Anda di halaman 1dari 13

Pengembangan Jenjang Karir Perawat

A. Pengertian Pengembangan Karir Perawat


Karir merupakan suatu deretan posisi yang selalu diduduki oleh seseorang selama
perjalanan usianya (Robins, 2006). Karir diartikan sebagai semua pekerjaan yang
dipegang seseorang selama kehidupan dalam pekerjannya (Davis & Werther, 96 dalam
Meldona 96). Sistem pengembangan karir menurut Bernardin dan Russel adalah usaha
secaa formal dan terorganisir serta terencana untuk mencapai keseimbangan antar
kepentingan karir individu dengan organisasi secara keseluruhan. Sedangkan karir
perawat menurut Depkes (2006) merupakan sistem untuk meningkatkan kinerja dan
profesionalisme sesuai dengan bidang pekerjaan melalui peningkatan kompetensi.
Pengembangan karir professional Perawat Klinik (PK) bertujuan:
1. Meningkatkan moral kerja dan mngurangi kebuntuan karir (dead end job/career)
2. Menurunkan jumlah perwat yang keluar dari pekerjaannya (turn-over)
3. Menata sistem promosi berdasarkan mobilitas karir berfungsi dengan baik dan benar
Prinsip Pengembangan
1. Kualifikasi
Kualifikasi perawat, dimulai dari lulusan D III Keperwatan.
2. Penjenjangan
Penjenjangan mempunyai makna tingkatan kompetensi untuk melaksanakan asuhan
keperawatan yang akontebel dan etis seusai dengan batas kewenangan praktik dan
kompleksitas masalah pasien/klien.
3. Penerepan Asuhan Keperawatan
Fungsi utama perawat klinik adalah memberikan asuhan keperawatan langsung sesuai
standar praktik kode etik perawat.
4. Kesempatan yang Sama
Setiap perawat klinik mempunyai kesempatan yang sama untuk meningkatkan karir
sampai jenjang karir professional tertinggi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
5. Standar Profesi
Dalam memberikan asuhahan keperawatan mengacu pada standar praktik
keperawatan dan kode etik keperawatan.

6. Komitmen Pimpinan
Pimpinan sarana kesehatan harus mempunyai komitmen yang tinggi terhadap
pengembangan karir perawat, sehingga dapat dijamin kepuasan pasien/klien serta
kepuasan perawat dalam pelayanan keperawatan.
B. Profesionalisasi Keperawatan di Indonesia

Pada awalnya, perawat dianggap sebagai pekerjaan yang dilakukan oleh individu
yang memiliki derajat sosial yang rendah. Perawat dilihat bukan sebagai pekerjaan yang
bersifat

sukarela

atau

memerlukan

kemampuan

intelektual

tertentu.

