Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

FERTILISASI PADA HEWAN

DISUSUN OLEH :

RONI ARTO KAPIDA


1409010006

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS NUSA CENDANA
2014/2015

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas
berkat dan rahmat-Nya yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah
EMBRILOGI tentang FERTILISASI PADA HEWAN ini tepat pada waktunya.
Penulis juga tak lupa mengucapkan banyak terimakasih kepada Dosen matakuliah
Embriologi yang telah memberikan tugas makalah kelompok ini sebagai penambah nilai tugas
dan juga sebagai bahan belajar.
Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu segala kritikan serta
masukan yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan pembuatan makalahmakalah berikutnya. Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Kupang, Oktober 2014


Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembuahan atau fertilisasi adalah peleburan dua gamet yang dapat berupa nukleus atau
sel-sel bernukleus untuk membentuk sel tunggal (zigot) atau peleburan nukleus. Biasanya
melibatkan penggabungan sitoplasma (plasmogami) dan penyatuan bahan nukleus
(kariogami). Dengan meiosis, zigot itu membentuk ciri fundamental dari kebanyakan siklus
seksual eukariota, dan pada dasarnya gamet-gamet yang melebur adalah haploid. Bilamana
keduanya motil seperti pada tumbuhan, maka fertilisasi itu disebut isogami, bilamana berbeda
dalam ukuran tetapi serupa dalam bentuk maka disebut anisogami, bila satu tidak motil (dan
biasanya lebih besar) dinamakan oogami. Hal ini merupakan cara khas pada beberapa
tumbuhan, hewan, dan sebagian besar jamur. Pada sebagian gimnofita dan semua antofita,
gametnya tidak berflagel, dan polen tube terlibat dalam proses fertilisasi.
1.2 Rumusan masalah
Masalah yang ada pada makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Apa yang dimaksud dengan fertilisasi ?


Bagaimana proses pembentukan spermatozoa ?
Bagaimana proses pembentukan ovum?
Bagaimana proses fertilisasi?
Bagaimana jenis-jenis fertilisasi?
Bagaimana fertilisasi in vitro?
Bagaimana variasi dalam reproduksi?

1.3 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Untuk mengetahui proses pembentukan spermatozoa.


Untuk mengetahui proses pembentukan ovum.
Untuk mengetahui proses fertilisasi.
Untuk mengetahui jenis-jenis fertilisasi.
Untuk mengetahui fertilisasi in vitro.
Untuk mengetahui variasi dalam reproduksi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
Pembuahan atau fertilisasi adalah peleburan dua gamet yang dapat berupa nukleus
atau sel-sel bernukleus untuk membentuk sel tunggal (zigot) atau peleburan nukleus. Biasanya
melibatkan penggabungan sitoplasma (plasmogami) dan penyatuan bahan nukleus
(kariogami). Dengan meiosis, zigot itu membentuk ciri fundamental dari kebanyakan siklus
seksual eukariota, dan pada dasarnya gamet-gamet yang melebur adalah haploid. Bilamana
keduanya motil seperti pada tumbuhan, maka fertilisasi itu disebut isogami, bilamana berbeda
dalam ukuran tetapi serupa dalam bentuk maka disebut anisogami, bila satu tidak motil (dan
biasanya lebih besar) dinamakan oogami. Hal ini merupakan cara khas pada beberapa
tumbuhan, hewan, dan sebagian besar jamur. Pada sebagian gimnofita dan semua antofita,
gametnya tidak berflagel, dan polen tube terlibat dalam proses fertilisasi.
2.2 Proses pembentukan spermatozoa
Spermatogenesis terjadi di dalam tubulus seminiferi dalam testis. Proses tersebut
berlangsung mulai dari dinding tepi sampai ke lumen sel tubulus seminiferus yang merupakan
bagian dari perenkim testis selain lobulus.
Lobulus adalah kantong-kantong kecil yang pada umumnya berbentuk kerucut, seperti
buah salak. Ujung medialnya lancip, sedang ujung lateralnya lebar dan merupakan, dasar dari
kerucut tersebut. Isi lobulus adalah tubulus seminiferi yang panjang, berkelok-kelok
memenuhi seluruh kerucut, pada muara tabung seminiferus yang terdapat pada ujung medial
dari kerucut akan langsung berhubungan dengan rete testes. Dinding tubulus seminiferus
terdiri atas sel-sel membran basal, epithel benih, sel-sel penunjang dan sel penghasil cairan
testes.
Berikut merupakan tingkatan perkembangan sel germa dalam tubulus seminiferus adalah
sebagai benkut:
1. Spermatogonium: ukurannya relatif kecil, bentuk agak oval, inti terwarna kurang terang,
terletak berderet di dekat atau melekat pada membran basalis.
2. Spermiatosit I : ukuran paling besar, bentuk bulat, inti terwama kuat, letak agak menjauh
dari membran basalis.
3. Spermatosit II : ukuran agak kecil bentuk bulat, letaknya menjauhi membrane basalis.
(mendekati lumen).

