Anda di halaman 1dari 30

P E R P A J A K A N - II

SYARIEF ACHMAD
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL (UPN) VETERAN
JAKARTA

[ 01 ]

SUBJEK DAN OBJEK PAJAK


PENGHASILAN

SUBJEK PAJAK
Subjek Pajak Pajak Penghasilan adalah sesuatu yang mempuyai potensi untuk memperoleh penghasilan
dan menjadi sasaran untuk dikenakan Pajak Penghasilan .
Berdasar Pasal 2 ayat 1 UU No. 36 Tahun 2008, Subjek Pajak dikelompokkan sebagai berikut :
1.Orang Pribadi, dan Warisan yang belum dibagi
Orang pribadi sebagai subjek pajak dapat bertempat tinggal atau berada di Indonesia ataupun di luar
Indonesia
Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan merupakan subjek pajak pengganti, menggantikan
yang berhak, yaitu ahli waris
2.Badan
Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan
usaha maupun yang tidak melakukan usaha.
3.Bentuk usaha Tetap (BUT)
Bentuk Usaha Tetap merupakan subjek pajak yang perlakuan perpajakannya disamakan dengan subjek
pajak badan
Bentuk Usaha Tetap adaalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak
bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam
jangka waktu 12 bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia
untuk menjalankan usaha atau melakukakan kegiatan di Indonesia

SUBJEK PAJAK DALAM NEGERI


Subjek pajak orang pribadi dalam negeri menjadi wajib pajak apabila
telah menerima atau memperoleh penghasilan yang besarnya melebihi
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).
Subjek pajak badan dalam negeri menjadi wajib pajak sejak saat
didirikan, atau bertempat kedudukan di Indonesia
Subjek Pajak dalam negeri terdiri dari :
1. Orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau orang pribadi
yang berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam waktu 12 bulan
atau orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia
dan niat untuk bertempat tinggal di Indonesia
2. Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia, kecuali
unit tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria sebagai
berikut :
a) Pembentukannya berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan
b) Pembiayaannya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
c) Penerimaannya dimasukkan dalam Anggaran Pemerintah Pusat
atau Pemerintah Daerah
d) Pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan fungsional
negara
3. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan
yang berhak.
4

SUBJEK PAJAK LUAR NEGERI


Subjek pajak luar negeri baik orang pribadi maupun badan sekaligus
menjadi wajib pajak kaarenaa menerima dan/atau memperoleh
penghasilan yang bersumber dari Indonesia atau menerima dan/atau
memperoleh penghasilan yang bersumber dari Indonesia melalui bentuk
usaha tetap di Indonesia
Subjek Pajak luar negeri terdiri dari :
1. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi
yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam waktu 12
bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan
di Indonesia, yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan
melalui bentuk usaha tetap di Indonesia
2. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi
yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangkaa
waktu 12 bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat
kedudukan di Indonesia, bukan dari menjalankan usaha atau
melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia. Dalam
hal ini penghasilan diterima tanpa melalui bentuk usaha tetap, maka
pengenaan pajaknya dilakukan langsung kepada subjek pajak luar
negeri tersebut.
5

Perbedaan Wajib Pajak Dalam Negeri (WP DN) dengan Wajib Pajak Luar Negeri (WP
LN) :

KETERANGAN

WP DN

WP LN

Objek Pajak

Penghasilan yang :
diterima dari Indonesia
diterima dari luar Indonesia

Penghasilan yang
diterima dari Indonesia

PKP

Penghasilan Neto

Penghasilan Bruto

Tarif

Umum

Sepadan, bersifat Final

Kewajiban
menyampaikan SPT

Wajib

Tidak Wajib

Pengecualian :
Bagi Wajib Pajak Luar Negeri yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan
melalui bentuk usaha tetap di Indonesia, pemenuhan kewajiban perpajakannya
disamakan dengan pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak Dalam Negeri

