Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

Manusia memiliki sekitar 12 rongga di sepanjang atap dan bagian lateral kavum
nasi. Sinussinus ini membentuk rongga di dalam beberapa tulang wajah, dan diberi
nama sesuai dengan tulang tersebut, yaitu sinus maksilaris, sinus sfenoidalis, sinus
frontalis, dan sinus etmoidalis. Sinus yang dalam keadaan fisiologis adalah steril, apabila
klirens sekretnya berkurang atau tersumbat, akan menimbulkan lingkungan yang baik
untuk perkembangan organisme patogen. Apabila terjadi infeksi karena virus, bakteri
ataupun jamur pada sinus yang berisi sekret ini, maka terjadilah sinusitis.1
Sinusitis dianggap salah satu penyebab gangguan kesehatan tersering di dunia.
Data dari DEPKES RI tahun 2003 menyebutkan bahwa penyakit hidung dan sinus berada
pada urutan ke-25 dari 50 pola penyakit peringkat utama atau sekitar 102.817 penderita
rawat jalan di rumah sakit. Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran 1996
yang diadakan oleh Binkesmas bekerja sama dengan PERHATI dan Bagian THT RSCM
mendapatkan data penyakit hidung dari 7 propinsi2 . Data dari Divisi Rinologi
Departemen THT RSCM Januari-Agustus 2005 menyebutkan jumlah pasien rhinologi
pada kurun waktu tersebut adalah 435 pasien, 69%nya adalah sinusitis (PERHATI, 2006).
Kejadian sinusitis umumnya disertai atau dipicu oleh rhinitis sehingga sinusitis
sering juga disebut dengan rhinosinusitis. Rhinosinusitis adalah penyakit inflamasi yang
sering ditemukan dan mungkin akan terus meningkat prevalensinya. Rhinosinusitis dapat
mengakibatkan gangguan kualitas hidup yang berat, sehingga penting bagi dokter umum
atau dokter spesialis lain untuk memiliki pengetahuan yang baik mengenai definisi, gejala
dan metode diagnosis dari penyakit rhinosinusitis ini.
Alergi adalah salah satu faktor prediposisi dalam patogenesis sinusitis kronis,
yang mengakibatkan edema mukosa dan hipersekresi, keadaan ini akan menimbulkan
penyumbatan muara sinus mengakibatkan stasis sekret. Hal ini sebagai medium infeksi
yang akhirnya menyebabkan sinusitis kronis.2 Penyakit alergi adalah suatu penyimpangan
reaksi tubuh terhadap paparan bahan asing yang menimbulkan gejala pada orang yang
berbakat atopi sedangkan pada kebanyakan orang tidak menimbulkan reaksi apapun. 3

Gangguan alergi pada hidung ternyata lebih sering dari perkiraan dokter maupun orang
awam, yaitu menyerang sekitar 10 % dari populasi umum.
Secara epidemiologi yang paling sering terkena adalah sinus ethmoid dan
maksilaris. Bahaya dari sinusitis adalah komplikasinya ke orbita dan intracranial,
komplikasi ini terjadi akibat tatalaksana yang inadekuat atau faktor predisposisi yang
tidak dapat dihindari. Tatalaksana dan pengenalan dini terhadap sinusitis ini menjadi
penting karena hal diatas.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Kehamilan kembar adalah suatu kehamilan dengan dua janin atau lebih. Kembar
dizigotik memiliki dua amnion (diamniotik) dan dua plasenta (dikorionik). Pada kembar
monozigot dapat terbentuk satu plasenta (monokorionik), satu amnion (monoamniotik)
atau bahkan satu organ fetal (kembar siam).

B. ANATOMI
HIDUNG2
Hidung dalam bahasa Latin disebut sebagai Nasus. Sedangkan dalam bahasa
Yunani disebut sebagai Rhisatau Rhinos.Nasus terbagi atas Nasus Externusyakni bagian
hidung yang Nampak dari luar dan menempel pada wajah dan Cavum Nasiatau rongga
hidung
Hidung Luar
Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian bagiannya dari atas ke bawah :
1. Pangkal hidung (bridge)
2. Dorsum nasi
3. Puncak hidung
4. Ala nasi
5. Kolumela
6. Lubang hidung (nares anterior)
Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi kulit,
jaringan ikat dan beberapa otot kecil yaitu M. Nasalis pars transversa dan M. Nasalis pars
allaris. Kerja otot otot tersebut menyebabkan nares dapat melebar dan menyempit.

Batas atas nasi eksternus melekat pada os frontal sebagai radiks (akar), antara radiks
sampai apeks (puncak) disebut dorsum nasi. Lubang yang terdapat pada bagian inferior
disebut nares, yang dibatasi oleh :
Superior : os frontal, os nasal, os maksila
Inferior : kartilago septi nasi, kartilago nasi lateralis, kartilago alaris mayor dan
kartilago alaris minor
Dengan adanya kartilago tersebut maka nasi eksternus bagian inferior menjadi
fleksibel.

Perdarahan :
A. Nasalis anterior (cabang A. Etmoidalis yang merupakan cabang dari A. Oftalmika,
cabang dari a. Karotis interna).
A. Nasalis posterior (cabang A.Sfenopalatinum, cabang dari A. Maksilaris interna,
cabang dari A. Karotis interna)
A. Angularis (cabang dari A. Fasialis)
Persarafan :
1. Cabang dari N. Oftalmikus (N. Supratroklearis, N. Infratroklearis)
2. Cabang dari N. Maksilaris (ramus eksternus N. Etmoidalis anterior)
Cavum Nasi
Dengan adanya septum nasi maka kavum nasi dibagi menjadi dua ruangan yang
membentang dari nares sampai koana (apertura posterior). Kavum nasi ini berhubungan
dengan sinus frontal, sinus sfenoid, fossa kranial anterior dan fossa kranial media. Batas
batas kavum nasi :
Posterior : berhubungan dengan nasofaring
Atap : os nasal, os frontal, lamina kribriformis etmoidale, korpus sfenoidale dan
sebagian os vomer
Lantai : merupakan bagian yang lunak, kedudukannya hampir horisontal, bentuknya
konkaf dan bagian dasar ini lebih lebar daripada bagian atap. Bagian ini dipisahnkan
dengan kavum oris oleh palatum durum.
4

Medial : septum nasi yang membagi kavum nasi menjadi dua ruangan (dekstra dan
sinistra), pada bagian bawah apeks nasi, septum nasi dilapisi oleh kulit, jaringan
subkutan dan kartilago alaris mayor. Bagian dari septum yang terdiri dari kartilago
ini disebut sebagai septum pars membranosa = kolumna = kolumela.
Lateral : dibentuk oleh bagian dari os medial, os maksila, os lakrima, os etmoid,
konka nasalis inferior, palatum dan os sfenoid.
Konka nasalis suprema, superior dan media merupakan tonjolan dari tulang etmoid.
Sedangkan konka nasalis inferior merupakan tulang yang terpisah. Ruangan di atas
dan belakang konka nasalis superior adalah resesus sfeno-etmoid yang berhubungan
dengan sinis sfenoid. Kadang kadang konka nasalis suprema dan meatus nasi
suprema terletak di bagian ini.
Perdarahan :
Arteri yang paling penting pada perdarahan kavum nasi adalah A.sfenopalatina yang
merupakan cabang dari A.maksilaris dan A. Etmoidale anterior yang merupakan cabang
dari A. Oftalmika. Vena tampak sebagai pleksus yang terletak submukosa yang berjalan
bersama sama arteri.
Persarafan :
1. Anterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari N. Trigeminus yaitu N.
Etmoidalis anterior
2. Posterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari ganglion pterigopalatinum
masuk melalui foramen sfenopalatina kemudian menjadi N. Palatina mayor menjadi N.
Sfenopalatinus.
Cavum nasi terbagi atas 3 bagian yakni :
Vestibulum Nasi
Merupakan ruangan yang melebar di belakang nares anterior. Di sebelah superiornya
dibatasi oelh rigi yang disebut sebagai Limen Nasi. Vestibulum nasi merupakan bagian
dalam hidung yang dilapisi oleh kulit, dan mengandung glandula cebasea, glandula
sudorifera dan ditumbuhi oleh rambut. Di bagian limen nasi merupakan tempat terjadinya

transisi epitel antara epitel squamos simpleks berkeratin yang melapisi bagian vestibulum
nasi dengan lapisan epitel columnar pseudokompleks non keratin bersel goblet dan
bersilia yang melapisi bagian pars respiratoria dari cavum nasi

