Anda di halaman 1dari 1

Pemerintah Kota Samarinda dan Kabupaten Kutai Kartanegara

Proyek Bandar Udara Kutai

Final Report

BAB VII
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

6. Sebagai kesimpulan Loakulu diusulkan menjadi lokasi bandara baru menggantikan


Bandar Udara Temindung-Samarinda, dalam rangka menunjang pembangunan
daerah Samarinda-Kutai Kartanegara khususnya.

A. KESIMPULAN
1. Persyaratan operasi penerbangan untuk lokasi Loakulu dapat diterapkan tanpa
hambatan yang berarti, mengingat area tersebut relatif bebas dari rintangan
(obstacle).

B. REKOMENDASI
1. Dikaitkan dengan pelaksanaan otonomi daerah secara umum, khususnya menunjang
pembangunan dan pengembangan daerah propinsi Kalimantan Timur maupun daerah
Kota Samarinda dan Kabupaten Kutai Kartanegara, direkomendasikan agar waktu
pembangunan Bandar Udara Samarinda-Kutai Kartanegara dilaksanakan sejalan

2. Prosedur pelayanan pemanduan lalu-lintas penerbangan terhadap air traffic dapat


dilaksanakan sesuai dengan organisasi dan kelas ruang udara di Loakulu dan

dengan program pembagunan secara menyeluruh, dengan pertimbangan sesuai


urutan prioritas dan tanpa penundaan jadwal pembangunan.

organisasi ruang udara di atasnya (TMA Balikpapan).


2. Untuk percepatan pembangunan Bandar Udara baru Samarinda-Kutai Kartanegara,
3. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dalam segala aspek, maka lokasi Loakulu
mempunyai keunggulan terhadap lokasi Tanjungbatu, terutama dalam aspek
keselamatan penerbangan, teknis dan ekonomi, demikian juga jaraknya lebih dekat
yaitu 15 km dari Kota Samarinda (Tanjungbatu 18 km dari Samarinda).

direkomendasikan agar proses pembuatan Rencana Induk dan Rancangan Teknik


Terinci, apabila memungkinkan, dapat dilakukan berdampingan (bersamaan) dengan
pekerjaan fisik konstruksi. Sejalan dengan itu diharapkan pula agar penyempurnaan
Rencana Umum Tata Ruang Wilayah (RUTRW) untuk lokasi Loakulu dapat pula
disempurnakan.

4. Tanah yang disediakan untuk calon Bandar Udara Samarinda-Kutai Kartanegara di


Loakulu dengan panjang 7 km dan lebar 1.5 km, sangat memadai untuk operasi
pesawat B.747-400/sejenisnya serta untuk pengembangan selanjutnya setelah tahun
2025. Penyediaan lahan yang rata dapat dilakukan bertahap dengan memotong bukitbukit di dalam lokasi.
5. Biaya pembangunan terbesar adalah biaya pembangunan prasarana landasan,
taxiway, apron dan strip, dimana pada tahap I berjumlah Rp. 647.55 Milyar, yang
kedua adalah biaya pekerjaan tanah sebesar Rp. 200 Milyar, yang ketiga untuk
fasilitas bangunan sisi darat yang pada tahap I berjumlah Rp. 161.14 Milyar. Total
biaya keseluruhan tahap I, II dan III adalah Rp. 2.180 Milyar. Menurut analisis
finansial, maka pengembalian investasi dalam 26 tahun dengan IRR 10,6 %.

PT. PAKARYA & LPTMA - STPI


Lembaga Pengkajian Teknologi dan Manajemen Aviasi

VII - 1