Anda di halaman 1dari 25

SKENARIO 3

Seorang mahasisa FKG bernama Rizal (22 tahun) datang ke tempat praktek
drg.Mega mengeluhkan gigi depan atas berlubang. Pasien mengeluhkan malu saat
tersenyum, dan ngilu bila minum air dingin. Pasien belum pernah dirawat oleh dokter
gigi, dan belum adakeluhan spontan. Pasien menginginkan untuk dilakukan
penambalan sewarna gigi. Pada pemeriksaan klinis, gigi 21 terdapat karies kelas IV
Black. Tes vitalitas dengan Electric Pulp Test (EPT) menunjukkan gigi masih vital,
tes perkusi tidak ada keluhan. Diagnosa klinis gigi 21 adalah pulpistis reversibel.
Oleh drg. Mega disarankan dilakukan pnumpatan dengan tumpatan plastis resin
komposit nanofiller, oleh karena sifat dari bahan tersebut yang cukup kuat, sewarna
gigi dan estetis.
STEP 1 Identifikasi Kata Sulit
1. Electric Pulp Test (EPT)
Instrumen yang dirancang menggunakan gradasi arus listrik untuk
menstimulasi serabut saraf gigi dimana penggunaannya harus dalam keadaan
kering.
2. Karies Media Kelas IV Black
Karies yang mencapai setengah dentin dan terjadi pada gigi anterior di daerah
proksimal dengan sudah melibatkan insisal.
3. Resin Komposit Nanofiller
Resin generasi terbaru dengan ukuran nano yang terdiri dari nanomer dan
nanocluster yang diaktivasi oleh visible-light dengan menggunakan konsep
nanotechnology
4. Restorasi Plastis
Teknik restorasi dimana preparasi dan pengisian tumpatan dikerjakan dalam
satu kali kunjungan dan digunakan apabila sisa jaringan dari gigi cukup untuk
mendukung suatu tumpatan. Dikatakan plastis karena bahan restorasi sebelum
dimasukan ke dalam rongga mulut mempunyai konsistensi lunak dan
kemudian mengeras dalam mulut dengan penyinaran atau secara kimia.
STEP 2 Rumusan Masalah

1. Kenapa pada scenario dokter gigi menggunakan EPT untuk test vitalitas
pulpa ?
2. Apa sajakah macam dari resin komposit ?
3. Apa indikasi dan kontraindikasi penggunaan resin komposit ?
4. Apa alasan dari dokter gigi pada scenario memilih jenis resin komposit
nanofiller ?
5. Apakah ada alternative bahan tumpatan lain yang bisa digunakan sesuai kasus
di scenario ? Apakah alasannya ?
6. Bagaiamana tahapan-tahapan yang harus dilakukan sebelum menumpat ?
7. Apa saja faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu tumpatan ?
STEP 3 Analisis Masalah
1. Kenapa pada skenario dokter gigi menggunakan EPT untuk test vitalitas
pulpa ?
Electric Pulp Test (EPT) adalah alat yang dirancang menggunakan
gradasi arus listrik untuk menstimulasi serabut saraf gigi dimana nantinya
akan menimbulkan respon. Apabila respon positive maka gigi dikatakan vital
dan apabila respon negative maka gigi dikatan non vital.
Karena technology dari alat ini yang tergolong baru maka penggunaan
dari EPT dikatakan lebih efisien dan lebih mudah. Selain, itu apabila
digunakan secara tepat maka akan menghasilkan hasil yang akurat
dibadingkan test dingin atau test termal yang biasanya tergantung dari
ambang sesitivitas rasa pasien.
2. Apa sajakah macam dari resin komposit ?
Resin komposit diklasifikasikan berdasarkan berbagai macam kelompok,
diantaranya :
a. Resin Komposit berdasarkan ukuran :
1. Megafiller : >100 m
2. Macrofiller : 10 100 m
3. Midifiller : 1 10 m
4. Minifiller : 0.1 1 m
5. Microfiller : 0.01 1 m
6. Nanofiller : 0.05 0.1 m
b. Resin Komposit berdasarkan bahan pengisi :
1. Konvensional
2. Microfiller
3. Hybrid
4. Microfil
2

5. Nanofiller
c. Resin Komposit berdasarkan bahan aktivasi :
Sinar : polimerisasinya dibantu oleh sinar, misalnya pada

komposit nanofiller dengan menggunakan visible-light


Kimia : tersedia dalam bentuk pasta dan diaktivasi dengan
menggunakan kimia yang terdiri dari inisiator berupa benzoid
peroxide dan activator berupa tertiary amina.

3. Apa indikasi dan kontraindikasi penggunaan resin komposit ?


Indikasi :
Pada karies kelas I pit dan fissure
Restorasi kelas II gigi permanen yang meluas 1/3 pada intercusp

sampai panajng intercusp bukal lingual gigi


Restorasi kelas II sulung
Resotasi kelas III, IV, V gigi permanen atau sulung pada gigi anterior
Pada pasien yang memiliki alergi logam

Kontra Indikasi :

Tidak bisa digunakan pada daerah gigi yang susah di isolasi untuk

kontrol kelembapan.
Permukaan multiple dan besar misalnya pada gigi sulung posterior
Pasien dengan oral hygene yang sangat buruk.
Pasien dengan insidensi karies yang tinggi.
Pasien dengan kelainan bruxism dikarenakan sifat komposit yang
mudah aus.

