Anda di halaman 1dari 38

STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM)

MATA KULIAH ADMINISTRASI RUMAH SAKIT

Oleh Kelompok 2 :

Nabella Kusuma

(101111128)

Diva Madya Resdwivani

(101111132)

Ilham Akbar

(101111139)

Anda Desi Puspita

(101111141)

Bagus Ali Fikri

(101111160)

Amadea Ukhtikasari

(101111161)

Anantya Wira Pambudhi

(101111166)

Aghnes Khen P. A

(101111174)

Riska Nur Safitri

(101111192)

Ahmad Chandra

(101111193)

Ajeng Ratna Yuliandari

(101111198)

Fransisca Anggiyostiana Sirait

(101111222)

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS AIRLANGGA
2012
1

Bab I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Standar Pelayanan Minimal (SPM) adalah ketentuan mengenai jenis dan mutu
pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh
setiap warga secara minimal. Sesuai dengan amanat Pasal 11 ayat (4) dan Pasal
14 ayat (3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang
Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun
2005 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang, SPM diterapkan pada Urusan
Wajib Daerah terutama yang berkaitan dengan pelayanan dasar, baik di Provinsi
maupun Kabupaten/Kota.
Sejalan dengan amanat Pasal 28 H, ayat (1) Perubahan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tabun 1945 telah ditegaskan bahwa setiap orang
berhak memperoleh pelayanan kesehatan, kemudian dalam Pasal 34 ayat (3)
dinyatakan negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan
kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.
Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan perorangan
merupakan bagian dari sumber daya kesehatan yang sangat diperlukan dalam
mendukung penyelenggaraan upaya kesehatan. Penyelenggaran pelayanan
2

kesehatan di rumah sakit mempunyai karakteristik dan organisasi yang sangat


kompleks. Berbagai jenis tenaga kesehatan dengan perangkat keilmuan yang
beragam, berinteraksi satu sama lain.
Pada Keputusan menteri kesehatan RI nomor 228/Menkes/SK/III/2002
tentang pedoman penyusunan standar pelayanan minimal (SPM) Rumah Sakit,
juga sudah ditetapkan sejelas-jelasnya mengenai SPM tersebut. Oleh sebab itu
kelompok kami menulis makalah ini sebagai bahan tinjauan untuk mengetahui
lebih jelas mengenai Standar pelayanan minimal rumah sakit.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1

Mengetahui pengertian dan konsep dasar dari SPM

1.2.2

Mengetahui peran fungsi SPM

1.2.3

Mengetahui prinsip penyusunan SPM

1.2.4

Mengetahui unsur SPM Rumah Sakit

1.2.5

Mengatahui format penyusunan SPM Rumah Sakit

1.2.6

Mengetahui pengertian dan konsep KPI Rumah Sakit

Bab II
Pembahasan SPM
2.1 Pengertian SPM (Standar Pelayanan Minimum) dan Rumah Sakit
Pengertian standar pelayanan minimal merupakan suatu istilah dalam
pelayanan publik (public policy) yang menyangkut kualitas dan kuantitas
pelayanan publik yang disediakan oleh pemerintah. Juga sebagai salah satu
indikator teknis tolak ukur pelayanan minimum yang diberikan oleh Badan
Layanan Umum kepada masyarakat untuk mencapai kesejahteraan masyarakat
Rumah Sakit merupakan sarana kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan
kesehatan perorangan meliputi pelayanan promotif, preventif, kurative dan
rehabalitatif yang menyediakan pelayanan rawap inap, rawat jalan, dan gawat
darurat.
Standar Pelayanan Minimal bagi Rumah Sakit adalah ketentuan tentang jenis
dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah dalam bidang
kesehatan yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal dalam
penyelenggaraan pelayanan manajemen rumah sakit yang meliputi pelayanan
medik, pelayanan penunjang dan pelayanan keperawatan baik rawat inap maupun
rawat jalan yang minimal harus ada dan diselenggarakan oleh rumah sakit.

2.2 Peran dan Fungsi SPM


Standar pelayanan minimal ini dimaksudkan agar tersedianya panduan bagi
suatu daerah dalam suatu pelaksanaan dan pengendalian serta pengawasan dan
pertanggung jawaban penyelenggaraan SPMRS.
SPM ini bertujuan untuk menyamakan pemahaman tentang definisi
operasional, indikator kinerja, ukuran atau satuan, rujukan, target nasional untuk
tahun 2007-2012, cara perhitungan/rumus/pembilang dan penyebut/standar/satuan
pencapaian kinerja dan sumber data.

2.2.1 Fungsi SPM terhadap Rumah Sakit :


SPM dalam Rumah Sakit digunakan sebagai acuan dalam membuat kebijakan
mengenai standar yang harus ada dan diselenggarakan oleh rumah sakit. Oleh
karena itu dengan adanya standar pelayanan medik pada rumah sakit ini, maka
akan dapat mengendalikan mutu dari rumah sakit itu sendiri yang pada akhirnya
nanti akan memberikan dampak ke pasien, yang diperlihatkan melalui kepuasan
pasien terhadap pelayanan di suatu rumah sakit.

