Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

ILMU BAHAN
PENGUJIAN TARIK

AYNDRI WIDI PRABOWO


1406642965
KELOMPOK 8

LABORATORIUM METALURGI FISIK


DEPARTEMEN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA
2014

MODUL I
PENGUJIAN TARIK
I.

TUJUAN

1. Untuk membandingkan kekuatan maksimum beberapa jenis logam (besi


tuang, baja, tembaga, dan alumunium).
2. Untuk mengetahui respon mekanik bahan terhadap pembebanan tarik satu
arah (uniaksial).
3. Untuk membandingkan titik luluh, fenomena necking, dan modulus
elastisitas dari logam logam tersebut.
4. Untuk membandingkan tingkat keuletan logam logam tersebut, melalui
penghitungan % elongasi dan % pengurangan luas. Serta membandingkan
tampilan

perpatahan

(fraktografi)

logam

logam

tersebut

dan

menganalisanya berdasarkan sifat sifat mekanis.


5. Untuk membuat, membandingkan serta menganalisis kurva kurva
tegangan - regangan, baik kurva rekayasa maupun sesungguhnya dari
beberapa jenis logam.

II.

DASAR TEORI

Secara umum untuk mengetahui mechanical properties dari suatu material


dilakukan pengujian tarik menggunakan specimen berbentuk tulang dengan
ukuran sesuai standar yang da (ASTM, JIS, BS, etc.). Pada prinsipnya pengujian
tarik ini adalah dengan memasang specimen pada mesin uji tarik kemudian
diberikan beban (load) ataupun (force) yang nilainya bertambah mengikuti
perubahan fungsi waktunya hingga specimen mengalami fracture (patah). Selama
peregangan load cell merekam pertambahan load

yang diberikan sementara

extensometer mengukur perpanjangan (elongation) yang terjadi pada sampel.


Kemudian data-data tersebut dikonversikan dalam bentuk grafik tengan-regangan.
Dari grafik tersebut kita dapat menganalisis:
1.) Mechanical properties suatu material
2.) Karakteristik patahan pada material.

Berdasarkan kurva di bawah dapat diketahui bahwa tegangan di suatu titik


pada kurva dapat ditentukan melalui perbandingan beban maksimum yang terjadi
pada titik tersebut dengn luas penanampang awal.

Bentuk dan besaran pada kurva tegangan-regangan suatu logam tergantung


pada komposisi, perlakuan panas, deformasi plastik yang pernah dialami, laju
regangan, suhu, dan keadaan tegangan yang menentukan selama pengujian.
Parameter-parameter yang digunakan untuk menggambarkan kurva teganganreganga logam adalah kekuatan tarik, kekuatan luluh, atau titik luluh, persen
perpanjangan, dan pengurangan luas.
1. Sifat Mekanik Material
Sifat mekanik suatu material mencerminkan hubungan antara beban atau gaya
yang diberikan terhadap respons atau deformasinya. Berikut adalah bentuk beban:

Statis: beban yang berubah secara lambat terhadap waktu dan diberikan
secara seragam di seluruh penampang. Contoh: tension, compress, shear,
torque,bending.

Impak: beban yang diberikan secara mendadak.

Dinamis: beban yang berfluktuasi terhadap fungsi waktu.

a.) Batas Proporsionalitas (Proportionality Limit)