4. Apa alasan dari dokter gigi pada skenario memilih jenis resin komposit
nanofiller ?
Kini telah dikembangkan suatu bahan restorasi komposit yang
memiliki sifat fisik yang sangat baik terutama hasil pemolesan maupun
kekuatan, yaitu komposit nanofiller. Merupakan bahan restorasi universal
yang diaktifasi oleh visible-light yang dirancang untuk keperluan merestorasi
gigi anterior maupun posterior. Memiliki sifat kekuatan dan ketahanan hasil
poles yang sangat baik.
Dikembangkan dengan konsep nanotechnology, dimana dengan
menggunakan konsep ini maka produk lebih ringan murah dan tepat. Jika
3

produk dengan konsep nanotechnology ini digunakan untuk membuat badan


pesawat udara sebagai pengganti metal, maka berat badan pesawat udara ini
akan 50 kali lebih ringan, tetapi memiliki kekuatan yang sama dengan yang
dibuat dari metal.
Sebenarnya komposit nanofiller merupakan gabungan dari dua buah
sifat baik bahan komposit. Yaitu komposit micro dimana hasil polesnya
sempurna tetapi memiliki kekuatan yang kurang dengan komposit hybrid
yang memiliki kekuatan baik akan tetapi hasil poles tidak sebagus mikro.
Jadi, komposit nanofiller memiliki sifat yang kuat tidak mudah aus tetapi
memiliki hasil poles yang sempurna seperti komposit mikro.
Kelebihan lain dari komposit nanofiller adalah sifatnya yang lebih
lembut sehingga mudah dalam pengaplikasian. Hal ini dikarenakan komposisi
TEGDMA di kurangi sedangkan komposisi BIS-EMA dan UDMA di tambah
sehingga menyebabkan jumlah ikatan silang dari resin matriks menurun dan
penyusutan berkurang sehingga sifatnya lebih lembut.
Komposit nanofiller merupakan kombinasi dari nanoparticle dan
nanocluster yang bertindak sebagai unit tunggal. Selama pemakaian di dalam
rongga mulut hanya nanopartikel yang terkelupas sementara cluster tetap rata
sehingga tidak menimbulkan Pot-Hole seperti pada komposit hybrid.
Dengan adanya nanocluster dan nanoparticle maka jumlah ruang interstitial
antar partake filler berkurang sehingga sifat fisis lebih baik dan hasil poles
juga sempurna sehingga tahan teradap kebocoran tepi dan mampu bertahan
lebih dari 10 tahun.
5. Apakah ada alternative bahan tumpatan lain yang bisa digunakan sesuai kasus
di scenario ? Apakah alasannya ?
Mungkin bisa digunakan tumpatan Sandwich akan tetapi dalam hali
ini dalam pertimbangan seberapa kedalaman karies. Alasan menggunakan
sandwich adalah dimana sandwich merupakan gabungan dari SIK sebagai
basis yang memiliki kekuatan lebih dari pada komposit dan memiliki daya
adhesi yang tinggi. Kemudian dilapisi dengan komposit pada permukaannya
sebagai estetik terutama pada gigi anterior.
6. Bagaiamana tahapan-tahapan yang harus dilakukan sebelum menumpat ?
1. Mempersiapkan alat dan bahan sebagai berikut :
4

1) Handpiece high speed


2) Mata bur bulat, inverted,
3)
4)
5)
6)
7)

dan silindris
Alat dasar
Syringe
Kuas
Plastis Filling Instrument
Burnisher

8) Alat curing
9) Saliva Ejector
10) Alat poles komposit
11) Bahan
etsa,
Bahan
bonding
12) Tampon,

Cotton

roll,

Cotton palate
13) Bahan tumpat komposit

2. Melakukan isolasi daerah kerja untuk menghindari kontaminasi


dengan menggunakan saliva ejector, cotton roll atau rubber dam.
3. Melakukan pembersihkan gigi yaitu apabila masih ada jaringan karies
bisa di ekscavasi dengan ekscavator hingga bersih.
4. Melakukan tahapan preparasi. Sebelum memulai preparasi sebaiknya
ditetapkan dulu desain kavitas yang sesuai. Pada scenario, karena
karies merupakan kelas IV maka di tambahkan bevel dan champer
untuk memperoleh retensi yang baik.
7. Apa saja faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu tumpatan ?
1. Isolasi daerah kerja yang baik
14) Isolasi daerah kerja yang baik sangatlah penting agar pada saat
prosedur tumpatan dilakukan, tidak terjadi kontaminasi. Apabila terjadi
kontaminasi dengan saliva atau cairan lainnya maka perlekatan bahan
tumpatan dengan enamel dan dentine akan terganggu.
2. Kemapuan operator
15) Kemampuan operator juga sangat menentukan dalam keberhasilan
tumpatan. Bagaimana skill yang dipunya oleh operator sehingga ia bisa
memilih bahan yang tepat dan melakukan prosedur dengan benar maka
akan mempengaruhi lamanya tumpatan mampu bertahan dalam rongga
mulut.
3. Desain kavitas
16) Desain kavitas yang baik harus mempertimbangkan retensi,
resistensi, convenience, dan extention for prevention, agar mencegah
timbulnya karies sekunder dan daya tahan restorasi akan menjadi
semakin lama.
4. Teknik manipulasi
17) Cara manipulasi bahan restorasi plastis berbeda-beda untuk tiap
bahan, dengan berbagai ketentuan, apabila hal ini tidak diikuti dengan
baik,

maka

akan

mempengaruhi

kekuatan

sifat

mekanisnya,

ekspansifnya, dan akan menyebabkan mikroporositas yang menjadi


penyebab karies sekunder.
5. Ketepatan dalam menentukan indikasi
6. Prosedur polishing dan finishing yang benar
18) Prosedur polishing dan finishing ditujukan agar permukaan
tumpatan menjadi halus sehingga tidak ada retensi plak. Apabila

prosedur ini dilakukan dengan benar maka akan mencegah terjadinya


karies sekunder sehingga tumpatan tahan lama.
7. Kontak oklusal yang normal
8. Pemilihan bahan tumpatan yang tepat
19)
20) STEP 4 Mapping
21)
22)

KARIES MEDIA

23)
24)
25)

Restorasi Plastis Aestetic

26)
27)
28)
29)

Resin Komposit
30)

Sandwich

Glass Ionomer

31)
32)
Indikasi & Kontraindikasi

Macam

Manipulasi

33)

34)
35)
Kekurangan

Instrumentasi

Kelebihan

36)

Preparasi

37)
38)

Bahan

39)
40)
41)
42)
43) STEP 5 Learning Object
1. Mahasiswa

mampu

mengetahui

dan

menjelaskan

indikasi

dan

kontraindikasi menggunakan Resin Komposit.


2. Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan macam resin komposit
beserta kelebihan dan kekurangannya

3. Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan tahapan manipulasi resin


komposit meliputi :
a. Instrumentasi
b. Preparasi
c. Bahan
44) PR
1. Bagaimana cara kerja, kelebihan dan kekurangan electric pulp test ?
2. Di mana letak sel odontoblas ?
3. Bagaimana Semen Ionomer Kaca sebagai liner dibandingkan dengan
Kalsium Hidroksida ?
45)
46) STEP 7
47) PR
1. Bagaimana cara kerja, kelebihan dan kekurangan electric pulp test ?
48)
EPT (Electric Pulp Test) alat pemeriksaan vital atau non vital gigi
menggunakan aliran listrik. Alat ini digunakan berdasarkan stimulasi saraf
sensorik dan respon pasien dimana alat yang digunakan itu berfungsi
untuk merangsang respon pulpa dengan mengenakan arus listrik yang
semakin meningkat pada gigi. Alat ini diindikasikan untuk gigi yang dapat
diisolasi dan mudah dikeringkan, ketepatan pemeriksaan menggunakan
alat ini yaitu tergantung pada status psikolog pasien, ketepatan alat dan
ambang rasa sakit pada pasien. Kekurangannya, alat ini sangat sensitif dan
dipengaruhi banyak hal sehingga dapat mengakibatkan false pada hasil
pemeriksaan.
49)
Teknik penggunaan EPT
1. Isolasi daerah kerja yang akan diuji dengan gulungan kapas dan penyedot
ludah dan keringkan semua gigi dengan udara
2. Periksa alat test pulpa listrik sebelum digunakan dan patikan bahwa arus
melalui electrode
3. Gunakan elektrolit (pasta gigi) pada elektrode gigi dan letakkan pada
email mahkota gigi yang dikeringkan pada permukaan oklusobukal dan
insisolabial. Harus diperhatikan untuk tidak menyentuh restorasi gigi atau

jaringan gusi di dekatnya dengan elektrode atau elektrolit, karena dapat


mengakibatkan respon palsu dan menyesatkan
4. Tarik pipi pasien menjauhi elektrode gigi dengan tangan yang bebas.
Tangan yang berkontak dengan pipi pasien ini melengkapi aliran listrik
5. Putar reostat perlahan lahan untuk masukkan arus minimal ke dalam gigi,
dan untuk menaikkan arus perlahan-lahan. Minta kepada pasien untuk
memberitahu bila timbul sensasi dengan menggunakan kata-kata seperti
rasa geli atau kehangatan
2. Letak Sel Odontoblas
50)
Sel odontoblas adalah sel spesifik dalam komplek jaringan pulpa
pada lapisan terluar pulpa yang berfungsi untuk membentuk dentin
termasuk dentin reparatif dan sklerotik.Dentin ini merupakan salah satu
mekanisme pertahanan gigi dalam menghambat berbagai injuri terhadap
pulpa. Letak sel odontoblas berada dibawah atap pulpa, sedangkan
perpanjangan dari sitolasma sel odontoblas terletak pada tubuli dentin.
51)
52)
53)
54)
55)
56)
57)
58) Gambar 1. Potongan transversal gigi
59)
60)
61)
62)
63)
64)
65)
66)
67)

68)
69) Gambar 2. Perbesaran lapaisan dentin
70)

Gambar 2 menunjukkan perbesaran lapisan dentin. Terdapat tubuli

tubuli dentin yang berisi juluran sitoplasma sel odontoblas, sedangkan inti
sel dan badan sel keseluruhan terdapat di bawah margin atap pulpa.
3. GI dan CaOH sebagai Liner
71)
Liner merupakan bahan-bahan yang diletakkan berupa lapisan tipis
dan fungsi utamanya adalah untuk memberikan suatu perlindungan
terhadap iritasi kimiawi. Suatu bahan yang dapat digunakan sebagai
pelindung pulpa adalah Kalsium Hidroksida (CaOH). Selain sebagai lining
, CaOH dapat membantu pembentukan dentin sekunder. CaOH efektif
sebagai liner untuk kavitas yang menyisakan selapis tipis pulpa atau untuk
karies yang dalam.
72)
GI merupakan alternatif pilihan untuk digunakan sebagai
1.
2.
3.

liner. Terdapat beberapa tipe GI, diantaranya :


Tipe I
: GI sebagai Lutting cement
Tipe II
: GI sebagai bahan restorative
Tipe III
: GI sebagai bahan basis atau liner
73)
Komposisi GI terdiri dari bubuk yang berasal dari
aluminofluorosilikat dan cairannya merupakan larutan dari asam
poliakrilat. GI digunakan sebagai liner untuk karies yang tidak terlalu
dalam. Sifat GI bila menjadi liner atau basis untuk tumpatan resin lebih
unggul bila dibandingkan dengan liner lainnya, hal ini karena GI tidak
larut bila di etsa.
74)
75)
76) LO

INDIKASI

DAN

KONTRAINDIKASI

MENGGUNAKAN RESIN KOMPOSIT.