Pars Respiratoria
Merupakan 2/3 bagian bawah dari cavum nasi. Pada pars konduksi ini dilapisi oleh
lapisan mukosa dengan epitel columnar pseudokomplex non keratin bersel goblet dan
bersilia.Epitel ini juga merupakan kelanjutan epitel dari nasopharynx, sinus paranasale
dan conjunctiva melalui ductus nasolacrimales.
Pars Olfaktoria
Terletak pada concha nasalis superior dan 1/3 bagian atas dari cavum nasi. Pada bagian
ini dilapisi oleh epitel columnar pseudocomplex non keratin tanpa sel goblet dan bersilia
non motil.Di bagian bawah dari lapisan epitel ini terdapat sel bowman yang
menghasilkan secret serous yang berfungsi untuk menangkap partikel bau dan
mentransmisikan nya melalui fibra-fibra n. olfactorius (n.I) yang menembus lamina
cribosa os. Ethmoidales
Pada dinding lateral cavum nasi terdapat beberapa tonjolan yakni : Concha nasalis
supreme(kadang ada kadang tidak), Concha nasalis superior, conchae nasalis media yang
merupakan bagian dari os. Ethmoidaledan concha nasalis inferioryang berdiri sendiri.
Dibagian bawah dari concha tersebut terdapat lubang yang disesuaikan dengan nama
concha nya yakni Meatus nasi suprema, meatus nasi superior, meatus nasi media dan
meatus nasi inferior.

Di sebelah posterosuperior dari concha nasalis superior terdapat ruangan yang


disebut recessus sphenoethmodale. Di bagian ini biasanya terdapat concha nasalis
supreme dan meatus nasi supreme. Di bagian ini juga terdapat muara dari sinus
sphenoidale.
Pada meatus nasi media terdapat Atrium meatus nasi media yang merupakan
cekungan di depan meatus nasi media dan di atas vestibulum nasi dan di bagian superior
nya dibatasi oleh rigi yang disebut Agger Nasi. Selain itu, juga terdapat Bulla ethomidale
yang merupakan penonjolan dari dinding meatus ansi media yang dibentuk oleh
labyrinthus ethmoidales. Di bagian inferoanterior nya terdapat celah yang disebut hiatus
semilunaris yang merupakan muara dari sinus maksillaris.Selain itu juga terdapat
Infundibulum ethmoidale yang merupakan celah sempit yang merupakan muara sinus
frontalis dan cellulae ethmoidale anterior. Kadang-kadang kedua sinus ini bermuara pada
recessus frontalis di depan infundibulum ethmoidale. Pada meatus nasi inferior terdapat
muara dari ductus nasolacrimale.

SINUS PARANASALIS
Manusia memiliki sekitar 12 rongga di sepanjang atap dan bagian lateral kavum
nasi. Sinussinus ini membentuk rongga di dalam beberapa tulang wajah, dan diberi
nama sesuai dengan tulang tersebut, yaitu sinus maksilaris, sinus sfenoidalis, sinus
frontalis, dan sinus etmoidalis. Seluruh sinus dilapisi oleh epitel saluran pernafasan yang
mengalami modifikasi, yang mampu mengkasilkan mukus, dan bersilia. Sekret yang
dihasilkan disalurkan ke dalam kavum nasi. Pada orang sehat, sinus terutama berisi
udara.3

Gambar 1.1
Sinus Paranasalis Manusia
Sinus paranasal merupakan ruang udara yang berada di tengkorak. Bentuk sinus
paranasal sangat bervariasi pada tiap individu dan semua sinus memiliki muara (ostium)
ke dalam rongga hidung. Ada delapan sinus paranasal, empat buah pada masing-masing
sisi hidung. Anatominya dapat dijelaskan sebagai berikut: sinus frontal kanan dan kiri,
sinus ethmoid kanan dan kiri (anterior dan posterior), sinus maksila kanan dan kiri
(antrium highmore) dan sinus sphenoid kanan dan kiri. Semua sinus ini dilapisi oleh
mukosa yang merupakan lanjutan mukosa hidung, berisi udara dan semua bermuara di
rongga hidung melalui ostium masing-masing.
Secara embriologis, sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa rongga hidung

dan perkembangannya pada fetus saat usia 3-4 bulan, kecuali sinus frontalis dan
sphenoidalis. Sinus maksilaris dan ethmoid sudah ada saat anak lahir sedangkan sinus
frontalis mulai berkembang pada anak lebih kurang berumur 8 tahun sebagai perluasan
dari sinus etmoidalis anterior sedangkan sinus sphenoidalis berkembang mulai pada usia
8-10 tahun dan berasal dari postero-superior rongga hidung. Sinus-sinus ini umumnya
mencapai besar maksimum pada usia 15-18 tahun. Sinus frontalis kanan dan kiri biasanya
tidak simetris dan dipisahkan oleh sekat di garis tengah (Damayanti&Endang, 2002).
Sinus paranasal divaskularisasi oleh arteri carotis interna dan eksterna serta vena
yang menyertainya seperti a. ethmoidalis anterior, a. ethmoidalis posterior dan a.
sfenopalatina. Pada meatus superior yang merupakan ruang diantara konka superior dan
konka media terdapat muara sinus ethmoid posterior dan sinus sphenoid.

Gambar 1.2
Sinus paranasalis tampak depan dan samping
Fungsi Sinus Paranasal 2
Beberapa teori yang dikemukakan sebagai fungsi sinus paranasal antara lain :
a. Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning)
Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk mamanaskan dan mengatur
kelembaban udara inspirasi. Volume pertukaran udara dalam ventilasi sinus kurang lebih
1/1000 volume sinus pada tiap kali bernafas, sehingga dibutuhkan beberapa jam untuk

pertukaran udara total dalam sinus


b. Sebagai panahan suhu (thermal insulators)
Sinus paranasal berfungsi sebagai (buffer) panas, melindungi orbita dan fossa
serebri dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah.
c. Membantu keseimbangan kepala
Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang muka.
Akan tetapi, bila udara dalam sinus diganti dengan tulang, hanya akan memberikan
pertambahan berat sebesar 1% dari berat kepala, sehingga teori ini tidak dianggap
bermakana.
d. Membantu resonansi udara
Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi udara dan
mempengaruhi kualitas udara. Akan tetapi ada yang berpendapat, posisi sinus dan
ostiumnya tidak memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonansi yang efektif.
e. Sebagai peredam perubahan tekanan udara
Fungsi ini akan berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak,
misalnya pada waktu bersin dan beringus.
f. Membantu produksi mukus
Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya kecil
dibandingkan dengan mukus dari rongga hidung, namun efektif untuk
membersihkan partikel yang turut masuk dalam udara.
Berdasarkan ukuran sinus paranasal dari yang terbesar yaitu sinus maksilaris,
sinus frontalis, sinus ethmoidalis dan sphenoidalis. Secara klinis sinus paranasal dibagi
menjadi :2
a. Grup Anterior :
Frontal, maksilaris dan ethmoidalis anterior
Ostia di meatus medius
Pus dalam meatus medius mengalir kedalam faring
b. Grup Posterior :
Ethmoidalis posterior dan sinus sphenoidalis

