Anda di halaman 1dari 25

Perikatan dan perjanjian adalah suatu hal yang berbeda.

Perikatan dapat lahir dari suatu


perjanjian dan Undang-undang. Suatu perjanjian yang dibuat dapat menyebabkan lahirnya
perikatan bagi pihak-pihak yang membuat perjanjian tersebut. Perikatan adalah terjemahan dari
istilah bahasa Belanda verbintenis. Istilah perikatan ini lebih umum dipakai dalam literature
hukum di Indonesia. Perikatan artinya hal yang mengikat orang yang satu terhadap orang yang
lain. Hal yang mengikat itu menurut kenyataannya dapat berupa perbuatan.

Hukum Perikatan dan Perjanjian


Perikatan dan perjanjian adalah suatu hal yang berbeda. Perikatan dapat lahir dari suatu
perjanjian dan Undang-undang. Suatu perjanjian yang dibuat dapat menyebabkan lahirnya
perikatan bagi pihak-pihak yang membuat perjanjian tersebut. Perikatan adalah terjemahan dari
istilah bahasa Belanda verbintenis. Istilah perikatan ini lebih umum dipakai dalam literature
hukum di Indonesia. Perikatan artinya hal yang mengikat orang yang satu terhadap orang yang
lain. Hal yang mengikat itu menurut kenyataannya dapat berupa perbuatan.
A. PERIKATAN
Perikatan dalam pengertian luas
Dalam bidang hukum kekayaan, misalnya perikatan jual beli, sewa menyewa, wakil tanpa kuasa
(zaakwaarneming), pembayaran tanpa utang, perbuatan melawan hukum yang merugikan orang
lain.
Dalam bidang hukum keluarga, misalnya perikatan karena perkawinan, karena lahirnya anak dan
sebagainya.
Dalam bidang hukum waris, misalnya perikatan untuk mawaris karena kematian pewaris,
membayar hutang pewaris dan sebagainya.
Dalam bidang hukum pribadi, misalnya perikatan untuk mewakili badan hukum oleh
pengurusnya, dan sebagainya.
Perikatan dalam pengertian sempit
Membahas hukum harta kekayaan saja, meliputi hukum benda dan hokum perikatan, yang diatur
dalam buku II KUHPdt di bawah judul Tentang Benda.
Peraturan Hukum Perikatan
Perikatan diatur dalam buku III KUH Perdata dari pasal 1233-1456 KUH Perdata. Buku III KUH
Perdata bersifat :
a. Terbuka, maksudnya perjanjian dapat dilakukan oleh siapa saja asal tidak bertentangan dengan
undang- undang.
b. Mengatur, maksudnya karena sifat hukum perdata bukan memaksa tetapi disepakati oleh
kedua belah pihak.
c. Melengkapi, maksudnya boleh menambah atau mengurangi isi perjanjian karena tergantung
pada kesepakatan.
Macam-Macam Perikatan
a. Perikatan bersyarat ( Voorwaardelijk )
Suatu perikatan yang digantungkan pada suatu kejadian dikemudian hari, yang masih belum

tentu akan atau tidak terjadi.


b. Perikatan yang digantungkan pada suatu ketetapan waktu ( Tijdsbepaling )
Perbedaan antara perikatan bersyarat dengan ketetapan waktu adalah di perikatan bersyarat,
kejadiannya belum pasti akan atau tidak terjadi. Sedangkan pada perikatan waktu kejadian yang
pasti akan datang, meskipun belum dapat dipastikan kapan akan datangnya.
c. Perikatan yang membolehkan memilih ( Alternatief )
Dimana terdapat dua atau lebih macam prestasi, sedangkan kepada si berhutang diserahkan yang
mana yang akan ia lakukan.
d. Perikatan tanggung menanggung ( Hoofdelijk atau Solidair )
Diamana beberapa orang bersama-sama sebagai pihak yang berhutang berhadapan dengan satu
orang yang menghutangkan atau sebaliknya. Sekarang ini sedikit sekali yang menggunakan
perikatan type ini.
e. Perikatan yang dapat dibagi dan tidak dapat dibagi
Tergantung pada kemungkinan bias atau tidaknya prestasi dibagi. Pada hakekatnya tergantung
pada kehendak kedua belak pihak yang membuat perjanjian.
f. Perikatan tentang penetapan hukuman ( Strafbeding )
Suatu perikatan yang dikenakan hukuman apabila pihak berhutang tidak menepati janjinya.
Hukuman ini biasanya ditetapkan dengan sejumlah uang yang merupakan pembayaran kerugian
yang sejak semula sudah ditetapkan sendiri oleh pihak-pihak pembuat janji.
Unsur-unsur Perikatan
Hubungan hokum
Maksudnya adalah bahwa hubungan yang terjadi dalam lalu lintas masyarakat, hukum
melekatkan hak pada satu pihak dan kewajiban pad apihak lain dan apabila salah satu pihak tidak
menjalankan kewajibannya, maka hukum dapat memaksakannya.
Harta kekayaan
Maksudnya adalah untuk menilai bahwa suatu hubungan hukum dibidang harta kekayaan, yang
dapat dinilai dengan uang. Hal ini yang membedakannya dengan hubungan hukum dibidang
moral (dalam perkembangannya, ukuran penilaian tersebut didasarkan pada rasa keadilan
masyarakat).
Para pihak adalah Pihak yang berhak atas prestasi = kreditur, sedangkan yang wajib memenuhi
prestasi = debitur.
Prestasi (pasal 1234 KUH Perdata), prestasi yaitu :
a. Memberikan sesuatu.
b. Berbuat sesuatu.
c. Tidak berbuat sesuatu.
Asas-Asas Dalam Hukum Perikatan
- Asas Kebebasan Berkontrak : Ps. 1338: 1 KUHPerdata.
Asas Konsensualisme : 1320 KUHPerdata.
Asas Kepribadian : 1315 dan 1340 KUHPerdata.
Pengecualian : 1792 KUHPerdata
1317 KUHPerdata
Perluasannya yaitu Ps. 1318 KUHPerdata.
Asas Pacta Suntservanda asas kepastian hukum: 1338: 1 KUHPerdata.
B. PERJANJIAN
Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seseorang berjanji kepada orang lainnya atau dimana
dua orang saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal. Perikatan merupakan suatu yang

sifatnya abstrak sedangkan perjanjian adalah suatu yang bersifat kongkrit. Dikatakan demikian
karena kita tidak dapat melihat dengan pancaindra suatu perikatan sedangkan perjanjian dapat
dilihat atau dibaca suatu bentuk perjanjian ataupun didengar perkataan perkataannya yang berupa
janji.
Asas Perjanjian
Ada 7 jenis asas hukum perjanjian yang merupakan asas-asas umum yang harus diperhatikan
oleh setiap pihak yang terlibat didalamnya.
a. Asas sistem terbukan hukum perjanjian
Hukum perjanjian yang diatur didalam buku III KUHP merupakan hukum yang bersifat terbuka.
Artinya ketentuan-ketentuan hukum perjanjian yang termuat didalam buku III KUHP hanya
merupakan hukum pelengkap yang bersifat melengkapi.
b. Asas Konsensualitas
Asas ini memberikan isyarat bahwa pada dasarnya setiap perjanjian yang dibuat lahir sejak
adanya konsensus atau kesepakatan dari para pihak yang membuat perjanjian.
c. Asas Personalitas
Asas ini bisa diterjemahkan sebagai asas kepribadian yang berarti bahwa pada umumnya setiap
pihak yang membuat perjanjian tersebut untuk kepentingannya sendiri atau dengan kata lain
tidak seorangpun dapat membuat perjanjian untuk kepentingan pihak lain.
d. Asas Itikad baik
Pada dasarnya semua perjanjian yang dibuat haruslah dengan itikad baik. Perjanjian itikad baik
mempunyai 2 arti yaitu :
1. Perjanjian yang dibuat harus memperhatikan norma-norma kepatutan dan kesusilaan.
2. Perjanjian yang dibuat harus didasari oleh suasana batin yang memiliki itikad baik.
e. Asas Pacta Sunt Servada
Asas ini tercantum didalam Pasal 1338 ayat 1 KUHP yang isinya Semua Perjanjian yang di buat
secara sah berlaku sebagai Undang-Undang bagi mereka yang membuatnya.
Asas ini sangat erat kaitannya dengan asas sistem terbukanya hukum perjanjian, karena memiliki
arti bahwa semua perjanjian yang dibuat oleh para pihak asal memnuhi syarat-syarat sahnya
perjanjian sebagaimana yang diatur di dalam pasal 1320 KUHP sekalipun menyimpang dari
ketentuan-ketentuan Hukum Perjanjian dalam buku III KUHP tetap mengikat sebagai UndangUndang bagi para pihak yang membuat perjanjian.
f. Asas force majeur
Asas ini memberikan kebebasan bagi debitur dari segala kewajibannya untuk membayar ganti
rugi akibat tidak terlaksananya perjanjian karena suatu sebab yang memaksa.
g. Asas Exeptio non Adiempletie contractus
Asas ini merupakan suatu pembelaan bagi debitur untuk dibebaskan dari kewajiban membayar
ganti rugi akibat tidak dipenuhinya perjanjian, dengan alasan bahwa krediturpun telah melakukan
suatu kelalaian.
Syarat Sahnya Perjanjian
a. Syarat Subjektif
- Keadaan kesepakatan para pihak
- Adanya kecakapan bagi para pihak
b. Syarat Objektif
- Adanya objek yang jelas
- Adanya sebab yang dihalalkan oleh hukum
Referensi :

