Anda di halaman 1dari 39

PENYEHATAN LINGKUNGAN DAN PERSONAL HYGIENE

DALAM PANDANGAN ISLAM


Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Agama Islam II

Oleh :

Oleh :
KELOMPOK 1 AJ IKM B
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Nurdian Prasetiawati
Nurdian Evadarianto
Eka Wahyu Pusparini
Lisa Agustin
Pantaria Noor Fitri
Ananda Riska Mita
Dita Rahmatika
Sofiyan
Monita Destiwi

(101411123004)
(101411123017)
(101411123019)
(101411123034)
(101411123054)
(101411123080)
(101411123097)
(101411123098)
(101411123112)

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2015
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum Wr.Wb.

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan
baik. Shalawat dan salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi besar kita
semua Nabi Muhammad SAW, keluarga dan sahabat-sahabat beliau yang telah
membawa umat manusia dari zaman jahiliyah ke zaman yang berilmu
pengetahuan seperti yang kita rasakan pada saat ini.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas kelompok pada mata
kuliah Agama Islam II yang berjudul Penyehatan Lingkungan dan Personal
Hygiene dalam Pandangan Islam. Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan
makalah ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kritik serta saran dari
berbagai pihak sangat bermanfaat bagi penulis, agar makalah ini menjadi lebih
baik.
Demikian makalah ini dibuat, semoga makalah ini dapat menjadi sumber
referensi yang baik bagi dunia ilmu kesehatan masyarakat dan bermanfaat bagi
kita semua. Amin ya rabbal alamin.
Wassalamualaikum Wr. Wb
Surabaya, Maret 2015

Kelompok 1 AJ IKM B

HALAMAN JUDUL............................................................................................ i
KATA PENGANTAR.......................................................................................... ii
DAFTAR ISI........................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN...................................................................................
1.1 Latar Belakang.....................................................................................
1.2 Rumusan Masalah................................................................................
1.3 Tujuan..................................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................
2.1 Konsep Penyehatan Lingkungan.........................................................
2.2 Konsep Personal Hygiene...................................................................
BAB III PEMBAHASAN...................................................................................
3.1 Penyehatan Lingkungan.......................................................................
3.1.1 Penyehatan Lingkungan Menurut Pandangan Islam....................
3.1.2 Dalil yang Berhubungan dengan Penyehatan Lingkungan..........
3.1.3 Peran Islam dalam Penyehatan Lingkungan.................................
3.2 Personal Hygiene.................................................................................
3.2.1 Personal Hygiene Menurut Pandangan Islam..............................
3.2.2 Dalil yang Berhubungan dengan Personal Hygiene....................
3.2.3 Peran Islam dalam Personal Hygiene...........................................
3.3 Penyehatan Lingkungan dan Personal Hygiene dari Segi Kesehatan
Masyarakat...........................................................................................
3.4 Hubungan Penyehatan Lingkungan dan Personal Hygiene................
BAB IV PENUTUP.............................................................................................
4.1 Kesimpulan...........................................................................................
4.2 Saran.....................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Agama Islam pada hakikatnya mempunyai konsep yang
sangat jelas tentang pentingnya penyehatan lingkungan dan
personal hygiene. Konsep Islam tentang lingkungan ini ternyata
sebagian telah diadopsi dan menjadi prinsip ekologi yang
dikembangkan oleh para ilmuwan lingkungan. Upaya untuk

penyehatan lingkungan telah banyak dilakukan baik melalui


penyadaran kepada masyarakat, upaya pembuatan peraturan,
kesepakatan

nasional

dan

internasional,

undang-undang,

pemanfaatan sains dan teknologi serta program-program juga


telah banyak dilakukan.
Pandangan Islam tentang lingkungan bersifat holistik dan saling

berhubungan dengan Allah dan makhluk hidup termasuk manusia. Dalam


Islam, manusia sebagai makhluk dan hamba Tuhan, sekaligus sebagai wakil
(khalifah) Tuhan di muka bumi (Q.S. Al-Anam: 165). Manusia mempunyai
tugas untuk mengabdi, menghamba (beribadah) kepada Sang Pencipta (AlKholik).
WHO pada tahun 1984 menyatakan bahwa aspek agama (spiritual)
merupakan salah satu unsur dari pengertian kesehatan seutuhnya. Bila
sebelumnya pada tahun 1947 WHO memberikan batasan sehat hanya dari 3
aspek saja, yaitu sehat dalam arti fisik (organobiologik), sehat dalam arti
mental (psikologik atau psikiatrik) dan sehat dalam arti sosial, maka sejak
1984 batasan tersebut sudah ditambah dengan aspek agama (spiritual).
Personal hygiene merupakan perawatan diri sendiri yang dilakukan untuk
mempertahankan kesehatan baik secara fisik maupun psikologis ( Alimul.
2006).
Islam memandang kesehatan merupakan faktor yang sangat penting dalam
kehidupan manusia, karena itu Rasulullah SAW menegaskan bahwa orang
Islam yang kuat lebih baik dan lebih disenangi di mata Allah daripada orang
mukmin yang lemah seperti diungkapkan dalam Hadis Riwayat Muslim.
Senada dengan hadis ini, ada pepatah Arab yang menyatakan Akal yang sehat
terdapat dalam jiwa yang sehat.

Makna kesehatan menurut ajaran Islam secara filosofis adalah kesehatan


dalam diri manusia yang meliputi sehat jasmani dan rohani atau lahir dan
batin. Orang yang sehat secara jasmani dan rohani adalah orang berperilaku
yang lebih mengarah pada tuntunan nilai-nilai rohaniah, sehingga melahirkan
amal soleh. Ada empat faktor utama yang mempengaruhi kesehatan, adalah
lingkungan (yang utama), perilaku, pelayanan kesihatan, dan genetik. Bila
dilihat pada aspek semuanya tetaplah tergantung pada manusianya. Faktor
lingkungan yang mencakup fisik, biologi, sosial dan ekonomi mempunyai
pengaruh paling besar terhadap kondisi kesehatan. Manusialah yang paling
memiliki kemampuan untuk memperlakukan dan menata lingkungan hidup.
Konsep kebersihan dalam Islam menetapkan pelbagai
macam peristilahan tentang kebersihan. Yaitu istilah thaharah,
nazhafah, tazkiyah, dan fitrah. Thaharah biasa digunakan
untuk menyebut kebersihan badani sebagai syarat untuk
melaksanakan ibadah. Nazhafa biasanya gunakan untuk
menyebut lingkungan sekitar yang bersih. Tazkiyah digunakan
untuk menyebut kebersihan sesuatu yang tidak tampak.
Sedangkan fitrah biasa digunakan untuk menyebut kebersihan
holistik umat manusia berkenaan dengan keyakinan dan jiwa.
Kebersihan dalam pandangan Islam sangat erat
hubungannya dengan kesehatan lingkungan. Tujuan Islam
mengajarkan

