada. Jaringan
gramulasi secara bertahap berubah menjadi jaringan ikat dengan permulaan.

Pembentukan tulang baru dapat mengisi penuh ruangan labirin dalam 6 bulan sampai
beberapa tahun pada 50 % kasus.
8; PEMERIKSAAN PENUNJANG
Fistula dilabirin dapat diketahui dengan testula, yaitu dengan memberikan
tekanan udara positif ataupun nrgatif ke liang telinga melalui otoskop siesel dengan
corong telinga yang kedap atau balon karet dengan bentuk elips pada ujungnya yang
di masukan ke dalam liang telinga. Balon karet di pencet dan udara di dalamnya
akana menyebabkan perubahan tekanan udara di liang telinga. Bila fistula yang terjadi
masih paten maka akan terjadi kompresi dan ekspansi labirin membrane. Tes fistula
positif akan menimbulkan ristamus atau vertigo. Tes fistula bisa negatif, bila
fistulanya bisa tertutup oleh jaringan granulasi atau bila labirin sudah mati atau
paresis kanal.
Pemeriksaan radiologik tomografi atau CT Scan yang baik kadang kadang
dapat

memperlihatkan

fistula

labirin,

yang

biasanya

ditemukan

dikanalis

semisirkularis horizontal. Pada fistula labirin / labirintis, operasi harus segera


dilakukan untuk menghilangkan infeksi dan menutup fistula, sehingga fungsi telinga
dalam dapat pulih kembali. Tindakan bedah harus adekuat untuk mengontrol penyakit
primer. Matriks kolesteatom dan jaringan granulasi harus diangkat dari fistula sampai
bersih dan didaerah tersebut harus segera ditutup dengan jaringan ikat / sekeping
tulang / tulang rawan.
9; PENATALAKSANAAN

Terapi local harus ditujukan kesetiap infeksi yang mungkin ada, diagnosa
bedah untuk eksenterasi labirin tidak diindikasikan, kecuali suatu focus dilabirin
untuk daerah perilabirin telah menjalar untuk dicurigai menyebar ke struktur
intrakronial dan tidak memberi respons terhadap terapi antibiotika bila dicurigai ada
focus infeksi di labirin atau di ospretosus dapat dilakukan drerase labirin dengan salah
satu operasi labirin setiap skuestrum yang lepas harus dibuang, harus dihindari
terjadinya trauma NUA. Bila saraf fosial lumpuh, maka harus dilakukan dengan
kompresi saraf tersebut. Bila dilakukan operasi tulang temporal maka harus diberikan
antibiotika sebelum dan sesudah operasi
10; KOMPLIKASI
Tuli total atau meningitis.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN LABIRINITIS


I;

PENGKAJIAN
A; Data Subyektif
1. Identitas klien

2; Keluhan utama

Klien merasa pendengarannya kurang dan sering pusing. Klien


mengeluh nyeri pada telinga kanan/kiri.
3; Riwayat kesehatan
a; Riwayat kesehatan dahulu

Apakah pasien pernah mengalami Riwayat kesehatan masa lalu yang


berhubungan dengan gangguan pendengaran karena benda asing, biasanya
kebiasaan dan kecerobohan membersihkan telinga yang tidak benar atau
klien suka berenang dapat mempengaruhi penyakit ini.
b; Riwayat Penyakit Sekarang
Penderita biasanya mengeluhkan mual dan muntah, kehilangan
pendengaran derajat tertentu, dan mungkin tinnitus. Episode pertama
biasanya serangan mendadak paling berat, yang biasanya terjadi selama
periode beberapa minggu sampai bulan, yang lebih ringan
c; Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit ini tidak diturunkan, melainkan disebabkan oleh virus dan
bakteri.
4; Pola-Pola Kesehatan
a; Pola Nutrisi

Biasanya nafsu makan klien menurun dan pola makan klien di atur.
b; Pola Eliminasi
BAK : Biasanya saat sakit BAK sering karena penambahan cairan melalui
infus. Biasanya warnanya kuning kejernihan dan berbau amis,
kadang berbau obat, klien yg mengonsumsi obat antibiotik biasnya
urinenya berbau obat itu.

BAB : Saat sakit frekuensinya biasnya berkurang,kadang-kadang tidak ada.


Biasanya terjadi defekasi.
c; Pola Istirahat dan Tidur
Biasanya klien susah tidur malam. Biasanya klien mengalami kesulitan
tidur karna kondisi penyakitnya.
d; Pola Aktivitas Sehari-hari
Klien hanya istirahat di tempat tidur. Perawatan diri klien berkurang,
hygine klien berkurang.
e; Pola Stress
Biasanya klien sangat teganggu dengan keadaanya sekarang dan klien
snagat memikirkan mengenai penyakitnya.