4. Spermatid : ukuran kecil, benuk agak oval, warna inti kuat, kadangkadang piknotis, letak di
dekat lumen.
5. Spermatozoid : spermatozoa muda melekat secara bergerombol pada sel sertoli, yang muda
terdapat di dalam lumen.

Gambaran proses pembentukan spermatozoa

2.3 Proses pembentukan ovum


Proses terjadinya oogenesis terjadi didalam ovarium dan akan dilanjutkan didalam
oviduct jika terjadi penetrasi spermatozoid. Dalam oogenesis, sel germa berkembang didalam
folikel-folikel telur, dengan tingkatan sebagai berikut:
1.

Folikel primodial, merupakan

folikel utama yang

sudah terbentuk ketika lahir.

Terdiri atas sebuah oosit yang dilapisi oleh selapis sel epitel pipih. Oosit dalam folikel
primordial adalah sel bulat dengan garis tengah 25 pm. Intinya yang agak eksentris, besar dan
memiliki inti yang besar juga.
2.

Folikel tumbuh terdiri dari Folikel primer: terdiri dari sebuah I yang dilapisi oleh selapis

set folikel (set grarfulose) berbentuk kubus. Antara oosit dan sel-set granulose dipisahkan oleh
zona pelucida.
3.

Folikel skunder: terdiri dari sebuah oosit I yang dilapisi oleh beberapa lapis set

granulose.
4.

Folikel tersier: volume stratum granulosum yang melapisi oosit I bertambah besar/

banyak. Terdapat beberapa celah (antrum) diantara selsel granulose. Jaringan ikat stroma yang
terdapat diluar stratum granulose menyusun diri membentuk teca interna dan externa.

5.

Folikel matang (de graaf): berukuran paling besar, antrum menjadi sebuah rongga besar,

berisi cairan folikel (liquor foliculli). Oosit dikelilingi oleh sel granulose yang disebut corona
radiata, yang dihubungkan dengan sel-sel granulose tepi oleh tangkai penghubung yang
disebut kumulus ooforus.
Oosit akan diovulasikan dari folikel de graaf dalam tahap metafase meiosis II. Jika
didalam oviduk terjadi penetrasi, maka terjadi penuntasan meiosis II dan oosit II berkembang
menjadi zygote.

Gambar ovarium dan perkembangan folikel didalamnya.

2.4 Proses fertilisasi


Peristiwa fertilisasi terjadi di saat sel spermatozoa dilepaskan dan dapat membuahi
ovum di ampula tuba fallopii. Sebanyak 300 juta spermatozoa diejakulasikan ke dalam
saluran genital betina. Sekitar 1 juta yang dapat berenang melalui serviks, ratusan yang dapat
mencapai tuba fallopi dan hanya 1 yang dapat membuahi sel telur. Sel spermatozoa
mempunyai rentang hidup sekitar 48 jam.
Sebelum membuahi sel telur, spermatozoa harus melewati tahap kapasitasi dan reksi akrosom
terlebih dahulu. Kapasitasi merupakan suatu masa penyesuaian di dalam saluran reproduksi
wanita, berlangsung sekitar 7 jam. Selama itu suatu selubung glikoprotein dari plasma semen
dibuang dari selaput plasma yang membungkus daerah akrosom spermatozoa. Sedangkan
reaksi akrosom terjadi setelah penempelan spermatozoa ke zona pelusida. Reaksi tersebut
membuat pelepasan enzim-enzim yang diperlukan untuk menembus zona pelusida yang
terdapat pada akrosom.