hidup

yang

bersih

dan

sehat

adalah

menciptakan individu dan masyarakat yang sehat jasmani,


rohani dan sosial sehingga, mampu menjadi umat pilihan dan
khalifah Allah untuk memakmurkan bumi.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah pengertian penyehatan lingkungan menurut pandangan islam?
2. Bagaimana dalil yang berhubungan dengan penyehatan lingkungan?
3. Apa peran Islam dalam penyehatan Lingkungan?
4. Apa pengertian personal hygiene menurut pandangan islam?
5. Bagaimana dalil yang berhubungan dengan personal hygiene?
6. Apa peran Islam dalam personal hygiene?
7. Bagaimana penyehatan lingkungan dan personal hygiene dari sudut
pandang kesehatan masyarakat?
8. Bagaimana hubungan penyehatan lingkungan dan personal hygiene?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian penyehatan lingkungan dalam pandangan
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Islam.
Untuk mengetahui dalil yang berhubungan dengan penyehatan lingkungan.
Untuk mengetahui peran Islam dalam penyehatan lingkungan.
Untuk mengetahui pengertian personal hygiene menurut pandangan Islam.
Untuk mengetahui dalil yang berhubungan dengan personal hygiene.
Untuk mengetahui peran Islam dalam personal hygiene.
Untuk mengetahui penyehatan lingkungan dan personal hygiene dalam

8.

sudut pandang kesehatan masyarakat.


Untuk mengetahui hubungan antara penyehatan lingkungan dan personal
hygiene.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Konsep Penyehatan Lingkungan


Ilmu kesehatan lingkungan adalah ilmu multidisipliner yang
mempelajari dinamika hubungan interaktif antara sekelompok manusia atau
masyarakat dengan berbagai perubahan komponen lingkungan hidup
manusia yang diduga menimbulkan gangguan kesehatan pada masyarakat
dan mempelajari upaya penanggulangan dan pencegahannya. Dalam ilmu
kesehatan lingkungan juga ada ilmu sanitasi lingkungan. Ilmu sanitasi
lingkungan adalah bagian dari ilmu kesehatan yang meliputi cara dan usaha
individu atau masyarakat untuk mengontrol dan mengendalikan lingkungan
hidup eksternal yang berbahaya bagi kesehatan serta yang dapat mengancam
kelangsungan hidup manusia. Lingkungan adalah segala sesuatu yng ada di
sekitar kita, baik makhuk hidup atau benda mati. Lingkungan terdiri atas
komponen mkhluk hidup yang disebut komponen biotik dan komponen
benda-benda mati yang disebut komponen abiotic (Chandra, 2006: 3).
Islam

merupakan

agama

yang

integral,

sempurna,

dan

menyempurnakan sistem yang lain. Dengan sifatnya yang seperti ini maka

aturan yang ada dalam ajaran agama islam haruslah mencakup semua aspek
yang diperlukan oleh manusia dalam kehidupannya di dunia. Aspek yang
diatur didalamnya tidak hanya mengatur hubungan antara sesama manusia
tetapi juga mengatur hubungan antara manusia dengan lingkungannya.
Dalam dunia kesehatan Islam juga telah memberikan penjelasan
tentang kesehatan mulai dari manusia itu dilahirkan. Mnusia terlahir dalam
kondisi suci, bersih (fitrah) "Kullu mauludin yuuladu alal fithrah" (setiap
bayi terlahir dalam keadaan suci/fitrah) perkataan ini menunjukkan bahwa
islam telah menanamkan kebersihan, kesucian dan kesehatan sejak dini,
agar tidak ada ketimpangan dalam meniti kehidupan didunia yang fana.
Salah satunya adalah dengan menjaga kelestarian lingkungan.
Lingkungan dalam islam merupakan pemahaman rasional terhadap
ayat kauniyah yang terbentang di hadapan manusia, di samping ayat
qauliyah yang cenderung menjelaskan tentang alam dan seluruh isinya.
Keberadaan alam beserta isinya merupakan sebuah kesatuan yang tidak bisa
dipisahkan. Secara keseluruhan saling membutuhkan dan melengkapi.
Kelangsungan makhluk hidup di dalamnya tergantung bagaimana manusia
tetap menjaga dan melestarikan lingkungan sehingga menjadi lingkungan
yang sehat untuk memenuhi kebutuhan manusia dan makhluk lainnya.
Melestarikan lingkungan hidup merupakan salah satu peran manusia
sebagai khalifah (menggatikan posisi nabi) di bumi, sebagaimana yang telah
difirmankan oleh Allah SWT dalam QS Al-Baqarah:30 (Dan (ingatlah)
ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,Aku hendak menjadikan

khalifah di bumi). Dalam konteks ini manusia tidak diminta untuk


menggantikan posisi Nabi sebagai seorang pemimpin namun lebih
dikedepankan bagaimana peran manusia menggantikan Nabi Muhammad
SAW dalam menjalankan perannya menjaga segala sesuatu yang ada di
muka bumi termasuk lingkungan sekitar. Dengan kata lain bahwa Allah
SWT menciptakan manusia di bumi mengelola dan menjaga daerahnya
dengan baik sebagaimana yang diperintahkan Allah dalam firmannya.
Sekarang ini permasalahannya adalah apakah manusia benar-benar
menjaga dan perduli terhadap kesehatan lingkungannya. apabila dikaitkan
dengan agama islam didalamnya telah dijelaskan agar manusia senantiasa
menjaga

kelestarian

lingkungannya.

Dengan

menjaga

kelestarian

lingkungan hidup tersebut tanpa kita sadari manusia juga turut menjaga
keseimbangan lingkungan hidupnya.
Dalam islam, mengatur menjaga kelestarian lingkungan hidup dengan
jelas terdapat dalam kitab suci Al-Quran, bahkan didalamnnya juga
dijelaskan

bahwasanya

yang

menbuat

kerusakan

di

bumi

serta

keseimbangan bumi menjadi terganggu adalah ulah perbuatan manusia.


