Anda di halaman 1dari 16

Materi Kuliah Pengantar Filsafat [02]

Materi Perkuliahan: Pengantar Filsafat


Pertemuan ke: 2
Dosen Pengampu: Indra Tjahyadi, S.S.
Pokok Bahasan: Mengenal Filsafat
Sub Pokok Bahasan: 1. Pengertian Filsafat; 2. Objek Filsafat;
3. Metode Filsafat; 4. Peranan dan Tujuan Filsafat
MENGENAL FILSAFAT
I. Pengertian Filsafat
Setiap kali saya memulai untuk pertama kali memberikan perkuliahan mata kuliah
"Pengantar Filsafat", saya senantiasa dihadapkan pada pertanyaan: "Apakah filsafat
itu?" Sungguh ini merupakan pertanyaan yang sederhana, bahkan sangat sederhana.
Tapi, untuk memberikan jawaban yang dapat memuaskan dan benar-benar menjawab
pertanyaan tersebut, itu bukanlah perkara yang mudah.
Ada yang mengira bahwa filsafat itu sesuatu yang kabur, serba rahasia, mistis, aneh,
tak berguna, tak bermetoda, atau hanya sekedar lelucon yang tak bermakna atau
omong kosong. Selain itu ada pula yang mengira bahwa filsafat itu merupakan
kombinasi dari astrologi, psikologi dan teologi. Filsafat bukanlah semua itu.
Oxford Pocket Dictionary mengartikan filsafat sebagai use of reason and argument
in seeking truth and knowledge of reality. Sementara Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI) mengartikan filsafat sebagai:
1. pengetahuan dan penyedilikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang
ada, sebab, dan hukumnya;
2. teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan;
3. ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi;
4. falsafah.
Menurut Kamus Filsafat, filsafat merupakan (Bagus, 2000: 242):
1. Upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap
tentang seluruh realitas.
2. Upaya untuk melukiskan hakikat realitas akhir dan dasar serta nyata.
3. Upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan: sumbernya,
hakikatnya, keabsahannya, dan nilainya.
4. Penyelidikan kritis atas pengandaian-pengandaian dan penyataan-pernyataan yang
diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan.
5. Disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu manusia melihat apa yang
dikatakan dan untuk mengatakan apa yang dilihat.
Secara etimologi atau asal kata, kata "filsafat" berasal dari sebuah kata dalam
bahasa Yunani yang berbunyi philosophia. Kata philophia ini merupakan kata
majemuk yang terdiri dari kata philos dan sophia. Kata philos berarti kekasih atau
sahabat, dan kata sophia yang berarti kearifan atau kebijaksanaan, tetapi juga dapat

diartikan sebagai pengetahuan. Jadi secara etimologi, philosophia berarti kekasih/


sahabat kebijaksaan/ kearifan atau kekasih/ sahabat pengetahuan.
Agar bisa menjadi kekasih atau sahabat, seseorang haruslah mengenal dekat dan
akrab dengan seseorang atau sesuatu yang ingin dijadikan kekasih atau sahabat
tersebut. Dan ini hanya bisa dilakukan apabila seseorang tersebut senantiasa terusmenerus berupaya untuk mengenalnya secara dalam dan menyeluruh. Dengan
harapan bahwa upaya yang terus-menerus itu dapat membawa seseorang atau
sesuatu itu pada kedekatan yang akrab sehingga dapat mengasihinya.
Seseorang yang melakukan aktivitas tersebut disebut filsuf. Filsuf adalah seseorang
yang mendalami filsafat dan berusaha memahami dan menyelidikinya secara
konsisten dan mendalam. Konsisten artinya bahwa seseorang tersebut terus menerus
menggeluti filsafat. Mendalam berarti bahwa ia benar-benar berusaha mempelajari,
memahami, menyelidiki, meneliti filsafat.
Tadi dikatakan bahwa filsafat adalah kekasih/ sahabat kebijaksaan/ kearifan atau
kekasih/ sahabat pengetahuan, jadi karena ia merupakan kekasih/ sahabat
kebijaksaan/ kearifan atau kekasih/ sahabat pengetahuan, maka filsafat memiliki
hasrat untuk selalu ingin dekat, ingin akrab, ingin mengasihi kearifan/
kebjaksanaan/ pengetahuan. Tapi, kearifan/ kebijaksanaan/ pengetahuan merupakan
sesuatu yang sangat abstrak dan luas. Keabstrakan dan keluasan ini menjadikan
hasrat yang dimiliki filsafat tersebut tak mudah untuk dipuaskan sepenuhnya. Ini
menyebabkan filsafat terus-menerus melakukan usaha untuk memenuhinya. Usaha
yang terus menerus ini membuat filsafat, pada satu sisi, dikenal tak lebih dari
sebagai sebuah usaha atau suatu upaya.
Selain sebagai sebuah usaha atau suatu upaya, William James, seorang filsuf dari
Amerika, melihat bahwa berpikir juga merupakan sisi lain dari filsafat. Menurutnya,
filsafat adalah suatu upaya yang luar biasa hebat untuk berpikir yang jelas dan
terang. Artinya, bahwa segala upaya yang dilakukan oleh filsafat tak dapat
dilepaskan dari tujuannya untuk meraih kejelasan dan keterangan dalam berpikir.
Jadi, berpikir adalah sisi lain yang dimiliki filsafat.
Ihwal pentingnya keberadaan berpikir dalam filsafat, Thomas Nagel dalam
Philosophy: Basic Reading mengatakan (1987: 3):
Philosophy is different from science and from mathematics. Unlike science doesn't
rely on experiments or observation, but only on thought. And unlike mathematics it
has no formal methods of proof. It is done just by asking questions, arguing, trying
out ideas and thinking of possible arguments against them, and wondering how our
concepts really work.
Bagi manusia, berpikir adalah hal yang sangat melekat. Manusia, merujuk pada
Aritoteles, adalah animal rationale atau mahluk berpikir. Tidak seperti mahlukmahluk lainnya, oleh Tuhan manusia diberi anugerah yang sangat istemewa yakni
akal. Dengan akal, manusia memiliki kemampuan untuk berpikir dan mengatasi dan

