Anda di halaman 1dari 9

UPAYA BANGSA INDONESIA

DALAM MEMPERTAHANKAN
PERSATUAN DAN KESATUAN

MARTIA PUTRI GITRIN


XI IPA 6 / 22

UPAYA BANGSA INDONESIA DALAM MEMPERTAHANKAN


PERSATUAN DAN KESATUAN
GEJOLAK SOSIAL DI
BERBAGAI DAERAH PADA
AWAL KEMERDEKAAN
HINGGA TAHUN 1965

yaitu

Gerakan DI/TII
Pemberontakan PKI Madiun 1948
Gerakan Angkatan Perang Ratu Adil
Pemberontakan Andi Azis
Gerakan Republik Maluku Selatan (RMS)
Gerakan PRRI PERMESTA

puncaknya adalah
Peristiwa G 30 S / PKI

dilihat dari

Latar
Belakang

Kronologis

Beberapa
Pendapat

Dampak
Sosial Politik

A. GEJOLAK SOSIAL DI BERBAGAI DAERAH PADA AWAL


KEMERDEKAAN HINGGA TAHUN 1965
Berbagai Gerakan Gangguan Keamanan di Dalam Negeri.
Pada masa Pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS), tidak sedikit
persoalan yang dihadapi oleh pemerintah dan rakyat Indonesia. Sebagai negara yang
baru merdeka, bangsa Indonesia harus menghadapi rongrongan, baik dari luar
maupun dari dalam negeri baik yang bersifat ideologis, petualangan / kepentingan
pribadi golongan, maupun berasal dari golongan-golongan yang takut kehilangan
hak-haknya bila Belanda meninggalkan Indonesia.
Gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII)
Salah satu gangguan keamanan yang dihadapi bangsa Indonesia berasal dari
kelompok yang menamakan dirinya Darul Islam. Kelompok ini dipimpin oleh
Sekarmadji Maridjan Kartisuwirjo. Tujuan gerakan ini ingin mendirikan Negara
Islam Indonesia (NII) dengan kekuatan senjata. Oleh karena itu, dibentuk juga
pasukan bersenjatayang dinamakan Tentara Islam Indonesia.
Pemberontakan DI/TII berawal di Jawa Barat dan terus meluas sampai ke
Jawa Tengah, Aceh, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan. Para pemimpinnya,
selain S.M Kartosuwirjo(Jawa Barat), terdapat juga Amir Fatah (Jawa Tengah), Dauh
Beureueh (Aceh), Kahar Muzakkar (Sulawesi Selatan), dan Ibnu Hadjar (Kalimantan
selatan).
Jawa Barat
Pemimpin : Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo
Sebab munculnya : Pemberontakan DI/TII di Jawa barat berawal dengan
ditandatanganinya Persetujuan Renville pada 17 Januari 1948. Akibat
Persetujuam Renville, pemerintah RI harus mengakui kedaulatan Belanda
atas wilayah-wilayah yang dikuasainya sampai terbentuk Republik
Indonesia Serikat (RIS). Sejak saat itu pasukan DI/TII muali mengacaukan
Jawa Barat dan tidak sedikit rakyat yag menjadi korban. Pasukan DI/TII
secara paksa menarik sumbangan dari rakyat dan bahkan mendatangi
rumah-rumah penduduk dan mengambil harta benda secara paksa. Gerakan
DI/TII menggunakan taktik gerilya dalam menghadapi serangan pasukan
pemerintah.
Cara penumpasan : Untuk menghadapi gerakan DI/TII ini, pemerintah
bekerja sama dengan rakyat. Dijalankanlah taktik dan strategi baru yang
disebut perang wilayah. Pada tanggal 1 April 1962, dilancarkan Operasi
Brata Yudha, yaitu operasi penumpasan gerakn DI/TII Kartosuwirjo.
Akibatnya pasukan DI/TII semakin terdesak dan menyerahkan diri. Pada
tanggal 4 Juni 1962, S.M Kartosuwirjo beserta para pengikutnya tertangkap
di daerah Majalaya. Setelah diadili pada Agustus 1962, akhirnya pimpinan
DI/TII menjalani hukuman mati dihadapan regu tembak dari keempat
angkatan bersenjata RI.
Jawa Tengah
Pemimpin : Amir Fatah (pernah diberi pangkat Mayor Jenderal TII oleh
Karosuwirjo) dan Kyai Somalangu
Sebab munculnya : Pada saat terjadi Agresi Militer Belanda II, Amir Fattah
bekerjasama dengan TNI. Ia bertugas menggabungkan lascar-laskar dengan
TNI yang membuat ia berkenalan dengan anggota lascar. Namun, ia berbalik
arah, pada tanggal 23 Agustus 1949, ia memproklamasikan berdirinya Darul
Islam dan bergabung dengan DI/TII S.M. Kartosiwiryo. Pasukannya
dinamakan Tentara Islam Indonesia (TII) atau Batalion Syarif Hidayat
Widjaya Kusuma (SHWK). Sedangkan di Tegal-Brebes, di daerah selatan
(Kebumen), Kyai Sumolangu jugan mendirikan gerakan DI/TII untuk
mendirikan negara Islam.