2.2.2 kegunaan SPM dalam organisasi


a. Perumusan kebijakan teknis bidang Rumah Sakit Umum
b. Pemberian dukungan atas penyelenggaraan Pemerintah Daerah sesuai dengan
lingkup tugasnya;
5

c. Pembinaan dan pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 92;


d. Pengelolaan ketatausahaan;
e. Pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Daerah sesuai
dengan tugas dan fungsinya.

2.2.3 Tujuan Dari Rumah Sakit


a) Melaksanakan pelayanan medis dan pelayanan penunjang medis
b) Melaksanakan pelayanan medis tambahan dan pelayanan penunjang medis
tambahan,
c) Melaksanakian pelayanan kedokteran kehakiman
d) Melaksanakan pelayanan media khusus
e) Melaksanakan pelayanan rujukan kesehatan
f) Melaksanakan pelayanan kedokteran gigi
g) Melaksanakan pelayanan kedokteran sosial
h) Melaksanakan pelayanan penyuluhan kesehatan
i) Melaksanakan pelayanan rawat jalan atau rawat darurat dan rawat tinggal
(observasi)
j) Melaksanakan pelayanan rawat inap
k) Melaksanakan pelayanan administratif
l) Melaksanakan pendidikan para medis
m) Membantu pendidikan tenaga medis umum dan tenaga medis spesialis
6

n) Membantu penelitian dan pengembangan kesehatan


o) Membantu kegiatan penyelidikan epidemiologi

2.2.4 Tujuan dari penyusunan Standar Pelayanan Minimal (SPM), antara lain :
1. Meningkatkan pemahaman yang holistik/menyeluruh dan terpadu dalam
penerapan dan pencapaian SPM.
2. Menyamakan pemahaman tentang definisi operasional indikator kinerja,
ukuran atau satuan, rujukan, dan target nasional.
3. Membangun komitmen dan tindak lanjut untuk penerapan dan pencapaian
SPM.
4. Menyediakan panduan bagi pemerintah dalam melaksanakan perencanaan,
pelaksaaan dan pengendalian serta pengawasan dan pertanggungjawaban
penyelenggaraan Standar Pelayanan Minimal.
5. Membangun dasar dalam penentuan anggaran kinerja berbasis manajemen
kinerja.
6. Mendorong transparansi dan partisipasi masyarakat dalam proses
penyelenggaraan Pemerintahan.

2.2.5 Fungsi SPM secara Umum :


1. Bagi pemerintah daerah : standar pelayanan minimal dapat dijadikan tolak
ukur (benchmark) dalam penentuan biaya yang diperlukan untuk membiayai
penyediaan pelayanan;
2. Bagi masyarakat : standar pelayanan minimal dapat digunakan sebagai acuan
mengenai kualits dan kuantitas suatu pelayanan publik yang disediakan oleh
pemerintah (daerah).

Contoh Fungsi SPM di beberapa bidang :


1. Bidang otonomi daerah, berfungsi;
1. Pertama, didasarkan kemampuan daerah masing-masing, maka
sulit bagi pemerintah daerah untuk melaksanakan semua
kewenangan/fungsi yang ada. Keterbatasan dana, sumber daya
aparatur, kelengkapan, dan faktor lainnya membuat pemerintah
daerah harus mampu menentukan jenis pelayanan minimal yang
harus disediakan bagi masyarakat.
2. Kedua, dengan munculnya SPM memungkinkan bagi pemerintah
daerah untuk melakukan kegiatannya secara lebih terukur.
3. Ketiga, dengan SPM yang disertai tolak ukur pencapaian kinerja
yang logis dan riil akan memudahkan bagi masyarakat untuk

memantau kinerja aparatnya, sebagai salah satu unsur terciptanya


suatu penyelenggaraan pemerintahan yang baik.

2. Bidang Pendidikan meliputi;


1. Tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota yang menjadi
tupoksi dinas pendidikan untuk sekolah atau kantor departemen
agama untuk madrasah (misalnya, penyediaan ruang kelas dan
guru yang memenuhi persyaratan kualifikasi maupun kompetensi)
2. Tanggung jawab tidak langsung pemerintah kabupaten/kota c/q
Dinas Pendidikan dan kantor kementrian agama karena layanan
diberikan oleh pihak sekolah dan madrasah, para guru dan tenaga
kependidikan, dengan dukungan yang di berikan oleh pemerintah
kabupaten/kota dan kantor kementrian agama (contoh: persiapan
rencana pembelajaran dan evaluasi hasil belajar siswa terjadi di
sekolah, dilaktapi dlaksanakan oleh guru tetapi diawasi oleh
Pemerintah Kabupaten/Kota).