10

Ostia di meatus superior


Pus dalam meatus superior mengalir kedalam faring
1. Sinus Maksilaris
a. Terbentuk pada usia fetus bulan IV yang terbentuk dari prosesus maksilaris arcus I
b. Bentuknya piramid, dasar piramid pada dinding lateral hidung, sedang apexnya
pada pars zygomaticus maxillae.
c. Merupakan sinus terbesar dengan volume kurang lebih 15 cc pada orang dewasa.
d. Berhubungan dengan :
1) Cavum orbita, dibatasi oleh dinding tipis (berisi n. infra orbitalis) sehingga
jika dindingnya rusak maka dapat menjalar ke mata.
2) Gigi, dibatasi dinding tipis atau mukosa pada daerah P2 Mo1ar.
3) Ductus nasolakrimalis, terdapat di dinding cavum nasi.
e. Suplai darah terbanyak melalui cabang dari arteri maksilaris. Inervasi mukosa
sinus melalui cabang dari nervus maksilaris.
2. Sinus Frontalis
a.

Sinus frontalis mulai terbentuk sejak bulan keempat fetus, berasal dari sel-sel
resessus frontal atau dari sel-sel infundibulum ethmoid. Sinus ini dapat terbentuk
atau tidak.

b. Ukuran sinus frontal adalah 2,8 cm tingginya, lebarnya 2,4 cm dan dalamnya 2
cm. Sinus frontal biasanya bersekat-sekat dan tepi sinus berlekuk-lekuk. Tidak
simetris kanan dan kiri, terletak di os frontalis.
c.

Volume pada orang dewasa 7cc.

d. Bermuara ke infundibulum (meatus nasi media).


e.

Berhubungan dengan :
1) Fossa cranii anterior, dibatasi oleh tulang compacta.
2) Orbita, dibatasi oleh tulang compacta.
3) Dibatasi oleh Periosteum, kulit, tulang diploic.

f.

Suplai darah diperoleh dari arteri supraorbital dan arteri supratrochlear yang
berasal dari arteri oftalmika yang merupakan salah satu cabang dari arteri carotis

11

inernal. Inervasi mukosa disuplai oleh cabang supraorbital dan supratrochlear


cabang dari nervus frontalis yang berasal dari nervus trigeminus
3. Sinus Ethmoid
a. Terbentuk pada usia fetus bulan IV.
b. Saat lahir, berupa 2-3 cellulae (ruang-ruang kecil), saat dewasa terdiri dari 7-15
cellulae, dindingnya tipis.
c. Bentuknya berupa rongga tulang seperti sarang tawon, terletak antara hidung dan
mata
d. Berhubungan dengan :
1) Fossa cranii anterior yang dibatasi oleh dinding tipis yaitu lamina cribrosa.
Jika terjadi infeksi pada daerah sinus mudah menjalar ke daerah cranial
(meningitis, encefalitis dsb).
2) Orbita, dilapisi dinding tipis yakni lamina papiracea. Jika melakukan operasi
pada sinus ini kemudian dindingnya pecah maka darah masuk ke daerah orbita
sehingga terjadi Brill Hematoma.
3) Nervus Optikus.
4) Nervus, arteri dan vena ethmoidalis anterior dan pasterior.
e. Suplai darah berasal dari cabang nasal dari a. sphenopalatina. Inervasi mukosa
berasal dari divisi oftalmika dan maksilari nervus trigeminus
4. Sinus Sphenoidal
a.

Terbentuk pada fetus usia bulan III

b. Terletak pada corpus, alas dan Processus os sphenoidalis.


c.

Volume pada orang dewasa 7 cc.

d. Berhubungan dengan (Pletcher&Golderg, 2003):


1) Sinus cavernosus pada dasar cavum cranii.
2) Glandula pituitari, chiasma n.opticum.
3) Tranctus olfactorius.
4) Arteri basillaris brain stem (batang otak)
e.

Suplai darah berasal dari arteri carotis internal dan eksternal. Inervasi mukosa

12

berasal dari nervus trigeminus.


Pada meatus medius yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka
inferior rongga hidung terdapat suatu celah sempit yaitu hiatus semilunaris yakni muara
dari sinus maksila, sinus frontalis dan ethmoid anterior.

C. EPIDEMIOLOGI
Sinusitis adalah penyakit yang benyak ditemukan di seluruh dunia, terutama di
tempat dengan polusi udara tinggi. Iklim yang lembab, dingin, dengan konsentrasi pollen
yang tinggi terkait dengan prevalensi yang lebih tinggi dari sinusitis. Sinusitis maksilaris
adalah sinusitis dengan insiden yang terbesar. Data dari DEPKES RI tahun 2003
menyebutkan bahwa penyakit hidung dan sinus berada pada urutan ke-25 dari 50 pola
penyakit peringkat utama atau sekitar 102.817 penderita rawat jalan di rumah sakit. Di
Amerika Serikat, lebih dari 30 juta orang menderita sinusitis. Rhinitis Alergika adalah
penyebab sinusitis kronikyang paling umum ditemukan.. Lima milyar dolar dihabiskan
setiap tahunnya untuk pengobatan medis sinusitis, dan 60 milyar lainnya dihabiskan
untuk pengobatan operatif sinusitis di Amerika Serikat. Perempuan lebih sering terkena
sinusitis dibandingkan laki laki, dugaan sementara karena faktor hormonal. Angka
perbandingannya yaitu 20% perempuan : 11,5 % laki laki.2
Kejadian sinusitis umumnya disertai atau dipicu oleh rhinitis sehingga sinusitis
sering juga disebut dengan rhinosinusitis. Rinosinusitis adalah penyakit inflamasi yang
sering ditemukan dan mungkin akan terus meningkat prevalensinya. Rinosinusitis dapat
mengakibatkan gangguan kualitas hidup yang berat.
D. ETIOLOGI
Sinusitis bisa bersifat akut (berlangsung selama 3 minggu atau kurang) maupun
kronis (berlangsung selama 3-8 minggu tetapi dapat berlanjut sampai berbulan-bulan
bahkan bertahun-tahun).7
Penyebab sinusitis pada umumnya:

13

a. Virus
Sinusitis akut bisa terjadi setelah suatu infeksi virus pada saluran pernafasan
bagian atas (misalnya pilek).
b. Bakteri
Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan
normal tidak menimbulkan penyakit (misalnya Streptococcus pneumoniae,
Haemophilus influenzae). Jika sistem pertahanan tubuh menurun atau drainase dari
sinus tersumbat akibat pilek atau infeksi virus lainnya, maka bakteri yang
sebelumnya tidak berbahaya akan berkembang biak dan menyusup ke dalam sinus,
sehingga terjadi infeksi sinus akut.
c. Jamur
Kadang infeksi jamur bisa menyebabkan sinusitis akut. Aspergillus merupakan
jamur yang bisa menyebabkan sinusitis pada penderita gangguan system
kekebalan. Pada orang-orang tertentu, sinusitis jamur merupakan sejenis reaksi
alergi terhadap jamur.
d. Peradangan menahun pada saluran hidung.
Pada penderita rinitis alergika bisa terjadi sinusitis akut. Demikian pula halnya
pada penderita rinitis vasomotor.
e. Penyakit tertentu.
Sinusitis akut lebih sering terjadi pada penderita gangguan sistem kekebalan dan
penderita kelainan sekresi lendir (misalnya fibrosis kistik).
Penyebab sinusitis kronis yang paling sering:
a. Asma
b. Penyakit alergi (misalnya rinitis alergika)
c. Gangguan sistem kekebalan atau kelainan sekresi maupun pembuangan lendir.
d. Infeksi persisten
e. Gangguan metabolik
Sinusitis lebih sering disebabkan adanya faktor predisposisi seperti :
a. Gangguan fisik akibat kekurangan gizi, kelelahan, atau penyakit sistemik.
b. Gangguan faal hidung oleh karena rusaknya aktivitas silia oleh asap rokok, polusi
udara, atau karena panas dan kering.