Oosit (ovum) akan mencapai tuba satu jam lebih setelah diovulasikan. Ovum ini
dikelilingi oleh korona dari sel-sel kecil dan zona pelusida yang nantinya akan menyaring sel
spermatozoa yang ada sehingga hanya satu sel yang dapat menembus ovum. Setelah
spermatozoa menembus ovum, ia akan menggabungkan material intinya dan menyimpan
komplemen kromosom ganda yang lazim. Kromosomm ini mengandung semua informasi
genetic yang nantinya akan diturunkan kepada keturunannya.
Sel telur yang telah dibuahi akan membentuk zigot yang terus membelah secara
mitosis menjadi dua, empat, delapan, enam belas dan seterusnya. Pada saat 32 sel disebut
morula, di dalam morula terdapat rongga yang disebut blastosoel yang berisi cairan yang
dikeluarkan oleh tuba fallopii, bentuk ini kemudian disebut blastosit. Lapisan terluar blastosit
disebut trofoblas merupakan dinding blastosit yang berfungsi untuk menyerap makanan dan
merupakan calon tembuni atau ari-ari (plasenta), sedangkan masa di dalamnya disebut simpul
embrio (embrionik knot) merupakan calon janin. Blastosit ini bergerak menuju uterus untuk
mengadakan implantasi (perlekatan dengan dinding uterus).
Pada hari ke-4 atau ke-5 sesudah ovulasi, blastosit sampai di rongga uterus, hormon
progesteron merangsang pertumbuhan uterus, dindingnya tebal, lunak, banyak mengandung
pembuluh darah, serta mengeluarkan sekret seperti air susu (uterin milk) sebagai makanan
embrio.
Enam hari setelah fertilisasi, trofoblas menempel pada dinding uterus (melakukan
implantasi) dan melepaskan hormon korionik gonadotropin. Hormon ini melindungi
kehamilan dengan cara menstrimulasi produksi hormon estrogen dan progesteron sehingga
mencegah terjadinya menstruasi. Trofoblas kemudian menebal beberapa lapis, permukaannya
berjonjot dengan tujuan memperluas daerah penyerapan makanan. Embrio telah kuat
menempel setelah hari ke-12 dari fertilisasi.
Plasenta atau ari-ari pada janin berbentuk seperti cakram dengn garis tengah 20 cm,
dan tebal 2,5 cm. Ukuran ini dicapai pada waktu bayi akan lahir tetapi pada waktu hari 28
setelah fertilisasi, plasenta berukuran kurang dari 1 mm. Plasenta berperan dalam pertukaran
gas, makanan dan zat sisa antara ibu dan fetus. Pada sistem hubungan plasenta, darah ibu
tidak pernah berhubungan dengan darah janin, meskipun begitu virus dan bakteri dapat
melalui penghalang (barier) berupa jaringan ikat dan masuk ke dalam darah janin.
2.5 Jenis-jenis fertilisasi
Fertilisasi mempunyai beberapa cara yang umum didapati pada makhluk hidup, yaitu :
1.

Fertilisasi eksternal (khas pada hewan-hewan akuatik): gamet-gametnya dikeluarkan

dari dalam tubuhnya sebelum fertilisasi.

Fertilisasi

internal (khas

untuk adaptasi dengan

kehidupan

di

darat): sperma dimasukkan ke dalam daerah reproduksi betina yang kemudian disusul
dengan fertilisasi. Setelah pembuahan,telur itu membentuk membran fertilisasi untuk
merintangi pemasukan sperma lebih lanjut. Kadang-kadang sperma itu diperlukan hanya
untuk mengaktivasi telur.