Ketidak seimbanagan yang ada di bumi akan mulai tampak apabila terjadi
gempa yang diakibatkan oleh pergeseran lempengan kerak bumi. Seperti
yang di firmankan Allah SWT dalam QS: Al-Rum(30): 41

Artinya :
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebskan karena perbuatan manusia
supaya Allah merasakan kepada meraka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka,
agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Permasalahan inilah yang akan dikaji lebih mendalam dalam makalah ini.
Dengan berpedoman kepada Al-Quran dan Hadist sebagai bukti peringatan
kebesaran Allah tentang bagaimana cara agar menciptakan lingkungan yang yang
lestari dan sehat. Sehingga dapat terus terjaga keseimbangannya dan dapat
memopang kehidupan didalamnya.
Dalam

kesehatan

mesyarakat

menjaga

kebersihan

dan

kesehatan

lingkungan. Maksudnya adalah menciptakan lingkungan yang sehat yang bebas


dari penyakit. Hal demikian yang dimaksud bersih adalah kebersihan jasmani,
pakaian, dan kebiasaan seseorang, kebersihan jalan, rumah, saluran air serta
kebersihan makanan dan minuman.
Menurut A.L. Slamet Riyadi (1976) Lingkungan adalah Tempat
pemukiman dengan segala sesuatunya dimana organismenya hidup beserta segala
keadaan dan kondisi yang secara langsung maupun tidak dpt diduga ikut
mempengaruhi tingkat kehidupan maupun kesehatan dari organisme itu.
Terdapat beberapa pendapat tentang pengertian Penyehatan Lingkungan
sebagai berikut :

a.

Pengertian Penyehatan Lingkungan Menurut World Health Organisation


(WHO) pengertian Kesehatan Lingkungan : Those aspects of human health
and disease that are determined by factors in the environment. It also refers
to the theory and practice of assessing and controlling factors in the
environment that can potentially affect health. Atau bila disimpulkan Suatu
keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan agar
dapat menjamin keadaan sehat dari manusia.

b.

Menurut HAKLI (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia) Suatu


kondisi lingkungan yang mampu menopang keseimbangan ekologi yang
dinamis antara manusia dan lingkungannya untuk mendukung tercapainya
kualitas hidup manusia yang sehat dan bahagia.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengertian penyehatan lingkungan

adalah upaya perlindungan, pengelolaan, dan modifikasi lingkungan yang


diarahkan menuju keseimbangan ekologi pada tingkat kesejahteraan manusia yang
semakin meningkat.

Menurut UU No 23 tahun 1992 Tentang Kesehatan (Pasal 22 ayat 3), ruang


lingkup kesehatan lingkungan sebagai berikut :
1.

Penyehatan Air dan Udara

2.

Pengamanan Limbah padat/sampah

3.

Pengamanan Limbah cair

4.

Pengamanan limbah gas

5.

Pengamanan radiasi

6.

Pengamanan kebisingan

7.

Pengamanan vektor penyakit

8.

Penyehatan dan pengamanan lainnya : Misal Pasca bencana.


Kesehatan

lingkungan

erat

kaitannya

dengan

sanitasi.

Menurut

(Azwar,1990) Pengertian sanitasi adalah sesuatu cara untuk mencegah


berjangkitnya suatu penyakit menular dengan jalan memutuskan mata rantai dari
sumber. Sanitasi merupakan usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan
pada penguasaan terhadap berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi derajat
kesehatan.

2.2 Konsep Personal Hygiene

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pentehatan Lingkungan


3.1.1 Penyehatan Lingkungan Menurut Pandangan Islam
Islam merupakan agama sempurna dan komprehensif yang mengatur
seluruh aspek kehidupan manusia, untuk mengatur kemakmuran di bumi
menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan sifatnya yang seperti ini maka
aturan yang ada dalam ajaran agama islam haruslah mencakup semua aspek
yang diperlukan oleh manusia dalam kehidupannya di dunia Salah satu
penunjang kebahagian tersebut adalah dengan memiliki tubuh yang sehat, kita
dapat beribadah dengan lebih baik kepada Allah SWT. Agama Islam sangat
mengutamakan kesehatan (lahir dan batin) dan menempatkannya sebagai
kenikmatan kedua setelah Iman. Dalam perjalanan hidupnya di dunia, manusia
menjalani tiga keadaan penting: sehat, sakit atau mati.
Kesehatan manusia sangatlah dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan
yang bersih menjadikan diri kita selalu sehat dan terhindar dari segala macam

penyakit. Keberadaan alam beserta isinya merupakan sebuah kesatuan yang


tidak bisa dipisahkan. Secara keseluruhan saling membutuhkan dan
melengkapi. Kelangsungan makhluk hidup di dalamnya tergantung bagaimana
manusia tetap menjaga dan melestarikan lingkungan sehingga menjadi
lingkungan yang sehat untuk memenuhi kebutuhan manusia dan makhluk
lainnya.
Pelestarian dan penyehatan lingkungan merupakan tugas manusia
sebagai khalifah di bumi. Hakekat penciptaan manusia adalah menjadi
khalifah fil al-ardi sebagaimana firman Allah dalam Kitab Suci Al-Quran
( Qs. Al-Baqarah : 30 ).




Artinya : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat:
"Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya
dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Sejatinya sebagai khalifah, manusia harus bisa mengemban amanat yang
diberikan oleh Allah SWT. Manusia dikarunia akal adalah sebagai perangkat
agar bisa memahami makna hakekat penciptaannya dan yang lainnya bukan
untuk mengingkari makna tersebut Salah satu ayat yang paling masyhur
tentang kekhalifaan manusia tersebut adalah QS. Al-Anam : 165






Artinya : Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan
Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa
derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.

Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia


Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Islam adalah agama yang mengajarkan kepada umatnya untuk bersikap
ramah lngkungan. Sikap ramah lingkungan yang diajarkan oleh agama Islam
kepada manusia dapat dirinci sebagai berikut :
1.

Agar manusia menjadi pelaku aktif dalam mengolah lingkungan serta


melestarikannya. Di dalam al-Quran surat Ar Ruum ayat 9 Allah SWT
berfirman :

Artinya : Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan
memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang
sebelum mereka. orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri)
dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak
dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada
mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata.
Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi
merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.
Pesan yang disampaikan dalam surat Ar Ruum ayat 9 di atas
menggambarkan agar manusia tidak mengeksploitasi sumber daya alam secara
berlebihan yang dikhawatirkan terjadinya kerusakan serta kepunahan sumber daya
alam, sehingga tidak memberikan sisa sedikitpun untuk generasi mendatang.