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/06/hukum-perikatan-15/
Silondae. Arus Akbar, Fariana. Andi, Aspek Hukum dalam Ekonomi dan Bisnis, Mitra
Wacana Media, 2010
Perikatan dalam pengertian sempit
Membahas hukum harta kekayaan saja, meliputi hukum benda dan hokum perikatan, yang diatur
dalam buku II KUHPdt di bawah judul Tentang Benda.
Peraturan Hukum Perikatan
Perikatan diatur dalam buku III KUH Perdata dari pasal 1233-1456 KUH Perdata. Buku III KUH
Perdata bersifat :
a. Terbuka, maksudnya perjanjian dapat dilakukan oleh siapa saja asal tidak bertentangan dengan
undang- undang.
b. Mengatur, maksudnya karena sifat hukum perdata bukan memaksa tetapi disepakati oleh
kedua belah pihak.
c. Melengkapi, maksudnya boleh menambah atau mengurangi isi perjanjian karena tergantung
pada kesepakatan.
Macam-Macam Perikatan
a. Perikatan bersyarat ( Voorwaardelijk )
Suatu perikatan yang digantungkan pada suatu kejadian dikemudian hari, yang masih belum
tentu akan atau tidak terjadi.
b. Perikatan yang digantungkan pada suatu ketetapan waktu ( Tijdsbepaling )
Perbedaan antara perikatan bersyarat dengan ketetapan waktu adalah di perikatan bersyarat,
kejadiannya belum pasti akan atau tidak terjadi. Sedangkan pada perikatan waktu kejadian yang
pasti akan datang, meskipun belum dapat dipastikan kapan akan datangnya.
c. Perikatan yang membolehkan memilih ( Alternatief )
Dimana terdapat dua atau lebih macam prestasi, sedangkan kepada si berhutang diserahkan yang
mana yang akan ia lakukan.
d. Perikatan tanggung menanggung ( Hoofdelijk atau Solidair )
Diamana beberapa orang bersama-sama sebagai pihak yang berhutang berhadapan dengan satu
orang yang menghutangkan atau sebaliknya. Sekarang ini sedikit sekali yang menggunakan
perikatan type ini.

e. Perikatan yang dapat dibagi dan tidak dapat dibagi


Tergantung pada kemungkinan bias atau tidaknya prestasi dibagi. Pada hakekatnya tergantung
pada kehendak kedua belak pihak yang membuat perjanjian.
f. Perikatan tentang penetapan hukuman ( Strafbeding )
Suatu perikatan yang dikenakan hukuman apabila pihak berhutang tidak menepati janjinya.
Hukuman ini biasanya ditetapkan dengan sejumlah uang yang merupakan pembayaran kerugian
yang sejak semula sudah ditetapkan sendiri oleh pihak-pihak pembuat janji.
Unsur-unsur Perikatan
Hubungan hokum
Maksudnya adalah bahwa hubungan yang terjadi dalam lalu lintas masyarakat, hukum
melekatkan hak pada satu pihak dan kewajiban pad apihak lain dan apabila salah satu pihak tidak
menjalankan kewajibannya, maka hukum dapat memaksakannya.
Harta kekayaan
Maksudnya adalah untuk menilai bahwa suatu hubungan hukum dibidang harta kekayaan, yang
dapat dinilai dengan uang. Hal ini yang membedakannya dengan hubungan hukum dibidang
moral (dalam perkembangannya, ukuran penilaian tersebut didasarkan pada rasa keadilan
masyarakat).
Para pihak adalah Pihak yang berhak atas prestasi = kreditur, sedangkan yang wajib memenuhi
prestasi = debitur.
Prestasi (pasal 1234 KUH Perdata), prestasi yaitu :
a. Memberikan sesuatu.
b. Berbuat sesuatu.
c. Tidak berbuat sesuatu.
Asas-Asas Dalam Hukum Perikatan
- Asas Kebebasan Berkontrak : Ps. 1338: 1 KUHPerdata.
Asas Konsensualisme : 1320 KUHPerdata.
Asas Kepribadian : 1315 dan 1340 KUHPerdata.
Pengecualian : 1792 KUHPerdata
1317 KUHPerdata
Perluasannya yaitu Ps. 1318 KUHPerdata.
Asas Pacta Suntservanda asas kepastian hukum: 1338: 1 KUHPerdata.
B. PERJANJIAN

Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seseorang berjanji kepada orang lainnya atau dimana
dua orang saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal. Perikatan merupakan suatu yang
sifatnya abstrak sedangkan perjanjian adalah suatu yang bersifat kongkrit. Dikatakan demikian
karena kita tidak dapat melihat dengan pancaindra suatu perikatan sedangkan perjanjian dapat
dilihat atau dibaca suatu bentuk perjanjian ataupun didengar perkataan perkataannya yang berupa
janji.
Asas Perjanjian
Ada 7 jenis asas hukum perjanjian yang merupakan asas-asas umum yang harus diperhatikan
oleh setiap pihak yang terlibat didalamnya.
a. Asas sistem terbukan hukum perjanjian
Hukum perjanjian yang diatur didalam buku III KUHP merupakan hukum yang bersifat terbuka.
Artinya ketentuan-ketentuan hukum perjanjian yang termuat didalam buku III KUHP hanya
merupakan hukum pelengkap yang bersifat melengkapi.
b. Asas Konsensualitas
Asas ini memberikan isyarat bahwa pada dasarnya setiap perjanjian yang dibuat lahir sejak
adanya konsensus atau kesepakatan dari para pihak yang membuat perjanjian.
c. Asas Personalitas
Asas ini bisa diterjemahkan sebagai asas kepribadian yang berarti bahwa pada umumnya setiap
pihak yang membuat perjanjian tersebut untuk kepentingannya sendiri atau dengan kata lain
tidak seorangpun dapat membuat perjanjian untuk kepentingan pihak lain.
d. Asas Itikad baik
Pada dasarnya semua perjanjian yang dibuat haruslah dengan itikad baik. Perjanjian itikad baik
mempunyai 2 arti yaitu :
1. Perjanjian yang dibuat harus memperhatikan norma-norma kepatutan dan kesusilaan.
2. Perjanjian yang dibuat harus didasari oleh suasana batin yang memiliki itikad baik.
e. Asas Pacta Sunt Servada
Asas ini tercantum didalam Pasal 1338 ayat 1 KUHP yang isinya Semua Perjanjian yang di buat
secara sah berlaku sebagai Undang-Undang bagi mereka yang membuatnya.

