Anda di halaman 1dari 34

Analisis Neraca Air DAS Mentaya

Kabupaten Kotawaringin Timur


dan Pengaruh ENSO terhadap
ketersediaan air wilayah

FRIMADI CHANDRA (G24100049)


Pembimbing :
Prof. Hidayat Pawitan
Departemen Geofisika dan Meteorologi
Institut Pertanian Bogor

Latar Belakang

PENDAHULUAN

PENDAHULUAN

Perumusan Masalah
Jumlah air
tersedia dan
distribusinya
Iklim ekstrim

Neraca air lahan


Perbandingan
Mock
di Tahun ENSO
(telah dimodifikasi)
Membandingkan
dengan
pengukuran debit

Manfaat

PENDAHULUAN

informasi untuk mengetahui musim


tanam
yang
baik
untuk
suatu
tanaman, perencanaan pembangunan
,,.
waduk, penentuan waktu pelayaran
ataupun pengiriman barang

Ruang Lingkup Penelitian

nalisis neraca air pada tahun normal dan tahun ENSO


Pengaruh
ENSO
:
curah
hujan,
evapotranspirasi aktual, kelengasan
tanah, dan limpasan atau debit air
pada tahun El Nino, normal, dan La
Nina

PENDAHULUAN
Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah


menghitung jumlah air yang ada di DAS
Mentaya pada saat keadaan normal, El
Nino, dan La Nina melalui pendekatan
neraca air lahan.

Waktu dan
Tempat

METODOLOGI

Januari hingga Maret 2014 di


Laboratorium Hidrometeorologi
Institut Pertanian Bogor

Bahan
Curah hujan harian (1997,
2000, dan 2006) dari
stasiun penakar hujan
Tumbang Sangai dari
Dinas Pekerjaan Umum
Suhu maksimum
dan minimum
(1997, 2000, 2006)
dari stasiun BMKG

Alat

Debit harian air tahun 2006


dan tinggi muka air harian
(1997, 2000, 2006) dari
Dinas Pekerjaan Umum
Provinsi Kalimantan Tengah
Peta digital daerah Kab.
Kotawaringin Timur dari
Dinas Pekerjaan Umum Kab.
Kotawaringin Timur

Metode Penelitian
Delineasi Daerah
Aliran Sungai
Data debit yang didapatkan
merupakan hasil pengukuran di
tengah DAS Mentaya, bukan di
outlet DAS. Oleh sebab itu perlu
dilakukan delineasi DAS agar sesuai
dengan pengukuran debit. Delineasi
DAS dilakukan dengan melakukan
pembatasan berdasarkan kontur
daerah tersebut.

Gambar 1 Batas DAS idelal


(NRCS)

Metode Penelitian
Presipitasi
Metode yang digunakan
untuk
menganalisis
presipitasi ialah metode
poligon
Thiessen.
Metode
ini
digunakan
karena cukup mudah dan
tidak mengalami banyak
perubahan
dalam
pembobotan area yang
mengalami curah hujan
dibandingkan
dengan
metode isohyet ataupun
hipsometrik.
Gambar 2 Poligon
Thiessen

Evapotranspirasi Potensial (ETp)


Metode yang digunakan untuk menghitung ETp ialah metode
Hargreaves

ETp = 0.0023 (Tmax Tmin)0.5 (Tmean+17.8

Nilai radiasi ekstraterestrial menggunakan formula


sebagai berikut :
( FAO No. 56, 1998)

rumus
rumus
rumus
rumus

1
2
3
4

: ;
: ;
:
:

J = urutan hari pada penanggalan julian


L = desimal derajat lintang

Debit
air limpasan permukaan (Q)

Debit air limpasan permukaan dapat dianalisis dengan metode


pemisahan dengan penyaringan (filtering separation methods).
Metode pemisahan dengan penyaringan merupakan metode
pemisahan aliran dasar yang menggunakan data debit yang ada.
Salah satu metode yang termasuk metode pemisahan dengan
penyaringan telah dikembangkan oleh Nathan & Mc Mahon tahun
1990 yang dikenal metode N&M

DRO(i)= aliran permukaan langsung (m3/s), DRO(i) > 0 untuk i dalam hari
QT = debit terukur (m3/s)
BFO
= aliran dasar (m3/s)
= koefisien dengan nilai 0.925
= koefisien dengan nilai 0.5

Analisis Pengaruh
ENSO

Gambar 3 Tabel tahun ENSO (Meyers et al.,


2007)
Pengaruh ENSO dianalisis dengan membandingkan jumlah air
setiap unsur neraca air pada tahun El Nino, normal, dan La Nina
yang dapat diketahui dari hasil penelitian Meyers et al. (2007).