Cara penumpasan : Pada tahun 1954, gerakan ini dilumpuhkan oleh TNI
melalui operasi Guntur.
Sulawesi Selatan
Pemimpin : Kahar Muzakkar
Sebab munculnya : keinginan kuat Kahar Muzakkar untuk menempatkan
laskar-laskar rakyat Sulawesi Selatan ke dalam lingkungan APRIS
(Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat)
Ia juga berkeinginan untuk menjadi pimpinan APRIS di daerah Sulawesi
Selatan. Hal tersebut dilakukan karena sebelumnya Kahar Muzakkar
beserta pasukannya adalah pejuang-pejuang dalam memperjuangkan
kemerdekaan Indonesia. Selama perang kemerdekaan Kahar Muzakkar
aktif berjuang Di Pulau Jawa. Pada tanggal 30 April 1950 Kahar Muzakkar
mengirim surat kepada pemerintah pusat yang menyatakan agar semua
anggota KGSS dimasukkan ke dalam APRIS. Kahar Muzakkar juga
mengusulkan pembenttukan Brigade Hasanuddin. Sebelumnya, pemerintah
teah menetapkan bahwa yang diterima menjadi pasukan APRIS adalah
mereka yang memenuhi bebrapa persyaratan yang telah ditentukan.
Permintaan Kahar Muzakkar ditolak oleh pemerintah pusat. Untuk
menghindari hal-hal yang tidak diinginkan maka pemerintah pusat bersama
pimpinan APRIS mengeluarkan kebijakan dengan memasukkan semua
anggota KGSS ke dalam Corps Tjadangan Nasional. Kahar Muzakkar
sebagai pimpinan bersama dengan pangakt letnan kolonel.
Kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat tidak ditanggapi oleh
Kahar Muzakkar. Akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1951, Kahar
Muzakkar dengan pasukannya melarikan diri ke hutan. Pada tahun 1952, ia
menyatakan wilayah Sulawesi Selatan menjadi bagian dari Negara Islam
Indonesia pimpinan Kartosuwirjo di Jawa Barat.
Cara penumpasan : Pemerintah melancarkan operasi militer ke Sulawesi
Selatan yang memakan waktu lebih dari 14 tahun. Penyebab lamanya
menumpas gerakan ini antara lain sebagai berikut:
1. Rasa kesukuan yang ditanamkan oleh gerombolan ini berakar di hati
rakyat.
2. Kahar Muzakkar mengenal sifat-sifat rakyat setempat.
3. Kahar Muzakkar fan gerombolannya dapat memanfaatkan lingkungan
alam yang sudah sangat dikenalinya.
Meskipun pemeritah Indonesia mengalami kesuiltan dalam mengahadapi
gerakan Kahar Muzakkar, namun akhirnya pada 3 Februari 1965 Kahar
Muzakkar dapat ditangkap dengan para pengikutnya.
Aceh
Pemimpin : Daud Beureueh
Sebab munculnya : Daud Beureueh adalah gubernur militer pada masa
perang kemerdekaan. Memang diakui bahwa Aceh telah memberikan
banyak sumbangan kepada Republik Indonesia sehingga pada tahun
1949 Aceh diberi status Daerah Istimewa. Setelah perang
kemerdekaan usai dan negara kita kembali ke dalm bentuk negara
kesatuan pada tahun 1950, daerah Aceh yang sebelumnya menjadi
daerah istimewa diturunkan statusnya menjadi daerah karesidenan di
bawah Provinsi Sumatra Utara. Kebijakan pemerintah tersebut
ditentang oleh Daud Beureueh.
Pada tanggal 21 September 1953 Daud Beureueh mengeluarkan
maklumat tentang penyatuan Aceh ke dalam NII pimpinan
Kartosuwirrjo. Daud Beureueh mempunyai banyak pengaruh di Aceh,
sehingga banyak tokoh rakyat Aceh yang membantu gerakan