14

c. Kelainan anatomi yang menyebabkan gangguan saluran seperti :


a) Atresia atau stenosis koana
b) Deviasi septum
c) Hipertroti konka media
d) Polip yang dapat terjadi pada 30% anak yang menderita fibrosis kistik
e) Tumor atau neoplasma
f) Hipertroti adenoid
g) Udem mukosa karena infeksi atau alergi
h) Benda asing
d. Berenang dan menyelam pada waktu sedang pilek
e. Trauma yang menyebabkan perdarahan mukosa sinus paranasal
f. Kelainan imunologi didapat seperti imunodefisiensi karena leukemia dan
imunosupresi oleh obat.
E. PATOFISIOLOGI1
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan kelancaran
klirens dari mukosiliar didalam komplek osteo meatal (KOM). Disamping itu mukus juga
mengandung substansi antimikrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai pertahanan
terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan. Dalam keadaan fisiologis, sinus
adalah steril. Sinusitis dapat terjadi bila klirens silier sekret sinus berkurang atau ostia
sinus menjadi tersumbat, yang menyebabkan retensi sekret, tekanan sinus negatif, dan
berkurangnya tekanan parsial oksigen. Lingkungan ini cocok untuk pertumbuhan
organisme patogen. Apabila terjadi infeksi karena virus, bakteri ataupun jamur pada sinus
yang berisi sekret ini, maka terjadilah sinusitis.
Bila terinfeksi organ yang membentuk KOM mengalami oedem, sehingga mukosa
yang berhadapan akan saling bertemu. Hal ini menyebabkan silia tidak dapat bergerak
dan juga menyebabkan tersumbatnya ostium. Hal ini menimbulkan tekanan negatif
didalam rongga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi atau penghambatan
drainase sinus. Efek awal yang ditimbulkan adalah keluarnya cairan serous yang
dianggap sebagai sinusitis non bakterial yang dapat sembuh tanpa pengobatan. Bila tidak
sembuh maka sekret yang tertumpuk dalam sinus ini akan menjadi media yang poten

15

untuk tumbuh dan multiplikasi bakteri, dan sekret akan berubah menjadi purulen yang
disebut sinusitis akut bakterialis yang membutuhkan terapi antibiotik.
Keadaan ini menyebabkan Sinusitis kronik dan bisa dilihat tanda -tanda dari
perubahan mukosa yaitu hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip, kista, penebalan
hiperplastik, mukosa dapat rusak pada beberapa tempat akibat ulserasi, sehingga tampak
tulang yang licin dan telanjang, atau dapat menjadi lunak.
Pada dasarnya patofisiologi dari sinusitis dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu obstruksi
drainase sinus (sinus ostia), kerusakan pada silia, dan kuantitas dan kualitas mukosa.
Sebagian besar episode sinusitis disebabkan oleh infeksi virus. Virus tersebut sebagian
besar menginfeksi saluran pernapasan atas seperti rhinovirus, influenza A dan B,
parainfluenza, respiratory syncytial virus, adenovirus dan enterovirus. Sekitar 90 %
pasien yang mengalami ISPA akan memberikan bukti gambaran radiologis yang
melibatkan sinus paranasal. Infeksi virus akan menyebabkan terjadinya oedem pada
dinding hidung dan sinus sehingga menyebabkan terjadinya penyempitan atau obstruksi
pada ostium sinus, dan berpengaruh pada mekanisme drainase dalam sinus. Selain itu
inflamasi, polyps, tumor, trauma, scar, anatomic varian, dan nasal instrumentation juga
menyebabkan menurunya patensi sinus ostia.
Virus yang menginfeksi tersebut dapat memproduksi enzim dan neuraminidase
yang mengendurkan mukosa sinus dan mempercepat difusi virus pada lapisan mukosilia.
Hal ini menyebabkan silia menjadi kurang aktif dan sekret yang diproduksi sinus menjadi
lebih kental, yang merupakan media yang sangat baik untuk berkembangnya bakteri
patogen. Silia yang kurang aktif fungsinya tersebut terganggu oleh terjadinya akumulasi
cairan pada sinus. Terganggunya fungsi silia tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor seperti kehilangan lapisan epitel bersilia, udara dingin, aliran udara yang cepat,
virus, bakteri, environmental ciliotoxins, mediator inflamasi, kontak antara dua
permukaan mukosa, parut, primary cilliary dyskinesia (Kartagener syndrome).
Adanya bakteri dan lapisan mukosilia yang abnormal meningkatkan kemungkinan
terjadinya reinfeksi atau reinokulasi dari virus. Konsumsi oksigen oleh bakteri akan
menyebabkan keadaan hipoksia di dalam sinus dan akan memberikan media yang
menguntungkan untuk berkembangnya bakteri anaerob. Penurunan jumlah oksigen juga
akan mempengaruhi pergerakan silia dan aktivitas leukosit. Sinusitis kronis dapat

16

disebabkan oleh fungsi lapisan mukosilia yang tidak adekuat, obstruksi sehingga drainase
sekret terganggu, dan terdapatnya beberapa bakteri patogen.
Antrum maksila mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan akar gigi pre
molar dan molar atas. Hubungan ini dapat menimbulkan problem klinis seperti infeksi
yang berasal dari gigi dan fistula oroantral dapat naik ke atas dan menimbulkan infeksi
sinus. Sinusitis maksila diawali dengan sumbatan ostium sinus akibat proses inflamasi
pada mukosa rongga hidung. Proses inflamasi ini akan menyebabkan gangguan aerasi
dan drainase sinus. Keterlibatan antrum unilateral seringkali merupakan indikasi dari
keterlibatan gigi sebagai penyebab. Bila hal ini terjadi maka organisme yang bertanggung
jawab kemungkinan adalah jenis gram negatif yang merupakan organisme yang lebih
banyak didapatkan pada infeksi gigi daripada bakteri gram positif yang merupakan
bakteri khas pada sinus.
Penyakit gigi seperti abses apikal, atau periodontal dapat menimbulkan gambaran
radiologi yang didominasi oleh bakteri gram negatif, karenanya menimbulkan bau busuk.
Pada sinusitis yang dentogennya terkumpul kental akan memperberat atau mengganggu
drainase terlebih bila meatus medius tertutup oleh oedem atau pus atau kelainan anatomi
lain seperti deviasi, dan hipertropi konka. Akar gigi premolar kedua dan molar pertama
berhubungan dekat dengan lantai dari sinus maksila dan pada sebagian individu
berhubungan langsung dengan mukosa sinus maksila. Sehingga penyebaran bakteri
langsung dari akar gigi ke sinus dapat terjadi.

