Anda di halaman 1dari 136

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGENDALIAN GULMA (AGH 321)

Disusun Oleh :
Kelompok 9A
1. Trisnani Yuda Fitri A24070021
2. Galvan Yudistira A24070040
3. Vicky Oktarina Chairunnissa A24070121

Asisten Praktikum
Arie eka prasetia rizki A24052120
Maulana marman A24061763
Angga waluya A24062477
Heny agustin A24061070

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010

1
PENGELOLAAN SARANA TUMBUH

Disusun Oleh :
Trisnani Yuda Fitri A24070021

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010

2
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kompetisi adalah hubungan interaksi antara dua individu tumbuhan baik


yang sesama jenis maupun berlainan jenis yang dapat menimbulkan pengaruh
negatif bagi keduanya sebagai akibat dari pemanfaatan sumber daya yang ada
dalam keadaan terbatas secara bersama. Kompetisi yag terjadi di alam meliputi
komoetisi intrapesifik yaitu interaksi negatif antar sesama jenis, dan kompetisi
interspesifik yatu interaksi negatif yang terjadi pada rumbuhan berbeda jenis.
Tanaman budidaya mempunyai kemampuan untuk bersaing dengan gulma
sampai batas populasi gulma tertentu. Setelah batas populasi tersebut, tanaman
budidayaakan kalah dalam berseing sehingga pertumbuhan dan produksi tanaman
budidaya akan menurun. Kompetisi gulma dapat menyebabkan penurunan
kuantitas dan kualitas hasil panen. Penurunan kuantitas hasil panen terjadi melalui
dua cara yaitu pengurangan jumlah hasil yang dapt dipanen dan penurunan jumlah
indididu tanaman yang dipanen. Penurunan kualitas hasi akibat kompetisi gulma
disebabkan diantaranya oleh tercampurnya hasil penen dengan biji gulma.
Akibatnya, hasil panen menurun.
Kompetisi antara gulma dan tanaman terjadi karena faktor umbuh yang
terbatas. Faktor yang dikompetisikan antara lain hara, cahaya, CO2, cahaya dan
ruang tumbuh. Besarnya daya kompetisi gulma tergantung pada beberapa faktor
antara lain jumlah individu gulma dan berat gulma, siklus hidup gulma, periode
ada gulma pada tanaman, dan jenis gulma. Dalam kenyataannya sangat sulit bagi
kita untuk menjelaskan faktor mana yang terlibat atau berperan dalam peristiwa
kompetisi tersebut. De Wit (1960) menyebutkan istilah “sarana pertumbuhan”
yang mencakup semua faktor yang telibat dalam kompetisi. Ada beberapa
perubahan kompetisi yang dapat digunakan untuk mengukur daya kompetisi,
diantaranya total hasil relatif (THR), penguasaan sarana tumbuh (PST), dan
agresivitas.

3
Pada praktikum ini mahasiswa akan diperkenalkan salah satu peubah untuk
mengukur kompetisi, yaitu penguasaan sarana tumbuh. Prinsipnya adalah bahwa
tanaman yang menguasai persaingan atu kompetisi akan menguasai sarana
tumbuh lebih besar dibandingkan terhadap pesaingnya.

Tujuan

Praktikum ini memiliki tujuan untuk mempelajari penguasaan sarana


tumbuh dalam suatu percobaan kompetisi antara tanaman dan gulma danc cara
perhitungannya.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Jagung
Tanaman jagung merupakan tanaman semusim yang termasuk dala ordo
Tripsaceae, famili Poaceae, subfamili Panicoidae dan genus Zea. Tanaman jagung
memiiki akar serabut dengan tiga tipe akar, yaitu akar seminal yang rumbuh dari
radikula dan embrio, akar adventif yang tumbuh dari buku terbawah, dan akar
udara (brace root) (Sudjana et. al., 1991). Batang jagung berbentuk silindris dan
terdir dari sejumlah ruas dan buk, dengan panjang yang berbeda-beda tergantung
varietas dan lingkungan tempat tumbuh (Goldsworthy dan Fischer, 1992). Suhu
optimum untuk pertumbuhan jagung berkisar antara 20-260C dengan curah hujan
500 – 1500 mm per tahun. Jagung dapat tumbuh di semua jenis tanah, tanah
berpasir maupun tanah liat berat. Namun tanaman ini akan tumbuh lebih baik pada
tanah yang gembur dan kaya akan humus dengan pH tanah 5,5 – 7,0 (Suprapto
dan Marzuki, 2002).

Gulma
Soerjani (1998) dalam Sukman dan Yakup (1991) mendefinisikan gulma
sebagai tumbuhan yang peranan, pitensi, dan hakikat kehadirannya belum
sepenuhnya diketahui. Gulma merupakan pesaing alami yang kuat bagi tanaman
budidaya dikarenakan mampu memproduksi biji dalam jumlah yang banyak
sehingga kerapatannya tinggi, perkecambahannya cepat, pertumbuhan awal cepat
dan daur hidup lama (Ashton dan Monaco, 1991). Sifat gulma umumnya mudah
beradaptasi dengan lingkungan yang berubah dibandingkan dengan tanaman
budidaya. Daya adaptasi dan daya saing yang kuat merupakan sifat umum gulma (
Tjirtosoedirdjo et. al., 1984).

Gulma Tanaman Jagung


Gulma yang gumbuh pada tanaman jagung umumnya telah berasosiasi dan
menyesuaikan diri dengan tanaman tersebut. Gulma yang tumbuh dominan adalah

5
dari golongan rumput, menusul gulma berdaun lebar, dan paling sedikit dari
golongan teki. Species gulma yang umum dijumpai pada pertanaman jagung
adalah Digitaria ciliaris, Cynodon dactilon, Echinochloa colona, Paspalum
distichum, Eleusine indica, Cyperus rotundus, Borreria latifolia, Phyllanthus
niruri, Alternanthera philoxeroides, Synedrella nodiflora, Spighlea anthelmia,
dan Ageratum conizoides (Bangun, 1985).

6
BAB III
BAHAN DAN METODE

Bahan dan Alat

Peralatan yang digunakan antara lain cngkul kored, neraca analitik, dan
oven.Bahan yang sigunakan dalam praktikum ini adalah benih tanaman jagung,
pupuk urea, SP-18, KCl, dan insektisida furadan 3G.

Waktu dan Tempat

Percobaan dilaksanakan pada tanggal 19 Oktober 2009 di Lapangan Praktikum


Cikabayan, Kampus IPB Dramaga Bogor.

Metodologi

Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok. Perlakuan yang dicobakan


sebagai berikut:
1. (P1) jarak tanam 100 x 40 cm dengan 1 benih per lubang
2. (P2) jarak tanam 100 x 40 cm dengan 2 benih per lubang
3. (P3) jarak tanam 100 x 40 cm dengan 3 benih per lubang
4. (P4) jarak tanam 100 x 20 cm dengan 2 benih per lubang
5. (P5) jarak tanam 100 x 40 cm dengan 5 benih per lubang
6. (P6) jarak tanam 100 x 20 cm sengan 3 benih per lubang
Satuan perobaan berpa petakan dengan ukuran 10m x 4 m. Percobaan
dilakukan denan empat ulangan, sehingga terdapat 20 satuan percobaan.
Pengolahan tanah dilakukan dua kali yaitu pembajakan dan penghalusan
pada saat satu bulan sebelum tanam. Tanaman jagung ditanam dengan jarak tanam
sesuai perlakuan.
Pemupukan dilakukan dengan ara split, yaitu pada saat tanam dan pada saan
4 MST. Pemupukan dilakukan dengan menggunakan dosis 300 kg Urea/ha, 300
kg SP-18/ha, dan 100 kg KCl/ha. Pupuk Urea dan KCl diberikan dua kali yaitu ½

7
dosis pada saat tanam dan ½ dosis pada saat 4 MST. Pemupukan SP-18 dilakukan
seluruhnya pada saat tanam. Furadan diberikan dalam lubang tanam pada saat
tanam dengan dosis 12 kg/ha.
Pengamatan dilakukan pada peubah tinggi dan jumlah daun 10 tanaman
sampel, yang diamati pada 2, 4, 6, 8 MST; Biomassa tajuk jagung, diamati dengan
cara memotong 3 tanaman sampel, dioven dan ditimbang bobot keringnya pada 2,
4, 6, 8 MST; bobot tongkol berkelobot dan tanpa kelobot saat panen; dan bobot
total dan biomassa tiap jenis gulma dari pengambilan sampel kuadran.

8
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengamatan dilakukan dengan membandingkan peubah-peubah yang telah


diamati terhadap bobot biomassa tanaman jagung dan biomassa gulma. Peubah
yang diamati antara lain tinggi jarak tanam dan perlakuan benih, tinggi tanaman,
jumlah daun, bobot biomassa jagung berkelobot dan tanpa kelobot, dan biomassa
gulma. Peubah tersebut kemudian diamati untuk mengetahui pengaruh peubah
bobot terhadap tingkat persaingan antara gulma dan tanaman jagung.
Pada perlakuan pengaruh jarak tanaman dan perlakuan benih terhadap tinggi
tanaman dan jumlah daun jagung saat 2, 4, 6, 8, dan 10 MST menghasilkan data
bahwa tidak terdapat pengaruh keterkaitan antara jarak tanam dan jumlah benih
terhadap tinggi tanaman maupun jumlah daun (Tabel.3). Dari hasil F hitung
dengan taraf nyata 95%, korelasi antara jarak tanam dan perlakuan benih
menghasilkan angka nol dan kurang dari satu yang membuktikan bahwa tidak ada
atau hanya kecil sekali terdapat keterkaitan (Tabel. 1 dan Tabel.2). Terhadap
faktor persaingan dengan gulma, terdapat pengeruh yang nyata pada 10 MST
dimana dari uji F dengan taraf nyata 95% F, sehingga dapat dibuktikan adanya
persaingan dengan gulma dalam memperoleh nutrisi dari lahan yang sama pada
jarak tanam berbeda (Tabel. 4).
Pengamatan hubungan antara jarak tanam dan perlakuan benih tidak
mempengaruhi tinggi dan jumlah daun tanaman. Adengan kata lain, peubah
tersebut tidak mempengaruhi fase vegetatif tanaman. Jagung merupakan tanaman
C-4 yang dapat beradaptasi baik pada faktor-faktor pembatas dan hasil. Ditinjau
dari segi kondisi lingkungan, tanaman C-4 beradaptasi pada terbatasnya banyak
faktor seperti intensitas radiasi surya yang tinggi dan suhu siang malam yang
tinggi serta kesuburan tanah yang relatif rendah. Sifat yang menguntungkan dari
tanaman jagung sebagai tanaman C-4 antara lain aktifitas fotosintesis pada
tanaman normal tinggi, fotorespirasi sangan rendah, transpirasi rendahh serta
efisien dalam penggunaan air. Sifat-sifat tersebut merupakan sifat fisiologis dan
anatomi yang sangat menguntungkan dalam kaitannya dengan hasil (Muhadjir,
1988).

9
Peubah lain yang digunakan dalam percobaan yaitu komponen hasil yang
meliputi bobot tongkol berkelobot dan tanpa kelobot. Pengamatan tongkol
dilakukan pada 2, 4, 6, 8, 10, dan 12 MST. Dari data perhitungan dengan uji F,
taraf nyata 95%, pada 2-8 MST tidak terdapat pengaruh jarak tanam dan
perlakuan benih pada bobot kering jagung berkelobot. Hal ini dapat dipastikan
karena pada masa awal tanam tidak memungkinkan dalam pertumbuhan vegetatif
sehingga tongkol tidak terbentuk. Dari data (Tabel.5 dan Tabel.6) juga
menunjukkan tidak adanya korelasi antara bobot basah jagung berkelobot dan
tanpa kelobot dengan jarak tanam ataupun perlakuan benih. Namun, terhadap
persaingan dengan gulma, pada 10 MST menunjukkan perbedaan yang nyata,
sehingga terdapat pengaruh jarak tanam dan perlakuan benih terhadap bobot basah
jagung berkelobot. Bobot yang dihasilkan pada jarak tanam rapat lebih kecil
dibandingkan dengan bobot pada jarak tanam lebar (Tabel.7).
Pengamatan terhadap tongkol menunjukkan hasil yang nyata pada 10 MST.
Hal ini disebabkan pada 10 MST sudah masuk pada fase generatif yang diawali
dengan proses pembungaan jagung hingga pembentukkan tongkol. Pengaruh yang
terlihat juga dipengaruhi oleh persaingan tanaman dengan gulma dimana jarak
makin besarnya populasi gulma, maka makin besar pula kehilangan hasil yang
akan dialami tanaman. Populasi yang besar akan meningkatkan persaingan
tanaman dalam mempeoleh nutrisi yang sangat diperlukan pada fase
pertumbuhan. Bila telah mengalami banyak kehilangan, maka pada saat
pembentukkan hasil (biji) akan mengurangi bobot basahnya. Smith (1981)
menyatakan bahwa kerugian yang ditimbulkan gulma pada tanaman budidaya
adalah mengurangi hasil dan kualitas produksi tanaman, menjadi inang, hama dan
penyakit tanaman, mengurangi efisiensi, peningkatan konsumsi energi dalam
pengendaliannya, menghalangi sistem irigasi, menyebabkan keracunan dan luka
pada manusia dan hewan serta mengurangi nilai dan produktivitas dan estetika
lahan.
Pengamatanbeberapa peubah di atas menjelaskan bahwa persaingan tanaman
terhadap gulmalah yang menjadi penentu keberhasilan produksi tanaman jagung.
Grafik.1 menyatakan hubungan antara hasil nyata dengan densitas gulma per
satuan luas.

10
250

hasil nyata (O) 200

150
y = -0.0002x2 + 0.1142x + 95.973
100 R2 = 0.3136

50

0
0 200 400 600 800 1000 1200
-50

Densitas (Z)

Grafik.1. Hubungan antara hasil nyata dan densitas per satuan luas

Pada saat kerapatan gula 200, maka hasil nyata yang diperoleh sebesar
171,54. Pada titik kerapatan 300 hasil nyata meningkat menjadi 214,43. Seangkan
ketika kerapatan meningkat menjadi 400, maka hasil nyata yang dihasilkan
sebesar 65, 584. Secara hiperbolik, grafik menunjukkan peningkatan hasil pada
awal pertumbuhan seiring dengan meningkatnya pertumbuhan gulma. Namun,
setelah mencapai titik maksimum, maka hasil tidak lagi mengalami peningkatan,
melainkan penurunan secara drastis terhadap peningkatan kerapatan gulma. Hal
ini dikarenakan pada awal pertumbuhan, gulma beulum mampu menyaingi
pertumbuhan tanaman jagung. Namun, pada vase generatif, tanaman sudah mulai
mengurangi prosuksi biomassa pertumbuhan dan mengalihkannya unuk fase
generatif, sedangkan gulma masih terus melakukan pertumbuhan vegetatif,
sehingga pada akhirnya gulma mampu menekan pertumbuhan tanaman jagung
(lihat Tabel.8).
Penurunan hasil akibat kompetisi jagung dengan gulma dapat berkisar antara
16-62% (Bangun, 1988). Penurunan tersebut dikarenakan adanya persaingan
nutrisi dengan tumbuhan gulma yang sangat beragam sesuai dengan jenis
tanaman, jenis lahan, populasi tanaman, jenis gulma, dan berbagai faktor bdidaya
lainnya.

11
120
densitas 1
densitas 2
100 densitas 3
densitas 4
densitas 5
80
densitas 6
PST

60

40

20

0
2 MST 4 MST 6 MST 8 MST 10 MST 12 MST

Grafik.2. Hubungan antara densitas gulma dengan penguasaan sarana tumbuh

Grafik.2 menyatakan hubungan kompetisi antara gulma dan tanaman yang


ditunjukkan dari tingkat densitas atau kerapatan gulma dan umur tanaman.
Densitas 1 adalah tingkat kerapatan gulma yang ada pada populasi 100 tanaman.
Pada populasi ini memiliki jarak tanam yang lebar, sehingga persaingan terhadap
gulmanya pun tinggi. Berbeda dengan densitas 6 dengan jumlah populasi 1000
yang memiliki jarak tanam rapat, sehingga persaingan terhadap gulma sedikit.
Hal ini disebabkan karena pada jarak tanam yang sempit, terdapat sedikit ruang
tumbuh bagi gulma, sehingga menjadi salah satu solusi yang digunakan dalam
pengendalian gulma secara kultur teknis.
Secara umum dapat dijelaskan bahwa semakin meningkat umur tanaman,
maka semakin tinggi pula persaingan antara tanaman dengan gulma, karena
tanaman dan gulma sama-sama melakukan pertumbuhan baik generatif maupun
vegetatif sehingga membutuhkan nutrisi yang berasal dari sumber yang sama.
Persaingan akan sangat tampak terjadi berkaitan dengan jenis tanaman dan jenis
gulma. Tingkat persaingan tanaman jagung dengan gulma berdaun lebar
umumnya akan menyebabkan kekalahan pada tanaman jagung. Hal ini
dikarenakan gulma daun lebar adalah tumbuhan C3 yang lebih boros dalam
memanfaatkan nutrisi dibandingkan dengan gulma rumput yang sebagian besar
juga merupakan tanaman C4.

12
BAB V
KESIMPULAN

Dari pengamatan yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat


beberapa peubah yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman jagung. Perlakuan
jarak tanam dan perlakuan benih tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap
pertambahan komponen tumbuh tanaman jagung (tinggi, jumlah daun), namun
memberikan hasil nyata pada komponen biomassanya (bobot tanaman). Namun
ketiga komponen tersebut berkorelasi dimana semakin lebar jarak tanam atau
semakin kecil populasi maka persaingan tumbuh antara tanaman dan gulma
meningkat.

13
DAFTAR PUSTAKA

Ashton, F. M. adnd T. J. Monaco. 1991. Weed Science: Principles and Pratice. 3rd
Ed. John Wiley and Sons, Inc.: New York. 466 p.
Bangun, P.1983. Pengendalian gulma pada tanaman jagung. Hal 83-95. Dalam
Subandi, M. Syam, S. O. Manurung, Yuswandi (ed.). Hasil Penelitian
Jagung, Sorgum, dan Terigu 1980-1984. Risalah Rapat Teknis Pusat
Penelitian Tanaman Pangan. Bogor.
Goldsworthy, P. R. dan N.M. Fischer. 1992. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik.
Gadjah Mada University Press: Yogyakarta. 874 hal.
Muhadjir, F. 1988. Karakteristik tanaman jagung. Hal 33-38. Dalam Subandi, M.
Syam dan A. Widjono (Eds.). Jagung. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian Bogor.
Smith, J. R. 1981. Weed of Majpr Economic Importance in Rice and Yields
Loisses Due to Weed Competition. P 19-36. In Procidings of The
Conference on Weed Control of Rice. IRRI. Manila. Philippines.
Sudjana, A., A. Arifin, dan M. Sudjadi. 1991. Jagung. Buletin Teknik (3): 1- 27.
Suprapto dan J. A. R. Marzuki. 2002. Bertanam Jagung. Penebar Swadaya:
Jakarta. 48 hal.
Tjirtosoedirdjo, S., I. H. Utomo dan J Wiroatmojo (Eds.) 1984. Pengelolaan
Gulma di Perkebunan. PT Gramedia: Jakarta. 218 hal
Sukman, Y. Dan Yakup. 1991. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. PT Raja
Grafindo Persada: Jakarta. 123 hal.

14
LAMPIRAN

Tabel.1. Tabel sidik ragam tinggi tanaman


Sumber F
keragaman db JK KT Hit Pr > F KK
ulangan 3 847 282 1.90 0.1876 5,845,089
perlakuan JT 1 0.33264 0.33264 0.00 0.9631
perlakuan benih 3 331 110 0.74 0.5486
2 MST
JT*benih 1 0.47254 0.47254 0.00 0.9560
galat 11 1,632 148
total 19 2,733
ulangan 3 2,908 969 4.94 0.0206 38
perlakuan JT 1 45 45 0.23 0.6418
perlakuan benih 3 613 204 1.04 0.4119
4MST
JT*benih 1 23 23 0.12 0.7364
galat 11 2,157 196
total 19 5,389
ulangan 3 5,937 1,979 3.74 0.0539 40
perlakuan JT 1 958 958 1.81 0.2113
perlakuan benih 3 3,135 1,045 1.98 0.1883
6MST
JT*benih 1 1,609 1,609 3.04 0.1151
galat 9 4,761 529
total 17 12,489
ulangan 3 10,642 3,547 4.23 0.0324 3,866,478
perlakuan JT 1 9 9 0.01 0.9184
perlakuan benih 3 569 190 0.23 0.8765
8MST
JT*benih 1 1,712 1,712 2.04 0.1810
galat 11 9,230 839
total 19 21,360
ulangan 3 3,873 1,291 0.79 0.5501 51
perlakuan JT 1 18 18 0.01 0.9213
perlakuan benih 3 637 212 0.13 0.9384
10MST
JT*benih 1 135 135 0.08 0.7853
galat 5 8,191 1,638
total 13 14,829

15
Tabel. 2. Tabel sidik ragam jumlah daun
sumber keragaman db JK KT F Hit Pr > F KK
ulangan 3 4 1 2.35 0.1241 21
perlakuan JT 1 2 2 3.27 0.0957
perlakuan benih 2 3 3 1 1.73 0.2139
JT*benih MST 1 0.00427287 0.00427 0.01 0.9351
galat 12 7.4194382 0.61829
total 20 16.50666667
ulangan 3 13 4 3.55 0.0477 24
perlakuan JT 1 1 1 1.11 0.3136
perlakuan benih 4 3 8 3 2.34 0.1246
JT*benih MST 1 0.07814858 0.07815 0.07 0.8022
galat 12 14.295125 1.19126
total 20 34.50952381
ulangan 3 17 6 2.32 0.1373 29
perlakuan JT 1 0.58228338 0.58228 0.24 0.6315
perlakuan benih 6 3 11 4 1.49 0.2756
JT*benih MST 1 0.20806971 0.20807 0.09 0.7735
galat 10 23.79931287 2.37993
total 18 48.79684211
ulangan 3 20.68954054 6.89651 3.43 0.0522 24
perlakuan JT 1 4.16454313 4.16454 2.07 0.1755
perlakuan benih 8 3 2.73117364 0.91039 0.45 0.7199
JT*benih MST 1 4.16454313 4.16454 2.07 0.1755
galat 12 2411045946 2.0092
total 20 5964666667
ulangan 3 4.68615385 1.56205 0.77 0.5491 25
perlakuan JT 1 0.9351717 0.93517 0.46 0.5212
perlakuan benih 10 3 0.19193659 0.06398 0.03 0.9916
JT*benih MST 1 0.64720223 0.6472 0.32 0.5915
galat 6 12.09384615 2.01564
total 14 18.59733333
ulangan 3 7.07047619 2.35683 1.13 0.4371 24
perlakuan JT 1 3.6125 3.6125 1.73 0.2585
perlakuan benih 12 2 1.54815735 0.77408 0.37 0.7115
JT*benih MST 1 0.675 0.675 0.32 0.5999
galat 4 8.34285714 2.08571
total 11 19.23666667

16
Tabel 3. Pengamatan tinggi tanaman dan jumlah daun
Tinggi tanaman (cm) Jumlah daun (helai)
Perlakukan Kel 2MS 4MS 6MS 8MS 10MS 12MS 2MS 4MS 6MS 8MS 10MS 12MS
T T T T T T T T T T T T

JT A 6.4 54 70 102 108 115 5 5 5 6 7 7


100cmX40c B 17 22 39 50 45 44 4 4 3 5 4 4
m
1benih/lub C 39 74 102 137 142 155 5 8 9 9 8 8
ang D 14 20 25 25 33 44 2.2 2.7 3.2 2.3 3.2 4.2

JT A 28 37 - 73.5 61 - 3 4 - 7 5 -
100cmX40c B - - - - - - 4 5 6 6 6 5
m
2benih/lub C - - - - - - 4 5 6 6 6 5
ang D 20 42 94 107 120 128 3 5 6 6 6 6
20.4 52.8 72.4
JT A 38.8 84.45 89.73 2 4 6 5 5 6
1 8 1
100cmX40c
B - 28 - 48 51 mati - 3 - 4 5 mati
m
3benih/lub C 20 36 58 57.9 mati mati 3.2 3.6 3.7 4.5 mati mati
ang
D 14 31 53 65.8 - - 3 4 4 4 - -

JT A 25 46 99 111 124 133 4 6 7 6 6 6


100cmX20c B 18 24 32 39.8 - - 4 5 6 7 - -
m
2benih/lub C 61 76 99 90.9 91 124 6 7 7 7 6 8
ang D 3.5 7.4 15 43 77 95 3 4 5 5 6 6
A 17 23 29 48.8 - - 4 3 3 4 - -
JT
100cmX20c 31.3 48.4 1,01
B
m 9 4 70.9 8 1,105 - 4 6 8 9 8 -
5benih/lub C 18 41 67 129 - - 4 6 7 9 - -
ang
D 26 - 46 53.6 50 - 4 - 4 5 5 -

JT A 18 27 - - - - 4 4 - - - -
100cmX20c B 18 34 57 68.5 80 85 4 4 4 6 6 7
m
3benih/lub C 18 41 67 129 - - 3.6 5.1 6.5 8.7 - -
ang D 15 28 33 47.1 50 - - - - - - -

17
Tabel. 4. Tabel bobot kering gulma
MS F
Sumber DB JK KT Pr>F KK
T Hitung
2 Ulangan 2 738.78540517 369.39270258 0.96 0.5852 132.6018
Perlakuan
1 176.00732827 176.00732827 0.46 0.6215
JT
Perlakuan
2 925.97071579 462.98535789 1.20 0.5419
Benih
JT*Benih 1 595.37520027 595.37520027 1.55 0.4311
Galat 1 384.86592400 384.86592400
Umum 8 1865.60521400
Ulangan 3 15643.4153461 5214.47178203 0.50 0.7197 201.4602
4 0
Perlakuan 1 2234.69611210 2234.69611210 0.21 0.6891
JT
Perlakuan 3 34718.6637536 11572.8879178 1.11 0.5065
7 9
Benih
JT*Benih 1 499.40016003 499.40016003 0.05 0.8472

Galat 2 20880.3406250 10440.1703125


7 3
Umum 10 87880.8815321
8
Ulangan 2 19681.8453469 9840.92267346 0.53 0.6957 314.0632
6 2
Perlakuan 1 776.25418282 776.25418282 0.04 0.8713
JT
Perlakuan 2 24865.5999337 12432.7999668 0.67 0.6528
5 7
Benih
JT*Benih 1 1202.90724015 1202.90724015 0.07 0.8409

Galat 1 18463.5102802 18463.5102802


5 5
Umum 8 64975.2927980
0
8 Ulangan 2 1507.09896292 753.54948146 0.67 0.6539 225.5142
Perlakuan 1 2.08954682 2.08954682 0.00 0.9726
JT
Perlakuan 2 1725.61391050 862.80695525 0.77 0.6283
Benih
JT*Benih 1 163.34010015 163.34010015 0.15 0.7683

Galat 1 1125.50185225 1125.50185225


Umum 8 4368.34353622

10 Ulangan 2 413.81868292 206.90934146 112.28 0.0666 9.276977

Perlakuan 1 892.74251250 892.74251250 484.45 0.0289


JT
Perlakuan 2 748.67500975 374.33750487 203.13 0.0496
Benih
JT*Benih 0 0.00000000
Galat 1 1.84280625 1.84280625

Umum 7 1553.26124800

12 Ulangan 3 3059.30028442 1019.76676147 0.37 0.8016 284.6411


Perlakuan 1 185.85920000 185.85920000 0.07 0.8384
JT
Perlakuan 3 3465.11300442 1155.03766814 0.42 0.7802

18
Benih
JT*Benih 0 0.00000000
Galat 1 2761.44995025 2761.44995025

Umum 8 9160.58223800

Tabel. 5. Sidik ragam jagung berkelobot


sumber keragaman db JK KT F Hit Pr > F KK
ulangan 2 739 369 0.96 0.5852 133
perlakuan JT 1 176 176 0.46 0.6215
perlakuan benih 2 2 926 463 1.2 0.5419
JT*benih MST 1 595 595 1.55 0.4311
galat 1 385 385
total 8 1,866
ulangan 2 739 369 0.96 0.5852 133
perlakuan JT 1 176 176 0.46 0.6215
perlakuan benih 4 2 926 463 1.2 0.5419
JT*benih MST 1 595 595 1.55 0.4311
galat 1 385 385
total 8 1,866
ulangan 2 19,682 9,841 0.53 0.6957 314
perlakuan JT 1 776 776 0.04 0.8713
perlakuan benih 6 2 24,866 12,433 0.67 0.6528
JT*benih MST 1 1,203 1,203 0.07 0.8409
galat 1 18,464 18,464
total 8 64,975
ulangan 2 1,507 754 0.67 0.6539 226
perlakuan JT 1 2 2 0 0.9726
perlakuan benih 8 2 1,726 863 0.77 0.6283
JT*benih MST 1 163 163 0.15 0.7683
galat 1 1,126 1,126
total 8 4,368
ulangan 2 414 207 112.28 0.0666 9
perlakuan JT 1 893 893 484.45 0.0289
perlakuan benih 10 2 749 374 203.13 0.0496
JT*benih MST 0 0
galat 1 2
total 7 1,553
ulangan 3 3,059 1,020 0.37 0.8016 285
perlakuan JT 1 186 186 0.07 0.8384
perlakuan benih 12 3 3,465 1,155 0.37 0.7802
JT*benih MST 0 0 0.32 0.5999
galat 1 2,761 2,761
total 8 9,161

19
Tabel. 6. Sidik ragam jagung tanpa kelobot
sumber
keragaman db JK KT F Hit Pr > F KK
ulangan 2 73,878,540,517 36,939,270,258 0.96 0.5852 1,326,018
perlakuan JT 1 17,600,732,827 17,600,732,827 0.46 0.6215
perlakuan benih 2 2 92,597,071,579 46,298,535,789 1.20 0.5419
JT*benih MST 1 59,537,520,027 59,537,520,027 1.55 0.4311
galat 1 38,486,592,400 38,486,592,400
total 8 186,560,521,400
ulangan 3 1,564,341,534,610 521,447,178,203 0.50 0.7197 2,014,602
perlakuan JT 1 223,469,611,210 223,469,611,210 0.21 0.6891
perlakuan benih 4 3 3,471,866,375,367 1,157,288,791,789 1.11 0.5065
JT*benih MST 1 49,940,016,003 49,940,016,003 0.05 0.8472
galat 2 2,088,034,062,507 1,044,017,031,253
total 10 8,788,088,153,218
ulangan 2 1,968,184,534,692 984,092,267,346 0.53 0.6957 3,140,632
perlakuan JT 1 77,625,418,282 77,625,418,282 0.04 0.8713
perlakuan benih 6 2 2,486,559,993,375 1,243,279,996,687 0.67 0.6528
JT*benih MST 1 120,290,724,015 120,290,724,015 0.07 0.8409
galat 1 1,846,351,028,025 1,846,351,028,025
total 8 6,497,529,279,800
ulangan 2 150,709,896,292 75,354,948,146 0.67 0.6539 2,255,142
perlakuan JT 1 208,954,682 208,954,682 0.00 0.9726
perlakuan benih 8 2 172,561,391,050 86,280,695,525 0.77 0.6283
JT*benih MST 1 16,334,010,015 16,334,010,015 0.15 0.7683
galat 1 112,550,185,225 112,550,185,225
total 8 436,834,353,622
ulangan 2 41,381,868,292 20,690,934,146 112.28 0.0666 9,276,977
perlakuan JT 1 89,274,251,250 89,274,251,250 484.45 0.0289
perlakuan benih 10 2 74,867,500,975 37,433,750,487 203.13 0.0496
JT*benih MST 0 0.00000000 . . .
galat 1 184,280,625 184,280,625
total 7 155,326,124,800

ulangan 3 305,930,028,442 101,976,676,147 0.37 0.8016 2,846,411


perlakuan JT 1 18,585,920,000 18,585,920,000 0.07 0.8384
perlakuan benih 12 3 346,511,300,442 115,503,766,814 0.42 0.7802
JT*benih MST 0 0.00000000 . . .
galat 1 276,144,995,025 276,144,995,025
total 8 916,058,223,800

