Anda di halaman 1dari 15

BAB I

Pendahuluan
A. Latar Belakang
Mungkin benar kata orang

bahwa jaman sekarang semakin edan, karena

semakin tinggi tingkat kriminalitas yang terjadi disekitar kita. Bukan hanya tingkat
kriminalitas dalam pencurian maupun pembunuhan, tetapi tingkat kriminalis dalam
kejahatan seksual.
Bahkan, tingkat kejahatan seksual ini tidak hanya terjadi pada kaum wanita tetapi juga
terjadi pada kaum anak-anak. Parahnya lagi kasus ini juga memakan korban anak
dibawah umur yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.
Sungguh sangat disayangkan anak kecil yang merupakan generasi penerus
bangsa dan merekapun masih belum mengerti apa-apa harus menjadi korban dari
pelampiasan napsu bejat para tersangka. Bahkan pelaku sampai tega hati melakukan
sodomi pada bocah laki-laki dibawah umur.
Anak yang bukannya kita lindungi dan kita beri pengetahuan malah
mendapatkan trauma yang mungkin akan selalu menghantuinya hingga ia beranjak
dewasa. Bahkan kejahatan ini dilakukan oleh pihak terdekat korban bahkan oleh orang
yang seharusnya memberi ilmu. Kejahatan ini pun ada yang terjadi di instansi
pendidikan, seperti yang sedang marak diperbincangkan di media-media. Motif yang
mendasari kejahatan pelaku ini juga beragam ada yang karena pengaruh kelainan
seksual, iseng, dan merupakan korban dimasa lalu sehingga mereka sekarang ingin
melakukan kejahatan tersebut. Kejadian-kejadian ini sungguh membuat para orang
tua cemas dan khawatir akan keselamatan buah hati mereka.
Kasus seperti ini sungguh sudah melanggar norma kesusilaan dalam
masyarakat indonesia. Kasus ini juga melanggar hak asasi para anak. Kasus ini
melanggar nilai-nilai pancasila yang merupakan dasar negara indonesia yang
mendasari semua tindakan di indonesia dan merupakan sumber dari segala sumber
hukum di indonesia.
Sangat

diperlukannya

kerjasama

seluruh

elemen

masyarakat

untuk

memberantas dan menangani kasus ini agar tidak memakan semakin banyak korban.

B. Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pelecehan/kejahatan seksual?
2. Apa contoh kasus kejahatan seksual pada anak dibawah umur?
3. Apa dasar hukum mengenai kejahatan seksual?
4. Apa hubungan kejahatan seksual dengan pancasila?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan kejahatan seksual
2. Mengetahui contoh kejahatan seksual pada anak dibawah umur yang terjadi di
Indonesia.
3. Mengetahui hukum yang mengatur tentang kejahatan seksual
4. Hubungan antara kasus kejahatan seksual dengan pancasila

BAB II
Pembahasan
A. Pengertian pelecehan/kajahatan seksual
a) Pelecehan seksual
Pelecehan seksual adalah segala macam bentuk perilaku yang
berkonotasi seksual yang dilakukan secara sepihak dan tidak diharapkan oleh
orang yang menjadi sasaran hingga menimbulkan reaksi negatif: rasa malu,
marah, tersinggung dan sebagainya pada diri orang yang menjadi korban
pelecehan. Pelecehan seksual terjadi ketika pelaku mempunyai kekuasaan
yang lebih dari pada korban. Kekuasaan dapat berupa posisi pekerjaan yang
lebih tinggi, kekuasaan ekonomi, "kekuasaan" jenis kelamin yang satu
terhadap jenis kelamin yang lain, jumlah personal yang lebih banyak, dsb.
Rentang pelecehan seksual ini sangat luas, meliputi: main mata, siulan
nakal, komentar yang berkonotasi seks, humor porno, cubitan, colekan,
tepukan atau sentuhan di bagian tubuh tertentu, gerakan tertentu atau isyarat
yang bersifat seksual, ajakan berkencan dengan iming-iming atau ancaman,
ajakan melakukan hubungan seksual sampai perkosaan.
b) Pelecehan seksual pada anak
Menurut Wikipedia, pelecehan seksual terhadap anak adalah suatu
bentuk penyiksaan anak, di mana orang dewasa atau remaja yang lebih tua
menggunakan anak untuk rangsangan seksual. Bentuk pelecehan seksual anak
termasuk meminta atau menekan seorang anak untuk melakukan aktivitas
seksual, memberikan paparan yang tidak senonoh dari alat kelamin untuk
anak, menampilkan pornografi untuk anak, melakukan hubungan seksual
terhadap anak-anak, kontak fisik dengan alat kelamin anak (kecuali dalam
konteks non-seksual tertentu seperti pemeriksaan medis), melihat alat kelamin
anak tanpa kontak fisik (kecuali dalam konteks non-seksual seperti
pemeriksaan medis), atau menggunakan anak untuk memproduksi pornografi
anak.