Daerah batas dimana tegangan dan regangan mempunyai hubungan
proporsionalitas satu dengan lainnya. Tiap penambahan tegangan akan diikuti
dengan penambahan regangan dalam hubungan linear yang mengikuti Hukum
Hooke = E dengan E adalah konstanta proporsionalitas yang disebut modulus
elasticity (merupakan gradient kemiringan dari grafik tegangan-regangan). Pada
grafik tegangan-regangan (Gambar 2.1) melalui persamaan tersebut menghasilkan
plot sumbu ordinate dan abscissa yang linear.
b.) Batas Elastis (Elastic Limit)
Merupakan daerah dimana material mengalami deformasi elastis. Deformasi
elastis terjadi di awal pembebanan ketika load yang diberikan masih sangat
rendah sehingga tegangan dan regangan berbanding lurus. Dengan kata lain
deformasi elastis adalah dimana material akan kembali ke bentuk atau panjang
semula bila load dihilangkan. Namun jika material terus diberikan tegangan dan
mengalami deformasi maka batas elastis tersebut akan terlampaui hingga
memasuki region plastis. Batas elastis dapat didefinisikan sebagai titik dimana
tegangan yang diberikan akan menyebabkan terjadinya deformasi plastis untuk
pertama kalinya. Kebanyakan material memiliki batas elastis yang berimpitan
dengan batas proporsionalitasnya.
c.) Titik Luluh (Yield Point) dan Kekuatan Luluh (Yield Strength)
Pada titik ini material akan terus mengalami deformasi tanpa adanya
penambahan beban tegangan. Kekuatan luluh (yield strength) merupakan
gambaran kemampuan bahan menahan deformasi permanen bila digunakan dalam
penggunaan strukturalyang melibatkan pembebanan mekanik seperti tarik,
tekanan bending atau puntiran, atau tegangan yang dibutuhkan untuk
menghasilkan sejumlah kecil deformasi plastis yang ditetapkan. Dapat
disimpulkan bahwa titik luluh suatu tingkat tegangan merupakan titik yang tidak
boleh dilewati dalam penggunaan struktural dan harus dilewati dalam proses
manufaktur produk logam.

d.) Kekuatan Tarik Maksimum (Ultimate Tensile Strength)


Merupakan tegangan maksimum yang mampu ditanggung sebuah material
sebelum terjadi patahan (fracture). Dalam penggunaan structural maupun
manufaktur produk, kekuatan maksimum adalah batas tegangan yang sama sekali
tidak boleh dilewati.
e.) Kekuatan Putus (Breaking Strength)
Kekuatan putus dapat ditentukan dengan membagi beban pada saat benda uji
putus (Ffracture)dengan luas penampang awal (Ao). Untuk patahan yang bersifat
ductile pada saat beban maksimum terlampaui dan material terus mengalami
deformasi maka terjadi mekanisme necking sebagai akibat deformasi yang
terlokalisasi. Pada bahan ulet kekuatan putus adalah lebih kecil daripada kekuatan
maksimum sementara pada bahan getas kekuatan putus adalah sama dengan
kekuatan maksimumnya.
f.) Keuletan (Ductility)
Merupakan sifat dimana logam mampu menahan deformasi hinga terjadinya
perpatahan. Tujuan dalam mengetahui sifat ini salah satunya adalah sebagai
petunjuk umum bagi suatu material (logam) untuk mengalami deformasi secara
plastis sebelum terjadi fracture. Pengujian tarik memberikan dua metode
pengukuran keuletan bahan, yaitu:

Persentase perpanjangan (elongation):

Dengan mengukur penambahan panjang ukur setelah perpatahan terhadap panjang


awalnya.
( )
Dimana

: Lf = Panjangan akhir
Lo= panjang awal specimen.

Persentase pengurangan penampang (Area Reduction):

Dengan pengurangan luas penampang setelah perpatahan terhadap luas


penampang awalnya
( )
Dimana

: Af= Luas penampang akhir


Ao= luas penampang awal.

g.) Modulus Elastisitas


Merupakan ukuran kekuatan suatu material. Semakin besar nilai modulus ini
maka semakin kecil regangan elastis yang terjadi, atau dapat dikatakan material
tersebut semakin stiff (kaku). Modulus elastisitas dapat dihitung berdasarkan
kemiringan slope garis elastis linear pada grafi tegangan-regangan berdasarkan
persamaan:

Modulus elastisitas suatu material ditentukan oleh enegi ikat antar atom-atom,
sehinggabesarnya nilai modulus ini tidak dapat diubah oleh suatu proses tanpa
merubah struktur bahan.
h.) Modulus Kelentingan (Resilience)
Merupakan kemampuan suatu material untuk menyerap energi tanpa terjadinya
kerusakan (failure). Nilai modulus ini dapat diperoleh melalui luas segitiga yang
dibentuk oleh region elastis pada grafik tegangan-regangan.
i.) Modulus Ketangguhan (Toughness)
Merupakan kemampuan material untuk menyerap energy hingga terjadinya
fracture. Dalam pertimbangan desain hal ini penting untuk komponen yang
mungkin mengalami pembebanan berlebih (overload) secara tidak sengaja.
Meskipun material dengan nilai modulus ketangguhan yang tinggi akan
mengalami distorsi yang besar karena overload, hal ini lebih baik disbanding
material dengan modulus rendah dimana fracture terjadi tanpa ada peringatan
terlebih dahulu.