Untuk itu Islam mewajibkan agar manusia menjadi pelaku aktif dalam mengolah
lingkungan serta melestarikannya. Mengolah serta melestarikan lingkungan
tercermin secara sederhana dari tempat tinggal (rumah) seorang muslim.
Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh
Thabrani : Dari Abu Hurairah : Jagalah kebersihan dengan segala usaha yang
mampu kamu lakukan. Sesungguhnya Allah menegakkan Islam di atas prinsip
kebersihan. Dan tidak akan masuk surga, kecuali orang-orang yang bersih. (HR.
Thabrani). Dari Hadits di atas memberikan pengertian bahwa manusia tidak boleh
kikir untuk membiayai diri dan lingkungan secara wajar untuk menjaga
kebersihan agar kesehatan diri dan keluarga/masyarakat kita terpelihara.Demikian
pula, mengusahakan penghijauan di sekitar tempat tinggal dengan menanamkan
pepohonan yang bermanfaat untuk kepentingan ekonomi dan kesehatan,
disamping juga dapat memelihara peredaran udara yang kita hisap agar selalu
bersih, bebas dari pencemaran. Dalam sebuah Hadits disebutkan : Tiga hal yang
menjernihkan pandangan, yaitu menyaksikan pandangan pada yang hijau lagi asri,
dan pada air yang mengalir serta pada wajah yang rupawan. (HR. Ahmad)
2.

Agar manusia tidak berbuat kerusakan terhadap lingkungan


Manusia merupakan agen utama perusak lingkungan. Dengan bertambahnya

populasi manusia, maka perubahan lingkungan yang berimbas kepada kerusakan


lingkungan sulit untuk dihindarkan. Selain bertambah dalam jumlah, aktivitas
manusia juga bertambah cepat dengan diciptakannya teknologi yang mampu
mempercepat kerja dan memperbesar hasil. Pertambahan kecepatan aktivitas
tersebut ternyata sekaligus mempercepat proses kerusakan lingkungan pula. Di

dalam surat Ar Ruum ayat 41 Allah SWT memperingatkan bahwa terjadinya


kerusakan di darat dan di laut akibat ulah manusia.


Artinya : Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena
perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka
sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke
jalan yang benar).
Dan di dalam Q.S Al Araf ayat 56 yang berbunyi :




Artinya : Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah
(Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut
(tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya
rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.
Serta dalam Q.S Al Qashash ayat 77 menjelaskan sebagai berikut :






Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan
bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada
orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Ketiga firman Allah SWT ini menekankan agar manusia berlaku ramah
terhadap lingkungan (environmental friendly) dan tidak berbuat kerusakan di

muka bumi ini. Di dalam Hadits lainnya ditambah dengan membuang hajat di
tempat sumber air. Dari keterangan di atas, jelaslah aturan-aturan agama Islam
yang menganjurkan untuk menjaga kebersihan dan lingkungan. Semua larangan
tersebut dimaksudkan untuk mencegah agar tidak mencelakakan orang lain,
sehingga terhindar dari musibah yang menimpahnya. Islam memberikan panduan
yang cukup jelas bahwa sumber daya alam merupakan daya dukung bagi
kehidupan manusia, sebab fakta spritual menunjukkan bahwa terjadinya bencana
alam seperti banjir, longsor, serta bencana alam lainnya lebih banyak didominasi
oleh aktifitas manusia. Allah SWT telah memberikan fasilitas daya dukung
lingkungan bagi kehidupan manusia.
3.

Agar manusia selalu membiasakan diri bersikap ramah terhadap lingkungan


Allah SWT berfirman dalam Q.S Huud ayat 117 :

Artinya : Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri


secara zalim,

sedang penduduknya

orang-orang yang

berbuat

kebaikan.

Fakta yang terjadi selama ini membuktikan bahwa Surat Huud ayat 117
benar-benar terbukti. Perhatikan bencana alam banjir di Jakarta, tanah longsor
yang di daerah-daerah di Jawa Tengah, tumpukan sampah dimana-mana, polusi
udara yang tidak terkendali, serta bencana alam di daerah atau di negara lain
membuktikan bahwa Allah tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim,
melainkan penduduknya terdiri dari orang-orang yang tidak berbuat kebaikan
terhadap

lingkungan.

Dengan

adanya

kepedulian

terhadap

lingkungan

memberikan dua pahala sekaligus, yakni pahala surga dunia berupa hidup bahagia
dan sejahtera dalam lingkungan yang bersih, indah dan hijau, dan pahala surga
akhirat kelak di kemudian hari. Untuk mendapatkan dua pahala tersebut seorang
manusia harus peduli terhadap lingkungan, apalagi manusia telah diangkat oleh
Allah sebagai khalifah. Hal ini dapat dilihat pada surat Al-Baqarah ayat 30.

3.1.2 Dalil yang Berhubungan dengan Penyehatan Lingkungan

Upaya

penyehatan

lingkungan

salah

satunya

adalah

denganmemperhatikan dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar, karena


dalam ajaran Islam manusia dilarang merusak alam sebagaimana tugas
manusia diturunkan ke bumi sebagai khalifah. Menjaga kebersihan lingkungan
sama pentingnya dengan menjaga kebersihan diri karena kebersihan
lingkungan mempengaruhi keselamatan manusia dan lingkungan sekitar. Islam
sangat menganjurkan manusia untuk hidup bersih, sehat, dan cinta lingkungan.
Banyak ayat-ayat Alquran maupun Hadits Nabi yang berisi pesan terkait
dengan anjuran tersebut, diantaranya :
1. Anjuran Menanaman Pohon dan Penghijauan
Rasulullah SAW menjelaskan tentang pentingnya bercocok tanam dan
menanam pepohonan karena perbuatan tersebut akan mendatangkan pahala
yang besar di sisi Allah SWT. Anjuran menanam pohon dan penghijauan
diungkapkan secara tegas dalam dalam hadits Rasulullah SAW, yang
berbunyi:

Artinya : Rasulullah SAW bersabda : tidaklah seorang muslim menanam


tanaman, kemudian tanaman itu dimakan oleh burung, manusia,
ataupun hewan, kecuali baginya dengan tanaman itu adalah sadaqah.
(HR. al-Bukhari dan Muslim dari Anas).
Seorang muslim dianjurkan untuk menanam pohon tidak lain untuk
kepentingan dan kemakmuran dirinya sendiri dan makhluk lainnya. Selain itu
Allah juga berfirman pada QS. Al-Anam (6):99 :




Artinya: Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami
tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami
keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami
keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari
mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebunkebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa
dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya
berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada
yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang
yang beriman.
Sedangkan bagi siapa saja yang berusaha merusak alam salah satunya
dengan menebang pohon akan dicelupkan kepalanya ke dalam neraka. Hal ini
diungkapkan secara tegas dalam dalam hadits Rasulullah SAW, yang berbunyi :

12

Artinya : Barang siapa yang menebang pepohonan, maka Allah akan


mencelupkannya ke dalam neraka.

