Anda di halaman 1dari 6

PENGERTIAN

Struma nodosa adalah tumor atau pembesaran pada kelenjar tiroid. Biasanya dianggap
membesar bila kelenjar tiroid lebih dari 2x ukuran normal. Pembesaran tiroid sangat bervariasi
dari tidak terlihat sampai besar sekali dan mengadakan penekanan pada trakea, membuat dilatasi
system vena kolateral. Pada dasarnya struma berdasarkan jumlah nodul ada dua yaitu : struma
mononodosa non toksik dan struma multinodosa nan toksik, berdasarkan kemampuan
menangkap iodium radioaktif, nodul dibedakan menjadi : nodul dingin, hangat, dan panas.
Sedangkan berdasarkan konsistensinya, nodul dibedakan menjadi : nodul lunak, kistik, keras,
dan sangat keras.
B. ETIOLOGI
Penyebab pasti pembesaran kelenjar tiroid pada srtuma nodosa tidak diketahui, namun
sebagian besar pendetita menunjukkan gejalah-gejalah tiroiditis ringan, oleh karena itu diduga
tiroiditis ini menyebabkan hipotiroidisme ringan, yang selanjutnya menyebabkan peningkatan
sekresi TSH dan pertumbuhan yang progresif dari bagian kelenjar yang tidak meradang.
Beberapa penderita struma nodosa di dalam kelenjar tiroidnya timbul kelainan pada system
enzim yang dibutuhkan untuk pembentukan hormone tiroid. Biasanya tiroid mulai membesar
pada usia muda dan berkembang menjadi multinodular pada saat dewasa. Karena
pertumbuhannya berangsur- angsur, struma dapat menjadi besar tanpa gejalah kecuali benjolan di
leher.
Sebagian besar penderita dengan srtuma nodosa dapat hidup dengan strumanya tanpa keluhan.
Walaupun sebagian struma nodosa tidak mengganggu pernafasan karena menonjol ke bagian
depan, sebagian lain dapat menyebabkan penyempitan trakea bila pembesarannya bilateral.
Struma nodosa unilateral dapat menyebabkan pendorongan sampai jauh ke arah pernafasan.
Pendorongan demikian mengkin mengakibaatkan gangguan pernafasan.

C. PATOFISIOLOGI
Iodium merupakan semua bahan utama yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan
hormone tiroid. Bahan yang mengandung iodium diserap usus, masuk kedalam sirkulasi darah
dan ditangkap paling banyak oleh kelenjar tiroid. Dalam kelenjar, iodium dioksida menjadi
bentuk yang aktif yang distimuter oleh tiroid stimulating hormone kemudian disatukan menjadi
molekul tiroksin yang terjadi pada fase sel koloid. Senyawa yang terbentuk dalam molekul
diyodotironin membentuk tiroksin (T4) dan molekul yoditironin (T3). Tiroksin (T4) menunjukak
pengaturan umpan balik negatif dari seksesi tiroid stimulating hormone dan bekerja langsung
pada tirotropihypofisis, sedangkan T3 merupakan hormone metabolic tidak aktif. Beberapa obat
dan keadaan dapat mempengaruhi sintesis, pelepasan dan metabolisme tiroid sekaligus
menghambat sintesis tiroksin (T4) dan melalui rangsangan umpan balik negatif meningkatkan
pelepasan TSH oleh kelenjar hypofisis. Keadaan ini menyebabkan membesaran kelenjar tiroid.
D.
MENIFESTASI KLINIS
Jika struma cukup besar, akan menekan area trakea yang dapat mengakibatkan
gangguan pada respirasi dan juga esofhagus tertekan sehingga terjadi gangguan menelan.
Peningkatan seperti ini jantung menjadi berdebar- debar, gelisah, berkeringat, tidak than cuaca
dingin, dan kelelehan. Pada umumnya kelainan-kelainan yang dapat menampakkan diri sebagai
struma nodosa seperti tiroditis. Struma nodosa dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal
yaitu :
a. Berdasarkan jumlah nodul: bila jumlah nodul hanya satu disebut struma nodosa soliter (uninodosa)
dan bila lebih dari satu disebut struma multinodosa.
b. Berdasarkan kemampuan menyerap iodium radioaktif: ada 3
bentuk nodul trioid yaitu nodul dingin, hangat, dan panas.
c. Berdasarkan konsistensinya: lunak, kistik, keras dan sangat keras.
Keganasan umumnya terjadi pada nodul yang soliter dan konsistensinya keras sampai
yang sangat keras. Yang multiple biasanya tidak ganas, kecualiapabila salah satu dari nodul