B; Data Obyektif
1; Tanda-Tanda Vital
a; Tekanan Darah :

c. Suhu :
b; Nadi
:
d. RR : 12x/menit
2; Keadaan Umum : Composmentis
3; Pemeriksaan Fisik :
a; Kepala :
Amati bentuk kepala apakah ada oedema, dan amati apakah ada kondisi
luka (jahitan).
b; Rambut
Biasanya rambut klien tidak bersih, rontok dan dikepala tidak ada
pembengkakan.
c; Wajah
Biasaya wajah pasien kelihatan pucat karna adanya nyeri.
d; Mata
Biasanya kedua mata klien simetris, reflek cahaya baik, dan konjungtiva
biasanya anemis. Biasanya palpebra klien tdak udema, skelera tdak ikterik,
pupil isokor.
e; Telinga

Biasanya telinga klien terjadi tuli total disisi yang sakit, vertigo ringan
nistagmus spontan biasanya ke arah telinga yang sehat dapat menetap sampai
beberapa bulan atau sampai sisa labirin yang berfungsi dapat
menkompensasinya. Biasanya klien merasakan nyeri dan klien kurang
mendengar respon dari pendengaran.
9

f;
g;
h;

i;
j;

k;

l;

m;

Hidung
Biasanya klien tidak ada mengeluh dengan masalah hidung.
Bibir
Biasanya bibir pasien tampak pucat dan kering.
Gigi
Biasanya kelengkapan gigi, kondisi gigi klien tampak normal dan biasanya
kebersihan gigi kurang.
Lidah
Biasanya tampak normal tidak kotor dan tidak hiperik.
Leher
Biasanya leher pada klien penyakit labirinitis ini tampak normal saja. Tidak
ada pembesaran kelenjar thyroid dan vena jugularis.
Thorak
- Inspeksi
Biasanya bentuk dan kesemetrisan rongga dada tampak normal.
Biasanya klien tampak susah bernafas / mengatur jalannya nafas dada,
frekwensi nafas 12 sampai 20 X permenit, tidak dyspnea.
- Palpasi
Biasanya normal, biasanya dengan menggunakan getaran vocal yang
disebut vocal primitus.
- Perkusi
Biasanya bunyi ketukan pada dinding dada dan bunyi dada normal
jaringan sonor.
- Auskultasi
Biasanya tidak ada terdengar bunyi tambahan pada saat klien
melakukan insipirasi dan ekspirasi.
Abdomen
- Inspeksi
Biasanya tidak adanya pembesaran rongga abdomen.
- Auskultasi
Biasanya bunyi bising usus terdengar frekuensinya tidak normal karena
klien mengalami penurunan nafsu makan.
- Palpasi
Biasanya teraba normal saja.
- Perkusi
Biasanya bunyi ketukannya terdengar normal.
Ekstremitas

10

Biasanya kekuatan otot kurang dari normal akibat klien terasa letih
menahan nyeri dan biasanya ekstremitas atas terpasang infus untuk menambah
cairan dalam tubuh klien karna nafsu makan klien berkurang dan biasanya
kekuatan otot klien ini menurun.
n; Sistem Integumen
Biasanya warna kulit klien tampak pucat dan biasanya suhu kulit
meningkat.

II; DIAGNOSA
1; Resiko terhadap trauma yang kesulitan keseimbangan.
2; Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan

dengan keterbatasan pendengaran.


3; Nyeri akut atau kronik berhubungan dengan adanya peradangan
4; Gangguan persepsi sensori pendengaran berhubungan dengan kerusakan saraf vestibule
coklearis
5; Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
6; Defisit nutrisi berhubungan dengan mual muntah
III; INTERVENSI
1; Resiko terhadap trauma yang kesulitan keseimbangan.