memecahkan segala permasalahan yang dihadapinya pikirannya. Karena filsafat


mengandaikan adanya kerja pikiran, maka sifat pertama yang terdapat dalam
berpikir secara filsafat adalah rasional.
Rasional berarti bahwa segala yang dipikirkannya berpusar pada akal. Tapi, tidak
semua aktivitas berpikir manusia dapat dikatakan berpikir secara filsafat. Untuk
dapat dikatakan bahwa satu aktivitas berpikir itu merupakan berpikir secara filsafat,
aktivitas berpikir itu haruslah bersifat metodis.
Secara umum, berpikir metodis berarti berpikir dengan cara tertentu yang teratur.
Dalam membeberkan pikiran-pikirannya, filsafat senantiasa menggunakan cara
tertentu yang teratur. Keteraturan ini membuat pikiran-pikiran yang dibeberkan oleh
filsafat menjadi jelas dan terang. Tapi agar cara tertentu itu dapat teratur, filsafat
membutuhkan faktor lain, yakni sistem.
Sebagai sebuah sistem, filsafat suatu susunan teratur berpola yang membentuk suatu
keseluruhan. Ia terdiri dari unsur-unsur atau komponen-komponen yang secara
teratur menurut pola tertentu, dan membentuk satu kesatuan. Adanya sistem
membuat satu cara berpikir tertentu yang teratur tetap pada keteraturannya. Oleh
karena itu, selain berpikir metodis filsafat juga memiliki sifat berpikir sistematis.
Berpikir secara sistematis memiliki pengertian, bahwa aktivitas berpikir tersebut
haruslah mengikuti cara tertentu yang teratur, yang dilakukan menurut satu aturan
tertentu, runtut dan bertahap, serta hasilnya dituliskan mengikuti satu aturan
tertentu pula tersusun menurut satu pola yang tidak tersusun secara acak atau
sembarangan. Jadi, agar dapat dikatakan bahwa seseorang tersebut sedang berpikir
secara filsafat, ia haruslah berpikir menurut atau mengikuti satu aturan tertentu
yang runut dan bertahap dan tidak acak atau sembarangan.
Sistematis mengandaikan adanya keruntutan. Jadi, berpikir filsafat atau berpikir
filsafati juga memiliki sifat runtut atau koheren. Koheren berarti bertalian. Ia
merupakan kesesuaian yang logis. Dalam koherensi, hubungan yang terjadi karena
adanya gagasan yang sama. Pada berpikir filsafat, koherensi berarti tidak adanya
loncatan-loncatan, kekacauan-kekacauan, dan berbagai kontradiksi. Dalam
koherensi, tidak boleh ada pernyataan-pernyataan yang saling bertentangan. Contoh:
Hujan turun
Tidak benar bahwa hujan turun
Pernyataan yang pertama yang berbunyi "Hujan turun" bertentangan dengan
pernyataan yang kedua, "Tidak benar bahwa hujan turun,", begitu juga sebaliknya.
Dalam berpikir secara koherensi hal ini tidak dibenarkan. Karena kedua pernyataan
ini saling bertentangan. Jadi, dalam berpikir secara koherensi, pernyataanpernyataan yang ada haruslah saling mendukung.
Agar dapat memperoleh pernyataan-pernyataan yang mendukung, filasafat haruslah
mencari, mendapatkan, memeriksa, ataupun menyelidiki keseluruhan pernyataan
yang ada. Filsafat berusaha memberikan penjelasan tentang dunia seluruhnya,

termasuk dirinya sendiri. Usaha ini membawa filsafat pada penyelidikan terhadap
keseluruhan. Jadi, sifat berpikir filsafat yang berikutnya adalah keseluruhan atau
komprehensif dalam artian bahwa segala sesuatu berada dalam jangkauannya.
Tadi dikatakan bahwa berpikir filsafat memiliki sifat koherensi, maka agar
koherensi dapat terjadi, seorang filsuf atau seseorang yang sedang mempelajari dan
mendalami filsafat haruslah mampu memahami dan memilah pernyataan-pernyataan
yang ada. Agar dapat mencapai hal tersebut, dibutuhkan apa yang dinamakan
berpikir kritis Jadi, kritis adalah sifat berpikir filsafat yang berikutnya.
Kritis dapat dipahami dalam artian bahwa tidak menerima sesuatu begitu saja.
Secara spesifik, berpikir kritis secara filsafat adalah berpikir secara terbuka
terhadap segala kemungkinan, dialektis, tidak membakukan dan membekukan
pikiran-pikiran yang ada, dan selalu hati-hati serta waspada terhadap berbagai
kemungkinan kebekuan pikiran.
Untuk mencapai berpikir kritis, hal yang harus dilakukan adalah berpikir secara
skeptis. Skeptis berbeda dengan sinis. Skeptis adalah sikap untuk selalu
mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang diterima, dan mewaspadai
segala kepastian agar tidak mudah ditipu. Sedangkan sinis adalah sikap yang
berdasar pada ketidakpercayaan. Secara metaforis, sikap sinis dapat digambarkan
seperti seorang laki-laki di tengah perempuan-perempuan cantik, tapi dia malah
mencari seekor kambing yang paling buruk. Jadi, pada intinya, sikap skpetis itu
adalah meragukan, sementara sikap sinis adalah ketidakpercayaan.
Tadi telah dipaparkan di atas, bahwa filsafat berusaha memberikan penjelasan
tentang dunia seluruhnya, termasuk dirinya sendiri. Agar dapat meraih hal tersebut,
filsafat harus menemukan radix (akar) dunia seluruhnya tersebut. Jadi berpikir
radikal adalah sifat berpikir filsafat yang berikutnya.
Usaha menemukan akar dunia seluruhnya ini sangat diperlukan. Karena dengan
penemuan akarnya, diharapkan, setiap persoalan ataupun permasalahanpermasalahan yang bertumbuhan di atasnya dapat disingkap. Untuk dapat
menemukan akar tersebut, seorang filsuf atau seseorang yang sedang mempelajari
dan mendalami filsafat perlu untuk berpikir secara radikal. Berpikir radikal
merupakan cara berpikir yang tidak pernah terpaku hanya pada satu fenomena suatu
entitas tertentu, dan tidak pernah berhenti hanya pada satu wujud tertentu.
Sampai di sini, kiranya, kita telah mengetahui mengapa filsafat itu bukan sesuatu
yang kabur, serba rahasia, mistis, aneh, tak berguna, tak bermetoda, atau hanya
sekedar lelucon yang tak bermakna atau omong kosong.
II. Objek Filsafat
Setiap ilmu pengetahuan memiliki objek tertentu yang menjadi lapangan
penyelidikan atau lapangan studinya. Objek ini diperoleh melalui pendekatan atau
cara pandang, metode, dan sistem tertentu. Adanya objek menjadikan setiap ilmu