-

Indikasi :
1. Untuk merestorasi gigi anterior ( contohnya : terjadinya fraktur pada
gigi anterior). Diindikasikan pada gigi anterior karena resin akrilik tipe
komposit memiliki estetik yang baik. Estetik yang dimaksud adalah
resin akrilik memiliki sifat warna yang sewarna dengan gigi aslinya.

10

Selain itu resin akrilik ini merupakan bahan yang tidak bisa digunakan
pada gigi yang memiliki beban kunyah yang berat, jadi resin akrilik ini
sangat baik digunakan untuk gigi anterior yang memiliki beban kunyah
yang rendah.
2. Pasien alergi dengan logam
77) Karena pada pasien yang alergi dengan logam dapat menimbulkan
beberapa keluhan atau semsitif terhadap rangsangan dingin atau panas,
maka dari itu diindikasikan menggunakan komposit.
3. Pit dan fissure sealant
78) Karena dengan menggunakan komposit akan bertahan lebih lama
dan kuat. Komposit memiliki kemampuan penetrasi yang bagus.
Karena adanya proses etsa pada enamel gigi menghasilkan kontak
yang lebih baik antara bahan resin dan permukaan enamel.
4. Prosedur Estetis
79) Seperti membantu perapatan gigi yang diastema
5. Resin preventive pada pit dan fissure
80) Merupakan suatu prosedur klinik yang digunakan

untuk

mengisolasi pit dan fissure dengan memakai teknik etsa asam. Tujuan
restorasi pencegahan adalah untuk menghentikan proses karies awal
yang terdapat pada pit dan fissure.
6. Restorasi pada tempat yang memerlukan estetik
81) Hal ini berhubungan dengan karakteristik dari resin komposit yaitu
memiliki warna yang menyerupai gigi asli, tidak larut dalam cairan
mulut, dan kemampuannya berikatan dengan gigi secara mikro

mekanis.
7. Lesi interproksimal (klas III) pada gigi anterior
8. Lesi pada permukaan fasial gigi anterior (klas V)
9. Lesi pada permukaan fasial gigi premolar
10. Hilangnya sudut insisal gigi (klas IV)
11. Lesi pada pit dan fissure (klas I)
12. Lesi interproksimal gigi posterior (klas II)
13. Inlay resin komposit
Kontraindikasi
1. Daerah yang susah di isolasi
82)
Hal ini terjadi karena resin komposit bersifat
sangat sensitif bila terkontaminasi dengan cairan mulut, ada
kemungkinan restorasi akan lepas.
2. Gigi yang mendapat tekanan besar

11

83)

Bahan komposit akan rapuh bila ditempatkan

pada gigi yang mendapat tekanan oklusi besar seperti gigi molar.
3. Pasien yang memiliki sifat buruk bruxism
84)
Bahan komposit itu mudah aus,

jadi

dikontraindikasikan untuk pasien yang memiliki kebiasaan bruxism.


4. Lesi distal gigi kaninus
85)
Tekanan normal pada rahang cenderung
memberikan tekanan ke arah mesial sehingga bahan yang lunak seperti
resin akan cepat terabrasi dan membuat kontak distal menjadi rata
sehingga mengurangi lebar mesio-distal gigi yang normal, jika hal
tersebut terjadi dimungkinkan akan ada tekanan ke jaringan interdental
sehingga menyebabkan iritasi gingiva. Maka, alternatif bahan yang
digunakan untuk restorasi lesi distal kaninus adalah dengan teknik
sandwich nanokomposit hybrid, atau inlay resin komposit.
86)
87) LO

MACAM

RESIN

KOMPOSIT

BESERTA

KELEBIHAN DAN KEKURANGANNYA

Klasifikasi resin komposit berdasarkan ukuran rata-rata partikel bahan


pengisi utama.
a. Komposit Tradisional.
88)
Komposit tradisional ini biasa disebut juga komposit
konvensional atau komposit berbahan pengisi makro karena ukuran
partikel dari bahan pengisinya yang relatif besar. Karena bahan-bahan
ini sudah tidak biasa digunakan lagi, maka sebutan untuk komposit
tradisional lebih cocok dibandingkan dengan sebutan komposit
konvensional. Bahan pengisi yang paling sering digunakan untuk
komposit tradisional ini yaitu quartz giling. Ukuran rata-ratanya 8-12
m, tetapi partikel sebesar 50 m juga kemungkinan ada. Banyaknya
bahan pengisi umumnya 70-80% berat atau 60-65% volume. Bahan
pengisi ini dikelilingi oleh sejumlah besar matriks resin.
89)
Komposit tradisional ini lebih tahan terhadap abrasi
dibandingkan dengan akrilik tanpa bahan pengisi. Akan tetapi, bahan
ini memiliki permukaan yang kasar sebagai akibat dari abrasi selekstif