j.) Kurva tegangan rekayasa dan sesungguhnya (Engineering stress &True


stress)
Kurva untuk engineering stress-strain didasarkan pada dimensi awal (Ao dan Lo)
benda uji; sementara pada kurva true stress-strain didapatkan dengan mengetahui
luas area (A) dan panjang (L) actual pada tiap pembebanan yang terukur.
Perbedaan kedua kurva untuk regangan yang relative kecil tidak terlalu besar,
namun menjadi signifikan ketika yield point terlampaui.
2. Karakteristik Patahan
Sampel hasil pengujian tarik dapat menunjukkan beberapa tampilan patahan
seperti di bawah ini:

Berdasarkan karakteristik patahan pada suatu material maka dapat dikategorikan


ke dalam dua bagian:

Perpatahan Ulet (ductile)


Terdapat beberapa tahapan terjadi perpatahan ulet pada sampel uji tarik:
1. Penyempitan awal
2. Pembentukan rongga-rongga kecil (cavity)
3. Penyatuan rongga cavity membentuk suatu retakan
4. Perambatan retakan
5. Perpatahan gesek akhir terjadi pada sudut 45

Perpatahan Getas (Brittle)


Perpatahan getas memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Tidak ada atau sedikit sekali deformasi plastis yang terjadi pada
material.
2. Retah/patahan merambat sepanjang bidang kristalin dan membelah
atom-atom material (transgranular).
3. Pada material lunak berbutir kasar (coarse-grain) pola yang terbentuk
adalah fan-like pattern ke arah luar dari daerah failure.
4. Material keras berbutir halus (fine-grain) tidak memiliki pola-pola
yang mudah dibedakan.
5. Material amorphous (contoh: gelas) memiliki permukaan patahan yang
mengilap dan mulus.

III.

METODOLOGI PENELITIAN

1. Alat dan Bahan


1. Universal testing machine kapasitas 30 ton.
2. Caliperdan/ataumicrometer
3. Spidol permanen atau cutter
4. Stereoscan macroscope
5. Sampel uji tarik.
2. Prosedur Pengujian
1. Mengujur dimensi (rata-rata) dari benda uji: panjang awal (Lo) dan
diameter awal (do) dengan micrometer.
2. Menandai panjang ukur (jarak antara dua titik pada benda uji) dengan
spidol atau cutter.
3. Memasang benda uji pada grip mesin uji dan memberikan beban yang
telah ditentukan.
4. Memulai penarikan. Mengamati tampilan grafik beban-perpanjangan
pada recorder hingga terjadinya beban maksimum dilanjutkan dengan
necking kemudian fracture.
5. Menandai grafik beban-perpanjangan titik-titik terjadinya beban
maksimum dan fracture.
6. Mengukur panjang akhir (Lf) dan diameter akhir (df)pada bagian benda
uji

yang mengalami

necking kemudian mencatat data hasil

pengukuran.
7. Mengamati karakteristik patahan dengan stereoscan macroscope
kemudian membuat sketsa tampak samping dan fraktografi benda uji.
8. Melakukan prosedur yang sama pada material uji yang lainnya.
9. Menghitung nilai: titik luluh, kekuatan tarik maksimum, presentase
elongasi, presentase pengurangan area, modulus elastisitas berdasarkan
grafik beban-perpanjangan tiap logam uji.

IV.

PENGOLAHAN DATA

1. Data Percobaan

Tabel Hasil Percobaan


Benda Uji

Aluminium (Al)

Besi (Fe)

Awal, do (mm)

9.9

9.9

Akhir, di (mm)

8.8

6.4

Awal, Ao (mm2)

76.98

76.98

Akhir, Ai (mm2)

60.82

32.17

Awal, Lo (mm)

50

50

Akhir, Li (mm)

53.3

61.9

Diameter Benda Uji

Luas Area

Panjang Ukur

Foto Speciment

2. Contoh Perhitungan

Alumunium (Al)

Ao

76.98 mm2

Af

60.82 mm2

Lo

50 mm

Lf

53.3 mm

UTS

2127/76.98*9.81 = 271.05 N/mm2

% elongasi (sampel)

