Anda di halaman 1dari 9

PENGELOLAANLINGKUNGANHIDUPDALAMPERSPEKTIFISLAM

A.

Pandangan Islam tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup


Dalam pandangan Islam, manusia ialah makhluk terbaik diantara semua
ciptaan Tuhan dan berani memegang tanggungjawab mengelola bumi, maka
semua yang ada di bumi diserahkan untuk manusia. Oleh karena itu manusia
diangkat menjadi khalifah di muka bumi. Sebagai makhluk terbaik, manusia
diberikan beberapa kelebihan diantara makhluk ciptaan-Nya, yaitu kemuliaan,
diberikan fasilitas di daratan dan lautan, mendapat rizki dari yang baik-baik,
dan kelebihan yang sempurna atas makhluk lainnya.
Bumi dan semua isi yang berada didalamnya diciptakan Allah untuk
manusia, segala yang manusia inginkan berupa apa saja yang ada di langit dan
bumi. Daratan dan lautan serta sungai-sungai, matahari dan bulan, malam dan
siang, tanaman dan buah-buahan, binatang melata dan binatang ternak.
Sebagai khalifah di bumi, manusia diperintahkan beribadah kepada-Nya dan
diperintah berbuat kebajikan dan dilarang berbuat kerusakan. Selain konsep
berbuat kebajikan terhadap lingkungan yang disajikan Al-Quran seperti
dipaparkan
di
atas,
Rasulullah
SAW
memberikan
teladan
untuk
mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat diperhatikan
dari Hadist-Hadist Nabi, seperti Hadist tentang pujian Allah kepada orang yang
menyingkirkan duri dari jalan; dan bahkan Allah akan mengampuni dosanya,
menyingkirkan gangguan dari jalan ialah sedekah, sebagian dari iman,dan
merupakan perbuatan baik.
Di samping itu Rasulullah melarang merusak lingkungan mulai dari
perbuatan yang sangat kecil dan remeh seperti melarang membuang kotoran
(manusia) di bawah pohon yang sedang berbuah, di aliran sungai, di tengah
jalan, atau di tempat orang berteduh. Rasulullah juga sangat peduli terhadap
kelestarian satwa, sebagaimana diceritakan dalam Hadist riwayat Abu Dawud.
Rasulullah pernah menegur salah seorang sahabatnya yang pada saat
perjalanan, mereka mengambil anak burung yang berada di sarangnya. Karena
anaknya dibawa oleh salah seorang dari rombongan Rasulullah tersebut, maka
sang induk terpaksa mengikuti terus kemana rombongan itu berjalan. Melihat
yang demikian, Rasulullah lalu menegur sahabatnya tersebut dengan
mengatakan siapakah yang telah menyusahkan induk burung ini dan
mengambil anaknya? Kembalikan anak burung tersebut kepada induknya!.
B.
Kewajiban Umat Islam dan Upaya Pemerintah dalam Pelestarian
Lingkungan Hidup
Dalam berinteraksi dan mengelola alam serta lingkungan hidup itu,
manusia mengemban tiga amanat dari Allah. Pertama, al-intifa. Allah
mempersilahkan kepada umat manusia untuk mengambil manfaat dan
mendayagunakan hasil alam dengan sebaik-baiknya demi kemakmuran dan
kemaslahatan. Kedua, al-itibar. Manusia dituntut untuk senantiasa memikirkan