17

Gambar 1.3
Patofisiologi Sinusitis

F. GEJALA KLINIS3
Gejala klinis sinusitis kronis tidak jelas. Selama eksaserbasi akut, gejala
gejala ,mirip dengan gejala sinusitis akut. Namun diluar hal tersebut, gejala berupa suatu
perasaan penuh pada wajah dan hidung serta keluarnya lendir mukopurulen pada hidung.
Gejala paling khas yaitu post nasal drip, dimana penderita sinusitis biasanya merasakan
ada cairan yang mengalir di tenggorokan ketika mereka sedang tidur. Terdapat faktorfaktor terpredisposis pada sinusitis kronik diantaranya riwayat rhinitis alergika yang
menetap, batuk kronik dengan laringitis kronik ringan atau faringitis. Selain itu dapat
pula ditemukan gangguan tenggorok, gangguann telinga akibat sumbatan kronik muara
tuba eustachius, gangguan ke paru seperti bronkitis, bronkiektasis dan yang penting
adalah serangan asma meningkat dan sulit diobati.
Sinusitis kronis berbeda dengan sinusitis akut dalam berbagai aspek, umumnya
sukar disembuhkan dengan pengobatan medikamentosa saja. Harus dicari faktor
penyebab dan faktor predisposisinya.
Polusi bahan kimia menyebabkan silia rusak, sehingga terjadi perubahan mukosa
hidung. Perubahan tersebut juga dapat disebabkan oleh alergi dan defisiensi imunologik,
sehingga mempermudah terjadinya infeksi, dan infeksi menjadi kronis apabila
pengobatan sinusitis akut tidak sempurna.
1. Gejala Subjektif
Bervariasi dari ringan sampai berat, terdiri dari :
a) Gejala hidung dan nasofaring, berupa sekret pada hidung dan sekret pasca nasal
(post nasal drip) yang seringkali mukopurulen dan hidung biasanya sedikit
tersumbat.
b) Gejala laring dan faring yaitu rasa tidak nyaman dan gatal di tenggorokan.
c) Gejala telinga berupa pendengaran terganggu oleh karena terjadi sumbatan tuba
eustachius.

18

d) Ada nyeri atau sakit kepala.


e) Gejala mata, karena penjalaran infeksi melalui duktus nasolakrimalis.
f) Gejala saluran nafas berupa batuk dan komplikasi di paru berupa bronkhitis atau
bronkhiektasis atau asma bronkhial.
g) Gejala di saluran cerna mukopus tertelan sehingga terjadi gastroenteritis.
2. Gejala Objektif
Temuan pemeriksaan klinis tidak seberat sinusitis akut dan tidak terdapat
pembengkakan pada wajah. Pada rinoskopi anterior dapat ditemukan sekret kental,
purulen dari meatus medius atau meatus superior, dapat juga ditemukan polip, tumor atau
komplikasi sinusitis. Pada rinoskopi posterior tampak sekret purulen di nasofaring atau
turun ke tenggorok.
Dari pemeriksaan endoskopi fungsional dan CT Scan dapat ditemukan etmoiditis
kronis yang hampir selalu menyertai sinusitis frontalis atau maksilaris. Etmoiditis kronis
ini dapat menyertai poliposis hidung kronis.
G. DIAGNOSIS
International Conference on Sinus Disease 1995 membuat kriteria mayor dan
minor untuk mendiagnosa rhinosinusitis kronis. Rinosinusitis didiagnosa apabila
dijumpai 2 atau lebih gejala mayor atau 1 gejala mayor dan 2 gejala minor.
Gejala mayor
Nyeri atau rasa tertekan pada wajah
Sekret nasal purulen
Demam
Kongesti nasal
Obstruksi nasal
Hiposmia atau anosmia

Gejala minor
Sakit kepala
Batuk
Rasa lelah
Rasa lelah
Halitosis
Nyeri gigi

Diagnosis sinusitis kronis dapat ditegakkan dengan :


a) Anamnesis yang cermat
b) Pemeriksaan rinoskopi anterior dan posterior
c) Pemeriksaan transiluminasi untuk sinus maksila dan sinus frontal, yakni pada
daerah sinus yang terinfeksi terlihat suram atau gelap.

19

Transiluminasi menggunakan angka sebagai parameternya


Transiluminasi akan menunjukkan angka 0 atau 1 apabila terjadi sinusitis (sinus
penuh dengan cairan)
d) Pemeriksaan radiologik, posisi rutin yang dipakai adalah posisi Waters, PA dan
Lateral. Posisi Waters, maksud posisi Waters adalah untuk memproyeksikan
tulang petrosus supaya terletak di bawah antrum maksila, yakni dengan cara
menengadahkan kepala pasien sedemikian rupa sehingga dagu menyentuh
permukaan meja. Posisi ini terutama untuk melihat adanya kelainan di sinus
maksila, frontal dan etmoid. Posisi Posteroanterior untuk menilai sinus frontal dan
posisi lateral untuk menilai sinus frontal, sphenoid dan ethmoid.
Sinusitis akan menunjukkan gambaran berupa:
1) Penebalan mukosa,
2) Opasifikasi sinus ( berkurangnya pneumatisasi)
3) Gambaran air fluid level yang khas akibat akumulasi pus yang dapat
dilihat pada foto waters.
e) Pungsi sinus maksilaris
f) Sinoskopi sinus maksilaris, dengan sinoskopi dapat dilihat keadaan dalam sinus,
apakah ada sekret, polip, jaringan granulasi, massa tumor atau kista dan
bagaimana keadaan mukosa dan apakah osteumnya terbuka. Pada sinusitis kronis
akibat perlengketan akan menyebabkan osteum tertutup sehingga drenase menjadi
terganggu.
g) Pemeriksaan histopatologi dari jaringan yang diambil pada waktu dilakukan
sinoskopi.
h) Pemeriksaan meatus medius dan meatus superior dengan menggunakan nasoendoskopi.
i) Pemeriksaan CT Scan, merupakan cara terbaik untuk memperlihatkan sifat dan
sumber masalah pada sinusitis dengan komplikasi. CT-Scan pada sinusitis akan
tampak : penebalan mukosa, air fluid level, perselubungan homogen atau tidak
homogen pada satu atau lebih sinus paranasal, penebalan dinding sinus dengan
sklerotik (pada kasus-kasus kronik).

20

Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium
1. Tes sedimentasi, leukosit, dan C-reaktif protein dapat membantu diagnosis
sinusitis akut
2. Kultur merupakan pemeriksaan yang tidak rutin pada sinusitis akut, tapi harus
dilakukan pada pasien immunocompromise dengan perawatan intensif dan pada
anak-anak yang tidak respon dengan pengobatan yang tidak adekuat, dan pasien
dengan komplikasi yang disebabkan sinusitis (Pletcher&Golderg, 2003).
3. Pemeriksaan IgE total serum. Secara umum, kadar IgE total serum rendah pada
orang normal dan meningkat pada penderita atopi, tetapi kadar IgE normal tidak
menyingkirkan adanya rinitis alergi. Pada orang normal, kadar IgE meningkat dari
lahir (0-1 KU/L) sampai pubertas dan menurun secara bertahap dan menetap
setelah usia 20-30 tahun. Pada orang dewasa kadar >100-150 KU/L dianggap
normal. Kadar meningkat hanya dijumpai pada 60% penderita rinitis alergi dan
75% penderita asma. Terdapat berbagai keadaan dimana kadar IgE meningkat
yaitu infeksi parasit, penyakit kulit (dermatitis kronik, penyakit pemfigoid bulosa)
dan kadar menurun pada imunodefisiensi serta multipel mielom. Kadar IgE
dipengaruhi juga oleh ras dan umur, sehingga pelaporan hasil harus melampirkan
nilai batas normal sesuai golongan usia. Pemeriksaan ini masih dapat dipakai
sebagai pemeriksaan penyaring, tetapi tidak digunakan lagi untuk menegakkan
diagnostic.
b. Imaging
Pemeriksaan radiologi yang dapat membantu menegakkan diagnosa sinusitis
dengan menunjukan suatu penebalan mukosa, air-fluid level, dan perselubungan. Pada
sinusitis maksilaris, dilakukan pemeriksaan rontgen gigi untuk mengetahui adanya abses
gigi. Sinusitis akan menunjukkan gambaran berupa :
1.

Penebalan mukosa,

2.