itu.namun ada pula sebagian dari masyarakat Aceh yang tidak


menyetujui gerakan yang dilakukan Daud Beureueh.
Cara penumpasan : Pemerintah berusaha untuk mengatasi masalah
tersebut dengan berbagai cara,baik dengan jalan damai maupun
dengan kekuatan senjata. Jalan damai dilakukan pemerintah dengan
cara memberikan penerangan hidup terhadap masyarakat. Pada
tanggal 17-28 Desember 1962, diselenggarakan Musyawarah
Kerukunan Rakyat Aceh. Musyawarah itu diselenggarakan atas
inisiatif Kolonel Jasin, Pangdam 1 , dan tokoh-tokoh pemerintah
daerah. Melalui musyawarah itu akhirnya dapat tercapai penyelesaian
secara damai.
Kalimantan Selatan
Pemimpin : mantan Letnan Dua TNI yang bernama Ibnu Hadjar alias
Haderi alias Angli
Sebab munculnya : Pada akhir tahun 1950, Kesatuan Rakyat Jang
Tertindas (KRJT) melakukan penyerangan ke pos-pos TNI di
Kalimantan Selatan. Pemeintah RI masih memberi kesempatan
anggota gerakan ini untuk menyerahkan diri secara baik-baik. Akan
tetapi, setelah merasa kuat dan memperoleh peralatan perang, ia
kembali membuat kekacauan dengan bantuan Kahar Muzakkar dan
Kartosuwirjo.Pada tahun 1954, Ibnu Hadjar diangkat sebagai
Panglima TII wilayah Kalimantan.
Cara penumpasan : Akhirnya TNI menggunakan operasi militer untuk
menumpas gerakan tersebut. Pada tahun 1959, Ibnu Hadjar berhasil
ditangkap dan pada 22 Maret 1965, ia dijatuhi hukuman mati.
Pemberontakan PKI Madiun 1948
Pemimpin : Musso
Sebab munculnya : Setelah jatuhnya Kabinet Amir Sjarifudin,
Presiden Soekarno menunjuk Drs.Mohammad Hatta sebagai formatur
kabinet. Kabinet ini memerintah dari 29 Januari 1948 - 4 Agustus
1949. Kabinet yang tanpa anggota golongan kiri ini (sosialis-komunis)
mempunyai prigram sebagia berikut:
1. Melaksanakan Persetujuan Renville
2. Mempercepat terbentuknya Negara Republik Indonesia Serikat (RIS)
3. Melaksanakan rasionalisasi dan pembangunan dalam negeri.
Untuk meneruskan perundingan dengan Belanda, pemerintahan Hatta
menunjuk Mr.Mohammad
Roem sebagai ketua delegasi RI.
Sementara perundingan sedang berlangsung Kabinet Hatta dirongrong
oleh kegiatan politik dari Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang
dibentuk pada 28 Juni 1948 oleh kelompok Amir Sjarifudin.
Pada Agustus 1948, tokoh kawakan PKI yang bermukim di Moskow
sejak 1926, Musso, kembali ke Indonesia. Musso membawa kebijakan
Jalan Baru Musso bagi PKI dan menentang kebijaksanaan kabinet
Hatta yang dianggapnya lebih menjual bangsa Indonesia kepada pihak
inperialis/kapitalis Belanda.
Pada tanggal 18 September 1948, FDR/PKI mengambil alih
kekuasaan di Madiun, FDR/PKI lalu memproklamasikan berdirinya
Republik Soviet Indonesia. Selain di Madiun, PKI juga berhasil
membentuk pemerintahan baru di Pati. Pada waktu yang sama Musso
menyerang pemerintahan dengan mengatakan bahwa Soekarno-Hatta
telah menjalankan politik kapitulasi kepada Belanda dan Inggris, serta
hendak menjual tanah air kepada kapitalis.
Cara penumpasan : Pemerintah segera mengambil tindakan untuk
menumpas pemberontakan PKI itu dengan melancarkan Gerakan