pengetahuan berbeda antara satu dengan lainnya. Objek ilmu pengetahuan terdiri
dari objek materi dan objek forma.
Objek materi adalah sasaran material suatu penyelidikan, pemikiran atau penelitian
keilmuan. Ia bisa berupa apa saja, baik apakah itu benda-benda material ataupun
benda-benda non material. Ia tidak terbatas pada apakah hanya ada di dalam
kenyataan konkret, seperti manusia ataupun alam semesta, ataukah hanya di dalam
realitas abstrak, seperti Tuhan atau sesuatu yang bersifat Ilahiah lainnya. Sementara
objek forma adalah cara pandang tertentu, atau sudut pandang tertentu yang dimiliki
serta yang menentukan satu macam ilmu.
Seperti halnya ilmu pengetahuan pada umumnya, filsafat juga memiliki objek yang
menjadi lapangan penyelidikan atau lapangan studinya yang terdiri dari objek
materia dan objek forma.
Bagi Plato (+ 427-347 SM) filsafat adalah penyelidikan tentang sebab-sebab dan
asas-asas yang paling akhir dari segala sesuatu yang ada. Sementara bagi Aritoteles
(+ 384-322 SM), filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berupaya mempelajari "peri
ada selaku ada" (being as being) atau "peri ada sebagaimana adanya" (being as
such). Dari dua pernyataan tersebut, dapatlah diketahui bahwa "ada" merupakan
objek materia dari filsafat. Karena filsafat berusaha memberikan penjelasan tentang
dunia seluruhnya, termasuk dirinya sendiri, maka "ada" di sini meliputi segala
sesuatu yang ada dan, bahkan, yang mungkin ada atau seluruh ada.
Penempatan segala sesuatu yang ada dan, bahkan, yang mugkin ada atau seluruh ada
sebagai objek materia dari filsafat, membuat filsafat berbeda dengan ilmu-ilmu
pengetahuan lainnya, seperti sastra, bahasa, politik, sosiologi, dsb. Jika ilmu-ilmu
pengetahuan lainnya hanya menempatkan satu bidang dari kenyataan sebagai objek
materianya, filsafat, karena berusaha memberikan penjelasan tentang dunia
seluruhnya, termasuk dirinya sendiri, menempatkan seluruh kenyataan sebagai objek
materia studinya. Jadi, secara singkat dapat dikatakan, jika filsafat itu bersifat
holistik atau keseluruhan, sementara ilmu pengetahuan lainnya bersifat fragmental
atau bagian-bagian.
Tadi telah dipaparkan bahwa filsafat adalah penyelidikan tentang sebab-sebab dan
asas-asas yang paling akhir dari segala sesuatu yang ada, maka untuk mencapai hal
tersebut filsafat senantiasa berusaha mencari keterangan yang sedalam-dalamnya
atas segala sesuatu. Jadi, mencari keterangan sedalam-dalamnya merupakan objek
forma dari filsafat.
III. Metode Filsafat
Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan dari kenyataan.
Untuk mendapatkan hal tersebut, filsafat memiliki beberapa metode penalaran.
Pertama, metode penalaran deduksi. Secara sederhana, metode ini dapat dikatakan
satu metode penalaran yang bergerak dari sesuatu yang bersifat umum kepada yang
khusus. Dalam pengertiannya yang lebih spesifik, ia adalah proses berpikir yang

bertolak dari prinsip-prinsip, hukum-hukum, putusan-putusan yang berlaku umum


untuk suatu hal/ gejala atau prinsip umum tersebut ditarik kesimpulan tentang
sesuatu yang khusus yang merupakan bagian hal/ gejala umum.. Secara sederhana,
deduksi dapat dicontohkan sbb:
Semua manusia adalah fana
Presiden adalah manusia
Presiden adalah fana
Selain deduksi, filsafat juga menggunakan metode penalaran induksi. Secara
sederhana, metode ini dapat dikatakan satu metode penalaran yang bergerak dari
sesuatu yang bersifat khusus kepada yang umum. Ia adalah proses berpikir yang
bertolak dari satu atau sejumlah fenomena/ gejala individual untuk menurunkan
suatu kesimpulan yang berlaku umum. Secara sederhana, metode ini dapat
dicontohkan sbb:
Amin adalah murid sekolah dasar
Amin adalah manusia
Semua murid sekolah dasar adalah manusia
Metode ketiga yang dimiliki filsafat adalah metode penalaran dialektika. Secara
umum, metode ini dapat dipahami sebagai cara berpikir yang dalam usahanya
memperoleh kesimpulan bersandar pada tiga hal, yakni: tesis, antitesis dan sintetis
yang merupakan hasil gabungan dari tesis dan antitesis. Contoh sederhana untuk
metode penalaran ini adalah Keluarga. Dalam satu keluarga biasanya terdapat ayah,
ibu, dan anak. Jika ayah adalah tesis, maka ibu adalah antitesis, lantas anak
merupakan sintesis karena keberadaannya ditentukan ayah dan ibu. Begitu juga
apabila ibu adalah tesis, maka ayah adalah antitesis, dan anak adalah sintesis.
IV. Peranan dan Tujuan Filsafat
Tadi telah dipaparkan bahwa filsafat merupakan suatu upaya berpikir yang jelas dan
terang tentang seluruh kenyataan. Upaya ini, bagi manusia, menghasilkan beberapa
peranan. Pertama, filsafat berperan sebagai pendobrak. Artinya, bahwa filsafat
mendobrak keterkungkungan pikiran manusia. Dengan mempelajari dan mendalami
filsafat, manusia dapat menghancurkan kebekuan, kebakuan, bahkan
keterkungkungan pikirannya dengan kembali mempertanyakan segala.
Pendobrakan ini membuat manusia bebas dari kebekuan, kebakuan, dan
keterkungkungan. Jadi, bagi manusia, filsafat juga memiliki peranan sebagai
pembebas pikiran manusia. Maka, pembebas merupakan peranan kedua yang
dimiliki filsafat bagi manusia.
Pembebasan ini membimbing manusia untuk berpikir lebih jauh, lebih mendalam,
lebih kritis terhadap segala hal sehingga manusia bisa mendapatkan kejelasan dan
keterangan atas seluruh kenyataan. Jadi, peranan ketiga yang dimiliki oleh filsafat
bagi manusia adalah sebagai pembimbing.