Dijelaskan kemudian oleh Abu Daud, yaitu kepada manusia yang memotong
pepohonan secara sia-sia tempat para musafir dan hewan berteduh. Ancaman
keras tersebut merupakan ikhtiar untuk menjaga kelestarian pohon karena
keberadaan pepohonan sangat bermanfaat bagi lingkungan. Kecuali jika
penebangan dilakukan dengan pertimbangan atau menanam pepohonan baru agar
dapat menggantikan fungsi pohon yang ditebang.
2. Anjuran Menghidupkan Lahan Mati
Lahan mati adalah tanah yang tidak bertuan, tidak berair, tidak diisi
bangunan, dan tidak dimanfaatkan. Allah SWT, ini dijelaskan dalam QS. Yasin
(36):33 :



Artinya : Dan suatu tanah (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah
bumi yang mati, Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan
daripadanya biji-bijian, maka dari padanya mereka makan.
Sesungguhnya Allah itu telah menyediakan tanah agar manusia dapat
memanfaatkannya dengan menanam tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan
mereka. Allah juga berfirman pada QS. Al-Hajj(22):5-6 :

( 5)

(6)
Artinya : Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami telah
menurunkan air diatasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan

menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. Yang


demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dia lah yang hak dan
sesungguhnya Dia lah yang menghidupkan segala yang mati dan
sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Tanah dikatakan mati jika tanah ditinggalkan, tidak ditanami, dan tidak ada
bangunan. Kecuali jika terdapat pohon yang tumbuh di atasnya. Menghidupkan
lahan mati diungkapkan dalam hadits yang berbunyi :


Artinya: Barang siapa yang menghidupkan tanah (lahan) mati maka ia menjadi
miliknya.

Maksud dari hadits di atas status kepemilikan tanah adalah bagi mereka
yang menghidupkannya. Sebagai motivasi dan anjuran bagi mereka yang
menghidupkannya. Menghidupkan lahan mati adalah suatu keutamaan yang
dianjurkan Islam, dan dijanjikan bagi yang mengupayakannya pahala yang amat
besar karena dianggap sebagai usaha pengembangan pertanian dan menambah
sumber daya alam.
3.

Anjuran Menjaga Sumber Air


Air merupakan salah satu sumber alam yang sangat penting untuk dijaga,

karena air sebagai sumber kehidupan bagi manusia, hewan, dan tumbuhan.
Anjuran ini terdapat pada QS Al-Anbiya(21):30 yang berbunyi :




Artinya: Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya
langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian
Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala

sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?


Manusia wajib menjaga dan melestarikan sumber-sumber air, karena
makhluk hidup terutama manusia sangat membutuhkan air. Janganlah melakukan
tindakan yang dapat mencemari dan merusak sumber air, termasuk menggunakan
air secara berlebihan. Adapun hadits yang berisi pesan untuk menjaga sumber air,
diantaranya :
a.
Membuang air besar di tempatnya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

Artinya : Jauhilah tiga macam perbuatan yang dilaknat; buang air besar di
sumber air, di tengah jalan, dan di bawah pohon yang teduh. (HR. Abu
Daud)
Adapun hadits yang melarang untuk buang air di air tidak mengalir, yakni :

Artinya : Janganlah salah seorang dari kalian kencing di air yang diam yang tidak
mengalir, kemudian mandi disana. (HR. Al-Bukhari)
Yang dimaksud air mengalir adalah sungai, ini berarti dilarang membuang
air kecil maupun besar di air. Di sepanjang sungai tersebut akan banyak sekali
orang yang memanfaatkanya untuk berbagai keperluan hidup. Dan dapat
dipastikan air yang diambil dari sepanjang sungai tercemar oleh kotoran yang
berasal dari kencing atau tinja. Saat ini pencemaran air yang tidak hanya berasal
dari kencing atau buang air besar, sudah banyak sumber pencemaran lain yang
bahkan lebih berbahaya dan berpengaruh bagi manusia dan lingkungan, yakni
pencemaran dari limbah industri, zat kimia, zat beracun dan minyak yang
mencemari samudera dan laut. Jangan pula buang air kecil atau besar di jalan dan
di bawah pohon yang teduh karena bau yang timbul dari kencing atau tinja akan

mengganggu orang lain dan dapat menyebarkan penyakit melalui lalat atau
diterbangkan angin.
b.
Penggunaan air yang berlebihan dapat menyebabkan berkurang persedian
air. Larangan menggunakan air secara berlebihan terdapat dalam QS. Al-Anam
(6):141, yang berbunyi :


Artinya : Dan janganlah kalian israf (berlebih-lebihan). Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang berlaku israf.
Ayat di atas didukung oleh hadits, yakni :





Artinya : Nabi SAW pernah bepergian bersama Saad bin Abi Waqqas. Ketika
Saad berwudhu, Nabi berkata : Jangan menggunakan air berlebihan.
Saad bertanya : Apakah menggunakan air juga bisa berlebihan?.
Nabi menjawab: Ya, sekalipun kamu melakukannya di sungai yang
4.

mengalir.
Anjuran Menghindari Kerusakan dan Menjaga Keseimbangan Alam
Allah menciptakan segala sesuatu termasuk alam ini dengan perhitungan

tertentu. Seperti dalam firman Nya dalam QS. Al-Mulk (67):3 yang berbunyi :


Artinya : Allah yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekalikali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang
tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang. Adakah kamu lihat
sesuatu yang tidak seimbang .
Manusia diperintahkan untuk menghindari kerusakan dan menjaga
keseimbangan alam. Keseimbangan yang diciptakan Allah SWT dalam suatu
lingkungan hidup akan terus berlangsung dan akan terganggu jika terjadi suatu

keadaan luar biasa, seperti gempa. Namun menurut Al-Quran bencana tersebut
disebabkan

oleh

ulah

perbuatan

manusia.