Perhitungan Neraca Air Lahan


Perhitungan
neraca
air
lahan
menggunakan metode Mock yang telah
dimodifikasi pada nilai soil moisture (SM)
dan
evapotranspirasi
aktual
(ETa).
Perubahan
ini
dilakukan
dengan
pertimbangan
besarnya
ETa
akan
bergantung pada keadaan SM dan keadaan
SM memiliki beberapa kondisi.

sedur Perhitungan Neraca Air Lahan


Soil
Moisture
(SM) & SM

Data curah hujan


bulanan,
Suhu
udara harian, data
evapotranspirasi
bulanan

Mulai

Groundwater

Water
Surplus

Infiltrasi (I)
I - G
>0

Evapotranspir
asi Aktual
(ETa)

Direct RunOf
(DRO)

BFO = I G

BFO = 0
Baseflow
(BFO)

Selesai

RunOf

1. Nilai Soil Moisture (SM)


Nilai awal kelengasan tanah (Initial Soil Moisture =ISM) diawali
dengan nilai yang sama dengan WHC, dan selanjutnya nilai ISM
sama dengan nilai SM sebelumnya.

2. Evapotranspirasi Aktual (ETa)


Nilai ETa bergantung pada keadaan SM, apabila nilai SM=WHC(Water
Holding Capacity), maka ETa = ETp, namun apabila nilai SM berada
diantara nilai WHC dan PWP(Permanent Wilting Point) maka Nilai ETa
ialah :

ETa = ((SM-PWP)/ ( WHC PWP )).ETp


Nilai WHC yang digunakan ialah 300 mm sesuai dengan tekstur dan
tutupan vegetasi DAS dan nilai PWP sebesar 10% dari WHC yaitu 30 mm.
3. Nilai Water Surplus (WS)
Nilai Water Surplus bergantung pada nilai SM dan ETa.

4. Nilai Infiltrasi(I)
Nilai infiltrasi bergantung pada nilai WS dan koefisien infiltrasi(if).
Persamaan infiltrasi (I) :

I = WS. If
Nilai koefisien infiltrasi antara 0.2 0.5 menurut Haryanto et al 2013 dan
yang digunakan ialah nilai tengahnya yaitu 0.35.

5. Nilai Groundwater(G)
Nilai groundwater bergantung pada nilai infiltrasi, koefisien resesi(k), dan
groundwater sebelumnya. Persamaan groundwater (G) :

G = k.Gi-1 + 0.5 I (1+k)


G = Gi Gi-1
Nilai koefisien resesi antara 0.4 0.7 menurut Haryanto et al 2013 dan
yang digunakan ialah nilai tengahnya yaitu 0.55.

6. Nilai Baseflow (BFO), Direct Runoff (DRO), dan Runoff


(RO)
Persamaan nilai BFO, DRO, dan RO :

BFO
DRO

= I G (perubahan groundwater) jika BFO > 0


= WS I

Hasil
dan
Pembahasan

DAS Mentaya
Iklim tropika basah(lembab) termasuk tipe B pada
klasifikasi Schmidt dan Ferguson
Suhu bulanan berkisar antara 27 36 C.
Kelembaban nisbi di DAS Mentaya berkisar antara
82 -89 %
Deliniasi DAS Mentaya dilakukan agar sesuai dengan
titik pengukuran debit di stasiun Kuala Kuayan yang
menghasilkan luas tangkapan 5459,19 Km2.
Sebagian besar daerah hulu DAS Mentaya memiliki
jenis tanah podsolik merah kuning yang memiliki
tekstur lempung berpasir halus dan bervegetasi
hutan dan daerah hilir DAS memiliki jenis tanah
aluvial marine dan gleihumus.
Tekstur tanah podsolik dengan vegetasi hutan di
hulu DAS memiliki nilai WHC 300 mm menurut