Seiring

perkembangan situasi dan kondisi di tanah air, kebutuhan akan tenaga perawat akhirnya
berubah.
Keperawatan sebagai profesi di Indonesia mulai disadari pada awal tahun 1983,
yaitu setelah disepakatinya keperawatan sebagai profesi dan pendidikan keperawatan
berada pada jenjang pendidikan tinggi. Kesepakatan tersebut terjadi pada saat
penyelenggaraan Lokakarya Nasional Keperawatan oleh Depdikbud, Depkes, dan DPP
PPNI. Momentun ini selanjutnya dianggap sebagai tonggak profesionalisasi keperawatan
di Indonesia.
Pada tahun 1984, sebagai perwujudan lokakarya tahun 1983 tersebut,
diberlakukan kurikulum nasional untuk diploma III Keperawatan. Sedangkan Program
Studi Ilmu Keperawatan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dibuka pada tahun
1985 dan kurikulum pendidikan tinggi keperawatan jenjang S1 juga disahkan.
Tahun 1992 merupakan tahun penting bagi profesi keperawatan, karena pada
tahun ini secara formal keberadaan tenaga keperawatan sebagai profesi diakui dalam UU
Nomor 23 Tahun 1992 tentang kesehatan dan PP Nomor 32 tahun 1996 tentang Tenaga
Kesehatan sebagai penjabarannya. Pada tahun 2000 diterbitkan Kepmenkes Nomor 647
tentang Registrasi dan Praktik Perawat sebagai regulasi praktik keperawatan sekaligus
kekuatan hukum bagi perawat dalam menjalankan praktik keperawatan secara
profesional. Aturan ini disempurnakan pada tahun berikutnya melalui Kepmenkes Nomor
1239 Tahun 2001. Pada tahun 2014 telah disahkan UU Keperawatan untuk mengatur
praktik profesi keperawatan (Tjiptoherijanto, 2008).
Perkembangan pendidikan tinggi keperawatan di Indonesia ditandai dengan
munculnya berbagai program studi ilmu keperawatan. Sampai saat ini, terdapat sekitar 60
institusi pendidikan sarjana keperawatan di seluruh Indonesia.
Menurut Nursalam (2008), sistem pendidikan tinggi di Indonesia dijelaskan
sebagai berikut:
1. Program pendidikan DIII keperawatan
Program pendidikan DIII keperawatan yang meluluskan perawat generalis
sebagai perawat vokasional (ahli madya keperawatan) berlandaskan keilmuwan dan
keprofesian yang kokoh. Sebagai perawat vokasional atau profesional pemula harus
tetap memiliki tingkah laku dan kemampuan profesional serta mampu melaksanakan
asuhan keperawatan dasar secara mandiri dibawah supervisi. Selain itu, mempunyai

kemampuan mengelola praktik keperawatan berdasarkan kebutuhan dasar manusia


dengan memanfaatkan IPTEK keperawatan yang maju dan tepat guna.
2. Program pendidikan Ners
Program pendidikan Ners menghasilkan lulusan perawat Sarjana Keperawatan
dan Profesional (Ners= First Profesional Degree) dengan sikap, tingkah laku, dan
kemampuan profesional, serta mampu melaksanakan asuhan keperawatan dasar
(sampai dengan kerumitan tertentu) secara mandiri. Sebagai perawat profesional,
yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan objektif klien dan melakukan supervisi
praktik keperawatan yang dilakukan oleh perawat profesional pemula. Selain itu, juga
dituntut untuk memiliki kemampuan dalam meningkatkan mutu pelayanan asuhan
keperawatan dengan memanfaatkan IPTEK, serta melakukan riset keperawatan dasar
dan penerapan sederhana. Program pendidikan Ners memiliki landasan keilmuan yang
kokoh dan landasan keprofesian yang mantap sesuai dengan sifat pendidikan profesi.
3. Program Magister Keperawatan
Program magister keperawatan menghasilkan perawat ilmuan dengan sikap
dan tngkah laku dan kemampuan sebagai ilmuan keperawatan. Sebagai perawat
ilmuan diharapkan memiliki kemampuan berikut ini:
a. Meningkatkan pelayanan profesi dengan penelitian dan pengembangan
b. Berpartisipasi dalam pengembangan bidang ilmunya
c. Mengembangkan penampilannya yang lebih luas dengan mengaitkan ilmu profesi
yang serupa
d. Merumuskan pendekatan penyelesaian berbagai masalah masyarakat dengan cara
penalaran ilmiah
4. Program Pendidikan Ners Spesialis
Program Ners Spesialis menghasilkan Magister Keperawatan dan profesional
(ners spesialis, second profesional degree) dengan sikap, tingkah laku, dan
ketrampilan profesional, serta mampu untuk melaksanakan pelayanan asuhan
keperawatan spesialistik.
C. Model Jenjang Karir Perawat
Model jenjang karir perawat telah dikembangkan oleh banyak pakar keperawatan
di dunia. Jenjang karir perawat merupakan teori keperawatan yang dikemukakan oleh
Benner tahun 1984 yang diadopsi dari model dryfus, disusul kemudian oleh Swansburg
tahun 2000. Pada perkembangannya model jenjang karir diterapkan dan dikembangkan
diberbagai Negara, antara lain di USA, IK, Kanada, Taiwan, Jepang dan Thailand
termasuk juga Indonesia. Jenjang karir perawat di Indonesia telah disusun PPNI bersama
departemen kesehatan dalam bentuk pedoman jenjang karir perawat tahun 2006. Berikut

