Anda di halaman 1dari 136

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGENDALIAN GULMA (AGH 321)

Disusun Oleh :

Kelompok 9A

1. Trisnani Yuda Fitri

A24070021

2. Galvan Yudistira

A24070040

3. Vicky Oktarina Chairunnissa

A24070121

Asisten Praktikum

Arie eka prasetia rizki

A24052120

Maulana marman

A24061763

Angga waluya

A24062477

Heny agustin

A24061070

Angga waluya A24062477 Heny agustin A24061070 DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

PENGELOLAAN SARANA TUMBUH

Disusun Oleh :

Trisnani Yuda Fitri

PENGELOLAAN SARANA TUMBUH Disusun Oleh : Trisnani Yuda Fitri A24070021 DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS

A24070021

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Kompetisi adalah hubungan interaksi antara dua individu tumbuhan baik yang sesama jenis maupun berlainan jenis yang dapat menimbulkan pengaruh negatif bagi keduanya sebagai akibat dari pemanfaatan sumber daya yang ada dalam keadaan terbatas secara bersama. Kompetisi yag terjadi di alam meliputi komoetisi intrapesifik yaitu interaksi negatif antar sesama jenis, dan kompetisi interspesifik yatu interaksi negatif yang terjadi pada rumbuhan berbeda jenis. Tanaman budidaya mempunyai kemampuan untuk bersaing dengan gulma sampai batas populasi gulma tertentu. Setelah batas populasi tersebut, tanaman budidayaakan kalah dalam berseing sehingga pertumbuhan dan produksi tanaman budidaya akan menurun. Kompetisi gulma dapat menyebabkan penurunan kuantitas dan kualitas hasil panen. Penurunan kuantitas hasil panen terjadi melalui dua cara yaitu pengurangan jumlah hasil yang dapt dipanen dan penurunan jumlah indididu tanaman yang dipanen. Penurunan kualitas hasi akibat kompetisi gulma disebabkan diantaranya oleh tercampurnya hasil penen dengan biji gulma. Akibatnya, hasil panen menurun. Kompetisi antara gulma dan tanaman terjadi karena faktor umbuh yang terbatas. Faktor yang dikompetisikan antara lain hara, cahaya, CO2, cahaya dan ruang tumbuh. Besarnya daya kompetisi gulma tergantung pada beberapa faktor antara lain jumlah individu gulma dan berat gulma, siklus hidup gulma, periode ada gulma pada tanaman, dan jenis gulma. Dalam kenyataannya sangat sulit bagi kita untuk menjelaskan faktor mana yang terlibat atau berperan dalam peristiwa kompetisi tersebut. De Wit (1960) menyebutkan istilah “sarana pertumbuhan” yang mencakup semua faktor yang telibat dalam kompetisi. Ada beberapa perubahan kompetisi yang dapat digunakan untuk mengukur daya kompetisi, diantaranya total hasil relatif (THR), penguasaan sarana tumbuh (PST), dan agresivitas.

Pada praktikum ini mahasiswa akan diperkenalkan salah satu peubah untuk mengukur kompetisi, yaitu penguasaan sarana tumbuh. Prinsipnya adalah bahwa tanaman yang menguasai persaingan atu kompetisi akan menguasai sarana tumbuh lebih besar dibandingkan terhadap pesaingnya.

Tujuan

Praktikum ini memiliki tujuan untuk mempelajari penguasaan sarana tumbuh dalam suatu percobaan kompetisi antara tanaman dan gulma danc cara perhitungannya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Jagung Tanaman jagung merupakan tanaman semusim yang termasuk dala ordo Tripsaceae, famili Poaceae, subfamili Panicoidae dan genus Zea. Tanaman jagung memiiki akar serabut dengan tiga tipe akar, yaitu akar seminal yang rumbuh dari radikula dan embrio, akar adventif yang tumbuh dari buku terbawah, dan akar udara (brace root) (Sudjana et. al., 1991). Batang jagung berbentuk silindris dan terdir dari sejumlah ruas dan buk, dengan panjang yang berbeda-beda tergantung varietas dan lingkungan tempat tumbuh (Goldsworthy dan Fischer, 1992). Suhu optimum untuk pertumbuhan jagung berkisar antara 20-26 0 C dengan curah hujan 500 1500 mm per tahun. Jagung dapat tumbuh di semua jenis tanah, tanah berpasir maupun tanah liat berat. Namun tanaman ini akan tumbuh lebih baik pada tanah yang gembur dan kaya akan humus dengan pH tanah 5,5 7,0 (Suprapto dan Marzuki, 2002).