( Lf - Lo)/ Lo x 100%

6.6 %

(Ao Af )/Ao x 100%

20.99 %

(271.05.106-0) / (0.07-0) = 3.8 GPa

Ao

76.98 mm2

Af

32.17 mm2

Lo

50 mm

Lf

61.9 mm

UTS

3682/70.88*9.81= 509.6 N/mm2

% elongasi (sampel)

( Lf - Lo)/ Lo x 100%

23.8 %

(Ao Af )/Ao x 100%

58.21 %

(509.6.106-0) / (0.238-0) = 2.14 GPa

% reduksi
Modulus Elastisitas

Baja (Fe)

% reduksi
Modulus elastisitas

3. Grafik

Grafik Beban vs. Elongasi (P vs. dL)

Grafik Engineering Stress Strain

500
450
400
350
300
250

Fe

200

Al

150
100
50
0
0

0.1

0.2

0.3

0.4

0.5

Grafik True Stres Strain

1200

1000

800

600
Fe
Al

400

200

0
0

0.05

0.1

0.15

0.2

0.25

0.3

0.35

0.4

V.

Pembahasan
1. Prinsip pengujian
Sampel uji tarik dengan ukuran dan bentuk tertentu ditarik mesin
pengujian tarik (GOTECH AI-7000 LA 10) dengan beban kontinu sambil
diukur pertambahan panjangnya. Data yang didapat berupa perubahan panjang
dan perubahan beban yang diberikan selanjutnya ditampilkan dalam bentuk
grafik tegangan-regangan.
Beberapa sifat mekanik yang diharapkan dari pengujian tarik ini adalah:
a. Batas Proporsionalitas (Proportionality Limit)
Merupakan daerah batas dimana tegangan (stress) dan regangan (strain)
mempunyai

hubungan

proporsionalitas

satu

dengan

lainnya.

Setiap

penambahan tegangan akan diikuti dengan penambahan regangan secara


proporsional dalam hubungan linier. Bandingkan dengan hubungan y = mx;
dimana y mewakili regangan dan m mewakili slope kemiringan dari modulus
kekakuan). Dalam pengujian didapatkan :
= 2800 kgf

; untuk baja

= 1900 kgf

; untuk alumunium

b. Batas Elastis (Elastic Limit)


Daerah elastis adalah daerah dimana bahan akan kembali kepada panjang
semula bila tegangan luar dihilangkan. Daerah proporsionalitas merupakan
bagian dari batas elastik ini. Selanjutnya bila bahan terus diberikan tegangan
(deformasi dari luar) maka batas elastis akan terlampaui pada akhirnya,
sehingga bahan tidak akan kembali kepada ukuran semula. Dengan kata lain
dapat didefinisikan bahwa batas elastis merupakan suatu titik dimana tegangan
yang diberikan akan menyebabkan terjadinya deformasi permanen (plastis)
pertama kalinya. Kebanyakan material teknik memiliki batas elastis yang
hampir berhimpitan dengan batas proporsionalitasnya.

c. Titik luluh (yield point) dan kekuatan luluh (yield strength)


Titik ini merupakan suatu batas dimana material akan terus mengalami
deformasi tanpa adanya penambahan beban tegangan (stress) yang
mengakibatkan bahan menunjukkan mekanisme luluh ini disebut tegangan
luluh (yield stress).
Gejala luluh umumnya hanya ditunjukkan oleh logam-logam ulet dengan
struktur kristal BCC dan FCC yang membentuk intertitial solid solution dari
atom-atom karbon, boron, hidrogen dan oksigen. Interaksi antara dislokasi dan
atom-atom tersebut menyebabkan baja ulet seperti mild steel menunjukkan
titik luluh bawah (lower yield point) dan titik luluh atas (upper yield point).
Baja berkekuatan tinggi dan besi tuang yang getas umumnya tidak
memperlihatkan batas luluh yang jelas. Untuk menentukan kekuatan luluh
material seperti ini maka digunakan suatu metode yang dikenal sebagai
metode offset. Dalam pengujian didapatkan titik luluh untuk tiap-tiap bahan
yang diuji :
Fe = 2771 kgf
Al = 2127 kgf
Kekuatan luluh atau titik luluh merupakan suatu gambaran kemampuan
bahan menahan deformasi permanen bila digunakan dalam penggunaan
struktural yang melibatkan pembebanan mekanik seperti tarik, tekan, bending
atau puntiran. Disisi lain, batas luluh ini harus dicapai ataupun dilewati bila
bahan (logam) dipakai dalam proses manufaktur produk-produk logam seperti
proses rolling, stretching dan sebagainya. Dapat dikatakan bahwa titik luluh
adalah suatu tingkat tegangan yang:

Tidak boleh dilewati dalam penggunaan struktural (in service).