2.6 Fertilisasi pada hewan


Pada hewan terdapat dua jenis fertilisasi, yaitu fertilisasi ekstern dan fertilisasi
internal. Fertilisasi eksternal (khas pada hewan-hewan akuatik) merupakan penyatuan sperma
dan ovum di luar tubuh hewan betina, yakni berlangsung dalam suatu media cair, misalnya
air. Contohnya pada ikan (pisces) dan amfibi (katak). Fertilisasi internal (khas untuk adaptasi
dengan kehidupan di darat) merupakan penyatuan sperma dan ovum yang terjadi di dalam
tubuh hewan betina. Hal ini dapat terjadi karena adanya peristiwa kopulasi, yaitu masuknya
alat kelamin jantan ke dalam alat kelamin betina. Fertilisasi internal terjadi pada hewan yang
hidup di darat (terestrial), misalnya hewan dari kelompok reptil, aves dan Mamalia.
Setelah fertilisasi internal, ada tiga cara perkembangan embrio dan kelahiran
keturunannya, yaitu dengan cara ovipar, vivipar dan ovovivipar.
2.6.1. Ovipar (Bertelur)
Ovipar merupakan embrio yang berkembang dalam telur dan dilindungi oleh
cangkang. Embrio mendapat makanan dari cadangan makanan yang ada di dalam telur. Telur
dikeluarkan dari tubuh induk betina lalu dierami hingga menetas menjadi anak. Ovipar terjadi
pada burung dan beberapa jenis reptil.
2.6.2 Vivipar (Beranak)
Vivipar merupakan embrio yang berkembang dan mendapatkan makanan dari dalam
uterus (rahim) induk betina. Setelah anak siap untuk dilahirkan, anak akan dikeluarkan dari
vagina induk betinanya. Contoh hewan vivipar adalah kelompok mamalia (hewan yang
menyusui), misalnya kelinci dan kucing.
2.6.3. Ovovivipar (Bertelur dan Beranak)
Ovovivipar merupakan embrio yang berkembang di dalam telur, tetapi telur tersebut
masih tersimpan di dalam tubuh induk betina. Embrio mendapat makanan dari cadangan
makanan yang berada di dalam telur. Setelah cukup umur, telur akan pecah di dalam tubuh
induknya dan anak akan keluar dari vagina induk betinanya. Contoh hewan ovovivipar adalah
kelompok reptil (kadal)

2.6.4. Reproduksi Ikan ( pisces )


Ikan merupakan kelompok hewan ovipar, ikan betina dan ikan jantan tidak memiliki
alat kelamin luar. Ikan betina tidak mengeluarkan telur yang bercangkang, namun
mengeluarkan ovum yang tidak akan berkembang lebih lanjut apabila tidak dibuahi oleh
sperma. Ovum tersebut dikeluarkan dari ovarium melalui oviduk dan dikeluarkan melalui
kloaka. Saat akan bertelur, ikan betina mencari tempat yang rimbun olehtumbuhan air atau
diantara bebatuan di dalam air.
Bersamaan dengan itu, ikan jantan juga mengeluarkan sperma dar testis yang
disalurkan melalui saluran urogenital (saluran kemih sekaligus saluran sperma) dan keluar
melalui kloaka, sehingga terjadifertilisasi di dalam air (fertilisasi eksternal). Peristiwa ini terus
berlangsung sampai ratusan ovum yang dibuahi melekat pada tumbuhan air atau pada celahcelah batu.
Telur-telur yang telah dibuahi tampak seperti bulatan-bulatan kecil berwarna putih.
Telur-telur ini akan menetas dalam waktu 24 40 jam. Anak ikan yang baru menetas akan
mendapat makanan pertamanya dari sisa kuning telurnya, yang tampak seperti gumpalan di
dalam perutnya yang masih jernih. Dari sedemikian banyaknya anak ikan, hanya beberapa
saja yang dapat bertahan hidup.
2.6.5.Reproduksi Amfibi (Amphibia)
Kelompok amfibi, misalnya katak, merupakan jenis hewan ovipar. Katak jantan dan
katak betina tidak memiliki alat kelamin luar. Pembuahan katak terjadi di luar tubuh. Pada
saat kawin, katak jantan dan katak betina akan melakukan ampleksus, yaitu katak jantan akan
menempel pada punggung katak betina dan menekan perut katak betina. Kemudian katak
betina akan mengeluarkan ovum ke dalam air. Setiap ovum yang dikeluarkan diselaputi oleh
selaput telur (membran vitelin). Sebelumnya, ovum katak yang telah matang dan berjumlah
sepasang ditampung oleh suatu corong. Perjalanan ovum dilanjutkan melalui oviduk.
Dekat pangkal oviduk pada katak betina dewasa, terdapat saluran yang menggembung yang
disebut kantung telur (uterus). Oviduk katak betina terpisah dengan ureter. Oviduk nya
berkelok-kelok dan bermuara di kloaka.
Segera setelah katak betina mengeluarkan ovum, katak jantan juga akan menyusul
mengeluarkan sperma. Sperma dihasilkan oleh testis yang berjumlah sepasang dan disalurkan
ke dalam vas deferens. Vas deferens katak jantan bersatu dengan ureter. Dari vas deferens
sperma lalu bermura di kloaka. Setelah terjadi fertilisasi eksternal, ovum akan diselimuti
cairan kental sehingga kelompok telur tersebut berbentuk gumpalan telur.