20
Tabel.7. Pengamatan bobot basah (gram) tongkol 10 tanaman contoh
Tanpa
Perlakukan Kelompok Berkelobot
kelobot
A 22.9 18.763
JT
B
100cmX40cm tidak diamati
C
1benih/lubang
D - -
A 212.5 123.5
JT
B 169.2 117.5
100cmX40cm
C tidak diamati
2benih/lubang
D 132.92 90.4
A tidak ada tongkol
JT
B mati
100cmX40cm
C mati mati
3benih/lubang
D tidak diamati
A 136.6 95.4
JT
B 59.7 -
100cmX20cm
C 0.452 0.331
2benih/lubang
D
A tidak diamati
JT
B
100cmX20cm
C 0.388889 0.302222222
5benih/lubang
D tidak diamati
A 40.28 14.2
JT
B tidak diamati
100cmX20cm
C 0.388889 0.302222222
3benih/lubang
D tidak diamati

Tabel.8. Pengamatan bobot kering tanaman jagung

Perlakukan Kel
BK BK BK BK BK BK
JT A 1.65 1.744 23.26 36.79 57.32 64.35
100cmX40c B 0.8613 1.173 1.51139 1.9963 7.5
m C 0.214 2.48 5.21 7.28 14.31 29.16
1benih/lub 0.55366 2.39866 6.06033
ang D 1.287 3.46667 3.864
7 7 3
0.81974 8.09501 12.3832 33.1901
1.671 20.7485
2 4 4 1
JT A 0.861 0.384 6.5 77
100cmX40c B
m 12.4433 5.74666 5.47666
C 0.333 0.78 6.68
2benih/lub 3 7 7
ang D 0.53 0.31 0.109 1.14423 7.038 9.004

21
3
0.57466 0.49133 6.27616 4.46363 29.8382
7.842
7 3 5 3 2
JT A 0.83 0.96 0.22 2.41 6.070 7.930
100cmX40c B 0.343 1.057 2.428 1,96
m C 0.114 2.58 5.67 14.5
3benih/lub
ang D
1.29433 2.31566
0.472 6.446 6.07 7.93
3 7
JT A 0.73 0.729 0.153 1.337 7.087 8.987
100cmX20c B 0.14 0.37 0.69 0.67 0.46 1.89
m C 0.102 0.774 3.221 12.659 39.463 50.1
2benih/lub
ang D 0.108 0.221 1.633 0.215 0.791 0.8
11.9502 15.4442
0.27 0.5235 1.42425 3.72025
5 5
JT A 0.35 0.94 1.89 5.68
100cmX20c B 0.543 1.891 2.876 5.21 6.433 8.46
m C
5benih/lub
ang D 0.094 0.75 2.71333 9.333 46.5
1.19366
0.329 2.49311 6.741 26.4665 8.46
7
JT A 0.571
100cmX20c B 0.26667 0.27 0.98 1.02 0.78 1.16
m C
3benih/lub
ang D 0.105 0.128 0.134 0.205 0.232 0.316
0.31422 0.55533 0.61416
0.199 0.506 0.738
3 4 5

Tabel.9. Hubungan antara densitas gulma dengan penguasaan sarana tumbuh


Populasi 2 MST 4 MST 6 MST 8 MST 10 MST 12 MST
densitas
100 1 2.469846 5.034649 24.38992 37.31016 62.51431 100.0003
densitas
200 2 1.925827 1.646559 21.03272 14.95856 99.99404 26.28016
densitas
300 3 5.952081 16.32198 29.20135 81.28625 76.54477 100
densitas
400 4 1.748705 3.390544 9.224417 24.09488 77.39799 100.0275
densitas
600 5 42.57769 26.96477 75.24844 83.22019 68.56369 100
densitas
1000 6 1.242917 4.509508 9.418625 25.46657 99.98678 31.96071

22
1.68 0.2289
Perhitungan tinggi tanaman dengan 6 JT 1
10 M12 4.39862904 4.39862904
SAS 0.03 0.8664
BNIH 3
NOTE: Variables in each group are 349.65857906 116.55285969
consistent with respect to the presence 0.79 0.5266
The SAS System 22:47 Sunday, or absence of missing JT*BNIH 1
January 26, 1997 28 values. 0.47253640 0.47253640
0.00 0.9560

General Linear Models Procedure Source DF


The SAS System 22:47 Sunday, Type III SS Mean Square
Class Level Information January 26, 1997 29 F Value Pr > F

Class UL 3
Levels Values General Linear Models Procedure 847.01806312 282.33935437
1.90 0.1876
UL Dependent Variable: M2 JT 1
4 1 2 3 4 0.33263769 0.33263769
Source DF 0.00 0.9631
JT Sum of Squares Mean Square BNIH 3
2 j1 j2 F Value Pr > F 330.55875133 110.18625044
0.74 0.5486
BNIH Model 8 JT*BNIH 1
4 b1 b2 b3 b5 1101.26664650 137.65833081 0.47253640 0.47253640
0.93 0.5302 0.00 0.9560

Number of Error 11
observations in data set = 24 1631.96967830 148.36087985
Corrected Total 19
Group 2733.23632480 The SAS System 22:47 Sunday,
Obs Dependent Variables January 26, 1997 30
R-Square
1 C.V. Root MSE
20 M2 M2 Mean General Linear Models Procedure

2 0.402917 Duncan's
20 M4 58.45089 12.18034810 Multiple Range Test for variable: M2
20.83860000
3 NOTE: This test
18 M6 controls the type I comparisonwise error
Source DF rate, not the
4 Type I SS Mean Square F experimentwise
20 M8 Value Pr > F error rate

5 UL 3 Alpha=
14 M10 746.73690200 248.91230067 0.05 df= 11 MSE= 148.3609

23
Number January 26, 1997 32
WARNING: Cell sizes are not equal. of Means 2 3 4
Harmonic Mean of cell sizes= 9.9 Critical Range 17.91 18.74 19.23 General Linear Models Procedure
Means with the same Dependent Variable: M4
Number of Means 2 letter are not significantly different.
Source DF
Critical Range 12.05 Duncan Sum of Squares Mean Square
Grouping Mean N BNIH F Value Pr > F
Means with the same
letter are not significantly different. Model 8
A 25.939 6 b2 3232.02712156 404.00339020
Duncan 2.06 0.1324
Grouping Mean N JT A
Error 11
A 20.273 3 b5 2157.12121539 196.10192867
A 21.581 11 j2
A Corrected Total 19
A 5389.14833695
A 19.205 4 b1
A 19.931 9 j1 R-Square
A C.V. Root MSE
M4 Mean
A 17.643 7 b3
0.599729
38.35778 14.00363984
The SAS System 22:47 Sunday, 36.50795000
January 26, 1997 31
Level of Level
of --------------M2------------- Source DF
General Linear Models Procedure JT BNIH Type I SS Mean Square F
N Mean SD Value Pr > F
Duncan's
Multiple Range Test for variable: M2 j1 b1 UL 3
4 19.2050000 14.0041101 2406.33693792 802.11231264
NOTE: This test j1 b2 4.09 0.0354
controls the type I comparisonwise error 2 23.8650000 5.4659354 JT 1
rate, not the j1 b3 205.76203210 205.76203210
experimentwise 3 18.2766667 3.3629501 1.05 0.3277
error rate j2 b2 BNIH 3
4 26.9762500 24.4002853 596.54802745 198.84934248
Alpha= j2 b3 1.01 0.4233
0.05 df= 11 MSE= 148.3609 4 17.1670000 1.4903219 JT*BNIH 1
j2 b5 23.38012410 23.38012410
WARNING: Cell sizes are not equal. 3 20.2730000 4.7624667 0.12 0.7364
Harmonic Mean of cell sizes= 4.48 Source DF
The SAS System 22:47 Sunday, Type III SS Mean Square

24
F Value Pr > F A 38.278 10 j1
A
UL 3 A
2908.36880161 969.45626720 A 32.88 8 b3
4.94 0.0206 A 34.738 10 j2
JT 1 A
44.85906964 44.85906964
0.23 0.6418 A 32.05 2 b5
BNIH 3
613.43215210 204.47738403
1.04 0.4119 The SAS System 22:47 Sunday,
JT*BNIH 1 January 26, 1997 34
23.38012410 23.38012410 Level of Level
0.12 0.7364 of --------------M4-------------
General Linear Models Procedure JT BNIH
N Mean SD
Duncan's
Multiple Range Test for variable: M4 j1 b1
4 42.4350000 26.3197435
The SAS System 22:47 Sunday, NOTE: This test j1 b2
January 26, 1997 33 controls the type I comparisonwise error 2 39.6950000 3.2597623
rate, not the j1 b3
experimentwise 4 33.4125000 4.6990026
General Linear Models Procedure error rate j2 b2
4 38.4737500 29.5851723
Duncan's Alpha= j2 b3
Multiple Range Test for variable: M4 0.05 df= 11 MSE= 196.1019 4 32.3482500 6.5794246
j2 b5
NOTE: This test WARNING: Cell sizes are not equal. 2 32.0455000 12.4387154
controls the type I comparisonwise error
rate, not the Harmonic Mean of cell sizes= 3.84
experimentwise The SAS System 22:47 Sunday,
error rate Number January 26, 1997 35
of Means 2 3 4
Alpha=
0.05 df= 11 MSE= 196.1019 Critical Range 22.24 23.27 23.88 General Linear Models Procedure
Means with the same Dependent Variable: M6
Number of Means 2 letter are not significantly different.
Source DF
Critical Range 13.78 Duncan Sum of Squares Mean Square
Grouping Mean N BNIH F Value Pr > F
Means with the same
letter are not significantly different. Model 8
A 42.44 4 b1 7727.94692583 965.99336573
Duncan 1.83 0.1940
Grouping Mean N JT A
Error 9
A 38.88 6 b2 4761.06179086 529.00686565

25
Corrected Total 17 General Linear Models Procedure
12489.00871670 The SAS System 22:47 Sunday,
January 26, 1997 36 Duncan's
R-Square Multiple Range Test for variable: M6
C.V. Root MSE
M6 Mean General Linear Models Procedure NOTE: This test
controls the type I comparisonwise error
0.618780 Duncan's rate, not the
39.92194 23.00014925 Multiple Range Test for variable: M6 experimentwise
57.61280889 error rate
NOTE: This test
controls the type I comparisonwise error Alpha=
Source DF rate, not the 0.05 df= 9 MSE= 529.0069
Type I SS Mean Square F experimentwise
Value Pr > F error rate WARNING: Cell sizes are not equal.
Harmonic
UL 3 Alpha= Mean of cell sizes= 4.210526
4036.37970549 1345.45990183 0.05 df= 9 MSE= 529.0069
2.54 0.1215 Number
JT 1 WARNING: Cell sizes are not equal. of Means 2 3 4
275.61401025 275.61401025 Harmonic
0.52 0.4887 Mean of cell sizes= 8.888889 Critical Range 35.86 37.43 38.33
BNIH 3
1806.60646655 602.20215552 Means with the same
1.14 0.3848 Number of Means 2 letter are not significantly different.
JT*BNIH 1
1609.34674354 1609.34674354 Critical Range 24.68 Duncan
3.04 0.1151 Grouping Mean N BNIH
Means with the same
Source DF letter are not significantly different.
Type III SS Mean Square A 67.69 5 b2
F Value Pr > F Duncan
Grouping Mean N JT A
UL 3
5937.43103339 1979.14367780 A 58.74 4 b1
3.74 0.0539 A 61.57 8 j1
JT 1 A
958.22105352 958.22105352 A
1.81 0.2113 A 53.49 6 b3
BNIH 3 A 54.45 10 j2
3135.35814876 1045.11938292 A
1.98 0.1883
JT*BNIH 1 A 47.55 3 b5
1609.34674354 1609.34674354
3.04 0.1151
The SAS System 22:47 Sunday,
January 26, 1997 37
Level of Level

26
of --------------M6------------- Source DF rate, not the
JT BNIH Type I SS Mean Square F experimentwise
N Mean SD Value Pr > F error rate
j1 b1 UL 3 Alpha=
4 58.7438900 34.2334980 10015.32600127 3338.44200042 0.05 df= 11 MSE= 839.1338
j1 b2 3.98 0.0382
1 94.0000000 . JT 1
j1 b3 1.83771442 1.83771442 Number of Means 2
3 54.5266667 3.1868689 0.00 0.9635
j2 b2 BNIH 3 Critical Range 28.51
4 61.1150000 44.0583201 401.35090323 133.78363441
j2 b3 0.16 0.9214 Means with the same
3 52.4600000 17.6938104 JT*BNIH 1 letter are not significantly different.
j2 b5 1711.50286725 1711.50286725
3 47.5450000 18.8790208 2.04 0.1810 Duncan
Grouping Mean N JT
Source DF
The SAS System 22:47 Sunday, Type III SS Mean Square
January 26, 1997 38 F Value Pr > F A 75.97 10 j2
UL 3 A
General Linear Models Procedure 10642.32866245 3547.44288748
4.23 0.0324 A 73.87 10 j1
Dependent Variable: M8 JT 1
9.22435911 9.22435911
Source DF 0.01 0.9184
Sum of Squares Mean Square BNIH 3
F Value Pr > F 568.55218604 189.51739535
0.23 0.8765 The SAS System 22:47 Sunday,
Model 8 JT*BNIH 1 January 26, 1997 40
12130.01748617 1516.25218577 1711.50286725 1711.50286725
1.81 0.1790 2.04 0.1810
General Linear Models Procedure
Error 11
9230.47219263 839.13383569 Duncan's
Multiple Range Test for variable: M8
Corrected Total 19
21360.48967880 The SAS System 22:47 Sunday, NOTE: This test
January 26, 1997 39 controls the type I comparisonwise error
R-Square rate, not the
C.V. Root MSE experimentwise
M8 Mean General Linear Models Procedure error rate
0.567872 Duncan's Alpha=
38.66478 28.96780688 Multiple Range Test for variable: M8 0.05 df= 11 MSE= 839.1338
74.92040000
NOTE: This test WARNING: Cell sizes are not equal.
controls the type I comparisonwise error

27
Harmonic Mean of cell sizes= 4.48 Source DF
The SAS System 22:47 Sunday, Type III SS Mean Square
Number January 26, 1997 41 F Value Pr > F
of Means 2 3 4
UL 3
Critical Range 42.60 44.56 45.73 General Linear Models Procedure 3873.24391297 1291.08130432
0.79 0.5501
Means with the same Dependent Variable: M10 JT 1
letter are not significantly different. 17.69096334 17.69096334
Source DF 0.01 0.9213
Duncan Sum of Squares Mean Square BNIH 3
Grouping Mean N BNIH F Value Pr > F 637.38980506 212.46326835
0.13 0.9384
Model 8 JT*BNIH 1
A 78.53 4 b1 6638.25796320 829.78224540 135.30439419 135.30439419
0.51 0.8128 0.08 0.7853
A
Error 5
A 77.53 6 b2 8190.78629353 1638.15725871
A Corrected Total 13
14829.04425673 The SAS System 22:47 Sunday,
A 76.98 3 b5 January 26, 1997 42
R-Square
A C.V. Root MSE
M10 Mean General Linear Models Procedure
A 69.74 7 b3
0.447652 Duncan's
50.77059 40.47415544 Multiple Range Test for variable: M10
79.71968093
NOTE: This test
Level of Level controls the type I comparisonwise error
of --------------M8------------- Source DF rate, not the
JT BNIH Type I SS Mean Square F experimentwise
N Mean SD Value Pr > F error rate
j1 b1 UL 3 Alpha=
4 78.5275000 50.5599350 5866.32127738 1955.44042579 0.05 df= 5 MSE= 1638.157
j1 b2 1.19 0.4012
2 90.2350000 23.7092904 JT 1 WARNING: Cell sizes are not equal.
j1 b3 6.28932318 6.28932318 Harmonic
4 61.0212500 10.5275340 0.00 0.9530 Mean of cell sizes= 6.857143
j2 b2 BNIH 3
4 71.1700000 35.3528679 630.34296845 210.11432282
j2 b3 0.13 0.9393 Number of Means 2
3 81.3696667 42.2134803 JT*BNIH 1
j2 b5 135.30439419 135.30439419 Critical Range 56.19
3 76.9846667 44.6980468 0.08 0.7853
Means with the same

28
letter are not significantly different. Model 7
A 94.52 5 b2 10611.28164507 1515.89737787
Duncan 1.81 0.4013
Grouping Mean N JT A
Error 2
A 82.05 4 b1 1674.99083333 837.49541667
A 80.57 8 j1
A Corrected Total 9
A 12286.27247840
A 66.25 4 b3
A 78.58 6 j2 R-Square
A C.V. Root MSE
M12 Mean
A 50.27 1 b5
0.863670
28.58156 28.93951307
The SAS System 22:47 Sunday, 101.25240000
January 26, 1997 43
Level of Level
of -------------M10------------- Source DF
General Linear Models Procedure JT BNIH Type I SS Mean Square F
N Mean SD Value Pr > F
Duncan's
Multiple Range Test for variable: M10 j1 b1 UL 3
4 82.0500000 51.9876748 6416.73864373 2138.91288124
NOTE: This test j1 b2 2.55 0.2938
controls the type I comparisonwise error 2 90.7041665 41.4305651 JT 1
rate, not the j1 b3 425.12400933 425.12400933
experimentwise 2 67.4875000 23.9885976 0.51 0.5501
error rate j2 b2 BNIH 2
3 97.0666667 24.3816188 1136.12365692 568.06182846
Alpha= j2 b3 0.68 0.5958
0.05 df= 5 MSE= 1638.157 2 65.0111000 21.7945866 JT*BNIH 1
j2 b5 2633.29533508 2633.29533508
WARNING: Cell sizes are not equal. 1 50.2700000 . 3.14 0.2182
Harmonic
Mean of cell sizes= 2.352941 Source DF
The SAS System 22:47 Sunday, Type III SS Mean Square
Number January 26, 1997 44 F Value Pr > F
of Means 2 3 4
UL 3
Critical Range 95.9 98.9 100.2 General Linear Models Procedure 8194.60583333 2731.53527778
3.26 0.2434
Means with the same Dependent Variable: M12 JT 1
letter are not significantly different. 58.74906420 58.74906420
Source DF 0.07 0.8159
Duncan Sum of Squares Mean Square BNIH 2
Grouping Mean N BNIH F Value Pr > F 972.04673906 486.02336953
0.58 0.6328

29
JT*BNIH 1
2633.29533508 2633.29533508 Level of Level
3.14 0.2182 of -------------M12-------------
The SAS System 22:47 Sunday, JT BNIH
January 26, 1997 46 N Mean SD
j1 b1
General Linear Models Procedure 4 89.450000 54.9655498
The SAS System 22:47 Sunday, j1 b2
January 26, 1997 45 Duncan's 1 128.000000 .
Multiple Range Test for variable: M12 j1 b3
1 89.730000 .
General Linear Models Procedure NOTE: This test j2 b2
controls the type I comparisonwise error 3 117.183333 20.0743825
Duncan's rate, not the j2 b3
Multiple Range Test for variable: M12 experimentwise 1 85.444000 .
error rate
NOTE: This test
controls the type I comparisonwise error Alpha= Perhitungan perbedaan bobot kering gulma dengan SAS
rate, not the 0.05 df= 2 MSE= 837.4954
experimentwise The SAS System 23:27
error rate WARNING: Cell sizes are not equal. Sunday, January 26, 1997 1

Alpha= Harmonic Mean of cell sizes= 3 General Linear Models Procedure


0.05 df= 2 MSE= 837.4954 Class Level Information
WARNING: Cell sizes are not equal. Number of Means 2 3 Class Levels Values
Harmonic Mean of cell sizes= 4.8 Critical Range 101.7 101.7
UL 4 1234
Means with the same
Number of Means 2 letter are not significantly different. JT 2 j1 j2
Critical Range 80.38 Duncan BNIH 4 b1 b2 b3 b5
Grouping Mean N BNIH
Means with the same
letter are not significantly different.
A 119.89 4 b2 Number of observations in data set = 22
Duncan
Grouping Mean N JT A
Group Obs Dependent Variables
A 89.45 4 b1
A 109.25 4 j2
A 1 9 M2 M6 M8
A
A 87.59 2 b3 2 11 M4
A 95.92 6 j1
3 8 M10

30
4 9 M12 595.37520027 1.55 0.4311 5761.77391153 0.31 0.8286
JT 1 4290.83587883
Source DF Type III SS Mean 4290.83587883 0.23 0.7140
NOTE: Variables in each group are consistent with respect to Square F Value Pr > F BNIH 2 23732.71766419
the presence or absence of missing 11866.35883209 0.64 0.6615
values. UL 2 738.78540517 JT*BNIH 1 1202.90724015
369.39270258 0.96 0.5852 1202.90724015 0.07 0.8409
JT 1 176.00732827
The SAS System 23:27 176.00732827 0.46 0.6215 Source DF Type III SS Mean
Sunday, January 26, 1997 2 BNIH 2 925.97071579 Square F Value Pr > F
462.98535789 1.20 0.5419
General Linear Models Procedure JT*BNIH 1 595.37520027 UL 2 19681.84534692
595.37520027 1.55 0.4311 9840.92267346 0.53 0.6957
Dependent Variable: M2 JT 1 776.25418282
The SAS System 23:27 776.25418282 0.04 0.8713
Source DF Sum of Squares Mean Sunday, January 26, 1997 3 BNIH 2 24865.59993375
Square F Value Pr > F 12432.79996687 0.67 0.6528
General Linear Models Procedure JT*BNIH 1 1202.90724015
Model 7 1480.73929000 1202.90724015 0.07 0.8409
211.53418429 0.55 0.7806 Dependent Variable: M6
The SAS System 23:27
Error 1 384.86592400 Source DF Sum of Squares Mean Sunday, January 26, 1997 4
384.86592400 Square F Value Pr > F
General Linear Models Procedure
Corrected Total 8 1865.60521400 Model 7 46511.78251775
6644.54035968 0.36 0.8605 Dependent Variable: M8
R-Square C.V. Root MSE
M2 Mean Error 1 18463.51028025 Source DF Sum of Squares Mean
18463.51028025 Square F Value Pr > F
0.793705 132.6018
19.61800000 14.79466667 Corrected Total 8 64975.29279800 Model 7 3242.84168397
463.26309771 0.41 0.8370
R-Square C.V. Root MSE
Source DF Type I SS Mean M6 Mean Error 1 1125.50185225
Square F Value Pr > F 1125.50185225
0.715838 314.0632
UL 3 102.59947433 135.88050000 43.26533333 Corrected Total 8 4368.34353622
34.19982478 0.09 0.9561
JT 1 1.91284567 R-Square C.V. Root MSE
1.91284567 0.00 0.9552 Source DF Type I SS Mean M8 Mean
BNIH 2 780.85176973 Square F Value Pr > F
390.42588487 1.01 0.5746 0.742350 225.5142
JT*BNIH 1 595.37520027 UL 3 17285.32173458 33.54850000 14.87644444

31
Harmonic Mean of cell sizes= 4 A 19.49 3 j2

Source DF Type I SS Mean Number of Means 2


Square F Value Pr > F Critical Range 176.3

UL 3 934.45837156 Means with the same letter are not significantly The SAS System 23:27
311.48612385 0.28 0.8465 different. Sunday, January 26, 1997 7
JT 1 422.19687537
422.19687537 0.38 0.6502 Duncan Grouping Mean N JT General Linear Models Procedure
BNIH 2 1722.84633689
861.42316845 0.77 0.6286 A 14.88 3 j2 Duncan's Multiple Range Test for variable:
JT*BNIH 1 163.34010015 A M8
163.34010015 0.15 0.7683 A 14.75 6 j1
NOTE: This test controls the type I
Source DF Type III SS Mean comparisonwise error rate, not the
Square F Value Pr > F experimentwise error rate

UL 2 1507.09896292 The SAS System 23:27 Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 1125.502
753.54948146 0.67 0.6539 Sunday, January 26, 1997 6 WARNING: Cell sizes are not equal.
JT 1 2.08954682 Harmonic Mean of cell sizes= 4
2.08954682 0.00 0.9726 General Linear Models Procedure
BNIH 2 1725.61391050 Number of Means 2
862.80695525 0.77 0.6283 Duncan's Multiple Range Test for variable: Critical Range 301.4
JT*BNIH 1 163.34010015 M6
163.34010015 0.15 0.7683 Means with the same letter are not significantly
NOTE: This test controls the type I different.
comparisonwise error rate, not the
experimentwise error rate Duncan Grouping Mean N JT

The SAS System 23:27 Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 18463.51 A 18.07 6 j1
Sunday, January 26, 1997 5 WARNING: Cell sizes are not equal. A
Harmonic Mean of cell sizes= 4 A 8.49 3 j2
General Linear Models Procedure
Number of Means 2
Duncan's Multiple Range Test for variable: Critical Range 1221
M2
Means with the same letter are not significantly The SAS System 23:27
NOTE: This test controls the type I different. Sunday, January 26, 1997 8
comparisonwise error rate, not the
experimentwise error rate Duncan Grouping Mean N JT General Linear Models Procedure

Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 384.8659 A 55.15 6 j1 Duncan's Multiple Range Test for variable:
WARNING: Cell sizes are not equal. A M2

32
Harmonic Mean of cell sizes= 1.777778
NOTE: This test controls the type I Duncan Grouping Mean N
comparisonwise error rate, not the Number of Means 2 3 4 BNIH
experimentwise error rate Critical Range 1831 1831 1831
A 37.36 2 b1
Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 384.8659 Means with the same letter are not significantly A
WARNING: Cell sizes are not equal. different. A 25.34 1 b5
Harmonic Mean of cell sizes= 1.777778 A
Duncan Grouping Mean N A 5.64 4 b3
Number of Means 2 3 4 BNIH A
Critical Range 264.4 264.4 264.4 A 5.62 2 b2
A 145.1 2 b1
Means with the same letter are not significantly A
different. A 19.8 1 b5
A
Duncan Grouping Mean N A 15.7 2 b2 Level of Level of --------------M2------------- -------
BNIH A -------M6-------------
A 12.0 4 b3 JT BNIH N Mean SD Mean
A 25.69 2 b1 SD
A
A 13.27 4 b3 j1 b1 2 25.6885000 32.8048049
A 145.114500 195.275316
A 13.10 1 b5 The SAS System 23:27 j1 b2 1 13.1800000 . 12.370000
A Sunday, January 26, 1997 10 .
A 7.79 2 b2 j1 b3 3 7.9803333 4.8731973
General Linear Models Procedure 9.436667 2.540341
j2 b2 1 2.4000000 . 18.975000
Duncan's Multiple Range Test for variable: .
M8 j2 b3 1 29.1540000 . 19.752000
The SAS System 23:27 .
Sunday, January 26, 1997 9 NOTE: This test controls the type I j2 b5 1 13.1000000 . 19.752000
comparisonwise error rate, not the .
General Linear Models Procedure experimentwise error rate
Level of Level of --------------M8-----------
Duncan's Multiple Range Test for variable: Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 1125.502 --
M6 WARNING: Cell sizes are not equal. JT BNIH N Mean SD
Harmonic Mean of cell sizes= 1.777778
NOTE: This test controls the type I j1 b1 2 37.3635000
comparisonwise error rate, not the Number of Means 2 3 4 50.9420938
experimentwise error rate Critical Range 452.1 452.1 452.1 j1 b2 1 11.1100000 .
j1 b3 3 7.5253333 4.3303516
Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 18463.51 Means with the same letter are not significantly j2 b2 1 0.1350000 .
WARNING: Cell sizes are not equal. different. j2 b3 1 0.0000000 .

33
j2 b5 1 25.3400000 . 5214.47178203 0.50 0.7197 Sunday, January 26, 1997 13
JT 1 2234.69611210
The SAS System 23:27 2234.69611210 0.21 0.6891 General Linear Models Procedure
Sunday, January 26, 1997 11 BNIH 3 34718.66375367
11572.88791789 1.11 0.5065 Duncan's Multiple Range Test for variable:
General Linear Models Procedure JT*BNIH 1 499.40016003 M4
499.40016003 0.05 0.8472
Dependent Variable: M4 NOTE: This test controls the type I
comparisonwise error rate, not the
Source DF Sum of Squares Mean experimentwise error rate
Square F Value Pr > F
The SAS System 23:27 Alpha= 0.05 df= 2 MSE= 10440.17
Model 8 67000.54090712 Sunday, January 26, 1997 12 WARNING: Cell sizes are not equal.
8375.06761339 0.80 0.6621 Harmonic Mean of cell sizes= 2.526316
General Linear Models Procedure
Error 2 20880.34062507 Number of Means 2 3 4
10440.17031253 Duncan's Multiple Range Test for variable: Critical Range 391.2 391.2 391.2
M4
Corrected Total 10 87880.88153218 Means with the same letter are not significantly
NOTE: This test controls the type I different.
R-Square C.V. Root MSE comparisonwise error rate, not the
M4 Mean experimentwise error rate Duncan Grouping Mean N
BNIH
0.762402 201.4602 Alpha= 0.05 df= 2 MSE= 10440.17
102.17715162 50.71827273 WARNING: Cell sizes are not equal. A 194.51 2 b1
Harmonic Mean of cell sizes= 5.090909 A
A 22.54 3 b2
Source DF Type I SS Mean Number of Means 2 A
Square F Value Pr > F Critical Range 275.6 A 18.67 4 b3
A
UL 3 22803.70686052 Means with the same letter are not significantly A 13.30 2 b5
7601.23562017 0.73 0.6228 different.
JT 1 8257.68670305
8257.68670305 0.79 0.4676 Duncan Grouping Mean N JT
BNIH 3 35439.74718351
11813.24906117 1.13 0.5008 A 71.95 7 j1 Level of Level of --------------M4-----------
JT*BNIH 1 499.40016003 A --
499.40016003 0.05 0.8472 A 13.56 4 j2 JT BNIH N Mean SD

Source DF Type III SS Mean j1 b1 2 194.510000


Square F Value Pr > F 184.816499
j1 b2 2 32.903500 46.070128
UL 3 15643.41534610 The SAS System 23:27 j1 b3 3 16.283333 10.701304

34
j2 b2 1 1.800000 .
j2 b3 1 25.824000 . UL 2 413.81868292 The SAS System 23:27
j2 b5 2 13.300000 3.889087 206.90934146 112.28 0.0666 Sunday, January 26, 1997 16
JT 1 892.74251250
The SAS System 23:27 892.74251250 484.45 0.0289 General Linear Models Procedure
Sunday, January 26, 1997 14 BNIH 2 748.67500975
374.33750487 203.13 0.0496 Duncan's Multiple Range Test for variable:
General Linear Models Procedure JT*BNIH 0 0.00000000 . M10
. .
Dependent Variable: M10 NOTE: This test controls the type I
comparisonwise error rate, not the
Source DF Sum of Squares Mean experimentwise error rate
Square F Value Pr > F
The SAS System 23:27 Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 1.842806
Model 6 1551.41844175 Sunday, January 26, 1997 15 WARNING: Cell sizes are not equal.
258.56974029 140.31 0.0645 Harmonic Mean of cell sizes= 1.714286
General Linear Models Procedure
Error 1 1.84280625 Number of Means 2 3 4
1.84280625 Duncan's Multiple Range Test for variable: Critical Range 18.63 18.63 18.63
M10
Corrected Total 7 1553.26124800 Means with the same letter are not significantly
NOTE: This test controls the type I different.
R-Square C.V. Root MSE comparisonwise error rate, not the
M10 Mean experimentwise error rate Duncan Grouping Mean N
BNIH
0.998814 9.276977 Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 1.842806
1.35750000 14.63300000 WARNING: Cell sizes are not equal. A 21.493 2 b2
Harmonic Mean of cell sizes= 3 A
A 15.590 1 b5
Source DF Type I SS Mean Number of Means 2 A
Square F Value Pr > F Critical Range 14.08 A 15.471 3 b3
A
UL 3 504.48090900 Means with the same letter are not significantly A 6.039 2 b1
168.16030300 91.25 0.0768 different.
JT 1 298.26252300
298.26252300 161.85 0.0499 Duncan Grouping Mean N JT
BNIH 2 748.67500975
374.33750487 203.13 0.0496 A 16.852 6 j1 Level of Level of -------------M10-----------
JT*BNIH 0 0.00000000 . A --
. . A 7.978 2 j2 JT BNIH N Mean SD

Source DF Type III SS Mean j1 b1 2 6.0385000 2.4741666


Square F Value Pr > F j1 b2 1 42.6200000 .