KEWAJIBAN PAJAK SUBJEKTIF


Saat mulai dan berakhirnya kewajiban pajak subjektif ditentukan sebagai
berikut :
1. Bagi orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia, kewajiban pajak
subjektifnya dimulai pada saat ia dilahirkan, berada, atau berniat untuk
bertempat tinggal di Indonesia dan berakhir pada saat meninggal dunia
atau meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya
2. Bagi Badan dimulai pada saat Badan tersebut didirikan atau bertempat
kedudukan di Indonesia dan berakhir pada saat dibubarkan atau tidak lagi
bertempat kedudukan di Indonesia
3. Bagi orang pribadi atau subjek pajak luar negeri badaan yang menjalankan
usahanya di Indonesia melalui bentuk usaha tetap dimulai pada saat orang
pribadi atau bentuk usaha tetap menjalankan usaha dan berakhirnya pada
saat bentuk usaha tetap tidak lagi menjalankan usahanya
4. Bagi orang pribadi atau subjek luar negeri badan yang tidak menjalankan
kegiatan di Indonesia melalui bentuk usaha tetap dimulai pada saat
menerima penghasilan dari Indonesia dan berakhir pada saat tidak lagi
menerima memperoleh penghasilan tersebut
5. Bagi warisan yang belum terbagi, mulai pada saat timbulnya warisan yang
belum terbagi (saat meninggalnya pewaris), dan berakhir pada saat
warisan selesai dibagi kepada para ahli waris
7

BUKAN SUBJEK PAJAK PENGHASILAN


Yang tidak termasuk Subjek Pajak adalah :
1. Kantor perwakilan negara asing
2. Pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat-pejabat
lain dari negara asing dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka
yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama-sama mereka dengan
syarat
a. Bukan warga negara Indonesia
b. Tidak menerima pengahsilan tambahan lain diluar jabatan tersebut di
Indonesia
c. Negara yang bersangkutan memberikan perlakukan timbal balik
3. Organisasi-organisasi Internasional, dengan syarat :
a. Indonesia menjadi anggotabut
b. Tidak menjalankan usaha lain untuk memperoleh penghasilan dari
Indonesia selain memberikan pinjaman kepada pemerintah yang
dananya berasal dar i iuran para anggota
4. Pejabat-pejabat perwakilan organisasi internasional, dengan syarat :
a. Bukan warga Indonesia
b. Tidak menjalankan usaha, kegiatan, atau pekerjaan lain untuk
memperoleh dari Indonesia
8

OBJEK PAJAK PENGHASILAN


Objek Pajak Penghasilan meliputi penghasilan, yaitu setiap tambahan
kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak, baik yang
berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia yang dapat dikonsumsi atau
untuk menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan dengan nama dan
dlam bentuk apapun.
Dilihat dari mengalirnya (inflow) tambahan kemampuan ekonomis kepada
subjek pajak, penghasilan dapat dikelompokkan menjadi :
1. Penghasilan dari pekerjaan dlam hubungan kerja dan pekerjaan bebas
seperti gaji, honorarium, penghasilan dari praktek dokter, notaris, akuntan,
dan lain sebagainya
2. Penghasilan dari usaha dan kegiatan
3. Penghasilan dari modal atau investasi, yang berupa harta gerak maupun
harta tidak bergerak seperti bunga, deviden, royalti, sewa, keuntungan
penjualan harta atau hak yang tidak dipergunakan untuk usaha, dan lain
sebagainya
4. Penghasilan lain-lain, seperti pembebasan utang, hadiah, dan sebagainya
Dilihat dari penggunaannya (outflow), penghasilan dapat dipakai untuk
konsumsi dan dapat pula ditabung untuk menambah kekayaan wajib pajak
9

Objek Pajak Penghasilan berdasarkan


meliputi :