dan menggali rahasia di balik ciptaan Allah seraya dapat mengambil pelajaran
dari berbagai kejadian dan peristiwa alam. Ketiga, al-islah. Manusia diwajibkan
untuk terus menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan itu.
Dengan semangat mengemban dan melaksanakan amanat di atas, yaitu
menjaga, memelihara dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di alam
semesta ini, termasuk sumber daya hutan, Departemen Kehutanan mencoba
dan berusaha merangkul semua pihak untuk berperan secara bersama-sama
dalam pembangunan kehutanan. Kegiatan ini dapat berupa social forestry,
hutan kemasyarakatan, Pengelolaan Hutan Bresama Rakyat, Hutan rakyat, dan
manajemen Kolaboratif di Hutan Konservasi, GERHAN, Kecil Menanam Dewasa
Memanen (KMDM), dan lain-lain yang berupaya memberikan peran sebesarbesarnya kepada masyarakat.
Peran serta masyarakat kegiatan penanaman untuk penghijauan dan
perbaikan lingkungan hidup searah dengan tujuan Gerakan Rehabilitasi Hutan
dan Lahan (GERHAN). Gerakan ini diharapkan mendapat dukungan dari seluruh
lapisan masyarakat, mulai dari kelompok masyarakat yang termuda, hingga
orang dewasa serta kaum tua. Untuk menarik minat serta menumbuhkan
budaya menanam sejak usia dini, Departemen Kehutanan telah mencanangkan
kegiatan , Kecil Menanam Dewasa Memanen (KMDM) dalam rangka mendukung
Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN) itu. Kegiatan ini akan
melibatkan anak-anak usia sekolah dari SD dan Madrasah Ibtidaiyah di seluruh
Indonesia dan telah mendapat dukungan dari lembaga-lembaga pendidikan
tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Sebagai bagian dari proses pendidikan
serta dalam rangka mensukseskan GERHAN dan KMDM itu telah dan akan terus
dilakukan penghijauan dengan penanaman pohon di lingkungan Pondok
Pesantren, baik di pulau Jawa maupun di daerah lainnya di Indonesia.
Departemen Kehutanan berupaya merangkul berbagai pihak untuk terus
melakukan rehabilitas dan konservasi hutan dan lahan. Kesepakatan kerjasama
penanaman telah dilakukan dengan berbagai lembaga pendidikan , pesantren
dan organisasi sosial, diantaranya dengan Pondok Tebu Ireng, Gontor, Pengurus
As-Syafiiyyah, PBNU, PP Muhammadiyah, PERSIS, PSII, BKPRMI, dan organisasi
sosial kemasyarakatan lainnya.
C.

Perintah menjaga kelestarian dalam Islam


Lingkungan merupakan bagian dari integritas kehidupan manusia.
Sehingga lingkungan harus dipandang sebagai salah satu komponen ekosistem
yang memiliki nilai untuk dihormati, dihargai, dan tidak disakiti, lingkungan
memiliki nilai terhadap dirinya sendiri. Integritas ini menyebabkan setiap
perilaku manusia dapat berpengaruh terhadap lingkungan disekitarnya.
Perilaku positif dapat menyebabkan lingkungan tetap lestari dan perilaku
negatif dapat menyebabkan lingkungan menjadi rusak. Integritas ini pula yang
menyebabkan manusia memiliki tanggung jawab untuk berperilaku baik
dengan kehidupan di sekitarnya. Kerusakan alam diakibatkan dari sudut

pandang manusia yang anthroposentris, memandang bahwa manusia adalah


pusat dari alam semesta. Sehingga alam dipandang sebagai objek yang dapat
dieksploitasi hanya untuk memuaskan keinginan manusia, hal ini telah
disinggung oleh Allah SWT dalam Al Quran surah Ar Ruum ayat 41:

Artinya : Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena


perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka
sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan
yang benar).
Luas hutan di Indonesia adalah sebesar 120,35 juta hektar, terdiri dari
hutan produksi 66,35 juta hektar, hutan lindung 33,50 juta hektar, hutan
konservasi 20,50 juta hektar. Penutupan vegetasi di dalam kawasan hutan
mencapai 88 juta hektar (Sinar Harapan, 2008). Tutupan hutan di Indonesia
memiliki luas sebesar 130 juta hektar, menurut World Reseach Institute
(sebuah lembaga think tank di Amerika Serikat), 72 persen hutan asli Indonesia
telah hilang, berarti sisa luasan hutan Indonesia hanya sebesar 28 persen.
Kemudian data Departemen Kehutanan sendiri mengungkapan bahwa 30 juta
hektar hutan di Indonesia telah rusak parah, atau sebesar 25 persen(Khofid,
2004). Data-data ini menunjukan bahwa kerusakan lingkungan yang
diakibatkan oleh perilaku manusia, telah mencapai tingkat yang parah.
Sehingga berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan pendidikan lingkungan
untuk mengubah sudut pandang dan perilaku manusia.
D.