Neraca Air Tahun El Nino


Tabel Neraca air DAS Mentaya tahun El Nino
(1997)
P
Etp
Eta

Jan

Feb

Mar

240.
9
214.
6
214.
6

222.
4
183.
3
183.
3

107.
5
171.
3
130.
8

Apr

321.
8
134.
0
134.
0
187.
39.1 -23.3
8
300. 236. 300.
0
2
0

PEta

26.3

SM

300.
0

SM

0.0

0.0

WS

26.3

39.1

0.0

I
G

9.2
7.1

13.7
14.5

7.1

BFO

2.1

-63.8 63.8

Mei

Juni

Juli

232.
52.0 52.9
4
118. 104. 105.
9
3
8
118.
84.1 64.5
9
113.
-32.1 -11.6
5
300. 247. 194.
0
7
6
0.0

0.0
8.0

187.
8
65.7
55.3

113.
5
39.7
61.2

7.4

-6.5

47.3

5.9

6.3

6.5

Agu
Sept
st

Okt

Nov

Des
119.
3
211.
1
35.5

0.0

0.0

39.0

131.
7

145.
9

179.
6

276.
3
190.
8

41.1

20.9

17.3

62.7

-41.1 -20.9 21.7


114.
3

68.8

56.0

213.
6
118.
7

Tahun
an

1664.5

1107.7

83.8
75.4

-52.3 -53.1 -80.3 -45.6 -12.7 62.7 -43.3


0.0

0.0

0.0

0.0

21.7

94.9

8.4

0.0
33.7

0.0
18.5

0.0
10.2

0.0
5.6

7.6
9.0

33.2
30.7

2.9
19.1

-27.6 -15.2

-8.3

-4.6

3.4

21.7 -11.5

18.4 33.8 27.6 15.2


122.
DRO 17.1 25.4 0.0
73.8 0.0
0.0
1
140. 107.
RO 19.2
31.7 6.5dari pengukuran
27.6 debit
15.2
*Hasil
pemisahan
5
6

8.3

4.6

4.2

11.5

14.5

152.9

0.0

0.0

14.1

61.7

5.5

319.6

73.2

19.9

472.5

8.3
4.6
18.3
sungai
Mentaya

172.1
273.0

Grafik neraca air DAS Mentaya tahun


1997
350.0
300.0
250.0
P
SM
Etp
Eta

200.0
150.0
100.0
50.0
0.0

10 11 12

Grafik perbandingan RunOff tahun El


Nino (1997)
250.0
200.0
150.0
milimeter

RO
RO*

100.0
50.0
0.0

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Bulan ke

Neraca Air Tahun Normal

Tabel Neraca air DAS Mentaya tahun normal


(2006)
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Juni

Juli

246.
2
190.
5
190.
5

164.
9
182.
0
170.
5
-5.6

SM

300.
0

SM

0.0

282.
9
17.1

370.
6
114.
8
114.
8
255.
8
300.
0

112.
5
101.
7
101.
7

55.7

254.
6
131.
4
131.
4
123.
2
300.
0

442.
1

PEta

327.
6
174.
9
174.
9
152.
7
300.
0
17.1

0.0

0.0

0.0

WS

55.7

0.0

152.
7

123.
2

255.
8

19.5

0.0

53.4

43.1

89.5

15.1

8.3

46.0

58.7

101.
7

356.
1
124.
6
152.
5

15.1

-6.8

37.7

12.7

43.0

50.8

BFO

4.4

6.8

15.8

30.4

P
Etp
Eta

86.0
86.0
356.
1
300.
0

10.8
300.
0
0.0

Agu
st

11.5

122.
5

Sep
t
106.
1
145.
8

82.9

71.7

30.9

34.4

19.4

35.2

47.7
212.
7
87.3

162.
9
49.9

Okt

186.
4

74.7
88.2

Nov

Des

473.
6
189.
9
189.
9
283.
7
300.
0
225.
3
283.
7

396.
3
200.
7
200.
7
195.
6
300.
0

Tahun
an

2941.2

1546.0

0.0
195.
6

10.8

0.0

34.4

0.0

3.8

0.0

12.0

0.0

99.3

68.5

513.8

86.8

47.7

35.6

19.6

87.7

101.
3

761.0

65.7
69.5

39.1
39.1

12.2
24.2

16.0
16.0

68.2

13.6

31.1
184.
sungai
Mentaya
0.0 22.3
0.0
4

54.9
127.
1

46.6 73.8
166. 231.
*Hasil
pemisahan
dari80.1
pengukuran
debit
DRO 36.2
0.0 99.2
7.0
3
5