ini paparan beberapa model sistem jenjang karir perawat yang telah ada dan telah
dikembangkan:
Teori From Novice To Expert dari Patricia Benner (1984)
Teori From Novice to Expert menjelaskan 5 tingkat/tahap akuisisi peran dan
perkembangan profesi meliputi: (1) Novice, (2) Advance Beginner, (3) Competent, (4)
Proficient, dan (5) expert
Model Karir dari Swansburg (2000)
Swansburg (2000), mengelompokkan jenjang karir menjadi empat, yaitu perawat
klinik, perawat manajemen, perawat pendidik dan perawat peneliti. Model tahapan
perawat klinik meliputi: Perawat klinis/ perawatan I (pemula/belum berpengalaman),
Perawat klinis/ Staf II (pemula tahap lanjut), Perawat klinis/ Staff III (Kompeten),
Perawat klinis/ Staff IV (terampil), Perawat klinis/ Staff V (ahli).
Model Career Pathways di United Kingdom
Blakemore, S (2010) memaparkan Nursing Careers di United Kingdom (UK)
sejak tahun 2006 mengalamai proses modernisasi dengan model karir yang lebih fleksibel
tertuang dalam Career Pathways. Karir yang dikembangkan sejalan dengan konsep
Benner dan Swansburg, yang menetapkan empat jalur karir, meliputi perawat klinik
manajemen,pendidik, dan peneliti. Namun demikian, konsep pengembangan karir
selanjutnya diarhkan pada lima career pathways yang meliputi: Family and public health,
Acute and critical care, First contact, acces and urgent care, Supporting long-term care,
Mental health and psychosocial care
Model Career Pathways di Jepang, Taiwan dan Thailand
Chiang-Hanisko, et al (2008), memaparkan jalur karir perawat yang dikembangkan di
Jepang, Taiwan dan Thailand. Jenjang karir di Negara-negara teresebut dikembangkan mulai
dari pendidikan keperawatan, dilanjutkan dengan dikeluarkan lisensi bagi perawat dengan
kualifikasi tertentu. Secara umum kenaikan karir perawat di tiga Negara tersebut sama-sama
mensyaratkan kualifikasi pendidikan formal, pengalaman kerja, pendidikan berkelanjutan dan
uji kompetensi.
Karir perawat di Jepang terdiri dairi perawat generalis dan advanced spesialis.
Perawat genera lmemiliki beberapa tingkatan yang meliputi Licensed Practical Nurse (LPN).
Registered Nurse (RN), Public Health Nurse (PHN) dan Bidan. Karir perawat lanjutan
diberikan pada perawat yang memiliki pendidikan dan pengalaman yang memenuhi syarat.
Lisensi lanjutan bagi perawat di Jepang meliputi Certified Nurse (CN), Certified Nurse
Administrator (CNA) dan Clinical Nurse Specialist (CNS)

Model Jenjang Karir Perawat di Indonesia (Pedoman Depkes, 2006)