Prinsip prinsip dalam mengelola lingkungan Hidup


Ada beberapa prinsip-prinsip yang harus dipenuhi saat manusia
berinteraksi dengan lingkungan hidup. Prinsip-prinsip ini terbuka untuk
dikembangkan lebih lanjut. Berikut adalah prinsip-prinsip yang dapat menjadi
pegangan dan tuntunan bagi perilaku manusia dalam berhadapan dengan
alam, baik perilaku terhadap alam secara langsung maupun perilaku terhadap
sesama manusia yang berakibat tertentu terhadap alam:
1.
Sikap Hormat terhadap Alam (Respect For Nature)
Di dalam Al Quran surat Al-Anbiya 107, Allah SWT berfirman:

Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi
semesta alam.

Rahmatan lil alamin bukanlah sekedar motto Islam, tapi merupakan


tujuan dari Islam itu sendiri. Sesuai dengan tujuan tersebut, maka sudah
sewajarnya apabila Islam menjadi pelopor bagi pengelolaan alam dan
lingkungan sebagai manifestasi dari rasa kasih bagi alam semesta tersebut.
Selain melarang membuat kerusakan di muka bumi, Islam juga mempunyai
kewajiban untuk menjaga lingkungan dan menghormati alam semesta yang
mencakup jagat raya yang didalamya termasuk manusia, tumbuhan, hewan,
makhluk hidup lainnya, serta makhluk tidak hidup.
Hormat terhadap alam merupakan suatu prinsip dasar bagi manusia
sebagai bagian dari alam semesta seluruhnya. Seperti halnya, setiap anggota
komunitas sosial mempunyai kewajiban untuk menghargai kehidupan bersama
(kohesivitas sosial), demikian pula setiap anggota komunitas ekologis harus
menghargai dan menghormati setiap kehidupan dan spesies dalam komunitas
ekologis itu, serta mempunyai kewajiban moral untuk menjaga kohesivitas dan
integritas komunitas ekologis, alam tempat hidup manusia ini. Sama halnya
dengan setiap anggota keluarga mempunyai kewajiban untuk menjaga
keberadaan, kesejahteraan, dan kebersihan keluarga, setiap anggota
komunitas ekologis juga mempunyai kewajiban untuk menghargai dan menjaga
alam ini sebagai sebuah rumah tangga.
2.
Prinsip Tanggung Jawab (Moral Responsibility For Nature)
Terkait dengan prinsip hormat terhadap alam di atas adalah tanggung
jawab moral terhadap alam, karena manusia diciptakan sebagai khalifah
(penanggung jawab) di muka bumi dan secara ontologis manusia adalah
bagian integral dari alam. Sesuai dengan firman Allah dalam surah al Baqarah :
30

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya


Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.
Kenyataan ini saja melahirkan sebuah prinsip moral bahwa manusia
mempunyai tanggung jawab baik terhadap alam semesta seluruhnya dan
integritasnya, maupun terhadap keberadaan dan kelestariannya Setiap bagian
dan benda di alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan dengan tujuannya
masing-masing, terlepas dari apakah tujuan itu untuk kepentingan manusia
atau tidak. Oleh karena itu, manusia sebagai bagian dari alam semesta,

bertanggung jawab pula untuk menjaganya.


