Anda di halaman 1dari 11

madrasah dalam perspektif masyarakat menengah atas (studi tentang parental choice of education

di min malang i)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Madrasah merupakan salah satu bentuk kelembagaan pendidikan Islam
yang memiliki sejarah yang sangat panjang. Menurut Syalabi (1987: 43)
madrasah pertama kali dirikan pada tahun 459 H oleh Nizam al-Mulk di
Baghdad, bahkan menurut Hasan Abd Al (1988; 210) madrasah telah lebih
awal berdiri pada abad keempat Hijriyah di Naisabur. Munculnya pendidikan
madrasah pada awalnya selain dilatarbelakangi oleh motivasi agama dan
motivasi ekonomi, juga motivasi politik. Sebab itu kelembagaan madrasah
merupakan formalisasi yang dilakukan pemerintah terhadap sistem pendidikan
informil yang telah ada sebelumnya, sisi lain ialah adanya ketentuan-ketentuan
yang lebih jelas yang berkaitan dengan komponen-komponen pendidikan dan
keterlibatan pemerintah dalam pengelolaan madrasah. Dengan demikian
keberadaan madrasah pada waktu itu merupakan tonggak baru dalam
penyelenggaraan pendidikan Islam yang banyak memberikan kontribusi
terhadap perkembangan dunia pendidikan pada masa-masa berikutnya,
termasuk perkembangan pendidikan di dunia Barat. Abd Ghani Abud (dalam
Maksum, 1999: 75) mengatakan pendirian universitas-universitas di Barat
adalah sebagai hasil inspirasi dan pengaruh madrasah (Nidzamiyah). George
Makdisi (dalam Studia Islamica 32: 1970: 255-264) juga membuktikan, bahwa

tradisi akademik Barat secara historis mengambil banyak keuntungan dari


tradisi madrasah.
Di Indonesia, madrasah merupakan fenomena moderen yang dimulai sekitar
awal abad ke-20. Tidak ada kejelasan hubungan madrasah abad ke 11-12 di
timur tengah dengan munculnya madrasah di Indonesia pada awal abad ke-20.
Sejarah pertumbuhan madrasah di Indonesia, jika dikembalikan pada situasi
awal abad ke-20, dianggap sebagai memiliki latar belakang sejarahnya sendiri,
walaupun sangat dimungkinkan ia merupakan konsekuensi dari pengaruh
intensif pembaharuan pendidikan Islam di timur tengah masa moderen. Hal
tersebut seperti ditegaskan IP Simanjuntak (1972/1973: 24) bahwa masuknya
agama Islam tidak mengubah hakekat pengajaran agama yang formil, yang
berubah ialah isi agama yang dipelajari, bahasa yang menjadi wahana bagi
pelajaran agama itu, serta latar belakang pelajar-pelajar, jadi masih tetap
menganut pola hindu. Sejalan dengan itu penelitian Karel Steenbrink (1994)
mengindikasikan bahwa pendidikan Islam berevolusi dari pesantren, madrasah
dan kemudian sekolah, sebab itu madrasah di Indonesia dianggap sebagai
perkembangan lanjut atau pembaharuan dari lembaga pendidikan pesantren
dan surau. Contoh Skripsi

Di

sisi

lain,

perkembangan

madrasah

pada

awalnya

berusaha

menjembatani antara sistem pendidikan pesantren yang dianggap tradisional


dengan sistem pendidikan kolonial yang moderen, secara sederhana dapat
dikatakan bahwa madrasah dalam batas-batas tertentu merupakan lembaga
persekolahan ala Belanda yang diberi muatan keagamaan. Namun pada
prakteknya posisi madrasah masih kontra produksi dengan sistem pendidikan
yang dikembangkan penjajah, terutama jika dilihat dari kurikulumnya yang

masih dimonopoli oleh ulum al-naqliyah (Islamic science). Penjajah sendiri


menganggap bahwa tradisi pendidikan Islam waktu itu dipandang memiliki
kebiasaan-kebiasaan yang jelek, baik dari sudut kelembagaan, kurikulum
maupun metode pengajarannya (Steenbrink, 1974: 2). Sebab itu, dan karena
kepentingan-kepentingan politik kolonial untuk mendiskriditkan kekuatan Islam,
maka posisi madrasah selalu termarginalkan. Muncul kemudian dikotomi
pendidikan, antara sistem pendidikan barat yang moderen dengan sistem
pendidikan Islam yang kolot dan tradisional. Pendidikan Islam dicirikan sekolah
anak petani miskin, bahkan alumninya hampir tertutup mengakses ke jabatan
birokrasi. Dikotomi tersebut pada akhirnya menjadi kesan (image) masyarakat
luas