2.3 Prinsip Penyusunan SPM


Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 2007 tentang
Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penetapan Standar Pelayanan Minimal Bab IV
PRINSIP PENYUSUNAN DAN PENETAPAN SPM Pasal 10 :
9

Dalam menyusun dan menetapkan SPM, Menteri/Pimpinan Lembaga Pemerintah


Non-Departemen memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a) Konsensus, yaitu disepakati bersama oleh komponen-komponen atau unitunit kerja yang ada pada departemen/Lembaga Pemerintah Non-Departemen
yang bersangkutan;
b) Sederhana, yaitu mudah dimengerti dan dipahami;
c) Nyata, yaitu memiliki dimensi ruang dan waktu serta persyaratan atau
prosedur teknis.
d) Terukur, yaitu dapat dihitung atau dianalisa;
e) Terbuka, yaitu dapat diakses oleh seluruh warga atau lapisan masyarakat;
f) Terjangkau, yaitu dapat dicapai bersama SPM jenis-jenis pelayanan dasar
lainnya dengan menggunakan sumber-sumber daya dan dana yang tersedia;
g) Akuntabel, yaitu dapat dipertanggungjawabkan kepada public; dan
h) Bertahap, yaitu mengikuti perkembangan kebutuhan dan kemampuan
keuangan, kelembagaan, dan personil dalam pencapaian SPM.
Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas perayanan kesehatan perorangan
merupakan bagian dari sumber daya kesehatan yang sangat diperlukan dalam
mendukung penyelenggaraan upaya kesehatan. Penyelenggaran pelayanan kesehatan
di rumah sakit mempunyai karakteristik dan organisasi yang sangat kompleks. Pada
hakekatnya rumah sakit berfungsi sebagai tempat penyembuhan penyakit dan
pemulihan kesehatan. Fungsi dimaksud memiliki makna tanggung jawab yang
10

merupakan tanggung jawab pemerintah dalam meningkatkan taraf kesejahteraan


mesyarakat.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2005 Tentang
Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal BAB I ayat 6
menyatakan : Standar pelayanan Minimal yang selanjutnya disingkat SPM adalah
ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib
daerah yang berhak diperoleh setiap warga negara secara minimal. Ayat 7. Indikator
SPM adalah tolak ukur untuk prestasi kuantitatif dan kualitatif yang digunakan untuk
menggambarkan besaran sasaran yang hendak dipenuh didalarn pencapaian suatu
SPM tertentu berupa masukan, proses, hasil dan atau manfaat pelayanan.
Ayat 8. Pelayanan dasar adalah jenis pelayanan publik yang mendasar dan mutlak
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam kehidupan sosial ekonomi dan
pemerintahan.
Dalam penjelasan pasal 39 ayat 2 PP RI No 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan standar pelayanan
minimal adalah tolak ukur kinerja dalam menentukan capaian jenis dan mutu
pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah.
Definisi Operasional
1. Jenis Pelayanan adalah jenis-jenis pelayanan yang diberikan oleh Rumah
Sakit kepada masyarakat.
11

2. Mutu Pelayanan
3. Dimensi Mutu adalah suatu pandangan dalam menentukan penilaian terhadap
jenis dan mutu pelayanan dilihat dari akses, efektivitas, efisiensi, keselamatan
dan keamanan kenyamanan, kesinambungan pelayanan kompetensi teknis dan
hubungan antar manusia berdasarkan standa WHO.
4. Kinerja adalah proses yang dilakukan dan hasil yang dicapai oleh suatu
organisasi dalam menyediakan produk dalam bentuk jasa pelayanan atau
barang kepada pelanggan.
5. Indikator Kinerja adalah variabel yang dapat digunakan untuk mengevaluasi
keadaan atau status dan memungkinkan dilakukan pengukuran terhadap
perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu atau tolak ukur prestasi kuantitatif
/ kualitatif yang digunakan untuk mengukur terjadinya perubahane terhadap
besaran target atau standar yang telah ditetapkan sebelumnya.
6. Standar adalah nilai tertentu yang telah ditetapkan berkaitan dengan sesuatu
yang harus dicapai.
7. Definisi operasional: dimaksudkan untuk menjelaskan pengertian dari
indikator
8. Frekuensi pengumpulan data adalah frekuensi pengambilan data dari sumber
data untuk tiap indikator
12

9. Periode analisis adalah rentang waktu pelaksanaan kajian terhadap indikator


kinerja yang dikumpulkan
10. Pembilang (numerator) adalah besaran sebagai nilai pembilang dalam rumus
indikator kinerja
11. Penyebut (denominator) adalah besaran sebagai nilai pembagi dalam rumus
indikator kinerja
12. Standar adalah ukuran pencapaian mutu/kinerja yang diharapkan bisa dicapai
13. Sumber data adalah sumber bahan nyata/keterangan yang dapat dijadikan
dasar kajian yang berhubungan langsung dengan persoalan

2.4 Unsur SPM Rumah Sakit


Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit dalam pedoman ini meliputi jenis-jenis
pelayanan indikator dan standar pencapaiain kinerja pelayanan rumah sakit.
Jenis jenis pelayanan rumah sakit yang minimal wajib disediakan oleh rumah sakit
meliputi:
1. Pelayanan gawat darurat,
2. Pelayanan rawat jalan,

13

3. Pelayanan rawat inap,


4. Pelayanan bedah ,
5. Pelayanan persalinan dan perinatologi ,
6. Pelayanan intensif,
7. Pelayanan radiologi,
8. Pelayanan laboratorium patologi klinik,
9. Pelayanan rehabilitasi medik,
10. Pelayanan farmasi,
11. Pelayanan gizi,
12. Pelayanan,
13. Pelayanan keluarga miskin,
14. Pelayanan rekam medis,
15. Pengelolaan limbah,
16. Pelayanan administrasi manajemen,
17. Pelayanan ambulans/kereta jenazah,
18. Pelayanan pemulasaraan jenazah,
14

