Anda di halaman 1dari 7

PALPASI REKTAL

Tujuan
Tujuan dilakukannya palpasi rektal pada sapi betina adalah mengetahui
letak dan posisi organ reproduksi betina, diagnosa kebuntingan dan estimasi usia
kebuntingan, mengetahui keadaan normal dan abnormal organ reproduksi betina,
mendiagnosa beberapa penyakit reproduksi, serta diagnosa kemajiran, recovery
embrio pada transfer embrio, dan inseminasi buatan.
Frekuensi
Pelaksanaan palpasi rektal dilakukan sebanyak 9 hari dari tanggal 18
November 2014 28 November 2014 di UPT Hewan Coba Fakultas Kedokteran
Hewan Universitas Syiah Kuala.
Prinsip
Metode palpasi rektal memudahkan kita dalam menentukan letak dan
bentuk anatomi serta abnormalitas yang terjadi pada organ reproduksi betina
melalui rectum. Selain itu, melalui palpasi rektal juga dapat diketahui perubahanperubahan yang terjadi pada organ reproduksi betina sehingga membantu dalam
pengaplikasian metode Inseminasi Buatan (IB) dan Transfer Embrio (TE),
mempermudah melakukan pemeriksaan kebuntingan dan membantu dalam
penanganan kasus penyakit reproduksi.
Cara Kerja
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam melakukan palpasi rektal adalah wearpack,
glove, tali dan ember. Bahan yang digunakan adalah minyak dan air.

Sampel Pemeriksaan
Sampel yang digunakan dalam pelaksanakan palpasi rektal ini adalah sapi dengan ear tag
1050, 1038, 1040, 1048, 1040, 1026, 1028, 0158, 1039, dan 1048.
Prosedur Pemeriksaan

Sapi direstrain dengan menggunakan tali pada nostal atau tiang penyangga.

Palpator berdiri dalam posisi yang tepat dengan kaki kiri di depan dan kaki kanan
dibelakang untuk meminimalisir resiko cidera karena gerakan sapi yang tiba-tiba.

Pakai glove lalu oleskan minyak pada punggung tangan.

Dekati sapi dari arah belakang dan pegang ekor sapi dengan tangan yang tidak
memakai glove.

Masukkan tangan kedalam rektum, tangan dibuat berbentuk kerucut dan dimasukkan
perlahan dengan cara memutar. Jika sapi merejan dengan kuat, maka dilakukan
tindakan penekanan pada tulang belakang sapi agar rejanan berkurang.

Setelah tangan palpator memasuki rektum, palpator harus mengeluarkan sebagian


feses terlebih dahulu agar palpator lebih leluasa saat melakukan palpasi.

Perabaan dimulai dari cerviks uteri, dengan tanda khusus terabanya cincin cerviks
(annulus cervicalis).

Palpasi terus dilakukan ke arah depan hingga mencapai corpus uteri dan biforcatio
cornualis, sehingga dapat dibedakan cornua uteri dexter dan sinister.

Apabila cornua uteri terasa asimetris, mengindikasikan bahwa kemungkinan sapi


tersebut bunting. Untuk lebih meyakinkan, palpasi dilanjutkan sampai ditemukan
ovarium. Adanya benjolan besar dan keras pada ovarium (Corpus Luteum) akan
mendukung hipotesa kebuntingan hewan.

Hasil
Hasil kegiatan palpasi rektal pada sapi betina selama 9 hari pada tanggal 17 November
2014 sampai dengan 28 November 2014 dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 1. Palpasi Rektal.


No
1

Hari/tanggal
Selasa, 17 Nov

Sapi
Hasil diskusi
Sapi yang digunakan ear Terabanya servik yang ukurannya

2014
Rabu, 19 Nov

tag 1050
kecil dan konsistensi lembek.
Sapi yang digunakan ear Terabanya servik dan cornua yang

2014
Kamis, 20 Nov

tag 1038
tidak simetris.
Sapi yang digunakan ear Terabanya servik yang ukurannya

2014
Jumat, 21 Nov

tag 1040
kecil dan konsistensinya lembek.
Sapi yang digunakan ear Pada sapi ear tag 1048 terabanya

2014

tag :

servik dengan konsistensi lembek

1. 1048
2. 1040

dan ovarium dengan ukuran kecil


konsistensinya lembek.
Pada sapiear tag 1040 terabanya
servik dengan ukuran kecil dan

Senin, 24 Nov

konsistensinya lembek.
Sapi yang digunakan ear Sapi dinyatakan bunting karena

2014

tag 1026

terabanya foetus dan merasakan


desiran A.Uterina Mediana, dan

Selasa, 25 Nov

terabanya servik yang membesar.