Selain memiliki peranan bagi manusia, filsafat juga berperan bagi ilmu pengetahuan
umumnya. Menurut Descartes (1596-1650), filsafat adalah himpunan dari segala
pengetahuan yang pangkal penyelidikannya adalah mengenai Tuhan, alam dan
manusia. Ia, merujuk pada Kant (1724-1804), adalah ilmu pengetahuan yang
menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan. Jadi, merujuk pada dua
penrnyataan tersebut, dapat dapat disimpulkan bahwa bagi ilmu pengetahuan,
filsafat, memiliki peranan sebagai penghimpun pengetahuan.
Memahami perannya sebagai penghimpun, maka filsafat dapat dikatakan merupakan
induk segala ilmu pengetahuan atau mater scientiarum. Bagi Bacon (1561-1626,
filsafat adalah induk agung dari ilmu-ilmu. Ia menangani semua pengetahuan.
Selain sebagai induk yang menghimpun semua pengetahuan, bagi ilmu pengetahuan
filsafat juga memiliki peranan lain, yakni sebagai pembantu ilmu pengetahun.
Bagi Bertrand Russell (1872-1970), filsafat adalah sebuah wilayah tak bertuan di
antara ilmu pengetahuan dan teknologi, yang memiliki kemungkinan untuk
menyerang keduanya. Karena terdapat kemungkinan ini dalam filsafat, maka,
menurutnya, filsafat dapat memeriksa secara kritis asas-asas yang dipakai dalam
ilmu dan kehidupan sehari-hari, dan mencarisuatu ketidakselarasan yang dapat
terkandung di dalam asas-asas tersebut. Secara sederhana, paparan Bertrand Russell
tersebut dapat dipahami bahwa bagi pengetahuan, filsafat juga memiliki peranan
sebagai pembantu pengetahuan. Sejalan dengan hal tersebut, Schlick, seorang filsuf
Wina, pernah menyatakan bahwa tugas ilmu adalah untuk mencapai pengetahuan
tentang realitas; dan pencapaian ilmu yang sebenarnya tidak pernah dapat
dihancurkan atau diubah oleh filsafat, tapi filsafat dapat menafsirkan pencapaianpencapaian tersebut secara benar, dan untuk menunjukkan maknanya yang terdalam.
Dalam menjalankan peranannya tersebut, filsafat memiliki tujuan. Menurut Plato,
filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang asli dan
murni. Jadi secara umum, tujuan filsafat adalah meraih kebenaran. Dengan harapan
kebenaran ini dapat membawa manusia kepada pemahaman, dan pemahaman
membawa manusia kepada tindakan yang lebih layak. Tapi, janganlah dianggap
bahwa kebenaran yang berusaha diraih filsafat adalah sama dengan kebenaran yang
diraih agama.
Tidak seperti agama yang menyandarkan diri dan mengajarkan kepatuhan, filsafat
menyandarkan diri dan mengandalkan kemampuan berpikir kritis. Kondisi berpikir
kritis ini sering tampil dalam perilaku meragukan, mempertanyakan, dan
membongkar sampai ke akar-akarnya. Kebenaran yang oleh agama wajib diterima,
dalam filsafat senantiasa diragukan, dipertanyakan dan dibongkar sampai ke akarakarnya untuk kemudian dikonstruksi menjadi pemikiran baru yang lebih masuk
akal. Maka, tak heran, apabila kebenaran yang ditawarkan filsafat dipahami sebagai
kebenaran yang logis.
Diposkan oleh Ayo Kuliah di 06:16 dalam http://perkuliahanperkuliahan.blogspot.com/2009/03/materi-kuliah-pengantar-fi lsafat-02.html
Diposkan oleh Ridwan Madjid

ENGANTAR FILSAFAT UMUM

Apakah Filsafat Itu?