Gumpalan telur yang telah dibuahi kemudian berkembang menjadi berudu. Berudu
awal yang keluar dari gumpalan telur bernapas dengan insang dan melekat pada tumbuhan air
dengan alat hisap.
Makanannya berupa fitoplankton sehingga berudu tahap awal merupakan herbivora.
Berudu awal kemudian berkembang dari herbivora menjadi karnivora atau insektivora
(pemakan serangga). Bersamaan dengan itu mulai terbentuk lubang hidung dan paru-paru,
serta celah-celah insang mulai tertutup. Selanjutnya celah insang digantikan dengan anggota
gerak depan.
Setelah 3 bulan sejak terjadi fertilisasi, mulailah terjadi metamorfosis. Anggota gerak depan
menjadi sempurna. Anak katak mulai berani mucul ke permukaan air, sehingga paru-parunya
mulai berfungsi. Pada saat itu, anak katak bernapas dengan dua organ, yaitu insang dan paruparu. Kelak fungsi insang berkurang dan menghilang, sedangkan ekor makin memendek
hingga akhirnya lenyap. Pada saat itulah metamorfosis katak selesai.
2.6.6. Reproduksi Reptil (Reptilia)
Kelompok reptil seperti kadal, ular dan kura-kura merupakan hewan-hewan yang
fertilisasinya terjadi di dalam tubuh (fertilisasi internal). Umumnya reptil bersifat ovipar,
namun ada juga reptil yang bersifat ovovivipar, seperti ular garter dan kadal. Telur ular garter
atau kadal akan menetas di dalam tubuh induk betinanya. Namun makanannya diperoleh dari
cadangan makanan yang ada dalam telur. Reptil betina menghasilkan ovum di dalam ovarium.
Ovum kemudian bergerak di sepanjang oviduk menuju kloaka. Reptil jantan menghasilkan
sperma di dalam testis. Sperma bergerak di sepanjang saluran yang langsung berhubungan
dengan testis, yaitu epididimis. Dari epididimis sperma bergerak menuju vas deferens dan
berakhir di hemipenis. Hemipenis merupakan dua penis yang dihubungkan oleh satu testis
yang dapat dibolak-balik seperti jari-jari pada sarung tangan karet. Pada saat kelompok hewan
reptil mengadakan kopulasi, hanya satu hemipenis saja yang dimasukkan ke dalam saluran
kelamin betina.
Ovum reptil betina yang telah dibuahi sperma akan melalui oviduk dan pada saat
melalui oviduk, ovum yang telah dibuahi akan dikelilingi oleh cangkang yang tahan air. Hal
ini akan mengatasi persoalan setelah telur diletakkan dalam lingkungan basah. Pada
kebanyakan jenis reptil, telur ditanam dalam tempat yang hangat dan ditinggalkan oleh
induknya. Dalam telur terdapat persediaan kuning telur yang berlimpah.
Hewan reptil seperti kadal, iguana laut, beberapa ular dan kura-kura serta berbagai
jenis buaya melewatkan sebagian besar hidupnya di dalam air. Namun mereka akan kembali
ke daratan ketika meletakkan telurnya.
2.6.7. Reproduksi Burung (Aves)