tersebut lebih menonjol dan lebih kerasdari pada lainnya. Apabila suatu nodul nyeri pada
penekanan dan mudah digerakkan, kemungkinan terjadi suatu perdarahan kedalam kista,
tiroiditis. Tetapi kalau nyeri dan sukar digerakkan kemungkinan besar suara karsinoma.
Pada umumnya pasien struma nodosa datang berobat karena keluhan akan keganasan ,
sebagian kecil pasien khususnya yang dengan struma nodosa besar mengeluh adanya gejalah
mekanis yaitu: penekanan pada trakea. Diagnosis ditegakkan atas dasar adanya struma yang
bernodul dengan keadaan eutiroid.
E.
PENATALAKSANAAN
Terapi struma antara lain dengan penekanan TSH oleh tiroksin, yaitu pengobatan
yang mengakibatkan penekanan TSH hifofisis, dan penghambatan fungsi tiroid disertai atrofi
kelenjar tiroid. Pambedahan dapat dianjurkan untuk struma yang besar untuk menghilangkan
gangguan mekanis dan kosmetis yang diakibatkannya. Pada masyarakat tempat struma timbul
sebagai akibat kekurangan iodium, garam dapur harus diberi tambahan iodium.
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Laboraturiu :T4 atau T3, dan TSH
b. Biopsi aspirasi jarum halus
c. Biopsi ini dilakukan khusus pada keadaan yang mencurigakan suatu keganasan. Biopsy ini tidak
nyeri, hampir tidak menyebabkan bahaya penyebaran sel-sel ganas.
d. Pemeriksaan radiologis dengan foto rontgen dapat memperjelas adanya deviasi trakea, atau
pembesaran struma yang pada umumnya secara klinis sudah bias diduga, foto rontgen pada leher
lateral diperlukan untuk evaluasi kondisi jalan nafas sehubungan dengan intubasi anastesinya,
bahkan tidak jarang untuk konfirmasi diagnostic tersebut sampai melakukan CT-scan leher.
e. Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
manfaat USG dalam pemeriksaan tiroid :

1. untuk menentukan jumlah nodul


2. dapat membedakan antara lesi tiroid padat dan kistik
3. dapat mengukur volume dari nodul tiroid
4. dapat mendeteksi adanya jaringan kanker tiroid residif yang tidak
menangkap iodium, dan tidak terlihat dengan sidik tiroid
5. untuk mengetahui lokasi dengan tepat benjolan tiroid yang akan
dilakukan biopsy terarah
Pemeriksaan fisik
1.
keadaan umum
pada umumnya keadaan pasien lemah dan kesadarannya komposmentis dengan TTV yang meliputi : TD, nadi,
pernafasan, dan suhu yang berubah.
2.
Kepala dan leher
Pada pasien struma ini dikepala (THT, mata dan mulut), inspeksi conjungtiva anemis, scelera ikterik. pada
leher, inspeksi untuk melihat apakah terdapat benjolan disebelah anterior atau tampak asimetris. Dan kemudian
dilakukan palpasi tiroid untuk menentukan ukuran, bentuk, konsistensi, kesimetrisan dan adanya nyeri tekan.
3.
Thoraks (system pernafasan)
Biasanya pernafasan lebih sesak akibat dari penumpukan secret

efek dari anestesi, atau karena adanya darah dalam jalan nafas.

Inpeksi: gerakan nafas,

Auskultasi: adanya pernapasan rhonkhi,wheezing


4.
System gastrointestinal (abdomen)
Komplikasi yang paling sering adalah mual akibat pemingkatan
asam lambung akibat anestesi umum, dan pada akhirnya akan

hilang sejalan dengan efek anestesi yang hilang.

Inspeksi: datar, lemas

Auskultasi: bising usus normal

Palpasi: lemas, nyeri tekan

Perkusi: thympani

PENUTUP
kesimpulan

Melihat uraian diatas dapat di simpulkan penyakit struma nodosa merupakan salah satu penyakit yang
penyebab pasti pembesaran kelenjar tiroid tidak diketaui, namun sebagian besar penderita menunjukkan
gajalah-gejalah tiroiditis ringan.
Perjalanan penyakit ini Iodium merupakan semua bahan utama yang dibutuhkan tubuh untuk
pembentukan hormone tiroid. Bahan yang mengandung iodium diserap usus, masuk kedalam sirkulasi darah
dan ditangkap paling banyak oleh kelenjar tiroid. Dalam kelenjar, iodium dioksida menjadi bentuk yang aktif
yang distimuter oleh tiroid stimulating hormone kemudian disatukan menjadi molekul tiroksin yang terjadi
pada fase sel koloid.
Penatalaksanaan pada penyakit struma Terapi struma antara lain dengan penekanan TSH oleh tiroksin,
yaitu pengobatan yang mengakibatkan penekanan TSH hifofisis, dan penghambatan fungsi tiroid disertai atrofi
kelenjar tiroid. Pambedahan dapat dianjurkan untuk struma yang besar untuk menghilangkan gangguan
mekanis dan kosmetis yang diakibatkannya.
Diagnose yang ditimbulkan :
1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
susah
menelan.
2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan dampak pembedahan
3. Resiko terjadi ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan obstruki
trakea, pembengkakan

4. Gangguan konsep diri (citra tubuh) berhubungan dengan perubahan bentuk


leher
5. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan salah interpresepi