Beberapa Kesalah-pahaman
Apakah sesungguhnya filsafat itu? Pertanyaan demikian itu telah diajukan sejak lebih
dari dua puluh abad yang silam dan hingga kini tetap dipertanyakan banyak orang. Berbagai
jawaban telah diberikan sebagai upaya untuk menjelaskan apakah sesungguhnya filsafat itu,
namun tidak pernah ada jawaban yang dapat memuaskan semua orang. Bahkan, ada yang
mengatakan bahwa banyaknya jawaban yang diberikan justru semakin mengaburkan masalah
yang hendak dijelaskan. Dengan demikian, persoalannya menjadi semakin rumit. Apakah benar
demikian?
Kenyataannya sampai sekarang ini, masih banyak orang yang mengira bahwa filsafat
adalah sesuatu yang serba rahasia, mistis, dan aneh. Ada pula yang menyangka bahwa filsafat
adalah suatu kombinasi antara astrologi, psikologi, dan teologi. Tak mengherankan apabila di
toko toko buku terkemuka sekalipun sering terlihat penempatan buku buku filsafat dicampur
baurkan begitu saja dengan buku buku astrologi, psikologi, dan teologi.
Selain itu, karena filsafat juga disebut sebagai mater scientiarum atau induk segala ilmu
pengetahuan, maka cukup banyak pula orang yang menganggap filsafat sebagai ilmu yang
paling istimewa, ilmu yang menduduki tempat paling tinggi dari antara seluruh ilmu
pengetabuan yang ada. Karena itu, filsafat hanya dapat dipaharni oleh orang orang jenius.
Filsafat hanya dapat dipelajari oleh orang orang yang memiliki kernampuan intelektual luar
biasa. Sehubungan dengan anggapan itu, ada. banyak mahasiswa yang sengaja menghindari
mata pelajaran filsafat karena dianggap terlampau sukar dan pelik.
Sebaliknya, ada pula yang berpendapat bahwa filsafat itu tidak berharga untuk
dipelajari. Filsafat tidak lebih dari sekedar lelucon yang tak bermakna alias "omongkosong". Apa
gunanya mernpelajari filsafat yang tidak sanggup memberi petunjuk tentang bagaimana
seseorang dapat meningkatkan keuntungan bagi perusahaannya? Apa gunanya mempelajari
filsafat yang tak mampu memberi petunjuk tentang bagaimana merancang sebuah bangunan
yang bisa memikat banyak orang sehingga laku dipasarkan? Apa gunanya mempelajari filsafat
yang tidak dapat memberi petunjuk tentang bagaimana berternak ayarn yang paling berhasil?
Singkatnya, mereka hendak mengatakan bahwa filsafat tidak memiliki kegunaan praktis.

Ada pula yang berpendapat bahwa filsafat hanyalah sejenis "ilmu" yang mengawang
tanpa merniliki dasar pijakan konkret yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
Karena filsafat berbicara tentang apa saja, padahal suatu disiplin ilmu hanya mengacu pada
satu objek tertentu, maka filsafat tidak dapat dikatakan sebagai suatu disiplin ilmu.
Di kalangan para rohaniwan dan teolog, ada pula yang memperlakukan filsafat hanya
sebagai ancilla theologiae, yakni sebagai budak atau pelayan teologi. Sebagai pelayan teologi,
filsafat bertugas menformulasikan argumentasi argurnentasi yang kuat untuk membela
keyakinan dan ajaran agarna, tanpa memperdulikan apakah cara yang ditempuh itu benar dan
sahih. Bahkan, ada juga rohaniwan dan teolog yang menuding filsafat sebagai alat iblis yang
terkutuk. Karena itu, harus ditolak oleh semua orang beriman.
Dalam percakapan, sehari hari, acap kali kita dengar ada orang yang mengatakan,
"Falsafah saya adalah..." atau "Filsafat pengusaha yang berhasil itu dan sebagainya. Apakah
sebenarnya yang dimaksudkan dengan ungkapan ungkapan tersebut? Apakah arti istilah
"falsafah" atau "filsafat" yang digunakan dalam ungkapan ungkapan tersebut di atas? Istilah
"falsafah" atau "filsafaf 'yang digunakan dengan cara itu sesungguhnya mengacu kepada.
sikap, pandangan, dan gagasan yang dipegang oleh seseorang untuk men hadapi segala
persoalan dan tantangan yang harus diatasinya.
Ada lagi orang orang yang hendak menawarkan. "jasa baik dengan berupaya
membedakan pernakaian istilah "falsafah" dan. "filsafaf dalam penggunaan praktis sehari hari,
namun. malah berakibat semakin rancu.
Ada juga yang mengatakan bahwa karena semua orang berpikir, sesungguhnya semua
orang adalah filsuf. Apakah benar setiap orang yang berpikir itu adalah filsuf Jika benar
demikian, berarti berpikir adalah berfilsafat, dan berfilsafat adalah berpikir. Jadi, pemikiran
(sebagai hasil berpikir) adalah filsafat, dan filsafat adalah pemikiran. Memang benar orang yang
berfilsafat itu berpikir, tetapi tidak semua yang berpikir berarti pula berfilsafat. Untuk berpikir
secara filsafati, ada persyaratan persyaratan tertentu yang harus dipenuhi.
Kesimpangsiuran pendapat dan pandangan yang telah dikemukakan itu belum
menyentuh keanekaragaman gagasan gagasan filsafati yang acap kali saling bertentangan"
satu sama lain. Konsep konsep filsafati yang saling bertentangan sering pula menimbulkan
pertikaian tak terdamaikan yang membuat filsafat semakin dianggap kacau balau. Tentu saja,
hal itu menimbulkan kesan buruk terhadap filsafat. Oleh sebab itu, dapat dipahami apabila ada
orang yang berpendapat bahwa filsafat merupakan sesuatu yang tidak jelas, kacau balau, tidak
ilmiah, penuh dengan pertikaian dan perselisihan pendapat, tidak mengenal sistern dan
metode, tidak tertib, dan juga tidak terarah. Tidak mengherankan pula jika ada yang