35
j1 b3 3 15.4706667 Square F Value Pr > F
14.3097867
j2 b2 1 0.3650000 . UL 3 3059.30028442 The SAS System 23:27
j2 b5 1 15.5900000 . 1019.76676147 0.37 0.8016 Sunday, January 26, 1997 19
JT 1 185.85920000
The SAS System 23:27 185.85920000 0.07 0.8384 General Linear Models Procedure
Sunday, January 26, 1997 17 BNIH 3 3465.11300442
1155.03766814 0.42 0.7802 Duncan's Multiple Range Test for variable:
General Linear Models Procedure JT*BNIH 0 0.00000000 . M12
. .
Dependent Variable: M12 NOTE: This test controls the type I
comparisonwise error rate, not the
Source DF Sum of Squares Mean experimentwise error rate
Square F Value Pr > F
The SAS System 23:27 Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 2761.45
Model 7 6399.13228775 Sunday, January 26, 1997 18 WARNING: Cell sizes are not equal.
914.16175539 0.33 0.8742 Harmonic Mean of cell sizes= 1.846154
General Linear Models Procedure
Error 1 2761.44995025 Number of Means 2 3 4
2761.44995025 Duncan's Multiple Range Test for variable: Critical Range 695.0 695.0 695.0
M12
Corrected Total 8 9160.58223800 Means with the same letter are not significantly
NOTE: This test controls the type I different.
R-Square C.V. Root MSE comparisonwise error rate, not the
M12 Mean experimentwise error rate Duncan Grouping Mean N
BNIH
0.698551 284.6411 Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 2761.45
52.54950000 18.46166667 WARNING: Cell sizes are not equal. A 53.13 2 b1
Harmonic Mean of cell sizes= 4 A
A 11.59 1 b5
Source DF Type I SS Mean Number of Means 2 A
Square F Value Pr > F Critical Range 472.1 A 8.75 3 b2
A
UL 3 1689.71778125 Means with the same letter are not significantly A 7.35 3 b3
563.23926042 0.20 0.8863 different.
JT 1 1244.30150208
1244.30150208 0.45 0.6236 Duncan Grouping Mean N JT
BNIH 3 3465.11300442
1155.03766814 0.42 0.7802 A 24.93 6 j1 Level of Level of -------------M12-----------
JT*BNIH 0 0.00000000 . A --
. . A 5.52 3 j2 JT BNIH N Mean SD

Source DF Type III SS Mean j1 b1 2 53.1340000

36
74.5870375 General Linear Models Procedure JT*BNIH 1 595.37520027
j1 b2 1 21.2600000 . 595.37520027 1.55 0.4311
j1 b3 3 7.3523333 11.3358695 Dependent Variable: M2
j2 b2 2 2.4900000 0.7212489 The SAS System 23:27
j2 b5 1 11.5900000 . Source DF Sum of Squares Mean Sunday, January 26, 1997 22
Square F Value Pr > F
The SAS System 23:27 General Linear Models Procedure
Sunday, January 26, 1997 20 Model 7 1480.73929000
211.53418429 0.55 0.7806 Dependent Variable: M6
General Linear Models Procedure
Class Level Information Error 1 384.86592400 Source DF Sum of Squares Mean
384.86592400 Square F Value Pr > F
Class Levels Values
Corrected Total 8 1865.60521400 Model 7 46511.78251775
UL 4 1234 6644.54035968 0.36 0.8605
R-Square C.V. Root MSE
JT 2 j1 j2 M2 Mean Error 1 18463.51028025
18463.51028025
BNIH 4 b1 b2 b3 b5 0.793705 132.6018
19.61800000 14.79466667 Corrected Total 8 64975.29279800

Number of observations in data set = 22 R-Square C.V. Root MSE


Source DF Type I SS Mean M6 Mean
Square F Value Pr > F
Group Obs Dependent Variables 0.715838 314.0632
UL 3 102.59947433 135.88050000 43.26533333
1 9 M2 M6 M8 34.19982478 0.09 0.9561
JT 1 1.91284567
2 11 M4 1.91284567 0.00 0.9552 Source DF Type I SS Mean
BNIH 2 780.85176973 Square F Value Pr > F
3 8 M10 390.42588487 1.01 0.5746
JT*BNIH 1 595.37520027 UL 3 17285.32173458
4 9 M12 595.37520027 1.55 0.4311 5761.77391153 0.31 0.8286
JT 1 4290.83587883
Source DF Type III SS Mean 4290.83587883 0.23 0.7140
NOTE: Variables in each group are consistent with respect to Square F Value Pr > F BNIH 2 23732.71766419
the presence or absence of missing 11866.35883209 0.64 0.6615
values. UL 2 738.78540517 JT*BNIH 1 1202.90724015
369.39270258 0.96 0.5852 1202.90724015 0.07 0.8409
JT 1 176.00732827
The SAS System 23:27 176.00732827 0.46 0.6215 Source DF Type III SS Mean
Sunday, January 26, 1997 21 BNIH 2 925.97071579 Square F Value Pr > F
462.98535789 1.20 0.5419

37
UL 2 19681.84534692 JT*BNIH 1 163.34010015 A
9840.92267346 0.53 0.6957 163.34010015 0.15 0.7683 A 14.75 6 j1
JT 1 776.25418282
776.25418282 0.04 0.8713 Source DF Type III SS Mean
BNIH 2 24865.59993375 Square F Value Pr > F
12432.79996687 0.67 0.6528
JT*BNIH 1 1202.90724015 UL 2 1507.09896292 The SAS System 23:27
1202.90724015 0.07 0.8409 753.54948146 0.67 0.6539 Sunday, January 26, 1997 25
JT 1 2.08954682
The SAS System 23:27 2.08954682 0.00 0.9726 General Linear Models Procedure
Sunday, January 26, 1997 23 BNIH 2 1725.61391050
862.80695525 0.77 0.6283 Duncan's Multiple Range Test for variable:
General Linear Models Procedure JT*BNIH 1 163.34010015 M6
163.34010015 0.15 0.7683
Dependent Variable: M8 NOTE: This test controls the type I
comparisonwise error rate, not the
Source DF Sum of Squares Mean experimentwise error rate
Square F Value Pr > F
The SAS System 23:27 Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 18463.51
Model 7 3242.84168397 Sunday, January 26, 1997 24 WARNING: Cell sizes are not equal.
463.26309771 0.41 0.8370 Harmonic Mean of cell sizes= 4
General Linear Models Procedure
Error 1 1125.50185225 Number of Means 2
1125.50185225 Duncan's Multiple Range Test for variable: Critical Range 1221
M2
Corrected Total 8 4368.34353622 Means with the same letter are not significantly
NOTE: This test controls the type I different.
R-Square C.V. Root MSE comparisonwise error rate, not the
M8 Mean experimentwise error rate Duncan Grouping Mean N JT

0.742350 225.5142 Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 384.8659 A 55.15 6 j1


33.54850000 14.87644444 WARNING: Cell sizes are not equal. A
Harmonic Mean of cell sizes= 4 A 19.49 3 j2

Source DF Type I SS Mean Number of Means 2


Square F Value Pr > F Critical Range 176.3

UL 3 934.45837156 Means with the same letter are not significantly The SAS System 23:27
311.48612385 0.28 0.8465 different. Sunday, January 26, 1997 26
JT 1 422.19687537
422.19687537 0.38 0.6502 Duncan Grouping Mean N JT General Linear Models Procedure
BNIH 2 1722.84633689
861.42316845 0.77 0.6286 A 14.88 3 j2 Duncan's Multiple Range Test for variable:

38
M8 A 145.1 2 b1
Means with the same letter are not significantly A
NOTE: This test controls the type I different. A 19.8 1 b5
comparisonwise error rate, not the A
experimentwise error rate Duncan Grouping Mean N A 15.7 2 b2
BNIH A
Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 1125.502 A 12.0 4 b3
WARNING: Cell sizes are not equal. A 25.69 2 b1
Harmonic Mean of cell sizes= 4 A
A 13.27 4 b3
Number of Means 2 A
Critical Range 301.4 A 13.10 1 b5 The SAS System 23:27
A Sunday, January 26, 1997 29
Means with the same letter are not significantly A 7.79 2 b2
different. General Linear Models Procedure

Duncan Grouping Mean N JT Duncan's Multiple Range Test for variable:


M8
A 18.07 6 j1 The SAS System 23:27
A Sunday, January 26, 1997 28 NOTE: This test controls the type I
A 8.49 3 j2 comparisonwise error rate, not the
General Linear Models Procedure experimentwise error rate

Duncan's Multiple Range Test for variable: Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 1125.502
M6 WARNING: Cell sizes are not equal.
The SAS System 23:27 Harmonic Mean of cell sizes= 1.777778
Sunday, January 26, 1997 27 NOTE: This test controls the type I
comparisonwise error rate, not the Number of Means 2 3 4
General Linear Models Procedure experimentwise error rate Critical Range 452.1 452.1 452.1

Duncan's Multiple Range Test for variable: Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 18463.51 Means with the same letter are not significantly
M2 WARNING: Cell sizes are not equal. different.
Harmonic Mean of cell sizes= 1.777778
NOTE: This test controls the type I Duncan Grouping Mean N
comparisonwise error rate, not the Number of Means 2 3 4 BNIH
experimentwise error rate Critical Range 1831 1831 1831
A 37.36 2 b1
Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 384.8659 Means with the same letter are not significantly A
WARNING: Cell sizes are not equal. different. A 25.34 1 b5
Harmonic Mean of cell sizes= 1.777778 A
Duncan Grouping Mean N A 5.64 4 b3
Number of Means 2 3 4 BNIH A
Critical Range 264.4 264.4 264.4 A 5.62 2 b2

39
The SAS System 23:27
Model 8 67000.54090712 Sunday, January 26, 1997 31
8375.06761339 0.80 0.6621
General Linear Models Procedure
Level of Level of --------------M2------------- ------- Error 2 20880.34062507
-------M6------------- 10440.17031253 Duncan's Multiple Range Test for variable:
JT BNIH N Mean SD Mean M4
SD Corrected Total 10 87880.88153218
NOTE: This test controls the type I
j1 b1 2 25.6885000 32.8048049 R-Square C.V. Root MSE comparisonwise error rate, not the
145.114500 195.275316 M4 Mean experimentwise error rate
j1 b2 1 13.1800000 . 12.370000
. 0.762402 201.4602 Alpha= 0.05 df= 2 MSE= 10440.17
j1 b3 3 7.9803333 4.8731973 102.17715162 50.71827273 WARNING: Cell sizes are not equal.
9.436667 2.540341 Harmonic Mean of cell sizes= 5.090909
j2 b2 1 2.4000000 . 18.975000
. Source DF Type I SS Mean Number of Means 2
j2 b3 1 29.1540000 . 19.752000 Square F Value Pr > F Critical Range 275.6
.
j2 b5 1 13.1000000 . 19.752000 UL 3 22803.70686052 Means with the same letter are not significantly
. 7601.23562017 0.73 0.6228 different.
JT 1 8257.68670305
Level of Level of --------------M8----------- 8257.68670305 0.79 0.4676 Duncan Grouping Mean N JT
-- BNIH 3 35439.74718351
JT BNIH N Mean SD 11813.24906117 1.13 0.5008 A 71.95 7 j1
JT*BNIH 1 499.40016003 A
j1 b1 2 37.3635000 499.40016003 0.05 0.8472 A 13.56 4 j2
50.9420938
j1 b2 1 11.1100000 . Source DF Type III SS Mean
j1 b3 3 7.5253333 4.3303516 Square F Value Pr > F
j2 b2 1 0.1350000 .
j2 b3 1 0.0000000 . UL 3 15643.41534610 The SAS System 23:27
j2 b5 1 25.3400000 . 5214.47178203 0.50 0.7197 Sunday, January 26, 1997 32
JT 1 2234.69611210
The SAS System 23:27 2234.69611210 0.21 0.6891 General Linear Models Procedure
Sunday, January 26, 1997 30 BNIH 3 34718.66375367
11572.88791789 1.11 0.5065 Duncan's Multiple Range Test for variable:
General Linear Models Procedure JT*BNIH 1 499.40016003 M4
499.40016003 0.05 0.8472
Dependent Variable: M4 NOTE: This test controls the type I
comparisonwise error rate, not the
Source DF Sum of Squares Mean experimentwise error rate
Square F Value Pr > F

40
Alpha= 0.05 df= 2 MSE= 10440.17 Source DF Sum of Squares Mean
WARNING: Cell sizes are not equal. Square F Value Pr > F
Harmonic Mean of cell sizes= 2.526316 The SAS System 23:27
Model 6 1551.41844175 Sunday, January 26, 1997 34
Number of Means 2 3 4 258.56974029 140.31 0.0645
Critical Range 391.2 391.2 391.2 General Linear Models Procedure
Error 1 1.84280625
Means with the same letter are not significantly 1.84280625 Duncan's Multiple Range Test for variable:
different. M10
Corrected Total 7 1553.26124800
Duncan Grouping Mean N NOTE: This test controls the type I
BNIH R-Square C.V. Root MSE comparisonwise error rate, not the
M10 Mean experimentwise error rate
A 194.51 2 b1
A 0.998814 9.276977 Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 1.842806
A 22.54 3 b2 1.35750000 14.63300000 WARNING: Cell sizes are not equal.
A Harmonic Mean of cell sizes= 3
A 18.67 4 b3
A Source DF Type I SS Mean Number of Means 2
A 13.30 2 b5 Square F Value Pr > F Critical Range 14.08

UL 3 504.48090900 Means with the same letter are not significantly


168.16030300 91.25 0.0768 different.
JT 1 298.26252300
Level of Level of --------------M4----------- 298.26252300 161.85 0.0499 Duncan Grouping Mean N JT
-- BNIH 2 748.67500975
JT BNIH N Mean SD 374.33750487 203.13 0.0496 A 16.852 6 j1
JT*BNIH 0 0.00000000 . A
j1 b1 2 194.510000 . . A 7.978 2 j2
184.816499
j1 b2 2 32.903500 46.070128 Source DF Type III SS Mean
j1 b3 3 16.283333 10.701304 Square F Value Pr > F
j2 b2 1 1.800000 .
j2 b3 1 25.824000 . UL 2 413.81868292 The SAS System 23:27
j2 b5 2 13.300000 3.889087 206.90934146 112.28 0.0666 Sunday, January 26, 1997 35
JT 1 892.74251250
The SAS System 23:27 892.74251250 484.45 0.0289 General Linear Models Procedure
Sunday, January 26, 1997 33 BNIH 2 748.67500975
374.33750487 203.13 0.0496 Duncan's Multiple Range Test for variable:
General Linear Models Procedure JT*BNIH 0 0.00000000 . M10
. .
Dependent Variable: M10 NOTE: This test controls the type I
comparisonwise error rate, not the

41
experimentwise error rate
Source DF Sum of Squares Mean
Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 1.842806 Square F Value Pr > F
WARNING: Cell sizes are not equal. The SAS System 23:27
Harmonic Mean of cell sizes= 1.714286 Model 7 6399.13228775 Sunday, January 26, 1997 37
914.16175539 0.33 0.8742
Number of Means 2 3 4 General Linear Models Procedure
Critical Range 18.63 18.63 18.63 Error 1 2761.44995025
2761.44995025 Duncan's Multiple Range Test for variable:
Means with the same letter are not significantly M12
different. Corrected Total 8 9160.58223800
NOTE: This test controls the type I
Duncan Grouping Mean N R-Square C.V. Root MSE comparisonwise error rate, not the
BNIH M12 Mean experimentwise error rate

A 21.493 2 b2 0.698551 284.6411 Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 2761.45


A 52.54950000 18.46166667 WARNING: Cell sizes are not equal.
A 15.590 1 b5 Harmonic Mean of cell sizes= 4
A
A 15.471 3 b3 Source DF Type I SS Mean Number of Means 2
A Square F Value Pr > F Critical Range 472.1
A 6.039 2 b1
UL 3 1689.71778125 Means with the same letter are not significantly
563.23926042 0.20 0.8863 different.
JT 1 1244.30150208
1244.30150208 0.45 0.6236 Duncan Grouping Mean N JT
Level of Level of -------------M10----------- BNIH 3 3465.11300442
-- 1155.03766814 0.42 0.7802 A 24.93 6 j1
JT BNIH N Mean SD JT*BNIH 0 0.00000000 . A
. . A 5.52 3 j2
j1 b1 2 6.0385000 2.4741666
j1 b2 1 42.6200000 . Source DF Type III SS Mean
j1 b3 3 15.4706667 Square F Value Pr > F
14.3097867
j2 b2 1 0.3650000 . UL 3 3059.30028442 The SAS System 23:27
j2 b5 1 15.5900000 . 1019.76676147 0.37 0.8016 Sunday, January 26, 1997 38
JT 1 185.85920000
The SAS System 23:27 185.85920000 0.07 0.8384 General Linear Models Procedure
Sunday, January 26, 1997 36 BNIH 3 3465.11300442
1155.03766814 0.42 0.7802 Duncan's Multiple Range Test for variable:
General Linear Models Procedure JT*BNIH 0 0.00000000 . M12
. .
Dependent Variable: M12 NOTE: This test controls the type I

42
comparisonwise error rate, not the 384.86592400
experimentwise error rate Class Levels Values
Corrected Total 8 1865.60521400
Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 2761.45 UL 4 1234
WARNING: Cell sizes are not equal. R-Square C.V. Root MSE
Harmonic Mean of cell sizes= 1.846154 JT 2 j1 j2 M2 Mean

Number of Means 2 3 4 BNIH 4 b1 b2 b3 b5 0.793705 132.6018


Critical Range 695.0 695.0 695.0 19.61800000 14.79466667

Means with the same letter are not significantly Number of observations in data set = 22
different. Source DF Type I SS Mean
Square F Value Pr > F
Duncan Grouping Mean N Group Obs Dependent Variables
BNIH UL 3 102.59947433
1 9 M2 M6 M8 34.19982478 0.09 0.9561
A 53.13 2 b1 JT 1 1.91284567
A 2 11 M4 1.91284567 0.00 0.9552
A 11.59 1 b5 BNIH 2 780.85176973
A 3 8 M10 390.42588487 1.01 0.5746
A 8.75 3 b2 JT*BNIH 1 595.37520027
A 4 9 M12 595.37520027 1.55 0.4311
A 7.35 3 b3
Source DF Type III SS Mean
NOTE: Variables in each group are consistent with respect to Square F Value Pr > F
the presence or absence of missing
values. UL 2 738.78540517
Level of Level of -------------M12----------- 369.39270258 0.96 0.5852
-- JT 1 176.00732827
JT BNIH N Mean SD The SAS System 23:27 176.00732827 0.46 0.6215
Sunday, January 26, 1997 40 BNIH 2 925.97071579
j1 b1 2 53.1340000 462.98535789 1.20 0.5419
74.5870375 General Linear Models Procedure JT*BNIH 1 595.37520027
j1 b2 1 21.2600000 . 595.37520027 1.55 0.4311
j1 b3 3 7.3523333 11.3358695 Dependent Variable: M2
j2 b2 2 2.4900000 0.7212489 The SAS System 23:27
j2 b5 1 11.5900000 . Source DF Sum of Squares Mean Sunday, January 26, 1997 41
Square F Value Pr > F
The SAS System 23:27 General Linear Models Procedure
Sunday, January 26, 1997 39 Model 7 1480.73929000
211.53418429 0.55 0.7806 Dependent Variable: M6
General Linear Models Procedure
Class Level Information Error 1 384.86592400 Source DF Sum of Squares Mean

43
Square F Value Pr > F 862.80695525 0.77 0.6283
General Linear Models Procedure JT*BNIH 1 163.34010015
Model 7 46511.78251775 163.34010015 0.15 0.7683
6644.54035968 0.36 0.8605 Dependent Variable: M8

Error 1 18463.51028025 Source DF Sum of Squares Mean


18463.51028025 Square F Value Pr > F
The SAS System 23:27
Corrected Total 8 64975.29279800 Model 7 3242.84168397 Sunday, January 26, 1997 43
463.26309771 0.41 0.8370
R-Square C.V. Root MSE General Linear Models Procedure
M6 Mean Error 1 1125.50185225
1125.50185225 Duncan's Multiple Range Test for variable:
0.715838 314.0632 M2
135.88050000 43.26533333 Corrected Total 8 4368.34353622
NOTE: This test controls the type I
R-Square C.V. Root MSE comparisonwise error rate, not the
Source DF Type I SS Mean M8 Mean experimentwise error rate
Square F Value Pr > F
0.742350 225.5142 Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 384.8659
UL 3 17285.32173458 33.54850000 14.87644444 WARNING: Cell sizes are not equal.
5761.77391153 0.31 0.8286 Harmonic Mean of cell sizes= 4
JT 1 4290.83587883
4290.83587883 0.23 0.7140 Source DF Type I SS Mean Number of Means 2
BNIH 2 23732.71766419 Square F Value Pr > F Critical Range 176.3
11866.35883209 0.64 0.6615
JT*BNIH 1 1202.90724015 UL 3 934.45837156 Means with the same letter are not significantly
1202.90724015 0.07 0.8409 311.48612385 0.28 0.8465 different.
JT 1 422.19687537
Source DF Type III SS Mean 422.19687537 0.38 0.6502 Duncan Grouping Mean N JT
Square F Value Pr > F BNIH 2 1722.84633689
861.42316845 0.77 0.6286 A 14.88 3 j2
UL 2 19681.84534692 JT*BNIH 1 163.34010015 A
9840.92267346 0.53 0.6957 163.34010015 0.15 0.7683 A 14.75 6 j1
JT 1 776.25418282
776.25418282 0.04 0.8713 Source DF Type III SS Mean
BNIH 2 24865.59993375 Square F Value Pr > F
12432.79996687 0.67 0.6528
JT*BNIH 1 1202.90724015 UL 2 1507.09896292 The SAS System 23:27
1202.90724015 0.07 0.8409 753.54948146 0.67 0.6539 Sunday, January 26, 1997 44
JT 1 2.08954682
The SAS System 23:27 2.08954682 0.00 0.9726 General Linear Models Procedure
Sunday, January 26, 1997 42 BNIH 2 1725.61391050

44
Duncan's Multiple Range Test for variable: Critical Range 301.4 A 13.10 1 b5
M6 A
Means with the same letter are not significantly A 7.79 2 b2
NOTE: This test controls the type I different.
comparisonwise error rate, not the
experimentwise error rate Duncan Grouping Mean N JT

Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 18463.51 A 18.07 6 j1 The SAS System 23:27
WARNING: Cell sizes are not equal. A Sunday, January 26, 1997 47
Harmonic Mean of cell sizes= 4 A 8.49 3 j2
General Linear Models Procedure
Number of Means 2
Critical Range 1221 Duncan's Multiple Range Test for variable:
M6
Means with the same letter are not significantly The SAS System 23:27
different. Sunday, January 26, 1997 46 NOTE: This test controls the type I
comparisonwise error rate, not the
Duncan Grouping Mean N JT General Linear Models Procedure experimentwise error rate

A 55.15 6 j1 Duncan's Multiple Range Test for variable: Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 18463.51
A M2 WARNING: Cell sizes are not equal.
A 19.49 3 j2 Harmonic Mean of cell sizes= 1.777778
NOTE: This test controls the type I
comparisonwise error rate, not the Number of Means 2 3 4
experimentwise error rate Critical Range 1831 1831 1831

The SAS System 23:27 Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 384.8659 Means with the same letter are not significantly
Sunday, January 26, 1997 45 WARNING: Cell sizes are not equal. different.
Harmonic Mean of cell sizes= 1.777778
General Linear Models Procedure Duncan Grouping Mean N
Number of Means 2 3 4 BNIH
Duncan's Multiple Range Test for variable: Critical Range 264.4 264.4 264.4
M8 A 145.1 2 b1
Means with the same letter are not significantly A
NOTE: This test controls the type I different. A 19.8 1 b5
comparisonwise error rate, not the A
experimentwise error rate Duncan Grouping Mean N A 15.7 2 b2
BNIH A
Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 1125.502 A 12.0 4 b3
WARNING: Cell sizes are not equal. A 25.69 2 b1
Harmonic Mean of cell sizes= 4 A
A 13.27 4 b3
Number of Means 2 A

45
The SAS System 23:27 j1 b2 1 13.1800000 . 12.370000
Sunday, January 26, 1997 48 . 0.762402 201.4602
j1 b3 3 7.9803333 4.8731973 102.17715162 50.71827273
General Linear Models Procedure 9.436667 2.540341
j2 b2 1 2.4000000 . 18.975000
Duncan's Multiple Range Test for variable: . Source DF Type I SS Mean
M8 j2 b3 1 29.1540000 . 19.752000 Square F Value Pr > F
.
NOTE: This test controls the type I j2 b5 1 13.1000000 . 19.752000 UL 3 22803.70686052
comparisonwise error rate, not the . 7601.23562017 0.73 0.6228
experimentwise error rate JT 1 8257.68670305
Level of Level of --------------M8----------- 8257.68670305 0.79 0.4676
Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 1125.502 -- BNIH 3 35439.74718351
WARNING: Cell sizes are not equal. JT BNIH N Mean SD 11813.24906117 1.13 0.5008
Harmonic Mean of cell sizes= 1.777778 JT*BNIH 1 499.40016003
j1 b1 2 37.3635000 499.40016003 0.05 0.8472
Number of Means 2 3 4 50.9420938
Critical Range 452.1 452.1 452.1 j1 b2 1 11.1100000 . Source DF Type III SS Mean
j1 b3 3 7.5253333 4.3303516 Square F Value Pr > F
Means with the same letter are not significantly j2 b2 1 0.1350000 .
different. j2 b3 1 0.0000000 . UL 3 15643.41534610
j2 b5 1 25.3400000 . 5214.47178203 0.50 0.7197
Duncan Grouping Mean N JT 1 2234.69611210
BNIH The SAS System 23:27 2234.69611210 0.21 0.6891
Sunday, January 26, 1997 49 BNIH 3 34718.66375367
A 37.36 2 b1 11572.88791789 1.11 0.5065
A General Linear Models Procedure JT*BNIH 1 499.40016003
A 25.34 1 b5 499.40016003 0.05 0.8472
A Dependent Variable: M4
A 5.64 4 b3
A Source DF Sum of Squares Mean
A 5.62 2 b2 Square F Value Pr > F
The SAS System 23:27
Model 8 67000.54090712 Sunday, January 26, 1997 50
8375.06761339 0.80 0.6621
General Linear Models Procedure
Level of Level of --------------M2------------- ------- Error 2 20880.34062507
-------M6------------- 10440.17031253 Duncan's Multiple Range Test for variable:
JT BNIH N Mean SD Mean M4
SD Corrected Total 10 87880.88153218
NOTE: This test controls the type I
j1 b1 2 25.6885000 32.8048049 R-Square C.V. Root MSE comparisonwise error rate, not the
145.114500 195.275316 M4 Mean experimentwise error rate

46
BNIH R-Square C.V. Root MSE
Alpha= 0.05 df= 2 MSE= 10440.17 M10 Mean
WARNING: Cell sizes are not equal. A 194.51 2 b1
Harmonic Mean of cell sizes= 5.090909 A 0.998814 9.276977
A 22.54 3 b2 1.35750000 14.63300000
Number of Means 2 A
Critical Range 275.6 A 18.67 4 b3
A Source DF Type I SS Mean
Means with the same letter are not significantly A 13.30 2 b5 Square F Value Pr > F
different.
UL 3 504.48090900
Duncan Grouping Mean N JT 168.16030300 91.25 0.0768
JT 1 298.26252300
A 71.95 7 j1 Level of Level of --------------M4----------- 298.26252300 161.85 0.0499
A -- BNIH 2 748.67500975
A 13.56 4 j2 JT BNIH N Mean SD 374.33750487 203.13 0.0496
JT*BNIH 0 0.00000000 .
j1 b1 2 194.510000 . .
184.816499
j1 b2 2 32.903500 46.070128 Source DF Type III SS Mean
The SAS System 23:27 j1 b3 3 16.283333 10.701304 Square F Value Pr > F
Sunday, January 26, 1997 51 j2 b2 1 1.800000 .
j2 b3 1 25.824000 . UL 2 413.81868292
General Linear Models Procedure j2 b5 2 13.300000 3.889087 206.90934146 112.28 0.0666
JT 1 892.74251250
Duncan's Multiple Range Test for variable: The SAS System 23:27 892.74251250 484.45 0.0289
M4 Sunday, January 26, 1997 52 BNIH 2 748.67500975
374.33750487 203.13 0.0496
NOTE: This test controls the type I General Linear Models Procedure JT*BNIH 0 0.00000000 .
comparisonwise error rate, not the . .
experimentwise error rate Dependent Variable: M10

Alpha= 0.05 df= 2 MSE= 10440.17 Source DF Sum of Squares Mean


WARNING: Cell sizes are not equal. Square F Value Pr > F
Harmonic Mean of cell sizes= 2.526316 The SAS System 23:27
Model 6 1551.41844175 Sunday, January 26, 1997 53
Number of Means 2 3 4 258.56974029 140.31 0.0645
Critical Range 391.2 391.2 391.2 General Linear Models Procedure
Error 1 1.84280625
Means with the same letter are not significantly 1.84280625 Duncan's Multiple Range Test for variable:
different. M10
Corrected Total 7 1553.26124800
Duncan Grouping Mean N NOTE: This test controls the type I

47
comparisonwise error rate, not the
experimentwise error rate Duncan Grouping Mean N R-Square C.V. Root MSE
BNIH M12 Mean
Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 1.842806
WARNING: Cell sizes are not equal. A 21.493 2 b2 0.698551 284.6411
Harmonic Mean of cell sizes= 3 A 52.54950000 18.46166667
A 15.590 1 b5
Number of Means 2 A
Critical Range 14.08 A 15.471 3 b3 Source DF Type I SS Mean
A Square F Value Pr > F
Means with the same letter are not significantly A 6.039 2 b1
different. UL 3 1689.71778125
563.23926042 0.20 0.8863
Duncan Grouping Mean N JT JT 1 1244.30150208
1244.30150208 0.45 0.6236
A 16.852 6 j1 Level of Level of -------------M10----------- BNIH 3 3465.11300442
A -- 1155.03766814 0.42 0.7802
A 7.978 2 j2 JT BNIH N Mean SD JT*BNIH 0 0.00000000 .
. .
j1 b1 2 6.0385000 2.4741666
j1 b2 1 42.6200000 . Source DF Type III SS Mean
j1 b3 3 15.4706667 Square F Value Pr > F
The SAS System 23:27 14.3097867
Sunday, January 26, 1997 54 j2 b2 1 0.3650000 . UL 3 3059.30028442
j2 b5 1 15.5900000 . 1019.76676147 0.37 0.8016
General Linear Models Procedure JT 1 185.85920000
The SAS System 23:27 185.85920000 0.07 0.8384
Duncan's Multiple Range Test for variable: Sunday, January 26, 1997 55 BNIH 3 3465.11300442
M10 1155.03766814 0.42 0.7802
General Linear Models Procedure JT*BNIH 0 0.00000000 .
NOTE: This test controls the type I . .
comparisonwise error rate, not the Dependent Variable: M12
experimentwise error rate
Source DF Sum of Squares Mean
Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 1.842806 Square F Value Pr > F
WARNING: Cell sizes are not equal. The SAS System 23:27
Harmonic Mean of cell sizes= 1.714286 Model 7 6399.13228775 Sunday, January 26, 1997 56
914.16175539 0.33 0.8742
Number of Means 2 3 4 General Linear Models Procedure
Critical Range 18.63 18.63 18.63 Error 1 2761.44995025
2761.44995025 Duncan's Multiple Range Test for variable:
Means with the same letter are not significantly M12
different. Corrected Total 8 9160.58223800

48
NOTE: This test controls the type I different.
comparisonwise error rate, not the
experimentwise error rate Duncan Grouping Mean N Group Obs Dependent Variables
BNIH
Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 2761.45 1 9 M2 M6 M8
WARNING: Cell sizes are not equal. A 53.13 2 b1
Harmonic Mean of cell sizes= 4 A 2 11 M4
A 11.59 1 b5
Number of Means 2 A 3 8 M10
Critical Range 472.1 A 8.75 3 b2
A 4 9 M12
Means with the same letter are not significantly A 7.35 3 b3
different.
NOTE: Variables in each group are consistent with respect to
Duncan Grouping Mean N JT the presence or absence of missing
values.
A 24.93 6 j1 Level of Level of -------------M12-----------
A --
A 5.52 3 j2 JT BNIH N Mean SD The SAS System 23:27
Sunday, January 26, 1997 59
j1 b1 2 53.1340000
74.5870375 General Linear Models Procedure
j1 b2 1 21.2600000 .
The SAS System 23:27 j1 b3 3 7.3523333 11.3358695 Dependent Variable: M2
Sunday, January 26, 1997 57 j2 b2 2 2.4900000 0.7212489
j2 b5 1 11.5900000 . Source DF Sum of Squares Mean
General Linear Models Procedure Square F Value Pr > F
The SAS System 23:27
Duncan's Multiple Range Test for variable: Sunday, January 26, 1997 58 Model 7 1480.73929000
M12 211.53418429 0.55 0.7806
General Linear Models Procedure
NOTE: This test controls the type I Class Level Information Error 1 384.86592400
comparisonwise error rate, not the 384.86592400
experimentwise error rate Class Levels Values
Corrected Total 8 1865.60521400
Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 2761.45 UL 4 1234
WARNING: Cell sizes are not equal. R-Square C.V. Root MSE
Harmonic Mean of cell sizes= 1.846154 JT 2 j1 j2 M2 Mean