Asas ini sangat erat kaitannya dengan asas sistem terbukanya hukum perjanjian, karena memiliki
arti bahwa semua perjanjian yang dibuat oleh para pihak asal memnuhi syarat-syarat sahnya
perjanjian sebagaimana yang diatur di dalam pasal 1320 KUHP sekalipun menyimpang dari
ketentuan-ketentuan Hukum Perjanjian dalam buku III KUHP tetap mengikat sebagai UndangUndang bagi para pihak yang membuat perjanjian.
f. Asas force majeur
Asas ini memberikan kebebasan bagi debitur dari segala kewajibannya untuk membayar ganti
rugi akibat tidak terlaksananya perjanjian karena suatu sebab yang memaksa.
g. Asas Exeptio non Adiempletie contractus
Asas ini merupakan suatu pembelaan bagi debitur untuk dibebaskan dari kewajiban membayar
ganti rugi akibat tidak dipenuhinya perjanjian, dengan alasan bahwa krediturpun telah melakukan
suatu kelalaian.
Syarat Sahnya Perjanjian
a. Syarat Subjektif
Keadaan kesepakatan para pihak
Adanya kecakapan bagi para pihak
b. Syarat Objektif
Adanya objek yang jelas
Adanya sebab yang dihalalkan oleh hukum
Supaya terjadi persetujuan yang sah, perlu dipenuhi 4 syarat:
1.
2.
3.
4.

Kesepakatan mereka yang mengikatkan diri.


Kecakapan untuk membuat suatu perikatan.
Suatu pokok persoalan tertentu.
Suatu sebab yang tidak terlarang.
Dua syarat pertama disebut juga dengan syarat subyektif, sedangkan syarat ketiga dan keempat
disebut syarat obyektif. Dalam hal tidak terpenuhinya unsur pertama (kesepakatan) dan unsur
kedua (kecakapan) maka kontrak tersebut dapat dibatalkan. Sedangkan apabila tidak
terpenuhinya unsur ketiga (suatu hal tertentu) dan unsur keempat (suatu sebab yang halal) maka
kontrak tersebut adalah batal demi hukum.

Suatu persetujuan tidak hanya mengikat apa yang dengan tegas ditentukan di dalamnya
melainkan juga segala sesuatu yang menurut sifatnya persetujuan dituntut berdasarkan keadilan,
kebiasaan atau undang-undang. Syarat-syarat yang selalu diperjanjikan menurut kebiasaan, harus
dianggap telah termasuk dalam suatu persetujuan, walaupun tidak dengan tegas dimasukkan di
dalamnya.
Menurut ajaran yang lazim dianut sekarang, perjanjian harus dianggap lahir pada saat pihak yang
melakukan penawaran (offerte) menerima jawaban yang termaktub dalam surat tersebut, sebab
detik itulah yang dapat dianggap sebagai detik lahirnya kesepakatan. Walaupun kemudian
mungkin yang bersangkutan tidak membuka surat itu, adalah menjadi tanggungannya sendiri.
Sepantasnyalah yang bersangkutan membaca surat-surat yang diterimanya dalam waktu yang
sesingkat-singkatnya, karena perjanjian sudah lahir. Perjanjian yang sudah lahir tidak dapat
ditarik kembali tanpa izin pihak lawan. Saat atau detik lahirnya perjanjian adalah penting untuk
diketahui dan ditetapkan, berhubung adakalanya terjadi suatu perubahan undang-undang atau
peraturan yang mempengaruhi nasib perjanjian tersebut, misalnya dalam pelaksanaannya atau
masalah beralihnya suatu risiko dalam suatu peijanjian jual beli.
Tempat tinggal (domisili) pihak yang mengadakan penawaran (offerte) itu berlaku sebagai
tempat lahirnya atau ditutupnya perjanjian. Tempat inipun menjadi hal yang penting untuk
menetapkan hukum manakah yang akan berlaku. Dalam hukum pembuktian ini, alat-alat bukti
dalam perkara perdata terdiri dari: bukti tulisan, bukti saksi-saksi, persangkaan-persangkaan,
pengakuan dan bukti sumpah.
Perjanjian harus ada kata sepakat kedua belah pihak karena perjanjian merupakan perbuatan
hukum bersegi dua atau jamak. Perjanjian adalah perbuatan-perbuatan yang untuk terjadinya
disyaratkan adanya kata sepakat antara dua orang atau lebih, jadi merupakan persetujuan.
Keharusan adanya kata sepakat dalam hukum perjanjian ini dikenal dengan asas konsensualisme.
asas ini adalah pada dasarnya perjanjian dan perikatan yang timbul karenanya sudah dilahirkan
sejak detik tercapainya kata sepakat.
Syarat pertama di atas menunjukkan kata sepakat, maka dengan kata-kata itu perjanjian sudah
sah mengenai hal-hal yang diperjanjikan. Untuk membuktikan kata sepakat ada kalanya dibuat
akte baik autentik maupun tidak, tetapi tanpa itupun sebetulnya sudah terjadi perjanjian, hanya
saja perjanjian yang dibuat dengan akte autentik telah memenuhi persyaratan formil.
Subyek hukum atau pribadi yang menjadi pihak-pihak dalam perjanjian atau wali/kuasa
hukumnya pada saat terjadinya perjanjian dengan kata sepakat itu dikenal dengan asas
kepribadian. Dalam praktek, para pihak tersebut lebih sering disebut sebagai debitur dan kreditur.
Debitur adalah yang berhutang atau yang berkewajiban mengembalikan, atau menyerahkan, atau
melakukan sesuatu, atau tidak melakukan sesuatu. Sedangkan kreditur adalah pihak yang berhak
menagih atau meminta kembali barang, atau menuntut sesuatu untuk dilaksanakan atau tidak
dilaksanakan.
Berdasar kesepakatan pula, bahwa perjanjian itu dimungkinkan tidak hanya mengikat diri dari
orang yang melakukan perjanjian saja tetapi juga mengikat orang lain atau pihak ketiga,
perjanjian garansi termasuk perjanjian yang mengikat pihak ketiga .
Causa dalam hukum perjanjian adalah isi dan tujuan suatu perjanjian yang menyebabkan adanya
perjanjian itu. Berangkat dari causa ini maka yang harus diperhatikan adalah apa yang menjadi
isi dan tujuan sehingga perjanjian tersebut dapat dinyatakan sah. Yang dimaksud dengan causa
dalam hukum perjanjian adalah suatu sebab yang halal. Pada saat terjadinya kesepakatan untuk

menyerahkan suatu barang, maka barang yang akan diserahkan itu harus halal, atau perbuatan
yang dijanjikan untuk dilakukan itu harus halal. Jadi setiap perjanjian pasti mempunyai causa,
dan causa tersebut haruslah halal. Jika causanya palsu maka persetujuan itu tidak mempunyai
kekuatan. Isi perjanjian yang dilarang atau bertentangan dengan undang-undang atau dengan kata
lain tidak halal, dapat dilacak dari peraturan perundang-undangan, yang biasanya berupa
pelanggaran atau kejahatan yang merugikan pihak lain sehingga bisa dituntut baik secara perdata
maupun pidana. Adapun isi perjanjian yang bertentangan dengan kesusilaan cukap sukar
ditentukan, sebab hal ini berkaitan dengan kebiasaan suatu masyarakat sedangkan masingmasing kelompok masyarakat mempunyai tata tertib kesusilaan yang berbeda-beda.
Secara mendasar perjanjian dibedakan menurut sifat yaitu:
1. Perjanjian Konsensuil
Adalah perjanjian dimana adanya kata sepakat antara para pihak saja, sudah cukup untuk
timbulnya perjanjian.
2. Perjanjian Riil
Adalah perjanjian yang baru terjadi kalau barang yang menjadi pokok perjanjian telah
diserahkan.
3. Perjanjian Formil
Adalah perjanjian di samping sepakat juga penuangan dalam suatu bentuk atau disertai
formalitas tertentu.
Perikatan hapus:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Pembayaran.
Penawaran pembayaran tunai, diikuti dengan penyimpanan atau penitipan.
Pembaruan utang.
Perjumpaanutangataukompensasi.
percampuran utang, karena pembebasan utang, karena musnahnya barang yang terutang.
Kebatalan atau pembatalan.
Berlakunya suatu syarat pembatalan, karena lewat waktu.
Tiap perikatan dapat dipenuhi oleh siapa pun yang berkepentingan, seperti orang yang turut
berutang atau penanggung utang. Suatu perikatan bahkan dapat dipenuhi oleh pihak ketiga yang
tidak berkepentingan, asal pihak ketiga itu bertindak atas nama dan untuk melunasi utang
debitur, atau asal ia tidak mengambil alih hak-hak kreditur sebagai pengganti jika ia bertindak
atas namanya sendiri.
TANGGAPAN
Mengapa di indonesia ini harus dibuat hukum perjanjian? karena perjanjian itu dibuat karena
adanya persetujuan antara dua pihak, perlu untuk menjamin kepada suatu pihak tersebut supaya
memenuhi perjanjian yang dibuat kedua belah pihak yang sesuai dengan kontrak, syarat dalam
perjanjian tersebut. Apabila salah satu pihak mengingkari salah satu pihak maka dapat diproses
secara hukum. Mungkin dengan adanya hukum ini Perjanjian dapat ditentukan dan ditargetkan
agar semua pihak tidak mengalami kerugian

A. HUKUM PERIKATAN

1.