menawarkan pemikiran untuk menertibkan filsafat karena menganggap filsafat tidak tertib. Akan
tetapi, dapat dibayangkan bagaimanakah jadinya suatu filsafat bila ditertibkan. Tidakkah ia akan
menjadi begitu "kurus" dan sangat "kerdil" karena kehilangan ruang gerak dan wawasan?
Pada masa kini ada sebagian orang yang mengatakan bahwa filsafat telah berada di
penghujung jalan. Filsafat telah menempuh perjalanan yang sangat panjang dan kini harus
berhenti. Pengembaraannya telah berakhir, dan tidak ada lagi sesuatu pun yang dapat
dilakukannya. Filsafat sebagai induk segala ilmu pengetahuan telah berhasil melahirkan
berbagai ilmu pengetahuan yang kini telah mandiri. Ilmu ilmu pengetahuan alam (natural
sciences), ilmu ihnu pengetahuan sosial (social sciences), dan seluruh disiplin ilmu lainnya satu
per satu telah memisahkan diri dari filsafat dan telah tumbuh menjadi dewasa. Filsafat selaku
induk segala ilmu pengetahuan kini telah renta dan mandul. la tak mampu dan memang tak
mungkin lagi untuk mengandung dan rnelahirkan. Karena itu, benar benar tidak berguna lagi.
Beberapa kesalah pahaman dan kekeliruan tersebut justru menunjukkan ketidaktahuan
tentang apa sesungguhnya filsafat. Memang pengamatan sekilas terhadap keberadaan filsafat
dapat menyesatkan. Akan tetapi, apabila benar benar disimak secara lebih serius dan lebih
mendalam, filsafat akan semakin diminati, semakin menarik, semakin mernikat, dan semakin
memukau.
Pengertian dan Definisi Filsafat
Secara. etiniologis, istilah "filsafat", yang merupakan padanan kata falsafah (bahasa
Arab) dan philosophy (bahasa Ingris), berasal dari bahasa Yunani (philosophia).Kata
philosophia merupakan kata majeMuk yang terdiri dari kata. philos dan sophia. Kata
sophia berarti kekasih, bisa juga berarti sahabat. Adapun philos berarti kebijaksanaan atau
kearifan, bisa juga berarti pengetahuan. Jadi, secara harfiah philosophia berarti yang mencintai
kebijaksanaan atau sahabat pengetahuan. Oleh karena istilah philosophia telah di Indonesiakan
menjadi "filsafat", seyogyanya ajektivanya ialah "filsafati" dan. bukan "filosofis". Apabila
mengacu kepada orangnya, kata yang tepat digunakan ialah "filsuf ' dan bukan "filosof'. Kecuali
bila digunakan kata "filosofi" dan bukan "filsafat", maka ajektivanya yang tepat ialah "filosofis",
sedangkan yang mengacu kepada orangnya ialah kata "filosof'.
Menurut tradisi kuno, istilah philosophia digunakan pertama kali oleh Pythagoras (sekitar
abad ke 6 SM). Ketika diajukan pertanyaan apakah ia seorang yang bijaksana, dengan rendah
hati Pythagoras menjawab bahwa ia hanyalah philosophia, yakni orang yang mencintai
pengetahuan. Akan tetapi, kebenaran kisah itu sangat diragukan karena pribadi dan kegiatan

Pythagoras telah bercampur dengan berbagai legenda; bahkan, tahun kelahiran dan.
kematiannya pun tak diketahui dengan pasti. Yang jelas, pada masa Sokrates dan Plato, istilah
philosophia sudah cukup populer.
Untuk memahami apa sebenarnya filsafat itu, tentu saja tidak cukup hanya mengetahui
asal usul dan arti istilah yang di gunakan, melainkan juga harus memperhatikan konsep dan
definisi yang diberikan oleh para filsuf menurut pemahaman mereka masing masing. Akan
tetapi, perlu pula dikatakan bahwa konsep dan definisi yang diberikan oleh para filsuf itu tidak
sama. Bahkan, dapat dikatakan bahwa setiap filsuf memiliki konsep dan membuat definisi yang
berbeda dengan filsuf lainnya. Karena itu, ada yang mengatakan bahwajumlah konsep dan
definisi filsafat adalah sebanyakjumlah filsuf itu sendiri.
Berikut ini, akan diketengahkan beberapa konsep dan definisi yang kiranya memadai
untuk memberi gambaran lebih jelas tentang apakah filsafat itu.
Para filsuf pra Sokratik mempertanyakan tentang awal atau asal mula alam dan berusaha
menjawabnya dengan menggunakan logos atau rasio tanpa meminta bantuan mythos atau
mitos. Oleh sebab itu, bagi mereka, filsafat adalah ilmu. yang berupaya untuk memahami
hakikat alarn dan realitas ada dengan mengandalkan akal budi.
Plato memiliki berbagai gagasan tentang filsafat. Antara lain, Plato pernah mengatakan
bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang asli dan murni.
Selain itu, ia juga mengatakan bahwa filsafat adalah penyelidikan tentang sebab sebab dan
asas asas yang paling akhir dari segala sesuatu yang ada.
Aristoteles (murid Plato) juga memiliki beberapa gagasan mengenai filsafat. Antara lain,
ia mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang senantiasa berupaya mencari
prinsip prinsip dan penyebab penyebab dari realitas ada. la pun mengatakan bahwa filsafat
adalah ilmu pengetahuan yang berupaya mempelajari "peri ada selaku peri ada" (being as
being) atau peri ada sebagaimana adanya" (being as such).
Rene Descartes, filsuf Prancis yang termasyhur dengan argumen je pense, donc je suis,
atau dalam bahasa Latin cogito ergo sum ("aku berpikir maka Aku ada"), mengatakan bahwa
filsafat adalah himpunan dari segala pengetahuan yang pangkal penyelidikannya adalah
mengenai Tuhan, alam, dan manusia.
Bagi William James, filsuf Amerika yang terkenal sebagai tokoh pragmatisme dan
pluralisme, filsafat adalah suatu upaya yang luar biasa hebat untuk berpikir yang jelas dan
terang. R.F. Beerling, yang pernah menjadi guru besar filsafat di Universitas Indonesia, dalam
bukunya Filsafat Dewasa Ini mengatakan bahwa filsafat "memajukan pertanyaan tentang
kenyataan seluruhnya atau tentang hakikat, asas, prinsip dari kenyataan" Beerling juga