3.
Solidaritas Kosmis (Cosmic Solidarity)
Terkait dengan kedua prinsip moral tersebut adalah prinsip solidaritas.
Sama halnya dengan kedua prinsip itu, prinsip solidaritas muncul dari
kenyataan bahwa manusia adalah bagian integral dari alam semesta. Lebih
dari itu, dalam perspektif ekofeminisme, manusia mempunyai kedudukan
sederajat dan setara dengan alam dan semua makhluk lain di alam ini.
Kenyataan ini membangkitkan dalam diri manusia perasaan solider, perasaan
sepenanggungan dengan alam dan dengan sesama makhluk hidup lain.
4.
Prinsip Kasih Sayang dan Kepedulian terhadap Alam (Caring
For Nature)
Sebagai sesama anggota komunitas ekologis yang setara, manusia
digugah untuk mencintai, menyayangi, dan melestarikan alam semesta dan
seluruh isinya, tanpa diskriminasi dan tanpa dominasi. Kasih sayang dan
kepedulian ini juga muncul dari kenyataan bahwa sebagai sesama anggota
komunitas ekologis, semua makhluk hidup mempunyai hak untuk dilindungi,
dipelihara, tidak disakiti, dan dirawat. Sebagaimana dimuat dalam sebuah
Hadis shahih yang diriwayatkan oleh Shakhihain:
Dari Anas radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,
Tidak seorang pun muslim yang menanam tumbuhan atau bercocok tanam,
kemudian buahnya dimakan oleh burung atau manusia atau binatang ternak,
kecuali yang dimakan itu akan bernilai sedekah untuknya.
Dalam hadis lain dijelaskan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam
bersabda, Jauhilah dua perbuatan yang mendatangkan laknat! Sahabatsahabat bertanya, Apakah dua perbuatan yang mendatangkan laknat itu?
Nabi menjawab, Orang yang buang air besar di jalan umum atau di tempat
berteduh manusia
E.

Tanggung Jawab Terhadap Lingkungan


Islam adalah Diin yang Syaamil (Integral), Kaamil (Sempurna) dan
Mutakaamil (Menyempurnakan semua sistem yang lain), karena ia adalah
sistem hidup yang diturunkan oleh Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana,
hal ini didasarkan pada firman ALLAH SWT : Pada hari ini Aku sempurnakan
bagimu agamamu dan AKU cukupkan atasmu nikmatku, dan Aku ridhai Islam
sebagai aturan hidupmu. (QS. 5 : 3).
Oleh karena itu aturan Islam haruslah mencakup semua sisi yang dibutuhkan
oleh manusia dalam kehidupannya. Demikian tinggi, indah dan terperinci
aturan Sang Maha Rahman dan Rahim ini, sehingga bukan hanya mencakup
aturan bagi sesama manusia saja, melainkan juga terhadap alam dan
lingkungan hidupnya.

