Anda di halaman 1dari 6

Fokus utama dalam penanganan pasien dengan kecurigaan cedera kepala baerat adalah harus

mencegah cedera otak sekunder. Tindakan pemberian oksigen yang adekuat dan
mempertahankan tekanan darah yang cukup untuk perfusi otak merupakan langkah paling
penting untuk menghindari terjadinya cedera otak sekunder, yang pada akhirnya akan
meningkatkan tingkat kesembuhan pasien. Sebagai tindakan selanjutnya yang penting setelah
ABCDE adalah identifikasi adanya lesi massa yang memerlukan tindakan pembedahan, dan
yang terbaik adalah pemeriksaan CT scan kepala.1
KLASIFIKASI CEDERA KEPALA
Cedera kepala diklasifikasikan dalam berbagai aspek. Secara praktis dikenal 3 deskripsi
klasifikasi yaitu berdasarkan: (1) Mekanisme, (2) Berat-ringannya, (3) Morfologi

Mekanisme cedera

Cedera otak secara luas dapat dibagi atas cedera tumpul dan cedera tembus. Cedera otak
tumpul biasanya berkaitan dengan kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh atau pukulan benda
tumpul. Cedera tembus disebabkan oleh luka tembak dan bacok.

Beratnya cedera

Glasgow Coma Scale (GCS) digunakan sebagai pengukur secara klinis beratnya cedera otak.
Pasien yangg membuka kedua matanya secara spontan, mematuhi perintah dan berorientasi
baik mempunyai nilai GCS total sebesar 15, sementara pasien yang lemah tidak dapat
membuka mata sama sekali atau tidak bersuara nilai GCS-nya minimal yaitu 3.
Nilai GCS sama atau kurang dari 8 didefinisikan sebagai koma atau cedera otak berat. Pasien
dengan nilai GCS 9-12 dikategorikan sebagai cedera otak sedang, dan pasien dengan nilai
GCS 13-15 dikategorikan sebagai cedera otak ringan. Dalam penilaian GCS, jika terdapat
asimetri ekstremitas kanan atau kiri maka yang dipergunakan adalah angka respon motorik
terbaik sebagai pengukuran karena hal itu adalah alat prediksi yang lebih cocok. Namun,
respon motorik pada kedua sisinya harus dicatat. 1

Morfologi

Cedera kepala dapat meliputi patah tulang tengkorak, kontusio, perdarahan dan cedera difus.

1. Fraktur Kranium
Fraktur kranium dapat terjadi pada atap atau dasar tengkroak. Fraktur dapat berbentuk garis
(linear) atau bintang (stelata), dan dapat pula terbuka atau tertutup. Fraktur dasar tengkorak
biasanya memerlukan

pemeriksaan CT scan dengan teknik bone window untuk

memperjelas garis frakturnya. Adanya tanda-tanda klinis fraktur dasar tengkorak menjadikan
petunjuk kecurigaan untuk pemeriksaan lebih rinci. Tanda-tanda tersebut antara lain Racoon
eyes sign, Battle sign, rhinorrea dan otorrhea, gangguan nervus kranialis VII dan VIII (parese
otot wajah dan gangguan kehilangan pendengaran), yang dapat timbul segera atau beberapa
hari setelah trauma. Umumnya prognosis pemulihan parese nervus fasialis lebih baik pada
keadaan paresis yang terjadi beberapa waktu kemudian, sementara prognosis pemulihan N.
VIII sangat buruk. 1
Fraktur kranium terbuka dapat mengakibatkan adanya hubungan antara laserasi kulit kepala
dengan permukaan otak karena robeknya selaput dura.
2. Lesi intrakranial
Dapat diklasifikasikan sebagai lesi fokal atau lesi difus, walaupun kedua jenis lesi ini sering
terjadi bersamaan. Termasuk dalam lesi fokal yaitu perdarahan epidural, perdarahan subdural,
kontusio dan perdarahan intraserebral.
Perdarahan epidural
Perdarahan epidural relatif jarang, lebih kurang 0,5% dari semua cedera otak dan 9% dari
pasien yang mengalami koma. Hematoma epidural itu secara tipikal berbentuk bikonveks
atau cembung sebagai akibat dari pendorongan perdarahan terhadap duramater yang sanagt
melekat di tabula interna tulang kepala. Serig terletak di area temporal atau temporoparietal
dan biasanya disebabkan oleh robeknya arteri meningea media akibat fraktur tulang
tengkorak. Gumpalan darah yang terjadi biasanya berasal dari pembuluh arteri, namun dapat
juga terjadi akibat robekan dari sinus vena besar maupun fraktur tulang tengkorak.
Perdarahan subdural
Perdarahan ini terjadi akibat robeknya pembuluh darah atau vena-vena kecil di permukaan
korteks serebri. Berbeda dengan perdarahan epidural yang berbentuk lensa cembung pada
CT-scan, perdarahan subdural dapat menutupi seluruh permukaan otak. Lebih lanjut adalah