Pasal4 UU Nomor 36 Tahun 2008,

1. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang


diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium,
komisi, bonus, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya, kecuali
ditentukan lain dalam undang-undang pajak penghasilan.
2. Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan
3. Laba usaha
4. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk
a. Keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan,
dan badan lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal
b. Keuntungan karena pengalihan harta kepada pemegang saham,
sekutu, atau anggota yang diperoleh perseroan, persekutuan, dan
badan lainnya.
c. Keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran,
pemecahan, pengambilalihan usaha, atau organisasi dengan nama
dan dalam bentuk apapun.
d. Keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan atau
sumbangan.
e. Keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh
hak penambangan, tanda turut serta dalam pembiayaan, atau
permodalan dalam usaha pertambangan
5. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai
biaya, dan pembayaran tambahan pengembalian pajak

10

6. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan


pengebalian hutang. Premium terjadi apabila surat obligasi dijual diatas
nilai nominalnya, sedangkan diskonto terjadi apabila surat obligasi dibeli
dibawah nilai nominalnya. Premium tersebut merupakan penghasilan
bagi yang menerbitkan obligasi dan diskonto merupakan penghasilan bagi
yang membeli obligasi
7. Deviden, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk deviden dari
perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan sisa hasil usaha
8. Royalti atau imbalan atas penggunaan hak
9. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta
10. Keuntungan selisih kurs mata uang asing
11. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva
12. Premi asuransi
13. Keuntungan karena pmbebasan hutang, kecuali sampai dengan jumlah
tertentu yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah
14. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala, misalnya tunjangan
seumur hidup yang dibayar secara berulang-ulang dalam waktu tertentu
15. Imbalan bunga sebagaima dimaksud dalam undang-undang yang
mengatur mengenai ketentuan umum dan tata cara perpajakan

11

BUKAN OBJEK PAJAK PENGHASILAN


Yang dikecualikan dari objek pajak adalah :
1. Bantuan atau sumbangan, yaitu pemberian dalam bentuk uang atau
barang kepada orang pribadi atau badan termasuk ;
a. Zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat
yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah
b. Penerima zakat yang berhak
2. Harta Hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan
lurus atau satu derajat yang ketentuannya diatur berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan
3. Warisan
4. Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai pengganti
saham atau sebagai pengganti penyertaan modal
5. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang
diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari
wajib pajak
6. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan
dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, dan
asuransi beasiswa
7. Bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial kepada wajib pajak tertentu, yang ketentuannya diatur lebih
12
lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri keuangan

PENGURANGAN PENGHASILAN
(BIAYA)

13

PENGURANGAN PENGHASILAN (BIAYA)


Pajak penghasilan dihitung dari tarif dikalikan dengan penghasilan kena pajak.
Penghasilan kena pajak bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap
ditentukan berasarkan penghasilan bruto dikurangi dengan pengurangan atau
pengeluaran tertentu.
Beban atau biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto wajib pajak dalam
negeri dan bentuk usaha tetap dapat dibagi dalam 2 (dua) golongan, yaitu :
1. Beban atau biaya yang mempunyai manfaat tidak lebih dari 1 (satu) tahun,
misalnya ; biaya gaji, biaya adminitrasi dan bunga, biaya rutin pengolahan
limbah, dan sebagainya
2. Beban atau biaya yang mempunyai manfaat lebih dari 1 (satu) tahun yang
pembebanannya dilakukan melalui penyusutan atau amortisasi , misalnya ; aset
tetap atau harta berwujud, aset tak berwujud, dan lain-lain
Pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan oleh wajib pribadi dapat pula dibedakan :
3. Pengeluaran yang dapat dibebankan sebagai biaya (deductible expenses), yaitu
pengeluaran yang mempunyai hubungan langsung dengan usaha atau kegiatan
untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang merupakan
objek pajak yang pembebanannya dapat dilakukan dalam tahun pengeluaran atau
selama masa manfaat dari pengeluaran tersebut
4. Pengeluaran yang tidak dapat dibebankan sebagai biaya (non-deductible
expenses), yaitu pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan yang bukan merupakan objek pajak atau pengeluaran dilakukan tidak
dalam batas wajar sesuai dengan adat kebiasaan pedagang yang baik, oleh
karenanya pengeluaran yang melampaui batas kewajaran dipengaruhi oleh
14
hubungan istimewa, maka pengeluaran tesebut tidak boleh dikurangkan dari