Definisi hukum perikatan

Perikatan dalam bahasa Belanda disebut ver bintenis. Istilah perikatan ini lebih
umum dipakai dalam literatur hukum di Indonesia. Perikatan dalam hal ini berarti ;
hal yang mengikat orang yang satu terhadap orang yang lain. Hal yang mengikat itu
menurut kenyataannya dapat berupa perbuatan, misalnya jual beli barang. Dapat
berupa peristiwa, misalnya lahirnya seorang bayi, meninggalnya seorang. Dapat
berupa keadaan, misalnya; letak pekarangan yang berdekatan, letak rumah yang
bergandengan atau letak rumah yang bersusun (rusun). Karena hal yang mengikat
itu selalu ada dalam kehidupan bermasyarakat, maka oleh pembentuk undangundang atau oleh masyarakat sendiri diakui dan diberi akibat hukum.

2.

Dasar Hukum Perikatan


Dasar hukum perikatan berdasarkan KUHP perdata terdapat tiga sumber adalah
sebagai berikut.

a.
b.

Perikatan yang timbul dari persetujuan (perjanjian).


Perikatan yang timbul undang-undang.
Perikatan yang berasal dari undang-undang dibagi lagi menjadi undang-undang saja
dan undang-undang dan perbuatan manusia. Hal ini tergambar dalam Pasal 1352
KUH Perdata :Perikatan yang dilahirkan dari undang-undang, timbul dari undangundang saja (uit de wet allen) atau dari undang-undang sebagai akibat perbuatan
orang (uit wet ten gevolge vans mensen toedoen)

Perikatan terjadi karena undang-undang semata


.Perikatan yang timbul dari undang-undang saja adalah perikatan yang letaknya di
luar Buku III, yaitu yang ada dalam pasal 104 KUH Perdata mengenai kewajiban
alimentasi antara orang tua dan anak dan yang lain dalam pasal 625 KUH Perdata
mengenai hukum tetangga yaitu hak dan kewajiban pemilik-pemilik pekarangan
yang berdampingan. Di luar dari sumber-sumber perikatan yang telah dijelaskan di
atas terdapat pula sumber-sumber lain yaitu : kesusilaan dan kepatutan (moral dan
fatsoen) menimbulkan perikatan wajar (obligatio naturalis), legaat (hibah wasiat),
penawaran, putusan hakim. Berdasarkan keadilan (billijkheid) maka hal-hal
termasuk dalam sumber sumber perikatan.

Perikatan terjadi karena undang-undang akibat perbuatan manusia


c.
Perikatan terjadi bukan perjanjian, tetapi terjadi karena perbuatan melanggar
hukum (onrechtmatige daad) dan perwakilan sukarela ( zaakwarneming).

3.

Azas-azas dalam hukum perikatan


Asas-asas dalam hukum perikatan diatur dalam Buku III KUH Perdata, yakni
menganut azas kebebasan berkontrak dan azas konsensualisme.

Asas Kebebasan Berkontrak Asas kebebasan berkontrak terlihat di dalam Pasal


1338 KUHP Perdata yang menyebutkan bahwa segala sesuatu perjanjian yang

4.

dibuat adalah sah bagi para pihak yang membuatnya dan berlaku sebagai undangundang bagi mereka yang membuatnya.
Asas konsensualisme Asas konsensualisme, artinya bahwa perjanjian itu lahir pada
saat tercapainya kata sepakat antara para pihak mengenai hal-hal yang pokok dan
tidak memerlukan sesuatu formalitas. Dengan demikian, azas konsensualisme lazim
disimpulkan dalam Pasal 1320 KUHP Perdata.
Wanprestasi dan Akibat-akibatnya
Wansprestasi timbul apabila salah satu pihak (debitur) tidak melakukan apa yang
diperjanjikan. Adapun bentuk dari wansprestasi bisa berupa empat kategori, yakni :

Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya;


Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana yang dijanjikan;
Melakukan apa yang dijanjikan tetapi terlambat;
Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya.
Akibat-akibat
Wansprestasi
Akibat-akibat wansprestasi berupa hukuman atau akibat-akibat bagi debitur yang
melakukan wansprestasi , dapat digolongkan menjadi tiga kategori, yakni

a.

Membayar
Kerugian
yang
Diderita
oleh
Kreditur
(Ganti
Rugi)
Ganti rugi sering diperinci meliputi tinga unsure, yakni
b.
Biaya adalah segala pengeluaran atau perongkosan yang nyata-nyata sudah
dikeluarkan oleh salah satu pihak;
c.
Rugi adalah kerugian karena kerusakan barang-barang kepunyaan kreditor yang
diakibat oleh kelalaian si debitor;
d.
Bunga adalah kerugian yang berupa kehilangan keuntungan yang sudah
dibayangkan atau dihitung oleh kreditor.
5.

Hapusnya Perikatan
Perikatan itu bisa hapus jika memenuhi kriteria-kriteria sesuai dengan Pasal 1381
KUH Perdata. Ada 7 (tujuh) cara penghapusan suatu perikatan adalah sebagai
berikut :

Pembaharuan utang (inovatie)


Perjumpaan utang (kompensasi)
Pembebasan utang
Musnahnya barang yang terutang
Kebatalan dan pembatalan perikatan-perikatan.
Syarat yang membatalkan
Kedaluwarsa

B. HUKUM PERJANJIAN

1.

Pengertian Hukum Perjanjian


Dalam Pasal 1313 KUHPerdata, perjanjian adalah suatu
perbuatan di mana satu orang atau lebih mengikatkan diri
terhadap satu orang lain atau lebih.

para ahli hukum mempunyai pendapat yang berbeda-beda mengenai


pengertian perjanjian,

Abdulkadir Muhammad mengemukakan bahwa perjanjian adalah suatu


persetujuan dengan dua orang atau lebih saling mengikatkan diri untuk
melaksanakan suatu hal mengenai harta kekayaan.

Menurut J.Satrio perjanjian dapat mempunyai dua arti, yaitu arti luas dan
arti sempit, dalam arti luas suatu perjanjian berarti setiap perjanjian yang
menimbulkan akibat hukum sebagai yang dikehendaki oleh para pihak
termasuk didalamnya perkawinan, perjanjian kawin, dll, dan dalam arti
sempit perjanjian disini berarti hanya ditujukan kepada hubunganhubungan hukum dalam lapangan hukum kekayaan saja, seperti yang
dimaksud oleh buku III kitab undang-undang hukum perdata.

2.