yang

berdampak

kurang

baik

bagi

perkembangan

madrasah

selanjutnya.Contoh Skripsi
Melalui perjuangan yang cukup panjang, madrasah telah berhasil
mendapatkan statusnya seperti sekarang ini. Perjuagan itu diawali dengan
terbitnya Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri, yakni Menteri Agama,
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, serta Menteri Dalam Negeri tahun 1975
yang menegaskan bahwa kedudukan madrasah adalah sama dan sejajar
dengan sekolah formal lain. Kebijakan tersebut selanjutnya diperkuat dengan
lahirnya

kebijakan

Undang-undang

tentang

Sistem

Pendidikan

Nasional

(UUSPN) Nomor 2 tahun 1989. Dalam UUSPN tersebut secara tegas disebutkan
bahwa madrasah adalah sekolah umum yang berciri khas agama Islam.
Dari kenyataan di atas sebenarnya secara yuridis tidak relevan lagi
diperdebatkan

permasalahan-permasalahan

dikotomi,

karena

keduanya

mempunyai status yang sama. Bahkan sebenarnya secara politis, pada saat
sekarang ini madrasah mempunyai peluang besar untuk berkembang dengan
pesat, karena para elit pemerintahan sekarang sebagain besar muslim (santri)

sehingga memungkinkan untuk men-support perkembangan madrasah.Contoh


Skripsi
Meski demikian, menurut Dahlan Hasim (dalam Fadjar, 1998: ix)
madrasah oleh sebagian masyarakat masih dipandang sebelah mata dan
dianggap sebagai lembaga pendidikan kelas dua. Akibatnya, meskipun
secara yuridis keberadaan madrasah diakui sejajar dengan sekolah formal lain,
madrasah umumnya hanya diminati oleh siswa-siswa yang kemampuan
inteligensi dan ekonominya relatif rendah atau pas-pasan. Sementara
masyarakat menengah atas sepertinya enggan menyekolahkan anaknya ke
lembaga ini, sehingga usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan madrasah
selalu mengalami hambatan. Contoh Skripsi
Rendahnya animo masyarakat menengah atas (upper midle class) untuk
menyekolahkan anaknya ke madrasah, dilihat dari perspektif fungsional
sebuah teori yang berpandangan bahwa masyarakat merupakan kesatuan
sistem yang saling bergantung dan berhubunganmengindikasikan dua hal
yang

saling

berkorelasi;

pertama,

terkait

dengan

problem

internal

kelembagaan., dan kedua, terkait dengan parental choice of education. Contoh


Skripsi
Problem internal madrasah yang selama ini dirasakan, seperti dikatakan
Malik Fadjar (1998: 41) meliputi seluruh sistem kependidikannya, terutama
sistem manajemen dan etos kerja madrasah, kualitas dan kuantitas guru,
kurikulum, dan sarana fisik dan fasilitasnya. Sementara itu dalam Jurnal
Madrasah (Vol.3, No.2,1999: 5) menyebutkan bahwa posisi madrasah bagaikan
kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau. Demikian itu, seperti yang
dipaparkan Imam Suprayogo, karena posisi madrasah berada dalam lingkaran
setan, sebuah problem yang bersifat causal relationship; dari problem dana

yang kurang memadai, fasilitas kurang, pendidikan apa adanya, kualitas


rendah, semangat mundur, inovasi rendah, dan peminat kurang, demikian
seterusnya berputar bagai lingkaran setan. Demikianlah gambaran para
pengamat disekitar kompleksitas persoalan pendidikan di dunia madrasah
dewasa ini.Contoh Skripsi
Di sisi lain, kaitannya dengan parental choice of education, menurut A.
Malik Fadjar (1999: 76) bahwa dalam masyarakat akhir-akhir ini terjadi adanya
pergeseran