mengatakan bahwa filsafat adalah suatu usaha untuk mencapai radix, atau akar kenyataan
dunia wujud uga akar pengetahuan tentang diri sendiri.
Konsep atau gagasan dan definisi filsafat yang begitu banyak tidak perlu
membingungkan, bahkan sebaliknya justru menunjukkan betapa luasnya samudera filsafat itu
sehingga tidak terbatasi oleh sejumlah batasan yang akan mempersempit ruang gerak filsafat.
Perbedaan perbedaan itu sendiri merupakan suatu keharusan bagi filsafat sebab kesamaan
dan kesatuan pemikiran serta pandangan justru akan mematikan dan menguburkan filsafat
untuk selama lamanya.
FELSAFAT, ILMU FILSAFAT, DAN ILMU PENGETAHUAN
Untuk menghindarkan kerancuan dalam pemahaman kita tentang apa dan bagaimana
filsafat itu, perlu terlebih dahulu dibedakan antara fidsafat dan i1mu filsafat.
Pengertian kita tentang filsafat yang kita pergunakan dalam percakapan sehari hari,
cenderung untuk diberi arti sebagai asas atau suatu pendirian yang mengandung prinsip prinsip
yang kebenarannya telah kita yakini dan kita terima, sedemikian rupa sehingga asas atau
pendirian tadi kita pergunakan sebagai dasar dan arah kehidupan kita atau masyarakat, untuk
menjawab masalah masalah fundamental yang tidak dapat begitu saja diselesaikan secara
teknis. Dengan demikian filsafat mendapatkan konotasinya sebagai pandangan hidup, sehingga
muncul apa yang sering kita dengar dengan kata kata filsafat seorang Ilmuwan, filsafat seorang
pedagang, filsafat seorang pendidik, filsafat seorang seniman, dan lain sebagainya.
Dalam pada itu filsafat sebagai ilmu, atau i1mu filsafat tidaklah berbeda dengan (cabang
cabang) ilmu pengetahuan yang lain. Seperti halnya dengan ilmu pengetahuan yang lain, ilmu
filsafat memiliki unsur unsur:
1.

Gegenstand, yaitu suatu objek sasaran untuk diteliti dan diketahui menuju suatu
pengetahuan, kenyataan atau kebenaran.

2.

Gegenstand, tadi terus menerus dipertanyakan tanpa mengenal titik henti.

3.

Ada alasan atau motif tertentu, dan dengan cara tertentu, pula mengapa Gegenstand tadi
terus menerus dipertanyakan.

4.

Rangkaian jawaban yang diketemukan kemudian disusun kembali kedalam satu kesatuan
sistem.
Di samping kesamaannya, ilmu filsafat sudah barang tentu mempunyai perbedaan atau ciri
khasnya tersendiri, terutama terletak pada objek formalnya.

Ilmu filsafat mempertanyakan. hakikat (substansi) atau "apanya" objek sasaran yang
dihadapinya dengan menempatkan. objek itu pada kedudukannya secara utuh atau totalitasnya;
sedang ilmu ilmu cabang hanya melihat pada sesuatu sisi atau dimensi saja. Ilmu filsafat dalam
menghadapi objek material manusia, maka yang ingin dicari yalah apa hakikat manusia itu, apa
makna kehadirannya serta tujuan hidup baik dalam arti imanen maupun transenden. Dengan
melihat objek material manusia hanya pada satu sisi atau dimensi saja, ilmu ilmu cabang
tumbuh menjadi ilmu sosiologi, antropologi, hukum, ekonorni, politik, psikologi dan lain
sebagainya.
Demikian pula dengan menempatkan objek material alam semesta, maka ilmu filsafat
mempertanyakan. alam semesta dari sudut apanya (ontologik), dan bagi ilmu ilmu cabang
melihatnya dari sudut dimensi tertentu dengan melahirkan klimatologi, geodesi, fisika, kimia,
astronomi~ mekanika dan lain sebagainya.
Yang jelas, kenyataan telah menunjukkan bahwa setiap cabang ilmu, apabila dalam
perkembangannya telah sampai pada spekulasi spekulasi ataupun teori teori yang paling dasar,
mau tidak mau cabang ilmu tadi harus kembali memasuki kawasan ilmu filsafat, sebagaimana
tejadi pada ilmu hukum dengan filsafat hukumnya, i1mu pendidikan, biologi, matematika,
sejarah, da~n lain sebagainya.
Bahkan dalam perkembangan akhir akhir ini di kalangan berbagai perguruan tinggi atau
program studi timbul kebutuhan untuk mengembangkan filsafat Ilmu (Philosophy of Science),
yang oleh sementara pakar disebut ilmu tentang ilmu, sebagai akibat adanya implikasi implikasi
baik positif maupun negatif perkembangan ilmu pengetahuan bagi kehidupan umat manusia itu
sendiri.
MASALAH MASALAH FUNDAMENTAL DALAM FILSAFAT
Tidak dapat diungkiri bahwa filsafat sebagai ilmu pengetahuan. telah dirintis oleh orang
orang Yunani Kuno, semenjak abad VI SK dan sekaligus mereka pulalah yang telah
meletakkan. dasar dasar bagi tradisi pemikiran intelektual. ala Barat.
Bahwa kelahiran filsafat Yunani kuno fidak dirintis oleh dunia Timur sudah ditegaskan
oleh Diogenes Laertios pada tahun 200 yang kemudian penegasan. itu diperkuat oleh penelitian
sebagaimana dilakukan. oleh Eduard Zeller dalam. karyanya Grundriss der Geschischte der
Grieschischen Philosophie. Apa yang datang dari dunia Timur adalah pengetahuan
pengetahuan. praksis seperti astronomi, matesis, pengobatan, dan lain sebagainya (Driyarkara
& Busch, 1957).