Number of Means 2 3 4 BNIH 4 b1 b2 b3 b5 0.793705 132.6018


Critical Range 695.0 695.0 695.0 19.61800000 14.79466667

Means with the same letter are not significantly Number of observations in data set = 22

49
Source DF Type I SS Mean M6 Mean Error 1 1125.50185225
Square F Value Pr > F 1125.50185225
0.715838 314.0632
UL 3 102.59947433 135.88050000 43.26533333 Corrected Total 8 4368.34353622
34.19982478 0.09 0.9561
JT 1 1.91284567 R-Square C.V. Root MSE
1.91284567 0.00 0.9552 Source DF Type I SS Mean M8 Mean
BNIH 2 780.85176973 Square F Value Pr > F
390.42588487 1.01 0.5746 0.742350 225.5142
JT*BNIH 1 595.37520027 UL 3 17285.32173458 33.54850000 14.87644444
595.37520027 1.55 0.4311 5761.77391153 0.31 0.8286
JT 1 4290.83587883
Source DF Type III SS Mean 4290.83587883 0.23 0.7140 Source DF Type I SS Mean
Square F Value Pr > F BNIH 2 23732.71766419 Square F Value Pr > F
11866.35883209 0.64 0.6615
UL 2 738.78540517 JT*BNIH 1 1202.90724015 UL 3 934.45837156
369.39270258 0.96 0.5852 1202.90724015 0.07 0.8409 311.48612385 0.28 0.8465
JT 1 176.00732827 JT 1 422.19687537
176.00732827 0.46 0.6215 Source DF Type III SS Mean 422.19687537 0.38 0.6502
BNIH 2 925.97071579 Square F Value Pr > F BNIH 2 1722.84633689
462.98535789 1.20 0.5419 861.42316845 0.77 0.6286
JT*BNIH 1 595.37520027 UL 2 19681.84534692 JT*BNIH 1 163.34010015
595.37520027 1.55 0.4311 9840.92267346 0.53 0.6957 163.34010015 0.15 0.7683
JT 1 776.25418282
The SAS System 23:27 776.25418282 0.04 0.8713 Source DF Type III SS Mean
Sunday, January 26, 1997 60 BNIH 2 24865.59993375 Square F Value Pr > F
12432.79996687 0.67 0.6528
General Linear Models Procedure JT*BNIH 1 1202.90724015 UL 2 1507.09896292
1202.90724015 0.07 0.8409 753.54948146 0.67 0.6539
Dependent Variable: M6 JT 1 2.08954682
The SAS System 23:27 2.08954682 0.00 0.9726
Source DF Sum of Squares Mean Sunday, January 26, 1997 61 BNIH 2 1725.61391050
Square F Value Pr > F 862.80695525 0.77 0.6283
General Linear Models Procedure JT*BNIH 1 163.34010015
Model 7 46511.78251775 163.34010015 0.15 0.7683
6644.54035968 0.36 0.8605 Dependent Variable: M8

Error 1 18463.51028025 Source DF Sum of Squares Mean


18463.51028025 Square F Value Pr > F
The SAS System 23:27
Corrected Total 8 64975.29279800 Model 7 3242.84168397 Sunday, January 26, 1997 62
463.26309771 0.41 0.8370
R-Square C.V. Root MSE General Linear Models Procedure

50
Number of Means 2
Duncan's Multiple Range Test for variable: Critical Range 1221
M2
Means with the same letter are not significantly The SAS System 23:27
NOTE: This test controls the type I different. Sunday, January 26, 1997 65
comparisonwise error rate, not the
experimentwise error rate Duncan Grouping Mean N JT General Linear Models Procedure

Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 384.8659 A 55.15 6 j1 Duncan's Multiple Range Test for variable:
WARNING: Cell sizes are not equal. A M2
Harmonic Mean of cell sizes= 4 A 19.49 3 j2
NOTE: This test controls the type I
Number of Means 2 comparisonwise error rate, not the
Critical Range 176.3 experimentwise error rate

Means with the same letter are not significantly The SAS System 23:27 Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 384.8659
different. Sunday, January 26, 1997 64 WARNING: Cell sizes are not equal.
Harmonic Mean of cell sizes= 1.777778
Duncan Grouping Mean N JT General Linear Models Procedure
Number of Means 2 3 4
A 14.88 3 j2 Duncan's Multiple Range Test for variable: Critical Range 264.4 264.4 264.4
A M8
A 14.75 6 j1 Means with the same letter are not significantly
NOTE: This test controls the type I different.
comparisonwise error rate, not the
experimentwise error rate Duncan Grouping Mean N
BNIH
The SAS System 23:27 Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 1125.502
Sunday, January 26, 1997 63 WARNING: Cell sizes are not equal. A 25.69 2 b1
Harmonic Mean of cell sizes= 4 A
General Linear Models Procedure A 13.27 4 b3
Number of Means 2 A
Duncan's Multiple Range Test for variable: Critical Range 301.4 A 13.10 1 b5
M6 A
Means with the same letter are not significantly A 7.79 2 b2
NOTE: This test controls the type I different.
comparisonwise error rate, not the
experimentwise error rate Duncan Grouping Mean N JT

Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 18463.51 A 18.07 6 j1 The SAS System 23:27
WARNING: Cell sizes are not equal. A Sunday, January 26, 1997 66
Harmonic Mean of cell sizes= 4 A 8.49 3 j2
General Linear Models Procedure

51
Level of Level of --------------M8-----------
Duncan's Multiple Range Test for variable: Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 1125.502 --
M6 WARNING: Cell sizes are not equal. JT BNIH N Mean SD
Harmonic Mean of cell sizes= 1.777778
NOTE: This test controls the type I j1 b1 2 37.3635000
comparisonwise error rate, not the Number of Means 2 3 4 50.9420938
experimentwise error rate Critical Range 452.1 452.1 452.1 j1 b2 1 11.1100000 .
j1 b3 3 7.5253333 4.3303516
Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 18463.51 Means with the same letter are not significantly j2 b2 1 0.1350000 .
WARNING: Cell sizes are not equal. different. j2 b3 1 0.0000000 .
Harmonic Mean of cell sizes= 1.777778 j2 b5 1 25.3400000 .
Duncan Grouping Mean N
Number of Means 2 3 4 BNIH The SAS System 23:27
Critical Range 1831 1831 1831 Sunday, January 26, 1997 68
A 37.36 2 b1
Means with the same letter are not significantly A General Linear Models Procedure
different. A 25.34 1 b5
A Dependent Variable: M4
Duncan Grouping Mean N A 5.64 4 b3
BNIH A Source DF Sum of Squares Mean
A 5.62 2 b2 Square F Value Pr > F
A 145.1 2 b1
A Model 8 67000.54090712
A 19.8 1 b5 8375.06761339 0.80 0.6621
A
A 15.7 2 b2 Level of Level of --------------M2------------- ------- Error 2 20880.34062507
A -------M6------------- 10440.17031253
A 12.0 4 b3 JT BNIH N Mean SD Mean
SD Corrected Total 10 87880.88153218

j1 b1 2 25.6885000 32.8048049 R-Square C.V. Root MSE


145.114500 195.275316 M4 Mean
The SAS System 23:27 j1 b2 1 13.1800000 . 12.370000
Sunday, January 26, 1997 67 . 0.762402 201.4602
j1 b3 3 7.9803333 4.8731973 102.17715162 50.71827273
General Linear Models Procedure 9.436667 2.540341
j2 b2 1 2.4000000 . 18.975000
Duncan's Multiple Range Test for variable: . Source DF Type I SS Mean
M8 j2 b3 1 29.1540000 . 19.752000 Square F Value Pr > F
.
NOTE: This test controls the type I j2 b5 1 13.1000000 . 19.752000 UL 3 22803.70686052
comparisonwise error rate, not the . 7601.23562017 0.73 0.6228
experimentwise error rate JT 1 8257.68670305

52
8257.68670305 0.79 0.4676 Duncan Grouping Mean N JT
BNIH 3 35439.74718351
11813.24906117 1.13 0.5008 A 71.95 7 j1 Level of Level of --------------M4-----------
JT*BNIH 1 499.40016003 A --
499.40016003 0.05 0.8472 A 13.56 4 j2 JT BNIH N Mean SD

Source DF Type III SS Mean j1 b1 2 194.510000


Square F Value Pr > F 184.816499
j1 b2 2 32.903500 46.070128
UL 3 15643.41534610 The SAS System 23:27 j1 b3 3 16.283333 10.701304
5214.47178203 0.50 0.7197 Sunday, January 26, 1997 70 j2 b2 1 1.800000 .
JT 1 2234.69611210 j2 b3 1 25.824000 .
2234.69611210 0.21 0.6891 General Linear Models Procedure j2 b5 2 13.300000 3.889087
BNIH 3 34718.66375367
11572.88791789 1.11 0.5065 Duncan's Multiple Range Test for variable: The SAS System 23:27
JT*BNIH 1 499.40016003 M4 Sunday, January 26, 1997 71
499.40016003 0.05 0.8472
NOTE: This test controls the type I General Linear Models Procedure
comparisonwise error rate, not the
experimentwise error rate Dependent Variable: M10

The SAS System 23:27 Alpha= 0.05 df= 2 MSE= 10440.17 Source DF Sum of Squares Mean
Sunday, January 26, 1997 69 WARNING: Cell sizes are not equal. Square F Value Pr > F
Harmonic Mean of cell sizes= 2.526316
General Linear Models Procedure Model 6 1551.41844175
Number of Means 2 3 4 258.56974029 140.31 0.0645
Duncan's Multiple Range Test for variable: Critical Range 391.2 391.2 391.2
M4 Error 1 1.84280625
Means with the same letter are not significantly 1.84280625
NOTE: This test controls the type I different.
comparisonwise error rate, not the Corrected Total 7 1553.26124800
experimentwise error rate Duncan Grouping Mean N
BNIH R-Square C.V. Root MSE
Alpha= 0.05 df= 2 MSE= 10440.17 M10 Mean
WARNING: Cell sizes are not equal. A 194.51 2 b1
Harmonic Mean of cell sizes= 5.090909 A 0.998814 9.276977
A 22.54 3 b2 1.35750000 14.63300000
Number of Means 2 A
Critical Range 275.6 A 18.67 4 b3
A Source DF Type I SS Mean
Means with the same letter are not significantly A 13.30 2 b5 Square F Value Pr > F
different.
UL 3 504.48090900

53
168.16030300 91.25 0.0768 different.
JT 1 298.26252300
298.26252300 161.85 0.0499 Duncan Grouping Mean N JT
BNIH 2 748.67500975
374.33750487 203.13 0.0496 A 16.852 6 j1 Level of Level of -------------M10-----------
JT*BNIH 0 0.00000000 . A --
. . A 7.978 2 j2 JT BNIH N Mean SD

Source DF Type III SS Mean j1 b1 2 6.0385000 2.4741666


Square F Value Pr > F j1 b2 1 42.6200000 .
j1 b3 3 15.4706667
UL 2 413.81868292 The SAS System 23:27 14.3097867
206.90934146 112.28 0.0666 Sunday, January 26, 1997 73 j2 b2 1 0.3650000 .
JT 1 892.74251250 j2 b5 1 15.5900000 .
892.74251250 484.45 0.0289 General Linear Models Procedure
BNIH 2 748.67500975 The SAS System 23:27
374.33750487 203.13 0.0496 Duncan's Multiple Range Test for variable: Sunday, January 26, 1997 74
JT*BNIH 0 0.00000000 . M10
. . General Linear Models Procedure
NOTE: This test controls the type I
comparisonwise error rate, not the Dependent Variable: M12
experimentwise error rate
Source DF Sum of Squares Mean
The SAS System 23:27 Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 1.842806 Square F Value Pr > F
Sunday, January 26, 1997 72 WARNING: Cell sizes are not equal.
Harmonic Mean of cell sizes= 1.714286 Model 7 6399.13228775
General Linear Models Procedure 914.16175539 0.33 0.8742
Number of Means 2 3 4
Duncan's Multiple Range Test for variable: Critical Range 18.63 18.63 18.63 Error 1 2761.44995025
M10 2761.44995025
Means with the same letter are not significantly
NOTE: This test controls the type I different. Corrected Total 8 9160.58223800
comparisonwise error rate, not the
experimentwise error rate Duncan Grouping Mean N R-Square C.V. Root MSE
BNIH M12 Mean
Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 1.842806
WARNING: Cell sizes are not equal. A 21.493 2 b2 0.698551 284.6411
Harmonic Mean of cell sizes= 3 A 52.54950000 18.46166667
A 15.590 1 b5
Number of Means 2 A
Critical Range 14.08 A 15.471 3 b3 Source DF Type I SS Mean
A Square F Value Pr > F
Means with the same letter are not significantly A 6.039 2 b1

54
UL 3 1689.71778125 experimentwise error rate WARNING: Cell sizes are not equal.
563.23926042 0.20 0.8863 Harmonic Mean of cell sizes= 1.846154
JT 1 1244.30150208 Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 2761.45
1244.30150208 0.45 0.6236 WARNING: Cell sizes are not equal. Number of Means 2 3 4
BNIH 3 3465.11300442 Harmonic Mean of cell sizes= 4 Critical Range 695.0 695.0 695.0
1155.03766814 0.42 0.7802
JT*BNIH 0 0.00000000 . Number of Means 2 Means with the same letter are not significantly
. . Critical Range 472.1 different.

Source DF Type III SS Mean Means with the same letter are not significantly Duncan Grouping Mean N
Square F Value Pr > F different. BNIH

UL 3 3059.30028442 Duncan Grouping Mean N JT A 53.13 2 b1


1019.76676147 0.37 0.8016 A
JT 1 185.85920000 A 24.93 6 j1 A 11.59 1 b5
185.85920000 0.07 0.8384 A A
BNIH 3 3465.11300442 A 5.52 3 j2 A 8.75 3 b2
1155.03766814 0.42 0.7802 A
JT*BNIH 0 0.00000000 . A 7.35 3 b3
. .

The SAS System 23:27


Sunday, January 26, 1997 76
Level of Level of -------------M12-----------
The SAS System 23:27 General Linear Models Procedure --
Sunday, January 26, 1997 75 JT BNIH N Mean SD
Duncan's Multiple Range Test for variable:
General Linear Models Procedure M12 j1 b1 2 53.1340000
74.5870375
Duncan's Multiple Range Test for variable: NOTE: This test controls the type I j1 b2 1 21.2600000 .
M12 comparisonwise error rate, not the j1 b3 3 7.3523333 11.3358695
experimentwise error rate j2 b2 2 2.4900000 0.7212489
NOTE: This test controls the type I j2 b5 1 11.5900000 .
comparisonwise error rate, not the Alpha= 0.05 df= 1 MSE= 2761.45

55
PERIODE KRITIS

Disusun Oleh :

Galvan Yudistira A24070040

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010

56
BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Kehadiran gulma pada lahan pertanaman jagung tidak jarang menurunkan
hasil dan mutu biji. Penurunan hasil bergantung pada jenis gulma , kepadatan,
lama persaingan, dan senyawa allelopati yang dikeluarkan oleh gulma. Secara
keseluruhan , kehilangan hasil yang disebabkan oleh gulma melebihi kehilangan
hasil yang disebabkan oleh hama dan penyakit. Meskipun demikian, kehilangan
hasil akibat gulma sulit diperkirakan karena pengaruhnya tidak dapat diamati.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan korelasi negatif antara bobot kering gulma
dan hasil jagung, dengan penurunan hasil hingga 95% (Violic, 2000 dalam
Fadhly, 2004). Jagung yang ditanam secara monokultur dan dengan masukan
rendah tidak memberikan hasil akibat persaingan intensif dengan gulma (Clay and
Aquilar, 1998 dalam Fadhly, 2004).
Secara konvensional , gulma pada pertanaman jagung dapat dikendalikan
melalui pengolahan tanah dan penyingan, tetapi penglahan tanah secara
konvensional memerlukan waktu, tenaga, dan biaya yang besar. Pada tanah
dengan tekstur lempug berpasir, lempung berdebu, dan liat, jagung yang
dibudidayakan tanpa olah tanah memberikan hasil yang sama tingginya dengan
yang dibudidayakan dengan pengolahan tanah konvensional (Widiyati et al. 2001
dalam Fadhly, 2004).
Gulma pada pertanaman jagung tanpa olah tanah dikendalikan dengan
herbisida. Sebelum jagung ditanam, herbisida disemprotkan untuk mematikan
gulma yang tumbuh diareal pertanaman. Setelah jagung tumbuh, gulma masih
perlu dikendallikan untuk melindungi tanaman. Pengendalian dapat dilakukan
dengan cara penyiangan dengan tangan , penggunaan alat mekanis, dan
penyemprotan herbisida. Formulasi atau nama dagang herbisida yang tersedia di
pasaran cukup beragam. Pemilihan dan penggunaan herbisida bergantung pada
jenis gulma di pertanaman. Penggunaan herbisida secara berlebihan akan merusak
lingkungan. Untuk menekan atau meniadakan dampak negatif penggunaan

57
herbisida terhadap lingkungan, penggunaannya perlu dibatasi degan memadukan
degan cara pengendalian lainnya (Fadhly et al, 2004)
Kehadiran gulma sepanjang siklus hidup tanaman tidak selalu berpengaruh
negatif terhadap tanaman budidaya. Ada suatu periode dimana tanaman budidaya
peka terhadap kehadiran gulma di lingkungan tumbuh tanaman. Periode tersebut
dikatakan sebagai periode kritis. Pada periode tersebut tanaman berada pada
kondisi yang peka terhadap lingkungan, terutama ruang tumbuh, unsur hara, air
dan cahaya matahari. Apabila pada periode kritis tersebut gulma tumbuh
mengganggu tanaman, maka tanaman akan kalah bersaing dalam memanfaatkan
faktor-faktor lingkungan tersebut. Oleh karena itu, pada saat tersebut gulma harus
dikendalikan agar tidak mengganggu tanaman budidaya.
Penentuan periode kritis tanaman terhadap persaingan gulma merupakan
salah satu langkah yang penting dalam menyusun rencana pengendalian yang
tepat. Sehingga pengendalian gulma pada lahan pertanaman dapat memberikan
tambahan pendapatan atau keuntungan dari hasil yang diperoleh.
I.2. Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk menentukan periode kritis suatu tanaman
budidaya terhadap kompetisi gulma sehingga dapat diketahui waktu pengendalian
yang tepat.

58
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pendahuluan
Jagung merupakan tanaman pangan kedua setelah beras yang digunakan
sebagai bahan pangan, pakan ternak, dan bahan baku industri. Oleh sebab itu,
ketersediaannya sangat dibutuhkan sepangjang tahun (Syaefullah, 2004).
Kebutuhan jagung sebagai bahan baku industri dalam negeri tidak
mencukupi. Hal ini terbukti dengan meningkatnya impor jagung dari tahun ke
tahun. Tahun 1990 impor jagung hanya 515 ton, tetapi pada tahun 1995 menigkat
tajam menjadi 626,231 ton (Thahir dkk, 1998 dalam Syaefullah, 2004).
Botani Jagung
Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu jenis tanamn pangan yang
mendapat prioritas untuk dikembangkan karena kedudukannya di samping sumber
utama karbohidrat dan protein juga merupakan bahan baku utama industri pakan
ternak dan bahan baku industri lainnya, sehingga merupakan komoditas penting
dalam upaya diversifikasi pangan.
Jagung tumbuh baik di daerah beriklim sedang yang panas, daerah
beriklim subtripis yang basah, dan dapt pula tumbuh di daerah tropis.
Tanamn jagung terdiri dari berbagai macam varietas. Beberapa varietas
unggul diantaranya adalah Harapan Baru, Arjuna, Bromo, Nakula, Sadewa,
Hibrida, dan lain-lain. Tanaman jagung dapt dipanen apabila sudah mencapai
tingkat ketuaan tertentu, dan waktunya dapat berbeda tergantung varietas.
Misalnya varietas Arjuna dipanen setelah umur 90 hari.
Jagung yang sudah dapat dipanen ditandai oleh kelonotnya yagn berwarna
colelat muda dan kering,serta bijinya mengkilat. Bila biji ditekan dengan kuku
tidak berbekas (kadar air mencapai 35-40%). Pengeringan dapt dilakukan pada
jagung berupa tongkol berkelobot atau tongkol kupasan. Jagung kemudian dipipil
dan dikeringkan lagi sampai kadar air 12-14%. Cara pengeringan dapat dengan
sinar matahari atau dengan pemanas lain (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan
dan Hortikultura, 1998 dalam Syaefullah, 2004 ).
Tabel 1. Kandungan Gizi Jagung

59
Kandungan (per 100 g
No Zat Gizi jagung)
1 Kalori 355,00 Kalori
2 Protein 9,20 G
3 Lemak 3,90 G
4 Karbohodrat 73,70 g
5 Kalsium 10,00 mg
6 Fosfor 256,00 mg
7 Besi 2,40 mg
8 Vitamin A 510,00 SI
9 Vitamin B1 0,38 MG
10 Vitamin C 0,00 MG
11 Air 12,00 G
Sumber : Direktorat Jendral Tanaman Pangan dan Hortikultura, 1998 dalam
Syaefullah, 2004
Berdasarkan zat gizi yang dikandungnya, jagung terutama adalah sebagai
sumber energi. Selain mengandung energi, jagung mempunyau nilai gizi yang
tinggi karena mengandung berbagai zat gizi lainnya (Tabel 1) (Direktorat Jendral
Tanaman Pangan dan Hortikultura, 1998). Dengan kondisi nutrisi tersebut, jagung
juga disukai dan sangat dibutuhkan oleh serangga dalam memenuhi kehidupan
hidupnya (Syaefullah, 2004)
Penyimpanan jagung sangat penting artinyabagi cadangan makanan kita.
Oleh karena itu harus diperhatikan cara penyimpanannya untuk mencegah
serangan hama dan penyakit. Faktor-faktor yang berpengaruh selama
penyimpanan adalah faktor fisik (suhu dan kelembaban), faktor kimia (kadar air,
komposisi kimia bahan dan enzim), faktor fisiologis (respirasi) dan faktor biologis
(kapang, serangga, dan tikus) (Syaefullah, 2004)

Gulma dan Allelopati


Semua tumbuhan pada pertanaman jagung yang tidak dikehendaki
keberadaannya dan menimbulkan kerugian disebut gulma. Gulma yang tumbuh

60
pada pertanaman jagung berasal dari biji gulma itu sendiri yang ada diatas tanah.
Jenis-jenis gulma yang mengganggu pertanaman jagung perlu diketahui untuk
menentukan cara pengendalian yang sesuai. Selain jenis gulma, persaingan antara
tanaman dan gulma perlu pula dipahami, terutama dalam kaitannya dengan waktu
pengendalian yang tepat. Jenis gulma tertentu juga perlu diperhatikan karena
dapat mengeluarkan senyawa allelopati yang meracuni tanaman (Fadhly, et al,
2004).
Tanah Sebagai Bank Biiji Gulma
Kehadiran gulma pada pertanaman jagung berkaitan dengan deposit biji
gulma dalam tanah. Biji gulma dapat tersimpan dan bertahan hidup selama
puluhan tahun dalam kondisi dorman, dan akan berkecambah ketika kondisi
lingkungan mematahkan dormansi itu. Terangkatnya biji gulma ke lapisan atas
permukaan tanah dan tersediannya kelembaban yang sesuai untuk perkecambahan
mendorng gulma untuk tumbuh dan berkembang (Fadhly, et al, 2004).
Biji spesies gulma setahun (annual spesies) dapat bertahan dalam tanah
selama bertahun-tahun sebagai cadangan beinih hidup tau viable seeds (Melinda
et al. 1998 Dalam Fadhly, et al, 2004). Biji gulma yang ditemukan di makam
mesir yang telah berumur ribuan tahun masih dapat menghasilkan kecambah yang
sehat. Jumlah biji gulma yang terdapat dalam tanah mencapai ratusan juta biji
(Direktorat Jenderal Perkebunan 1976 dalam Fadhly, et al, 2004). Karena benih
gulma dapat terakumulasi dalam tanah, maka kepadatannya terus meningkat
(Kropac, 1966 dalam Fadhly, et al, 2004). Dengan pengolahan tanah konvensional
, perkecambahan benih gulma yang terendam tertunda, sampai terangkat ke
permukaan karena pengolahan tanah. Penelitian selama tujuh tahun
mengindikasikan lebih sedikit benih gulma pada petak tanpa olah tanah dibanding
petak yang diolah dengan bajak singkal (moldboard-plow), biji gulma
terkonsentrasi pada kedalaman 5 cm dari lapisan atas tanah (Clements et al, 1996
dalam Fadhly, et al, 2004).
Pengelompokan Gulma
Jenis gulma tertentu merupakan pesaing tanaman jagung dalam
mendapatkan air, hara dan cahaya. Di Indonesia terdapat 140 jenis gulma berdaun

61
lebar, 36 jenis gulma rerumputan, dan 51 jenis gulma teki (Laumonier et al, 1986
dalam Fadhly, et al, 2004).
Pengelompokan gulma diperlukan untuk memudahkan pengendalian ,
pengelompokan dapat dilakukan berdasarkan daur hidup, habitat, ekologi,
klasifikasi amsonomi, dan tanggapan terhadap herbisida. Bedasar daur hidup
dikenal gulma setahun (annual) yang hidupnya kurang dari setahun dan gulma
tahunan (parennial) yang siklus hidupnya lebih dari satu tahun. Berdasarkan
habitatnya dikenal juga gulma daratan (terrestrial) dan gulma air (aquatic) yan
terbagi lagi atas gulma mengapung (floating), gulma tenggelam (submergent), dan
gulma sebagian mengapung dan sebagian tenggelam (emergent). Berdasarkan
ekologi dikenal gulma swah, gulma lahan kering, gulma perkebunan, dan gulma
rawa atau waduk. Berdasarkan klasifikasi taksonomi dikenal gulma monokotil,
gulma dikotil, dan gulma paku-pakuan . Berdasarkan tanggapan terhadap
herbisida, gulma dikelompokkan atas gulma berdaun lebar (abroad leaves), gulma
rerumputan (grasses), dan gulma teki (sedges). Pengelompokan yang terakhir ini
banyak digunakan dalam pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan
herbisida (Fadhly, et al, 2004).
Persaingan Tanaman dengan Gulma
Tingkat persaingan antara tanaman dan gulma bergantung pada empat
faktor yaitu stadia pertumbuhan tanaman, kepadatan gulma, tingkat cekaman air
dan hara,s erta spesies gulma. Jika dibiarkan, gulma berdaun lebar dan rumputan
dapat secara nyata menekan pertumbuhan dan perkembangan jagung (Fadhly, et
al, 2004).
Gulma menyaingi tanaman terutama dalam memperoleh air, hara, dan
cahaya. Tanman jagung sangat peka terhadap tiga faktor ini selama periode kritis
antara stadia V3 dan V8, yaitu stadia pertumbuhan jagung dimana daun ke-3 dan
ke-8 telah terbentuk. Sebelum stadia V3, gulma hanya mengganggu tanaman
jagung jika gulma tersebut lebih besar dari tanaman jagung, atau pada saat
tanaman mengalami cekaman kekeringan. Antara stadia V3 san V8, tanaman
jagung membutuhkan periode yang tidak tertekan oleh gulma. Setelah V8 matang,
tanaman telah cukup besar sehingga menaungi dan menekan pertumbuhan glma.
Pada stadia lanjut pertumbuhan jagung, gulma dapat mengakibatkan kerugian jika

62
terjadi cekaman air dan hara, atau gulma tumbuh pesat dan menaungi tanaman
(Lafitte, 1994 dalam Fadhly, et al, 2004).
Beberapa jenis gulma tumbuh lebih cepat dan lebih tinggi selama stadia
pertumbuhan awal jagung, sehingga tanaman jagung kekurangan cahaya untuk
fotosintesis. Gulma yang melilit dan memanjat tanaman jagung dapat menaungi
dan menghalangi cahaya pada permukaan daun sehingga proses fotosintesis
terhambat yang pada akhirnya menurunkan hasil (Fadhly, et al. 2004).
Dibanyak daerah penanaman jagung, air merupakan faktor pembatas.
Kekeringan yang terjadi pada stadia awal pertumbuhan vegetatif dapat
mengakibatkan kematian tanaman. Kehadiran gulma pada stadia ini memperburuk
kondisi cekaman air selama periode kritis, dua minggu sebelum dan sesudah
pembungaan. Pada saat itu tanaman rentan terhadap persaingan dengnan gulma
(Violic, 2000 dalam Fadhly, et al. 2004).
Gulma merupakan pesaing bagi tanaman dalam memperoleh hara. Gulma
dapat menyerap nitrogen dan fosfor hingga dua kali, dan kalium hingga tiga kali
daya serap tanaman jagung. Pemupukan merangksang vigor gulma sehingga
meningkatkan daya saingnya. Nitrogen merupakan hara utaman yang menjadi
kurang tersedia bagi tanaman jagung karena persaingan dengan gulma. Tanaman
yang kekurangan hara nitrogen mudah diketahui melalui warna daun yang pucat.
Interaksi positif penyiangan dan pemberian nitrogen umumnya teramati pada
pertanaman jagung, dimana waktu pengendalian gulma yang tepat dapat
mengoptimalkan penggunaan nitrogen dan hara serta menghemat penggunaan
pupuk (Violic, 2000 dalam Fadhlt, 2004).
Allelopati
Beberapa spesis gulma menyebakan kerusakan lebih besar pada tanaman
karena adanya bahan toksik yang dilepaskan dn menekan pertumbuhan jagung.
Spesies gulma dileporkan menghasilkan bahan allelopati dapat dilihat pada Tabel
1
Tabel 1. Gulma yang umum dijumpai pada pertanaman jagung yang mengeluarkan senyawa
allelopati

Nama Ilmiah Nama Umum

63
Abutilon theophrasti Velvetleaf
Agropyron repens Quackgrass
Amaranthus sp. Pigweed/Bayam
Ambosia sp Rigweed
Avene fatua Wild oat
Brassica sp. Mustard
Chenopodium album Common lambsquaters
Cynodon dactilon Bermuda grass/ Glintingan
Cyperus esculentus Yellow nutsedge
Cyperus rotundus Purple nutsedge/ Teki
Digitaria sanguinalis Crabgrass/ Genjoran
Echninochload crusgalli Barnyardgrass/Padi burung
Helianthus annus Sunflower/ Bunga Matahari
Imperata cylindrical Speargrass/Alang-alang
Poa sp Bluegrass
Porulaca oeracea Common purslane/ Gelang
Rattboelia exaltata Itchy grass/ Branjangan
Setaria faberi Giant fostail
Sorghum helepense Johnsongrass
Sumber: Lafitte et al (1994) dalam Fadhly (2004)
Allelopati merupakan senyawa biokimia yang dihasilkan dan dilepaskan
gulma ke dalam tanah dan mengambat pertumbuhan jagung. Senyawa tersebut
masuk ke dalam linhkunga tumbuh tanaman sebagai sekresi dan hasil pencucian
dari akar dan daun gulma yang hidup dan mati dan pembusukan vegetasi.
Senyawa allelopati menghambat perkecambahan benih tanaman, dan menghambat
perpanjangan akar sehingga menyebabkan kekacauan selluler dalam akar (Violic,
2000 dalam Fadhly, 2004).
Pengendalian
Keberhasilan pengendalian gulma merupakan salah satu faktor penentu
tercapainya tingkat hasil jagung yang tinggi. Gulma dapat dikendalikan melalui
berbagai aturan dan karantina; secara biologi degan menggunakan organisme
hidup; secara fisik dengan membakar dan menggenagi, melaui budidaya dengan

64
pergiliran tanaman, penigkatan daya saing dan penggunaan mulsa; secara mekanis
dengan mencabut; membabat, menginjak, menyiang dengan tangan, dan mengolah
tanah dengan alat mekanis bermesin dan nonmesin, secara kimiawi menggunakan
herbisida. Gulma pada pertanaman jagung umumnya dikendalikan dengan cara
emkanis dan kimiawi. Penegndalian gulma secara kimiawi berpotensi merusak
lingkungan sehingga perlu dibatasi memalui pemaduan dengan cara pengendalian
lainya.
Pengendalian secara mekanis
Secara tradisional petani mengendalikan gulma dengan pengolahan tanah
konvensional dan penyiangan dengan tangan. Pengolahan tanah konvensional
dilakukan dengan membajak, menyisir dan meratakan tanah, menggunakan tenaga
ternak dan mesin. Untuk menghemat biaya, pada pertanaman kedua petani tidak
megolah tanah sama sekali. Lahan disiapkan dengan mematikan gulma
menggunakan herbisida. Pada uasahatani jagung yang menerapkan sistem olah
tanah konservasi, pengolahan tanah banyak dikurangi, atau bahkan dihilangkan
sama sekali. Pada tanah Podzolik Merah kuning (PMK) Lampung, hasil jagung
tanpa olah tanah masih tetap tinggi hingga musin tanah ke-10 (Utomo, 1997
dalam Fadhly, 2004 ).
Pembajakan dan penggaruan dapat secara berangsur dikurangi dan diganti
dengan penggunaan herbisida atau pengelolaan tanah konservasi. Ketersediaan
herbisida juga memungkinkan pemanfaatan lahan marjinal dan lahan miring yang
bersifat rapuh terhadap pengolahan tanah konensiona. Penggunaan herbisida
memungkinkan penanaman jagung langsung pada barisan tanaman tanpa olah
tanah.
Pada tanah Inceptisol Wolangi yang bertekstur liat (Tabel 2), gulma pada
pertanaman tanpa olah tanah lebih sedikit daripada yang diolah secara
konvensional, ayng tercermin dari bobot gulma yang lebih ringan. Pada tanah
Ultisol Bulukumba yang bertekstur lempug berdebu, 21 hari setelah tanam yaitu
menjelang penyiangan pertama, gulma pada petak tanpa olah tanah lebih sedikit
dibanding pada petak yang diolah secara konvensional. Sebelum penanaman
jagung, gulma dip petak tanpa olah tanah dikendalikan dengan penyemprotan
herbisida,s edang di petak olah tanah konvensional, dikendalikan dengan

65
pengolahan tanah. Pada 42 hari setelah tanam, yaitu menjelang penyingangan
kedua, dan menjelang panen, jumlah gulma hampir sama di kedua petak (Fadhly
et al 2004). Menurut Robert dan Nielson et al (1981) dalam Fadhly (2004),
jumlah benih gulma berkurang jika pengendaliannya menggunakan herbisida.
Gulma pada 42 hari setelah tanam, yaitu menjelang penyiangan kedua, dan
menjelang panen, jumlahnya hampir sama pada petak tanpa olah tanah dengan
petak yang diolah secara konvensioanal. Pengendalian gulma dengan penyiangan
menggunakan sabit, cangkul, dan alat ekanis nonmesin membutuhkan waktu,
tenaga, biaya yang tinggi. Untuk penyiangan dengan tangan seluas 1 ha lahan san
biaya yang tinggi. Untuk penyiangan dengan tangan seluas 1 ha lahan pertanaman
jagung setidaknya dibutuhkan 15 hari orang kerja (Violic, 2000 dalam Fadhly,
2004). Penyiangan gulma dengan tangan menyerap 25-70% tenaga yang
dibutuhkan dalam proses produksi (Ranson, 1990 dalam Fadhly, 2004).
Penggunaan herbisida merupakan salah satu cara mengatasi masalah gulma.
Herbisida membuka peluanga bagi modifikasi cara penyiapan lahan konvensional
yang menerapkan olah tanah intensif.
Tabel 2 Bobot gulma tanaman jagung tanpa olah tanah pada tanah Inceptisol bertekstur liat Wolangi, Kabupaten Bone.