kerusakan otak yang berada di bawah perdarahan subdural biasanya lebih berat dan
prognosisnya lebih buruk daripada perdarahn epidural.
Kontusio serebri dan perdarahan intraserebral
Kontusio sering terjadi di lobus frontal dan lobus temporal, walaupun dapat juga terjadi pada
setiap bagian dari otak. Kontusio serebri dapat dalam waktu beberapa jam atau hari,
berkumpul menjadi perdarahn intraserebral atau kontusio yang luas sehingga menyebabkan
lesi desak ruang yang membutuhkan tindakan operasi. 1
3. Cedera otak difus
Dimulai dari konkusi ringan dimana gambaran CT scan normal, sampai cedera iskemihipoksik yang berat.
Pada konkusi, pasien biasanya menderita kehilangan gangguan neurologis nonfokal
sementara yang seringnya termasuk kehilangan kesadaran.
Cedera otak difus berat biasanya diakibatkan oleh hipoksia, iskemia otak karena syok yang
berkepanjangan atau periode apneu yang terjadi segera setelah trauma. Pada kasus demikian,
awalnya CT scan sering menunjukan gambaran normal, atau gambaran otak bengkak secara
merata dengan batas area substansia putih dan abu-abu hilang. Kelainan difus lainnya, sering
terlihat pada cedera dengan kecepatan tinggi, yang dapat menunjukkan gambaran titik-titik
perdarahan multipel di seluruh hemisfer otak yang terkonsentrasi di batas area putih dengan
abu-abu.
Penatalaksanaan cedera otak berat (GCS 3-8)
Pasien dengan cedera kepala berat tidak mampu melakukan perrintah sederhana walaupun
status kardiopulmonernya telah stabil. Walaupun definisi ini mencakup berbagai jenis cedera
otak, tetapi dapat mengidentifikasi pasien yang memiliki resiko morbiditas dan mortalitas
yang paling besar.2
Primary survey dan resusitasi
Cedera otak sering diperburuk akibat cedera sekunder. Pasien cedera otak berat dengan
hipotensi mempunyai mortalitas mencapai 75%. Oleh karena itu, tindakan stabilisasi
kardiopulmoner harus dilakukan secepatnya.

Airway dan breathing


Terhentinya pernafasan sementara sering terjadi pada cedera otak, dan dapat mengakibatkan
cedera otak sekunder. Intubasi endotrakeal dini harus segera dilakukan pada pasien koma.
Pada pasien dilakukan ventilasi dengan O 2 100% sampai diperoleh hasil pemeriksaan AGD
sehingga kemudian dapat dilakukan penyesuain dengan FiO 2. Pemakaian pulse oksimeter
sangat bermanfaat dan diharapkan saturasi O2> 98%.
Tindakan hiperventilasi harus dilakukan secara hati-hati pada pada pasien cedera otak berat
dan hanya dilakukan saat timbul perburukan neurologis akut. 2
Sirkulasi
Hipotensi biasanya tidak disebabkan oleh cedera otak itu sendiri kecuali pada stadium
terminal dimana medula oblongata sudah mengalami gangguan.
Perdarahan intrakranial tidak dapat menyebabkan syok hemoragik. Pada pasien dengan
hipotensi harus segera dilakukan stabilisasi untuk mencapai euvolemia. Hipotensi merupakan
petunjuk adanya kehilangan banyak darah, yang kadang tidak tampak jelas.
Pemeriksaan neurologis
Segera setelah status kardiopulmoner pasien stabil, pemeriksaan neurologis cepat dan
terfokus dilakukan. Pemeriksaan itu terdiri dari GCS dan refleks cahaya pupil. Sangat penting
dikenali hal-hal yang sering menyertai cedera otak, antara lain konumsi obat-obatan,
keracunan alkohol dan cedera lainnya. Jangan sampai tidak mengetahui adanya cedera toak
berat hanya karena pasien dianggap keracunan. Kondisi status pasien paska serangan kejang
setelah cedera otak sangat memperburuk respon pasien dalam hitungan menit atau jam.
Pada pasien koma, respon motorik dapat dibangkitkan dengan merangsang atau mencubit otot
trapezius atau menekan dasar kuku pasien. Bila pasien menunjukkan reaksi yang bervariasi,
yang digunakan adalah respon motorik terbaik karena merupakan indikator prognostik yang
paling akurat dibandingkan respon yang lebih buruk.
Sangat penting untuk melakukan pemeriksaan GCS dan refleks pupil sebelum pasien
diberikan sedasi atau paralisis, karena akan menjadi dasar untuk tindakan selanjutnya. Selama
primary survey, pemakaian obat-obat sedasi dan paralisis jangka panjang tidak dianjurkan.