Harus dilewati dalam proses manufaktur logam (forming process).

d. Kekuatan Tarik Maksimum (Ultimate Tensile Strength)


Merupakan tegangan maksimum yang dapat ditanggung oleh material
sebelum terjadinya perpatahan (fracture). Nilai kekuatan tarik maksimum
ditentukan dari beban maksimum Fmaks dibagi luas penampang awal A0.

Pada bahan ulet tegangan maksimum ini ditunjukkan oleh titik M dan
selanjutnya bahan akan terus terdeformasi hingga titik B. Bahan bersifat yang
bersifat getas memberikan perilaku yang berbeda dimana tegangan maksimum
sekaligus tegangan perpatahan. Dalam kaitannya dengan penggunaan
struktural maupun dalam proses forming bahan, kekuatan maksimum adalah
batas tegangan yang sama sekali tidak boleh dilewati. Dalam pengujian
didapatkan bahwa :
UTS untuk tiap-tiap bahan yang diuji :
Fe = 509.6 N/mm2
Al = 271.05 N/mm2
Dari data diperoleh nilai UTS Baja > Alumunium, sehingga dapat
ditarik kesimpulan bahwa nilai kekerasan Baja > Alumunium.
e. Kekuatan Putus (Breaking Strength)
Kekuatan putus ditentukan dengan membagi beban pada saat benda uji
putus (Fbreaks) dengan luas penampang awal A0. Untuk bahan yang bersifat ulet
pada saat beban maksimum M terlampaui dan bahan terus terdeformasi hingga
titik putus B maka terjadi mekanisme penciutan (necking) sebagai akibat
adanya suatu deformasi yang terlokalisasi. Pada bahan ulet kekuatan putus
adalah lebih kecil daripada kekuatan maksimum sementara pada bahan getas
kekuatan putus adalah sama dengan kekuatan maksimumnya.

Keuletan (Ductility)
Keuletan merupakan suatu sifat yang menggambarkan kemampuan logam
menahan deformasi hingga terjadinya perpatahan. Sifat ini, dalam beberapa
tingkatan, harus dimiliki oleh bahan bila ingin dibentuk (forming) melalui
proses rolling, bending, stretching, drawing, hammering, cutting dan
sebagainya. Pengujian tarik memberikan dua metode pengukuran keuletan
bahan yaitu :
o

Persentase perpanjangan (elongation)

Diukur sebagai penambahan panjang ukur setelah perpatahan terhadap


panjang awalnya, L0.
(Lf L0)/ L0*100%

Dimana Lf adalah panjang akhir.

Elongasi sampel untuk masing-masing bahan :

Elongasi grafik untuk masing-masing bahan :


f. Modulus Elastisitas ( E )
Modulus elastisitas atau modulus Young merupakan ukuran kekakuan
suatu material. Semakin besar harga modulus ini maka semakin kecil regangan
elastis yang terjadi pada suatu tingkat pembebanan tertentu atau dapat
dikatakan material tersebut semakin kaku (stiff). Pada grafik teganganregangan modulus kekakuan tersebut dapat dihitung dari slope kemiringan
garis elastis linier, diberikan oleh :
E = atau E = tan

dimana adalah sudut yang dibentuk oleh daerah elastis kurva teganganregangan. Modulus elastis suatu material ditentukan oleh energi ikat antar
atom-atom, sehingga besarnya nilai modulus ini tidak dapat dirubah oleh suatu
proses tanpa merubah struktur bahan. Dalam pengujian ini didapatkan:
Modulus Elastisitas untuk masing-masing bahan :
Al = 3.8 GPa

Fe = 2.14 GPa

Modulus Elastisitas
Modulus Elastisitas merupakan

ukuran kekakuan suatu material.