pandangan

terhadap

pendidikan

seiring

dengan

tuntutan

masyarakat (social demand) yang berkembang dalam skala yang lebih makro.
Menurutnya, kini, masyarakat melihat pendidikan tidak lagi dipandang hanya
sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan terhadap perolehan pengetahuan dan
ketrampilan dalam konteks waktu sekarang. Lebih dari itu, pendidikan
dipandang sebagai bentuk investasi, baik modal maupun manusia (human and
capital

investmen)

untuk

membantu

meningkatkan

ketrampilan

dan

pengetahuan sekaligus mempunyai kemampuan produktif di masa depan yang


diukur dari tingkat penghasilan yang diperolehnya (Ace Suryadi, H.A.R. Tilaar,
1993)
Masyarakat yang semakin selektif dalam memilih lembaga pendidikan
dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi, merupakan akibat
dari rangkaian perubahan yang terjadi dalam skala makro. Artinya, perubahan
yang terjadi di dalam masyarakat dalam bidang yang lain mempengaruhi pula
pandangan dan pilihan masyarakat terhadap pendidikan. Inilah yang pada awal
tadi disebut masyarakat sebagai kesatuan sistem.
Dalam kajian sosiologis digambarkan, bahwa perubahan tersebut bersifat
universal (universal change) yang meliputi berbagai aspek kehidupan manusia
yang berjalan secara revolutif, seperti terjadinya revolusi dibidang teknologi,

komunikasi,

pendidikan

dan

media

massa

(M.Francis

Abraham,

1980).

Terjadinya revolusi ini secara sistematis berpengaruh terhadap ide, norma,


perilaku, hubungan sosial dan kelembagaan dalam masyarakat dengan corak
dan cirinya yang lebih baru. Contoh Skripsi
Ahmad

watik

Pratiknya

(dalam

Fadjar,

1999:

77)

lebih

jelas

menggambarkan corak dan ciri-ciri masyarakat yang akan berkembang di


masa

sekarang

dan

masa

yang

akan

adatang.

Pertama,

terjadinya

teknologisasi kehidupan sebagai akibat adanya loncatan revolusi di bidang ilmu


pengetahuan dan teknologi. Kedua, kecenderungan perilaku masyarakat yang
lebih fungsional, dimana hubungan sosial hanya dilihat dari sudut kegunaan
dan kepentingan semata, ketiga, masyarakat padat informasi, dan keempat,
kehidupan

yang

makin

sistemik

dan

terbuka,

yakni

masyarakat

yang

sepenuhnya berjalan dan diatur oleh sistem yang terbuka (open system).
Sesuai dengan ciri masyarakat tersebut, maka pendidikan yang akan
dipilih

oleh

masyarakat

adalah

pendidikan

yang

dapat

memberikan

kemampuan secara teknologis, fungsional, individual, informatif dan terbuka.


Dan yang lebih penting lagi, kemampuan secara etik dan moral yang dapat
dikembangkan melalui agama.
Dari problem internal kelembagaan madrasah seperti dijelaskan di atas,
dikaitkan dengan parental choice of education, dimana masyarakat semakin
kritis, prakmatis, terbuka dan berpikir jauh ke depan dalam melakukan pilihan
pendidikan bagi anak-anaknya, maka sudah barang tentu pendidikan madrasah
akan tetap berada pada posisinya sebagai lembaga pendidikan kelas dua,
marginal yang hanya diminati masyarakat bawah dan tidak atau kurang
dilirik oleh masyarakat menengah atas (upper midle class).Contoh Skripsi
Tetapi, seperti yang diinformasikan Malik Fadjar (1998:36) bahwa