Bobot kering gulma (g/m2)


Cara penyiapan lahan
42 hari setelah tanam mejelang panen
Tanpa olah tanah 6,0 4,7
Olah tanpa minimum 2,6 7,8
Olah tanah konvensional 11,6 23,8
Sumber : Efendi et al. (2004)

Kompetisi Jagung dengan Gulma


Penyebab rendahnya produksi tanaman pertanian salah satunya adalah
karena gangguan gulma. Gangguan gulma terhadap tanaman dapat terjadi karena
adanya persaingan atau kompetisi dengan tanaman atau dengan tanaman
budidaya dalam mendapatkan sarana tumbuh dimana keduanya mempunyai
kebutuhan yang sama yaitu kebutuhan air, unsur hara, cahaya, CO2 dan ruang
tumbuh. Sumber daya lingkungan yang sama seta sarana tumbuh yang terbatas

66
jumlahnya menyebabkan terjadinya kompetisi antara tanaman dengan gulma
(Sastroutomo, 1990 dalam Eprim, 2006).
Menurut Sukman dan Yakub (1991) dalam Eprim (2006) gulma juga dapat
bersaing dengan tanaman dengan cara mengeluarkan senyawa allelopati yang
bersifat toksik ke sekitarnya dan dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan
tanaman di sekitarnya. Senyawa toksik ini dapat menyebabkan gangguan
pertumbuahan tanaman di sekitarnya. Senyawa toksik ini dapat menyebabkan
gangguan pertumbuhan dan biji, abnormalitas kecambah, terhambatnya
pertumbuhan memanjang akar, dan perubahan sel-sel akar tanaman. Senyawa –
senyawa allelopati ini dapat ditemukan di setiap organ tumbuhan antara lain pada
daun, batang, akar, rhizom, serta bagian-bagian tumbuhan ya ng membusuk.
Menurut Guntoro et al. (2003) dalam Eprim (2006) ekstrak bahan kering gulma
Borreria alata, Ageratum conyzoides, dan Cyperus rotundus cenderung
menghambat pertumbuhan dan produksi kedelai dimana peningkatan konsentrasi
ekstrak gulma tersebut cenderung meningkatkan pengaruh penghambatan
terhadap seluruh pertumbuhan dan produksi kedelai.
Gulma yang berkecambah bersamaan dengan tanaman kedelai
menyebabkan kehilangan panen yang lebih besar daripada gulma yang
berkecambah setelah tanaman budidaya berkembang.
Kemampuan tanaman jagung bersaing dengan gulma ditentukan oleh
spesies gulma, kepadatan gulma, dan saat dan lama persaingan, cara budidaya dan
varietas tanaman, serta tingkat kesuburan tanah. Perbedaan spesies akan
menentukan kemampuan bersaing karena perbedaan sistem fotosintesis, kondisi
perakaran dan kedaan morfologinya. Spesies gulma yang tumbuh cepat, berhabitat
besar dan memiliki metabolisme efisien akan menjadi gulma berbahaya. Spesies
yang memiliki metabolisme efisien akan menjadi gulma berbahaya. Spesies yang
memiliki metabolisme efisien adalah tumbuhan berjalur fotosintesis C4 dimana
salah satunya adalah gulma Imperata cylindrica dari famili graminae (Sukman
dan Yakub, 1995 dalam Eprim, 2006).
Kehilangan hasil panen akibat kompetisi dengan gulma dapat dikurangi
sampai kurang dari 5% dengan cara melakukan pengendalian gulma yang tepat
selama periode kritis. Gulma yang tumbuh selanjutnya tidak akan memiliki

67
dampak serius lagi terhadap hasil panen dan memiliki kemampuan produksi bebih
gulma yang rendah (Omafra, 2002 dalam Eprim, 2006).
Periode Kritis Tanaman
Nietto et al. (1968) dalam Eprim (2006) menyatakan bahwa kehadiran
gulma di sepanjang siklus hidup tanaman tidak selalu berpengaruh negatif
terhadap produksi tanaman. Pada periode awal, kompetisi gulma hanya sedikit
pengaruhnya terhadap tanaman, begitu pula pada akhir pertumbuhannya. Diantara
kedua periode tersebut terdapat suatu periode dimana tanaman peka terhadap
kehadiran gulma.
Menurut Moenandir (1993) dalam Eprim (2006) periode dimana tanaman
sangat sensitif terhadap kompetisi gulma disebut periode kritis tanaman. Pada
periode kritis tersebut tanaman berada pada kondisi sangat peka terhadap
lingkungan, terutama terhadap kompetisi dalam penggunaan unsur hara, cahaya
matahari, dan ruang tumbuh. Menurut Alddrich (1984) dalam Eprim (2006)
pengendalian gulma pada saat periode kritis merupakan suatu keharusan untuk
menghindari terjadinya gangguan gulma yang berkelanjutan sehingga
menurunkan hasil panen. Menurut Soejono (2002) dalam Eprim (2006) kompetisi
tanaman dengan gulma berlangsung sejak awal pertumbuhan tanaman dimana
semakin dewasa tanaman maka kompetisi dengan gulma akan semakin
meningkat. Suatu saat kompetisi akan mencapai maksimum dan kemudian akan
menurun secara bertahap.
Menurut Omafra (2002) dalam Eprim (2006) penentuan periode kritis
tanaman sangat dibutuhkan dalam penerapan sistem manajemen gulma terpadu.
Periode kritis tanaman terjadi pada saat kompetisi dengan gulma mulai
menunjukkan produksi tanaman sebesar 5%. Apabila gulma dapat dikontrol pada
saat periode kritis maka gulma yang akan tumbuh selanjutnya tidak akan
berpengaruh terhadap hasil panen.
Nieto et al. (1968) dalam Eprim (2006) penentuan periode kritis tanaman
berdasarkan percobaan dengan perlakuan setangkup antara periode penyiangan
dan kompetisi gulma. Zimdahl (1980) dalam Eprim (2006) menggunakan cara
tersebut untuk menentukan saat gulma dan tanaman budidaya berada dalam
keadaan saling berkontribusi secara aktif. Pada periode penyiangan gulma dan

68
tanaman budidaya ditumbuhkan secara bersama-sama untuk jangka waktu tertentu
sampai gulmanya disiangi, selanjutnya tanaman budidaya ditumbuhkan bebas
gulma sampai panen. Pada periode kompetisi gulma tanaman dibiarkan bebas
gulma untuk berbagai periode tertentu sejak pertanaman, setelah ini tanaman
budidaya dibiarkan tumbuh bersama-sama gulma hingga panen.
Menurut Soejono (2002) dalam Eprim (2006), faktor yang mempengaruhi
periode kritis pada tanaman budidaya yaitu jenis tanaman atau jenis gulma, cara
budidaya tanaman yang meliputi ukuran benih , saat tanam dan jarak tananam
yang digunakan seta kesuburan dan lengas tanah. Menurut Omafra (2002) dalam
Eprim (2006) beberapa penelitian pada jagung dan kedelai menunjukkan baha
periode kritis bervariasi tergantung pada jenis tanah dan sistem pengolahan tanah
dimana akhir masa kritis berlangsung sedikit lebih lama pada jenis tanah liat
daripada penggunaan sistem tanpa olah tanah. Pada tanah pasir yang bertekstur
ringan, dampak dari adanya kompetisi dengan gulma terjadi pada fase
pertumbuhan tanaman yang lebih awal daripada tanah yang memiliki tekstur
berat. Menurut Moenandir (1993) dalam Eprim (2006) periode kritis yang
diakibatkan oleh persaingan antara tanaman budidaya dengan gulma bergantung
dari waktu tanam, jenis tanah, perbedaan musim tanam, termasuk perbedaan
kadar air tanah, perbedaan kesuburan tanah, pola tanaman tunggal atau ganda.
Periode kritis tanaman juga ditentukan oleh derajat kompetisi yang
dipengaruhi oleh spesies, kepadatan gulma dan tanaman, serta keadaan iklim dan
lingkungan (Tjitrosoedirdjo et al., 1984 dalam Eprim 2006). Perubahan faktor-
faktor lingkungan kompetisi karena perubahan-perubahan ini dapat
mempengaruhi perkecambahan biji dan kecepatan pertumbuhan dari gulma
maupun tanaman budidayanya secara berbeda-beda (Aldrich, 1984 dalam Eprim,
2006). Pengetahuan periode kritis untuk persaingan gulma sangat penting artinya
dalam usaha mencapai efisiensi tindakan pengendalian gulma baik dari segi
waktu, biaya dan tenaga.
Periode kritis tanaman terhadap kompetisi gulma berkisar antar 33-50%
dari umur tanaman (Sukman dan Yakub, 1995 dalam Eprim, 2006). Sukman dan
Yakub (1999) dalam Eprim (2006) mrnyatakan bahwa periode kritis tanaman
berada pada awal pertumbuhannya, yaitu antara 25-33% pertama dari siklus hidup

69
tanaman tersebut. Walaupun demikian menurut Zimdahl (1980) dalam Eprim
(2006) konsep periode kritis pengendalian ini pada beberapa jenis jenis tanaman
budidaya tertentu terhadap kompetisi gulma yang terjadi pada semua peride
pertumbuhannya.
Penentuan periode kritis sangat penting artinya untuk menghindari
kehilangan hasil akibat persaingan dengan gulma. Menurut Syawal (1990) dalam
Eprim (2006) untuk mendapatkan hasil maksimum jagung manis, penyaingan
gulma cukup dilakukan dua kali yaitu pada periode kritis tanaman yaitu 20 HST
dan 50 HST dengan pemberian pupuk 300 kg/ha.
Periode kritis yang berbeda akibat derajat kompetisi tanaman dengan
gulma yang berbeda salah satunya disebabkan oleh jarak tanam. Menurut
O’Hanlon (2001) dalam Eprim (2006) jarak tanam berperan penting dalam
menentukan periode kritis tanaman akibat kompetisi dengan gulma dimana pada
jarak baris 30 inchi atau lebih, periode kritis tanaman dimulai pada saat fase
pembentukan daun trifoliate yang ketiga. Hal ini menunjukkan bahwa pada jarak
baris yang sempit maka periode kritis tanaman akan lebih cepat. Menurut Mimbar
(1986) dalam Eprim (2006) pengaturan jarak tanam erat hubungannya dengan
enyerapan cahaya matahari yang sangat dibutuhkan tanaman sebagai sumber
energi untuk proses fotosintesis. Pengaturan jarak tanam yang berbeda akan
menyebabkan perbedaan dalam tingkat kompetisi untuk mendapatkan cahaya
matahari antara tanaman dengan gulma, sehingga akan berpengaruh terhadap hasil
tanaman

70
BAB III
BAHAN DAN METODE
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum bab periode kritis ini dilaksanakan mulai dari tanggal 12
Oktober 2009 sampai 16 Oktober 2009 bertempat di Kebun Percobaan Cikabayan.
3.2 Bahan Alat
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini antara lain benih tanaman
jagung manis, pupuk (Sp-18, Urea, KCl), insektisida, dan fungisida. Peralatan
yang digunakan antara lain kored, cangkul, sprayer, kuadran 0,5 m x 0,5 m, oven,
meteran, timbangan, dan pisau.
3.3 Metode Percobaan
Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok. Penentuan periode
kritis tanaman terhadap kompetisi gulma menggunakan Nieto et al.,(1986), yaitu
dengan membuat percobaan yang perlakuannya setangkup antara periode
penyiangan dan periode kompetisi. Sehingga, dapt diketahui pada saat kapan
gulma secara nyata menurunkan hasil dan pada saaat kapan kompetisi gulma tidak
menyebabkan hasil menurun secara nyata.
Perlakuan yang dicobakan yaitu :

Bersih gulma 0-2 MST


Bersih gulma 0-4 MST
Bersih gulma 0-6 MST
Bersih gulma 0-8 MST
Bersih gulma 0-10 MST
Bersih gulma 0-12MST (panen)
Bergulma 0-2 MST
Bergulma 0-4 MST
Bergulma 0-6 MST
Bergulma 0-8 MST
Bergulma 0-10MST
Bergulma 0-12 MST (panen)

71
Percobaan dilakukan dengan empat ulangan. Satuan percobaan berupa
petak dengan ukuran 5 m x 4 m. Total percobaan terdapat 48 satuan percobaan.
Tanamn jagunga manis ditanam dengan menggunakan jarak tanamn 80 cm
x 25 cm dengan satu benih per lubang tanam. Dosis pupuk yang digunakan yaitu
300 kg Urea/ha, 300 kg SP-18/ha, dan 100 kg KCl/ha. Pemberian furadan 3G
dilakukan pada saat tanam dengan dosis 12 kg/ha.
Pengamatan
Peubah yang diamati antara lain :
1. Bobot kering gulma total dan gulma dominan

Pengamatan dilakukan dengan mengambil 2 petak contoh secara acak


dengan kuadrat 0,5 x 0,5 m pada saat 2,4,6,8,10, dan 12 MST. Gulma yang
ada dal;am petak cotoh tersebut dipotong tepat setinggi permukaan tanah.
Gulma dan tanaman hasil panen kemudian dikeringkan dalam oven sampai
mencapai berat konstan , kemudian ditimbang.
2. Bobot kering biomass tanaman jagung

Pengamatan dilakuakn dengan memotong tanaman jagung sebanyak tiga


contoh tanaman yang ditentukan secara acak pada saat 2,4,6,8,10, dan 12
MST dengan cara memotong tepat setinggi permukaan tanamn,
selanjutnya dioven dan ditimbang.
3. Tinggi tanaman dan jumlah daun diamati dari 10 tanaman contoh yang
ditentukan secara acak. Pengamatan dilakkukan pada saat 2,4,6,8,10, dan
12 MST.

4. Bobot basah tongkol berklobot dan tanpa kelobot per tongkol pada saat
panen yang diamati dari 10 tanaman contoh.

5. Bobot basah tongkol berklobot dan tanpa kelobot ubinan (2 m x 2 m).

Penentuan periode kritis dilakukan dengan cara membuat grafik dari peubah
respon tanaman terhadap kondisi bebas gulma dan kondisi bergulma dari saat
awal penanaman sampai akhir pengamatan (sampai panen). Grafik tersebut
seperti tertera dalam Gambar 2 di bawah ini.

72
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Grafik Periode Kritis

Perlakukan Kelompok 2 MST 4 MST 6 MST 8 MST 10 MST 12


Bersih gulma 0-2 MST A 0.46 3.2 7.4 8 16
B 0.205 0.237 3.29 3
C 0.463 3.263 4.75 6.81 15.346 2
D 0.905333 0.972333 2.527667 8.794667 8.896333 6
0.51 1.92 4.49 6.65 13.41 1
Bersih gulma 0-4 MST A 1.65 1.744 23.26 36.79 57.32 6
B 0.1712 0.4532 3.223 4.5713
C 18 59.8 10.4 16.9 70
D 1.116 1.252333 2.454 5.355667 7.334333
5.23 15.81 9.83 15.90 44.88 4
Bersih gulma 0-6 MST A 0.313 2.059 2.826 14.97 20 2

73
B 0.565 0.976 1.29 1.743
C 0.296 1.662667 12.44
D 0.238 0.284 0.59 0.667
0.35 1.25 4.29 5.79 20.00 2
Bersih gulma 0-8 MST A 0.736 2.979 20.017 12.5
B 0.182667 0.42 19.5 26.33333 17.93333 18
C
D 25.752 48.756 50.432 82.07 109.566 21
12.97 16.64 24.30 42.81 46.67 8
Bersih gulma 0-10
A 0.1 0.204 0.774 0.89 0.703
MST
B 0.078 0.358666 1.152 0.358666 4.243
C 0.474 3.08 4.75 76.5 84.5 2
D 0.405 0.437 3.223 2.102 2.885
0.26 1.02 2.47 19.96 23.08 2
Bersih gulma 0-12
A 0.11 2.94 6.21 10.7 33.8
MST
B 0.363 1.057 1.12 0.9175 0.9033
C 1.347 1.843 2.197 2.263 3.163 3
D 0.256667 1.190333 18.14867 45.76667 92.87733 9
0.52 1.76 6.92 14.91 32.69 3

2 MST 4 MST 6 MST 8 MST 10 MST 12 MST


Bersih gulma 0-2 MST 0.91 0.97 2.53 8.79 8.90 6.75
Bersih gulma 0-4 MST 5.23 15.81 9.83 15.90 44.88 49.27
Bersih gulma 0-6 MST 0.35 1.25 4.29 5.79 20.00 25.98
Bersih gulma 0-8 MST 12.97 16.64 24.30 42.81 46.67 82.02
Bersih gulma 0-10
MST 0.26 1.02 2.47 19.96 23.08 23.13
Bersih gulma 0-12
MST 0.52 1.76 6.92 14.91 32.69 36.56
Bersih gulma 3.37 6.24 8.39 18.03 29.37 37.28

2 MST 4 MST 6 MST 8 MST 10 MST 12 MST


Bersih gulma 3.37 6.24 8.39 18.03 29.37 37.28
Bergulma 5.02 8.35 11.53 20.49 24.72 55.82

74
Data Berat Basah
Tongkol (gram)

Perlakukan Kelompok Berkelobot Tanpa kelobot


A - -
Bersih gulma 0-2 B - -
MST C 205.61 193.87
D - -
A 49.95 44.8
Bersih gulma 0-4 B - -
MST C - -
D - -
A 74 53.5
Bersih gulma 0-6 B - -
MST C - -
D - -
A 41.5 35
Bersih gulma 0-8 B - -
MST C 0.425556 0.33222
D - -

75
A - -
Bersih gulma 0-10 B - -
MST C 260 163.5
D mati Mati
A - -
Bersih gulma 0-12 B - -
MST C - -
D - -
A - -
B 58.2 -
Bergulma 0-2 MST
C 10.76 7.88
D mati Mati
A mati mati
B - -
Bergulma 0-4 MST
C 8.33 -
D - -
A - -
B - -
Bergulma 0-6 MST
C 0.38888889 0.302222222
D - -
A mati Mati
B - -
Bergulma 0-8 MST
C - -
D - -
A - -
B - -
Bergulma 0-10 MST
C 0.246667 0.193333
D - -
A - -
Bergulma 0-12 MST B - -
C - -

76
D - -

Dari tabel berat basah tongkol dalam gram tersebut diatas dapat kita lihat bahwa
dari beberapa perlakuan yang diujikan yaitu mulai dari perlakuan bersih gulma
yaitu mulai dari 0-2 MST sampai bersih gulma 0-12 MST dan perlakuan
bergulma dari bergulma 0-2 MST sampai bergulma 0-12 MST ada beberapa data
yang kosong, hal ini mungkin disebabkan karena ada beberapa kelompok yang
pada saat itu tidak mengamati

Data Anova Tinggi Tanaman


sumber
keragaman Db JK KT F Hit Pr > F KK
ulangan 3 26.3103 8.77011 6.45 0.0015 23.5638
perlakuan 2 11 10.3182 0.93802 0.69 0.7385
galat MST 33 44.889 1.36027
total 47 81.5176
ulangan 3 13994.5 4664.85 26.5 0.0001 29.8665
perlakuan 4 11 1480.39 134.581 0.76 0.6711
galat MST 33 5808.24 176.007
total 47 21283.2
ulangan 3 26170.5 8723.49 13.68 0.0001 38.2769
perlakuan 6 11 4700.8 427.345 0.67 0.7554
galat MST 32 20409.5 637.796
total 46 51280.8
ulangan 3 38735.3 12911.8 15.86 0.0001 35.4585
perlakuan 8 11 12211.2 1110.11 1.36 0.2387
galat MST 31 25236.1 814.068
total 45 76182.6
ulangan 3 193.541 64.5138 9.84 0.0002 30.5401
perlakuan 10 11 156.551 14.2319 2.17 0.0545
galat MST 24 157.33 6.55544
total 38 507.423

77
ulangan 3 255.57 85.19 7.6 0.0014 44.7214
perlakuan 12 11 142.173 12.9248 1.15 0.3759
galat MST 20 224.315 11.2157
total 34 622.057

Dari data anova tinggi tanaman diatas dapat diketahui bahwa pengamatan
tinggi tanaman jagung mulai dari 2 MST sampai 12 MST baik dengan perlakuan
dengan gulma maupun dengan perlakuan tanpa gulma.
Dari data 2 MST dapat diketahui bahwa untuk Pr>F karena nilai untuk
ulangannya 0,0015 dan itu lebih kecil dari alpha standart yaitu 0,05 maka untuk
data 2 MST ulangan untuk petak nilai tinggi tanaman dan MST sebagai sumbu x
tidak berkorelasi.Sedangkan untuk nilai Pr>F pada ulangan dapat diketahui bahwa
karena untuk nilai alpha lebih kecil dari 0,7385
maka secara umum untuk 2 MST tinggi tanaman berkorelasi positif dengan tinggi
tanaman.
Dari data 4 MST dapat diketahui bahwa untuk Pr>F karena nilai untuk
ulangannya 0,0001 dan itu lebih kecil dari alpha standart yaitu 0,05 maka untuk
data 4 MST ulangan untuk petak nilai tinggi tanaman dan MST sebagai sumbu x
tidak berkorelasi.Sedangkan untuk nilai Pr>F pada ulangan dapat diketahui bahwa
karena untuk nilai alpha lebih kecil dari 0,6711
maka secara umum untuk 4 MST tinggi tanaman berkorelasi positif dengan tinggi
tanaman.
Dari data 6 MST dapat diketahui bahwa untuk Pr>F karena nilai untuk
ulangannya 0,0001 dan itu lebih kecil dari alpha standart yaitu 0,05 maka untuk
data 6 MST ulangan untuk petak nilai tinggi tanaman dan MST sebagai sumbu x
tidak berkorelasi.Sedangkan untuk nilai Pr>F pada ulangan dapat diketahui bahwa
karena untuk nilai alpha lebih kecil dari 0,7554
maka secara umum untuk 6 MST tinggi tanaman berkorelasi positif dengan tinggi
tanaman.
Dari data 8 MST dapat diketahui bahwa untuk Pr>F karena nilai untuk
ulangannya 0,0001 dan itu lebih kecil dari alpha standart yaitu 0,05 maka untuk
data 8 MST ulangan untuk petak nilai tinggi tanaman dan MST sebagai sumbu x

78
tidak berkorelasi.Sedangkan untuk nilai Pr>F pada ulangan dapat diketahui bahwa
karena untuk nilai alpha lebih kecil dari 0,2387
maka secara umum untuk 8 MST tinggi tanaman berkorelasi positif dengan tinggi
tanaman.
Dari data 10 MST dapat diketahui bahwa untuk Pr>F karena nilai untuk
ulangannya 0,0002 dan itu lebih kecil dari alpha standart yaitu 0,05 maka untuk
data 10 MST ulangan untuk petak nilai tinggi tanaman dan MST sebagai sumbu x
tidak berkorelasi.Sedangkan untuk nilai Pr>F pada ulangan dapat diketahui bahwa
karena untuk nilai alpha lebih kecil dari 0,0545
maka secara umum untuk 10 MST tinggi tanaman berkorelasi positif dengan
tinggi tanaman.
Dari data 12 MST dapat diketahui bahwa untuk Pr>F karena nilai untuk
ulangannya 0,0014 dan itu lebih kecil dari alpha standart yaitu 0,05 maka untuk
data 12 MST ulangan untuk petak nilai tinggi tanaman dan MST sebagai sumbu x
tidak berkorelasi.Sedangkan untuk nilai Pr>F pada ulangan dapat diketahui bahwa
karena untuk nilai alpha lebih besar dari 0,3759
maka secara umum untuk 12 MST tinggi tanaman berkorelasi negatif dengan
tinggi tanaman.
Dari pembahasan Pr>F diatas dapat kita ketaui bahwa dari 6 masa tanam
yang di bahas hanya 1 yang tidak sesuai korelasinya antara MST dan tinggi
tanaman yaitu pada 12 MST, akan tetapi secara umum dapat disimpulkan bahawa
berdasarkan data anova tinggi tanaman nilai dari MST berkorelasi positif dengan
nilai tinggi tanaman dengan 4 yang mempunyai ragam yang melebihi batas
normal yaitu 30

Data Anova Jumlah Daun


sumber
keragaman db JK KT F Hit Pr > F KK
ulangan 3 12.1028 4.03428 3.38 0.0302 25.6901
2
perlakuan 11 14.5909 1.32645 1.11 0.3855
MST
galat 32 38.2424 1.19508

79
total 46 64.9362
ulangan 3 67.7292 22.5764 10.56 0.0001 30.1153
perlakuan 4 11 11.7292 1.06629 0.5 0.8901
galat MST 33 70.5208 2.13699
total 47 149.979
ulangan 3 115.076 38.3588 12.67 0.0001 30.6333
perlakuan 6 11 32.2273 2.92975 0.97 0.494
galat MST 32 96.9091 3.02841
total 46 244.213
ulangan 3 5.29308 1.76436 7.02 0.001 19.1618
perlakuan 8 11 3.22871 0.29352 1.17 0.3477
galat MST 31 7.79128 0.25133
total 45 16.3131
ulangan 3 209.815 69.9382 17.47 0.0001 30.4792
perlakuan 10 11 109.709 9.97356 2.49 0.0298
galat MST 24 96.0659 4.00274
total 38 415.59
ulangan 3 16.2481 5.41603 17.19 0.0001 21.532
perlakuan 12 11 2.31594 0.21054 0.67 0.7513
galat MST 20 6.30133 0.31507
total 34 24.8654

Dari data Anova Jumlah Daun yang terdiri dari 6 masa setelah tanam dapt
kita lihat bahwa untuk KK yaitu koefesien keragaman pada 4 MST, 6 MST, 10
MST, nilainya lebih dari 30 hal ini menunjukkan bahwa dari 6 masa setelah tanam
ada 50% yang keragamannya melebihi standart normal.
Untuk data 2 MST nilai ulangan untuk Pr>F kurang dari alpha san pada
perlakuan melebihi alpha hal ini berarti untuk 2 MST tidak ada korelasi antara
Masa Setelah Tanam dengan Jumlah daun yaitu ditunjukkan dengan nilai Pr>F
0,3855

80
Untuk data 4 MST nilai ulangan untuk Pr>F kurang dari alpha san pada
perlakuan melebihi alpha hal ini berarti untuk 4 MST ada korelasi antara Masa
Setelah Tanam dengan Jumlah daun yaitu ditunjukkan dengan nilai Pr>F 0,8901
Untuk data 6 MST nilai ulangan untuk Pr>F kurang dari alpha san pada
perlakuan melebihi alpha hal ini berarti untuk 6 MST tidak ada korelasi antara
Masa Setelah Tanam dengan Jumlah daun yaitu ditunjukkan dengan nilai Pr>F
0,494
Untuk data 8 MST nilai ulangan untuk Pr>F kurang dari alpha san pada
perlakuan melebihi alpha hal ini berarti untuk 8 MST tidak ada korelasi antara
Masa Setelah Tanam dengan Jumlah daun yaitu ditunjukkan dengan nilai Pr>F
0,3477
Untuk data 10 MST nilai ulangan untuk Pr>F kurang dari alpha san pada
perlakuan melebihi alpha hal ini berarti untuk 10 MST tidak ada korelasi antara
Masa Setelah Tanam dengan Jumlah daun yaitu ditunjukkan dengan nilai Pr>F
0,0298
Untuk data 12 MST nilai ulangan untuk Pr>F kurang dari alpha san pada
perlakuan melebihi alpha hal ini berarti untuk 12 MST ada korelasi antara Masa
Setelah Tanam dengan Jumlah daun yaitu ditunjukkan dengan nilai Pr>F 0,7513
Dari seluruh rentang waktu diatas dapat disimpulkan bahwa untuk
hubungan secara umum antara jumlah daun dengan Minggu Setelah Tanam dapat
disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara jumlah daun dengan minggu
setelah tanam.

Data Anova Berat Kering Jagung


sumber
keragaman db JK KT F Hit Pr > F KK
Ulangan 3 67.7781 22.5927 0.58 0.6339 130.641
perlakuan 11 582.767 52.9788 1.36 0.256
2 MST
Galat 23 895.61 38.9396
total 37 1546.15
ulangan 3 25.7726 8.59087 2.56 0.0739 97.4789
4 MST
perlakuan 11 24.7577 2.2507 0.67 0.755

81
galat 30 100.825
total 44 151.355
ulangan 3 14.5201 4.84003 1.41 0.2585 61.5995
perlakuan 11 58.6745 5.33405 1.55 0.1625
6 MST
galat 31 106.404 3.43239
total 45 179.599
ulangan 3 47.7251 15.9084 2.9 0.0576 57.2827
perlakuan 11 52.2271 4.74792 0.87 0.5827
8 MST
galat 22 120.519 5.47812
total 36 220.471
ulangan 3 71.0959 23.6986 4.32 0.0139 85.0177
perlakuan 10 11 26.06 2.36909 0.43 0.9268
galat MST 25 137.227 5.48906
total 39 234.382
ulangan 3 99.4116 33.1372 7.35 0.0023 66.0565
perlakuan 12 11 49.7291 4.52083 1 0.4819
galat MST 17 76.5984 4.50579
total 31 225.739

Dari data anova berat kering jagung dapat diketahui bahwa dari nilai
keragaman dari 6 masa yang diamati yaitu dari 2 MST sampai 12 MST nilai
keragamannya sangat besar yaitu diatas standart ragam normal 30.
Untuk 2 MST nilai Pr>F untuk ulangan melebihi 0,05 yaitu 0,6336 dan
pada perlakuan nilai Pr>F kurang dari alpha yaitu 0,256 hal ini berarti pada 2
MST tidak ada korelasi antara berat kering jagung.
Untuk 4 MST nilai Pr>F untuk ulangan kurang dari 0,05 yaitu 0,0739
dan pada perlakuan nilai Pr>F lebih dari alpha yaitu 0,755 hal ini berarti
pada 4 MST ada korelasi antara berat kering jagung.
Untuk 6 MST nilai Pr>F untuk ulangan kurang dari 0,05 yaitu 0,2585
dan pada perlakuan nilai Pr>F kurang dari alpha yaitu 0,1625 hal ini
berarti pada 4 MST tidak ada korelasi antara berat kering jagung.