12

pada matriks resin yang lebih lunak, yang mengelilingi partikel pengisi
yang lebih keras. Komposit ini juga bersifat radiolusen karena bahan
pengisinya dari quartz.
90)
Kekurangan utama dari komposit tradisional ini yaitu
permukaan yang kasar akibat dari terjadi keausan pada matriks resin
yang lunak. Penyelesaian restorasi, penyikatan gigi, dan pengunyahan
dapat menghasilkan permukaan yang kasar. Oleh karena permukaan
yang kasar tersebut, komposit ini lebih cenderung untuk mengikat
warna. Fraktur dari lapisan komposit tradisional ini bukanlah suatu
masalah yang sering terjadi termasuk bila digunakan untuk restorasi
yang harus tahan terhadap tekanan seperti pada kavitas kelas IV dan
kelas II.
91)
b. Komposit Berbahan Pengisi Mikro.
92)
Dalam usaha mengatasi masalah permukaan yang kasar
pada komposit tradisional, dikembangkanlah suatu bahan yang
menggunakan bahan pengisi anorganik yaitu partikel silika koloidal.
Partikel ini memiliki ukuran 0,04-0,4 m, jadi partikel tersebut lebih
kecil 200-300 kali dibandingkan dengan rata-rata partikel quartz pada
komposit tradisional. Komposit berbahan pengisi mikro ini memiliki
permukaan yang halus serupa dengan tambalan resin akrilik langsung
tanpa bahan pengisi. Kelemahan dari bahan pengisi ini yaitu lemahnya
ikatan antara partikel komposit dan matriks yang dapat mengeras,
sehingga

mempermudah

pecahnya

restorasi

tersebut.

Karena

kelemahan tersebut, maka komposit ini tidak cocok digunakan pada


permukaan yang harus menahan beban.
93)
Komposit berbahan pengisi mikro ini memiliki sifat fisik
dan mekanik yang kurang dibandingkan dengan komposit tradisional.
Hal ini dikarenakan 50-70% volume bahan restorasi dibuat dari resin,
sehingga bahan pengisinya sendiri lebih sedikit. Komposit ini amatlah
tahan terhadap pemakaian dan karena itu bahan tersebut tahan terhadap
keausan yang setara dibandingkan dengan komposit yang mengandung
bahan pengisi lebih banyak serta tahan aus. Meskipun demikian, bila

13

dibandingkan dengan resin akrilik nirpasi, komposit ini memiliki sifat


yang secara nyata lebih baik, dan menghasilkan permukaan akhir yang
lebih halus, seperti yang diharapkan untuk restorasi estetik
dibandingkan dengan komposit lain. Sehingga, bahan tersebut lebih
disukai untuk restorasi lesi karies permukaan halus (kelas III dan V).
94)
Komposit berbahan pengisi mikro ini, tidak untuk kavitas
yang memerlukan ketahanan terhadap tekanan seperti kelas I, II, dan
IV karena pecahnya restorasi lebih besar. Pecahnya restorasi seringkali
teramati pada tepi tambalan yang disebabkan oleh tidak terikatnya
bahan pengisi prapolimerisasi. Bagaimanapun juga, restorasi berbahan
resin komposit jenis ini banyak digunakan karena permukaannya yang
halus, bahan ini menjadi pilihan untuk restorasi estetika gigi anterior.
c. Komposit Berbahan Pengisi Partikel Kecil.
95)
Komposit berbahan pengisi partikel kecil dikembangkan
dalam usaha memperoleh kehalusan permukaan dari komposit
berbahan pengisi mikro dengan tetap mempertahankan atau bahkan
meningkatkan sifat mekanis dan fisik komposit tradisional. Rata-rata
ukuran bahan pengisi ini yaitu 1-5 m. Beberapa komposit berbahan
pengisi partikel kecil menggunakan quartz sebagai bahan pengisi,
tetapi kebanyakan memakai kaca yang mengandung logam berat.
Kategori komposit ini menunjukkan sifat fisik dan mekanis yang
paling unggul. Kekuatan kompresi dan modulus elastik dari komposit
ini melampaui nilai dari komposit tradisional dan komposit berbahan
pengisi mikro. Kehalusan permukaan resin ini ditingkatkan dibanding
dengan resin komposit tradisional. Begitupun ketahanan aus juga
ditingkatkan.
96)
Komposit berbahan pengisi partikel kecil ini diindikasikan
untuk aplikasi pada daerah dengan tekanan dan abrasi tinggi seperti
kelas I dan II. Ukuran partikel dari beberapa komposit berbahan
pengisi partikel kecil memungkinkan diperolehnya permukaan halus
untuk pemakaian pada gigi anterior, tetapi bahan ini tidak sebaik

14

komposit berbahan pengisi mikro atau yang akhir-akhir ini lebih


dikembangkan yaitu bahan komposit hibrid.
d. Komposit Hibrid.
97)
Kategori bahan komposit ini dikembangkan dalam rangka
memperoleh kehalusan permukaan yang lebih baik daripada komposit
partikel kecil sementara mempertahankan sifat komposit partikel kecil
tersebut. komposit ini dipandang memiliki estetik yang setara dengan
komposit berbahan pengisi mikro untuk penggunaan restorasi anterior.
Ada 2 jenis bahan pengisi dalam komposit hibrid yaitu silika koloidal
dan partikel kaca yang dihaluskan, yang mengandung logam berat,
yang mengisi kandungan bahan pengisi sebesar 75-80% berat. Ukuran
rata-rata dari partikelnya yaitu 0,6-1 m.
98)
Sifat mekanik dan fisik untuk komposit ini umumnya
berkisar antara bahan komposit tradisional dan komposit berbahan
pengisi partikel kecil. Namun, sifat-sifat tersebut umumnya lebih
unggul dibandingkan dengan komposit berbahan pengisi mikro.
Karena mengandung sejumlah logam berat, maka bahan tersebut lebih

radiopak dibandingkan dengan email.