Sapi yang digunakan ear Terabanya servik dengan ukuran

2014

tag 1028

Rabu, 26 Nov

ukurannya lebih kecil dari kelereng.


Sapi yang digunakan ear Terabanya servik dengan ukuran 2

2014

tag 0158

sebesar 2 telunjuk dan ovarium kiri

jari telunjuk dengan konsistensi


lembek dan ovarium kanan lebih

Kamis, 27 Nov

besar dari pada kiri.


Sapi yang digunakan ear Sapi dinyatakan bunting karena

2014

tag 1039

terabanya servik yang membesar


serta merasakan desiran A.Uterina

Jumat, 28 Nov

Mediana.
Sapi yang digunakan ear Terabanya servik dengan ukuran

2014

tag 1048

kecil dengan konsistensi yang

kenyal.
Gambar. Kegiatan Palpasi Rektal

Diskusi
Palpasi rektal atau eksplorasi rektal adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk
mendiagnosa kebuntingan yang dilakukan pada ternak besar seperti kuda, kerbau dan sapi.
Prinsipnya adalah dilakukan palpasi uterus melalui dinding rektum untuk meraba pembesaran
yang terjadi selama kebuntingan, fetus atau membran fetus. Teknik yang dapat digunakan pada
tahap awal kebuntingan ini adalah akurat dan hasilnya dapat langsung diketahui (Lestari, 2006).
Lebih lanjut Yusuf (2005) mengatakan bahwa dalam pelaksanaan palpasi rektal sangat
dibutuhkan kepekaan dan kebiasaan untuk mengenali organ-organ yang dipalpasi.
Metode palpasi rektal pada uterus telah sejak lama dilakukan. Teknik yang dikenal cukup
akurat dan cepat ini juga relatif murah. Namun demikian dibutuhkan petugas yang terampil dan
berpengalaman sehingga akan diperoleh diagnosa yang tepat melalui pengaplikasian metode ini.
Teknik ini hanya dapat dilakukan pada hewan dengan usia kebuntingan diatas 30 hari (Lestari,
2006).
Selain untuk kepentingan pemeriksaan kebuntingan, palpasi rektal juga dapat digunakan
untuk mendeteksi adanya kelainan atau abnormalitas pada alat kelamin betina (misalnya
piometra, kista ovarium, dan sebagainya). Kegiatan palpasi rektal juga berguna untuk
mengetahui posisi atau kondisi normal alat kelamin di dalam tubuh hewan betina. Menurut
Toelihere (1985), palpasi rektal terhadap uterus dan ovarium adalah cara mendiagnosa
kebuntingan yang paling praktis. Mengetahui letak dan posisi organ reproduksi betina sangatlah
mendukung kegiatan palpasi ini, misalnya posisi ovarium yang hanya dapat teraba pada bagian
lateral dan agak kranial dari cervik.
Berdasarkan pada kegiatan palpasi yang telah dilakukan oleh penulis, tidak terdapat
adanya tanda-tanda kebuntingan pada sapi betina yang dipalpasi. Hal ini disebabkan oleh sapi
betina yang masih muda (sapi dara) sehingga siklus estrus belum berlangsung secara normal
pada sapi-sapi tersebut. Dua ekor sapi menunjukkan gejala berahi yang ditandai adanya
discharge vagina berwarna bening yang keluar dari vulva, namun tidak ada tanda-tanda
kebuntingan yang teraba pada saat palpasi dilakukan pada sapi tersebut meskipun sapi-sapi
tersebut berada di kandang yang sama dengan pejantan. Discharge tersebut juga tetap keluar
selama 3 hari berikutnya pada kedua sapi.
Menurut Manan (2000), terdapat beberapa hal yang dapat mengindikasikan bahwa ternak
mengalami kebuntingan, yaitu:

1. Palpasi perektal terhadap cornua uteri, teraba cornua uteri membesar karena berisi cairan
plasenta (amnion dan alantois).
2. Palpasi perektal terhadap cornua uteri, kantong amnion.
3.