BIAYA YANG DIPERKENANKAN BAGI WAJIB PAJAK (DEDUCTIBLE EXPENSES)


Dalam Pasal 6 UU UU No.36 Tahun 2008,besarnya penghasilan kena pajak bagi wajib
pajak dalam negeri dan Bentuk Usaha Tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan
bruto dikurangi biaya untuk mendapatkan,menagih, dan memelihara penghasilan,
yaitu termasuk :
1. Biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan
usaha, antara lain ;
Biaya pembelian bahan
Biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa, termasuk gaji, honorarium,
bonus, tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang
Biaya bunga, sewa, dan royalti
Biaya perjalanan
Biaya pengolahan limbah
Premi asuransi
Biaya promosi dan penjualan yang diatur dengan atau Peraturan Menteri
Keuangan
Biaya administrasi
Pajak kecuali pajak penghasilan
2. Penyusutan atas harta berwujud dan amortisasi
3. Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri
Keuangan
4. Kerugian selisih kurs mata uang asing
5. Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia
6. Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih, dengan ketentuan
Telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial
Wajib pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih
15
kepada Direktorat Jenderal pajak

telah diserahkan perkara penagihan kepada Pengadilan Negeri atau


instansi pemerintah yang menangani piutang negara ; adanya
perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang
antara kreditor dan debitor yang bersangkutan ; atau telah
dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus
Syarat pada angka 3) tidak berlaku untuk penghapusan piutang tak
tertagih debitur kecil
Pelaksanaan diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan
7. Biaya beasiswa, magang, dan pelatihan
8. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional yang
ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah
9. Sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan yang dilakukan di
Indonesia yang ketentuannya diatur oleh Peraturan Pemerintah
10.Biaya pembangunan infrastruktur sosial yang ketentuannya diatur dengan
Peraturan Pemerintah
11.Sumbangan fasilitas pendidikan yang ketentuannya diatur dengan
Peraturan Pemerintah
12.Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga yang ketentuannya diatur
dalam Peraturan Pemerintah

16

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)


Untuk asar menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak wajib pajak orang
pribadi dalam
negeri, penghasilan nettonya dikurangi dengan penghasilan tiak kena pajak.
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang ditetapkan dalam pasal 7 ayat
(1) UU no. 17
Tahun 2000 sampai dengan diberlakukannya PMK no. 162/PMK.011/21012
tanggal 22 Oktober Pasal
2012,
7 UU No.
maka
17
PMK
PTKP
No. 564/KMK
sbb : PMK No. 137/PMK Pasal 7 UU No. 36 PMK No. 162/PMK.
Keterangan

tahun 2000 (mulai

03/2004 (mulai

03/2005 (mulai

tahun 2008 (mulai

011/2012 (mulai

berlaku 1 Jan 2001)

Berlaku 1 Jan 2005)

Berlaku 1 Jan 2006)

berlaku 1 Jan 2009)

berlaku 1 Jan 2013)

1. Diri Wajib Pajak

Rp

2.880.000,00

Rp

Rp

1.440.000,00 Rp

Rp

2.880.000,00

Rp

2.880.000,00 Rp

12.000.000,00

Rp

13.200.000,00

Rp

15.840.000,00

Rp

24.300.000,00

2. Tambahan untuk
Wajib Pajak yang

1.200.000,00 Rp

1.200.000,00 Rp

1.320.000,00 Rp

2.025.000,00

sudah kawin
3. Tambahan untuk
seorang istri yang
menerima penghasilan

Rp

12.000.000,00

Rp

13.200.000,00

Rp

15.840.000,00

Rp

24.300.000,00

yang digabung dengan


penghasilan suami
4. Tambahan untuk
setiap anggota keluarga
sedarah yang menjadi

1.200.000,00 Rp

1.200.000,00 Rp

1.320.000,00 Rp

2.025.000,00

tanggungannya (mak 3)