Opasifikasi sinus ( berkurangnya pneumatisasi)

3. Gambaran air fluid level yang khas akibat akumulasi pus yang dapat dilihat pada foto
waters.

21

a) Posisi Caldwell
Posisi ini didapat dengan meletakkan hidung dan dahi diatas meja
sedemikian rupa sehingga garis orbito-meatal (yang menghubungkan kantus
lateralis mata dengan batas superior kanalis auditorius eksterna) tegak lurus
terhadap film. Sudut sinar rontgen adalah 15 kraniokaudal dengan titik keluarnya
nasion.

Gambar 1.5
Posisi Caldwell
b) Posisi Waters
Posisi ini yang paling sering digunakan. Maksud dari posisi ini adalah
untuk memproyeksikan tulang petrosus supaya terletak dibawah antrum maksila.
Hal ini didapatkan dengan menengadahkan kepala pasien sedemikian rupa
sehingga dagu menyentuh permukaan meja. Bidang yang melalui kantus medial
mata dan tragus membentuk sudut lebih kurang 37 dengan film proyeksi waters
dengan mulut terbuka memberikan pandangan terhadap semua sinus paranasal.

22

Gambar 1.6
Gambaran rontgen posisi waters dengan mulut terbuka

Gambar 1.7
Posisi Waters
c) Posisi lateral
Kaset dan film diletakkan paralel terhadap bidang sagital utama tengkorak.

23

Gambar 1.8
Posisi lateral
1. CT-Scan, memiliki spesifisitas yang jelek untuk diagnosis sinusitis akut,
menunjukan suatu air-fluid level pada 87% pasien yang mengalami infeksi
pernafasan atas dan 40% pada pasien yang asimtomatik. Pemeriksaan ini
dilakukan untuk luas dan beratnya sinusitis.
2. Transiluminasi menggunakan angka sebagai parameternya. Transiluminasi akan
menunjukkan angka 0 atau 1 apabila terjadi sinusitis (sinus penuh dengan cairan)
3. MRI sangat bagus untuk mengevaluasi kelainan pada jaringan lunak yang
menyertai sinusitis, tapi memiliki nilai yang kecil untuk mendiagnosis sinusitis
akut.
4. Sinoscopy merupakan satu satunya cara yang memberikan informasi akurat
tentang perubahan mukosa sinus, jumlah sekret yang ada di dalam sinus, dan letak
dan keadaan dari ostium sinus. Yang menjadi masalah adalah pemeriksaan
sinoscopy memberikan suatu keadaan yang tidak menyenangkan buat pasien.
5. Pemeriksaan mikrobiologi. Biakan yang berasal dari hidung bagian posterior dan
nasofaring biasanya lebih akurat dibandingkan dengan biakan yang berasal dari
hidung bagian anterior. Namun demikian, pengambilan biakan hidung posterior
juga lebih sulit. Biakan bakteri spesifik pada sinusitis dilakukan dengan
menagspirasi pus dari sinus yang terkena. Seringkali diberikan suatu antibiotik
yang sesuai untuk membasmi mikroorganisme yang lebih umum untuk penyakit
ini.
H. KOMPLIKASI
Komplikasi sinusitis telah menurun nyata sejak diberikannya antibiotik.
Komplikasi berat biasanya terjadi pada sinusitis akut maupun kronis dengan eksaserbasi
akut, berupa keomplikasi orbita atau intrakranial.
a. Komplikasi orbita
Sinusitis ethmoidalis merupakan penyebab komplikasi pada orbita yang tersering.

24

Pembengkakan orbita dapat merupakan manifestasi ethmoidalis akut, namun sinus


frontalis dan sinus maksilaris juga terletak di dekat orbita dan dapat menimbulkan infeksi
isi orbita.
Terdapat lima tahapan :
1. Peradangan atau reaksi edema yang ringan. Terjadi pada isi orbita akibat infeksi
sinus ethmoidalis didekatnya. Keadaan ini terutama ditemukan pada anak, karena
lamina papirasea yang memisahkan orbita dan sinus ethmoidalis sering kali
merekah pada kelompok umur ini.
2. Selulitis orbita, edema bersifat difus dan bakteri telah secara aktif menginvasi isi
orbita namun pus belum terbentuk.

3. Abses subperiosteal, pus terkumpul diantara periorbita dan dinding tulang orbita
menyebabkan proptosis dan kemosis.
4. Abses orbita, pus telah menembus periosteum dan bercampur dengan isi orbita.
Tahap ini disertai dengan gejala sisa neuritis optik dan kebutaan unilateral yang
lebih serius. Keterbatasan gerak otot ekstraokular mata yang tersering dan
kemosis konjungtiva merupakan tanda khas abses orbita, juga proptosis yang
makin bertambah.
5. Trombosis sinus kavernosus, merupakan akibat penyebaran bakteri melalui
saluran vena kedalam sinus kavernosus, kemudian terbentuk suatu tromboflebitis
septik.
Secara patognomonik, trombosis sinus kavernosus terdiri dari :
a) Oftalmoplegia.
b) Kemosis konjungtiva.

25

c) Gangguan penglihatan yang berat.


d) Kelemahan pasien.
e) Tanda-tanda meningitis oleh karena letak sinus kavernosus yang berdekatan dengan
saraf kranial II, III, IV dan VI, serta berdekatan juga dengan otak.

b. Mukokel
Mukokel adalah suatu kista yang mengandung mukus yang timbul dalam sinus,
kista ini paling sering ditemukan pada sinus maksilaris, sering disebut sebagai kista
retensi mukus dan biasanya tidak berbahaya.

Dalam sinus frontalis, ethmoidalis dan sphenoidalis, kista ini dapat membesar dan
melalui atrofi tekanan mengikis struktur sekitarnya. Kista ini dapat bermanifestasi
sebagai pembengkakan pada dahi atau fenestra nasalis dan dapat menggeser mata ke
lateral. Dalam sinus sphenoidalis, kista dapat menimbulkan diplopia dan gangguan
penglihatan dengan menekan saraf didekatnya.
Piokel adalah mukokel terinfeksi, gejala piokel hampir sama dengan mukokel
meskipun lebih akut dan lebih berat.
Prinsip terapi adalah eksplorasi sinus secara bedah untuk mengangkat semua
mukosa yang terinfeksi dan memastikan drainase yang baik atau obliterasi sinus.
c. Komplikasi Intra Kranial
1) Meningitis akut, salah satu komplikasi sinusitis yang terberat adalah meningitis akut,
infeksi dari sinus paranasalis dapat menyebar sepanjang saluran vena atau langsung

26

dari sinus yang berdekatan, seperti lewat dinding posterior sinus frontalis atau melalui
lamina kribriformis di dekat sistem sel udara ethmoidalis.
2) Abses dura, adalah kumpulan pus diantara dura dan tabula interna kranium, sering
kali mengikuti sinusitis frontalis. Proses ini timbul lambat, sehingga pasien hanya
mengeluh nyeri kepala dan sebelum pus yang terkumpul mampu menimbulkan
tekanan intra kranial.