Standar Kontrak
Istilah perjanjian baku berasal dari terjemahan dari bahasa Inggris, yaitu standard
contract. Standar kontrak merupakan perjanjian yang telah ditentukan dan
dituangkan dalam bentuk formulir. Kontrak ini telah ditentukan secara sepihak oleh
salah satu pihak, terutama pihak ekonomi kuat terhadap ekonomi lemah.
Kontrak baku menurut Munir Fuadi adalah Suatu kontrak tertulis yang dibuat oleh
hanya salah satu pihak dalam kontrak tersebut, bahkan seringkali tersebut sudah
tercetak (boilerplate) dalam bentuk-bentuk formulir tertentu oleh salah satu pihak,
yang dalam hal ini ketika kontrak tersebut ditandatangani umumnya para pihak
hanya mengisikan data-data informatif tertentu saja dengan sedikit atau tanpa
perubahan dalam klausul-klausulnya dimana para pihak lain dalam kontrak tersebut
tidak mempunyai kesempatan atau hanya sedikit kesempatan untuk menegosiasi
atau mengubah klausul-kalusul yang sudah dibuat oleh salah satu pihak tersebut,
sehingga biasanya kontrak baku sangat berat sebelah.

ytSedangkan menurut Pareto, suatu transaksi atau aturan adalah sah jika
membuat keadaan seseorang menjadi lebih baik dengan tidak seorangpun dibuat
menjadi lebih buruk, sedangkan menurut ukuran Kaldor-Hicks, suatu transaksi atau
aturan sah itu adalah efisien jika memberikan akibat bagi suatu keuntungan sosial.
Maksudnya adalah membuat keadan seseorang menjadi lebih baik atau mengganti
kerugian dalam keadaan yang memeprburuk.

3.

Macam Macam Perjanjian


Macam-macam perjanjian obligator ialah sbb;

a.

Perjanjian dengan Cuma-Cuma dan perjanjian dengan beban. Perjanjian dengan


Cuma-Cuma ialah suatu perjanjian dimana pihak yang satu memberikan suatu
keuntungan kepada yang lain tanpa menerima suatu manfaat bagi dirinya sendiri.
(Pasal 1314 ayat (2) KUHPerdata). Perjanjian dengan beban ialah suatu perjanjian
dimana salah satu pihak memberikan suatu keuntungan kepada pihak lain dengan
menerima suatu manfaat bagi dirinya sendiri.

b.

Perjanjian sepihak dan perjanjian timbal balik. Perjanjian sepihak adalah suatu
perjanjian dimana hanya terdapat kewajiban pada salah satu pihak saja. Perjanjian
timbal balik ialah suatu perjanjian yang memberi kewajiban dan hak kepada kedua
belah pihak.

c.

Perjanjian konsensuil, formal dan, riil. Perjanjian konsensuil ialah perjanjian


dianggap sah apabila ada kata sepakat antara kedua belah pihak yang mengadakan
perjanjian tersebut. Perjanjian formil ialah perjanjian yang harus dilakukan dengan
suatu bentuk teryentu, yaitu dengan cara tertulis. Perjanjian riil ialah suatu
perjanjian dimana selain diperlukan adanya kata sepakat, harus diserahkan.

d.

Perjanjian bernama, tidak bernama dan, campuran. Perjanjian bernama adalah


suatu perjanjian dimana Undang Undang telah mengaturnya dengan kententuanketentuan khusus yaitu dalam Bab V sampai bab XIII KUHPerdata ditambah titel
VIIA. Perjanjian tidak bernama ialah perjanjian yang tidak diatur secara khusus.
Perjanjian campuran ialah perjanjian yang mengandung berbagai perjanjian yang
sulit dikualifikasikan.

4.

Syarat-syarat sah perjanjian


Suatu kontrak dianggap sah (legal) dan mengikat, maka perjanjian tersebut harus
memenuhi syarat-syarat tertentu. Menurut ketentuan pasal 1320 KUHP Perdata, ada
empat syarat yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu perjanjian, yaitu :

a.

Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya. Syarat pertama merupakan awal dari
terbentuknya perjanjian, yaitu adanya kesepakatan antara para pihak tentang isi
perjanjian yang akan mereka laksanakan. Oleh karena itu timbulnya kata sepakat

tidak boleh disebabkan oleh tiga hal, yaitu adanya unsur paksaan, penipuan, dan
kekeliruan. Apabila perjanjian tersebut dibuat berdasarkan adanya paksaan dari
salah satu pihak, maka perjanjian tersebut dapat dibatalkan.
b.

Kecakapan untuk membuat suatu perikatan. Pada saat penyusunan kontrak, para
pihak khususnya manusia secara hukum telah dewasa atau cakap berbuat atau
belum dewasa tetapi ada walinya. Di dalam KUH Perdata yang disebut pihak yang
tidak cakap untuk membuat suatu perjanjian adalah orang-orang yang belum
dewasa dan mereka yang berada dibawah pengampunan.

c.

Mengenai suatu hal tertentu. Secara yuridis suatu perjanjian harus mengenai hal
tertentu yang telah disetujui. Suatu hal tertentu disini adalah objek perjanjian dan
isi perjanjian. Setiap perjanjian harus memiliki objek tertentu, jelas, dan tegas.
Dalam perjanjian penilaian, maka objek yang akan dinilai haruslah jelas dan ada,
sehingga tidak mengira-ngira.

d.

Suatu sebab yang halal. Setiap perjanjian yang dibuat para pihak tidak boleh
bertentangan dengan undang-undang, ketertiban umum, dan kesusilaan. Dalam
akta perjanjian sebab dari perjanjian dapat dilihat pada bagian setelah komparasi,
dengan syarat pertama dan kedua disebut syarat subjektif, yaitu syarat mengenai
orang-orang atau subjek hukum yang mengadakan perjanjian, apabila kedua syarat
ini dilanggar, maka perjanjian tersebut dapat diminta pembatalan. Juga syarat
ketiga dan keempat merupakan syarat objektif, yaitu mengenai objek perjanjian dan
isi perjanjian, apabila syarat tersebut dilanggar, maka perjanjian tersebut batal
demi hukum. Namun,apabila perjanjian telah memenuhi unsur-unsur sahnya suatu
perjanjian dan asas-asas perjanjian, maka perjanjian tersebut sah dan dapat
dijalankan.

5.

Saat Lahirnya Perjanjian


Menetapkan kapan saat lahirnya perjanjian mempunyai arti penting bagi :

a.

kesempatan penarikan kembali penawaran;

b.

penentuan resiko;

c.

saat mulai dihitungnya jangka waktu kadaluwarsa;

d.

menentukan tempat terjadinya perjanjian.

6.

Pelaksanaan Perjanjian
Pengaturan mengenai pelaksanaan kontrak dalam KUHP menjadi bagian dari
pengaturan tentang akibat suatu perjanjian, yaitu diatur dalam pasal 1338 sampai
dengan pasal 1341 KUHP. Pada umumnya dikatakan bahwa yang mempunyai tugas
untuk melaksanakan kontrak adalah mereka yang menjadi subjek dalam kontrak itu.

Pembatalan perjanjian
Pembelokan pelaksanaan kontrak sehingga menimbulkan kerugian yang
disebabkan oleh kesalahan salah satu pihak konstruksi tersebut dikenal
dengan sebutan wanprestasi atau ingkar janji.

C. Hukum Dagang (KUHD)

1.

Hubungan Hukum Perdata dengan Hukum Dagang


Hukum dagang adalah hukum perikatan yang timbul khusus dari
lapangan perusahaan. Hukum perdata diatur dalam KUH Perdata dan
Hukum Dagang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang
(KUHD). Kesimpulan ini sekaligus menunjukkan bagaimana hubungan
antara hukum dagang dan hukum perdata. Hukum perdata merupakan
hukum umum (lex generalis) dan hukum dagang merupakan hukum
khusus (lex specialis).

2.

Berlakunya Hukum Dagang


Kitab Undang-Undang Hukum Dagang masih berlaku di Indonesia
berdasarkan Pasal 1 aturan peralihan UUD 1945 yang pada pokoknya
mengatur bahwa peraturan yang ada masih tetap berlaku sampai
pemerintah Indonesia memberlakukan aturan penggantinya. Di negeri
Belanda sendiri Wetbook van Koophandel telah mengalami perubahan,
namun di Indonesia Kitab Undang-Undang Hukum Dagang tidak
mengalami perubahan yang komprehensif sebagai suatu kodifikasi
hukum. Namun demikian kondisi ini tidak berarti bahwa sejak Indonesia
merdeka, tidak ada pengembangan peraturan terhadap permasalahan
perniagaan. Perubahan pengaturan terjadi, namun tidak tersistematisasi
dalam kodifikasi Kitab Undang-Undang Hukum Dagang. Strategi
perubahan pengaturan terhadap masalah perniagaan di Indonesia
dilakukan secara parsial (terhadap substansi Kitab Undang-Undang
Hukum Dagang) dan membuat peraturan baru terhadap substansi yang
tidak diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang.