Selip selaput fetal, alanto-corion pada penyempitan terhadap uterus dengan ibu jari dan
jari telunjuk secara lues.

4. Perabaan dan pemantulan kembali fetus di dalam uterus yang membesar yang berisi
selaput fetus dan cairan plasenta.
5. Perabaan plasenta.
6. Palpasi arteri uterina media yang membesar, berdinding tipis dan berdesir (fremitus).
Deteksi kebuntingan dini pada ternak sangat penting bagi manajemen reproduksi ditinjau
dari segi ekonomi. Mengetahui bahwa ternaknya bunting atau tidak mempunyai nilai ekonomis
yang perlu dipertimbangkan sebagai hal penting bagi manajemen reproduksi yang harus
diterapkan. Menurut Jainudeen and Hafez (2000), ada beberapa perubahan pada alat kelamin
betina yang dapat dijadikan acuan dalam penetapan status kebuntingan hewan melalui metode
palpasi rektal, seperti yang tertera pada Tabel 2.
Tabel 2. Perubahan alat kelamin betina yang dapat dipalpasi pada saat setiap umur
kebuntingan.

Spesies

Umur Kebuntingan
(bulan)

Perubahan Yang Terjadi


Uterus statis dengan CL yang tumbuh

Sapi & Kerbau

Pertama

pada
satu ovarium.
Pembesaran tanduk uterus karena

Kedua

adanya

Ketiga

cairan fetus
Uterus mulai turun, fetus teraba
Uterus berada pada lantai abdominal,
fetus
sulit diraba, cotyledon : diameter 2-5

Keempat - Ketujuh

cm teraba
pada dinding uterus, arteri uterina
media

Ketujuh

akhir

kebuntingan

Kuda

Pertama

hypertrofi dan terjadi fremitus


Cotyledon, fremitus dan bagian dari
fetus dapat
Diraba
Cervix kontraksi dan statis, tanduk
uterus
membengkak
Kantong chorioallantois pada bagian
sepertiga

Kedua

bawah ventral tanduk uterus, tanduk


uterus
membengkak
Kantong chorioallantois berkembang

Ketiga

cepat dan
turun ke badan uterus. Uterus mulai
turun
Permukaan

Keempat

Kelima - Ketujuh

dorsal

uetrus

teraba

seperti kubah
menggembung. Fetus dan bagian fetus
teraba
Uterus terletak jauh di dasar rongga

abdominal
Ketujuh - menjelang Fetus lebih mudah teraba. Uterus
akhir

mulai naik

Daftar Pustaka
Arthur, G. F. Noakes, D. E. Pearson, H. and Parkison, T. M. 1996. Veterinary Reproduction and
Obstetrics. London : W.B.Sounders.
Jainudeen, M.R. and Hafez. E.S.E. 2000. Pregnancy Diagnosis, dalam Hafez, E.S.E and Hafez,
B. 2000. Reproduction in Farm Animals. 7ed.. Lippincott Williams & Wilkins.
Philadelphia.
Lestari, T. D. 2006. Metode Deteksi Kebuntingan pada Ternak Sapi. Fakultas Peternakan
Universitas Padjadjaran. Bandung. Skripsi: 4.
Manan D. 2000. Ilmu Kebidanan Pada Ternak. Nangroe Aceh Darussalaam. Universitas
Syahkuala
Partodihadjo, S. 1992. Ilmu Reproduksi Ternak. Edisi ke-3. Sumber Widya, Jakarta.
Toelihere, M. R. 1985. Ilmu Kebidanan pada Ternak Sapi dan Kerbau. Universitas Indonesia.
Yusuf, M. 2005. Penuntun Praktikum Inseminasi Buatan. Laboratorium Reproduksi Ternak.
Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar.

Anda mungkin juga menyukai