B. Bentuk-bentuk Pelecehan/kekerasan Seksual Pada Anak


a) Pelecehan Seksual yang Berupa Sentuhan
1.

Pelaku memegang-megang, meraba atau mengelus organ vital anak seperti


alat kelamin, bagian pantat, dada/payudara.

2.

Pelaku memasukkan bagian tubuhnya atau benda lain ke mulut, anus, atau
kemaluan anak.

3.

Pelaku memaksa anak untuk memegang bagian tubuhnya sendiri, bagian


tubuh pelaku, atau bagian tubuh anak lain.

b) Pelecehan seksual yang tidak berupa sentuhan


1. Pelaku mempertunjukkan bagian tubuhnya (termasuk alat kelamin) pada
anak/remaja secara cabul, tidak pantas, atau tidak senonoh.
2. Pelaku mengambil gambar (memfoto) atau merekam anak/remaja dalam
aktivitas yang tidak senonoh, dalam adegan seksual yang jelas nyata,
maupun adegan yang secara tersamar memancing pemikiran seksual.
Contohnya, pelaku merekam anak yang sedang membuka bajunya.
3. Kepada anak, pelaku memperdengarkan atau memperlihatkan visualisasi
(gambar, foto, video, dan semacamnya) yang mengandung muatan seks dan
pornografi. Misalnya, pelaku mengajak anak menonton film dewasa (film
porno).
4. Pelaku tidak menghargai privasi anak/remaja, misalnya tidak menyingkir
dan justru menonton ketika ada seorang anak mandi atau berganti pakaian.
5. Pelaku melakukan percakapan bermuatan seksual dengan anak/remaja, baik
eksplisit (bahasa lugas) maupun implisit (tersamar). Percakapan ini bisa
dilakukan melalui telepon, chatting, internet, surat, maupun sms.
C. Tanda Terjadi Pelecehan Seksual
Patricia A Moran dalam buku Slayer of the Soul, 1991, mengatakan, menurut
riset, korban pelecehan seksual adalah anak laki-laki dan perempuan berusia bayi
sampai usia 18 tahun. Kebanyakan pelakunya adalah orang yang mereka kenal dan
percaya. Gejala seorang anak yang mengalami pelecehan seksual tidak selalu jelas.
Ada anak-anak yang menyimpan rahasia pelecehan seksual yang dialaminya dengan
bersikap ?manis? dan patuh, berusaha agar tidak menjadi pusat perhatian. Meskipun
pelecehan seksual terhadap anak tidak memperlihatkan bukti mutlak, tetapi jika tandatanda di bawah ini tampak pada anak dan terlihat terus-menerus dalam jangka waktu
panjang, kiranya perlu segera mempertimbangkan kemungkinan anak telah
mengalami pelecehan seksual. Tanda dan indikasi ini diambil Jeanne Wess dari buku
4