3.

Hubungan Pengusaha dan Pembantunya


Pengusaha (pemilik perusahaan) yang mengajak pihak lain untuk
menjalankan usahanya secara bersama-sama,atau perusahaan yang
dijalankan dan dimiliki lebih dari satu orang, dalam istilah bisnis disebut
sebagai bentuk kerjasama. Bagi perusahaan yang sudah besar,
Memasarkan produknya biasanya dibantu oleh pihak lain, yang disebut
sebagai pembantu pengusaha. Secara umum pembantu pengusaha dapat
digolongkan menjadi 2 (dua), yaitu:

4.

Pembantu-pembantu pengusaha di dalam perusahaan, misalnya


pelayan toko, pekerja keliling, pengurus fillial, pemegang prokurasi
dan pimpinan perusahaan.

Pembantu pengusaha diluar perusahaan, misalnya


perusahaan, pengacara, noratis, makelar, komisioner.

agen

Pengusaha dan Kewajibannya

Memberikan ijin kepada buruh untuk beristirahat, menjalankan


kewajiban menurut agamanya

Dilarang memperkerjakan buruh lebih dari 7 jam sehari dan 40 jam


seminggu, kecuali ada ijin penyimpangan

Tidak boleh
perempuan

Bagi perusahaan yang memperkerjakan 25 orang buruh atau lebih


wajib membuat peraturan perusahaan

Wajib membayar upah pekerja pada saat istirahat / libur pada hari
libur resmi

Wajib memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada pekerja


yang telah mempunyai masa kerja 3 bulan secara terus menerus
atau lebih

mengadakan

diskriminasi

upah

laki/laki

dan

5.

Wajib mengikut sertakan dalam program Jamsostek

Bentuk-Bentuk Badan Usaha

Perusahaan Perorangan
Perusahaan Perorangan adalah perusahaan yang dikelola dan diawasi
oleh satu orang sehingga semua keuntungan yang didapatkan akan
menjadi haknya secara penuh dan jika terdapat kerugian maka yang
bersangkutan harus menanggung resiko tersebut secara sendiri.

Firma
Firma adalah Bentuk badan usaha yang didirikan oleh beberapa orang
dengan menggunakan nana bersama atau satu nama digunakan
bersama.
Dalam
firma
semua
anggota
bertanggung-jawab
sepenuhnya, baik sendiri-sendiri maupun bersama terhadap utangutang perusahaan kepada pihak lainnya.
Persekutuan Komanditer (Commanditer Vennootschap)
Persekutuan Komanditer adalah persekutuan yang didirikan oleh
beberapa orang sekutu yang menyerahkan dan mempercayakan
uangnya untuk dipakai dalam persekutuan.

6.

Perseroan Terbatas
Perseroan terbatas (PT/NV atau Naamloze Vennotschap) adalah suatu
badan usaha yang mempunyai kekayaan, hak, serta kewajiban sendiri,
yang terpisah dari kekayaan, hak sereta kewajiban para pendiri maupun
pemilik.

7.

Koperasi
Menurut UU no. 25 Tahun 1992, Koperasi adalah suatu bentuk badan usaha yang
beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi yang melandaskan
kegiatannya pada prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang
berdasarkan atas azas kekeluargaan.

8.

Yayasan
Yayasan adalah suatu badan hukum yang mempunyai maksud dan tujuan
bersifat sosial, keagamaan dan kemanusiaan, didirikan dengan
memperhatikan persyaratan formal yang ditentukan dalam undangundang.

9.

Badan Usaha Milik Negara (BUMN)


BUMN adalah semua perusahaan dalam bentuk apapun dan bergerak
dalam bidang usaha apapun yang sebagian atau seluruh modalnya
merupakan kekayaan Negara, kecuali jika ditentukan lain berdasarkan
Undang Undang.

BERMACAM-MACAM PERIKATAN

Leave a comment

Pihak dalam suatu perikatan : kreditur dan debitur


1. Kreditur : orang yang berhak menuntut sesuatu dari pihak lain
2. Debitur : orang yang berkewajiban memenuhi tuntutan tersebut
Apabila dalam suatu perikatan hanya ada satu debitur dan satu kreditur, dan sesuatu yang dapat
dituntut hanya satu hal serta dapat dilakukan seketika maka itu adalah perikatan dalam bentuk
yang paling sederhana yang dinamakan juga perikatan bersahaja atau perikatan murni.
Bentuk Perikatan lainnya :
1. 1. Perikatan bersyarat (Pasal 1253 1267 KUHPer)

Perikatan bersyarat adalah perikatan yang digantungkan pada suatu peristiwa yang
masih akan datang dan masih belum tentu akan terjadi.

Ada 2 macam perikatan bersyarat :

a. perikatan dengan syarat tangguh perikatan ini baru lahir jika peristiwa yang dimaksud
atau disyaratkan itu terjadi. Perikatan lahir pada detik terjadinya peristiwa tersebut.

Contoh : saya berjanji akan menyewakan rumah saya kalau saya dipindahkan keluar negeri.
Artinya saya baru akan menyewakan rumah jika saya dipindahkan keluar negeri, jika saya tidak
dipindahkan, maka tidak ada perikatan untuk menyewakan rumah saya.
b. perikatan dengan syarat batal perikatan yang sudah ada akan berakhir jika peristiwa yang
dimaksud itu terjadi.
Contoh : saat ini saya menyewakan rumah saya kepada A dengan ketentuan sewa-menyewa ini
akan berakhir jika anak saya yang ada di luar negeri pulang ke tanah air.

Suatu perjanjian adalah batal jika pelaksanaannya semata-mata tergantung pada kemauan
orang yang terikat (debitur). Suatu syarat yang berada dalam kekuasaan orang yang
terikat disebut juga syarat potestatif. Perjanjian seperti itu tidak memiliki kekuatan
hukum apapun (artinya tidak dapat dipaksa pemenuhannya).

Contoh : saya berjanji untuk menghadiahkan sepeda saya kepada Ali jika suatu saat saya
menghendakinya.

Suatu perjanjian juga batal jika syaratnya tidak mungkin terlaksana, bertentangan
dengan kesusilaan, atau sesuatu yang dilarang UU.

Contoh : saya berjanji akan memberi Amat sebuah rumah jika berhasil menurunkan bintang dan
bulan ke bumi atau kalau ia berhasil membakar rumahnya Ali atau kalau ia melakukan sebuah
perbuatan zina. Maka perjanjian itu tidak mempunyai kekutan hukum apapun.

Jika suatu perjanjian digantungkan pada syarat bahwa suatu peristiwa akan terjadi pada
waktu tertentu, maka syarat itu harus dianggap tidak terpenuhi jika batas waktu itu sudah
lewat dan peristiwa tersebut tidak terjadi.

Suatu syarat batal selalu berlaku surut hingga saat lahirnya perjanjian. Syarat batal adalah
suatu syarat yang apabila terpenuhi , menghentikan perjanjian yang sudah ada dan
membawa segala sesuatu kembali pada keadaan semula seolah-olah tidak pernah ada
perjanjian (Pasal 1265 KUHPer). Artinya, si berpiutang wajib mengembalikan apa yang
sudah diterimanya, apabila peristiwa yang dimaksudkan itu terjadi.

