Anda di halaman 1dari 13

Peran Perguruan Tinggi

Dalam Kajian Sosio Ekonomi

Oleh:
Mursyidin Zakaria, MA
(Direktur Akademi Komunitas Negeri Aceh Barat)
Disampaikan pada seminar

Landasan Berpikir
Program pembangunan dapat mendatangkan dampak berupa
manfaat-manfaat yang positif atau juga berupa kemudharatan
(kebanyakan) negatif kepada masyarakat, terutama kepada
mereka yang tinggal di dekat sekitar kegiatan ekonomi sebagai
penerima akibat (dampak) dari program pembangunan yang
bersangkutan. Komunitas lokal harus mencari/mendapat peluang
agar terjadi penyesuaian terhadap perubahan karena keadaan
baru tersebut (Anwar 1995).
Pembangunan dapat dikonseptualisasikan ke dalam suatu proses
perbaikan yang berkesinambungan atas suatu masyarakat atau
suatu sistem sosial secara keseluruhan menuju kehidupan yang
lebih baik atau manusiawi (Rustiadi et al.2003).

Lanjutan
Pembangunan ekonomi pada dasarnya dicerminkan oleh
terjadinya perubahan dalam aliran-aliran baru yang
menyangkut arus pendapatan dan manfaat (benefit) kepada
masyarakat lokal, regional bahkan sampai tingkat nasional.
Keberadaan perguruan tinggi di Aceh Barat berdampak
pada ekonomi dan pengembangan wilayah, setidaknya
dapat dilihat dalam dua hal, yaitu dampak keberadaannya
secara spasial dan dampak ekonomi yang ditimbulkannya.

Lanjutan
Secara spasial, keberadaan perguruan tinggi (kampus)
menyebabkan terdapat berbagai aktifitas dan jumlah input.
Tentunya hal ini dapat membantu masyarakat sekitar
kampus dalam menjalankan roda ekonomi rumah tangga
yang diyakini ke depan akan semakin berkembang.
Selain dampak keberadaannya secara spasial, secara
ekonomi keberadaan perguruan tinggi dapat menghasilkan
income untuk ekonomi wilayah, khususnya dari pemanfaatan
sumberdaya yang berkelanjutan dan aktifitas sosial ekonomi.

Peran Perguruan Tinggi Terhadap


Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat
Konsep pembangunan berkelanjutan dengan tetap memperhatikan
kepentingan generasi yang akan datang, pertama kali digunakan oleh
Komisi Pembangunan dan Lingkungan Dunia (World Commission on
Environment and Development) atau The Brundtland Commission pada
tahun 1987.
Palunsu dalam Hastuti (2001) mengemukakan bahwa pembangunan
yang berkelanjutan mengandung tiga pengertian yaitu:
1. Memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kebutuhan masa
yang akan datang.
2. Tidak melampaui daya dukung ekosistem.
3. Pembangunan yang dilaksanakan dalam jangka panjang akan
berdampak pada kerusakan lingkungan yang irreversible (Rees 1994).

Lanjutan
Dengan adanya perguruan tinggi di Aceh Barat, baik negeri
maupun swasta, mendorong adanya migrasi penduduk ke
sekitar kampus. Kehadiran kampus menarik banyak orang
untuk mencari penghidupan yang lebih baik dan layak dari
sebelumnya.
Pengintegrasian universitas atau pendidikan tinggi dengan
kebutuhan industri dan pelatihan, yang difokuskan kepada
penduduk muda dan penduduk lebih tua yang tidak bekerja
untuk mengisi kebutuhan pekerjaan di perusahaan-perusahaan
menjadi lebih nyata. Kampus atau perguruan tinggi cenderung
menjadi konsultan regional daripada nasional.

Lanjutan
Teori Resource Endowment dari suatu wilayah menyatakan bahwa,
perkembangan ekonomi wilayah dalam pembangunan bergantung pada
sumber daya alam yang di miliki dan permintaan terhadap komoditas
yang dihasilkan dari sumber daya itu. Suatu sumber daya menjadi
berharga jika dapat dimanfaatkan dalam bentuk-bentuk produksi.
Myrdal dalam Soekirno (1986) menyatakan bahwa, usaha pembangunan
di daerah/wilayah yang lebih maju (Growth Centre) akan memberikan
dampak kepada daerah sekitarnya (hinterland). Dampak kepada daerah
sekitarnya tersebut bersifat negatif, apabila terjadi penguasaan terhadap
daerah sekitar tersebut (backwash effect), sehingga mengakibatkan
adanya pertumbuhan wilayah yang terpusat (gonvergence). Sebaliknya
akan positif, apabila dapat mendorong pertumbuhan wilayah sekitarnya
(spread effect) sehingga menimbulkan pertumbuhan yang menyebar.