terdapat beberapa lembaga pendidikan madrasah yang ternyata dapat


bersaing

dengan

lembaga

pendidikan

maju

lainnya,

bahkan

beberapa

madrasah menunjukkan banyak dikonsumsi oleh masyarakat elit. Menurut


berita sebuah media massa, di Jawa timur dikabarkan ada beberapa madrasah
favorit terpaksa harus menolak calon muridnya karena kapasitas yang terbatas
(Jawa Post, 23 Juni 1994). Bahkan di Malang sendiri, seperti sering diberitakan
oleh media massa dan diungkap oleh para pengamat, terdapat lembaga
madrasah yaitu MIN Malang I yang menjadi favorit bagi masyarakat Malang.
Dari data yang ada menunjukkan bahwa lembaga tersebut banyak dikonsumsi
oleh masyarakat menengah atas.
Berdasarkan penuturan kepala sekolah MIN Malang I Ibu Hj. Surtiah, jumlah
pendaftar tahun ajaran 2001/2002 sebanyak 757 orang. Imron Arifin (1998)
dalam penelitiannya tentang MIN Malang I menyebutkan bahwa jumlah
pendaftar setiap tahunnya yang ingin memasukkan anaknya ke MIN Malang I
lebih dari 600 pendaftar, sementara kapasitas dan daya tampungnya sekitar
240 orang siswa. Dilihat dari latar belakang pekerjaan dan pendidikan orang
tua siswa terdapat; Pegawai Negeri Sipil 600 orang (52,4%), Wiraswasta 450
orang (39,3%), ABRI 50 orang (4,36%), Dokter 25 orang (2,18%), lain-lain 20
orang (1,74%). Sebanyak 795 orang (69,43%) berpendidkan Perguruan Tinggi,
275 (24,01%) SLTA, 55 orang (4,8%) SLTP, 20 orang (1,74%) SD.
Dari fenomena yang digambarkan di atas, menarik untuk dikaji dan diadakan
penelitian (research), kenyataannya terdapat (sebagian besar) madrasah
masih berada pada posisi marginal atau yang disebut pendidikan kelas dua
tetapi di sisi lain terdapat pula (sebagian kecil) madrasah yang ternyata
banyak diminati dan menjadi pilihan utama bagi masyarakat atas, salah
satunya adalah MIN Malang I. Dari sini muncul permasalahan mengapa sekolah

atau madrasah-madrasah tertentu diminati masyarakat menengah atas


sementara

yang

lainnya

tidak

dan

bagaimana

pula

pertimbangan-

pertimbangan orang tua--kaitannya dengan parental choice of education-melakukan

pilihan

terhadap

lembaga-lembaga

pendidikan

tertentu

Signifikansi dari jawaban terhadap persoalan tersebut adalah berusaha


memahami secara komprehensif dan integral melalui kegiatan riset dan
evaluasi, seperti ditekankan oleh A.Malik Fadjar (1998), yang pertama, yaitu
secara

makro

memahami

pergeseran

kebutuhan

masyarakat

terhadap

pendidikan dengan cara memahami alasan (reason) orang tua dalam


melakukan pilihan pendidikan terhadap anaknya (parental choice of education),
dan kedua, secara mikro memahami kondisi internal kelembagaan madrasah
dalam merespon kecenderungan-kecenderungan kebutuhan, tuntutan, dan
harapan masyarakat.
Beberapa penelitian yang telah dilakukan, terutama di MIN Malang I,
menunjukkan

bahwa

alasan

yang

mendasari

pilihan

masyarakat

menyekolahkan anaknya ke MIN Malang I, berdasarkan dari hasil angket yang


disebarkan tahun 1996, dapat diperoleh keterangan bahwa alasan orang tua
menyekolahkan anaknya secara berurutan adalah; (a) sitem pendidikan yang
mengkombinasikan mata pelajaran umum dan mata pelajaran keagamaan, (b)
disiplin tinggi dan dedikasi para guru cukup tinggi, (c) prestasi lulusannya
cukup tinggi, (d) tersedianya laboratorium cukup lengkap, (e) metode
pengajaranya cukup baik dan mudah diterima, (f) Sekolah Negeri, dan (g)
tempatnya bagus dan strategis (BP-3 MIN Malang I, tt; 5). Tidak jauh berbeda
dengan hasil penelitian Imran Arifin (Desertasi; 1988) yang menyebutkan
bahwa alasan orang tua menyekolahkan anaknya antara lain dipengaruhi oleh;
Letak geografis lembaga berada di tengah kota, gedungnya megah dan

lingkungan yang eksklusif, kurikulumnya adalah kurikulum pendidikan dasar


plus agama, terdapat praktikum dengan fasilitas laboratorium dan pengajar
yang profesional, prestasi akademik secara regional dan nasional tinggi, siswa
ditekankan

menguasai

bahasa

arab

dan

inggris,

gurunya

cakap,

berpengalaman, dan rata-rata berpendidikan S-1.