3) Abses subdural adalah kumpulan pus diantara duramater dan arachnoid atau
permukaan otak. Gejala yang timbul sama dengan abses dura.
4) Abses otak, setelah sistem vena, dapat mukoperiosteum sinus terinfeksi, maka dapat
terjadi perluasan metastatik secara hematogen ke dalam otak. Terapi komplikasi intra
kranial ini adalah antibiotik yang intensif, drainase secara bedah pada ruangan yang
mengalami abses dan pencegahan penyebaran infeksi.
d. Osteomielitis dan abses subperiosteal
Penyebab tersering osteomielitis dan abses subperiosteal pada tulang frontalis
adalah infeksi sinus frontalis. Nyeri tekan dahi setempat sangat berat. Gejala sistemik
berupa malaise, demam dan menggigil.
e. Abses otak
Setelah sistem vena dalam mukoperiosteum sinus terinfeksi, maka dapat terjadi
perluasan metastatik secara hematogen ke dalam otak. Namun, abses otak biasanya

27

terjadi melalui tromboflebitis yang meluas secara langsung. Dengan demikian, lokasi
abses yang lazim adalah pada ujung vena yang pecah, meluas menembus dura dan
arachnoid hingga ke perbatasan antara substansia alba dan grisea korteks serebri.
Kontaminasi substansi otak dapat terjadi pada puncak suatu sinusitis supuratif
yang berat, dan pembentukan abses otak dapat berlanjut sekalipun penyakit pada sinus
telah memasuki tahap resolusi normal. Oleh karena itu, kemungkinan terbentuknya abses
otak perlu dipertimbangkan pada semua kasus sinusitis frontalis, etmoidalis, dan
sfenoidalis supuratif akut yang berat, yang pada fase akut dicirikan oleh suhu yang
meningkat tajam dan menggigil sebagai sifat infeksi intravena. Kasus seperti ini perlu
diobservasi selama beberapa bulan. Hilangnya nafsu makan, penurunan berat badan,
kakeksia sedang, demam derajat rendah sore hari, nyeri kepala berulang, serta mual dan
muntah yang tak dapat dijelaskan mungkin merupakan satun-satunya tanda infeksi yang
berlokasi dalam hemisfer serebri. Terapi komplikasi intra kranial ini adalah antibiotik
yang intensif, drainase secara bedah pada ruangan yang mengalami abses dan pencegahan
penyebaran infeksi.
f. Kelainan pada tulang
Penyebab tersering osteomielitis dan abses subperiosteal pada tulang frontalis
adalah infeksi sinus frontalis. Nyeri tekan dahi setempat sangat berat. Gejala sistemik
berupa malaise, demam, dan menggigil. Pembengkakan diatas alis mata juga lazim terjadi
dan bertambah hebat bila terbentuk abses subperiosteal, dalam hal mana terbentuk edema
supraorbita dan mata menjadi tertutup. Timbul fluktuasi dan tulang menjadi sangat nyeri
tekan. Radiogram dapat memperlihatkan erosi batas-batas tulang dan hilangnya septa
intrasinus dalam sinus yang keruh. Pada stadium lanjut, radiogram memperlihatkan
gambaran seperti digerogoti rayap pada batas batas sinus, menunjukkan infeksi telah
meluas melampaui sinus.
Destruksi tulang dan pembengkakan jaringan lunak, demikian pula cairan atau
mukosa sinus yang membengkak paling baik dilihat dengan CT scan. Sebelum
penggunaan antibiotik, penyebaran infeksi ke kalvaria akan mengangkat perikranium dan
menimbulkan gambaran klasik tumor Pott yang bengkak. Pengobatan komplikasi ini
termasuk antibiotik dosis tinggi yang diberikan intravena, diikuti insisi segera abses

28

periosteal dan trepanasi sinus frontalis guna memungkinkan drainase. Suatu tabung
drainase atau kateter dijahitkan ke dalam sinus hingga infeksi akut mereda sepenuhnya
dan duktus frontonasalis berfungsi dengan baik. Jika duktus frontonasalis tidak lagi dapat
diperbaiki, perlu dilakukan prosedur lanjutan untuk menciptakan suatu duktus
frontonasalis baru. Pada osteomilitis kalvarium yang menyebar, diharuskan suatu
debridement yang luas dan terapi antibiotik masif.
I. TATALAKSANA2
Tujuan utama penatalaksanaan sinusitis adalah:
1. Mempercepat penyembuhan
2. Mencegah komplikasi
3. Mencegah perubahan menjadi kronik.
Penatalaksanaan untuk Sinusitis Kronis antara .lain
a. Jika ditemukan faktor predisposisinya, maka dilakukan tata laksana yang sesuai
dan diberi terapi tambahan. Jika ada perbaikan maka pemberian antibiotik
mencukupi 10-14 hari. Antibiotik yang menjadi pilihan diantaranya amoxicillinclavulanate, Clindamycin, Cefpodoksime proxetil, cefuroxime, gativloxacin,
moxifloxacin, dan levofloxacin. Juga diberikan dekongestan, mukolitik dan
antihistamin bila ada rinitis alergi dan dapat juga dibantu dengan diatermi.
Berbeda dengan sinusitis akut yang biasanya segera senbuh dengan pengobatan
yang tepat, penyakit sinusitis kronis atau sinusitis akut berulang sering kali sulit
disembuhkan dengan pengobatan konservatif biasa
b. Jika faktor predisposisi tidak ditemukan maka terapi sesuai pada episode akut lini
II + terapi tambahan. Sambil menunggu ada atau tidaknya perbaikan, diberikan
antibiotik alternative 7 hari atau buat kultur. Jika ada perbaikan teruskan
antibiotik mencukupi 10-14 hari, jika tidak ada perbaikan evaluasi kembali
dengan pemeriksaan naso-endoskopi, sinuskopi (jika irigasi 5 x tidak membaik).
Jika ada obstruksi kompleks osteomeatal maka dilakukan tindakan bedah yaitu
BSEF atau bedah konvensional. Jika tidak ada obstruksi maka evaluasi diagnosis.
c. Tindakan dapat berupa diatermi dengan sinar gelombang pendek (Ultra Short
Wave Diathermy) sebanyak 5 6 kali pada daerah yang sakit untuk memperbaiki
vaskularisasi sinus. Kalau belum membaik, maka dilakukan pencucian sinus.

29

d. Pada sinusitis maksila dilakukan pungsi dan irigasi sinus, sedang sinusitis
ethmoid, frontal atau sphenoid dilakukan tindakan pencucian Proetz.
e. Pembedahan
Radikal
Sinus maksila dengan operasi Cadhwell-luc.
Sinus ethmoid dengan ethmoidektomi.
Sinus frontal dan sphenoid dengan operasi Killian.
Non Radikal
Bedah Sinus Endoskopik Fungsional (BSEF). Prinsipnya dengan membuka dan
membersihkan daerah kompleks ostiomeatal.
BSEF/BEDAH SINUS ENDOSKOPIK FUNGSIONAL
Saat ini operasi banyak dilakukan menggunakan endoskopi, operasinya di sebut
Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BSEF) atau Functional Endoscopic Sinus Surgery
(FESS). Di sini operasi memperbaiki sumbatan pada sinus-sinus yang terinfeksi. Pada
tahun 1980-an terjadi suatu revolusi dalam bidang bedah sinus yang menyebabkan
diciptakannya FUNCTIONAL ENDOSCOPIC SINUS SURGERY, atau disingkat
FESS. Teknik bedah ini pertama kali diajukan oleh Messerklinger dan dipopulerkan oleh
Stammberger dan Kennedy

.
Keuntungan dari teknik BSEF, dengan penggunaan beberapa alat endoskop
bersudut dan sumber cahaya yang terang, maka kelainan dalam rongga hidung, sinus dan

30

daerah sekitarnya dapat tampak jelas. Dengan demikian diagnosis lebih dini dan akurat dan
operasi lebih bersih / teliti, sehingga memberikan hasil yang optimal. Pasien juga
diuntungkan karena morbiditas pasca operasi yang minimal. Penggunaan endoskopi juga
menghasilkan lapang pandang operasi yang lebih jelas dan luas yang akan menurunkan
komplikasi bedah Diciptakannya endoskop sinus menyebabkan ahli bedah memiliki

teknik untuk mengakses sinus. Teleskop halus dengan resolusi tinggi ini memungkinkan
visualisasi yang sangat baik terhadap bagian dalam hidung. Ahli bedah tidak lagi
melakukan sayatan melalui gusi atau wajah ,tetapi kini dapat masuk melalui lubang
hidung dan memperoleh gambar bagian dalam rongga hidung sinus yang terang dan telah
diperbesar

Indikasi absolut tindakan BSEF adalah rinosinusitis dengan komplikasi, mukosil


yang luas, rinosinusitis jamur alergi atau invasif dan kecurigaan neoplasma. Indikasi
relatif tindakan ini meliputi polip nasi simptomatik dan rinosinusitis kronis atau rekuren
simptomatik yang tidak respon dengan terapi medikamentosa.2 Sekitar 75-95% kasus
rinosinusitis kronis telah dilakukan tindakan BSEF. Prinsip tindakan BSEF adalah
membuang jaringan yang menghambat KOM dan memfasilitas drainase dengan tetap
mempertahankan struktur anatomi normal.