19. Pelayanan laundry,


20. Pelayanan pemeliharaan sarana rumah sakit,
21. Pencegah Pengendalian Infeksi.

2.5 Posisi SPM dalam Pembangunan Kesehatan


Pembangunan kesehatan merupakan salah satu paradigma yang hendak
dibentuk oleh pemerintah dalam usaha menciptakan masyarakat yang sehat. Sesuai
dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Jangka Panjang
Pembangunan Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025, pembangunan kesehatan
diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat
bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dapat
terwujud. Sebagai bentuk kontrol target dan indikator pencapaian tujuan
pembangunan kesehatan inilah pentingnya adanya SPM.
Dalam Undang-undang tersebut, dinyatakan bahwa pembangunan kesehatan
diselenggarakan dengan mendasarkan pada:
a. Perikemanusian
Pembangunan kesehatan harus berlandaskan pada prinsip perikemanusiaan
yang dijiwai, digerakan dan dikendalikan oleh keimanan dan ketaqwaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Tenaga kesehatan perlu berbudi luhur,
15

memegang teguh etika profesi, dan selalu menerapkan prinsip


perikemanusiaan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan.
b. Pemberdayaan dan Kemandirian
Setiap orang dan masyarakat bersama dengan pemerintah berperan,
berkewajiban, dan bertanggungjawab untuk memelihara dan meningkatkan
derajat kesehatan perorangan, keluarga, masyarakat, dan lingkungannya.
Pembangunan kesehatan harus mampu membangkitkan dan mendorong peran
aktif masyarakat. Pembangunan kesehatan dilaksanakan dengan berlandaskan
pada kepercayaan atas kemampuan dan kekuatan sendiri serta kepribadian
bangsa dan semangat solidaritas sosial serta gotong royong.
c. Adil dan Merata
Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan
yang setinggi-tingginya, tanpa memandang suku, golongan, agama, dan status
sosial ekonominya. Setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan
setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan kembang, serta
berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
d. Pengutamaan dan Manfaat
Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan mengutamakan kepentingan
umum daripada kepentingan perorangan atau golongan. Upaya kesehatan
16

pengetahuan dan teknologi serta harus lebih mengutamakan pendekatan


peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit.

Posisi SPM dalam Pembagian urusan pemerintahan

17

Berikut ini skema Keterkaitan antara SPM, SOP dan SPP

18

Bagaimana Membedakan SPM dengan SOP ?

Perbedaan SPM dengan SOP :


SPM merupakan penyediaan pemberian pelayanan dasar kepada masyarakt dan
merupakan pelaksanaan urusan wajib.
SOP lebih merupakan pemberian pelayanan terhadap unit kerja lainnya.
Konsep SPM merupakan reformasi birokrasi khususnya dalam bidang pelayanan
publik terus digulirkan walau belum membuahkan hasil yang ideal, yaitu birokrasi
yang berpijak kepada paradigma baru administrasi publik (the new public service),
melalui upaya :
1.
2.
3.
4.
5.

Melayani warga masyarakat, bukan pelanggan


Mengutamakan kepentingan publik
Lebih menghargai kepentingan warga negara daripada kewirausahaan
Berpikir strategis dan bertindak demokratis
Menyadari bahwa akuntabilitas bukan sesuatu yang mudah
19

6. Melayani daripada mengendalikan


7. Menghargai orang lain, bukan produktivitas semata
( J. V Denhardt dan R,B Denhardt, 2003)

2.6 Format SPM Rumah Sakit


Menyusun SPM tidak mudah. Diperlukan komitmen dari seluruh komponen
yang ada di rumah sakit untuk menyepakati mengenai indikator yang akan digunakan
untuk mengukur mutu pelayanan, cara mengukurnya, batas waktu pencapaian, dan
sebagainya, hingga alokasi anggaran yang diperlukan untuk mencapai SPM tersebut.
Menurut Permendagri No. 61 Tahun 2007, format SPM untuk Badan Layanan Umum
Daerah adalah sebagai berikut.
Tabel 2.6.1 Formay SPM Rumah Sakit

Sebuah Standar Pelayanan Minimal harus memuat komponen: indikator,


dimensi mutu, tujuan indikator, rasionalisasi, definisi termonilogi yang akan
digunakan, frekuensi updateing (pengumpulan) data, periode dilakukannya analisis,
numerator (pembilang), denominator (penyebut), standar pencapaian (treshold/target)
dan sumber data (nominator dan denominator).
20

Tabel 2.6.2 Indikator Standar Pelayanan Minimal

Untuk menyusun SPM secara utuh, poin poin yang ditetapkan sebagai
indikator SPM akan dituangkan kedalam Perda dengan menggunakan outline atau
kerangka yang dapat digunakan sebagai berikut.

Bab I Pendahuluan yang terdiri dari;


o

Latar Belakang

Maksud dan tujuan

Pengertian umum dan khusus

Landasan Hukum

21

Bab II Sistematika Dokumen Standar Pelayanan Minimal Rumahsakit

Bab III Standar Pelayanan Minimal Rumahsakit.


o

Jenis Pelayanan

SPM setiap jenis pelayanan,Indikator dan Standar

Penutup

Lampiran

Kesimpulan
Standar Pelayanan Minimal adalah ketentuan tentang jenis dan mutu
pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap
warga secara minimal. SPM juga merupakan spesifikasi teknis tentang tolak ukur
pelayanan minimum yang diberikan oleh Badan Layanan Umum kepada masyarakat.
SPM merupakan panduan bagi daerah dalam melaksanakan perencanaan,
pengendalian, pengawasan dan pertanggungjawaban penyelenggaraan standar
pelayanan minimal rumah sakit. SPM bertujuan untuk menyamakan pemahaman
tentang definisi operasional, indikator kinerja, ukuran atau satuan rujukan, cara
perhitungan atau satuan pencapaian kinerja dan sumber data.