yang sama: Balita Tanda-tanda fisik, antara lain memar pada alat kelamin atau mulut,
iritasi kencing, penyakit kelamin, dan sakit kerongkongan tanpa penyebab jelas bisa
merupakan indikasi seks oral.
Tanda perilaku emosional dan sosial, antara lain sangat takut kepada siapa saja
atau pada tempat tertentu atau orang tertentu, perubahan kelakuan yang tiba-tiba,
gangguan tidur (susah tidur, mimpi buruk, dan ngompol), menarik diri atau depresi,
serta perkembangan terhambat. Anak usia prasekolah Gejalanya sama ditambah tandatanda berikut:
Tanda fisik: antara lain perilaku regresif, seperti mengisap jempol, hiperaktif,
keluhan somatik seperti sakit kepala yang terus-menerus, sakit perut, sembelit.
Tanda pada perilaku emosional dan sosial: kelakuan yang tiba-tiba berubah,
anak mengeluh sakit karena perlakuan seksual.
D. Contoh Kasus Kejahatan Seksual Pada Anak dibawah Umur
A. Kasus pelecehan seksual di JIS
Kasus pelecehan seksual yang menimpa M alias AK (6), siswa preschool Jakarta International School (JIS), Cilandak, Jakarta Selatan, terus
bergulir. Hari ini orang tua AK, mendatangi Mapolda Metro Jaya untuk
membuat laporan tambahan tentang luka fisik yang dialami anaknya.
T menjelaskan, usai pelecehan seksual anaknya luka dan mengeluarkan nanah
berbau menyengat.
Pemeriksaan kasus pelecehan seksual terhadap siswa pre-school
Jakarta International School (JIS), Cilandak, Jakarta Selatan, M alias AK (6),
terus dikembangkan pihak kepolisian. Dari pemeriksaan terhadap lima
tersangka, polisi mendapat keterangan kalau aksi pelecehan tersebut telah
terjadi sebanyak tujuh kali di toilet siswa.
B. Kasus emon

JAKARTA, KOMPAS.com -- Tersangka kasus kekerasan seksual


terhadap sekitar 120 anak di Sukabumi, AS alias Emon, mengaku pernah
mencabuli satu bocah laki-laki sebanyak tujuh kali. Hal ini dilakukan di sekitar
pemandian air panas di Sukabumi.
"Dia yang mau (dicabuli)," klaim Emon dalam wawancara dengan Kompas
TV, Senin (12/5/2014).
Selama menjalankan aksinya, Emon terkadang melakukan pendekatan tertentu.
Tak jarang ia seolah-olah memperlakukan korban sebagai adiknya.
"Diajak bermain. Pernah diajak makan, diajak rekreasi, diajak bercumbu,
berenang. Saya yang bayarin. Jadi dekat seperti adik saya sendiri," kata Emon.
Selain itu, Emon juga kerap memberikan uang sekitar Rp 25.000-Rp 50.000
kepada bocah laki-laki demi melancarkan aksinya. Setiap kali melakukan
kekerasan seksual, Emon juga selalu mengancam korban untuk tak
membocorkan perbuatannya tersebut. "Jangan bilang siapa-siapa, terutama
orangtua," ujar Emon mengulangi ancamannya.
E. Kejahatan seksual pada anak dalam kajian Etika, Norma dan Moralitas
1. Etika
Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata
etika yaitu ethos sedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai
banyak arti yaitu: tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang,
kebiasaan/adat, akhlak, watak, perasaan, sikap, cara berpikir.
Sedangkan arti ta etha yaitu adat kebiasaan. Arti dari bentuk jamak
inilah yang melatar-belakangi terbentuknya istilah Etika yang oleh Aristoteles
dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi, secara etimologis (asal usul
kata), etika mempunyai arti yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau
ilmu tentang adat kebiasaan (K.Bertens, 2000).
Jika kita melihat pada definisi kata menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia yang telah diperbaharui (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
1988), arti dari kata etika ialah:
Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan
kewajiban moral (akhlak); Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan
akhlak; Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau
masyarakat.
2. Norma