412.5
954.1

Grafik neraca air DAS Mentaya tahun


2006
500.0
450.0
400.0
350.0
300.0

P
SM
Etp
Eta

250.0
200.0
150.0
100.0
50.0
0.0

10 11 12

Grafik perbandingan RunOff tahun


normal (2006)
350.0
300.0
250.0
200.0
milimeter
150.0

RO
RO*

100.0
50.0
0.0

Bulan ke

10 11 12

Neraca Air Tahun La Nina

Tabel Neraca air DAS Mentaya tahun La Nina


(2000)Agu Sep
Tahun
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Juni

Juli

399.
3
206.
2
206.
2
193.
1
300.
0

290.
9
190.
9
190.
9
100.
0
300.
0

251.
9
183.
9
183.
9

301.
6
121.
9
121.
9
179.
7
300.
0

325.
8

300.
0

385.
9
144.
9
144.
9
241.
0
300.
0

230.
6
300.
0

208.
2
101.
6
101.
6
106.
6
300.
0

0.0

0.0

0.0

0.0

0.0

0.0

0.0

193.
1
67.6

100.
0
35.0

23.8

241.
0
84.3

179.
7
62.9

106.
6
37.3

52.4

55.9

49.2

92.4

99.6

230.
6
80.7
117.
3

52.4

3.5

-6.7

43.2

7.1

P
Etp
Eta
PEta
SM
SM
WS

BFO

68.0

68.0

95.2
95.2

17.8

Okt

Nov

Des

330.
2
187.
1
187.
1
143.
1
300.
0

270.
2
202.
3
202.
3

300.
0

383.
6
180.
1
180.
1
203.
5
300.
0

0.0

0.0

0.0

0.0

0.0

49.4

23.5

17.3

8.2

203.
5
71.2

143.
1
50.1

93.4

64.8

42.0

78.3

81.9

23.9
61.2

28.6
45.9

22.8
31.0

36.3

3.6

st
171.
4
122.
0
122.
0

t
175.
4
151.
9
151.
9

49.4

23.5

300.
0

15.2 31.5 30.5 41.1 55.7 63.0


34.9 46.5
125.
156. 116. 149.
132.
DRO
65.0 44.2
69.3 32.1 15.3
93.0
5
6
8
9
3
140.
172. 212. debit
130. sungai Mentaya
167. 139.
*Hasil
pemisahan
dari197.
pengukuran
RO
96.5 74.8
78.0 46.3
8
8
5
9
5
2
6

an
3494.4

1887.9

67.9
300.
0

67.9
23.8

562.3

63.5

890.8

18.4
42.2

498.8

44.1

1044.3

86.4

1543.1

Grafik neraca air DAS Mentaya tahun


2000
450.0
400.0
350.0
300.0

P
SM
Etp
Eta

250.0
200.0
150.0
100.0
50.0
0.0

10 11 12

Grafik neraca air DAS Mentaya tahun


2000
250.0
200.0
150.0
RO
RO*

milimeter
100.0
50.0
0.0

Bulan ke

9 10 11 12

Analisis Pengaruh ENSO


Komponen
*Presipitasi

*ETa

SM (Kelengasan
tanah)

El Nino (1997)
-43%

Normal (2006)
0%

La Nina (2000)
19%

-28%

0%

22%

Menurun dari
bulan Mei hingga
Oktober dan
sedikit meningkat
lagi namun tak
mencapai jenuh

-65%

Menurun dari
bulan Juli hingga
Oktober dan
meningkat
kembali hingga
jenuh

0%

Selalu jenuh
setiap bulannya

*RO (neraca air)


13%

*RO
-50%
0%
8%
(pengukuran)

** Perbedaan
-38%
-11%
-7%
ROperhitungan
neraca air
terhadap
*Persentase menandakan perbandingan jumlah pada tahun tersebut dengan
pengukuran
tahun normal.
** Persentase nilai RO yang minus menandakan hasil perhitungan lebih
rendah daripada hasil pengukuran

Analisis Pengaruh ENSO


Menurut Oki dan Kanae (2006) jumlah air dugaan yang
dievapotranspirasikan (ETa) kembali ke atmosfer ialah 60% dan dialirkan
ke sungai sebagai limpasan (RO) ialah sebesar 40% dari curah hujan.