1. 2. Perikatan dengan ketetapan waktu (Pasal 1268 1271 KUHPer)


Perikatan ini tidak menangguhkan lahirnya perikatan, hanya menangguhkan pelaksanaannya,
ataupun menentukan lama waktu berlakunya suatu perjanjian atau perikatan itu.
Contoh : saya akan menyewakan rumah saya per 1 Januari 2012 atau sampai 1 Januari 2012,
maka perjanjian itu adalah suatu perjanjian dengan ketetapan waktu.
Contoh lainnya: saya akan menjual rumah saya dengan ketentuan bahwa penghuni yang sekarang
meninggal dunia. Memang hampir sama dengan perjanjian bersyarat tetapi perjanjian tadi
adalah perjanjian dengan ketetapan waktu karena hal orang meninggal adalah sesuatu yang pasti

akan terjadi di masa depan. Sementara perjanjian bersyarat adalah sesuatu yang belum pasti akan
terjadi di masa depan.
1. 3. Perikatan manasuka (alternatif) (pasal 1272 1277 KUHPer)
Dalam perikatan manasuka si berutang(debitur) dibebaskan menyerahkan salah satu dari dua
barang atau lebih yang disebutkan dalam perjanjian, tetapi ia tidak boleh memaksa si berpiutang
untuk menerima sebagian dari barang yang satu dan sebagian lagi dari barang yang lain. Hak
memilih barang ini ada pada si berutang, jika hak ini tidak secara tegas diberikan oleh si
berpiutang.
Contoh : saya mempunyai tagihan seratus ribu rupiah pada seorang petani. Sekarang saya
mengadakan suatu perjanjian dengannya bahwa ia akan saya bebaskan dari utangnya jika ia
menyerahkan kudanya atau 100kg berasnya.

Apabila 1 dari 2 barang itu musnah atau tidak dapat lagi diserahkan, maka perikatan itu
menjadi perikatan murni atau perikatan bersahaja.

Jika semua barang itu hilang atau musnah akibat si berutang, maka si berutang wajib
membayar harga barang yang hilang terakhir

Jika hak pilih ada pada si berutang, dan salah satu barang hilang atau musnah bukan
akibat salahnya si berutang, si berpiutang wajib mendapat barang yang satu lagi.

Jika salah satu barang hilang akibat salahnya si berutang, maka si berpiutang boleh
memilih barang yang satu lagi atau harga barang yang sudah hilang.

Jika kedua barang hilang atau salah satu hilang akibat kesalahan si berutang, maka si
berpiutang boleh memilih sesuai pilihannya.

Asas-asas di atas berlaku juga jika barang lebih dari dua ataupun perikatan untuk
melakukan suatu perbuatan.

1. 4. Perikatan tanggung-menanggung atau solider (Pasal 1278 Pasal 1295


KUHPer)

Adalah perikatan yang terdapat beberapa orang di salah satu pihak (lebih dari satu debitur
atau lebih dari satu kreditur).

Dalam hal terdapat lebih dari satu debitur maka tiap-tiap debitur itu dapat dituntut untuk
memenuhi seluruh utang. Dengan sendirinya pembayaran yang dilakukan oleh salah
seorang debitur, membebaskan debitur lainnya.

Dalam hal beberapa orang di pihak kreditur, maka tiap-tiap kreditur berhak menuntut
pembayaran seluruh utang. Pembayaran yang dilakukan kepada seorang kreditur,
membebaskan si berutang terhadap kreditur-kreditur lainnya.

1. 5. Perikatan yang dapat dibagi dan yang tidak dapat dibagi (Pasal 1296-1303
KUHPer)

Dapat atau tidak dapat dibaginya suatu perikatan adalah tergantung dari apakah barang
nya dapat dibagi atau tidak serta penyerahannya dapat dibagi atau tidak.

Meskipun barang atau perbuatan yang dimaksudkan sifatnya dapat dibagi, tetapi jika
penyerahan atau pelaksanaan perbuatan itu tidak dapat dilakukan sebagian-sebagian,
maka perikatan itu harus dianggap tidak dapat dibagi.

1. 6. Perikatan dengan ancaman hukuman (Pasal 1304 1312 KUHper)

Perikatan dimana si berutang untuk jaminan pelaksanaan perjanjiannya, diwajibkan


melakukan sesuatu apabila perikatan awalnya tidak terpenuhi. Atau dengan kata lain,
perikatan yang ada hukumannya jika debitur tidak melakukan kewajibannya.

Contoh : A melakukan suatu perjanjian dengan B yang berprofesi sebagai kontraktor


untuk membangun sebuah apartemen. Pembangunan itu dalam perjanjian harus selesai
selama 2 tahun. Jika terlambat B akan dikenakan denda untuk mengganti kerugian yang
diderita A sebesar 20juta rupiah per bulan keterlambatannya.

Perikatan dengan ancaman hukuman walaupun mirip dengan perikatan manasuka (karena
ada dua prestasi yang harus dipenuhi), sangatlah berbeda satu sama lain, karena dalam
perikatan dengan ancaman hukuman sebenarnya prestasinya hanya satu, kalau ia lalai
melakukan prestasi tersebut barulah muncul prestasi yang ditentukan sebagai hukuman.

Hukuman yang ditentukan biasanya sangatlah berat, bahkan terlampau berat. Menurut
Pasal 1309 KUHPer, hakim bisa saja mengubah hukuman tersebut, bila perikatan
awalnya sudah dilakukan sebagian.

Ataupun jika perikatannya belum dilakukan sama sekali, hakim dapat menggunakan Pasal 1338
ayat 3 dimana suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik.
Contoh Kasus Perikatan :
Kasus Surabaya Delta Plaza

Kronologi Kasus
Pada permulaan PT Surabaya Delta Plaza (PT. SDP) dibuka dan disewakan untuk pertokoan, pihak
pengelola merasa kesulitan untuk memasarkannya. Salah satu cara untuk memasarkannya adalah
secara persuasif mengajak para pedagang meramaikan komplek pertokoan di pusat kota Surabaya

itu. Salah seorang diantara pedagang yang menerima ajakan PT surabaya Delta Plaza adalah Tarmin
Kusno, yang tinggal di Sunter-Jakarta.
Tarmin memanfaatkan ruangan seluas 888,71 M2 Lantai III itu untuk menjual perabotan rumah
tangga dengan nama Combi Furniture. Empat bulan berlalu Tarmin menempati ruangan itu, pengelola
PT Surabaya Delta Plaza (PT. SDP) mengajak Tarmin membuat Perjanjian Sewa Menyewa dihadapan
Notaris. Dua belah pihak bersepakat mengenai penggunaan ruangan, harga sewa, Service Charge,
sanksi dan segala hal yang bersangkut paut dengan sewa menyewa ruangan. Tarmin bersedia
membayar semua kewajibannya pada PT Surabaya Delta Plaza (PT. SDP), tiap bulan terhitung sejak
Mei 1988 s/d 30 April 1998 paling lambat pembayaran disetorkan tanggal 10 dan denda 2 0/00 (dua
permil) perhari untuk kelambatan pembayaran. Kesepakatan antara pengelola PT Surabaya Delta
Plaza (PT. SDP) dengan Tarmin dilakukan dalam Akte Notaris Stefanus Sindhunatha No. 40 Tanggal
8/8/1988.
Tetapi perjanjian antara keduanya agaknya hanya tinggal perjanjian. Kewajiban Tarmin ternyata
tidak pernah dipenuhi, Tarmin menganggap kesepakatan itu sekedar formalitas, sehingga tagihan
demi tagihan pengelola SDP tidak pernah dipedulikannya. Bahkan menurutnya, Akte No. 40 tersebut,
tidak berlaku karena pihak PT Surabaya Delta Plaza (PT. SDP) telah membatalkan Gentlement
agreement dan kesempatan yang diberikan untuk menunda pembayaran. Hanya sewa ruangan,
menurut Tarmin akan dibicarakan kembali di akhir tahun 1991. Namun pengelola PT Surabaya Delta
Plaza (PT. SDP) berpendapat sebaliknya. Akte No. 40 tetap berlaku dan harga sewa ruangan tetap
seperti yang tercantum pada Akta tersebut.
Hingga 10 Maret 1991, Tarmin seharusnya membayar US$311.048,50 dan Rp. 12.406.279,44 kepada
PT SDP. Meski kian hari jumlah uang yang harus dibayarkan untuk ruangan yang ditempatinya terus
bertambah, Tarmin tetap berkeras untuk tidak membayarnya. Pengelola PT Surabaya Delta Plaza
(PT. SDP), yang mengajak Tarmin meramaikan pertokoan itu.
Pihak pengelola PT Surabaya Delta Plaza (PT. SDP) menutup COMBI Furniture secara paksa. Selain
itu, pengelola PT Surabaya Delta Plaza (PT. SDP) menggugat Tarmin di Pengadilan Negeri Surabaya.