22

Bab III
Pembahasan Key Performance Indicator
3.1 Pengertian Key Performance Indicator (KPI)
Semua orang yang tergabung ke dalam sebuah organisasi pasti memiliki tugas
dan tanggung jawab sesuai perannya. Dibutuhkan sebuah alat yang disebut Key
Performance Indicator dalam melakukan tugas untuk mengarahkan keberhasilan
mencapai tujuan. Menurut Australian Government, Department of Finance and
Administration (2006), pengertian Key Performance Indicator (KPI) adalah sebagai
berikut.
a. Are metrics or factors that tend to indicate the health, progress and/or
success of a project, process or area of service delivery.
KPI digunakan sebagai alat ukur kinerja strategis organisasi yang dapat
mengindikasikan kesehatan dan perkembangan organisasi. Selain itu, KPI
juga dapat mengukur keberhasilan program atau penyampaian pelayanan
untuk mewujudkan sejumlah target atau sasaran organisasi. Key Performance
atau dalam bahasa Indonesia yang berarti kunci keberhasilan terdiri dari
beberapa indikator. Agar lebih maksimal jumlah indikator yang digunakan
sebaiknya enam sampai delapan indikator.
b. Are process-oriented.
23

KPI adalah alat ukur yang berorientasi pada proses, terutama bila kegiatan
yang dilakukan dibatasi oleh waktu dan dana. KPI tidak berorientasi pada
input suatu kegiatan, sebab dapat memakan waktu yang lama dan
membutuhkan dana besar. KPI idealnya mencakup input dan proses yang
baik agar hasil pada output menjadi baik pula.
c. Focus on resources and processes that are most likely to lead to successful
outcomes.
KPI berfokus pada sumber daya dan proses untuk memperoleh hasil yang
maksimal. Performance suatu proses diukur atau ditunjuk melalui suatu
indikator kinerja atau KPI. Lebih lanjut, KPI merupakan kunci terhadap
bisnis atau kesuksesan, bukan hanya ukuran seadanya dari suatu proses.
d. Are usually short, focused, relevant, measurable, repeatable and
consistent.
KPI yang disusun harus singkat, terfokus, relevan, dapat diukur, dapat
diulang, dan konsisten. KPI yang disusun terlalu panjang biasanya menjadi
kurang terfokus pada cakupan yang akan diukur. Rancangan KPI yang baik
harus memberikan informasi secara dalam, jelas, dan tajam mengenai
kecenderungan suatu kinerja.

24

e. Measure critical success factors.


Indikator kinerja merupakan faktor penentu keberhasilan suatu organisasi
yang telah ditetapkan. Hal ini dimaksudkan agar output yang hendak
dicapai sudah sesuai atau bahkan dapat melebihi target. KPI adalah suatu
performance metric yang secara nyata dan jelas terkait dengan sasaran
strategis organisasi. KPI mampu mendorong organisasi menerjemahkan
strateginya ke dalam terminologi yang bisa dikuantifikasi.
KPI merupakan serangkaian pengukuran yang berfokus pada aspek kinerja
organisasi. Dalam organisasi, pengukuran dilakukan untuk menentukan tujuan
selanjutnya yang akan dicapai. KPI mencerminkan faktor penentu keberhasilan suatu
organisasi dan yang digunakan tiap organisasi berbeda, tergantung jenis, sifat dan
strategi yang digunakan oleh organisasi.
KPI memiliki keunggulan dibandingkan dengan beberapa indikator kinerja
lainnya, yaitu mampu mempresentasikan kinerja organisasi secara keseluruhan.
Jumlah indikator kinerja yang dipilih sebagai KPI biasanya tidak banyak, namun
harus mencakup semua tugas dan tanggung jawab tiap anggota agar dapat fokus pada
keberhasilannya. Hasil pengukuran tersebut dapat digunakan untuk menilai tingkat
keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran.
3.2 Konsep Key Performance Indicator (KPI)

25

KPI pada dasarnya adalah bagian dari Performance Indicators atau indikator
kinerja organisasi. Keunggulan KPI dibandingkan dengan indikator-indikator
kinerja lainnya, adalah bahwa KPI merupakan indikator kunci yang benar-benar
mampu mempresentasikan kinerja organisasi secara keseluruhan. Jumlah
indikator kinerja yang dipilih sebagai KPI ini biasanya tidak banyak, namun
demikian hasil pengukuran melalui indikator tersebut dapat digunakan untuk
menilai tingkat keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang
telah ditetapkan.
Adapun KPI, merujuk pada definisi yang dirumuskan dalam Performance
Indicator Resource Catalogue yang diterbitkan oleh Australian Government,
Department of Finance and administration (2006), adalah ukuran spesifik tentang
kinerja organisasi dalam wilayah bisnisnya. Ukuran tersebut dapat berupa
financial dan non-financial yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja
strategis organisasi. Sebagai alat ukur kinerja strategis organisasi, KPI dapat
mengindikasikan kesehatan dan perkembangan organisasi, dan atau keberhasilan
kegiatan, program atau penyampaian pelayanan untuk mewujudkan target-target
atau sasaran organisasi.
KPI dapat berbentuk ukuran kuantitatif maupun kualitatif. Namun demikkian,
dalam praktek penyusunan KPI oleh berbagai organisasi public dan private,
sebagaian besar KPI berupa ukuran kuantitatif. Hal ini dikarenakan, ukuran
kuantitatif relatif lebih mudah digunakan dalam proses penggalian data maupun
26