Melalui mimbar akademis kelahiran dan perkembangan ilmu filsafat Barat diuraikan secara
bertahap (Storig, 1970), yaitu Tahap Yunani Kuno (abad VI SM VI M), Zaman pertengahan
(abad VI_)CIV), melalui Renaissance (abad XV) dan Aufklaerung (abad XVIII), hingga zaman
modem termasuk filsafat kontemporer (abad XIX XX).
Masing masing tahap memilild ciri dan. sifatnya sendiri, dan dalam perkembangan yang
telah berlangsung selama 26 abad itu, Ilu filsafat dihadapkan pada masalah "abadi" yang tidak
pemah terselesaikan dalam arti masing masing fihak akan memberikan jawabannya atas dasar
pilihan keyakinannya sendiri sendiri, yang disana sini tidak sama, berbeda, bahkan saling
bertentangan, yang muncul dalam setiap tahap atau pun kurun waktu. Masalah "abadi" yang
dimaksud antara lain adalah:
1.

Bidang ontologi yang mempermasalahkan:

1)

Apakah hakikat (yang) "ada" (being, sein).

2)

Apakah (yang) "ada" itu sesuatu yang tetap, abadi, atau terus menerus berubah.

3)

Apakah (yang) "ada" itu sesuatu yang abstrak universal atau yang konkret individual.

2.

Bidang epistemologi yang mempermasalahkan:


1) Apakah sarananya dan bagaimanakah caranya untuk mempergunakan sarana itu guna
mencapai pengetahuan, kebenaran, atau kenyataan.
2) Apakah tolok ukur bagi sesuatu yang dinyatakan sebagai yang benar dan yang nyata yang
terus menerus dicari oleh ilmu pengetahuan.
3. Bidang antropologi yang mempermasalahkan:
1)

Apa dan siapa manusia itu.

2)

Bagaimana hubungan jiwa dan raga.

3)

Apa makna dan tujuan li~idup ini dan nilai nilai mana yang secara imperatif harus

dipatuhi.
Dalam sejarah filsafat telah terbukti bahwa manusia sampai pada suatu batas di mana
akal dan pengalman tidak lagi mampu menunjukkan jabawan mana yang paling benar dalam
menghadapi masalah masalah fundamental tadi. Masing masing menjatuhkan suatu pilihan
yang dirasakan paling sesuai dengan hati nuraninya, yang manifestasinya muncul sebagai
aliran aliran dalam ilmu filsafat yang satu sama lain berbeda atau pun bertentangan.
Aliran aliran yang dimaksud , dapat disebut antara lain: idealisme/spiritualisme,
materialisme, dualisme, pluralisme (dalam bidang ontologi); rasionalisme, empirisme, kritisisme

agnostisisme, fenomenologi,. (dalam bidang epistemologi); monisme, dualisme,


eksistensialisme, determinisme atau incleterminisme (dalam bidang antropologi).
Sejalan dengan perkembangan pemikiran manusia dapat dipastikan bahwa lahirnya
aliran aliran baru, cabang cabang baru dalam i1mu filsafat akan terus berlangsung. Sejarah
memang telah membuktikan bahwa tiap zaman, tiap, kurun waktu memiliki pandangan
filsafatnya sendiri sendiri.
Atas dasar itu pula dapat difahami mengapa ilmu filsafat diberi batasan atau definisi
secara berbeda beda di mana tiap orang, tiap filsuf memberikan definisinya sendiri sendiri
(Beekman 1973).
Dengan mengenyampingkan berbagai perbeclaan unsur dalain pemberian definisi,
namun dapat disimpulkan bahwa ilmu filsafat adalah i1mu yang menunjukkan bagaimana upaya
manusia yang tidak pernah menyerah untuk menentukan kebenaran atau kenyataan, secara
kritis, mendasar dan integral. Karena itu dalam berfilsafat, proses yang dilalui adalah refleksi,
kontemplasi, abstraksi, dialog, evaluasi, menuju suatu sintesis.
Ilmu filsafat tidak lagi hanya berada pada tataran abstrak universal dan tekstual , i1mu
filsafat masa kini juga harus turun ke dataran kontekstual, partisipatif, dan emansipatolis.
Filsafat disebut sebagai Ilmu K Titis (Magnis Suseno, 1992), dan didorong untuk ikut berperan
sebagai dasar dan arah dalam. penvelesaian masalah masalah fundamental di bidang sosial.
ideologi, politik, ekonomi, serta pendidik an sebacrai humanisasi (Sonny Keraf Mikhael. Dua.
2001; Sastrapratedia, 2001a).
Kontekstuahsasi filsafat dengan kondisi aktual yang sedang kiata alami dewasa ini
menjadi semakin dirasakan urgensinya, seirin g dengan perkembangan masyarakat yang
sedang mengalami dekadensi dalam berbagai bidang, kehidupan semacam apa vang pernah
dilukiskan oleh Mohandas K. Gandhi vaitu "politics without principle, wealth without work,
commerce without morality, pleasure without conscience, education without character, science
without humanitv, and worship without sacrifice." (Sastrapratedja.. 2001b).

KESIMPULAN SEBAGAI WASANA KATA


Melalui pemaparan secara singkat ini kiranya beberapa kesimpulan yang dapat kata
ambil adalah sebacai berikut.

1.
Filsafat adalah suatu upaya manusia, suatu "pengembaraan intelektual" yang tidak
pemah mengenal titik akhir dalam mencari dan menemukan kebenaran atau kenvataan.
Kebenaran atau kenyataan itu sendiii bukanlah barang jadi yang sudah selesai, "mandheg,"
dalam kebekuan dogmatis dan normatif, melainkan sesuatu. Yang terbuka.
2.
Kelahiran dan perkembangan filsafat yang telah berlangsung semenjak jaman Yunani
Kuno, Abad Pertengahan melalui Renaisance dan Aufklaerung hinga. di jaman modemkon
temporer sekarang ini dapat kita jadikan metode berfikir, atau "mitra dialog" yang selalu hadir di
dalam kita menggali dan menerapkan ilmu.
Denggan memahami nilai nilai filsafati maka cakrawala. wawasan ilmiah kita akan
diperluas dan diperdalam sedemikian rupa sehingga tanpa harus menjadi seorang,
filsuf akan menjadikan diri kita sebagai ilmuwan

atau sajana yng arif, terhindar

dari kecongkakan inteleltual tidak hanyut dalam biduk tradisi yang, memandang,
ilmu hanva sebagai produk