Analisis :

Perjanjian diatas bisa dikatakan sudah ada kesepakatan, karena pihak PT. Surabaya Delta Plaza dan
Tarmin Kusno dengan rela tanpa ada paksaan dari pihak manapun untuk menandatangani isi perjanjian
Sewa-menyewa yang diajukan oleh pihak PT. Surabaya Delta Plaza yang dibuktikan dihadapan
Notaris.
Tapi ternyata Tarmin Kusno tidak pernah memenuhi kewajibannya untuk membayar semua
kewajibannya kepada PT Surabaya Delta Plaza, dia tidak pernah peduli terhadap tagihan tagihan
yang datang kepadanya dan dia tetap bersikeras untuk tidak membayar semua kewajibannya. Maka
dari itu Tarmin Kusno bisa dinyatakan sebagai pihak yang melanggar perjanjian atau telah melakukan
wanprestasi.
Dengan alasan inilah pihak PT Surabaya Delta Plaza setempat melakukan penutupan COMBI Furniture
secara paksa dan menggugat Tamrin Kusno di Pengadilan Negeri Surabaya. Dan jika kita kaitkan
dengan Undang-undang yang ada dalam BW, tindakan Pihak PT Surabaya Delta Plaza bisa dibenarkan.
Dalam pasal 1240 BW, dijelaskan bahwa : Dalam pada itu si piutang adalah behak menuntut akan
penghapusan segala sesuatu yang telah dibuat berlawanan dengan perikatan, dan bolehlah ia minta
supaya dikuasakan oleh Hakim untuk menyuruh menghapuskan segala sesuatuyang telah dibuat tadi

atas biaya si berutang; dengan tak mengurangi hak menuntut penggantian biaya, rugi dan bunga jika
ada alasan untuk itu.
Dari pasal diatas, maka pihak PT Surabaya Delta Plaza bisa menuntut kepada Tarmin Kusno yang
tidak memenuhi suatu perikatan dan dia dapat dikenai denda untuk membayar semua tagihan bulanan
kepada PT Surabaya Delta Plaza.
Seharusnya Tarmin Kusno bertanggung jawab atas semua kewajiban-kewajibannya yang telah ia
sepakati sebelumnya dan harus menerima semua resiko yang dia terima.

CONTOH KONTRAK KERJA BIDANG KONSTRUKSI :


SURAT PERJANJIAN KERJA
Nomor : OO1/SPK015/XI/05
T E N TAN G
PEKERJAAN PEMBANGUNAN DINDING PARTISI PT. JAYA MAJU
CABANG BEKASI
ANTARA
PT. ANTARA
DENGAN
CV. PANCA INDERA
Pada hari ini Kamis tanggal Dua Bulan November tahun Dua Ribu Lima kami yang
bertanda tangan di bawah ini :
1. Nama : HASAN
Jabatan : Branch Controller
Mewakili : PT ANTARA
Alamat : Jalan Mawar - Bekasi
Yang selanjutnya dalam Surat Perjanjian Kerja ini disebut PIHAK PERTAMA.
2. Nama : SEPTIADI
Jabatan : General Manager
Mewakili : CV PANCA INDERA
Alamat : Jl. Alamanda - Bekasi
Telpon : 021-729 2727
Yang selanjutnya dalam Surat Perjanjian Kerja ini disebut PIHAK KEDUA.
PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA telah sepakat bersama-sama mengadakan Perjanjian
/ Kontrak Kerja Pekerjaan PEMBANGUNAN DINDING PARTISI PT. JAYA MAJU Cabang
BEKASI yang mengikat menurut ketentuan sebagaimana tercantum menurut pasalpasal sebagai berikut :
PASAL 1

TUGAS PEKERJAAN
PIHAK PERTAMA dalam kedudukannya seperti tersebut diatas memberi tugas kepada
PIHAK KEDUA dan PIHAK KEDUA menerima tugas-tugas tersebut untuk melaksanakan
Pekerjaan PEMBANGUNAN DINDING PARTISI PT JAYA MAJU cabang BEKASI.
PASAL 2
JUMLAH HARGA BORONGAN
Jumlah Harga Borongan pekerjaan tersebut adalah sebesar Rp. 99,000,000.-(Sembilan Puluh Sembilan Juta Rupiah) sesuai bahan/material yang tertera di dalam
penawaran akhir. (Lihat lampiran A)
PASAL 3
CARA PEMBAYARAN
1. PIHAK KEDUA dapat menerima uang muka sebesar 30% dari nilai kontrak atau
sebesar 30% x Rp. 99.000.000 = Rp. 29,700,000.-- (Dua Puluh Sembilan Juta Tujuh
Ratus Ribu Rupiah ), melalui Bank BNI 1234-242-1414 dan pekerjaan akan dimulai
setelah diadakan pembayaran uang muka dari pihak pertama.
2. Pembayaran berikutnya dilaksanakan oleh PT JAYA MAJU Cabang BEKASI yang diatur
sebagai berikut :
a). Pembayaran kedua sebesar 30 % dari harga borongan apabila kemajuan fisik
pekerjaan telah mencapai 65 % yang di buktikan dengan laporan kemajuan fisik.
b). Pembayaran Ketiga sebesar 35% dari harga borongan yang di bayarkan apabila
kemajuan pekerjaan telah mencapai 100% yang di buktikan dengan laporan kemajuan
fisik.
c). Pembayaran Keempat sebesar 5 % apabila masa waktu pemeliharaan telah selesai
selama 1 bulan.
PASAL 4
LAMA PEKERJAAN DAN SANKSI
1. Lama pekerjaan yang disanggupkan adalah 40 hari sejak hari Rabu tanggal 10
November 2005 (uang muka diterima) sampai dengan penyerahan pada hari Jumat
tanggal 10 Desember 2005.

2. Apabila terjadi keterlambatan penyerahan hasil pekerjaan maka berdasarkan Surat


Perjanjian Kerja ini, PIHAK KEDUA dikenakan denda sebesar 1/1000 (Satu Perseribu)
dari Harga Borongan / Nilai Kontrak untuk setiap hari kelambatan.
PASAL 5
PERSELISIHAN DAN DOMISILI
1. Apabila terjadi perselisihan antar kedua belah pihak, maka pada dasarnya akan
diselesaikan secara musyawarah.
2. Apabila dalam musyawarah tersebut tidak diperoleh penyelesaian, maka
perselisihan tersebut diselesaikan oleh suatu Panitia Arbitrage yang terdiri dari
seorang wakil PIHAK PERTAMA, seorang wakil PIHAK KEDUA dan seorang wakil PIHAK
KETIGA yang dipilih oleh kedua belah pihak yang memilih tempat kedudukan yang sah
dan tidak berubah di kantor Pengadilan Negeri Bangka -Belitung.
3. Selama proses penyelesaian perselisihan dengan cara musyawarah, tidak dapat
dijadikan alasan untuk menunda pelaksanaan pekerjaan sesuai jadwal yang
ditetapkan.
PASAL 6
PENUTUP
1. Surat perjanjian Kerja ini dinyatakan sah, mengikat kedua belah pihak dan berlaku
setelah ditanda tangani oleh kedua belah pihak pada hari, tanggal, bulan dan tahun
tersebut di atas.
2. Surat Perjanjian Kerja ini dibuat dalam 2 rangkap bermaterai cukup / Rp. 6.000,(Enam Ribu Rupiah) dan mempunyai kekuatan hukum yang sama untuk PIHAK PERTAMA
dan PIHAK KEDUA dan selebihnya diberikan kepada pihak-pihak yang ada hubungannya
dengan pekerjaan ini.
SANKSI PELANGGARAN KONTRAK
Kontrak kerja kontruksi merupakan ukuran pasti dalam mengadakan pekerjaan
kontruksi, sehingga pelanggaran kontrak kerja kontruksi merupakan kejadian yang
timbul karena salah satu pihak melakukan tindakan cidera janji (wanprestasi). Jadi,
penyelesaian hukum yang diambil adalah secara kontraktual.