Anda di halaman 1dari 2

DASAR HUKUM HUBUNGAN KONSULER

Dibuat di Wina pada tanggal 24 April 1963.


Mulai berlaku pada tanggal 19 Maret 1967.
Perserikatan Bangsa-Bangsa, Treaty Series, vo1. 596, p. 261 Copyright
Perserikatan Bangsa-Bangsa 2005

Negara-negara Pihak Konvensi ini, Mengingat bahwa hubungan konsuler


telah berdiri antara masyarakat sejak zaman kuno, Setelah dalam pikiran Tujuan
dan Prinsip-prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai kesetaraan
berdaulat Negara, pemeliharaan perdamaian dan keamanan internasional, dan
promosi ramah hubungan antar bangsa, Menimbang bahwa Konferensi
Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Kekebalan Diplomatik Intercourse mengadopsi
Konvensi Wina tentang Hubungan Diplomatik yang telah dibuka untuk
ditandatangani pada tanggal 18 April 1961, Percaya bahwa konvensi
internasional tentang konsuler, hak istimewa hubungan dan kekebalan akan juga
berkontribusi terhadap pengembangan hubungan persahabatan antar bangsa,
terlepas dari mereka berbeda konstitusional dan sistem sosial, Menyadari bahwa
tujuan hak istimewa dan imunitas tidak untuk keuntungan individu melainkan
untuk menjamin kinerja yang efisien dengan fungsi konsuler atas nama masingmasing Negara.

Hukum Konsuler

Pembukaan Hubungan Konsuler


Seperti juga halnya dengan hubungan diplomatik, pembukaan hubungan
konsuler dilakukan atas kesepakatan Negara-negara bersangkutan. Perwakilan
konsuler seperti perwakilan diplomatik merupakan dinas publik suatu Negara
yang terletak di suatu Negara asing. Namun kegiatan-kegiatan perwakilan
konsuler tidak mengandung aspek politik. Disamping itu, perwakilan-perwakilan
konsuler tidak harus selalu ada di Negara-negara yang merdeka tetapi juga di
wilayah-wilayah yang belum mempunyai pemerintahan sendiri atau yang berada
di bawah kedaulatan asing. Di kawasan Afrika bagian utara dan Asia misalnya
banyak Negara barat mempunyai perwakilan konsuler sebelum Negara-negara
tersebut mencapai kemerdekaannya. Juga dapat terjadi Negara-negara
membuka hubungan konsuler dengan Negara-negara lain sebelum pembukaan
hubungan diplomatic seperti yang terjadi dengan Uni Soviet dan Republik Rakyat
Cina. Dalam hubungannya dengan Negara-negara Amerika Latin, Inggris dan
Amerika Serikat membuka dulu hubungan konsuler lama sebelum diberikannya
pengakuan kedaulatan kepada Negara-negara di kawasan tersebut.
Pasal 2 ayat 1 Konvensi Wina mengenai Hubungan Konsuler dengan jelas
menyatakan pembukaan hubungan konsuler antara Negara dilakukan atas dasar
kesepakatan bersama. Bila pasal 2 ayat 1 tadi menyangkut pembukaan

hubungan konsuler, pasal 4 ayat 1 Konvensi Wina merujuk pada pembukaan


perwakilan konsuler yaitu suatu perwakilan konsuler boleh dibuka di wilayah
Negara penerima hanya dengan persetujuan Negara tersebut. Ketentuan ini
mengingatkan kita pada ketentuan yang berlaku dalam hubungan diplomatic
merupakan dua hal yang berbeda dan yang masing-masing sebelumnya harus
mendapatkan kesepakatan kedua Negara.
Namun pasal 2 ayat 2 Konvensi mengenai Hubungan Konsuler
menambhakan pula bahwapersetujuan yang diberikan untuk pembukaan
hubungan diplomatic antara dua Negara berarti persetujuan pembukaan
hubungan konsuler, kecuali dinyatakan lain. Itu berarti bahwa bagi Negara yang
sudah mempunyai hubungan diplomatic dan berkeinginan untuk membuka
perwakilan konsuler maka yang dibutuhkan hanya persetujuan Negara setempat
untuk untuk membuka perwakilan konsuler dan tidak lagi persetujuan untuk
pembukaan hubungan konsuler.
Sepanjang menyangkut Indonesia, sesuai Daftar Pejabat Perwakilan RI di
luar negeri 2004, terdapat 85 perwakilan konsuler. Tetapi dari jumlah tersebut
hanya 26 Konsluat Jenderal dan 4 Konsulat yang dikepalai pejabat Departemen
Luar Negeri atau pejabat lainnya yang dikirim dari Jakarta. Sebagian besar, yaitu
47 perwakilan dikepalai oleh Konsul Kehormatan dan 8 Konsul Jenderal
Kehormatan.
Pembentukan Hubungan Konsuler ( Pasal 2 )
1.
Pembentukan hubungan konsuler antara negara dilakukan atas dasar
kesepakatan atau persetujuan bersama.
2.
Persetujuan yang diberikan untuk pembukaan hubungan diplomatik antara
dua negara berarti pula persetujuan pembukaan hubungan konsuler, kecuali
dinyatakan lain.
3.
Para pemutusan hubungan diplomatik , tidak akan melibatkan pemutusan
hubungan konsuler.