Norma ialah sesuatu yang dipakai untuk mengatur sesuatu yang lain
atau sebuah ukuran. Dengan norma ini orang dapat menilai kebaikan atau
keburukan suatu perbuatan. Jadi secara terminologi kita dapat mengambil
kesimpulan menjadi dua macam. Pertama, norma menunjuk suatu teknik.
Kedua, norma menunjukan suatu keharusan. Kedua makna tersebut lebih
kepada yang bersifat normatif. Sedangkan norma-norma yang kita perlukan
adalah norma yang bersifat prakatis, dimana norma yang dapat diterapkan
pada perbuatan-perbuatan konkret.
Dengan tidak adanya norma maka kiranya kehidupan manusia akan
manjadi brutal. Pernyataan tersebut dilatar belakangi oleh keinginan manusia
yang tidak ingin tingkah laku manusia bersifat senonoh. Maka dengan itu
dibutuhkan sebuah norma yang lebih bersifat praktis. Memang secara bahasa
norma agak bersifat normatif akan tetapi itu tidak menuntup kemungkinan
pelaksanaannya harus bersifat praktis
Berikut ini adalah macam-macam norma:
1) Norma agama, yaitu peraturan hidup yang diterima sebagai perintah,
larangan, dan anjuran yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Para
pemeluk agama mengakui dan mempunyai keyakinan bahwa
peraturan-peraturan hidup berasal dari Tuhan dan merupakan tuntutan
hidup ke arah jalan yang benar, oleh sebab itu harus ditaati oleh para
pemeluknya. Pelanggaran terhadap norma agama akan mendapatkan
hukuman di akhirat nanti.
2) Norma hukum, yaitu peraturan yang dibuat oleh negara dengan
hukuman tegas dan memaksa sehingga berfungsi mengatur ketertiban
dalam masyarakat. Norma hukum digunakan sebagai pedoman hidup
yang dibuat oleh badan berwenang untuk mengatur manusia dalam
berbangsa

dan

bernegara.

Hukuman

yang

dikenakan

bagi

pelanggarnya telah ditetapkan dengan kadar hukuman berdasarkan


jenis pelanggaran yang telah dilakukan.
3) Norma kesopanan, yaitu peraturan hidup yang timbul dari pergaulan
manusia. Peraturan itu ditaati dan diikuti sebagai pedoman tingkah
laku manusia terhadap manusia lain di sekitarnya. Hukuman terhadap
norma kesopanan berasal dari masyarakat yaitu berupa celaan, makian,
cemoohan, atau diasingkan dari pergaulan di masyarakat tersebut.
4) Norma kesusilaan, yaitu peraturan hidup yang datang dari hati
sanubari manusia. Peraturan tersebut berupa suara batin yang diakui
7

dan diinsyafi oleh setiap orang sebagai pedoman sikap dan perbuatan.
Hukuman bagi pelanggaran terhadap norma kesusilaan berupa
penyesalan diri dan rasa bersalah.
C. Moral
Istilah Moral berasal dari bahasa Latin. Bentuk tunggal kata moral
yaitu mos sedangkan bentuk jamaknya yaitu mores yang masing-masing
mempunyai arti yang sama yaitu kebiasaan, adat. Bila kita membandingkan
dengan arti kata etika, maka secara etimologis, kata etika sama dengan kata
moral karena kedua kata tersebut sama-sama mempunyai arti yaitu
kebiasaan,adat.
Selain itu arti kata moral dapat kita temukan juga di Kamus Besar
Bahasa Indonesia. Makna moral berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia
(online) diantaranya:
(Ajaran) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap,
kewajiban, dsb; Akhlak; Budi pekerti; Susila
Kondisi mental yang membuat orang tetap berani, bersemangat,
bergairah, berdisiplin, dsb; isi hati atau keadaan perasaan sebagaimana
terungkap dl perbuatan: tentara kita memiliki dan daya tempur yang tinggi.
Ajaran kesusilaan yang dapat ditarik dr suatu cerita Selanjutnya
moral dalam arti istilah adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan
batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara
layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk. Berdasarkan penjabaran
tersebut, dapat dipahami bahwa moral adalah istilah yang digunakan untuk
memberikan batasan terhadap aktifitas manusia dengan nilai (ketentuan) baik
atau buruk, benar atau salah
F. Hukum Yang Mengatur Tentang Kejahatan Seksual
Di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Undang-Undang
Perlindungan Anak No 23 Tahun 2002 telah dijelaskan bahwa tindak pidana pelecehan
seksual terhadap anak di bawah umur merupakan sebuah kejahatan kesusilaan yang
bagi pelakunya harus diberikan hukuman yang setimpal. Maksudnya dengan
dijatuhkan hukuman kepada si pelaku sehingga dapat kiranya tindakan pelecehan
seksual terhadap anak di bawah umur dapat dicegah sehingga perbuatan tersebut tidak
terjadi lagi.
8