31

Teknik Operasi
Sebelum operasi dimulai, kavum nasi diberikandekongestan dan vasokonstriktor
dengan oksimetazolintopikal dan injeksi silokain 1% dengan epinefrin1:100.000 atau
1:200.000. Kemudian sinus maksila dan etmoid dievaluasi dengan endoskop kaku sudut
300 dan dilakukan kultur sekret yang diambil dengan penghisap (suction). Penanda
penting pada bedah sinus maksila revisi adalah konka media/ sisa konka media, atap
sinus maksila, dinding medial orbita dan dasar otak. Jika konka media terdorong ke
lateral dan menghambat akses ke sinus etmoid, maka secara perlahan harus dimedialisasi.
Sinekia dan jaringan parut dilepas dengan pisau sabit (sickle knife) atau through-cutting
forceps dengan tetap mempertahankan mukosa normal.
Jika atap sinus maksila (lantai orbita) dapat dilihat melalui antrostomi maksila
sebelumnya, maka lamina papirasea dapat dievaluasi dan sinus dilihat dengan endoskop
kaku sudut 300. Jika antrostomi mengalami patensi, pencarian ostium maksila dapat
dibantu dengan ostium seeker. Sisa prosesus unsinatus yang terlihat harus direseksi ke
arah medial dengan forsep Blakesley 90, microdebrider, back-bitting forcep atau downbitting forcep. Harus dihindari pengangkatan yang terlalu ke anterior karena dapat
mencederai duktus Nasolakrimalis.
Jika terdapat stenosis ostium maksila sejati, maka dilebarkan dengan angled-through
cutting forcep atau forsep Blakesley. Ostium asesorius harus disatukan dengan ostium
sejati menggunakan through-cutting forcep untuk menginsisi jaringan lunak di antara
ostium asesorius dan sejati. Perlu diingat bahwa posisi ostium sejati adalah oblik dan

32

tidak sejajar dengan dinding lateral kavum nasi sehingga visualisasi pada ostium sejati
dengan menggunakan endoskop kaku sudut 70
Komplikasi pasca tindakan BSEF dapat dibedakan menjadi komplikasi awal dan
lanjut. Komplikasi awal meliputi hematoma orbita, penurunan penglihatan, diplopia,
kebocoran cairan serebrospinal, meningitis, abses otak, cedera arteri karotis dan epifora.
Komplikasi lanjut yang dapat terjadi adalah rekurensi, mukosil dan miosferulosis akibat
salep yang digunakan dan benda asing. Komplikasi orbita dan intrakranial juga dapat
terjadi sebagai komplikasi lanjut.
J. PENCEGAHAN
Seseorang dengan sinusitis kronik sangat penting untuk mekakukakn tes alergi untuk
melihat penyebab berulangnya keluhan. Penatalaksanaan terhadap alergi dapat mencegah
terjadinya infeksi bakteri sekunder pada sinus.
Selian itu pencegahan juga dapat dilakukam dengan mengurangi pajanan terhadap
alergen, meningkatkan ventilasi rumah tangga dengan membuka jendela bila
memungkinkan, tidur dengan kepala ditinggikan, hal ini membantu memperbaiki drainase
sinus, gunakan dekongestan hindari polutan (seperti asap) yang mengiritasi hidung.
Berikut adalah beberapa car dalam pencegahan sinusitis :
Hindari infeksi saluran pernapasan atas. Kurangi kontak dengan orang yang
mengalami pilek. Cuci tangan secara rutin dengan sabun dan air, khususnya sebelum
makan.
Hati-hati merawat alergi untuk menjaga gejala tetap terkendali.

Hindari asap rokok dan polusi udara. Asap tembakau atau polusi udara lain dapat
mengiritasi dan menyebabkan radang pada paru-paru dan jalan napas.

Gunakan pelembab udara. Jika udara dirumah kering, seperti jika udara panas
dirumah, menggunakan pelembab udara dapat membantu mencegah sinusitis.
Pastikan pelembab udara tetap bersih dan bebas jamur secara rutin.

K. PROGNOSIS
Individu dengan sinusitis kronik prognosisnya bervariasi antara individu dengan
individu lainnya tetapi yang pasti pasien dengan sinusitis kronik membutuhkan

33

pengabatan jangka panjang yang berkelanjutan untuk jangka panjang serta perawatan
berkala untuk kekambuhan yang terjadi. Individu dengan sinusitis kronik tanpa disertai
penyakit signifikan yang mendasari dapat sembuh sepenuhnya. Namun individu dengan
penyakit inflamasi, gangguan system kekebalan tubuh, atau kondisi alergi dapat
diperberat dengan terinfeksi oleh sinusitis bakterial akut. Individu yang diindikasikan
untuk menjalani operasi sinus dapat kembali ke aktivitas normal dalam waktu 5 sampai 7
hari pasca operasi dan untuk mencapai pemulihan penuh memerlukan waktu sekitar 4
sampai 6 minggu. Pengobatan gagal terjadi pada sekitar 10% sampai 25% dari pasien.
L. KESIMPULAN DAN SARAN
Sinusitis adalah suatu peradangan pada sinus yang terjadi karena alergi atau infeksi
virus, bakteri maupun jamur. Sinusitis bisa terjadi pada salah satu dari keempat sinus
yang ada (maksilaris, etmoidalis, frontalis atau sfenoidalis). Sinusitis bisa bersifat akut
(berlangsung selama 3 minggu atau kurang) maupun kronis (berlangsung selama 3-8
minggu tetapi dapat berlanjut sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun). Bila
mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua sinus
paranasal disebut pansinusitis. Dari semua jenis sinusitis, yang paling sering ditemukan
adalah sinusitis maksilaris dan sinusitis ethmoidalis.
Dalam keadaan fisiologis, sinus adalah steril. Sinusitis dapat terjadi bila klirens
silier sekret sinus berkurang atau ostia sinus menjadi tersumbat, yang menyebabkan
retensi sekret, tekanan sinus negatif, dan berkurangnya tekanan parsial oksigen.
Lingkungan ini cocok untuk pertumbuhan organisme patogen. Apabila terjadi infeksi
karena virus, bakteri ataupun jamur pada sinus yang berisi sekret ini, maka terjadilah
sinusitis.
Kriteria diagnosis sinusitis :
Gejala mayor
Gejala minor
Nyeri atau rasa tertekan pada wajah
Sakit kepala
Sekret nasal purulen
Batuk
Demam
Rasa lelah
Kongesti nasal
Rasa lelah
Obstruksi nasal
Halitosis
Hiposmia atau anosmia
Nyeri gigi
Diagnosis memerlukan dua kriteria mayor atau satu kriteria mayor dengan dua kriteria

34

minor pada pasien dengan gejala lebih dari 7 hari.


SARAN
1. Dilakukan penelitian epidemiologis tentang sinusitis kronis di Indonesia
2. Diharapkan lebih mengenalkan kepada masyarakat tentang penyakit sinusitis kronis
dan bagaimana pencegahannya.

35