Depkes RI pada tahun 2006 menyusun pedoman jenjang karir bagi perawat, yang
didalamnya dijelaskan penjengjangan karir perawat professional yang meliputi perawat
klinik, perawat manajer, perawat manajer, perawat pendidik dan perawat peneliti.
Selanjutnya, Depkes RI mengatur jenjang karir professional perawat klinik ke dalam lima
tingkatan, sebagai berikut:
1. Perawat Klinik I (Umum).
Perawat klinik I (Novice) adalah perawat lulusan D-III telah memiliki pengalaman
kerja 2 tahun tau Ners (lulusan S-1 Keperawatan plus pendidikan profesi) dengan
pengalaman kerja 0 tahun, dan mempunyai sertifikat PK-I
2. Perawat Klinik II (Dasar)
Perawat klinik II (Advance Beginer) adalah perawat lulusan D-III Keperawatan
dengan pengalaman kerja 5 tahun dan Ners (lulusan S-1 Keperawatan plus pendidikan
profesi) dengan pengalaman kerja 3 tahun, dan mempunyai sertifikat PK-II
3. Perawat Klinik III (Lanjut)
Perawat klinik III (Competent) adalah perawat lulusan D-III Keperawatan dengan
pengalaman kerja 9 tahun atau Nets (lulusan S-1 Keperawatan plus pendidikan
profesi) dengan pengalaman klinik 6 tahun atau Ners Spesialis dengan pengalaman
kerja 0 tahun , dan memiliki sertifikat PK-III. Bagi lulusan D-III Keperawatan yang
tidak melanjutkan ke jenjang S-I Keperawatan tidak dapat melanjutkan ke jenjang
PK-IV dan seterusnya.
4. Perawat Klinik IV (PK IV)
Perawat klinik IV (Proficient) adalah Ners (lulusan S-1 Keperawatan plus pendidikan
profesi) dengan pengalaman kerja 9 tahun atau Ners Spesialis dengan pengalaman
kerja 2 tahun,dan memiliki sertifikat PK-IV.
5. Perawat Klinik V (PK V)
Perawat Klinik V (Expert) adalah Ners spesialis dengan pengalaman kerja 4 tahun dan
memiliki sertifikat PK-V.

Jenjang karir perawat oleh DEPKES RI dari sumber PPNI

D. Standar Kompetensi Perawat Indonesia


Standar diartikan sebagai ukuran atau patokan yang disepakati, sedangkan
kompetensi dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang yang dapat terobservasi
mencakup atas pengetahuan, ketrampilan dan sikap dalam menyelesaikan suatu pekerjaan
atau tugas dengan standart kinerja (performance) yang ditetapkan (PPNI, 2005).
Ranah dan unit kompetensi perawat menurut PPNI dibagi menjadi:
1. Praktik Profesional, etis, legal dan peka budaya
a. Bertanggung gugat terhadap praktik profesional
b. Melaksanakan praktik keperawatan (secara etis dan peka budaya)
c. Melaksanakan praktik secara legal
2. Pemberian asuhan dan manajemen asuhan keperawatan
a. Menerapkan prinsip-prinsip pokok dalam pemberian dan manajemen asuhan
b.
c.
d.
e.
f.
g.

keperawatan
Melaksanakan upaya promosi kesehatan dalam pelayanan keperawatan
Melakukan pengkajian keperawatan
Menyusun rencana keperawatan
Melaksanakan tindakan keperawatan sesuai rencana
Mengevaluasi asuhan tindakan keperawatan
Menggunakan komunikasi terapeutik dan hubungan interpersonal dalam

pemberian pelayanan
h. Menciptakan dan mempertahankan lingkungan yang aman
i. Menggunakan
hubungan
interprofesional
dalam

pelayanan

keperawatan/pelayanan kesehatan
j. Menggunakan delegasi dan supervisi dalam pelayanan asuhan keperawatan
3. Pengembangan Profesional

a. Melaksanakan peningkatan profesional dalam praktik keperawatan


b. Melaksanakan
peningkatan
mutu
pelayanan
dalam

pelayanan

keperawatan/pelayanan kesehatan
c. Mengikuti pendidikan berkelanjutan sebagai wujud tanggung jawab profesi
Penetapan kompetensi perawat Indonesia mengacu pada ketentuan Standar
Kompetensi Perawat Indonesia dari PPNI dan Direktorat Keperawatan dan Keteknisan
Medis.
1.
2.
3.
4.
5.