pada saat pengukuran dan evaluasi. Sedangkan untuk ukuran kualitatif, biasanya
memerlukan survey atau kegiatan penelitian sebagai upaya untuk memperoleh
data kinerja yang diperlukan. Proses penggalian data untuk ukuran kualitatif ini
seringkali memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit.
Pemilihan terhadap bentuk KPI, apakah kuantitatif atau kualitatif, tergantung
pada kebutuhan dan karakter organisasi. Tidak dapat dipaksakan bahwa semua
KPI harus kuantitatif atau harus kualitatif. Adapun pertimbangan utama yang
harus menjadi dasar dalam pemilihan KPI adalah bahwa indikator tersebut dapat
diukur (measurable). Hal ini berarti bahwa untuk setiap KPI baik ukuran
kuantitatif maupun kualitatif - sudah tersedia informasi tentang jenis data-data
yang akan digali, sumber data, dan cara mendapatkan data tersebut.
Selain kriteria dapat diukur tersebut, KPI juga harus memiliki sejumlah
kriteria lain. Pada beberapa literatur disebutkan kriteria-kriteria KPI yang antara
lain meliputi: Specific, Achievable, Realistic, dan Timely, yang jika digabungkan
dengan kriteria Measurable dapat diringkas dalam akronim SMART.
Tabel 3.2.1 Merumuskan Indikator Yang Memenuhi Kriteria SMART
Specific
(Spesifik atau Khusus)
Measureable

Menyebutkan dengan jelas data dan


kemudahan akses untuk mendapatkannya

Indikator yang dapat terukur baik secara

27

(Terukur)

kuantitatif dan kualitatif

Achievable

Memperhitungkan kemampuan unit

(Dapat dicapai)

pelaksana dalam mencapai target kinerja


yang ditetapkan
Berada dalam rentang kendali atau
pertanggungjawaban akuntabilitas unit kerja
yang bersangkutan

Reliable
(Dapat dipercaya)

Uji dengan Jika-Maka: Jika digunakan


indikator kinerja tertentu, maka informasi
mengenai tercapai atau tidaknya sasaran
stategis dari suatu program atau kegiatan
dapat diketahui

Time specific
(Periode waktu tertentu)

Memperhitungkan rentang atau periode


waktu pencapaian untuk analisa
perbandingan kinerja dengan masa-masa
sebelumnya

28

Dengan bahasa yang berbeda, Schiavo-Campo (1999) juga menguraikan kriteriakriteria yang harus dipenuhi oleh KPI, yang kemudian dirumuskannya dalam
akronim CREAM. Kriteria tersebut meliputi:

a) Clear; KPI terdefinisikan secara jelas dan tidak memiliki makna ganda.
b) Relevant: mencukupi untuk pencapaian tujuan, atau menangani aspekaspek obyektif yang relevan.
c) Economic: data/informasi yang diperlukan akan dapat dikumpulkan,
diolah, dan dianalisis dengan biaya yang tersedia.
d) Adequate: oleh dirinya sendiri atau melalui kombinasi dengan yang lain,
pengukuran harus menyediakan dasar yang mencukupi untuk menaksir
kinerja, dan
e) Monitorable: dalam rangka kejelasan dan ketersediaan informasi,
indikator harus dapat diterima bagi penilai atau evaluator kinerja yang
independent.

Kriteria-kriteria tersebut diatas adalah alat bantu yang efektif untuk memilih
KPI. Indikator kinerja yang memenuhi kriteria tersebut, sudah barang tentu akan
menjadi alat ukur yang memadai untuk mengukur perkembangan pencapaian
tujuan organisasi.

29

Sangat penting untuk mendefinisikan secara jelas masing-masing KPI, dan


menjadikan definisi tetap selama beberapa tahun. Tiap definisi KPI harus memuat
judul, definisi, dan cara mengukur. Selanjutnya, setelah KPI didefinisikan dan
siap digunakan untuk mengukur, target yang jelas harus dirumuskan dan dapat
dipahami oleh seluruh orang. Target tersebut juga harus spesifik sehingga setiap
individu dalam organisasi dapat mengambil tindakan dalam rangka pemenuhan
target tersebut. Jika dipandang perlu, target tersebut juga dilengkapi dengan time
frame, yang memberikan informasi waktu kapan target tersebut harus sudah
diwujudkan.