82
Untuk 8 MST nilai Pr>F untuk ulangan lebih dari 0,05 yaitu 0,0576
dan pada perlakuan nilai Pr>F lebih dari alpha yaitu 0,5827 hal ini berarti
pada 8 MST ada korelasi antara berat kering jagung.
Untuk 10 MST nilai Pr>F untuk ulangan kurang dari 0,05 yaitu 0,0139
dan pada perlakuan nilai Pr>F lebih dari alpha yaitu 0,9268 hal ini berarti
pada 8 MST ada korelasi antara berat kering jagung.
Untuk 12 MST nilai Pr>F untuk ulangan kurang dari 0,05 yaitu 0,0023
dan pada perlakuan nilai Pr>F lebih dari alpha yaitu 0,4819 hal ini berarti
pada 8 MST ada korelasi antara berat kering jagung.
Dari analisis diatas dari 6 masa tanam yang diamati ada 2 masa tanam
yang tidak berkorelasi hal ini berarti secara umum dari 6 masa tanam yang diamati
dapat disimpulkan bahwa tidak ada korelasi antara masa tanam dengan berat
kering jagung.

Data Anova Berat Kering Gulma


sumber
keragaman db JK KT F Hit Pr > F KK
ulangan 3 25.6247 8.54158 6.93 0.0011 43.2939
perlakuan 11 8.12179 0.73834 0.6 0.815
2 MST
galat 31 38.2158 1.23277
total 45 71.9623
ulangan 3 50.8344 16.9448 5.69 0.0032 51.7045
perlakuan 11 29.8865 2.71695 0.91 0.5405
4 MST
galat 31 92.3186 2.97802
total 45 173.039
5405ulangan 3 54.4633 18.1544 2.76 0.0588 63.9664
perlakuan 11 135.494 12.3176 1.87 0.0836
6 MST
Galat 31 203.986 6.58021
Total 45 393.943
ulangan 3 3.25581 1.08527 0.2 0.8938 68.052
perlakuan 8 MST 11 84.3764 7.67058 1.43 0.214
Galat 28 150.104 5.36085

83
Total 42 237.736
ulangan 3 16.4724 5.4908 1.25 0.3119 51.9126
perlakuan 10 11 125.206 11.3823 2.59 0.0225
Galat MST 26 114.196 4.39216
Total 40 255.874
ulangan 3 67.7781 22.5927 0.58 0.6339 130.641
perlakuan 12 11 582.767 52.9788 1.36 0.256
galat MST 23 895.61 38.9396
Total 37 1546.15

Dari data Anova berat kering gulma dapat dilihat bahwa dai 6 masa tanam
yang diamati, semuanya menunjukkan keragaman diatas normal yaitu melebihi
standart normal keragaman yaitu 30.
Untuk 2 MST nilai Pr>F untuk ulangan sebesar 0,0011
sedangkan untuk perlakuan sebesar 0,815 hal ini menunjukan pada 2 MST ada
korelasi antara masa tanam dengan berat kering gulma.
Untuk 4 MST nilai Pr>F untuk ulangan sebesar 0,0032
sedangkan untuk perlakuan sebesar 0,5405 hal ini menunjukan pada 4 MST ada
korelasi antara masa tanam dengan berat kering gulma.
Untuk 6 MST nilai Pr>F untuk ulangan sebesar 0,0588
sedangkan untuk perlakuan sebesar 0,0836 hal ini menunjukan pada 6 MST ada
korelasi antara masa tanam dengan berat kering gulma.
Untuk 8 MST nilai Pr>F untuk ulangan sebesar 0,8938
sedangkan untuk perlakuan sebesar 0,214 hal ini menunjukan pada 8 MST ada
korelasi antara masa tanam dengan berat kering gulma.
Untuk 10 MST nilai Pr>F untuk ulangan sebesar 0,3119
sedangkan untuk perlakuan sebesar 0,0225 hal ini menunjukan pada 10 MST tidak
ada korelasi antara masa tanam dengan berat kering gulma.
Untuk 12 MST nilai Pr>F untuk ulangan sebesar 0,6339
sedangkan untuk perlakuan sebesar 0,256 hal ini menunjukan pada 12 MST ada
korelasi antara masa tanam dengan berat kering gulma.

84
Dari pembahasan data diatas dapat diketahui bahwa untuk hubungan
antara masa tanam dengan berat kering gulma secara umum berkorelasi positif.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari pembahasan ke empat tabel Anova Pr>F diatas dapat kita ambil
empat kesimpulkan bahwa yang pertama nilai dari MST berkorelasi positif
dengan nilai tinggi tanaman dengan 4 yang mempunyai ragam yang melebihi
batas normal yaitu 30. Yang kedua, jumlah daun dengan Minggu Setelah Tanam
tidak ada hubungan.Yang ketiga tidak ada korelasi antara masa tanam dengan
berat kering jagung.Yang keempat, hubungan masa tanam dengan berat kering
gulma secara umum berkorelasi positif.
5.2 Saran
Untuk praktikum pengendalian gulma ini diusahakan agar waktu
masuknya lebih ketat sehingga bisa melatih kedisiplinan mahasiswa.

85
DAFTAR PUSTAKA

Eprim, Yeheskiel Sah. 2006. Periode Kritis Tanaman Kedelai (Glycine


max (L.) Merr.) Terhadap Kompetisi Gulma Pada Beberapa Jarak Tanam di
Lahan Alang-alang (Imprata cylindrica (L.)Beauv.). Skripsi. Program Studi
Agronomi Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Fadhly, A.F. dan Tabri, F. 2004. Pengendalian Gulma pada Pertanaman
Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros
Syaefullah, Enrico. 2004. Modifikasi Atmosfer Dengan Konsentrasi CO2
Terhadap Perkembangan Sitophilus zeamais Selama Penyimpanan Jagung.
Pengantar ke Falsafah Sains. Institut Pertanian Bogor

86
APPLIKASI HERBISIDA

Disusun Oleh :

Vicky Oktarina Chairunnissa A24070121

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010

87
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Herbisida (dari bahasa Inggris herbicide) adalah senyawa atau material yang
disebarkan pada lahan pertanian untuk menekan atau memberantas tumbuhan
yang menyebabkan penurunan hasil (gulma). Lahan pertanian biasanya ditanami
sejenis atau dua jenis tanaman pertanian. Namun demikian tumbuhan lain juga
dapat tumbuh di lahan tersebut. Karena kompetisi dalam mendapatkan hara di
tanah, perolehan cahaya matahari, dan atau keluarnya substansi alelopatik,
tumbuhan lain ini tidak diinginkan keberadaannya. Herbisida digunakan sebagai
salah satu sarana pengendalian gulma.
Terdapat dua tipe herbisida menurut aplikasinya: herbisida pratumbuh
(preemergence herbicide) dan herbisida pascatumbuh (postemergence herbicide).
Yang pertama disebarkan pada lahan setelah diolah namun sebelum benih ditebar
(atau segera setelah benih ditebar). Biasanya herbisida jenis ini bersifat
nonselektif, yang berarti membunuh semua tumbuhan yang ada. Yang kedua
diberikan setelah benih memunculkan daun pertamanya. Herbisida jenis ini harus
selektif, dalam arti tidak mengganggu tumbuhan pokoknya.
Pada umumnya herbisida bekerja dengan mengganggu proses anabolisme
senyawa penting seperti pati, asam lemak atau asam amino melalui kompetisi
dengan senyawa yang "normal" dalam proses tersebut. Herbisida menjadi
kompetitor karena memiliki struktur yang mirip dan menjadi kosubstrat yang
dikenali oleh enzim yang menjadi sasarannya. Cara kerja lain adalah dengan
mengganggu keseimbangan produksi bahan-bahan kimia yang diperlukan
tumbuhan.
Contoh:
 glifosat (dari Monsanto) mengganggu sintesis asam amino
aromatik karena berkompetisi dengan fosfoenol piruvat
 fosfinositrin mengganggu asimilasi nitrat dan amonium karena
menjadi substrat dari enzim glutamin sintase.

88
Untuk menguji keefektivan suatu hasil aplikasi herbisida dapat ditempuh
dengan dua cara, yaitu cara biologi dan cara fisik. Cara biologi dilakukan dengan
mengamati tamping respon tumbuhan (gulma) setelah aplikasi. Respon tumbuhan
akibat herbisida bervariasi antara testimulasi sampai kematian total. Biasanya
untuk menilai hasil suatu aplikasi tersebut dapat digunakan skor, seperti yang
diperkenalkan oleh EWRC. Cara fisik dilakukan dengan mengamati produksi
butiran semprot, baik dalam populasi maupun ukran butiran semprot. Metode ini
dilakukan dengan menggunakan kertas peka air (water sensitive paper).
Aplikator secara umum dibagi menjadi tiga kelas, berdasarkan volume
semprot yang dialokasikan setiap hektar. Pembagian ini meliputi LV (Low
Volume), HV (High Volume), dan ULV (Ultra Low Volume). Masing-masing
alat ini memberikan konsekuensi yang berbeda terutama dalam hal penyediaan air
bersih, konsentrasi herbisida dalam tangki, ukuran butiran semprot yang
memberikan pengaruh efektivitas herbisida.
Keberadaan gulma di pertanaman dapat menimbulkan masalah yang cukup
berat, karena gulma berkompetisi secara fisik maupun kimiawi dengan tanaman
pokok. Selain itu, gulma juga menjadi tumbuhan inang dan dapat menciptakan
kondisi yang optimal bagi perkembangan penyakit.
Mengingat besarnya kerugian yang disebabkan oleh gulma, maka perlu
dipikirkan cara pengendalian yang tepat. Penggunaan herbisida merupakan
metode pengendalian yang paling efisien dan menguntungkan, antara lain: (1)
mengurangi tenaga kerja, (2) pekerjaan menjadi lebih cepat, (3) mampu
mengendalikan gulma yang sulit disiangi secara mekanis, (4) mampu
mengendalikan gulma sejak awal (pra tumbuh), (5) menghindari kerusakan akar
tanaman pokok, (6) menghindari pembentukan cekungan pada areal pertanaman
akibat penyiangan secara mekanis, dan (7) mengurangi erosi tanah.
Herbisida mutakhir biasanya ditandai dengan kemampuan kerjanya yang
selektif. Dalam percobaan ini digunakan beberapa herbisida pasca tumbuh
terhadap pengendalian gulma di pertanaman karet menghasilkan.
Gulma di perkebunan karet dapat merugikan baik produksi karet itu sendiri
maupun gangguan terhadap kegiatan pengelolaannya yang pada akhirnya
menurunkan keuntungan usaha perkebunan tersebut. Penting tidaknya suatu jenis

89
gulma di suatu areal perkebunan karet ditentukan atas tingkat kerugian yang dapat
ditimbulkan oleh gulma tersebut terhadap pertumbuhan, produksi maupun
gangguan yang ditimbulkan terhadap pengelolaan perkebunan karet.
Pemilihan herbisida yang sesuai untuk pengendalian gulma di pertanaman
karet merupakan suatu hal yang sangat penting. Pemilihan dilakukan dengan
memperhatikan daya efikasi herbisida terhadap gulma dan ada tidaknya
titotoksisitas pada tanaman. Faktor lain yang perlu dipertimbangkan meliputi
keamanan terhadap lingkungan (organisme bukan sasaran), harga dan
ketersediaan.
Pemakaian herbisida menuai kritik karena menyebarkan bahan kimia yang
berbahaya bagi tumbuhan bukan sasaran. Meskipun sebagian besar herbisida masa
kini tidak berbahaya bagi manusia dan hewan, herbisida yang tersebar (karena
terbawa angin atau terhanyut air) berpotensi mengganggu pertumbuhan tumbuhan
lainnya. Karena itu, herbisida masa kini dibuat supaya mudah terurai oleh
mikroorganisme di tanah atau air.
Kritik lainnya ditujukan pada pemakaian tanaman transgenik tahan herbisida
tertentu. Meskipun dapat menekan biaya, teknologi ini bermotifkan komersial
(meningkatkan penggunaan herbisida merek tertentu). Selain itu, teknologi ini
dianggap tidak bermanfaat bagi pertanian non mekanik (pertanian dengan padat
karya) atau berlahan sempit.

1.2 Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui cara aplikasi herbisida dengan


benar dan mempelajari cara pengendalian gulma pada perkebunan karet dengan
menggunakan herbisida.

90
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Soerjani (1998) dalam Sukman dan Yakup (1991) mendefinisikan gulma


sebagai tumbuhan yang peranan, potensi, dan hakikat kehadirannya belum
sepenuhnya diketahui. Menurut Rochecouste (1971) gulma adalah tumbuhan yang
tidak dikehendaki, bersifat agresif dalam bersaing dengan tanaman liar, sulit
diberantas, mudah tumbuh menjadi populasi besar dan kurang berguna. Gulma
adalah suatu tumbuhan yang tumbuh di tempat yang tidak dikehendaki manusia
atau tumbuhan yang kegunaannya belum diketahui (Tjitrosoedirdjo, et. al., 1984).
Smith (1981) menyatakan bahwa kerugian yang ditimbulkan gulma pada
tanaman bududaya adalah mengurangi hasil dan kualitas produksi tanaman,
menjadi inang, hama, dan penyakit tanaman, mengurangi efisiensi, peningkatan
konsumsi energi dalam pengendaliannya, menghalangi sistem irigasi,
menyebabkan keracunan dan luka pada manusia dan hewan, serta mengurangi
nilai dan produktivitas dan estetika lahan. Penurunan hasil tanaman akibat
munculnya gulma disebabkan oleh terjadinya persaingan (kompetisi) antara gulma
dan tanaman untuk memperebutkan unsure hara, air, cahaya, dan ruang tumbuh.
Menurut Sukman dan Yakup (1991), beberapa jenis gulma tertentu menyerap
lebih banyak unsure hara daripada tanaman budidaya.
Pada dasarnya jenis gulma di suatu daerah berbeda dengan daerah lain,
walaupun pada tanaman budidaya yang sama. Perbedaan ini disebabkan oleh
iklim, rotasi tanaman, dan tindakan agronomis yang tidak sama. Jenis gulma yang
tumbuh biasanya sesuai dengan kondisi perkebunan. Pada daerah yang baru
diolah, gulma yang dijumpai kebanyakan adalah gulma semusim. Sedangkan pada
perkebunan yang telah ditanami, gulma yang banyak terdapat adalah jenis gulma
tahunan. Penyebaran gulma ditentukan pula oleh perbedaan ketinggian suatu
tempat. Tempat di dataran tinggi cenderung lebih banyak populasinya
dibandingkan dengan di dataran rendah (Tjitrosoedirdjo, 1984). Penyebaran
gulma dari suatu tempat ke tempat lain antara lain disebabkan oleh: manusia,
hewan, angin, dan alat-alat pertanian (Sukman dan Yakup, 1991). Biji gulma juga
dapat disebarkan melalui aliran irigasi (Wilson dan Furer, 1996).

91
Gulma yang tumbuh bersama-sama dengan tanaman karet diketahui dapat
menyebabkan, kerugian terhadap karet tersebut akibat adanya persaingan terhadap
faktor tumbuh yang dibutuhkan. Misalnya, gulma yang terdiri dari jenis Paspalum
Conjugatum, Axonopus Compress dan Digitaria adscendens dibiarkan tumbuh
tanpa pengendalian mengakibatkan sebanyak 85% bibit karet menjadi tidak
memenuhi syarat untuk diokulasi karena pertumbuhan lilitan batang yang
terhambat. P. conjugatum juga telah dilaporkan dapat menekan pertumbuhan
tinggi, jumlah daun, dan lilit batang berturut-turut sebesar 80%, 89% dan 53%
dipembibitan karet (Nasution, 1986).
Pengendalian gulma secara khemis telah umum dilakukan di perkebunan
karet. Pengendalian secara khemis dilakukan dengan cara penyemprotan pada
sepanjang strip sepanjang barisan tanaman. Dengan pengaplikasian herbisida
maka gulma yang mati disekitar tanaman tidak terbongkar keluar sehingga bahaya
erosi dapat ditekan sekecil mungkin disamping pekerjaan pengendalian dapat
diselesaikan dalam waktu yang jauh lebih cepat dibanding dengan metoda lain
seperti membabat dan mengikis.
Pengendalian gulma didefinisikan sebagai proses untuk membatasi infestasi
gulma sedemikian rupa, sehingga tanaman dapat dibudidayakan secara produktif
dan efisien. Pengendalian hanya bertujuan untuk menekan populasi gulma sampai
tingkat yang tidak merugikan secara ekonomik, atau tidak melampaui ambang
ekonomi (economic threshold). Pengendalian gulma tidak bertujuan untuk
menekan populasi gulma sampai tingkat nol (Sukman dan Yakup, 1991).
Pengendalian gulma merupakan salah satu komponen penting hamper di
setiap sistem produksi pertanian, karena hasil panen sangat dipengaruhi oleh
adanya gulma (Sastroutomo, 1990).
Pengendalian gulma pada prinsipnya merupakan usaha untuk meningkatkan
daya saing tanaman budidaya dan melemahkan daya saing gulma. Teknik
pengendalian gulma yang dapat dilakukan adalah: preventif, mekanis, kultur
teknis, hayati, kimia, dan terpadu (integrated weed management). Pemeliharaan
tanaman menghasilkan mencakup pemupukan, pengendalian gulma, pengendalian
hama dan penyakit, serta penunasan. Pengendalian gulma merupakan salah satu

92
komponen penting hamper di detiap sistem produksi tanaman, karena hasil panen
dipengaruhi oleh adanya gulma (Sastroutomo, 1990).
Contoh pengendalian gulma secara kimiawi adalah dengan menggunakan
herbisida. Namun menurut Bangun (1988), penggunaan satu macam herbisida
sejenis secara terus-menerus tidak dianjurkan karena akan mengubah dominasi
dan komposisi gulma. Oleh karena itu, perlu dilakukan kombinasi pengendalian
gulma dengan cara-cara lain, seperti menggunakan tangan (manual). Johnson, et.
al. (1998), menambahkan bahwa hasil pengendalian gulma yang memuaskan telah
dicapai melalui penggunaan herbisida, namun penggunaan herbisida juga dapat
mempengaruhi komposisi spesies dan kepadatan (density) gulma di suatu tempat
dalam jangka waktu yang lama.
Suhardi (2002) menyatakan bahwa pengendalian gulma dengan
menggunakan herbisida memerlukan sedikit tenaga kerja, total biaya lebih rendah,
perusakan perakaran dan erosi dapat dihindarkan dan dapat pula mengendalikan
gulma yang tidak terjangkau dengan pengendalian mekanis. Di samping
keunggulan cara kimia (herbisida) yang dapat menghindarkan keadaan di atas,
terdapat pula kelemahan cara tersebut. Pengendalian gulma dengan herbisida
merupakan suatu penerapan teknologi tinggi, sehingga diperlukan keterampilan
yang cukup baik dalam pemakaiannya baik yang berhubungan dengan
keselamatan, dosis, maupun manipulasi unsur lingkungan lainnya (Tjitrosoedirdjo
et. al., 1984).
Pengendalian gulma secara kimiawi dengan herbisida dapat berhasil
tergantung dari kemampuan herbisida dapat berhasil tergantung dari kemampuan
herbisida untuk membasmi beberapa jenis gulma dengan tidak menimbulkan efek
yang merugikan pada tanaman budidaya. Herbisida adalah bahan kimia yang
dapat mematikan atau menghambat pertumbuhan normal tumbuhan (Ashton dan
Monaco, 1991).
Tjitrosoedirdjo et. al. (1984) menyatakan bahwa cara umum yang dilakukan
dalam pengendalian gulma di perkebunan adalah kimia dengan menggunakan
herbisida. Aplikasi herbisida sebagai salah satu alternative untuk mengendalikan
gulma menyebabkan penggunaan herbisida yang semakin meluas dalam bidang
pertanian terutama pada perkebunan-perkebunan besar.

93
Herbisida adalah senyawa kimia yang digunakan untuk mengendalikan
gulma. Ashton dan Crafts (1981) membagi herbisida menjadi tiga golongan
berdasarkan sifat kimia, sifat selektivitas, dan cara pengendalian gulma. Menurut
sukman dan Yakup (1991), penggunaan herbisida sendiri mulai berkembang pesat
sejak diperkenalkannya senyawa 2,4-D sebagai herbisida pada tahun 1944.
Penemuan tersebut dinilai memberikan kontribusi yang cukup besar dalam
meningkatkan produksi tanaman per satuan luas dan menghemat penggunaan
tenaga kerja. Selain itu, penggunaan herbisida memberikan keuntungan yang tidak
didapat pada sistem pengendalian gulma secara manual seperti vegetasi pratanam
di lahan dapat difungsikan sebagai mulsa, mempercepat waktu panen, dan lain-
lain.
Keuntungan penggunaan herbisida yang lain diantaranya: dapat
mengendalikan gulma sebelum mengganggu, dapat mengendalikan gulma di
larikan tanaman, dapat mencegah kerusakan perakaran tanaman, lebih efektif
dalam membunuh gulma tahunan dan semak belukar, dalam dosis rendah dapat
berperan sebagai hormone tumbuh, dan dapat meningkatkan produksi tanaman
budidaya dibandingkan dengan perlakuan penyiangan biasa.
Metode pengendalian gulma dapat dilakukan dengan beberapa cara
diantaranya: (1) fisik, (2) kultur teknis, (3) kimia, dan (4) biologi. Metode
pengendalian gulma secara kimia umumnya menyangkut herbisida. Glifosat,
metsulfuron metil, dan 2,4-D termasuk jenis herbisida sistemik yang sering
digunakan pada areal perkebunan. Menurut Tjitrosoedirdjo et. al. (1984)
keuntungan menggunakan herbisida disbanding manual adalah: (1) pekerjaan
lebih cepat dan tenaga kerja lebih sedikit, (2) kerusakan pada akar tanaman
terhindari, (3) erosi tanah lebih kecil terutama pada daerah miring, dan (4)
pembentukan cekungan-cekungan atau parit-parit yang mengakibatkan
terkumpulnya air hujan dapat dihindari.
Secara umum, herbisida dapat digolongkan berdasarkan waktu aplikasi,
selektivitas, dan pergerakan dalam tanaman (Herman Pane, 1984). Berdasarkan
waktu aplikasi, herbisida dapat dibagi menjadi herbisida pra tanam (pre planting),
yaitu herbisida yang diaplikasikan pada gulma yang sedang tumbuh sebelum
tanam, herbisida pra tumbuh (pre emergence), yaitu herbisida yang diaplikasikan

94
saat gulma dan tanaman berkecambah, dan herbisida pasca tumbuh (post
emergence) yang diaplikasikan setelah gulma dan tanaman tumbuh.
Berdasarkan selektivitas, herbisida dapat digolongkan menjadi herbisida
selektif, yaitu herbisida yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan
jenis gulma tertentu, tapi tidak membunuh tanaman, dan herbisida tidak selektif,
yaitu herbisida yang dapat membunuh gulma maupun tanamannya. Sedangkan
berdasarkan pergerakan dalam tanaman, herbisida ada yang bersifat kontak, yaitu
langsung mematikan bagian gulma yang terkenan. Sifat herbisida yang lain ialah
sistemik, yaitu herbisida ditranslokasikan dan mengumpul ke bagian sasaran
dahulu, baru mematikan gulma (Bangun, 1985).
Kelemahan penggunaan herbisida adalah dapat menimbulkan efek
samping seperti: mengakibatkan resistensi beberapa spesies gulma, menimbulkan
polusi, dan residunya dapat meracuni tanaman. Menurut Cousens dan Mortimer
(1995) dalam Johnson et. al. (1998), keanekaragaman spesies dan kepadatan
gulma telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir akibat semakin
berkembangnya penggunaan herbisida-herbisida yang memiliki tingkat efektivitas
tinggi.
Herbisida adalah salah satu senyawa organic atau anorganik yang dapat
mematikan tumbuhan atau menghambat pertumbuhan normalnya. Efikasi suatu
herbisida bersifat relative, bergantung pada konsentrasi dan dosisnya. Pada
konsentrasi tertentu beberapa tumbuhan dapat mati, sedangkan tumbuhan lainnya
tidak terpengaruh sama aekali. Semua herbisida bersifat fitotoksik pada
konsentrasi tinggi (Ashton dan Monaco, 1991).
Bahan aktif herbisida tidak dapat dijual dalam bentuk murni karena
harganya sangat mahal, sangat beracun, sangat berbahaya, serta sulit digunakan di
lapangan. Karena itu, bahan aktif ini diformulasikan terlebih dahulu dengan
bahan-bahan pembantu.
Salah satu pertimbangan yang penting dalam pemakaian herbisida adalah
untuk mendapatkan pengendalian yang selektif, yaitu mematikan gulma tetapi
tidak merusak tanaman budidaya. Kebetulan aplikasi suatu herbisida dipengaruhi
oleh beberapa factor yaitu: jenis herbisida, formulasi herbisida, ukuran butiran
semprot, volume semprotan, dan waktu pemakaian (pra pengolahan, pra tanam,

95
pra tumbuh, atau pasca tumbuh). Factor lainnya yang mempengaruhi keberhasilan
aplikasi herbisida adalah sifat kimia dari herbisida itu sendiri, iklim, kondisi
tanah, dan aktifitas mikroorganisme. Teknik penyemprotan dan air pelarut yang
digunakan juga mempengaruhi efektivitas herbisida yang diaplikasikan (Utomo et.
al., 1998).
Herbisida dapat diformulasikan dalam bentuk wettable powder (WP),
flowable (FW), emulsifiable concentrate (EC), granules (G), dusts, fumigants,
aerosols, dan juga dalam bentuk batangan lilin (wax bars).
Wettable powder adalah bubuk padat yang amat halus yan g dapat segera
membentuk suspense di dalam air. WP dibuat dengan menjenuhkan bahan
herbisida teknis pada lempung (kaolin). Kemudian ditambahkan bahan pembasah
(wetting agent) dan bahan pencampur (dispersing agent) kepada formulasi untuk
menstimulasi pembasahan dan pencampuran partikel padat tersebut dengan air.
Biasanya partikelpadat tersebut akan mengendap ke dasar tangki sehingga
diperlukan pengadukan yang terus-menerus selama penyemprotan. Bahan aktif
dari formulasi herbisida secara langsung menentukan efektivitas herbisida itu.
Setiap formulasi herbisida terdapat perbedaan walaupun berbahan aktif sama,
misalnya surfaktan dan jenis carrier (pembawa). Surfaktan digunakan untuk
mengurangi tegangan permukaan, menambah pembasahan, dan mempermudah
kontak dengan permukaan daun. Surfaktan sering disebut sebagai bahan
pembasah (wetting agent). Hal ini yang dapat menyebabkan perbedaan efikasi.
Formulasi ini bersifat mengikis sehingga akan merusak pompa dan nosel
peralatan.
Dosis herbisida adalah jumlah herbisida yang diaplikasikan untuk
mengendalikan gulma pada setiap satuan luas bidang sasaran, misalnya
liter/hektar, kilogram/hektar, dan sebagainya.
Di antara berbagai macam herbisida, glifosat dan 2,4-D merupakan bahan
aktif yang umum digunakan untuk mengendalikan gulma di perkebunan. 2,4-D
bersifat sistemik dan mampu mematikan gulma daun lebar (Moenandir, 1993).
Glifosat juga bersifat sistemik apabila disemprotkan pada bagian tumbuhan dan
segera ditranslokasikan ke seluruh bagian tumbuhan (Thomson, 1979).

96
Glifosat dapat diabsorbsi lewat daun kemudian ditranslokasikan bersama
fotosintat dalam jaringan keseluruh bagian gulma. Glifosat juga mempunyai daya
brantas yang sangat luas dengan daya racun yang rendah terhadap hewan dan
manusia (Duke, 1988). Glifosat merupakan herbisida sistemik yang bekerja lebih
efektif pada saat pertumbuhan aktif sehingga dapat ditranslokasikan ke seluruh
bagian tumbuhan. Cara bekerja glifosat adalah dengan menghambat sintesa
protein dan metabolism asam amino.
Menurut Thomson (1979), ada tiga fakta herbisida glifosat tidak aktif di
dalam tanah:
1. Diikat dengan cepat dan kuat oleh partikel tanah sehingga tidak tersedia untuk
akar gulma dan tanaman.
2. Sejumlah kecil yang tidak diikat oleh partikel tanah dan bebas di dalam air
tanah segera didegradasikan oleh mikroorganisme.
3. Sangat sedikit yang diambil oleh akar, walaupun dengan mudah mengadakan
penetrasi ke dalam daun.
Herbisida glifosat dapat didegradasi oleh mikroorganisme. Secara kimia hal
ini berhubungan erat dengan asam amino glycine yang juga dikandung oleh sistem
hewan dan tanaman. Sebagai akibatnya, mikroorganisme di dalam tanaman dapat
dengan mudah mendegradasi herbisida glifosat menjadi CO2, nitrat, air, dan fosfat
yang tidak berbahaya (Thomson, 1979).
Herbisida glifosat boleh dikatakan suatu herbisida serba guna, karena sifat-
sifatnya yang unik, kecuali tidak dapat dipakai sebagai herbisida pra tumbuh
untuk gulma, karena tidak aktif melalui tanah. Akan tetapi karena sifat inilah
maka herbisida glifosat bisa dipakai juga untuk pemberantasan gulma sebelum
tanam (pre planting) tanaman pokok (Arif, 1979).
Menurut Klingman et. al. (1982), herbisida 2,4-D digunakan untuk gulma
berdaun lebar dan mempunyai sifat yang selektif dan sangat efektif untuk
mengendalikan gulma annual maupun perennial. Herbisida ini diaplikasikan
melalui jaringan akar maupun daun atau keduanya pada tumbuhan yang akan
dikendalikan. Hali ini sesuai dengan pernyataan Ashton dan Crafts (1981) bahwa
herbisida 2,4-D lebih diformulasikan untuk mengendalikan gulma berdaun lebar.