Firman

Allah

SWT

yang

mengungkapkan hal ini terdapat dalam QS. Ar-Rum (30):41.



Artinya :
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat)
perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar).

Allah SWT juga berfirman di dalam QS. Ali Imran (3):182 :



Artinya : (Adzab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu
sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba
Nya.
Saat ini campur tangan umat manusia terhadap lingkungan cenderung
meningkat. Tindakan yang mereka lakukan tersebut berdampak buruk pada
keseimbangan alam. Seperti melakukan penebangan pohon yang menyebabkan
penggundulan hutan dan pendangkalan laut. Hal tersebut menyebabkan gangguan
terhadap habitat secara global, meningkatnya suhu udara, serta menipisnya lapisan
ozon. Kecemasan yang melanda orang-orang yang beriman adalah kenyataan
bahwa kezhaliman umat manusia dan tindakan mereka yang merusak pada suatu
saat akan berakibat pada hancurnya bumi beserta isinya.

3.1.3 Peran Islam dalam Penyehatan Lingkungan


Beberapa aspek yang dapat dilakukan oleh Islam dalam pengelolaan
lingkungan yang terpadu adalah:

1.

Pendidikan lingkungan
Pendidikan lingkungan yang diajarkan secara Islami merupakan sarana
penting bagi muslim untuk mengenal dan menyadari lingkungan hidup
mereka secara baik dan benar sehingga mampu berperan secara sadar dan
aktif dalam pengelolaan dan pembinaan lingkungan. Sebagai mayoritas
penduduk Indonesia, muslim mempunyai kewajiban dan peran yang sangat
besar dalam pengelolaan lingkungan tersebut. Dibutuhkan pengetahuan dan
kesadaran yang mendalam bahwa Islam sangat memperhatikan lingkungan
dan kesehatan. Hal ini membutuhkan peran pendidik, ulama, dan tokoh
masyarakat untuk menanamkan pengetahuan dan kesadaran tersebut kepada
masyarakat.

Selanjutnya

pembangunan

yang

berkelanjutan

juga

memperhatikan aspek sumber daya manusia sebagai pelaku dan penanggung


jawab pembangunan tersebut. Peningkatan mutu sumber daya manusia yang
pintar dan bijaksana sangat ditekankan dalam Islam.
2.

Media massa Islam


Peran media massa Islam tidaklah kurang penting dari pendidikan bahkan
merupakan partner yang cukup relevan untuk menunjang pendidikan
lingkungan tersebut. Media massa Islami harus diisi pula dengan pendidikan
lingkungan, terutama untuk anak-anak dan generasi muda sehingga mereka
menyadari hubungan agama dengan lingkungan dan arti penting hubungan
tersebut demi kesejahteraan dan kesehatan manusia dan lingkungan. Untuk
kalangan dewasa, media massa perlu juga menyisipkan pendidikan
mengenai bahaya kesehatan yang ditimbulkan akibat kerusakan lingkungan

dan juga pengetahuan mengenai pembangunan yang berkelanjutan


(sustainable development) yang memang sesuai dengan nafas Islam.
3.

Kebijakan dan penegakan hukum lingkungan secara Islami


Islam sama sekali tidak melarang pemanfaatan lingkungan demi
kesejahteraan

manusia,

namun

Islam

mewajibkan

bahwa

dalam

pemanfaatan tersebut harus dihindari pemanfaatan yang berlebihan


sehingga dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan dan membahayakan
makhluk hidup yang lain termasuk manusia sendiri. Islam menyarankan
untuk melakukan pemanfaatan yang berkelanjutan (sustainable utilization)
yang pada akhirnya akan mampu memberikan kesejahteraan yang merata
dan berkelanjutan bagi manusia dan mahkluk hidup lainnya. Dalam hukum
Islam juga ada perintah untuk menjaga dan membantu lingkungan sekitar
dengan memberikan sedekah, mungkin tidaklah berlebihan apabila wakaf
dapat diberikan berupa hutan kota, hutan lindung, hutan wisata, atau hutan
pendidikan yang sangat berguna bagi masyarakat sekitar baik muslim
ataupun non muslim. Selain itu, bentuk hibah tersebut juga akan mampu
menambah kesegaran dan kesehatan lingkungan ditambah lagi membantu
hewan-hewan liar seperti burung-burung dan hewan-hewan kecil lainnya
menemukan habitat hidup mereka. Bentuk hibah seperti ini sangatlah
cocok bagi lingkungan perkotaan yang semakin mengalami penurunan
kualitas lingkungan dan kesehatannya akibat berkurangnya hutan
penyanggah (buffer zone) di daerah perkotaan tersebut.
Dalam konteks masyarakat muslim modern, masalah kesehatan
telah menjadi urusan publik yang terkait dengan kebijakan negara. Adapun

upaya mewujudkan perilaku sehat warga masyarakat dalam perspektif


kebijakan kesehatan diantaranya kebijakan peningkatan upaya kesehatan
lingkungan terutama penyediaan sanitasi dasar yang dikembangkan dan
dimanfaatkan oleh masyarakat untuk meningkatkan mutu lingkungan
hidup. Kebijakan dalam mengatasi masalah kesehatan masyarakat melalui
upaya peningkatan pencegahan, penyembuhan penyakit dan pemulihan
kesehatan terutama untuk ibu dan anak dan kebijakan peningkatan
kemampuan masyarakat untuk hidup sehat.