3.2 Penerapan KPI pada Lembaga Pelayanan Publik


Bagi lembaga pelayanan publik, KPI menyediakan seperangkat pengukuran
yang dapat digunakan untuk mengukur Critical Success factors atau berbagai
faktor yang dianggap penting bagi keberhasilan organisasi dimasa yang akan
datang. Dengan demikian keberadaan KPI adalah sangat penting, terutama untuk
mengetahui kinerja lembaga tersebut terkait dengan tujuan, sasaran, visi dan misi
yang telah ditetapkan. Sebagai katagori tertentu dari indikator kinerja, KPI
memiliki beberapa fungsi, sebagai berikut (Ismail Mohamad, 2004).

a) Memperjelas tentang apa, berapa dan kapan suatu kegiatan dilaksanakan.


KPI yang terumuskan dengan baik, selain dapat mengindikasikan hasil
30

yang akan dicapai organisasi pada kurun waktu tertentu, juga dapat
menegaskan kegiatan apa yang mesti dilaksanakan oleh organisasi.
Demikian pula dengan penentuan waktu kapan kegiatan tersebut akan
dilaksanakan dan berapa sumber daya yang dieprlukan serta hasil yang
ditargetkan.
b) Menciptakan konsensus yang dibangun oleh berbagai pihak terkait untuk
menghindari

kesalahan

interpretasi

selama

pelaksanaan

kebijaksanaan/program/kegiatan dan dalam menilai kinerja lembaga


pelayanan publik. Karena KPI dapat memberikan apa yang akan dicapai
oleh instansi, maka KPI dapat menyatukan pemahaman semua anggota
tentang tahapan dan kriteria yang dibangun dalam menjalankan
aktivitasnya. Selain itu, KPI juga bersifat monitorable sehingga dapat
menghindari perbedaan pemahaman, khususnya antara evaluator dan yang
dievaluasi tentang ukuran kinerja.
c) Membangun dasar bagi pengukuran, analisis, dan evaluasi kinerja
organisasi/unit kerja. Dalam proses kebijakan, evaluasi diperlukan untuk
mengetahui kinerja suatu kebijakan dan untuk mendapatkan bahan-bahan
pertimbangan yang diperlukan bagi perbaikan atau kelanjutan kebijakan
tersebut.

31

Dengan adanya berbagai fungsi tersebut diatas, maka sangat penting bagi lembaga
pelayanan publik untuk membangun KPI-nya. Namun demikian, membangun KPI
pada lembaga pelayanan publik bukan pekerjaan yang mudah. Banyak faktor
yang dapat menjadi tantangan dalam proses pembangunan KPI tersebut, yang
antara lain meliputi:
1. perbedaan karakter dasar lembaga pelayanan publik dibandingkan dengan
lembaga private yang merupakan rumah asal konsep KPI,
2. mind setting penyelenggara pelayanan publik yang masih cenderung
pada old public management, dan
3. Karakter KPI yang tidak mudah dikenali. Hal utama yang perlu
diperhatikan oleh lembaga pelayanan publik adalah menggunakan kriteriakriteria KPI (SMART, CREAM) secara konsisten dalam penetapan KPI.
Selain itu, beberapa langkah berikut dapat dipertimbangkan dalam menyusun dan
menetapkan KPI, meliputi:
a) Susun dan tetapkan rencana strategis lebih dahulu. Dalam tahap ini, tujuan
dan sasaran organisasi harus dapat dirumuskan secara jelas.
b) Identifikasi data/informasi yang dapat dijadikan atau dikembangkan
menjadi indikator kinerja.
c) Pilih dan tetapkan KPI berdasarkan kriteria SMART/CREAM. Indikator

32

3.3 Unsur KPI Rumah Sakit


KPI merupakan suatu performance metric yang secara nyata dan jelas terkait
dengan sasaran strategis organisasi yang mampu mendorong organisasi
menerjemahkan strateginya ke dalam terminologi yang bisa dikuantifikasi.
Rancangan KPI yang baik memberikan informasi yang dalam, jelas dan tajam
mengenai kecenderungan suatu kinerja, sementara itu juga didukung oleh
ketersediaan metric yang rinci. KPI yang tepat juga membantu apakah organisasi
sudah melakukan hal yang benar dan mengetahui apa yang perlu perbaikan
(improvement) atau penyesuaian.
Dan rumah sakit yang termasuk sebagai suatu lembaga yang bergerak di
bidang kesehatan maka peran KPI sangat diperlukan dalam

menjalankan

lembaga tersebut dengan kriteria KPI sebagai berikut :

1. Outcome-oriented bukan hanya sekedar output (keluaran dari


proses), karena outcome memiliki pengaruh (impact).
2. Target-based memiliki paling tidak satu nilai sasaran yang
sensitif terhadap waktu.
3. Rated / Graded memiliki nilai ambang (threshold) yang
membedakan antara nilai aktual dan target.