Makin besar modulus, makin kecil regangan yang dihasilkan yang dihasilkan
akibat pemberian tegangan sehingga duktilitasnya pun semakin berkurang. Hal
ini dapat dilihat dari kurva stress- strain untuk material Brittle Vs material
ductile dibawah ini :
Dari grafik terlihat bahwa daerah regangan material ductile lebih besar
daripada daerah regangan material brittle. Dari data yang kami peroleh dari
percobaan diperoleh bahwa Modulus Elastisitas Baja > Aluminium,
sehingga dari analisis diatas, kami mengambil kesimpulan bahwa Keuletan
baja < Alumunium.
2. Analisa Grafik
Ketiga grafik, P vs dl, vs , T vs T, menunjukkan grafik yang
nyaris sama. Hanya saja grafik masing-masing bahan yang diuji berbeda.
Kurva dari baja lebih tinggi dari kurva alumunium. Dari kemiringan (Slope)
masing-masing grafik yang menunjukkan daerah proporsional atau daerah
elastik dapat dilihat bahwa baja lebih curam dan alumunium. Dari kemiringan
ini, dapat diketahui masing-masing modulus youngnya. Telah diketahui dari
percobaan bahwa Ebaja > Ealumunium hal ini menunjukkan bahwa baja
mempunyai ductilitas yang lebih baik daripada aluminium. Keuletan suatu
bahan juga dapat dilihat dari Elongasinya dan reduksi luas permukaan bahan
Point-point yang ada pada garfik, yaitu Yield point, UTS, dan
Breaking point menunjukkan ketangguhan masing-masing bahan. Dari garfik
dapat dilihat bahwa baja lebih tangguh dari alumunium. Untuk bahan yang
mempunyai duktilitas tinggi biasanya sulit untuk menentukan yield point-nya.
Sehingga diambil kesepakatan yield point berada pada daerah 0,2 %
pertambahan panjang.

3. Analisa Hasil Perpatahan


Ada dua jenis perpatahan: perpatahan ulet (ductile fracture) dan perpatahan
rapuh (brittle fracture). Perbedaan utamanya adalah perpatahan ulet terjadi
diiringi dengan deformasi plastis, sedangkan perpatahan rapuh tidak. Berikut
gambar yang memperlihatkan mekanisme perpatahan ulet :
a. Necking, yaitu suatu proses penurunan secara local diameter bahan yang
dinamakan penyempitan. Hal ini terjadi karena kenaikan kekuatan yang
disebabkan oleh pengerasan regangan yang akan berkurang, untuk
mengimbanginya

penurunan

permukaan

penampang

melintang.

Pembentukan penyempitan menimbulkan keadaan tegangan triaksial


pada daerah yang bersangkutan.
b. Cavity formation, yaitu terbentuknya rongga-rongga kecil pada daerah
necking akibat komponen hidrostatik terjadi disekitar sumbu benda uji
pada pusat daerah necking.
c. Cavity coalascene to form a crack, yaitu terbentuknya retakan pusat
akibat peregangaan yang berlangsung terus.
d. Crack propagation, yaitu berkembang retakan pada arah tegak lurus
sumbu benda uji, hingga mencapai permukaan benda uji tersebut.
Kemudian merambat disekitar bidang geser-geser local, kira-kira berarah
45 terhadap sumbu kerucut patahan yang terbentuk.
e. Fracture, yaitu terjadi perpatahan campuran akibat peregangan terus
menerus.

Pada pengujian dengan specimen material Fe dan Al, Semua benda yang diuji
cenderung mengalami perpatahanan ulet (ductile). Mekanisme necking hingga
fracture pun dapat dilihat di kedua specimen, namun nilai keuletan dari
material Fe lebih tinggi disbanding Al. Perbedaannya dapat dilihat dari fisik
specimen setelah diuji, pada material Fe penambahan panjang terjadi lebih
banyak dibanding Al, fenomena necking atau penyempitan area pada material
Fe terjadi lebih banyak dibanding Al, dilihat dari grafik pun material Fe lebih
ulet disbanding Al.

VI. Kesimpulan
Dari kedua material yang telah diuji, yaitu Baja dan alumunium.
Diperoleh nilai kekuatan tarik terbesar adalah Baja kemudian alumunium.
Dari grafik P vs dl didapatkan bahwa material Baja dan Alumunium adalah
material yang cenderung ductil, hal ini dilihat dari cepatnya Baja patah ketika
sudah mencapai Ultimate Strength yang memang sangat besar tetapi memiliki
daerah kurva yang panjang sebelum mendapatkan beban maksimum (UTS),
namun apabila diurutkan dari yang nilai keuletannya lebih tinggi ke rendah,
baja (Fe) lebih tinggi dibanding Alumunium (Al).