El Nino

Normal

La Nina

ETa

67 %

53 %

54 %

RO

28 %

44 %

46 %

Kesimpulan dan Saran


Kesimpulan
Jumlah air yang ada di DAS Mentaya dapat dihitung dengan metode
neraca air lahan metode Mock dengan modifikasi pada nilai ETa yang
bergantung pada keadaan kelembaban tanah (SM).
Jumlah curah hujan dan air yang menjadi BFO dan DRO pada tahun El
Nino lebih rendah daripada tahun normal dan tertinggi pada tahun La
Nina.
Jumlah perhitungan RO di sungai Mentaya selama satu tahun dengan
metode neraca air lebih rendah daripada debit hasil pengukuran.

Saran
Nilai koefisien infiltrasi (if) dan koefisien resesi (k) sebaiknya
menggunakan keadaan lahan yang dihitung terlebih dahulu.
Pengukuran curah hujan perlu dilakukan pada daerah hulu di bagian
barat yang memiliki topografi berbukit agar perhitungan RO neraca air
lebih mendekati nilai RO hasil pengukuran.

DAFTAR PUSTAKA

Atroosh KB, Mukred AWO, Moustafa AT. 2013. Water requierement of grape (Vitis vinifera)
in Northern Highlands of Yemen. Journal of Agricultural Science; Vol. 5, No. 4; 2013
Davie T. 2008. Fundamentals of Hydrology. USA : Routledge Taylor & Francis Group
[FAO] Food and Agrriculture Organization. 1998. Crop Evapotranspiration: Guidelines For
Computing Crop Water Requirements. FAO irrigation and drainage paper No 56
Haryanto TE, Shadiq HF, Sulistyono R, Kusuma Z. 2013. Actual water availability and
water needs in irrigation area of Riam Kanan in South Kalimantan Province. Academic
Research International Vol 4 No. 6 Nov 2013. ISSN 2223 9944
McIntosh P. [tahun tidak diketahui]. Research ENSO/IOD years. [internet].[diunduh 2014
Februari 2]. Tersedia pada :
http://www.marine.csiro.au/~mcintosh/Research_ENSO_IOD_years.htm
Meyers G, McIntosh, Pigot L, Pook M. 2007. The years of el nino, la nina, and interactions
with the tropical indian ocean. Journal of climate American Meteorological Society : Vol 20,
2872 2880. DOI: 10.1175/JCLI4152.1
Musy A, Higy C. 2011. Hydrology : A Science of Nature. USA : Science Publishers
Oki T, Kanae S. 2006. Global hydrological cycles and world water resources. Science 313 ,
1068(2006) .DOI: 10.1126/science.1128845
Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalimantan Tengah. 2010. Kabupaten Kotawaringin Timur
[internet]. [diunduh 2014 Januari 03]. Tersedia pada : http://www.tarukalteng.net/wpcontent/uploads/CETAK-10-KOTIM.pdf
Duryea ML, Dougherty PM. 1991. Forest Regeneration Manual. Kluwer Academic
Publishers : USA
Thornthwaite CW, Mather JR. 1957. Instructions and tables for computing potential
evapotranspiration and the water balance. Publications in Climatology. 10:185-311
Viessman WJr, Lewis GL. 1997. Introduction to Hydrology Fourth Edition. New Jersey :
Prentice Hall Professional Technical Reference
Welderufael WA, Woyessa YE. 2010. Stream flow analysis and comparison of baseflow
separation methods case study of Modder River Basin in Central South Africa. European

Terimakasih. :)

ai Mentaya, Sampit, Kab Kotawaringin Timur

Duryea ML, Dougherty PM. 1991. Forest Regeneration Manual. Kluwer Academic Publishers : USA