99)
Klasifikasi resin komposit berdasarkan basis resinnya.
a. Resin Komposit Berbasis Methacrylate.
100) Bahan dasar matriks resin yang umum digunakan adalah
bisfenol A-glisidil metachrylate (Bis-GMA), urethan dimetachrylate
(UDMA), dan trietilen glikol dimetachrylate (TEGDMA). Resin
komposit mengandung 15% sampai 25% bahan resin dari keseluruhan
bahan. Kedua resin Bis-GMA dan UDMA digunakan sebagai basis
resin sementara TEGDMA digunakan sebagai pengencer untuk
mengurangi kekentalan resin basis, khususnya Bis-GMA. Penambahan
TEGDMA atau

dimetakrilat

dengan

molekul

rendah

lainnya

meningkatkan pengerutan polimerisasi, suatu faktor yang membatasi


jumlah dimetakrilat berat molekul rendah yang dapat digunakan dalam
komposit.
101) Bahan pengisi (filler) yang biasa digunakan pada komposit
jenis ini adalah crystalline quartz, lithium glass ceramic, borosilicate

15

glass atau lithium alumunium silicate. Ikatan antara kedua fase


komposit inilah yang dibentuk oleh coupling agent. Aplikasi coupling
agent yang tepat (silane), dapat memperbaiki sifat fisik dan mekanis
serta memberikan stabilitas hidrolitik untuk mencegah air berpenetrasi
di antara permukaan resin dan filler. Filler juga berguna untuk
mengurangi kontraksi polimerisasi, mengurangi koefisien muai termis
komposit, meningkatkan sifat mekanis komposit antara lain kekuatan
dan kekerasan, mengurangi penyerapan air.
102)
b. Resin Komposit Berbasis Silorane.
103)

Berdasarkan ukuran partikel filler, silorane termasuk ke

dalam kategori resin komposit microhybrid dengan bahan pengisi dasar


berukuran partikel 0,1-1 m dikombinasikan dengan bahan pengisi
mikro 3-5% berat. Keuntungan dari penambahan partikel bahan
pengisi ini adalah dapat menguatkan matriks resin, mengurangi
penyusutan saat polimerisasi, mengurangi thermal ekspansi dan
kontraksi, meningkatkan viskositas, mengurangi reasorbsi air serta
meningkatkan radiopacity. Pada silorane berupa iodonium salt, dan
komponen pigmen warna (0,005%) pada resin komposit silorane yang
dapat menyerupai warna struktur gigi.
104)

105)
Klasifikasi resin komposit berdasarkan persentase muatan fillernya.
a. Resin komposit flowable.
106) Resin komposit ini memiliki ukuran partikel filler antara
0,04-1 m. Jumlah persentase komposisi filler nya sekitar 44-54 %
dari total volume.

Komposisi filler inorganik yang rendah dan

komposisi resin yang lebih banyak menyebabkan resin komposit tipe


ini memiliki daya alir yang sangat tinggi dan viskositas atau
kekentalannya cukup rendah, sehingga dapat dengan mudah untuk
mengisi atau menutupi celah kavitas yang kecil.

Resin komposit

16

flowable memiliki modulus elast isitas yang rendah menyebabkan


bahan ini lebih fleksible, penumpatan bahan yang lebih mudah, cepat,
teliti, mudah beradaptasi, sangat mudah dipolish, radiopak, dan
mengandung

fluoride

serta

pengurangan

sensitifitas

setelah

penumpatan. Selain itu, resin komposit flowable dapat membentuk


sebuah lapisan elastis yang dapat mengimbangi tekanan pengerutan
polimerisasi. Indikasi bahan restorasi ini ditujukan untuk kavitas
dengan invasif minimal seperti restorasi klas I dan klas II dengan
tekanan oklusal yang ringan, restorasi kavitas klas V, juga dapat
digunakan sebagai liner.
b. Resin komposit packable.
107)
Resin komposit packable memiliki ukuran partikel filler
antara 0,7-2 m dengan
antara 48-65 % volume.

persentase komposisi filler nya berkisar


Komposisi filler yang tinggi dapat

menyebabkan kekentalan atau viskositas bahan menjadi meningkat


sehingga sulit untuk mengisi celah kavitas yang kecil. Tetapi dengan
semakin besarnya komposisi filler juga menyebabkan bahan ini dapat
mengurangi pengerutan selama polimerisasi, memiliki koefisien
ekspansi termal yang hampir sama dengan struktur gigi, dan adanya
perbaikan sifat fisik terhadap adaptasi marginal. Resin komposit ini
juga diharapkan dapat menunjukkan sifat-sifat fisik dan mekanis yang
baik karena memiliki kandungan filler yang tinggi. Resin komposit
packable diindikasikan untuk gigi posterior karena daya tahannya
terhadap tekanan sehingga dapat mengurangi masalah kehilangan
kontak. Resin komposit ini diindikasikan untuk restorasi klas I, klas II

dengan luas kavitas yang kecil, dan klas V.


108)
Klasifikasi resin komposit berdasarkan cara aktivasinya.
a. Aktifasi sinar.
109) Bahan resin komposit yang dipolimerisasi dengan sinar
diperjual belikan dalam bentuk pasta. Dalam pasta tersebut terdiri dari
moleku-molekul fotoinisiator dan aktivatir amine yang nantinya
membentuk suatu radikal bebas untuk proses polimerisasinya. Kedua

17

komponen yang terkandung dalam pasta tersebut tidak akan


berproses / mengeras apabila tidak diberi gelombang cahaya.
Gelombang cahaya yang sesuai yaitu 460 485 nm. Dalam
penggunaannya bisa diaplikasikan dengan cara selapis demi selapis.
Pada lapisan pertama kemungkinan untuk shrinkage bisa terjadi,
sehingga pada lapisan berikutnya akan mengkompensasi dari resin
komposit yang mengalamai penyusutan. Hal ini awalnya dianggap
sebagai suatu kekurangan, namun nyatanya hal ini menjadi suatu
keuntungan dalam memanipulasi resin komposit.
110) Sinar yang dipancarkan pada resin komposit harus sedekat
mungkin tapi tetap tidak menyentuh resin komposit. Ketebalan dari
lapisan-lapisan pengaplikasian yaitu bekisar 1-2mm. Apabilla lebih
dari itu maka penyinaran harus lebih lama.
111)
Keuntungan dari aktivasi sinar, yaitu :
Bahan tidak akan mengeras jika belum di kenai sinar, sehingga
operator mudah dalam membentuk bahan sesuai dengan keadaan

gigi pasien.
Tidak perlu dilakukan pengadukan, karena bahan ini sudah dalam
bentuk suatu pasta komponen tunggal.