Pelestarian alam dan lingkungan hidup ini tak terlepas dari peran manusia,
sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana yang disebut dalam QS AlBaqarah: 30 (Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,
Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.). Arti khalifah di sini adalah:
seseorang yang diberi kedudukan oleh Allah untuk mengelola suatu wilayah,
ia berkewajiban untuk menciptakan suatu masyarakat yang hubungannya
dengan Allah baik, kehidupan masyarakatnya harmonis, dan agama, akal dan
budayanya terpelihara. Di samping itu, Surat Ar-Rahman, khususnya ayat 112, adalah ayat yang luar biasa indah untuk menggambarkan penciptaan alam
semesta dan tugas manusia sebagai khalifah.
Ayat ini ditafsirkan secara lebih spesifik oleh Sayyed Hossein Nasr, dosen studi
Islam di George Washington University, Amerika Serikat. dalam dua bukunya
Man and Nature (1990) dan Religion and the Environmental Crisis (1993),
yaitu :
Man therefore occupies a particular position in this world. He is at the axis
and centre of the cosmic milieu at once the master and custodian of nature. By
being taught the names of all things he gains domination over them, but he is
given this power only because he is the vicegerent (khalifah.) of God on earth
and the instrument of His Will. Man is given the right to dominate over nature
only by virtue of his theomorphic make up, not as a rebel against heaven.
Jelaslah bahwa tugas manusia, terutama muslim/muslimah di muka bumi
ini adalah sebagai khalifah (pemimpin) dan sebagai wakil Allah dalam
memelihara bumi (mengelola lingkungan hidup).Allah telah memberikan
tuntunan dalam Al-Quran tentang lingkungan hidup. Karena waktu perenungan,
hanya beberapa dalil saja yang diulas sebagai landasan untuk merumuskan
teori tentang lingkungan hidup menurut ajaran Islam.
Dua dalil pertama Bersumber pada Surat Al Anam 101 dan Al Baqarah 30.
a. Dalil pertama adalah: Allah pencipta langit dan bumi (alam semesta) dan
hanya Dialah sumber pengetahuannya.
b. Dalil kedua menyatakan bahwa manusia diciptakan untuk menjadi khalifah
di muka bumi ini. Perlu dijelaskan bahwa menjadi khalifah di muka bumi itu
bukan sesuatu yang otomatis didapat ketika manusia lahir ke bumi. Manusia
harus membuktikan dulu kapasitasnya sebelum dianggap layak untuk menjadi
khafilah. Seperti halnya dalil pertama,
c. Dalil ke tiga ini menyangkut tauhid. Hope dan Young (1994) berpendapat
bahwa tauhid adalah salah satu kunci untuk memahami masalah lingkungan
hidup. Tauhid adalah pengakuan kepada ke-esa-an Allah serta pengakuan
bahwa Dia-lah pencipta alam semesta ini. Perhatikan firman Allah dalam Surat
Al Anaam 79: Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang
menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar,
dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan

d. Dalil ke empat adalah mengenai keteraturan sebagai kerangka penciptaan


alam semesta seperti firman Allah dalam Surat Al Anaam, dengan arti sebagai
berikut, Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan
mengadakan gelap dan terang..
e. Dalil ke lima dapat ditemukan dalam Surat Hud 7 yang menjelaskan
maksud dari penciptaan alam semesta, Dan Dia-lah yang menciptakan langit
dan bumi dalam enam masa,.Dia menguji siapakah diantara kamu yang lebih
baik amalnya.
Itulah salah satu tujuan penciptaan lingkungan hidup yaitu agar manusia dapat
berusaha dan beramal sehingga tampak diantara mereka siapa yang taat dan
patuh kepada Allah.
f. Dalil ke enam adalah kewajiban bagi manusia untuk selalu tunduk kepada
Allah sebagai maha pemelihara alam semesta ini. Perintah ini jelas tertulis
dalam Surat Al Anaam 102 yaitu, ..Dialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan
selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah
pemelihara segala sesuatu
g. Dalil ke tujuh adalah penjabaran lanjut dari dalil kedua yang mewajibkan
manusia untuk melestarikan lingkungan hidup. Adapun rujukan dari dalil ini
adalah Surat Al Araaf 56 diterjemahkan sebagai berikut;
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah)
memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya..
h. Dalil ke delapan mengurai tugas lebih rinci untuk manusia, yaitu menjaga
keseimbangan lingkungan hidup, seperti yang difirmankanNya dalam surat Al
Hijr 19, Dan kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya
gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut
ukuran.
i. Dalil ke sembilan menunjukkan bahwa proses perubahan diciptakan untuk
memelihara keberlanjutan (sustainability) bumi. Proses ini dikenal dalam
literatur barat sebagai: siklus Hidrologi.
Dalil ini bersumber dari beberapa firman Allah seperti Surat Ar Ruum 48, Surat
An Nuur 43, Surat Al Araaf 57, Surat An Nabaa 14-16, Surat Al Waaqiah 6870, dan beberapa Surat/Ayat lainnya. Penjelasan mengenai siklus hidrologi
dalam berbagai firman Allah merupakan pertanda bahwa manusia wajib
mempelajarinya. Perhatikan isi Surat Ar Ruum: 48 dengan uraian siklus
hidrologi berikut ini. Hujan seharusnya membawa kegembiraaan karena
menyuburkan tanah dan merupakan sumber kehidupan.