Kompetensi jenjang terbagi dalam lima macam kompetensi:


Kompetensi keperawatan dasar umum
Kompetensi keperawatan lanjutan atau kompetensi keperawatan dasar spesialistik
Kompetensi keperawatan spesialistik umum
Kompetensi keperawatan spesialistik khusus
Kompetensi keperawatan konsultan spesialistik
Standar kompetensi tiap jenjang:

1. Perawat Klinik I (PK I)


a. Melaksanakan asuhan keperawatan pada klien tanpa risiko (Klien minimal/partial
b.
c.
d.
e.
f.

care)
Pendokumentasian asuhan keperawatan
Memahami teknik isolasi dan teknik disinfeksi
Mampu mempersiapkan pasien pulang
Mampu melakukan penyuluhan kesehatan pada klien tanpa risiko
Mampu memberikan perawatan dasar untuk memenuhi kebutuhan personal hygine
pada klien tanpa resiko, meliputi : memandikan, kebersihan mulut, perawatan
kuku, merapikan tempat tidur pada klien tirah baring, membantu eliminasi,
mengatur posisi tidur, membantu mobilisasi (membantu latihan fisik sederhana),
monitoring TTV, monitoring intake-output, terampil memberikan pertolongan

pertama pada kecelakaan.


2. Perawat Klinik II (PK II)
a. Kompetensi Keperawatan Lanjutan Umum adalah kompetensi yang harus dimulai
oleh semua Perawat Klinik II di semua area:
1) Identifikasi klien yang memerlukan pemasangan gastrointestinal tube
2) Mampu/terampil memasang gastrointestinal intubation pada klien tanpa risiko
3) Mampu memberi makan/minum melalui internal tube feeding
4) Identifikasi klien yang memerlukan kateterisasi urine
5) Mampu/terampil memasang kateter urine tanpa risiko
6) Mampu mengidentifikasi klien dengan gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit
7) Mampu/terampil memasang infus (limpah wewenang)
8) Monitoring IVFD (intra vena fluid doix)
9) Mampu melakukan injeksi sc/ic/im/iv (limpah wewenang)
10) Analisa nyeri dan pengelolaan nyeri
11) Mampu memberikan teknik relaksasi

12) Perawatan pre-operatif


13) Perawatan post-operatif
14) Perawatan luka operasi tanpa kontaminasi
15) Terampil BHD
16) Terampil melakukan EKG dasar
17) Terampil identifikasi tanda-tanda syok hipovolemik, cardiogenik, hemoragik
dan neurologik
18) Mampu melakukan asuhan keperawatan pada klien partial care
19) Mampu memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan teknik isolasi
20) Mampu melakukan pendidikan kesehatan pada klien dengan resiko
21) Mampu membimbing PK I
22) Identifikasi tanda-tanda kegawat daruratan semua area
b. Keperawatan Lanjutan Khusus adalah keperawatan lanjutan sesuai area atau
disebut juga Keperawatan Dasar Spesialistik;
1) Keperawatan Dasar Spesialistik Area Pediatrik
a) Asuhan keperawatan bayi segera setelah lahir pada persalinan normal atau
aterm
b) Perawatan tali pusat
c) Perawatan mata
d) Perawatan telinga
e) Memandikan bayi
f) Perawatan bayi prematur
g) Perawatan bayi dengan foto terapi
h) Perawatan bayi dan anak dengan combustio 10%-20%
2) Keperawatan Dasar Spesialistik Area Maternitas
a) Mampu melakukan pemeriksaan kehamilan (inspeksi, palpasi, auskultasi,
perkusi)
b) Mengidentifikasi dan monitoring persalinan normal
c) Mampu memberikan asuhan keperawatan masa nifas pada klien tanpa
risiko,

meliputi:

vulva

hygiene,

perawatan

payudara,

monitoring

pendarahan
d) Identifikasi tanda-tanda persalinan normal
e) Kolaborasi dengan cepat dan tepat sesuai hasil identifikasi
3) Keperawatan Dasar Spesialistik Area Medigal/Surgical
a) Mampu melakukan kateterisasi urine pada klien dengan resiko
b) Mampu melakukan pemasangan infus pada klien dengan resiko
c) Mampu melakukan perawatan WSD
d) Mampu mengidentifikasi tanda-tanda gangguan metabolisme
e) Mobilisasi klien dengan resiko
f) Identifikasi kasus kardiogenik dan neurogenik
g) Kolaborasi dengan cepat dan tepat sesuai hasil identifikasi dan monitoring
3. Perawat Klinik III (PK III)
a. Keperawatan Dasar Spesialistik Area Pediatrik
1) Mahir perawatan perinatal Area Pediatrik
2) Mahir perawatan bayi dan anak dengan total care
3) Mahir perawatan bayi dan anak dengan ostomi
4) Mahir perawatan bayi dan anak dengan combustio grade 30%-50%

5) Mahir melakukan asuhan keperawatan pada bayi dan anak dengan


kegawatdaruratan
6) Mampu membimbing PK I dan PK II
7) Mampu memberikan pendidikan kesehatan pada klien dan keluarga total care
b. Keperawatan Dasar Spesialistik Area Maternitas
1) Mampu memberikan pertolongan persalinan normal
2) Semua kompetensi keperawatan dasar spesialitik area pediatric
3) Monitoring dan identifikasi persalinan resiko tinggi
4) Kolaborasi dengan cepat dan tepat sesuai hasil monitoring
5) Mahir melakukan asuhan keperawatan pada klien denga total care (Perawatan
PEB, eklamsi)
6) Mampu membimbing PK I dan PK II
c. Keperawatan Dasar Spesialistik Area Medikal/Surgikal
1) Mampu mengidentifikasi EKG emergensi
2) Mampu melakukan pertolongan pertama klien dengan kegawatdaruratan
3) Mampu memasanga NGT dengan resiko
4) Mampu memberikan asuhan keperawatan dengan total care
5) Mampu membimbing PK I dan PK II
6) Mampu melakukan ACLS
4. Perawat Klinik IV (PK IV)
a. Memberikan askep khusus atau sub-spesialisasi.
b. Melakukan tindakan keperawatan khusus atau sub spesialis dgn keputusan secara
mandiri
c. Melakukan bimbingan bagi PK III
d. Melakukan dokumentasi askep
e. Melakukan kolaborasi dgn profesi lain
f. Melakukan konseling kpd pasien
g. Melakukan pendidikan kesehatan bagi pasien, keluarga
h. Membimbing peserta didik keperawatan
i. Mengidentifikasi hal-hal yg perlu diteliti lebih lanjut
5. Perawat Klinik V (PK V)
a. Memberikan askep khusus atau sub-spesialisasi dalam lingkup medikal bedah/
maternitas/ pediatrik/ jiwa/ komunitas/ gawat darurat
b. Melakukan tindakan keperawatan khusus atau sub-spesialis dengan keputusan
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

secara mandiri
Melakukan bimbingan bagi PK IV
Melakukan dokumentasi askep
Melakukan kolaborasi dengan profesi lain
Melakukan konseling pada pasien
Melakukan pendidikan kesehatan bagi pasien & keluarga
Membimbing peserta didik keperawatan
Berperan sebagai konsultan dalam lingkup bidangnya
Berperan sebagai peneliti
Secara umum manfaat penerapan sistem jenjang karir menurut Sulistiyani dan