112)

Kekurangan dari aktivasi sinar, yaitu :

Bahan tidak boleh dikeluarkan jika belum mau digunakan, karena

sinar lampu dental unit juga bisa memicu polimerisasi bahan.


Penggunaan sinar laser dapat berisiko merusak retina, sehingga
diperlukan kacamata khusus sebagai pelindung operator atau

jangan melihat sinar lasernya secara langsung dan lama.


113)
b. Aktifasi kimia.
114) Resin jenis ini diperjual belikan dalam bentuk dua pasta.
Salah satu pastanya mengandung inisiator benzoyl peroxide dan pasta
yang lainnya berisi aktivatir tertiary amine. Apabila kedua bahan ini
dicampur / diadon makan amine akan bereaksi dengan dengan benzoyl

18

perxide sehingga terbentuklah suatu radikal bebas yang menunjukkan


bahwa proses pengerasa berlangsung.
115)
Kekurangan dari aktifasi kimia, yaitu :
Butuh suatu keahlian dan ketelitian operator yang tinggi dalam
memanupulasi bahan yang akan digunakan. Hal ini disebabkan
karena jika bahan tidak cepat dimasukkan kedalam kavitas, maka
adaptasi bahan terhadap dinding kavitas akan buruk dan sifat
plastis bahan menghilang.
116)
117) LO 3 TAHAPAN MANIPULASI RESIN KOMPOSIT
MELIPUTI

INSTRUMENTASI,

PREPARASI,

DAN

BAHAN
-

Tahapan Isolasi
118) Sebelum ditumpat, gigi harus diisolasi. Dalam penumpatan
dengan resin komposit, gigi yang terkena saliva dapat
berpengaruh pada proses adhesi resin pada gigi.Beberapa
metode tepat digunakan untuk mengisolasi daerah kerja yaitu
saliva ejector, gulungan kapas atau cotton roll, dan isolator

karet atau rubber dam.


Pembersihan Gigi
119) Kotoran seperti debris, plak, atau karang gigi pada daerah

kerja harus dibersihkan terlebih dahulu


Tahapan preparasi
120) Preparasi pada masing masing kelas berbeda beda.
Dalam melakukan preparasi pada kavitas harus selalu
memperhatikan bentuk resistensi, retensi, konvenien, dan
extention for prevention.
121) Komposit adalah bahan restorasi dengan jenis perlekatan
mekanik (mechanical interlocking).
122) Oleh karena jenis perlekatan dari bahan komposit adalah
mechanical

interlocking

maka

pada

beberapa

kasus

penambahan retensi lain diperlukan untuk mendapat ketahan


dari bahan restorasi yang lebih optimal. Seperti misal pada
kasus kelas IV dimana traditional cavosurface preparation

19

menjadi stadard retensi tambahan dan juga preparasi chamfer


direkomendasikan untuk restorasi komposit.
123)

20

124)
125)

Pada

dasarnya,

preparasi

Bevel

ataupun

Chamfer

membantu menghasilkan area yang lebih luas pada preparasi


tepi

enamel,

dan

setelah

dilakukan

pengetsaan

dapat

meningkatkan ketahan fraktur. Hal ini didukung pada penelitian


terbaru, preparasi Bevel digabungkan dengan sistem perlekatan
dengan etsa menghasilkan daya tahan yang lebih besar.
Preparasi Bevel memberikan beberapa keuntungan pada
prosedur restorasi diantaranya, penghilangan permukaan
enamel superficial yang aprismatic, meningkatkan luas
permukaan dari area yang akan digunakan sebagai retensi,
menghasilkan kerapatan tepi yang lebih baik, memberikan hasil
estetic yang baik dan juga meningkatkan retensi dari bahan
-

restorasi.
Pemberian Liner / Basis
126) Sebelum dilakukan pemberian liner/basis, kavitas harus
dalam keadaan bersih (sudah diirigasi) dan kering. Pada
skenario, karena kavitasnya masih pada karies media yang
melibatkan kurang dari setengah dentin, maka tidak perlu
diberi basis. liner disini berfungsi untuk melindungi pulpa dari
sifat resin yang iritan terhadap pulpa. Sehingga perlu adanya
perlindungan agar bahan restorasi resin komposit ini tidak
secara langsung mengenai struktur gigi. Bahan basis atau liner
yang biasanya digunakan adalah kalsium hidroksida, karena
kalsium hidroksida memiliki kelebihan yaitu sifatnya yang basa
sehingga aman untuk digunakan mendekati pulpa dan memiliki
efek terapeutik. Liner ini diaplikasikan dalam konsistensi encer

21

yang mengalir sehingga mudah diaplikasikan ke permukaan


dentin. Larutan tersebut menguap meninggalkan sebuah lapisan
tipis yang berfungsi memberikan proteksi pada pulpa di
bawahnya.

Setelah

itu

dilakukan

irigasi

lalu

kavitas

dikeringkan.
127) Penting untuk diperhatikan bahwa dalam tumpatan
menggunakan resin komposit tidak boleh dilakukan pemberian
liner Zinc Okside Eugenol karena dapat mengganggu
-

polimerisasi dari resin.