Operasi Militer I.Pimpinan opersai penumpasan diserahkan kepada


Kolonel A.H. Nasution. Pada waktu itu, beliau menjabat sebagai
Panglima Markas Besar Komando Djawa (MBKD). Pada 30
September 1948, Madiun berhasil direbut kembali oleh TNI. Dalam
operasi itu, Musso berhasil ditembak mati. Sementara itu, Amir
Sjarifudin dan tokoh-tokoh lainnya dapat ditangkap dan dijatuhi
hukuman mati.
Gerakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA)
Pemimpin : Kapten Raymond Westerling
Sebab munculnya : mempertahankan kepentingan Belanda melalui
negara boneka ciptaannya dalam sistem negara federal.
Pada 23 Januari 1950, secara mendadak sekitar 800 orang anggota
pasukan APRA yang dipimpin oleh Kapten Westerling menyerbu kota
Bandung. Mereka membunuh setiap anggota TNI/APRIS yang
ditemui. Gerakan APRA ini juga berhasil menduduki kantor staf
Divisi Siliwangi yang pada pagi hari itu hanya dijaga oleh satu regu
pasukan di bawah pimpinan Letkol Lembong.
Cara penumpasan : Pemerintahan RIS segera mengirim pasukan
bantuan ke Bandung. Sementara itu, pemerintah RIS juga
mengadakan perundingan dengan komisaris tinggi Belanda di Jakarta.
Hasilnya, komandan pasukan Belanda mendesak Westerling untuk
meninggalkan Bandung. Pada sore hari itu juga, pasukan Angkatan
Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) bersama rakyat hingga
akhirnya dapat dilumpuhkan. Westerling sendiri berhasil
menyelamatkan diri. Pada Februari 1950, dengan menumpang kapal
Belanda, ia meninggalkan Indonesia menuju Malaya. Peristiwa APRA
ini menjadi salah satu penyebab dibubarkannya Negara Pasundan.
Pemberontakan Andi Azis
Pemimpin : Andi Azis
Sebab munculnya : Andi Aziz adalah kapten perwira KNIL yang
bersama pasukannya bergabung dengan APRIS pada 30 Maret 1950.
Komandan APRIS pada waktu uti adalah Letkol A.J Mokoginta.
Panglima Tentara dan Teritorium Indonesia Timur.
Pada waktu itu suasana semakin memanas karena rakyat yang anti
negara federal mengadakan demonstrasi untuk menuntut Negara
Indonesia Timur (NIT) dibubarkan dan bergabung kembali dengan RI.
Sedangkan rakyat yang setuju dengan negara federal mengadakan
demonstrasi balik. Suasana semakin memanas karena timbul su bahwa
batalyon pemimpin Mayor H.V. Worang dari Jawa akan ditempatkan
di Sulawesi Selatan. Andi Azis merasa kedudukannya terancam
dengan datangnya isu itu maka ia melancarkan serangan.
Cara penumpasan : Pasukan gabungan APRIS dikerahkan ke Sulawesi
Selatan dipimpin oleh Kolonel A.E. Kawilarang dibantu oleh para
perwira komandan pasukan, seperti Letkol Soeharto (mantan presiden
RI), Mayor H>V> Worang, Andi Mattalata, dan Letnan S> Sukowati.
Angkatan Laut mengerahkan kapal perang Hang Tuah, Banteng, dan
Rajawali. Angkatan udara membantu dengan beberapa pesawat
pembom B-25 Mitchell.
Pada tanggal 15 April 1950, Andi Aziz menyerah dan berangkat ke
Jakarta. Dengan hilangnya sang pimpinan, pasukan dan NIT
dibubarkan untuk melebur kembali ke dalam Negara Kesatuan RI.
Sementara itu, beberapa tokoh NIT yang tidak setuju dengan ide
pembubaran NIT bergabung dan mangadakan gerakan separatis
dengan membentuk negara sendiri yang disebut Republik Maluku
Selatan (RMS).