Dampak Perguruan Tinggi Terhadap


Sosial Masyarakat
Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia dari tahun ke tahun
semakin menunjukkan perkembangan positif. Berdirinya kampuskampus baru menunjukkan semakin tingginya kesadaran dan arti
pentingnya sebuah pendidikan. Kebutuhan tersebut ditanggapi oleh
pihak-pihak akademisi dengan mendirikan kampus-kampus dalam
bentuk sekolah tinggi, perguruan tinggi maupun akademi. Aceh Barat
sebagai pusat pendidikan Barat Selatan (Barsela) Aceh juga
menunjukkan hal yang sama.
Banyaknya kampus-kampus di daerah telah memberikan alternatif
pilihan kepada calon-calon mahasiswa untuk melanjutkan ke
pendidikan tinggi. Keberadaan kampus-kampus ini telah membuat
Meulaboh Kabupaten Aceh Barat menjadi kota pendidikan yang siap
mencetak calon generasi penerus bangsa.

Lanjutan
Keberadaan perguruan tinggi (kampus) telah membuat masyarakat
setempat (desa dan kelurahan di sekitar kampus) mengalami
perubahan. Dampak positif yang langsung dirasakan adalah
berkembangnya sektor perekonomian. Desa dan kelurahan yang
dulunya sepi kini berubah menjadi daerah yang ramai dengan
aktifitas mahasiswa yang menuntut ilmu.
Masyarakat sekitar pun mulai tergerak untuk mencoba peruntungan
di sektor ekonomi. Bangunan-bangunan usaha mulai didirikan, mulai
dari pembangunan pemondokan (kosan), warung makan, jasa
photocopy, persewaan dan penjualan komputer, tempat kursus,
warung telekomunikasi, penjual handphone dan perlengkapannya,
cafe, butik, penjual buku serta studio foto.

lanjutan
Ada yang dibangun dalam bentuk kios kecil maupun
menyewa rumah toko (ruko) di sepanjang jalan di sekitar
lokasi kampus. Kios-kios tersebut ada yang bersifat
permanen, yaitu berupa bangunan yang didirikan dengan
tembok permanen, ada juga yang semi permanen yang
berupa bambu dan menggunakan penyekat tripleks.
Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan kampus telah
memberikan dampak positif terhadap sosial masyarakat,
terutama dalam hal pekerjaan dan hubungan sosial. Walau
dapat dipungkiri, tentunya dampak negatif pun juga ikut serta
di dalamnya.

KESIMPULAN
Keberadaan perguruan tinggi (kampus) di suatu daerah ikut memberi andil
terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar kampus. Keberadaan
perguruan tinggi juga akan mendorong proses pembangunan secara merata
yang akan memberikan nilai investasi tinggi bagi daerah.
Untuk menjamin didapatnya manfaat pembangunan berkelanjutan dan
peningkatan perekonomian wilayah sekitar kampus setidaknya ada dua hal
yang harus ditingkatkan ke depan:
Membangun komunikasi yang baik antara semua pihak, terutama pemerintah
dan masyarakat, diantaranya dengan meningkatkan intensitas penyuluhan
dan silaturahmi, sehingga manfaat keberadaan kampus dapat dipahami oleh
semua pihak.
Setiap kegiatan pengelolaan wilayah dilakukan secara terpadu, baik antar
sektoral, antar instansi, secara spasial dan disiplin ilmu. Keterpaduan dapat
dicapai dengan membangun koordinasi antar pembuat kebijakan dalam setiap
kegiatan pengelolaan.

Referensi
1. Richardson, H. 1972. Regional Economics. Location Theory, Urban Structure and Regional
Change. Word University. London.
2. Soegijoko, S dan B.S. Kusbiantoro. 1997. Bunga Rampai Perencanaan Pembangunan di
Indonesia. PT.Grasindo, Jakarta.
3. Suhendi, 2005. Kesempatan Kerja di Sektor Informal pada Daerah Sekitar Kampus IPB
Darmaga (Studi Kasus di Desa Babakan Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor, Jawa
Barat). Skripsi. Institut Pertanian Bogor.
4. Sukirno, S. 1986. Ekonomi Pembangunan: Proses, Masalah dan Dasar Kebijaksanaan.
Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
5. Tjiptoherjanto, P. 1989. Sektor Informal Perkotaan dan Masalah Lapangan Kerja. Prisma. No
5. LP3ES, Jakarta.
6. Todaro, M. P. 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Edisi ketujuh. Erlangga,
Jakarta.
7. Unesco, 2004. Final Report of the Meeting of Higher Education Partners ( World Conference
of Higher Education +5). Paris, 23-25 June 2003.
8. Winoto, J. 2000. Pengembangan Wilayah : Kumpulan Tulisan Pembangunan dan
Pengembangan Wilayah di Indonesia. IPB, Bogor.

SEKIAN
Terimakasih