Obat sedasi hanya diberikan bila pasien sangat gelisah sehingga dapat membahayakan dirinya
sendiri. 2
Secondary survey
Pemeriksaan serial GCS, tanda lateralisasi dan reaksi pupil harus dilakukan untuk
menemukan adanya perburukan neurologis sedini mungkin. Tanda awal dari herniasi lobus
temporal adalah dilatasi pupil dan hilangnya refleks pupil terhadap cahaya. Adanya trauma
langsung pada mata juga dapat menyebabkan respon pupil abnormal dan membuat
pemeriksaan pupil menjadi sulit. 2
Penatalaksaan cedera orak berat (GCS 3-8)

Pemeriksaan dan penatalaksaan


ABCDE
Primary survei dan resusitasi
Secondary survey
Rujuk ke rumah sakit dengan fasilitas bedah syaraf.
Reevaluasi neurologis: GCS
Respon buka mata
Respon motorik
Respon verbal
Refleks cahaya pupil

Medika mentosa (diberikan setelah konsultasi dengan bedah syaraf)


Cairan intravena
Harus diberikan sesuai kebutuhan untuk resusitasi dan memperthanakan normovolemia.
Cairan yang dianjurkan untuk resusitasi adalah larutan ringer laktat atau garam fisiologis.
Kadar natrium serum perlu dimonitor pada pasien dengan cedera kepala. Keadaan
hiponatremia sangat berkaitan dengan edema otak sehingga harus dicegah. 3
Manitol
Manitol digunakan untuk menurunkan tekanan intrakranial yang meningkat. Sediaan yang
tersedia cairan manitol dengan konsentrasi 20%. Dosis yang diberikan 0,25-1 g/kgBB
diberikan secara bolus intravena. Manitol dosis tinggi jangan diberikan pada pasien yang
hipotensi, karena manitol merupakan diuretik osmotik yang potensial. Adanya perburukan
neurologis yang akut, seperti terjadinya dilatasi pupil, hemiparesis maupun kehilangan

kesadaran saat pasien dalam observasi merupakan indikasi kuat untuk diberikan manitol.
Pada keadaan tersebut pemberian bolus manitol (1 g/kgBB) harus diberikan secara cepat
dalam waktu 5 menit dan pasien segera dilakukan CT scan. 3
Hiperventilasi sedang (PCO2 < 35 mmHg)
Antikonvulsan
Epilepsi pascatrauma terjadi pada 5% pasien yang dirawat di RS dengan cedera kepala
tertutup dan 15% pada cedera kepala berat. Terdapat 3 faktor yang berkaitan dengan insiden
epilepsi: (1) kejang awal yang terjadi dalam minggu pertama, (2) perdarahan intrakranial, (3)
fraktur depresi. Fenitoin atau fosfenitoin adalah obat yang biasa diberikan pada fase akut.
Untuk dewasa dosis awalnya adalah 1 g yang diberikan secara intravena dengan kecepatan
pemberian tidak lebih cepat dari 50 mg/ menit. Dosis pemeliharannya biasanya 100 mg/ 8
jam, dengan titrasi untuk mencapai kadar terapeutik serum. Pada pasien dengan kejang
berkepanjangan, diazepam atau lorazepam digunakan sebagai tambahan selain fenitoin
sampai kejang berhenti.
Daftar Pustaka
1. MCCrory P, Johnston K, Meeuwisse W, et al. Summary and aggeement statement of
the 2nd international conference on concussion inSport, Prague 2004. Br J Sports Med
2005; 39: 196-204.
2. Brain trauma Foundation. Guidlines for the managements of severe traumatic brain
injury. Accessed September 8, 2007.
3. Valadka AB, Narayan RK: Emergency room management of the head injured patient,
in Narayan RK, Wilberger JE, Povlishock JT (eds): Neurotrauma, New York,
McGraw-Hill, 1996.