Pasal 50 ayat 1 KUHP menyatakan bahwa ada empat tujuan penjatuhan


hukuman yaitu:
1.

Untuk mencegah terjadinya tindak pidana dengan menegakkan norma- norma


hukum demi pengayoman masyarakat.

2.

Untuk memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan sehingga


menjadi orang yang lebih baik dan berguna.

3.

Untuk menyelesaikan komplik yang ditimbulkan oleh tindak pidana


(memulihkan keseimbangan dan mendatangkan rasa damai).

4.

Untuk membebaskan rasa bersalah pada terpidana.[1]


Adapun dalam KUHP, pasal- pasal yang mengatur tentang hukuman bagi

pelaku pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur terdapat dalam pasal 287, dan
292 KUHP:
1. Pasal 287 ayat (1) KUHP:
Barang siapa bersetubuh dengan seorang perempuan di luar perkawinan,
padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum
lima belas tahun, atau umurnya tidak jelas, bahwa ia belum waktunya untuk
dikawin, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
Tapi apabila perbuatan persetubuhan itu menimbulkan luka-luka atau
kematian maka bagi sipelaku dijatuhkan hukuman penjara lima belas tahun,
sebagai mana yang telah ditetapakan dalam pasal 291 KUHP.[2]
2. Pasal 292 KUHP:
Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sesama
kelamin, yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya belum dewasa,
diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.[3]
Sedangkan di dalam Undang -Undang No 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak, ada dua pasal yang mengatur tentang ancaman hukuman bagi
pelaku pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur yaitu pasal 81 dan pasal 82.
1. Pasal 81 yang bunyinya:
Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau
ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau
dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas)
tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak

Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp. 60.000.000,00
(enam puluh juta rupiah).
2. Pasal 82 yang bunyinya:
Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman
kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau
membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul,
dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling
singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp.300. 000. 000, 00 ( tiga ratus
juta rupiah) dan paling sedikit Rp. 60. 000. 000, 00 (enam puluh juta rupiah).[4]
Dari paparan pasal- pasal tentang hukuman bagi pelaku pelecehan seksual
terhadap anak di bawah umur tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
hukuman bagi si pelaku bervariasi, bergantung kepada perbuatannya yaitu
apabila perbuatan tersebut menimbulkan luka berat seperti tidak berfungsinya alat
reproduksi atau menimbulkan kematian maka hukuman bagi si pelaku akan lebih
berat yaitu 15 tahun penjara. Tetapi apabila tidak menimbulkan luka berat maka
hukuman yang dikenakan bagi si pelaku adalah hukuman ringan.
Tindak pidana pelecehan seksual yang dilakukan oleh seseorang terhadap
orang lain yang bukan isterinya merupakan delik aduan yang maksudnya adalah
bahwa hanya korbanlah yang bisa merasakannya dan lebih berhak melakukan
pengaduan kepada yang berwenang untuk menangani kasus tersebut.
Hal pengaduan ini juga bisa dilakukan oleh pihak keluarga korban
atau orang lain tetapi atas suruhan si korban. Cara mengajukan pengaduan itu
ditentukan dalam pasal 45 HIR dengan ditanda tangani atau dengan lisan. Pengaduan
dengan lisan oleh pegawai yang menerimanya harus ditulis dan ditanda tangani oleh
pegawai