17

PENGELUARAN YANG TIDAK BOLEH DIBEBANKAN SEBAGAI BIAYA (NON-DEDUCTIBLE


EXPENSES)
Pengeluaran yang tidak boleh dibebankan sebagai biaya, antara lain :
1. Pembagian Laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti deviden,
termasuk deviden yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang
polis, dan pembagian sisa hasil usaha
2. Biaya yang dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang saham, atau
anggota
3. Pembentukan atau pemupukan dana cadangan, kecuali :
Cadangan piutang tidak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain
yang menyalurkan kredit
Cadangan untuk penjaminan untuk lembaga penjaminan simpanan
Cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan
Cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan
Cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah
industri
yang ketentuan dan syarat-syaratnya diatur dengan Peraturan Menteri
Keuangan
4. Premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi bea siswa
yang dibayar oleh wajib pajak, kecuali jika dibayar oleh pemberi kerja
5. Penggantian sehubungan dengan pekerjaan yang diberikan dalam bentuk natura
dan kenikmatan
6. Harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan kecuali yang telah ditetapkan
oleh Peraturan Pemerintah
7. Biaya yang dikeluarkan untuk kepentingan pribadi wajib pajak atau orang yang
menjadi tanggungannya
8. Sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan yang berkenaan dengan 18
pelaksanaan perundang-undangan dibidang perpajakan

KOMPENSASI KERUGIAN DAN TARIF PAJAK

19

KOMPENSASI KERUGIAN
Apabila penghasilan bruto dari wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap
setelah dilakukan pengurangan-pengurangan sesuai dengan pengeluaranpengeluaran yang diperkenankan seperti tersebut diatas, dapat kerugian, maka
kerugian tersebut dapat dikompensasikan dengan penghasilan neto atau laba fiskal
selama 5 (lima) tahun berturut-turut, dimulai sejak tahun pajak kerugian sesudah
tahun didapatnya kerugian tersebut.
Contoh :
PT. Abadi dalam tahun 2009 menderita kerugian fiskal sebesar rp 1.200.000.000,- .
Dalam 5 (lima) tahun berikutnya, laba rugi fiskal PT. Abadi adalah sebagai berikut ;
2010 Laba Fiskal
Rp 200.000.000,-, 2011 rugi Fiskal (Rp 300.000.000,-), 2012
Laba Fiskal
Rp 100.000.000,-, dan 2013 Laba Fiskal Rp 800.000.000,Maka kompensasi kerugian dilakukan sebagai berikut :
Rugi Fiskal Tahun 2009
(Rp 1.200.000.000,-)
Laba Fiskal tahun 2010
Rp
200.000.000,- (+)
Sisa Rugi Fiskal tahun 2009
(Rp 1.000.000.000,-)
Rugi Fiskal tahun 2011
(Rp
300.000.000,-)
Sisa Rugi Fiskal tahun 2009
(Rp 1.000.000.000,-)
Laba Fiskal tahun 2012
Rp
100.000.000,- (+)
Sisa Rugi Fiskal tahun 2009
(Rp
900.000.000,-)
Laba Fiskal tahun 2013
Rp
800.000.000,- (+)
Sisa Rugi Fiskal tahun 2009
(Rp
100.000.000,-)
================
Rugi Fiskal tahun 2009 sebesar Rp 100.000.000,- yang masih tersisa pada tahun
2014, tidak boleh dikompensikan lagi dengan laba fiskal tahun 2015, sedangkan rugi
fiskal tahun 2011 sebesar Rp 300.000.000,- hanya boleh dikompensasikan dengan
laba fiskal tahun 2015 dan 2016, karena jangka waktu 5 (lima) tahun yang dimulai
20
sejak tahun 2012 dan berakhir pada tahun 2016