3.2 Personal Hygiene


3.2.1 Personal Hygiene Menurut Pandangan Islam
Personal hygiene atau kebersihan diri adalah upaya seseorang dalam
memelihara kebersihan dan kesehatan dirinya untuk memperoleh kesehatan fisik.
Personal hygiene meliputi kebersihan badan, tangan, gigi, kuku, dan rambut.
Allah menyerukan kepada orang beriman agar selalu menjaga kebersihan dan
kesucian diri mereka. Kebersihan badan merupakan wujud dari kesucian. Dalam
prespektif Islam, setiap muslim selalu dituntut untuk menjaga kesucian badannya
baik dari hadast besar maupun hadast kecil, terlebih lagi ketika akan beribadah
kepada Allah. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa Allah memerintahkan
seseorang untuk bersuci sebelum melakukan shalat, yaitu dalam QS.Al-Maidah
ayat 6 sebagai berikut :



Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan
shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan
sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki,
dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam
perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh
perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah
dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu
dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia
hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya
bagimu, supaya kamu bersyukur.
Dari ayat di atas dapat diketahui bahwa untuk bersuci dapat dilakukan
dengan wudlu (untuk menghilangkan hadast kecil), mandi (untuk menghilangkan
hadas besar), bertayamum (bila tidak dijumpai air). Kebersihan kulit kepala
misalnya, bila mencuci rambut dilakukan dengan teratur, paling tidak satu kali
dalam sepekan, maka kecil kemungkinan akan terjadi gangguan kesehatan.
Di samping selalu dibersihkan, rambut juga harus disisir dengan rapi. Hal
ini dicontohkan Rasullulah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud yang

artinya Siapa yang mempunyai rambut, hendaklah meliaknya (menyisirnya).


Kebersihan kulit tidak kalah penting juga, harus dirawat dan diperhatikan. Selain
kebersihan kulit, perlu diperhatikan pula kebersihan kuku. Sebagaimana sabda
Rasulullah SAW sebagai berikut :

Artinya : Potonglah kukumu, sesungguhnya syetan duduk (bersembunyi) di


bawah kukumu yang panjang.

Hadits diatas dengan jelas menunjukkan adanya bakteri yang tersembunyi di


bawah kuku-kuku, seperti bakteri thypoeid, desentri atau telur cacing. Karena
Meskipun kuku hanya merupakan bagian kecil anggota badan, akan tetapi kuku
sangat besar pengaruhnya bagi kesehatan. Kuku terutama kuku jari tangan
merupakan tempat yang baik bagi bibit-bibit penyakit.
Banyak bakteri yang hidup di bawah kuku yang panjang dan kotor. Kondisi
semacam ini dapat menularkan penyakit, yakni ketika kita setelah buang air besar
tidak mencuci tangan dengan bersih hingga bakteri yang ada pada tangan
berpindah ke makanan. Di antara penyakit yang dipindahkan adalah semua
penyakit yang dibawa lalat terutama typhoeid, solamania, desentri, keracunan
makanan, dan telur cacing terutama cacing aksoris dan ascaris (cacing gelang,
yaitu cacing yang hidup di dalam usus halus manusia) dan cacing pita dengan
segala macamnya. Inilah sebagian penyakit yang dipindahkan oleh serangga, yang
dapat berpindah hanya dengan menyentuh.
_: ._

Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw. Bersabda: Andaikan aku tidak
memberatkan pada umatku (atau pada orang-orang) pasti aku perintahkan
(wajibkan) atas mereka bersiwak (gosok gigi) tiap akan sembahyang. (HR.
Bukhari Musllim)
3.2.2 Dalil Yang Berhubungan Dengan Personal hygiene
Personal hygiene (kebersihan diri) meliputi kebersihan badan, tangan, gigi,
kuku, dan rambut. Allah menyerukan kepada orang beriman agar selalu menjaga
kebersihan dan kesucian diri mereka, hal tersebut terlihat dari banyaknya kata atau
ayat dalam al quran tentang hal tersebut, diantaranya adalah:
1.

Kebersihan adalah sebagian dari iman


Kebersihan

adalah

upaya

manusia

untuk

memelihara

diri

dan

lingkungannya dari segala yang kotor dan keji dalam rangka mewujudkan dan
melestarikan kehidupan yang sehat dan nyaman. Kebersihan merupakan syarat
bagi terwujudnya kesehatan, dan sehat adalah salah satu faktor yang dapat
memberikan kebahagiaan. Sebaliknya, kotor tidak hanya merusak keindahan
tetapi juga dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit, dan sakit merupakan
salah satu faktor yang mengakibatkan penderitaan.
Banyak ayat Al-Quran dan hadits yang berisi pesan tentang kebersihan dan
kesucian. Beberapa di antaranya seperti ayat dan hadits di bawah ini :


Artinya : Kebersihan adalah sebagian dari keimanan. (H.R Muslim no: 223)
Kebersihan itu bersumber dari iman dan merupakan bagian dari iman.
Dengan demikian kebersihan dalam islam mempunyai aspek ibadah dan aspek
moral, dan karena itu sering juga dipakai kata bersuci sebagai padanan kata

membersihkan / melakukan kebersihan. Ajaran kebersihan tidak hanya


merupakan slogan atau teori belaka, tetapi harus dijadikan pola hidup praktis,
yang mendidik manusia hidup bersih sepanjang masa, bahkan dikembangkan
dalam hukum islam.
Hadits tersebut juga menjelaskan bahwa kebersihan merupakan sebagian dari
iman. Artinya seorang muslim telah memiliki iman yang sempurna jika dalam
kehidupannya ia selalu menjaga diri, tempat tinggal dan lingkungannya dalam
keadaan bersih dan suci baik yang bersifat lahiriyah (jasmani) maupun batiniyah
(rohani).
2. Tentang orang yang mau bertaubat dan menjaga kebersihannya
Kebersihan lahir merupakan tanda dan cerminan akan kebersihan batin.
Kebersihan batin didapat dengan cara bertaubat, hal ini dapat meningkatkan
kekuatan iman seseorang kepada Allah. Begitu pentingnya kebersihan menurut
islam, sehingga orang yang membersihkan diri atau mengusahakan kebersihan
akan dicintai oleh Allah SWT, Sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S Al
Baqarah (2) ayat 222 yang berbunyi :












Artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: Haidh itu
adalah suatu kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri
dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka,

sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah


mereka

itu

di

tempat

yang

diperintahkan

Allah

kepadamu.

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan


menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al Baqarah
[2]:222)
Bertaubat adalah menyucikan diri dari kotoran batin, sedangkan
menyucikan diri dari kotoran lahir adalah mandi dan berwudhu. Manusia
diperintahkan untuk selalu menjaga kebersihan dirinya baik dari kotoran lahir
maupun batin, karena Allah menyukai orang yang selalu mensucikan diri.