97
Herbisida 2,4-D banyak digunakan sebagai herbisida pasca tumbuh untuk
mengontrol gulma semusim dan tahunan berdaun lebar pada lahan sawah dan
bukan sawah. Juga dapat digunakan untuk mengendalikan gulma berkayu dan
gulma air. Pada konsentrasi yang rendah dapat digunakan sebagai zat pengatur
tumbuh (Ashton dan Monaco, 1991).
Herbisida 2,4-D ini diabsorbsi melalui daun maupun akar dan
ditransportasikan melalui simplas atau apoplas dan akhirnya masuk sel hidup
dengan menembus plasmolemma. Herbisida jenis ini lebih efektif terhadap gulma
berdaun lebar daripada jenis rerumputan (Tjitrosoedirdjo et. al., 1984).
Pengaruh herbisida 2,4-D terhadap respirasi adalah dalam kadar rendah
menghambat sebagian pengambilan O2. Dalam interaksi dengan hormone tanaman
dan pengaturan pertumbuhan pertumbuhan 2,4-D dapat menggantikan zat tumbuh
asam indo asetat, dimana kultur jaringan tumbuhan yang butuh IAA juga dapat
tumbuh bila diberi 2,4-D (Moenandir, 1993).
Menurut Ashton dan Monaco (1991), tipe tanah dan formulasi dari 2,4-D
berpengaruh pada proses pencucian di dalam tanah. Herbisida 2,4-D diserap oleh
koloitd tanah dan sangat sedikit tercuci pada tanah lempung dan tanah organic
serta tanah berpasir. Kehilangan 2,4-D di dalam tanah tidak terlepas dari peranan
penting mikroorganisme.
Penemuan sifat 2,4-D benar-benar menjadi tonggak perkembangan herbisida
modern, yaitu dalam jumlah yang amat sedikit masih dapat mematikan gulma
secara selektif dan sistemik (Tjitrosoedirdjo et. al., 1984).
Pengendalian gulma dengan menggunakan senyawa kimia akhir-akhir ini
sangat diminati, terutama untuk lahan pertanian yang cukup luas. Menurut
Setyobudi et. al., (1995) ada beberapa keuntungan yang diberikan oleh herbisida
seperti:
1. Dapat mengendalikan gulma sebelum mengganggu,
2. Dapat mengendalikan gulma di larikan tanaman,
3. Dapat mencegah kerusakan perakaran tanaman,
4. Lebih efektif membunuh gulma tahunan dan semak belukar,
5. Dalam dosis rendah dapat sebagai hormone tumbuh,

98
6. Dapat menaikkan hasil panen tanaman dibandingkan perlakuan penyiangan
biasa.
Herbisida merupakan senyawa kimia yang digunakan untuk mengendalikan
gulma tanpa menggunakan tanaman pokok. Berdasarkan cara aplikasi melalui
daun, herbisida dibedakan menjadi yang bersifat kontak contoh Paraquat
(Gramoxone) dan bersifat sistemik contoh glifosat (Round Up) (Setyobudi et. al.,
1995).
Komunitas gulma selalu ditemukan dengan spesies gulma yang beragam,
oleh sebab itu herbisida yang diharapkan adalah herbisida yang mempunyai daya
pengendalian yang berspektum luas. Alasan utama digunakannya campuran dari
dua atau lebih herbisida adalah untuk memperluas spectrum pengendalian gulma
dan mengurangi salah satu komponen dari herbisida campuran secara terus-
menerus dan untuk menghemat biaya (Motooka, 1986).
Herbisida sampai saat ini telah dikembangkan lebih efektif dan ekonomis.
Salah satu pertimbangan penting dalam teknik pengembangan herbisida adalah
pemakaian herbisida yang dicampur herbisida. Menurut Utomo (1989),
pemakaian herbisida yang dicampur ini diharapkan untuk mendapatkan efek
sinergi dan meningkatkan toksisitas terhadap jasad sasaran ataupun memperoleh
sifat kimia fisik yang optimal dalam penetrasi herbisida.
Penggunaan herbisida campuran saat ini telah banyak digunakan untuk
mengendalikan gulma-gulma pada tanaman tropis. Salah satu tujuan dari
pencampuran herbisida adalah untuk memperluas spektum pengendalian gulma
atau untuk memperoleh pengendalian yang lebih efektif pada beberapa gulma
perennial yang spesifik (Rochecouste, 1971). Moenandir dan Murniningtias
(1999) menambahkan, herbisida glifosat yang diaplikasikan secara tunggal kurang
efektif dalam mengendalikan gulma dibandingkan dengan penambahan herbisida
2,4-D yang meningkatkan efikasi, fitotoksitas, kompatibilitas, dan efek sinergi
dari glifosat.
Pada umumnya hanya sejumlah kecil herbisida yang diperlukan untuk
mengendalikan gulma secara efisien, tetapi justru ini yang sangat diperlukan agar
jumlah yang kecil itu dapat disebarkan merata ke seluruh gulma yang ada. Apabila
tidak merata atau terlalu sedikit, tidak mematikan gulma sedangkan bila terlalu

99
banyak mungkin menjadi beracun bagi tanaman budi daya. Oleh karena itu
herbisida harus diformulasikan sedemikian rupa agar mudah mengatur, aman, dan
efektif (Tjitrosoedirdjo et. al., 1984).
Metsulfuron metil mempunyai nama kimia 2, -{{{{(4-metoksi-6-6 metil, 1-
3, 5, triazin-2-yl) amino} sulfonil} benzoa. Metsulfuron metil adalah herbisida pra
tumbuh dan purna tumbuh, bersifat sistemik dan selektif. Metsulfuron metil
dengan bahan aktif sebesar 20% dari formulasinya terdapat pada Ally 20 Water
Dispersible Granule (WDG), berbentuk butiran granul berwarna putih kekuningan
yang dapat terdispersi dalam air. Metsulfuron metil termasuk turunan molekul
sulfonil-urea dengan dosis penggunaan yang rendah, sekitar 2 – 75 g b.a/ha.
Metsulfuron metil agak sedikit berbau, tidak berdebu, dan tidak mudah menguap
(FAO, 2002). Metsulfuron metil adalah salah satu herbisida sistemik yang
berbentuk granule. Menurut Tomlin (1994), metsulfuron metil digunakan untuk
mengendalikan gulma berdaun lebar. Metsulfuron metil diserap melalui daun,
akar, dan dapat menghambat pertumbuhan pucuk. Daya racunnya akan
terdegradasi oleh mikroorganisme dalam tanah, sehingga dapat mengurangi resiko
terjadinya dampak lingkungan atau pencemaran dalam tanah.
Paraquat atau ion 1,1-dimethyl-a,4-bipyridilium merupakan herbisida pasca
tumbuh yang bersifat kontak dan non selektif. Paraquat tidak dapat diserap oleh
bagian gulma yang tidak berwarna hijau (batang atau akar) dan bila tersemprot ke
daun, hanya daun itu saja yang layu dan mati. Butir semprot tidak meresap ke
bagian lain sehingga gulma tetap normal. Paraquat bereaksi dengan cahaya
matahari menghasilkan hydrogen peroksida (H2O2) sehingga merusak membrane
sel (Tjitrosoedirdjo et. al., 1984).
Penetrasi paraquat lebih banyak terjadi melalui daun , keefektifan paraquat
dalam merusak klorofil meningkat apabila ada sinar matahari. Penyerapan akan
meningkat dengan intensitas cahaya yang tinggi dan kelembaban yang cukup.
Paraquat bereaksi di kloroplas dimana terdapat sistem fotosintesis dalam
menghasilkan karbohidrat. Paraquat diketahui dapat menghambat proses dalam
fotosistem I, yaitu dalam mengikat electron hasil dari sistem tersebut, dan
membentuk electron radikal bebas . radikal bebas ini akan diikat oleh oksigen

100
membentuk superoxide yang bersifat sangat aktif. Superoxide ini akan merusak
membrane sel dan jaringan tanaman (Pusat Informasi Paraquat, 2006).
Daya kerja biologis paraquat hilang apabila terkena tanah karena adanya
reaksi antara muatan positif ganda pada kation paraquat dengan mineral liat tanah
sehingga membentuk ikatan kompleks dan tidak aktif. Butiran semprot paraquat
bila jatuh ke perairan atau terlarut oleh air hujan akan segera terikat oleh butiran
lumpur (Ashton dan Monaco, 1991).
Herbisida kontak adalah herbisida yang langsung mematikan jaringan-
jaringan atau bagian gulma yang terkena larutan herbisida, terutama bagian gulma
yang berwarna hijau. Herbisida ini bereaksi sangat cepat dan efektif jika
digunakan untuk memberantas gulma yang masih muda dan berwarna hijau, serta
gulma yang memiliki sistem perakaran tidak meluas (Barus, 2003). Paraquat
adalah salah satu anggota golongan herbisida piridina, yang bersifat non selektif
yang dipergunakan secara pasca tumbuh, terutama sekali pada gulma semusim
dan rerumputan (Sukman dan Yakup, 2002)

101
BAB III
BAHAN DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 7 Desember 2009 dengan


pemangamatan yang dilakukan pada 2, 4, 6, dan 8 minggu setelah aplikasi (MSA).
Praktikum ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikabayan Kampus IPB
Darmaga Bogor dimulai dari pukul 07.00 hingga pukul 10.00 WIB.

3.2 Bahan dan Alat

Bahan dan alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain: herbisida
glifosat, metsulfuron metil, dan paraquat, 2,4-D, sprayer punggung Solo, ember,
gelas ukur, pipet, kuadrat 0,5 m x 0,5 m, kantong plastik, pisau.

3.3 Metodologi

Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 4 kali


ulangan, dengan perlakuan sebagai berikut:
P1 = perlakuan metsulfuron metil dengan dosis:

P2 = perlakuan metsulfuron metil dengan dosis:

P3 = perlakuan monoamonium glifosat dengan dosis:

P4 = perlakuan monoamonium glifosat dengan dosis:

P5 = perlakuan 2,4-D dengan dosis:

102
P6 = perlakuan 2,4-D dengan dosis:

P7 = perlakuan gramoxon dengan dosis:

P8 = perlakuan gramoxon dengan dosis:

P9 = perlakuan paraquat 400 + metsulfuron metil 30

P10 = perlakuan paraquat 800 + metsulfuron metil 30

P11 = perlakuan glifosat 0,5 + 2,4 D 0,5

= 3,6

P12 = perlakuan glifosat 1 + 2,4 D 0,25

= 4,5

Untuk melihat pengaruh perlakuan terhadap respon yang diamati dilakukan


analisis ragam. Apabila berpengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan uji nilai
tengah dengan uji BNT pada taraf 5%.
Aplikasi herbisida dilakukan secara bersamaan pada awal percobaan. Agar
penyemprotan merata tiap petak, sebelum aplikasi dilakukan kalibrasi alat
berdasarkan volume larutan.
Pengujian efikasi herbisida didasarkan pada analisis bobot kering gulma.
Untuk menentukan bobot kering biomassa gulma, dilakukan pemanenan gulma
yang masih hidup tepat di atas permukaan tanah pada 2, 4, 6, dan 8 minggu
setelah aplikasi (MSA). Gulma hasil panenan dikelompokkan menurut spesies
gulma dominan, kemudian dikeringkan sampai bobot konstan.

103
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel Pengamatan Bobot Kering Gulma dan Gulma Toleran
BK gulma (gram)
Perlakuan Kelompok Gulma Toleran
1 MSA 2 MSA
A 30.7 9.65 Tetracer scandens

Metil B - 13.682 Digitaria adscendens


metsulfuron Axonopus compressus, mikania micrantha
100 gr/ha C 31.82 7.675
Digitaria adscendens
D 22.89 6.54
Melastoma affine, Clidemia hirta
A 97.5 -
Metil B 44.36 21.36 -
metsulfuron 50
gr/ha C 44.655 37.93 -
D 4.79 5.965 -
Phylanthus niruri
A - -

B 45.7 14.5 -
Monoamonium
glifosat 1 kg/ha C mati mati -
Cynodon dactylon, Axonopus compressus, Boreria
D 25.4 - alata, Cyperus rotundus

Melastoma affine, Chromolaena odorata, Urena


A - - lobata, Clidemiahirta, Mikhania micrantha

Monoamonium B 61.05 25.27 -


glifosat 2 kg/ha C 0 15.88 -
Tetracera scandens, Mimosa pudica, Mikania
D 65 30 michrantha, Chromolaena odorata, Urena lobata

A - - -
B - - -
2,4 D 1L/ha Axonopus compressus
C 63.5 60.52
Axonopus compressus, Setaria plicata
D 50.8 37.5

A - - -
B 17.6 - -
2,4 D 2L/ha
C - - -
D 17 mati -
Setaria plicata, Axonopus compressus, Mikania
A 12.25 12.8 micrantha

Gramoxon Rumput kawat, gulma x, Boreria alata


B 0.0786 0.1486
1L/ha
C 0 30.1 -
D 46.5 14.3 -

104
A 14 mati -

Gramoxon B 3 4.01 -
2L/ha C 0 23.51 -
D 46.5 50.02 -
A - - -
Mikania micrantha, tetracera indica, Borreria
Paraquat alata, Cleome rutidosperma, Cynodon dactylon,
400ml/ha + B - 4.85 Digitaria adscendens, Setaria plicata, Digitaria
Metil ciliaris
metsulfuron
30gr/ha
C 0 17.34 -
D 35 14.5 -
A - - -
Paraquat
800ml/ha + B 0.637 - -
Metil
metsulfuron C 0 17.34 -
30gr/ha
D 65 50.5 -
A - - -
Melastoma affine, Chromolaena odorata, Setaria
Glifosat B - - plicata, Clidemia hirta, Urena lobata, Boreria alata
0,5L/ha + 2,4
D 0,5L/ha
C 12.34 0 -
D 55.2 33.5 -
A - - -
Glifosat 1L/ha B 37.5 15.5 -
+ 2,4 D
0,25L/ha C - - -
D 7.18 6.175

Tabel Pengamatan Persentase Kematian Gulma dan Gulma yang Mati

Perlakuan Kelompok %Kematian Gulma Yang Mati

Melastoma malabathrichum, Eleusine indica,


A 1 MSA 2 MSA
Axonopus compressus
Metil B 30 70 -
metsulfuron
100 gr/ha C - - -
D 0 0 Cyperus kilyngia
A 35 56 Cynodon dactylon, Mikania micrantha
B 40 78 Melastoma malabathricum, Digitaria adscendens
Metil C 30 40 Cyperus sp
metsulfuron
Mikania micrantha, Tetracera indica, Cleome
50 gr/ha
rutidosperma, Cynodon dactylon, Digitaria
D 0.01 0.5 adscendens, Setaria plicata, Digitaria ciliaris,
Chromolaena odorata, Melastoma malabathricum,
Penisetum polystachyon
Melastoma malabathrichum, Clidemia hirta,
A 5 20
Monoamoniu Setaria plicata
m glifosat 1 B 90 90 Axonopus compressus, Paspalum conjugatum
kg/ha
C 80 15 -

105
D 100 100 -
A 10 - Setaria plicata, Digitaria adscendens
Axonopus compressus, Borreria alata, Setaria
Monoamoniu B 55 65
plicata
m glifosat 2 Boreria alata, Setaria plicata, Axonopus
kg/ha C 61.667 31.67
compressus
Axonopus commpressus,Ottochloa nodosa,Boreria
D - -
alata, Cyperus killyngi, Asistasia gangetica
A 64 78 -
B 50 94 -
2,4 D 1L/ha
C 60 60 -
Mikania micrantha, Melastoma affine,
D 0 0
Chromolaena odorata, Pennisetum polistachyon
A 40 55 Otthocloa, Setaria
B 20 47.8 -
2,4 D 2L/ha Axonopus compressus, Setaria plicata, Clibadium
C - -
sp., Digitaria adscendens
D 5 10 Ipomea, Setaria
A 80 100 tidak diamati
B 40 40 -
Gramoxon
1L/ha Axonopus compressus , Clidemia hirta, Mikania
C - -
micrantha, Paspalum conjugatum
D 99 - Axonopus compressus, Paspalum conjugatum
A 80 15 Ipomoea, Setaria

Gramoxon B 85 100 -
2L/ha C 95 - Axonopus compressus , Clidemia hirta
D 0 - Axonopus compressus, Paspalum conjugatum
A 80 15 Teh-tehan
Paraquat
400ml/ha + B 100 100 -
Metil Borreria alata, Setaria plicata, Axonopus
metsulfuron C 75.5 89
compressus
30ml/ha
D 100 100 Setaria plicata, Axonopus compressus
A 40 15 -
Paraquat
800ml/ha + B 30 30 Cleome rutidosperma, Borreria alata
Metil Borreria alata, Setaria plicata, Axonopus
metsulfuron C 90 -
compressus
30ml/ha Pennisetum polystachyon, Axonopus compressus,
D 100 100
Cyrtococcum patens
A 43.333 70 -
Glifosat B 90 100 Ottochloa nodosa
0,5L/ha + 2,4 Paspalum conjugatum, Setaria plicata, Mikania
D 0,5L/ha C 62.375 -
micrantha
D 33 100 Pennisetum polystachyon. Cyrtococcum patens
A 30 40 -
B 40 55 Axonopus compressus, Setaria plicata 4.2 Pembahasan
Glifosat C 45 20 -
1L/ha + 2,4 D
Axonopus compressus, Setaria plicata, Boreria
0,25L/ha
alata, Cleome rutidosperma, Cynodon dactylon, Dari hasil pengam
D 100 - Digitaria adscendens, Mikania micrantha,
Pennisetum polisatchyon, Digitaria ciliaris,
Tetracera indica
perla
5 10 kuan

106
pertama, yaitu dengan Metsulfuron metil 100 , persentase kematian gulma

pada 1 MSA kelompok A adalah sebanyak 30 % dan pada 2 MSA meningkat


menjadi 70 %. Ini menunjukkan bahwa terdapat gulma yang toleran terhadap
pengaplikasian herbisida Metsulfuron metil 100 . Menurut hasil pengamatan,

gulma yang toleran tersebut adalah Tetracer scandens. Gulma-gulma yang mati
diantaranya Melastoma malabathrichum, Euleusina indica, dan Axonopus
compressus. Pada pengamatan 1 MSA, jumlah bobot kering gulma yang masih
hidup adalah sebesar 30,7 gram, sedangkan pada pengamatan 2 MSA jumlah
bobot kering gulma yang masih hidup berkurang menjadi hanya sebesar 9,65
gram.
Pada kelompok B dengan perlakuan yang sama, tidak diketahui persen
kematian gulma. Hal ini mungkin disebabkan karena kelompok tersebut tidak
mengumpulkan data atau tidak melakukan pengamatan atau data pengamatan
tersebut hilang. Data yang diketahui hanya jumlah bobot kering gulma yang masih
hidup pada 2 MSA yaitu sebesar 13,68 gram dan gulma yang toleran yaitu
Digitaria adscendens.
Pada kelompok C dengan perlakuan yang sama, persentase kematian gulma
pada 1 MSA maupun 2 MSA adalah 0 %. Gulma-gulma yang tetap bertahan hidup
di antaranya ialah Axonopus compressus dan Mikania micrantha yang memiliki
bobot kering pada pengamatan 1 MSA sebesar 31,82 gram serta 7,675 gram pada
2 MSA. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan herbisida Metsulfuron metil
100 terhadap kedua jenis gulma ini tidak efektif.

Pada kelompok D dengan perlakuan herbisida yang sama, persentase


kematian gulma pada 1 MSA ialah sebesar 35 %, sedangkan pada pengamatan 2
MSA meningkat menjadi 56 %. Gulma yang mendominasi petak kelompok D
adalah Digitaria adscendens dan Cyperus kilyngia. Gulma yang toleran terhadap
perlakuan herbisida Metsulfuron metil 100 pada petak kelompok D adalah

Digitaria adscendens. Sedangkan gulma yang mati adalah Cyperus kilyngia. Hal

107
ini menunjukkan perlakuan herbisida ini cukup efektif untuk Cyperus kilyngia,
tetapi kurang efektif untuk gulma Digitaria adscendens.
Pada perlakuan kedua, yakni dengan perlakuan herbisida Metsulfuron metil
50 hasilnya ternyata cukup signifikan dibandingkan dengan perlakuan yang

pertama. Pada petak kelompok A sebelum pengaplikasian herbisida didominasi


oleh gulma Melastoma affine, Clidemia hirta, Cynodon dactylon dan Mikania
micrantha. Setelah pengaplikasian herbisida, persentase kematian gulma pada 1
MSA adalah sebesar 40 %, sedangkan pada 2 MSA adalah sebesar 78 %. Gulma
yang masih bertahan hidup diantaranya Melastoma affine dan Clidemia hirta.
Data bobot kering gulma yang masih hidup yang ada hanya pada 1 MSA yaitu
sebesar 97,5 gram. Gulma yang mati diantaranya Cynodon dactylon dan Mikania
micrantha.
Pada petak kelompok B dengan perlakuan herbisida Metsulfuron metil
50 , persentase kematian gulma pada 1 MSA ialah sebesar 30 %, sedangkan

pada 2 MSA meningkat sebesar 10 % menjadi 40 %. Gulma yang toleran tidak


diketahui, sedangkan gulma yang mati diantaranya adalah Melastoma
malabatrichum dan Digitaria adscendens. Jumlah bobot kering gulma yang masih
hidup pada 1 MSA adalah sebesar 44,36 gram, sedangkan pada 2 MSA adalah
sebesar 21,36 %. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan herbisida tersebut kurang
efektif pada petak kelompok B.
Pada petak kelompok C dengan perlakuan yang sama, persentase kematian
gulmanya sangat kecil yakni 0,01 % pada 1 MSA dan 0,5 % pada 2 MSA, hanya
saja tidak diketahui nama gulma yang tolerannya itu apa. Gulma yang mati ialah
Cyperus sp. Bobot kering gulma yang masih hidup pada 1 MSA adalah sebesar
44,66 gram, sedangkan pada 2 MSA adalah sebesar 37,93 gram. Hal ini
menunjukkan bahwa perlakuan herbisida Metsulfuron metil 50 pada petak

kelompok C tidak efektif.


Pada petak kelompok D, persentase kematiannya juga kecil yakni sebesar 5
% pada 1 MSA dan 20 % pada 2 MSA. Gulma yang mati diantaranya ialah
Mikania micrantha, Tetracera indica, Cleome rutidosperma, Cynodon dactylon,

108
Digitaria adscendens, Setaria plicata, Digitaria ciliaris, Chromolaena odorata,
Melastoma malabathricum, dan Penisetum polystachyon. Bobot kering gulma
yang masih hidup pada 1 MSA adah sebesar 4,79 gram, sedangkan pada 2 MSA
adalah sebesar 5,965 gram. Hanya saja tidak diketahui data nama gulma yang
toleran tersebut.
Perlakuan yang ketiga, yakni dengan perlakuan herbisida Monoamonium
glifosat 1 . Pada petak kelompok A, persentase kematian gulmanya cukup

tinggi, yakni 90 % pada 1 MSA maupun 2 MSA. Gulma-gulma yang mati tersebut
diantaranya ialah Melastoma malabathrichum, Clidemia hirta, dan Setaria
plicata. Hali ini menunjukkan bahwa perlakuan ini cukup efektif untuk
mengendalikan jenis gulma-gulma tersebut. Gulma yang toleran pada petak
kelompok A adalah Phylanthus niruri. Sedangkan data bobot kering gulma yang
masih hidup tidak diketahui (tidak ada datanya).
Pada petak kelompok B, persentase kematian gulma dengan perlakuan yang
sama pada 1 MSA adalah sebesar 80 %. Sedangkan pada 2 MSA persentase
kematian gulma menurun drastis hingga menjadi 15 %. Hal ini mungkin
disebabkan herbisida sudah menguap. Gulma- gulma yang mati tersebut
diantaranya Axonopus compressus dan Paspalum conjugatum. Jumlah bobot
kering gulma yang masih hidup pada 1 MSA adalah sebesar 45,7 gram dan 14,5
gram pada 2 MSA. Sedangkan data nama dulma yang toleran tidak diketahui.
Pada petak kelompok C, persentase kematian gulmanya adalah sebesar 100
% baik pada 1 MSA maupun pada 2 MSA sehingga bobot kering gulma yang
masih hidup tidak ada. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan herbisida pada
petak kelompok C sangat efektif, hanya saja tidak diketahui nama-nama gulma
yang mati tersebut.
Pada petak kelompok D, persentase kematian gulmanya adalah sebesar 10
% pada 1 MSA, sedangkan pada 2 MSA tidak diketahui persentasenya. Nama
gulma yang matinya pun tidak diketahui datanya. Bobot kering gulma yang masih
hidup pada 1 MSA adalah sebesar 25,4 gram, sedangkan bobot kering gulma pada
2 MSA tidak diketahui datanya. Gulma-gulma yang toleran tersebut diantaranya

109
ialah Cynodon dactylon, Axonopus compressus, Boreria alata, dan Cyperus
rotundus.
Perlakuan yang keempat adalah dengan perlakuan herbisida Monoamonium
glifosat 2 . Pada petak kelompok A, persentase kematian gulma pada 1 MSA

adalah sebesar 55 % dan 65 % pada 2 MSA. Gulma-gulma yang mati tersebut


diantaranya Setaria plicata dan Digitaria adscendens. Hal ini menunjukkan
perlakuan herbisida ini cukup efektif karena persentase kematiannya melebihi 50
%. Gulma yang toleran pada petak ini diantaranya ialah Melastoma affine,
Chromolaena odorata, Urena lobata, Clidemiahirta, dan Mikhania micrantha.
Hanya saja data jumlah bobot kering gulma yang masih hidup tidak diketahui.
Pada petak kelompok B, persentase kematian gulma pada 1 MSA adalah
sebesar 61,7 %, sedangkan pada 2 MSA menurun menjadi 31,7 %. Gulma-gulma
yang mati tersebut diantaranya ialah Axonopus compressus, Borreria alata, dan
Setaria plicata. Jumlah bobot kering gulma yang masih hidup adalah sebesar
61,05 gram pada 1 MSA dan 25,27 gram pada 2 MSA. Hanya saja tidak diketahui
data nama gulma yang toleran pada petak tersebut.
Pada petak kelompok C, gulma-gulma yang mati setelah pengaplikasian
herbisida dengan perlakuan yang sama seperti pada kelompok A dan B
diantaranya Boreria alata, Setaria plicata, dan Axonopus compressus. Hanya saja
tidak diketahui data persentase kematian gulma pada petak ini. Bobot kering
gulma yang masih hidup pada 1 MSA adalah 0 gram, sedangkan pada 2 MSA
adalah sebesar 15,88 gram. Data nama gulma yang toleran tidak diketahui.
Pada petak kelompok D, persentase kematian gulma pada 1 MSA adalah
sebesar 64 %, sedangkan pada 2 MSA adalah sebesar 78 %. Gulma-gulma yang
mati tersebut diantaranya Axonopus commpressus, Ottochloa nodosa, Boreria
alata, Cyperus killyngi, dan Asistasia gangetica. Bobot kering gulma yang masih
hidup pada 1 MSA adalah sebesar 65 gram, sedangkan pada 2 MSA adalah
sebesar 30 gram. Gulma yang toleran pada petakan ini diantaranya ialah Tetracera
scandens, Mimosa pudica, Mikania michrantha, Chromolaena odorata, dan Urena
lobata.

110
Perlakuan yang kelima yakni dengan perlakuan herbisida 2,4 D .

Pada petak kelompok A, jumlah persentase kematian gulma pada 1 MSA adalah
sebesar 50 %, sedangkan pada 2 MSA adalah sebesar 94 %. Hanya saja data nama
gulma yang mati tidak diketahui. Data jumlah bobot kering gulma yang masih
hidup dan nama gulma yang tolerannya tidak diketahui.
Pada petak kelompok B, jumlah persentase kematian gulma pada 1 MSA
maupun 2 MSA adalah sebesar 60 %. Data nama gulma yang mati dan toleran,
serta data bobot kering gulma yang masih hidup tidak diketahui.
Pada petak kelompok C, jumlah persentase kematiannya baik pada 1 MSA
maupun 2 MSA adalah 0 %. Hal ini menunjukkan perlakuan herbisida pada gulma
di petak ini tidak efektif sama sekali terutama pada gulma Axonopus compressus.
Bobot kering gulma ini pada 1 MSA adalah sebesar 63,5 gram, sedangkan pada 2
MSA adalah sebesar 60,52 gram.
Pada petak kelompok D, jumlah persentase kematian gulma pada 1 MSA
adalah sebesar 40 % dan 55 % pada 2 MSA. Hanya saja data nama gulma yang
mati tidak diketahui. Jumlah bobot kering gulma yang masih hidup pada 1 MSA
adalah sebesar 50,8 gram dan 37,5 gram pada 2 MSA. Gulma yang toleran pada
petak kelompok D dengan perlakuan herbisida ini diantaranya adalah Axonopus
compressus dan Setaria plicata.
Perlakuan yang keenam adalah dengan perlakuan herbisida 2,4-D dengan
dosis 2 . Pada petak kelompok A dengan perlakuan herbisida ini, persentase

kematian gulma pada 1 MSA adalah sebesar 20 %, sedangkan pada 2 MSA adalah
sebesar 47,8 %. Gulma yang mati adalah spesies padag. Data jumlah bobot kering
gulma yang masih hidup dan nama gulma yang toleran tidak diketahui.
Pada petak kelompok B dengan perlakuan yang sama, persentase kematian
gulma pada 1 MSA maupun 2 MSA tidak diketahui datanya. Gulma yang mati
pada petakan ini adalah Otthocloa dan Setaria. Jumlah bobot kering gulma yang
masih hidup yang diketahui hanya pada 1 MSA saja, yaitu sebesar 17,6 gram.
Sedangkan data jumlah bobot kering gulma yang masih hidup pada 2 MSA tidak
diketahui, sama halnya dengan data nama gulma yang toleran.

111
Pada petak kelompok C dengan perlakuan herbisida yang sama, persentase
kematian gulma cukup rendah yaitu pada 1 MSA adalah sebesar 5 % dan 10 %
pada 2 MSA. Gulma yang mati diantaranya adalah Axonopus compressus, Setaria
plicata, Clibadium sp., dan Digitaria adscendens. Data jumlah bobot kering
gulma yang masih hidup dan nama gulma yang toleran tidak diketahui.
Pada petak kelompok D dengan perlakuan yang sama, persentasi kematian
gulma pada 1 MSA adalah sebesar 80 % dan 100 % pada 2 MSA. Hal ini
menunjukkan perlakuan herbisida ini cukup efektif pada petak kelompok D.
gulma yang mati diantaranya adalah Ipomea dan Setaria. Jumlah bobot kering
gulma yang masih hidup pada 1 MSA sebesar 17 gram, sedangkan pada 2 MSA
tidak diketahui datanya. Data nama gulma yang toleran juga tidak ada.
Perlakuan yang ketujuh adalah perlakuan herbisida Gramoxon dengan
dosis 1 . Pada petak kelompok A dengan perlakuan herbisida ini, persentasi

kematian gulma yang diamati pada 1 MSA maupun 2 MSA adalah sebesar 40 %.
Nama gulma yang mati tidak diamati oleh kelompok ini. Jumlah bobot kering
gulma yang masih hidup pada 1 MSA adalah sebesar 12,25 gram dan 12,8 gram
pada 2 MSA. Gulma yang toleran dalam petakan ini diantaranya Setaria plicata,
Axonopus compressus, dan Mikania micrantha.
Pada petak kelompok B dengan perlakuan yang sama, data persentase
kematian gulma pada 1 MSA maupun 2 MSA tidak diketahui. Sama halnya
dengan data nama gulma yang mati pun tidak diketahui. Jumlah bobot kering
gulma yang masih hidup adalah sebesar 0,079 gram pada 1 MSA dan 0,149 gram
pada 2 MSA. Gulma-gulma yang toleran diantaranya adalah Rumput kawat,
gulma x, Boreria alata.
Pada petak kelompok C dengan perlakuan yang sama, persentase kematian
gulma pada 1 MSA adalah sebesar 90 %, sedangkan data persentase kematian
gulma pada 2 MSA tidak diketahui. Gulma-gulma yang mati diantaranya
Axonopus compressus , Clidemia hirta, Mikania micrantha, dan Paspalum
conjugatum. Jumlah bobot kering gulma yang masih hidup pada pengamatan 1
MSA adalah 0 gram, sedangkan pada 2 MSA sebesar 30,1 gram. Data nama
gulma yang toleran tidak diketahui.

112
Pada kelompok D dengan perlakuan yang sama, persentase kematian gulma
pada pengamatan 1 MSA adalah sebesar 80 %, sedangkan pada pengamatan 2
MSA adalah sebesar 15 %. Gulma-gulma yang mati diantaranya adalah Axonopus
compressus dan Paspalum conjugatum. Jumlah bobot kering gulma yang masih
hidup pada 1 MSA adalah sebesar 46,5 gram, sedangkan pada 2 MSA sebesar
14,3 gram. Data nama gulma yang toleran tidak ada.
Perlakuan yang kedelapan adalah perlakuan herbisida Gramoxon dengan
dosis 2 . Pada petak kelompok A, persentase kematian gulma pada

pengamatan 1 MSA adalah sebesar 85 %, sedangkan pada 2 MSA sebesar 100%.