tersebut

serta

orang

yang

berhak

mengadukan

perkara

[5]
Adapun mengenai delik aduan dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu: delik
aduan absolut dan delik aduan relatif.
1. Delik aduan absolut adalah delik (peristiwa pidana) yang hanya dapat dituntut
apabila ada pengaduan. Dan dalam pengaduan tersebut yang perlu dituntut
adalah peristiwanya sehingga permintaan dalam pengaduan ini harus berbunyi:
saya meminta agar tindakan atau perbuatan ini dituntut. Delik aduan absolut
10

ini tidak dapat dibelah maksudnya adalah kesemua orang/ pihak yang terlibat
atau yang bersangkut paut dengan peristiwa ini harus dituntut. Karena yang
dituntut di dalam delik aduan ini adalah peristiwa pidananya.
2. Delik aduan relatif adalah delik (peristiwa pidana) yang dituntut apabila ada
pengaduan. Dan delik aduan relatif ini dapat dibelah karena pengaduan ini
diperlukan bukan untuk menuntut peristiwanya, tetapi yang dituntut di sini
adalah orang-orang yang bersalah dalam peristiwa ini.
Berdasarkan penjelasan tentang delik aduan di atas, maka penulis
menggolongkan bahwa tindak pidana pelecehan seksual terhadap anak di bawah
umur merupakan delik aduan relatif, karena yang dituntut di sini adalah orang yang
telah bersalah dalam perbuatan tersebut.
Dengan demikian untuk dapat di tuntut dan dilakukan pemidanaan terhadap
pelaku tindak pidana pelecehan seksual, maka syarat utama adalah adanya
pengaduan dari pihak yang dirugikan. Apabila tidak ada pengaduan dari pihak yang
dirugikan maka pelaku tindak pidana tersebut tidak dapat dituntut atau dijatuhi
pidana kecuali peristiwa tersebut mengakibatkan kematian sesuai dengan pasal 287
KUHP. Pemidanaan bagi pelaku tindak pidana pelecehan seksual terhadap anak di
bawah umur baru dapat dilakukan apabila syarat-syarat untuk itu terpenuhi seperti
adanya pengaduan dan di pengadilan perbuatan tersebut terbukti.
Apabila tindak pidana pelecehan seksual itu dapat dibuktikan bahwa orang
yang diadukan benar telah melakukannya, maka pidana yang diatur dalam Pasal
287 KUHP dapat diterapkan. Kemudian yang menjadi penentu dijatuhi hukuman
adalah terbuktinya perbuatan itu di pengadilan. Dan dalam pembuktian itu harus ada
sekurang-kurangnya dua alat bukti dan disertai dengan keyakinan hakim.
Mengenai pembuktian ini diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Acara Pidana (KUHAP) pasal 183 yang menyatakan bahwa:
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila
dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah dan juga hakim memperoleh
keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah
yang bersalah melakukannya.[6]

11

Adapun yang dimaksud dengan alat bukti yang sah adalah alat bukti yang
ditetapkan dalam Pasal 184 KUHAP yang menyatakan bahwa:[7]
1. Alat bukti yang sah adalah:
a.

Keterangan saksi

b.

Keterangan ahli

c.

Alat bukti petunjuk

d.

Keterangan terdakwa.