TARIF PAJAK
Berdasarkan ketentuan pasal 17 ayat (1) Undang-Undang Pajak Penghasilan,
besaarnya tarif Pajak Penghasilan yang diterapkan atas Penghasilan Kena
Pajak bagi Wajib Pajak Dalam Negeri dan Wajib Pajak Luar Negeri yang
menjalankan usaha d Indonesia melalui bentyuk usaha tetap di Indonesia,
sebagai berikut :
1. Untuk Wajib Pajak Orang Pribadi DalamNegeri
Lapisan Penghasilan Kena Pajak
Sampai dengan Rp 50.000.000,-

Tarif Pajak
5%

diatas Rp 50.000.000,- sampai dengan Rp 250.000.000,-

15%

diatas Rp 250.000.000,- sampai dengan Rp 500.000.000,-

25%

diatas Rp 500.000.000,-

30%

Perubahan tarif akan diberlakukan secara nasional, dimulai per 1 Januari


dan diumumkan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sebelum tarif baru
berlaku efektif
2. Untuk Wajib Pajak Dalam Negeri dan bentuk usaha tetap ditetapkan dengan
tarif 28% (dua puluh delapan persen). Tarif tersebut menjadi 25% (dua
puluh lima persen) mulai berlaku sejak tahun 2010
21

Berdasarkan Surat Edaran No. SE-66/PJ/2010 tentang penegasan atas


pelaksanaan pasal
31E ayat 1 tentang pajak penghasilan sebagaimana telah
diubah
beberapakali dan diubah
Terakhir engan UU No.36 tahun 2008, bahwa :
1. Wajib Pajak badan dalam negeri dengan peredaran bruto sampai dengan
Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah) mendapat fasilitas berupa
pengurangan tarif sebesar 50% (lima puluh persen) dari tarif sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a) yang dikenakan
atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan
Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah).
2. Fasilitas pengurangan tersebut ilaksanakan secara self assessment pada
saat
penyampaian SPT Tahunan PPh wajib Pajak Badan, tidak perlu
menyampaikan permohonan untuk mendapatkan fasilitas tersebut
3. Peredaran bruto tersebut aalah penghasilan yang diterima atau diperoleh
ari kegiatan usaha sebelum dikurangi biaya untukmenapatkan,menagih,
dan memelihara penghasilan baik berasal dari Indonesia maupun dari luar
Inonesia

22

Contoh ;
I.
Perhitungan PPh untuk Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri
1) Jumlah Penghasilan Kena Pajak Tuan Hasbillah Abdullah tahun 2010
adalah Rp 45.000.000,Pajak Penghasilan terutang
5% x Rp 45.000.000,= Rp
2.250.000,2)

Jumlah penghasilan Kena pajak Tuan Hendra Gunawan tahun 2010


adalah Rp200.000,Pajak Penghasilan terutang
5% x Rp 50.000.000,= Rp 2.500.000, 15% x Rp 150.000.000- = Rp 22.500.000,-------------------------- (+)
= Rp 25.000.000,-

3)

Jumlah penghasilan Kena Pajak Tuan Achmad tahun 2010 adalah Rp


500.000.000,Pajak Penghasilan terutang
5% x Rp 50.000.000,= Rp 2.500.000, 15% x Rp 200.000.000- = Rp 30.000.000, 25% x Rp 250.000.000,- = Rp 62.500.000,-------------------------- (+)
= Rp 95.000.000,23

Contoh ;
4) Jumlah penghasilan Kena Pajak Tuan Reza tahun 2010 adalah Rp
600.000.000
Pajak Penghasilan terutang
5% x Rp 50.000.000,= Rp
2.500.000, 15% x Rp 200.000.000- = Rp 30.000.000, 25% x Rp 250.000.000,- = Rp 62.500.000, 30% x Rp 100.000.000,- = Rp 30.000.000,-------------------------- (+)
= Rp 125.000.000,II.