Gerakan Republik Maluku Selatan (RMS)


Pemimpin : Mr. Dr. Christian Robert Steven Soumokil, bekas Jaksa
Agung NIT
Sebab munculnya : Setelah NIT dibubarkan, Mr. Dr. Christian Robert
Steven Soumokil melarikan diri ke Ambon. Di Ambon terdapat bekas
anggota APRA yang juga dipindahkan ke sana. Pasukan ini berhasil
dihasut oleh sumokil. Ia menyebarkan gagasan pembentukan RMS
yang diproklamasikan pada 24 April 1950. Pada mulanya penumpasan
pemberontakan ini dilakukan secara damai, namun ditolak bahkan
Sumokil meminta bantuan pengakuan dari Belanda.
Cara penumpasan : Pemerintah RIS mulai mempersiapkan operasi
militer untuk menumpas gerakan separatis RMS, dipimpin oleh
Kolonel A.E Kawilarang. Serangan mulai ditujukan ke Pulau Buru
dan diteruskan ke Pulau Seram. RMS sendiri bermaksud memusatkan
kekuatkannya di Seram dan Ambon. Serangan APRIS ke Ambon
dibagi atas tiga kelompok, yaitu
Grup I dipimpin oleh Mayor Achmad Wiranatakusumah
Grup II dipimpin Letnan Kolonel Slamet Riyadi
Grup III dipimpin Mayor Surjo Subandrio
Pada 3 November 1950,pasukan APRIS mulai didaratkan di Ambon
dengan maksud untuk merebut Benteng Nieuw Victoria. Dalam
pertempuran jarak dekat di muka Benteng Nieuw Victoria, Letnan
Kolonel Slamet Riyadi tertembak dan gugur. Setelah melalui
pertempuran yang cukup sengit, kota Ambon akhirnya dapat dikuasai
dan perlawanan RMS dapat dihancurkan. Sisa-sisa gerakan RMS
sempat melarikan diri ke Pulau Seram, bahkan ke negeri Belanda.
Gerakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia/ perjuangan rakyat
Semesta (PRRI/PERMESTA)
Sebab munculnya : Di Sumatera Barat, keprihatinan melanda para
peserta reuni Dewan Banteng yang diadakan pada November 1956 di
Padang. Dalam reuni tersebut, peserta sepakat bahwa dalam proses
pembangunan,potensi dan kekayaan daeran akan digali semaksimal
mungkin berdasarkan otonomi daerah yang seluas-luasnya.
Mengenai pembentukan Dewan Gajah di Sumatera Utara, Kolonel
Simbolon menyatakan bahwa itu dipandang sangat kritis. Selain di
Sumatera Tengah dan Sumatera Utara, pergolakan juga terjadi di
Sumatera Selatan. Sekelompok golongan politik yang telah berhasil
mempengaruhi pimpinan militer setempat mencetuskan piagam
pembangunan sebagai wadah aspirasi daerah. Mereka kemudian
membentuk Dewan Garuda.
Selain di Sumatera, di wilayah Indonesia bagian timur, terjadi pula
pergolakan. Pada 2 Maret 1957, di Makassar Panglima Teritorium
VII, Letkol Ventje Sumual memproklamasikan Piagam Perjuangan
Rakyat Semesta (PERMESTA). Walaupun sudah diadakan MUNAS
dan munap, kondisi kehidupan politik tidak menjadi lebih baik.
Bahkan, terjadi usaha pembunuhan terhadap Presiden Soekarno ketika
menghadiri acara di perguruan Cikini, Jakarta, pada 30 November
1957.
Pada 15 Februari 1958, Achmad Husein memproklamasikan
Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dengan
Syarifudin Prawiranegara sebagai perdana menteri.
Cara penumpasan : Pemerintah bertindak tegas pada anggota
pemberontak. Selain itu juga dilakukan operasi militer gabungan yang
dinamakan Operasi Sapta Marga. Akhirnya pemerintah berhasil