2. Hal yang secara umum yang telah diketahui tidak perlu dibuktikan.
Yang dimaksud dengan keterangan saksi di sini adalah: apa yang
disampaikan atau dinyatakan oleh saksi di sidang pengadilan tentang peristiwa
pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, atau yang ia alami sendiri dengan
menyebutkan alasan dari pengetahuannya ini. Dan keterangan ahli yang
dimaksudkan adalah keterangan yang diberikan oleh seseorang yang memiliki
keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang atau jelas
suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan yang dinyatakan di sidang
pengadilan.
Sedangkan yang dimaksud dengan alat bukti petunjuk adalah: perbuatan,
kejadian atau keadaan yang karena persesuaian, baik antara yang satu dengan
yang lainnya, maupun dengan tindak pidana itu sendiri, bahwa telah terjadi
suatu tindak pidana dan siapa pelakunya. Dan yang dimaksud dengan
keterangan terdakwa adalah: apa yang disampaikan atau yang dinyatakan di
sidang pengadilan tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui
sendiri.[8]
Adapun yang dimaksud dengan hal yang secara umum telah diketahui
adalah keadaan dari diri si korban yang dapat dilihat langsung yaitu dengan
adanya tanda-tanda kehamilan atau sebagainya.[9]

12

G. Hubungan Kejahatan Seksual Dengan Pancasila


Ditinjau dari sila-sila pancasila pelecehan seksual jelas menyimpang . Jika
dikaitkan dengan sila satu yang berbunyi Ketuhanan yang maha esa pelecehan
seksual justru malah mengingkari ajaran-ajaran ketuhanan. Dan jika dikaitkan dengan
sila 2 yang berbunyi kemanusiaan yang adil dan beradab pelecehan seksual nyatanyata menunjukkan ketidakberadaban pelaku terhadap korban . Pelecehan seksual
juga menyimpang dari nilai-nilai sila kelima pancasila yang berbunyi keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia .

13

BAB III
Penutup
A. Kesimpulan
Pelecehan seksual terhadap anak adalah suatu bentuk penyiksaan anak, di
mana orang dewasa atau remaja yang lebih tua menggunakan anak untuk rangsangan
seksual. Bentuk pelecehan seksual anak termasuk meminta atau menekan seorang
anak untuk melakukan aktivitas seksual, memberikan paparan yang tidak senonoh
dari alat kelamin untuk anak, menampilkan pornografi untuk anak, melakukan
hubungan seksual terhadap anak-anak, kontak fisik dengan alat kelamin anak (kecuali
dalam konteks non-seksual tertentu seperti pemeriksaan medis), melihat alat kelamin
anak tanpa kontak fisik (kecuali dalam konteks non-seksual seperti pemeriksaan
medis), atau menggunakan anak untuk memproduksi pornografi anak.
Pelecehan seksual terhadap anak merupakan kejahatan yang melanggar nilai
norma, etika, dan moral. Tindakan kejahatan seksual terhadap anak juga melanggar
sila-sila pada pancasila khususnya sila ke- 1, 2, 5.

14

Daftar Pustaka
http://infopsikologi.com/apa-itu-bentuk-pelecehan-kekerasan-seksual-pada-anak-remaja/
http://id.wikipedia.org/wiki/Pelecehan_seksual
http://family.fimela.com/dunia-ibu/update/kekerasan-seksual-terhadap-anak-makin-marak130301f.html
http://posyandu.org/perlindungan-dalam-keluarga/perlindungan-anak/300-ketika-anakmengalami-pelecehan-seksual.html
http://www.merdeka.com/peristiwa/korban-sodomi-jis-luka-hingga-bernanah.html
http://www.merdeka.com/peristiwa/polisi-ada-tujuh-kejadian-pelecehan-seksual-di-toiletjis.html
http://regional.kompas.com/read/2014/05/12/2255277/Seorang.Korban.Emon.Dicabuli.Seban
yak.7.Kali
http://peunebah.blogspot.com/2011/10/hukuman-terhadap-pelaku-tindak-pidana.html
http://rinihasyim.blogspot.com/2013/03/makalah-tentang-darurat-kekerasan.html

15

Anda mungkin juga menyukai