Tahap etsa asam
128) Caranya ulaskan bahan etsa yaitu asam phospat 37%-50%
dalam bentuk gel/cairan dengan meggunakan pinset dan cotton
pellet pada permukaan enamel sebatas 2-3 mm dari tepi kavitas
(terutama pada bagian bevel). Pengulasan ini dilakukan selama
20-30 detik dan jangan sampai mengenai gingival. Lalu
dilakukan irigasi dengan air sebanyak 20 cc dan kavitas
dikeringkan. Setelah dikeringkan, permukaan gigi yang dietsa

akan tampak berwarna putih.


Tahapan Bonding
129) Mengulaskan bahan bonding menggunakan spon kecil atau
kuas / brush kecil pada permukaan yang telah di etsa. Ditunggu
kurang lebih 10 detik sambil disemprot udara ringan. Pada
sistem self etch, setelah pengulasan dan pengeringan dapat
secara langsung disinar tanpa diberikan bahan untuk etsa.
Sedangkan untuk total etch, bahan etsa dan bonding terpisah,
sehingga diperlukan tahapan yang lebih banyak lagi.
130) Bedasarkan jumlah kemasan atau tempat penyimpanan,
bahan adhesif dibagi menjadi tiga botol, dua btol, dan satu
botol yang terdiri dari bahan etsa, primer, dan bonding. Pada
sistem tiga botol, ketiga bahan tersebut berdiri sendiri. Sistem
ini menghasilkan kekuatan yang baik dan efektif, namun
kekurangannya adalah terlalu banyaknya kemasan. Sistem dua
botol , terdiri dari etsa, dan gabungan primer dan bonding.

22

Sistem ini banyak digunakan, dikarenakan simpel dan waktu


pemakainnya cepat disamping itu ikatan yang dihasilkan cukup
baik. Sedangkan sistem satu botol merupakan penggabungan
antara ketiga bahan tersebut, merupakan sistem terbaru yang
lebih mudah dan cepat pengaplikasiaannya dibanding sistem
yang lain. Namun, kekurangan dari sistem ini adalah ikatan
-

yang dihasilkan lebih rendah.


Tumpatan Resin Komposit
131) Penumpatan dilakukan dengan

menggunakan

resin

komposit dilakukan layer by layer atau selapis demi selapis.


Terutama untuk resin yang light activated. Dan diusahakan
dinding yang terlibat dalam satu layer adalah seminimal
mungkin. Oleh karena itu dilakukan pelapisan dengan bentuk
oblique. Aplikasikan selapis, kemudian disinari, selapis lagi
dan disinari lagi, begitu seterusnya hingga kavitas tertutup
sempurna.
132) Saat pengaplikasian resin komposit pada kelas II, III, IV,
maka hal yang perlu diperhatikan adalah pengaplikasian
matriks agar tumpatan terbentuk sesuai dengan anatomi gigi
-

asli.
Finishing dan Polishing
133) Tahapan Finishing meliputi shaping dan contouring.
Tahapan ini bertujuan untuk membentuk tumpatan sesuai
dengan anatomi gigi yang sebenarnya. Sedangkan tahap
polishing dimaksutkan untuk mendapatkan anatomis gigi yang
sesuai dan mendapatkan permukaan restorasi yang mengkilat.
134) a. Alat untuk shaping : sharp amalgam carvers dan scalpel
blades, atau specific resin carving instrument yang terbuat dari
carbide, anodized aluminium, atau nikel titanium.
135) b. Alat untuk finishing dan polishing : diamond dan carbide
burs, berbagai tipe dari flexibe disks, abrasive impregnated
rubber point dan cups, metal dan plastic finishing strips, dan
pasta polishing.

23

136)
137)
138)
139)
140)
141)
142)
143)
144)
145)
146)
147)
148)
149)
150)
151)
152)
153)
154)
155)
156)
157)
158)
159)
160)

DAFTAR PUSTAKA

161)
1. Carvalho RM, Pereira JC, Yoshiyama M, Pashley DH. A review of
polymerization contraction: the influence of stress development versus
stress relief. Oper Dent 1996;21:17-24.

24

2. Yazici AR, Baseren M, Dayanga A. The effect of flowable resin


composite on microleakage in class v cavities. Oper Dent 2003; 28: 426.
3. Kidd EAM, Bechal SJ. 1992. Dasar-Dasar Karies: Penyakit dan
Pencegahannya. Terjemahan dari: Essentials of Dental Caries: The
Desease and Its Management. Alih Bahasa: Narlan S dan Faruk S,
Jakarta: EGC, hlm 33-37
4. Pashley,1985,Pashley 1988: Hargreaves dan Goodish 1998 ; Myor
2003 ; Bergenholtz et all., 2003
5. Anusavice, Kenneth J. 2003. Phillips Buku Ajar Ilmu Bahan
Kedokteran Gigi. Ed.10. Jakarta : EGC
6. Chimello DT, Chinellati MA, Ramos RP, Palma Dibb RG. In vitro
evaluation of microleakage of flowable composite in class v
restorations. J Braz Dent 2002; 13(3): 184-7.
7. Nugrohowati, Wianto D. Penggunaan bahan flowable untuk restorasi.
JITEKGI 2003; 1(2): 146-7.
8. Neo JLC, Yap AUJ. Composite resin. In: Mount GJ, Hume WR.
Preservation and restoration of tooth structure. London: Mosby, 1998:
69-92.
9. Bala O, Octasli MB, Unlu L. The leakage of class II cavities restored
with packable resin-based composites. J Contemp Dent Pract 2003;
4(4): 1-11.
10. Irawan B. Komposit berbasis resin untuk restorasi gigi posterior. J
Dentika Dent 2005; 10(2): 126-31.
162)

25