Gulma-gulma yang mati diantaranya adalah Ipomoea dan Setaria. Jumlah bobot
kering gulma yang masih hidup pada 1 MSA adalah 14 gram, sedangkan pada 2
MSA tidak ada gulma yang hidup. Nama gulma yang toleran tidak diketahui.
Pada petak kelompok B dengan perlakuan yang sama, persentase kematian
gulma yang diamati pada 1 MSA 95 %, sedangkan pada 2 MSA tidak diketahui
datanya. Nama gulma yang mati pun tidak diketahui datanya. Jumlah bobot kering
gulma yang masih hidup pada 1 MSA sebesar 3 gram, sedangkan pada 2 MSA
sebesar 4,01 gram. Data nama gulma yang toleran tidak ada.
Pada petak kelompok C dengan perlakuan yang sama, persentase kematian
gulma pada 1 MSA 0 %, sedangkan pada 2 MSA tidak diketahui datanya. Gulma-
gulma yang mati diantaranya adalah Axonopos compressus dan Clidemia hirta.
Jumlah bobot kering gulma yang masih hidup pada 1 MSA adalah 0 gram,
sedangkan pada 2 MSA sebesar 23,51 gram. Data nama gulma yang toleran tidak
ada.
Pada petak kelompok D dengan perlakuan yang sama, persentase kematian
gulma yang diamati pada 1 MSA adalah sebesar 80 %, sedangkan pada 2 MSA
adalah 15 %. Gulma-gulma yang mati diantaranya ialah Axonopus compressus
dan Paspalum conjugatum. Jumlah bobot kering gulma yang masih hidup pada 1
MSA sebesar 46,5 gram, sedangkan pada 2 MSA adalah sebesar 50,02 gram. Data
nama gulma yang toleran tidak diketahui.
Perlakuan yang kesembilan adalah perlakuan herbisida campuran Paraquat
400 + Metsulfuron metil 30 . Pada petak kelompok A dengan perlakuan

113
herbisida ini, persentase kematian gulma yang diamati pada 1 MSA maupun 2
MSA adalah 100 %. Gulma-gulma yang mati adalah sejenis teh-tehan. Ini
menunjukkan perlakuan herbisida pada petak ini sangat efektif terutama pada
gulma jenis teh-tehan. Karena persentase kematian gulma baik pada 1 MSA
maupun 2 MSA adalah 100 %, pada ulangan ini tidak terdapat jumlah bobot
kering gulma yang masih hidup ataupun gulma-gulma yang toleran.
Pada petak kelompok B, persentase kematian gulma yang diamati pada 1
MSA adalah sebesar 75,5 %, sedangkan pada 2 MSA sebesar 89%. Hal ini
menunjukkan herbisida ini bekerja cukup efektif dalam mengendalikan gulma.
Hanya saja data nama gulma yang mati tidak diketahui. Jumlah bobot kering
gulma yang masih hidup pada 1 MSA tidak diketahui, sedangkan pada 2 MSA
adalah sebesar 4,85 gram. Gulma-gulma yang toleran diantaranya adalah Mikania
micrantha, tetracera indica, Borreria alata, Cleome rutidosperma, Cynodon
dactylon, Digitaria adscendens, Setaria plicata, dan Digitaria ciliaris.
Pada petak kelompok C dengan perlakuan yang sama, persentase kematian
gulma baik pada 1 MSA maupun 2 MSA sebesar 100 %. Gulma-gulma yang mati
tersebut diantaranya Borreria alata, Setaria plicata, dan Axonopus compressus.
Jumlah bobot kering gulma yang masih hidup pada 1 MSA adalah 0 gram,
sedangkan pada 2 MSA adalah 17,34 gram. Data nama gulma yang toleran tidak
diketahui.
Pada petak kelompok D dengan perlakuan yang sama, persentasi kematian
gulma yang diamati pada 1 MSA adalah sebesar 40 %, sedangkan pada 2 MSA
sebesar 15 %. Gulma-gulma yang mati diantaranya adalah Setaria plicata dan
Axonopus compressus. Jumlah bobot kering gulma yang masih hidup pada 1 MSA
adalah sebesar 35 gram, sedangkan pada 2 MSA sebesar 14,5 gram. Data nama
gulma yang toleran tidak diketahui.
Perlakuan yang kesepuluh adalah perlakuan herbisida campuran Paraquat
800 + Metsulfuron metil 30 . Pada petak kelompok A dengan perlakuan

herbisida ini, persentase kematian gulma baik pada 1 MSA maupun 2 MSA
adalah sebesar 30 %. Data nama gulma yang mati tidak diketahui. Data jumlah

114
bobot kering gulma yang masih hidup serta nama gulma yang toleran juga tidak
ada.
Pada petak kelompok B dengan perlakuan yang sama, persentase kematian
gulma pada 1 MSA adalah sebesar 90 %, sedangkan pada 2 MSA tidak diketahui
datanya. Gulma- gulma yang mati diantaranya ialah Cleome rutidosperma dan
Borreria alata. Jumlah bobot kering gulma yang masih hidup pada 1 MSA adalah
sebesar 0,637 gram, sedangkan pada 2 MSA tidak ada datanya. Data nama gulma
yang toleran pun tidak diketahui.
Pada petak kelompok C dengan perlakuan yang sama, persentase kematian
gulma baik pada 1 MSA maupun 2 MSA adalah sebesar 100 %. Hal ini
menunjukkan perlakuan herbisida ini sangat efektif dalam mengendalikan gulma
di petakan tersebut. Gulma-gulma yang mati diantaranya Borreria alata, Setaria
plicata, dan Axonopus compressus. Jumlah bobot kering gulma yang masih hidup
pada 1 MSA adalah 0 gram, sedangkan pada 2 MSA adalah sebesar 17,34 gram.
Data nama gulma yang toleran tidak diketahui.
Pada petak kelompok D dengan perlakuan yang sama, persentase kematian
yang diamati pada 1 MSA adalah sebesar 43,3 %, sedangkan pada 2 MSA sebesar
70 %. Gulma-gulma yang mati diantaranya adalah Pennisetum polystachyon,
Axonopus compressus, dan Cyrtococcum patens. Jumlah bobot kering gulma yang
masih hidup pada 1 MSA adalah sebesar 65 gram, sedangkan pada 2 MSA adalah
sebesar 50,5 gram. Data nama gulma yang toleran tidak diketahui.
Perlakuan yang kesebelas adalah dengan perlakuan herbisida Glifosat 0,5
+ 2,4-D 0,5 . Pada petak kelompok A dengan menggunakan

perlakuan herbisida ini, persentase kematian gulma yang diamati pada 1 MSA
adalah sebesar 90 %, sedangkan pada 2 MSA sebesar 100 %. Ini membuktikan
perlakuan herbisida pada petakan ini efektif. Hanya saja data nama gulma yang
mati tidak diketahui. Jumlah bobot kering gulma yang masih hidup pada 1 MSA
maupun 2 MSA tidak diketahui datanya. Sama halnya dengan data nama gulma
yang toleran yang juga tidak diketahui.
Pada petak kelompok B dengan perlakuan yang sama, persentase kematian
gulma yang diamati pada 1 MSA adalah sebesar 62,4 %, sedangkan pada 2 MSA

115
tidak diketahui datanya. Gulma yang mati adalah spesies Ottochloa nodosa. Data
jumlah bobot kering gulma yang masih hidup tidak diketahui. Gulma-gulma yang
toleran pada petakan ini diantaranya adalah Melastoma affine, Chromolaena
odorata, Setaria plicata, Clidemia hirta, Urena lobata, dan Boreria alata.
Pada petak kelompok C dengan perlakuan yang sama, persentase kematian
gulma yang diamati pada 1 MSA adalah sebesar 33 %, sedangkan pada 2 MSA
adalah sebesar 100 %. Gulma-gulma yang mati tersebut diantaranya adalah
Paspalum conjugatum, Setaria plicata, dan Mikania micrantha. Jumlah bobot
kering gulma yang masih hidup pada 1 MSA adalah sebesar 12,34 gram,
sedangkan pada 2 MSA tidak diketahui datanya. Data nama gulma yang toleran
pun tidak ada.
Pada petak kelompok D dengan perlakuan yang sama, persentase kematian
gulma yang diamati pada 1 MSA adalah sebesar 30 %, sedangkan pada 2 MSA
adalah sebesar 40 %. Gulma-gulma yang mati diantaranya Pennisetum
polystachyon dan Cyrtococcum patens. Jumlah bobot kering gulma yang masih
hidup pada 1 MSA adalah sebesar 55,2 gram, sedangkan pada 2 MSA adalah
sebesar 33,5 gram. Data nama gulma yang toleran tidak diketahui.
Perlakuan yang terakhir yakni perlakuan herbisida Glifosat 1 + 2,4-

D 0,25 . Pada petak kelompok A dengan menggunakan perlakuan herbisida

ini, persentase kematian yang diamati pada 1 MSA adalah sebesar 40 %,


sedangkan pada 2 MSA adalah sebesar 55 %. Data nama gulma yang mati tidak
diketahui. Data jumlah bobot kering gulma yang masih hidup serta data nama
gulma yang toleran juga tidak ada.
Pada petak kelompok B dengan perlakuan yang sama, persentase kematian
gulma yang diamati pada 1 MSA adalah sebesar 45 %, sedangkan pada 2 MSA
adalah sebesar 20 %. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan herbisida pada
petakan ini kurang efektif. Gulma yang mati diantaranya adalah Axonopus
compressus dan Setaria plicata. Jumlah bobot kering gulma yang masih hidup
pada 1 MSA adalah sebesar 37,5 gram, sedangkan pada 2 MSA adalah sebesar
15,5 gram. Data nama gulma yang toleran tidak diketahui.

116
Pada petak kelompok C dengan perlakuan yang sama, persentase kematian
gulma yang diamati pada 1 MSA adalah sebesar 100 %, sedangkan pada 2 MSA
tidak diketahui. Data nama gulma yang mati, jumlah bobot kering gulma yang
masih hidup, serta data nama gulma yang toleran tidak ada.
Pada petak kelompok D dengan perlakuan yang sama, persentase kematian
gulma yang diamati pada 1 MSA adalah sebesar 5 %, sedangkan pada 2 MSA
adalah sebesar 10 %. Gulma-gulma yang mati diantaranya adalah Axonopus
compressus, Setaria plicata, Boreria alata, Cleome rutidosperma, Cynodon
dactylon, Digitaria adscendens, Mikania micrantha, Pennisetum polistachyon,
Digitaria ciliaris, dan Tetracera indica. Jumlah bobot kering gulma yang masih
hidup pada 1 MSA adalah sebesar 7,18 gram, sedangkan pada 2 MSA adalah
sebesar 6,175 gram. Data nama gulma yang toleran tidak diketahui. Dilihat dari
jumlah persentase kematiannya yang maasih kecil, perlakuan herbisida pada
petakan ini kurang efektif.
Kelompok kami kedapatan untuk mengaplikasikan herbisida di areal
perkebunan karet. Jenis perlakuan yang digunakan adalah Paraquat 400 +

Metsulfuron metil 30 . Hasil aplikasi dengan perlakuan herbisida campuran

ini sangat efektif dalam mengendalikan gulma terutama sejenis gulma teh-tehan.
persentase kematian gulma yang diamati pada 1 MSA maupun 2 MSA adalah 100
%.
Luas petakan lahan yang disediakan untuk aplikasi ini adalah 12 m x 3 m
atau 36 m2. Contoh perhitungan dosis:
 Paraquat 400

= 400 = 1,44

 Metsulfuron metil 30

= 30 = 0,108

 Volume semprot (36 m2)

117
= = 1,44 liter

 Volume air yang dimasukkan pada awal penyemprotan


= 1,44 liter + 2,88 liter = 4,32 liter
Sebelum penyemprotan, lahan perkebunan karet belum menghasilkan
didominasi oleh gulma Cyperus, spp dan Ageratum conyzoides, L. Cyperus, spp
adalah teki-tekian. Teki-tekian yang mendominansi adalah C. rotundus, L. C.
brevifolius, L., C. compressus, L. dan C. diformis, L.
Pada pertanaman karet dikenal banyak jenis gulma yang menyerang
diantaranya Axonopus compressus (rumput pait/papaitan), Borreria alata
(gletak/goletrak), Centotheca lappaceae (suket lorodan/jukut kidang),
Chromolaena odorata ( kirinyuh), Croton hirtus (jarak bromo), Cyclosorus aridus
(pakis kadal), Cyrtococcum patens (telur ikan), Imperata cylindrical (alang-
alang), Lantana camara (tahi ayam/cente), melastoma malabatrichum
(senggani/harendong), Mikania micrantha (sembung rambat/areu caputeheur),
Panicum repens (balungan/jajahean), Paspalum conjugatum (pahitan/jukut pahit).
Dari semua gulma yang disebut diatas Imperata cylindrica, Chromolaena odorata
dan Mikania micrantha merupakan gulma yang paling penting pada tanaman
karet.
Diantara 12 perlakuan tersebut, berdasarkan hasil pengamatan didapatkan
aplikasi herbisida yang paling efektif adalah aplikasi herbisida dengan perlakuan
Monoamonium glifosat dengan dosis 1 . Hal ini kemungkinan disebabkan

karena herbisida yang berbahan aktif glifosat, paraquat dan 2,4-D secara sinergis
efektif dalam mengendalikan gulma berdaun lebar seperti A. conyzoides.
Sementara itu gulma Cyperus spp, secara populasi cukup tertekan, namun masih
dominan dibandingkan dengan gulma-gulma lain.
Hasil pengamatan dilapangan tingkat keracunan gulma umumnya katagori
empat (4) yaitu keracunan sangat berat, 76% – 100% gulma mati. Pada perlakuan
herbisida Metsulfuron metil dengan dosis 100 maupun 50 tingkat

keracunannya tidak terlalu tinggi. Hal ini diduga herbisida Metsulfuron metil yang
biasa digunakan untuk mengendalikan gulma berdaun lebar, sementara gulma

118
berdaun sempit tidak begitu efektif sehingga masih banyak yang hidup. Setelah
dicampur dengan herbisida Paraquat, tingkat keracunan meningkat menjadi
kategori empat. Hasil sidik keragaman memperlihatkan bahwa perlakuan berbagai
kombinasi herbisida berpengaruh sangat nyata terhadap persentase kematian
gulma lahan perkebunan karet belum menghasilkan. Bobot kering gulma yang
masih hidup terbanyak adalah pada perlakuan herbisida Metsulfuron metil. Pada
perlakuan dengan herbisida 2,4-D juga tidak terlalu efektif. Hal ini mungkin
dikarenakan herbisida 2,4-D kurang efektif dalam mengendalikan gulma berdaun
sempit yang dominan di lahan perkebunan karet belum menghasilkan.
Herbisida Gramoxon bersifat arena herbisida ini akan mematikan pada
bagian gulma yang terkena herbisida. Bersifat non selektif karena herbisida ini
mempengaruhi semua jenis tumbuhan yang terkena herbisida ini. Dengan
demikian herbisida ini dapat mengendalikan semua jenis gulma apabila
penggunaannya benar. Herbisida ini sering digunakan untuk tujuan pengendalian
gulma saat pra tanam dan juga untuk tujuan pemeliharaan tanaman perkebunan
dengan teknis-teknis tertentu. Sebagai sarana pemeliharaan tanaman sering
digunakan untuk mengendalikan gulma pada saat tanaman tumbuh dan
berkembang. Herbisida ini digunakan untuk mengendalikan gulma yang dapat
memberikan pengaruh kompetisi dan menghalangi serta mempersulit operasi
pemeliharaan tanaman diantara barisan (Utomo dan Roesmanto, 2005).

119
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Perlakuan berbagai kombinasi herbisida berpengaruh sangat nyata terhadap


persentase kematian gulma di lahan perkebunan karet belum menghasilkan.
Perlakuan herbisida yang paling efektif pada percobaan ini adalah perlakuan
herbisida Monoamonium glifosat dengan dosis 1 . Perlakuan herbisida yang

kurang efektif dalam percobaan ini adalah perlakuan herbisida Metsulfuron metil
dengan dosis 100 . Perlakuan Herbisida kelompok kami yaitu dengan

perlakuan Paraquat 400 + Metsulfuron metil 30 juga sangat efektif

untuk mengendalikan gulma di kebun karet ini terutama jenis gulma teh-tehan.

5.2 Saran

Pemakaian herbisida dapat menyebarkan bahan kimia yang berbahaya bagi


tumbuhan bukan sasaran. Karena itu, herbisida masa kini dibuat supaya mudah
terurai oleh mikroorganisme di tanah atau air. Meskipun dapat menekan biaya,
teknologi ini bermotifkan komersial (meningkatkan penggunaan herbisida merek
tertentu). Selain itu, teknologi ini dianggap tidak bermanfaat bagi pertanian non
mekanik (pertanian dengan padat karya) atau berlahan sempit. Oleh karena itu kita
tidak boleh sembarangan dalam penggunaan atau pengaplikasian herbisida.
Praktek pelaksanaan aplikasi herbisida harus tepat (Lima Tepat) agar tidak salah
sasaran dan tidak mencemari lingkungan.

120
DAFTAR PUSTAKA

Arif, A. 1979. Use of round up herbicide and the prospect of its development in
Indonesia. Round Up herbicide Symposium III for Sumatera, Medan
Indonesia. 4-9p.

Ashton, F. M. and A. S. Crafts. 1981. Mode of Action of Herbicides. A Wiley


Interscience Publication, John Wiley and Sons. New York. 525 p.

Ashton, F. M., and T. J. Monaco. 1991. Weed Science: Principiles and Practices
(3rd ed.). John Wiley and Sons, Inc. New York. 466 p.

Bangun, P. 1985. Pengendalian Gulma pada Tanaman Jagung. Hal 83-95. Dalam
Subandi, M. Syam, S. O. Manurung, Yuswadi (ed.). Hasil Penelitian
Jagung, Sorgum, dan Terigu 1980-1984. Risalah Rapat Teknis Pusat
Penelitian Tanaman Pangan. Bogor.

Barus, E. 2003. Pengendalian Gulma di Perkebunan. Kanisius. Yogyakarta

Duke, S. O. 1988. Glyphosate. Pl-7, in Kearney, C. P., and D. D. Kurfman (eds).


1988. Herbicides: Chemistry , Degradation, and Mode of Action. Vol 3.
Marcel Dekker Inc. New York and Bassel.

FAO. 2002. Metsulfuron Methyl. Available from http: //www. Fao.


Org/docrep/W8053E/w8053e08. Htm# metsulfuron methyl.

Johnson, G. A., T. R. Hoverstad, and R. E. Greenwald. 1998. Integrated weed


management using narrow corn spacing, herbicides, and cultivation.
Agronomy Journal. 90 (2): 40 – 46.

121
Klingman, G. C., F. M. Ashton, and L. J. Noordhoff. 1982. Weed Science:
Principles and Practices, 2nd edition. John Wiley and Sons, Inc. New York,
USA. 431-449 p.

Moenandir, J., and E. Murniningtias. 1999. The effect of herbicide glifosat and
2,4-D mixtures on weed depression in soybean field. Proceeding the
Seventeenth Asian-Pasific Weed Science Society Confrence. Bangkok. 419-
423p.

Motooka. 1986. Chemical weed control in tropical pastures. Weed Science


Society of the Philippines. Philippines. 9-45p.

Nasution, U. 1986. Gulma dan pengendaliannya di perkebunan karet Sumatera


Utara dan Aceh. PT. Gramedia, Jakarta. 269 hal.

Pusat Informasi Paraquat. 2006. The Paraquat Information Center on Behalf of


Syngenta Crop Protection AG. http: //www.paraquat.com

Rochecouste, E. 1971. Weed control in tropical plantation crops. Proceeding of


the First Indonesia Weed Science Conference. Indonesia. 149-158p.

Sastroutomo, S. S. 1990. Ekologi Gulma. PT. Gramedia. Jakarta. 254 hal.

Setyobudi, H., Subiyantono, dan S. Wanasuria. 1995. Praktek-praktek


pencampuran herbisida pada tanaman perkebunan. Hal: 47-53. Dalam P.
Bangunan, I, U. Sutanto dan R. C. B. Ginting (eds). Prosiding Seminar
Pengembangan Aplikasi Kombinasi Herbisida. Jakarta.

Smith, J. R. 1981. Weeds of Major Economic Importance in Rice and Yields


Loisses Due to Weed Competition. P 19-36. In Proceedings of The
Conference on Weed Control in Rice IRRI. Manila, Philippines.

122
Suhardi. 2002. Dasar-dasar Bercocok Tanam Kanisius. Yogyakarta. 217 hal.

Sukman, Y., dan Yakup. 1991. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. PT. Raja
Grafindo Persada. Jakarta. 123 hal.

Sukman, dan Yakup. 2002. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. PT. Raja
Grafindo Persada. Jakarta.

Thomson, W. T. 1979. Agricultural Chemistry. Book II: Herbicides. Thomson


Publ. Indianapolis. 326 p.

Tjitrosoedirdjo, S., I. H. Utomo dan J. Wiroatmodjo. (Eds). 1984. Pengelolaan


Gulma di Perkebunan. PT. Gramedia. Jakarta. 209 hal.

Tomlin, C. 1994. The Pesticide Manual 10th Edition. British Crop Protection
Publication. United Kingdom. 948 p.

Utomo, I. H. 1989. There has never been a herbicide like this before. Round Up
Herbicide Symposium III for Sumatera, Medan Indonesia. 7-8p.

Utomo, I. H., A. P. Lontoh, S. Zaman dan D. Gontoro. 1998. Panduan Praktikum


Pengendalian Gulma Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor. Bogor (Tidak Dipublikasikan). 24 hal.

Utomo, I. H. dan Roesmanto. 2005. Aplikasi paraquat pada beberapa ekosistem


tanaman penting. Prosiding Konferensi HIGI ke XVII. Yogyakarta.

Wilson, R. G., and J. Furrer. 1996. Where do Weeds Come From?. University of
Nebraska Nebguide Publication. Nebraska.

123
PENYIANGAN MANUAL

Disusun Oleh :
1. Trisnani Yuda Fitri A24070021
2. Galvan Yudistira A24070040
3. Vicky Oktarina Chairunnissa A24070121

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010

124
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Komoditas agronomi tidak hanya mencakup tanaman hortikultura, tanaman
pangan, dan tanaman perkebunan. Komoditas ini memiliki keuntungan dalam nilai
ekonomi yang berbeda-beda, dan dalam perawatannya pun membutuhkan
perlakuan yang berbeda-beda. Untuk itu perlu adanya keseimbangan antara
perawatan dengan hasil produksi yang akan diperoleh mengingat kedekatannya
dalam keuntungan dan efektifitas pelaksanaan pertanaman. Kendala-kendala yang
mungkin terjadi dalam proses pertanaman antara lain serangan gulma yang dapat
menurunkan produksi.
Gulma merupakan tumbuhan yang tumbuh di tempat yang tidak
dikehendaki. Gulma biasanya menjadi faktor pembatas yang menghambat
produksi yang optimum pada suatu tanaman budidaya. Apabila gulma yang
muncul di lahan pertanaman hanya sedikit maka tidak akan menjadi faktor yang
berarti, namun bila gulma tersebut hidup dalam jumlah yang banyak di suatu areal
pertanaman yang memiliki luas herktaran, hal ini akan menjadi kendala yang
memerlukan solusi tersendiri.
Solusi yang ditawarkan untuk mengendalikan gulma ada dua macam, yaitu
pengendalian secara manual dan pengendalian secara kimiawi. Pengendalian
Kimia memerlukan idetifikasi yang cermat sehingga tidak berdampak buruk bagi
tanaman budidaya, lahan tanam, dan lingkungan disekitarnya. Pengendalian
gulma secara manual merupakan salah satu teknik yang sering diterapkan di
perkebunan ataupun pada budidaya tanaman lainnya. Pengendalian manual masih
sangat diperlukan meskipun efisiensinya lebih rendah dibandingkan dengan
pengendalian secara kimiawi.

Tujuan

Praktikum pengendalian gulma secara manual ini memiliki tujuan untuk


menerapkan pengendalia gulma secara manual pada lahan perkebunan.

125
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pengendalian Gulma
Pengendalian gulma didefinisikan sebagai prses untuk membaasi invasi
gulma sedemikian rupa, sehingga tanaman dapat dibudidayakan seara produktif
dan efisien. Pengendalian hanya berujuan untuk menekan populasi gulma sampai
tingkat yang tidak merugikan secara ekonomik, atau tidak melampaui ambang
ekonomi (economic treshold). Pengendalian tidak bertujuan untuk menekan
ppulasi gulma sampai tingkat nol (Sukman dan Yakup, 1991). Pengendalian
secara mekanis dilakukan dengan oenyiangan manual menggunakan alat
sederhana ataupun tenaga mesin. Menurut Bangun (1985), penggunaan satu
macam herbisida sejenis secara terus menerus tidak dianjurkan karena akan
merubah dominansi dan komposisi gulma. Oleh karena itu perlu dikombinasikan
dengan pengendalian lain seperti menggunakan tangan (manual).

HOK
Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang menyerap biaya
cukup besar sehingga perlu upaya-upaya untuk meningkatkan efisiensi. Salah satu
cara mengukur efisiensi tenaga kerja dengan menghitung produktivitas kerja.
Produktivitas kerja merupakan perbandingan antara tenaga kerja yang digunakan
untuk menghasilkan produksi dalam satuan waktu tertentu (Hartopo, 2005).

126
BAB III
BAHAN DAN METODE

Bahan dan Alat

Bahan yang dipakai dalam praktikum ini adalah gulma yang tumbuh di areal
kebun karet. Alat yang digunakan meliputi parang, cangkul, dan garpu

Waktu dan Tempat

Percobaan dilaksanakan pada tanggal 14 Desember 2009 di Lapangan


Praktikum Cikabayan, Kampus IPB Dramaga Bogor.

Metodologi

Pengendalian gulma dilakukan secara berkelompok dengan membagi luasan


areal kebun ke dalam petakan berukuran x m2. Pengendalien dilakukan dengan
membabat dengan teknik babat dempes, babat merah, dan dongkel anak kayu.
Kemudian dicatat waktu yang dibutuhkan untuk membabat bersih gulma pada
luas petakan tersebut.

127
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Tabel Aplikasi
Herbisida
Perlak Kelo %Kem BK Gulma Gulma yang mati
uan mpo atian gulma Toleran
k (gram)
1 2 1 2
M M M M
SA S SA SA
A
Metil A 30 70 30. 9.6 Tetracer Melastoma
metsulf 7 5 scandens malabathrichum,
uron Eleusine indica,
100 Axonopus compressus
gr/ha B - - - 13. Digitaria -
68 adscendens
2
C 0 0 31. 7.6 Axonopus -
82 75 compressus,
mikania
micrantha
D 35 56 22. 6.5 Digitaria Cyperus kilyngia
89 4 adscendens
Metil A 40 78 97. - Melastoma Cynodon dactylon,
metsulf 5 affine, Mikania micrantha
uron 50 Clidemia hirta
gr/ha B 30 40 44. 21. - Melastoma
36 36 malabathricum,

128
Digitaria adscendens
C 0.0 0. 44. 37. - Cyperus sp
1 5 65 93
5
D 5 20 4.7 5.9 - Mikania micrantha,
9 65 Tetracera indica,
Cleome rutidosperma,
Cynodon dactylon,
Digitaria adscendens,
Setaria plicata,
Digitaria ciliaris,
Chromolaena odorata,
Melastoma
malabathricum,
Penisetum
polystachyon
Monoa A 90 90 - - Phylanthus Melastoma
moniu niruri malabathrichum,
m Clidemia hirta, Setaria
glifosat plicata
1 kg/ha B 80 15 45. 14. - Axonopus compressus,
7 5 Paspalum conjugatum
C 10 10 ma ma - -
0 0 ti ti
D 10 - 25. - Cynodon -
4 dactylon,
Axonopus
compressus,
Boreria alata,
Cyperus
rotundus
Monoa A 55 65 - - Melastoma Setaria plicata,

129
moniu affine, Digitaria adscendens
m Chromolaena
glifosat odorata, Urena
2 kg/ha lobata,
Clidemiahirta,
Mikhania
micrantha
B 61. 31 61. 25. - Axonopus compressus,
66 .6 05 27 Borreria alata, Setaria
7 7 plicata
C - - 0 15. - Boreria alata, Setaria
88 plicata, Axonopus
compressus
D 64 78 65 30 Tetracera Axonopus
scandens, commpressus,Ottochlo
Mimosa a nodosa,Boreria
pudica, alata, Cyperus killyngi,
Mikania Asistasia gangetica
michrantha,
Chromolaena
odorata,
Urena lobata
2,4 D A 50 94 - - - -
1L/ha B 60 60 - - - -
C 0 0 63. 60. Axonopus -
5 52 compressus
D 40 55 50. 37. Axonopus Mikania micrantha,
8 5 compressus, Melastoma affine,
Setaria plicata Chromolaena odorata,
Pennisetum
polistachyon
2,4 D A 20 47 - - - Otthocloa, Setaria

130
2L/ha .8
B - - 17. - - -
6
C 5 10 - - - Axonopus compressus,
Setaria plicata,
Clibadium sp.,
Digitaria adscendens
D 80 10 17 ma - Ipomea, Setaria
0 ti
Gramo A 40 40 12. 12. Setaria plicata, tidak diamati
xon 25 8 Axonopus
1L/ha compressus,
Mikania
micrantha
B - - 0.0 0.1 Rumput -
78 48 kawat, gulma
6 6 x, Boreria
alata
C 99 - 0 30. - Axonopus compressus
1 , Clidemia hirta,
Mikania micrantha,
Paspalum conjugatum
D 80 15 46. 14. - Axonopus compressus,
5 3 Paspalum conjugatum
Gramo A 85 10 14 ma - Ipomoea, Setaria
xon 0 ti
2L/ha B 95 - 3 4.0 - -
1
C 0 - 0 23. - Axonopus compressus
51 , Clidemia hirta
D 80 15 46. 50. - Axonopus compressus,
5 02 Paspalum conjugatum

131
Paraqu A 10 10 - - - Teh-tehan
at 0 0
400ml/ B 75. 89 - 4.8 Mikania -
ha + 5 5 micrantha,
Metil tetracera
metsulf indica,
uron Borreria alata,
30ml/h Cleome
a rutidosperma,
Cynodon
dactylon,
Digitaria
adscendens,
Setaria plicata,
Digitaria
ciliaris
C 10 10 0 17. - Borreria alata, Setaria
0 0 34 plicata, Axonopus
compressus
D 40 15 35 14. - Setaria plicata,
5 Axonopus compressus
Paraqu A 30 30 - - - -
at B 90 - 0.6 - - Cleome rutidosperma,
800ml/ 37 Borreria alata
ha + C 10 10 0 17. - Borreria alata, Setaria
Metil 0 0 34 plicata, Axonopus
metsulf compressus
uron D 43. 70 65 50. - Pennisetum
30ml/h 33 5 polystachyon,
a 3 Axonopus compressus,
Cyrtococcum patens
Glifosa A 90 10 - - - -

132
t 0
0,5L/ha B 62. - - - Melastoma Ottochloa nodosa
+ 2,4 D 37 affine,
0,5L/ha 5 Chromolaena
odorata,
Setaria plicata,
Clidemia hirta,
Urena lobata,
Boreria alata
C 33 10 12. 0 - Paspalum conjugatum,
0 34 Setaria plicata,
Mikania micrantha
D 30 40 55. 33. - Pennisetum
2 5 polystachyon.
Cyrtococcum patens
Glifosa A 40 55 - - - -
t 1L/ha B 45 20 37. 15. - Axonopus compressus,
+ 2,4 D 5 5 Setaria plicata
0,25L/h C 10 - - - - -
a 0
D 5 10 7.1 6.1 - Axonopus compressus,
8 75 Setaria plicata,
Boreria alata, Cleome
rutidosperma,
Cynodon dactylon,
Digitaria adscendens,
Mikania micrantha,
Pennisetum
polisatchyon, Digitaria
ciliaris, Tetracera
indica

133
Pembahasan
Pengendalian diartikan sebagai upaya penekanan pertumbuhan gulma atau
mengurangi populasinya sedemikian rupa sehingga penurunan hasil menjadi tidak
berarti. Penyiangan secara manual dapat membesarkan akar tsnaman dari akar
rumpang gulma, sehingga pertumbuahan gulma berikutnya dapat ditekan. Alasan
utama dari penyiagan ini adalah karena adanya persaingan antara gulma dengan
pertumbuhan tanaman (Baharsjah, 1983).
Dongkel anak kayu merupakan pengendalian gulma dengan cara
mendongkel atau membongkar gulma sampai ke akarnya menggunakan tenaga
manusia. Alat yang digunakan adalah cangkul dan tidak diperbolehkan
menggunakan parang paa saat mendongkel.
Babat dempes ialah pembabatan gulma yang dilakukan dengan membabas
gulma hingga 5 m di atas permukaan tanah dengan menggunakan parang.

134
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Teknik ini mempunyai keunggulan, yaitu: (a) hasilnya ceat terlihat, (b)
mudah dilaksanakan, (c) menghindarkan dmpak polusi lingkungan. Pada lahan-
lahan yang sempit, pengendalian secara manual memberikan hasil yang efektif
dan efisien. Pengendalian manual juga memilikiki kelemahan, yaitu: (a)
membutuhkan tenaga kerja yang relatif banyak, (b) pada beberapa kondisi dapat
menyebabkan terjadinya erosi permukaan dan perlakuan akar.

5.2 Saran
Agar diperhatikan waktu masuk dan bubarnya praktikum, lebih displin.

DAFTAR PUSTAKA

Sukman, Y. Dan Yakup. 1991. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. PT Raja


Grafindo Persada: Jakarta. 123 hal.
Baharsjah, J. S. 1983. Legum Pangan. Departemen Agronomi, Fakultas Pertanian,
IPB Bogor. 110 hal.
Hartopo, M. 2005. Pegelolaan Tenaga Kerja pada Pemeliharaan dan Pemetikan
Teh (Camellia sinensis(L.) O. Kuntze) di PT Tambi Unit Perkebunan
Bedakah Wonosobo, Jawa Tengah. Skripsi. Program Studi Agronomi,
Fakultas Pertanian, IPB. Bogor. 72 hal.
Nu’man, M. 2009. Pegelolaan Tenaga Kerja Perkebunan Kelapa Sawit (Elais
guinensis Jacq) di Perkebunan PT Cipta Futura Plantation, Muara Enim,
Sumatera Selatan. Skripsi. Program Studi Agronomi dan Hortikultura,
Fakultas Pertanian, IPB. Bogor. 76 hal.

135
136

Anda mungkin juga menyukai