menguasai wilayah yang dikuasai pemberontak. Selain itu,


penumpasan pemberontakan ini dilakuykan dengan perundinganperundingan. Akhirnya pada 22 Juni 1961, pemerintah memberikan
amnesty dan abolisi kepada para anggota dari gerakan
PRRI/PERMESTA yang kembali pada pemerintah RI.
B. PERISTIWA GERAKAN 30 SEPTEMBER 1965/PKI
LATAR BELAKANG PERISTIWANGERAKAN 30 SEPTEMBER 1965
Sejak D.N.Aidit, terpilih menjadi ketua PKI tahun1951, PKI mulai menyusun
program-program untuk bangkit kembali. Dalam rangka membina kader-kader PKI
dalam tubuh angkatan bersenjata,pada 1964, dibentuk Biro Khusus yang langsung di
bawah pimpinan D.N.Aidit.
NEKOLIM adalah kepanjangan dari Neo Kolonialisme dan Imperialisme.
PKI menyadari siapa yang paling berbahaya, yaitu Angkatan Darat. Oleh sebab itu,
PKI berusaha mengkambinghitamkan Angkatan Darat dengan beberapa aksi sepihak.
Sasaran utama aksi PKI selanjutnya adalah melenyapkan pucuk-pucuk pimpinan
Angkatan Darat.
KRONOLOGIS PERISTIWA GERAKAN 30 SEPTEMBER 1965/PKI
G30S PKI dipimpin oleh Komandan Batalyon I Resimen Cakrabirawa, Letkol
Untung Samsuri, dan melibatkan empat kompi pengawal kepresidenan. Gerakan 30
September 1965 didahului dengan penculikan enam orang perwira tinggi dan seorang
perwira pertama Angkatan Darat. Ketujuh perwira tersebut dibawa ke Lubang Buaya
yang pada saat itu dijadikan pusat gerakan PKI. Selain itu, Ade Irma Nasution, putri
Jenderal Nasution, ikut menjadi korban. Sebenarnya, ada tujuh perwira tingga
angkatan darat yang diculik saat itu. Namun, Menteri Kompartemen Hankam/Kepala
Staf ABRI Jenderal Abdul Haris Nasution berhasil meloloskan diri.
Dengan menggunakan unsur-unsur KOSTRAD yang ada di Jakarta dan
kesatuan militer yang masih setia, yakni Batalyon 328 Kujang/Siliwangi, Batalyon 2
Kavalen, dan Batalyon 1 Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD),
penumpasan G30S/PKI dimulai.
BEBERAPA PENDAPAT TENTANG TRAGEDI PEMBERONTAKAN
G30S/PKI
Banyaknya sumber yang menyatakan adanya perbedaan versi dalam
menceritakan satu bagian sejarah dari bangsa Indonesia ini telah banyak tersebar dn
menjadi wacana yang cukup kruisal. Polemik tentang Gerakan 30 September / PKI
sampai saat ini semakin banyak, tetapi semua itu harus diuji kebenarannya.
DAMPAK SOSIAL-POLITIK DARI PERISTIWA GERAKAN 30
SEPTEMBER 1965/PKI
Pemerintah membentuk badan Fact Finding Ammision KOTI yang bertugas
mengumpulkan data, keterangan, dan fakta mngenai peristiwa G 30 S /PKIdi
berbagai daerah di Indonesia.
Isi Deklarasi Mendukung Pancasila antara lain sebagai berikut.
1. Mendukung penggalangan persatuan dwitunggal antara elemen masyarakat
dan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dalam melaksanakan
dan mengamalkan Pancasila secara murni.
2. Menolak usaha-usaha pembelaan dari unsur apapun dan dalam bentuk apapun
terhadap Gerakan 30 September 1965/PKI
Isi Tritura adalah sebagi berikut
1. Bubarkan PKI
2. Pembersihan kabinet Dwikora dari unsur-unsur G30S/PKI
3. Turunkan harga dan perbaikan ekonomi
Pada tanggal 24 Februari 1966, para mentri hasi resuffle kabinet Dwikora
dilantik.saat itu, mahasiswa turun ke jalan untuk menolak pelantikan kabinet baru
tersebut. Dalam peristiwa ini, seorang demonstran Universitas Indonesia, Arif

Rahman Hakim gugur terkena peluru yan ditembakkan oleh Resimen


Cakrabirawa.