Dalam skala makro, menarik tesis yang dilontarkan oleh A. Malik fadjar (1998:
47) dari hasil pengamatannya, bahwa semakin terpelajar masyarakat semakin
banyak aspek yang menjadi pertimbangan masyarakat dalam melilih suatu
lembaga

pendidikan.

sederhana

Sebaliknya,

pertimbangannya

semakin

dalam

awam

memilih

masyarakat

lembaga

semakin

pendidikan

atau

barangkali, bahkan hanya sekadar menjadi makmum dengan kepercayaannya.


Menurutnya, ada tiga hal yang paling tidak menjadi pertimbangan masyarakat
terpelajar dalam memilih suatu lembaga pendidikan bagi anak-anak mereka,
yaitu cita-cita dan gambaran hidup masa depan, posisi dan status sosial, serta
agama. Dalam kaitan ini, jika madrasah atau lembaga pendidikan Islam lainnya
memenuhi ketiga kreteria di atas, maka akan semakin diminati oleh
masyarakat

terutama

masyarakat

terpelajar,

tetapi

sebaliknya,

banyak

lembaga pendidikan Islam yang akan semakin meminggir posisinya karena


tidak menjanjikan apa-apa.
Beberapa penelitian di atas, terutama dua penelitian terdahulu, dapat
dikatakan masih sederhana dan artifisial belum menjangkau hal-hal yang lebih
subtantif dan mendalam, penelitian pertama hanya berupa angket sehingga
pemahaman

yang

mendalam

(understanding

of

understanding)

belum

didapatkan sementara interpretasi data hanya didasarkan pada angka-angka


berdasarkan prosentasi. Adapun penelitian Imran Arifin, hanya membahas
sekilas saja kaitannya dengan alasan orang tua memilih MIN Malang I sebagai

tempat pendidikannya, sebab penelitian tersebut lebih menfokuskan pada


kepemimpinan kepala sekolahnya. Untuk tesis yang diajukan A.Malik Fajdar di
atas kiranya perlu dikaji lebih mendalam dengan melihat realitas yang
sesungguhnya ada di masyarakat.
Sementara itu jika dipahami lebih jauh, dari beberapa penelitian
terdahulu, alasan pemilihan lembaga pendidikan (parental choice of school),
disamping faktor-faktor di atas, sebenarnya masih banyak faktor-faktor lain
yang dipertimbangkan oleh masyarakat. Dennison (1989), mengidentifikasi halhal yang mempengaruhi parental choise of education, terdapat 25 item mulai
dari kualitas gedung, lokasi dan lingkungan sekolah sampai pada profile
seorang kepala sekolah dan stafnya. Disamping itu dalam perspektif sosiologi,
Philip Robinson (1986) meneliti bahwa parental choice of education juga
dipengaruhi oleh obsesi masyarakat dalam mobilitas sosial, dan pertimbanganpertimbangan

sosiologis;

meningkatkan

derajat

statatus

sosial,

untuk

memperoleh peran sosial yang tinggi dan bergensi, dan seterusnya. Di sisi lain
parental choice of education, juga dipengaruhi antara lain; karena faktor
emosional

keberagamaan,

emosional

keorganisasian,

aliran,

sekte

dan

seterusnya.
Berbagai persoalan baik secara empirik dan teoritik tentang image
masyarakat terhadap madrasah dan persoalan parental choice of education
sebagaimana yang disebutkan di muka, menunjukkan adanya permasalahan
empirik dan teoritik yang perlu dikaji dan dijernihkan. Secara empirik terdapat
kesan madrasah sebagai lembaga pendidikan kelas dua, dan marginal,
tetapi justru sebaliknya MIN Malang I (sebagai salah satu lembaga pendidikan
madrasah) menunjukkan sebagai lembaga pendidikan favorid bagi uppermidle class di kota Malang. Kenyataan ini perlu dilakukan penelitian secara

mendalam terutama yang terkait dengan parental choice of education dan


secara internal kelembagaan terkait dengan upaya pemberdayaan sumbersumber yang ada dalam merespon keinginan masyarakat tersebut. Dalam kitan
ini secara teoritik terdapat berbagai pandangan tentang alasan (reason) orang
tua dalam membuat keputusan (decision) dalam menyekolahkan anaknya.
Sebab itu hasil penelitian dengan mengambil kasus MIN Malang I ini diharapkan
dapat mengkonstruk teoritik berdasarkan kenyataan (das sein) sesuai hasil
penelitian. Itulah (permasalahan) yang melatarbelakangi penelitian tesis ini.