33

Dengan tiga kriteria diatas, dapat digunakan untuk mengevaluasi apakah


sebuah metric memenuhi status sebagai KPI yang membantu untuk tetap fokus
pada ukuran tersebut sebagai salah satu kunci menuju kesuksesan rumah sakit.
David Parmenter (2010) berpendapat bahwa, kriteria KPI menyajikan
serangkaian ukuran yang berfokus pada beberapa aspek kinerja organisasi dalam
menentukan sukses atau tidaknya suatu perusahaan. Kriteria KPI menurut David
Parmenter adalah :

a) Bukan pengukuran yang bersifat moneter


Suatu organisasi menggunakan satuan mata uang misalnya
berupa dolar ke dalam suatu pengukuran, maka yang diukur adalah
indikator hasil bukan indikator kinerja. Mengukur indikator kinerja
seperti yang terdapat pada SPM Kesehatan 2010 berarti mengukur
cakupan kunjungan ibu hamil minimal empat bulan. Sedangkan
mengukur indikator hasil adalah kenaikan pendapatan rumah sakit,
atau keuntungan yang diperoleh rumah sakit.
b) Harus diukur secara berkala
KPI harus dipantau setiap hari atau setiap minggu sebab
apabila dipantau tiap bulan atau tiap tahun maka tidak bisa menjadi
indikator yang efektif. KPI adalah pengukuran yang berorientasi pada
saat ini dan masa depan. Misalnya, jumlah pasien berobat yang
34

ditargetkan datang pada bulan depan atau jumlah peserta aktif KB


pada bulan depan.
c) Pelaku adalah direktur beserta tim manajemen senior
KPI dikendalikan oleh direktur beserta tim manajemen senior
dengan dibantu beberapa staf yang terkait untuk dibahas bersama.
Pembahasan terbatas dengan direktur bukanlah sesuatu yang
diinginkan oleh staf untuk diulang kembali. Sebagai upaya untuk
mengatasi hal tersebut, sikap inovatif dan proses yang produktif harus
dilakukan guna mencegah terjadinya pengulangan pembahasan.
d) Menjelaskan tindakan yang dilakukan oleh staf (staf dapat
memahami pengukuran dan mengetahui yang harus diperbaiki)
Staf memiliki tugas tertentu dalam mencapai target kinerja
organisasi yang akan dicapai. Berkaitan dengan hal tersebut, KPI
harus menjelaskan rincian indikator yang ditargetkan agar dapat
dipahami dan dikerjakan sesuai tugas staf. Apabila terjadi hal yang
tidak sesuai target, maka staf mengerti hal yang harus diperbaiki.
e) Tanggung jawab yang mengikat ke tim (direktur dapat
memanggil seorang pemimpin tim yang dapat mengambil
tindakan yang diperlukan)
Beberapa staf dikelompokkan ke dalam beberapa tim dan
setiap tim memiliki satu pimpinan. Setiap tim memiliki tugas tertentu
35

dalam mencapai target sesuai standar KPI yang telah dibuat sehingga
diperlukan tanggung jawab yang mengikat. Hal ini perlu dilakukan
karena apabila terjadi ketidaksesuaian dalam mencapai target maka
tim bisa segera mengambil tindakan yang diperlukan.
f) Memiliki dampak yang signifikan (mempengaruhi satu atau lebih
dari faktor kesuksesan)
Sebuah KPI harus memiliki setidaknya satu dampak atau lebih
dari setiap faktor kesuksesan. Maksudnya, ketika direktur, manajer,
dan staf berfokus pada penyusunan KPI maka tujuan organisasi harus
mengena kepada semua hal. Contohnya dapat diamati pada SPM 2010
untuk poin cakupan kunjungan ibu hamil K4 (95%).
g) Mendorong tindakan yang tepat (memastikan KPI memiliki
dampak positif pada kinerja)
Sebelum menjadi sebuah KPI, indikator pengukuran memerlukan uji
coba untuk memastikan ketepatannya. KPI harus memiliki dampak
yang positif dalam pencapaian target yang ditentukan untuk
mendorong tindakan yang tepat. Selain itu, KPI mempengaruhi
perilaku anggota organisasi dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.

36

Berikut ini adalah unsur unsur yang terdapat pada rumah sakit yang dapat
dijadikan Key Performance Indicator sebagai evaluasi berjalannya suatu rumah
sakit :

a.

Rerata jam pelatihan/karyawan/tahun

b.

% tenaga terlatih di unit khusus (IGD)

c.

Kecepatan penanganan penderita GD

d.

% kesalahan pemeriksaan atau tindakan

e.

% kematian ibu karena pre-eklamsi dan eklamsi

f.

% infeksi nosokomial

g.

Waktu tunggu sebelum operasi elektif

h.

Baku mutu limbah cair

i.

% pasien yang menyatakan puas

j.

% kepuasan karyawan

k.

Cost Recovery Rate

Indikator indikator inilah yang dijadikan sebagai Key Performance dalam


evaluasi yang umumnya dilakukan oleh rumah sakit.
37

Kesimpulan
Terdapat keterkaitan antara SPM di rumah sakit dan indikator kinerja
pelayanan tersebut. SPM sebagai tolak ukur tentunya harus mampu menyediakan
instrumen yang mampu menjadi pedoman kinerja. Dengan adanya KPI maka
kualitas pelayanan kesehatan mudah dinilai. Penilaian ini sangat diperlukan
sebagai upaya evaluasi untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan sesuai
dengan kriteria kriteria yang sudah ditetapkan di dalam teori Key Performance
Indicator baik dalam pengukuran berupa pengkuran kuantitatif ataupun kualitatif
sesuai yang dibutuhkan oleh rumah sakit tersebut dalam evalusai yang bertujuan
untuk meningkatkan tingkat pelayanan kesehatan yang telah ada menjadi lebih
baik.

38