Perintah mencuci tangan


Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
dzastaiqodzo ahadukum min naumihi falyaghsil yadahu.
Artinya : Apabila salah satu darimu bangun tidur maka hendaknya dia mencuci
3.

tangannya. (HR.Muslim)
Hadist di atas berisi anjuran untuk membasuh tangan. Membasuh tangan
juga terdapat di dalam rukun wudhu yang dilakukan minimal 5 kali dalam sehari
yaitu saat akan melaksanakan sholat 5 waktu. Hal ini menunjukkan bahwa Islam
sangat memperhatikan masalah kebersihan diri terutama tangan. Ketika baru
bangun tidur saja dianjurkan mencuci tangan, apalagi jika sehabis melakukan
kegiatan yang memungkinkan tangan kita tercemar berbagai kuman penyakit
seperti setelah buang air.
Begitu pula Islam telah mengajarkan adab yang baik bagi umatnya, yaitu ketika
seorang muslim selesai makan sedangkan ia hendak menunaikan sholat maka
hendaknya ia berkumur-kumur terlebih dahulu lalu berangkat ke masjid untuk
menunaikan sholat.

Sedangkan jika ia hendak tidur hendaklah ia mencuci tangannya terlebih dahulu


dari bau-bauan yang masih melekat pada tangannya karena dikhawatirkan baubauan pada tangannya itu akan mengundang binatang semisal tikus, kecoa, lipan,
semut dan selainnya lalu mereka akan melukai tangannya. Jika demikan janganlah
ia menyalahkan dan mencela siapapun kecuali dirinya sendiri.
Dari Suwaid bin An-Numan radhiyallahu anhu berkata,




Kami pernah keluar bersama-sama Rosulullah ke Khaibar. Ketika kami tiba di
daerah ash-Shahba, beliau minta dibawakan makanan. Tiada sesuatupun (yang
dapat dihidangkan) melainkan gandum. Maka kami pun makan. Kemudian beliau
berdiri untuk sholat (maghrib), maka beliau berkumur-kumur, dan kami pun
berkumur-kumur. [HR al-Bukhariy: 5454, 5455].
Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


Apabila seseorang di antara kalian tidur sedangkan pada tangannya masih ada
bau kotor (bekas makanan) dan ia tidak mencucinya lalu terjadi sesuatu padanya
maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri. [HR Ibnu Majah: 3297 dan
Abu Dawud: 3852. Berkata ash-Syaikh al-Albaniy: Shahih].
Hadits-hadits di atas menunjukkan disunnahkannya berkumur-kumur setelah
selesai dari makan terutama apabila kita hendak segera mengerjakan solat. Dan

dianjurkan untuk mencuci tangan apabila telah selesai dari makan, karena di
dalamnya terdapat bahaya.
4.

Perintah memotong kuku


Memotong kuku juga merupakan salah satu cara menjaga kebersihan diri.

Hal ini dikarenakan banyak bakteri yang dapat tersimpan di kuku, sehingga dapat
menyebabkan terjadinya penyakit Sebagaimana sabda Rasulullah SAW sebagai
berikut :

Artinya : Potonglah kukumu, sesungguhnya syetan duduk (bersembunyi) di


bawah kukumu yang panjang.
5.

Perintah membersihkan gigi


Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya sebagai berikut :
Cungkillah, bersihkan gigimu dari sisa-sisa makanan, karena perbuatan
seperti itu merupakan kebersihan dan kebersihan bersama dengan keimanan,
dan keimanan menyertai orangnya di dalam surga. (HR. Imam thabram)
Maksud dari hadits di atas, membersihkan gigi merupakan hal yang

dianggap penting oleh Rasulullah SAW. Dalam ilmu kesehatan pun,


membersihkan gigi merupakan salah satu cara menjaga kesehatan dan kebersihan
diri. Sisa makanan yang tertinggal di sela-sela gigi akan menyebabkan kerusakan
pada gigi sehingga akan menimbulkan bau mulut.
6.

Hukum-hukum tentang wudhu, mandi, dan tayamum


Terdapat pada ayat al quran surat Al Maidah (5) ayat 6 yang berbunyi :






Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan
shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan
sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki,
dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam
perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh
perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah
dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan
tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak
membersihkan kamu dan menyempurnakan nimat-Nya bagimu, supaya
kamu bersyukur. (QS. Al Maidah [5]: 6).

7.

Perintah menggunakan pakaian yang baik


Terdapat dalam surat Al Araf (7) ayat 31








Artinya : Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki)
masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihlebihan. (QS. Al Araf [7]:31)
Selain itu terdapat juga ayat lain yang membahas hal tersebut yaitu pada
surat Al Muddatsir (74) ayat 4-5

( 4)
(5)


Artinya : Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah.
Maksud ayat-ayat di atas, seorang muslim diperintahkan untuk memakai
pakaian yang bersih, rapi, dan tidak berlebihan, terutama ketika akan beribadah
atau ke masjid. Maksud dari kalimat Pakaianmu Bersihkanlah adalah jangan
memakai kembali pakaian yang dipakai dalam berbuat kemaksiatan dan penipuan.
8.

Perintah menjalankan fitrah









" :







:












:
"



:
" :











Artinya : Dari Aisya radiyallahu 'anha, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda: "Ada 10 sifat dasar manusia (fitrah): Mencukur kumis,

memanjangkan jenggot, sikat gigi, istinsyaaq (membersihkan hidung


dengan menghirup air), memotong kuku, mencuci persendian,
mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, cebok dengan air, dan
kumur-kumur". [Sahih Muslim].
Dari hadits tersebut, yang perlu diperhatikan dalam kebersihan adalah
Memotong bulu kemaluan dengan maksud agar kotoran dan bibit penyakit
yang ada disekitarnya dapat dibersihkan. Lalu Berkhitan Adalah memotong
kulup (kulit yang menutupi ujung kemaluan) dengan maksud untuk
memudahkan membersihkannya sehingga tidak ada sisa dari najis. Memotong
Kumis dengan maksud agar tidak ada kotoran dibawah lubang hidung yang
mungkin terhisap pada waktu bernafas yang mengakibatkan timbulnya
penyakit. Mencabut Bulu Ketiak dengan maksud agar tidak ada kotoran yang
terlindungi oleh bulu ketiak yang sulit dibersihkan.
3.2.3 Peran Islam Dalam Personal Hygiene
3.3 Penyehatan Lingkungan dan Personal Hygiene Dari Segi Kesehatan
Masyarakat
3.4 Hubungan Penyehatan Lingkungan dan Personal Hygiene

BAB 1V
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
4.2 SARAN