Tujuan : Mengurangi resiko trauma dengan mengadaptasi lingkungan rumah dan


menggunakan alat rehabilitasi bila perlu.
Intervensi :
1; Lakukan pengkajian untuk gangguan keseimbangan dengan menarik riwayat
dan pemeriksaan adanya nistagmus Romberg positif dan ketidakmampuan
melakukan Romberg tandem.
R/ menentukan intervensi selanjutnya.
2; Bantu ambulasi bila ada indikasi.
R/ mencegah terjadinya derajat keparahan trauma.
3; Dorong peningkatan tingkat aktifitas dengan atau tanpa menggunakan alat
bantu.
R/ membantu memenuhi kebutuhan pasien meskipun terdapat keterbatasan.
2;

Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan


dengan keterbatasan pendengaran.
Tujuan : Klien mampu mengutarakan pemahaman tentang kondisi efek prosedur
dan pengobatan.
11

Intervensi :
1; Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.
R/ mengetahui sejauh mana pemahaman yang dimiliki akan penyakit yang
dialami.
2; Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang.
R/ membantu meningkatkan tindakan yang kooperatif.
3; Diskusikan penyebab individual
R/ membantu membuat keputusan dengan tindakan keperawatan yang akan
diberikan.
3; Nyeri akut atau kronik berhubungan dengan adanya peradangan

Tujuan : nyeri berkurang atau hilang


Kriteria hasil
nyeri hilang atau berkurang
Intervensi :
1; Beri posisi nyaman
R/ dengan posisi nyaman dapat mengurangi nyeri.
2; Kompres panas di telinga bagian luar
R/ untuk mengurangi nyeri.
3; Kompres dingin
R/ untuk mengurangi tekanan telinga (edema)
4; Kolaborasi pemberian analgetik dan antibiotik
R/ mengurangi nyeri
4; Gangguan persepsi sensori pendengaran berhubungan dengan kerusakan saraf vestibule
coklearis
Tujuan : Persepsi / sensoris baik.

Kriteria hasil
Klien akan mengalami peningkatan persepsi/sensoris pendengaran sampai
pada tingkat fungsional.
Intervensi
1; Ajarkan klien untuk menggunakan dan merawat alat pendengaran secara tepat.
R/ Keefektifan alat pendengaran tergantung pada tipe gangguan/ketulian,
pemakaian serta perawatannya yang tepat.
2; Instruksikan klien untuk menggunakan teknik-teknik yang aman sehingga
dapat mencegah terjadinya ketulian lebih jauh.
R/ Apabila penyebab pokok ketulian tidak progresif, maka pendengaran yang
tersisa sensitif terhadap trauma dan infeksi sehingga harus dilindungi.
3; Observasi tanda-tanda awal kehilangan pendengaran yang lanjut.

12

R/ Diagnosa dini terhadap keadaan telinga atau terhadap masalah-masalah


pendengaran rusak secara permanen.
4; Instruksikan klien untuk menghabiskan seluruh dosis antibiotik yang
diresepkan (baik itu antibiotik sistemik maupun lokal).
R/ Penghentian terapi antibiotika sebelum waktunya dapat menyebabkan
organisme sisa berkembang biak sehingga infeksi akan berlanjut.
5; Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
Tujuan : Suhu tubuh normal
Kriteria hasil :
Suhu tubuh antara 36 37
Intervensi
1; Kaji suhu tubuh pasien
R/ mengetahui peningkatan suhu tubuh, memudahkan intervensi
2; Beri kompres air hangat
R/ mengurangi panas dengan pemindahan panas secara konduksi. Air hangat
mengontrol pemindahan panas secara perlahan tanpa menyebabkan hipotermi
atau menggigil.
3; Berikan/anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari (sesuai
toleransi)
R/ Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi.
4; Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap
keringat
R/ Memberikan rasa nyaman dan pakaian yang tipis mudah menyerap keringat
dan tidak merangsang peningkatan suhu tubuh.
5; Observasi intake dan output, tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah) tiap 3 jam
sekali atau sesuai indikasi
R/ Mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui keseimbangan cairan
dan elektrolit dalam tubuh. Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui
keadaan umum pasien.
6; Beri terapi antibiotik
R/ meredakan infeksi
6; Defisit nutrisi berhubungan dengan mual muntah
Tujuan : Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi
Kriteria hasil:
- Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
- Menunjukkan berat badan yang seimbang.
Intervensi
1; Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disuka
13

2;
3;
4;

5;
6;

R/ Mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi


Observasi dan catat masukan makanan pasien
R/ Mengawasi masukan kalori/kualitas kekurangan konsumsi makanan
Timbang BB tiap hari (bila memungkinkan)
R/ Mengawasi penurunan BB / mengawasi efektifitas intervensi.
Berikan makanan sedikit namun sering dan atau makan diantara waktu makan
R/ Makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan masukan
juga mencegah distensi gaster.
Berikan dan Bantu oral hygiene.
R/ Meningkatkan nafsu makan dan masukan peroral
Hindari makanan yang merangsang dan mengandung gas.
Rasional : Menurunkan distensi dan iritasi gaster

14