Rosidah (2003) adalah mengembangkan prestasi pegawai, mencegah pegawai minta


berhenti karena pindah bekerja, meningkatkan loyalitas pegawai, memotivasi pegawai

agara dapat mengembangkan kemampuannya, mengurangi subjektivitas dalam promosi,


memberi kepastian dari depan, mendukung organisasi memperoleh tenaga yang cakap dan
terampil melaksanakan tugas.
Manfaat sistem jenjang karir perawat berdasarkan riset da penerapan di rumah sakit
adalah:
1. Pengembangan Karir
Pengembangan karir adalah perencanaan dan implentasi rencana karir dan dapat
dipandang sebagai proses hidup kritis yang melibatkan individu dan pegawai
(Marquis & Huston, 2010). Sistem jenjang karir menuntut manajemen suatu
organisasi untuk menciptakan jalur karir termasuk cara yang dapat ditempuh oleh
pegawainya agar mencapai karir tersebut. Sistem jenjang karir juga bermanfaat untuk
memperbaiki moral perawat melalui kepuasan kerja akibat pekerjaan yang dilakukan.
2. Pengakuan
Sistem jenjang karir klinik dapat meningkatkan pengakuan dari profesi lain terhadap
peran perawat dalam pemberian asuhan keperawatan kepada klien. Bentuk pengakuan
yang tampak adalah memberi kesempatan kepada karyawan untuk berpartisipasi
dalam proses pengambilan keputusan, peningkatan kewenangan dan otonomi
mengenai kehidupan kerja mereka (Robins, 2006)
3. Penghargaan
Sistem jenjang karir klinik memungkinkan adanya penghargaan dalam bentuk
kenaikan jenjang dan peningkatan penghasilan sebagagai dampak dari terpenuhinya
kompetensi yang diharapkan (Swansburg, 2000)
4. Pekerjaan yang Menantang
Program karir yang kontinu dan menantang bagi pegawai mencakup dukungan untuk
mencapai tingkat yang lebih maju dan setifikasi serta keterampilan spesialis dan
pemindahan pekerjaan (Marquis & Huston, 2010). Sistem jenjang karir klinik dengan
peningkatan kompleksitas kompetensi mengandung konsekuensi dan tanggung jawab
yang semakin besar pada tiap levelnya. Kondisi ini dapat dijadian sebagai tantangan
bagi perawat untuk terus berkembang dan mengurangi kebosanan dalam
pekerjaannya.
5. Promosi
Promosi adalah penugasan ulang ke posisi yang lebih tinggi, sehingga biasanya diikuti
dengan kenaikan gaji (Marquis & Huston, 2010). Promosi berkaitan erat dengan
peningkatan status, perubahan title, kewenangan yang lebih banyak promosi menjadi
hal penting yang diharapkan oleh sebagai besar atau bahkan seluruh karyawan.

Sehingga sistem jenjang karir dapat menjadi alat yang digunakan sebagai panduan
dalam menentukan kebijakan promosi.

Daftar Pustaka
Marquis dan Huston (2010). Kepemimpinan dan manajemen keperawatan. Teori dan
Aplikasi. Alih bahasa: Widyawati dan Handayani. Jakarta. Edisi 4. EGC.
Nursalam & Effendi, Ferry. 2008. Pendidikan Dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
Robbins, Stephen P. 2006. Perilaku Organisasi. Edisi Kesepuluh. Jakarta: PT. Indeks
Kelompok Gramedia
Suroso, Jebul. 2011. Penataan Sistem Jenjang Karir Berdasar Kompetensi untuk
Meningkatkan Kepuasan Kerja dan Kinerja Perawat di Rumah Sakit. Jurnal Ekplanasi
Volume 6 Nomor 2
Swanburg, R.C. 2000. Pengantar Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan. Terjemahan.
Jakarta: EGC

PAPER
JENJANG KARIR KEPERAWATAN
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen Keperawatan
Dosen Pembimbing:
Agus Santoso, S.Kp., M.Kep.

Oleh:
Yeni Kiki Simarmata
22020111140110

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


JURUSAN ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO
2014

Anda mungkin juga menyukai