Kelompok burung merupakan hewan ovipar. Walaupun kelompok buruk tidak


memiliki alat kelamin luar, fertilisasi tetap terjadi di dalam tubuh. Hal ini dilakukan dengan
cara saling menempelkan kloaka.
Pada burung betina hanya ada satu ovarium, yaitu ovarium kiri. Ovarium kanan tidak
tumbuh sempurna dan tetap kecil yang disebut rudimenter. Ovarium dilekati oleh suatu
corong penerima ovum yang dilanjutkan oleh oviduk. Ujung oviduk membesar menjadi uterus
yang bermuara pada kloaka. Pada burung jantan terdapat sepasang testis yang berhimpit
dengan ureter dan bermuara di kloaka.
Fertilisasi akan berlangsung di daerah ujung oviduk pada saat sperma masuk ke dalam
oviduk. Ovum yang telah dibuahi akan bergerak mendekati kloaka. Saat perjalanan menuju
kloaka di daerah oviduk, ovum yang telah dibuahi sperma akan dikelilingi oleh materi
cangkang berupa zat kapur.
Telur dapat menetas apabila dierami oleh induknya. Suhu tubuh induk akan membantu
pertumbuhan embrio menjadi anak burung. Anak burung menetas dengan memecah kulit telur
dengan menggunakan paruhnya. Anak burung yang baru menetas masih tertutup matanya dan
belum dapat mencari makan sendiri, serta perlu dibesarkan dalam sarang.
2.6.8. Reproduksi Mamalia (Mammalia)
Semua jenis mamalia, misalnya sapi, kambing dan marmut merupakan hewan vivipar
(kecuali Platypus). Mamalia jantan dan betina memiliki alat kelamin luar, sehingga
pembuahannya bersifat internal. Sebelum terjadi pembuahan internal, mamalia jantan
mengawini mamalia betina dengan cara memasukkan alat kelamin jantan (penis) ke dalam
liang alat kelamin betina (vagina).

2.6.9 Fertilisasi in vitro


Fertilisasi in vitro merupakan suatu metode untuk membuahkan suatu kehidupan baru dalam
sebuah cawan petri. Anak-anak yang dibuahkan melalui fertilisasi in vitro terkadang lebih
dikenal sebagai bayi tabung. Beberapa telur diambil dari ovarium perempuan setelah ia
meminum obat-obatan fertilitas yang mengakibatkan matangnya banyak telur sekaligus.
Sperma diambil dari laki-laki, biasanya melalui masturbasi. Telur dan sperma akhirnya
disatukan dalam sebuah cawan kaca, di mana pembuahan terjadi dan kehidupan baru
dibiarkan berkembang selama beberapa hari. Dalam kasus yang paling sederhana, embrioembrio kemudian ditransfer ke dalam rahim ibu dengan harapan bahwa satu akan bertahan
hidup dan berkembang hingga saat persalinan.

2.6.10. Variasi dalam reproduksi

Terdapat beberapa jenis variasi reproduksi yang ada pada makhluk hidup. Antara lain :
1.

Metagenesis, yaitu, pergantian generasi hasil reproduksi seksual dengan reproduksi

aseksual.
2.

Hemafroditisme, merupakan kondisi bila satu individu mempunyai dan dapat

memproduksi sel kelamin jantan dan kelamin betina. Hemafroditisme disebabkan kegagalan
differensiasi gonad.
3.

Partenogenesis, pada beberapa jenis insecta, telur dapat tumbuh menjadi individu baru

tanpa adanya peran dari pejantan.


4.

Paedogenesis, merupakan reproduksi yang terjadi pada hewan muda yang belum dewasa

secara seksual/pada fase larva. Seperti redia pada larva cacing fasciola hepatica yang dapat
menghasilkan redia dan serkaria secara paedogenesis. Generasi baru yang terbentuk berasal
dari sel somatik.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pembuahan atau fertilisasi adalah peleburan dua gamet yang dapat berupa nukleus
atau sel-sel bernukleus untuk membentuk sel tunggal (zigot) atau peleburan nukleus.
Peristiwa fertilisasi terjadi di saat sel spermatozoa dilepaskan dan dapat membuahi ovum di
ampula tuba fallopii. Sebanyak 300 juta spermatozoa diejakulasikan ke dalam saluran genital
betina. Pada hewan terdapat dua jenis fertilisasi, yaitu fertilisasi ekstern dan fertilisasi
internal. Setelah fertilisasi internal, ada tiga cara perkembangan embrio dan kelahiran
keturunannya, yaitu dengan cara ovipar, vivipar dan ovovivipar.

3.2 Saran
Kepada para pembaca agar lebih mencari atau membaca lebih banyak lagi tentang
fertilisasi adri berbagai sumber sehingga memiliki wawasan yang luas tentang fertilisasi.

DAFTAR PUSTAKA
Suryo. 1996. Genetika.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi. Proyek Pendidkan Tenaga Guru.
Suryo.2003.Genetika Manusia.Yogyakarta.Gajah Mada University Press