Perhitungan PPh untuk Wajib Pajak Badan


1)

Jumlah Penghasilan Bruto PT. Fikri Mahajaya tahun 2009 sebesar Rp


4.500.000.000,- dan Penghasilan Kena Pajaknya Rp 500.000.000Pajak Penghasilan terutang
50% x 28% x Rp 500.000.000,- = Rp
70.000.000,Karena
penghasilan
(Rp4.800.000.000)

bruto

tiak

melebihi

ketentuan

24

Contoh ;
2)

Jumlah penghasilan bruto PT. Arief Karyadi tahun 2009 sebesar Rp


30.000.000.000,- dan Penghasilan Kena pajaknya Rp 3.000.000.000,Dikarenakan jumlah penghasilan bruto sudah melebihi ketentuan yang berlaku,
maka perhitungan Pajak Penghasilannya adalah sebagai berikut ;
a)
Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari Peredaran Bruto yang mendapatkan
fasilitas :
(Rp 4.800.000.000 : Rp 30.000.000.000) x Rp 3.000.000.000,480.000.000,b)

Jumlah Penghasilan Kena


mendapatkan fasilitas :

Pajak

dari

Peredaran

usaha

yang

Rp

tidak

Rp 3.000.000.000 - Rp 480.000.000,- = Rp 2.520.000.000,Maka Pajak Penghasilan Terutang :

(50% x 28%) x Rp
480.000.000,- = Rp
67.200.000,28% x Rp 2.520.000.000,= Rp 705.600.000,--------------------------= Rp 772.800.000,-

25

Contoh ;
3)

Jumlah penghasilan bruto PT. Indana Corporation tahun 2009 sebesar


Rp 60.000.000.000,- dan Penghasilan Kena pajaknya Rp
2.000.000.000,Dikarenakan jumlah penghasilan bruto sudah
melebihi ketentuan yang berlaku, maka
perhitungan Pajak
Penghasilannya adalah sebagai berikut ;
28% x Rp 2.000.000.000,-

= Rp 560.000.000,-

26

LATIHAN PENYEGARAN ;
1) Penghasilan Kena Pajak Tuan Indra tahun 2010 sebesar Rp
65.000.000,2) Penghasilan Kena Pajak Tuan Andri tahun 2010 sebesar Rp
265.000.000,3) Jumlah Penghasilan Bruto PT. Jati Perkasa tahun 2010 sebesar
Rp 4.750.000.000,- dan Penghasilan Kena Pajaknya
Rp
500.000.0004) Jumlah Penghasilan Bruto PT. Pinang Perdana tahun 2010
sebesar Rp 20.000.000.000,- dan Penghasilan Kena Pajaknya Rp
2.500.000.000Hitunglah Pajak Penghasilan Terutangnya ?

27

JAWABAN

PPh Terutang Tuan


Indra
Rp
5% x 50.000.000
Rp
15% x 15.000.000

=
=
=

Rp
2.500.000
Rp
2.250.000
Rp
4.750.000

PPh Terutang Tuan


Andri
Rp
5% x 50.000.000
Rp
15% x 200.000.000
Rp
25% x 15.000.000

=
=
=
=

Rp
2.500.000
Rp
30.000.000
Rp
3.750.000
Rp
36.250.000

28

PPh Terutang PT. Jati Perkasa

50% x

Rp
25% x 500.000.000

Rp
62.500.000

Rp
2.500.000.000

Rp
600.000.000

PPh Terutang PT. Pinang Perdana

a.

b.

Rp
4.800.000.000
----------------------Dapat Fasilitas = ---Rp
20.000.000.000
Rp
= 600.000.000
Tidak dapat
fasilitas

PPh Terutang

Rp
2.500.000.000
Rp
= 1.900.000.000

29

Terimakasih

30