Surat Ar Ruum 48 --> Siklus hidrologi


Mencakup proses evaporasi, kondensasi, hujan, dan aliran air ke
sungai/danau/laut, Al-Quran dengan sangat jelas menjabarkannya. Evaporasi,
adalah naiknya uap air ke udara. Molekul air tersebut kemudian mengalami
pendinginan yang disebut dengan kondensasi. Kemudian terjadi peningkatan
suhu udara, yang menciptakan hujan. Air hujan tersebut menyuburkan bumi
dan kemudian kembali ke badan air (sungai, danau atau laut.
Ini dengan jelas digambarkan dalam Al-Quran surat ar-Ruum:48 yang
berbunyi;
Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan
Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan
menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celahcelahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hambahamba-Nya yang
dikehendakinya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.
Sebagai khalifah, sudah tentu manusia harus bersih jasmani dan rohaninya.
Inilah inti dari dalil ke sepuluh bahwa kebersihan jasmani merupakan bagian
integral dari kebersihan rohani.
Merujuk pada Surat Al-Baqarah 222; .sesungguhnya Allah senang kepada
orang yang bertobat, dan senang kepada orang yang membersihkan diri.
Serta Surat Al-Muddatstsir 4-5; ..dan bersihkan pakaianmu serta tinggalkan
segala perbuatan dosa.
Meski slogan yang dikenal umum seperti kebersihan adalah sebagian dari
iman, banyak diakui sebagai hadis dhaif, namun demikian, Rasulluah S.A.W.
bersabda bahwa iman terdiri dari 70 tingkatan: yang tertinggi adalah
pernyataan tiada Tuhan selain Allah dan yang terendah adalah menjaga
kerbersihan. Jadi, memelihara lingkungan hidup adalah menjadi bagian integral
dari tingkat keimanan seseorang. Khususnya beragama Islam.
Mengutip disertasi Abdillah (2001), Surat Luqman ayat 20 Allah berfirman,
Tidakkah kau cermati bahwa Allah telah menjadikan sumber daya alam dan
lingkungan sebagai daya dukung lingkungan bagi kehidupanmu secara
optimum. Entah demikian, masih saja ada sebagian manusia yang
mempertanyakan kekuasaan Allah secara sembrono. Yakni mempertanyakan
tanpa alasan ilmiah, landasan etik dan referensi memadai. Selain itu, Abdillah
juga mengutip bahwa manusia harus mempunyai ketajaman nalar, sebagai
prasyarat untuk mampu memelihara lingkungan hidup. Hal ini bisa dilihat Surat
Al Jaatsiyah 13 sebagai berikut; Dan Allah telah menjadikan sumber daya
alam dan lingkungan sebagai daya dukung lingkungan bagi kehidupan
manusia. Yang demikian hanya ditangkap oleh orang-orang yang memiliki daya
nalar memadai.
Dalil-dalil di atas adalah pondasi dari teori pengelolaan lingkungan hidup
yang dikenal dengan nama Teorema Alim yang dirumuskan sebagai berikut:

Misi manusia sebagai khalifah di muka bumi adalah memelihara lingkungan


hidup, dilandasi dengan visi bahwa manusia harus lebih mendekatkan diri pada
Allah. Perangkat utama dari misi ini adalah kelembagaan, penelitian, dan
keahlian. Adapun tolok ukur pencapaian misi ini adalah mutu lingkungan.
Berdasarkan Teorema Alim ini, kerusakan lingkungkan adalah cerminan
dari turunnya kadar keimanan manusia.
Dalam Islam, manusia mempunyai peranan penting dalam menjaga
kelestarian alam (lingkungan hidup). Islam merupakan agama yang
memandang lingkungan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keimanan
seseorang terhadap Tuhannya, manifestasi dari keimanan seseorang dapat
dilihat dari perilaku manusia, sebahai khalifah terhadap lingkungannya. Islam
mempunyai konsep yang sangat detail terkait pemeliharaan dan kelestarian
alam (lingkungan hidup).