Gulma Soerjani (1998) dalam Sukman dan Yakup (1991) mendefinisikan gulma sebagai tumbuhan yang peranan, pitensi, dan hakikat kehadirannya belum sepenuhnya diketahui. Gulma merupakan pesaing alami yang kuat bagi tanaman budidaya dikarenakan mampu memproduksi biji dalam jumlah yang banyak sehingga kerapatannya tinggi, perkecambahannya cepat, pertumbuhan awal cepat dan daur hidup lama (Ashton dan Monaco, 1991). Sifat gulma umumnya mudah beradaptasi dengan lingkungan yang berubah dibandingkan dengan tanaman budidaya. Daya adaptasi dan daya saing yang kuat merupakan sifat umum gulma ( Tjirtosoedirdjo et. al., 1984).

Gulma Tanaman Jagung Gulma yang gumbuh pada tanaman jagung umumnya telah berasosiasi dan menyesuaikan diri dengan tanaman tersebut. Gulma yang tumbuh dominan adalah

dari golongan rumput, menusul gulma berdaun lebar, dan paling sedikit dari golongan teki. Species gulma yang umum dijumpai pada pertanaman jagung adalah Digitaria ciliaris, Cynodon dactilon, Echinochloa colona, Paspalum distichum, Eleusine indica, Cyperus rotundus, Borreria latifolia, Phyllanthus niruri, Alternanthera philoxeroides, Synedrella nodiflora, Spighlea anthelmia, dan Ageratum conizoides (Bangun, 1985).

BAB III BAHAN DAN METODE

Bahan dan Alat

Peralatan yang digunakan antara lain cngkul kored, neraca analitik, dan oven.Bahan yang sigunakan dalam praktikum ini adalah benih tanaman jagung, pupuk urea, SP-18, KCl, dan insektisida furadan 3G.

Waktu dan Tempat

Percobaan dilaksanakan pada tanggal 19 Oktober 2009 di Lapangan Praktikum Cikabayan, Kampus IPB Dramaga Bogor.

Metodologi

Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok. Perlakuan yang dicobakan sebagai berikut:

1. (P1) jarak tanam 100 x 40 cm dengan 1 benih per lubang

2. (P2) jarak tanam 100 x 40 cm dengan 2 benih per lubang

3. (P3) jarak tanam 100 x 40 cm dengan 3 benih per lubang

4. (P4) jarak tanam 100 x 20 cm dengan 2 benih per lubang

5. (P5) jarak tanam 100 x 40 cm dengan 5 benih per lubang

6. (P6) jarak tanam 100 x 20 cm sengan 3 benih per lubang

Satuan perobaan berpa petakan dengan ukuran 10m x 4 m. Percobaan dilakukan denan empat ulangan, sehingga terdapat 20 satuan percobaan. Pengolahan tanah dilakukan dua kali yaitu pembajakan dan penghalusan pada saat satu bulan sebelum tanam. Tanaman jagung ditanam dengan jarak tanam sesuai perlakuan. Pemupukan dilakukan dengan ara split, yaitu pada saat tanam dan pada saan 4 MST. Pemupukan dilakukan dengan menggunakan dosis 300 kg Urea/ha, 300 kg SP-18/ha, dan 100 kg KCl/ha. Pupuk Urea dan KCl diberikan dua kali yaitu ½

dosis pada saat tanam dan ½ dosis pada saat 4 MST. Pemupukan SP-18 dilakukan seluruhnya pada saat tanam. Furadan diberikan dalam lubang tanam pada saat tanam dengan dosis 12 kg/ha. Pengamatan dilakukan pada peubah tinggi dan jumlah daun 10 tanaman sampel, yang diamati pada 2, 4, 6, 8 MST; Biomassa tajuk jagung, diamati dengan cara memotong 3 tanaman sampel, dioven dan ditimbang bobot keringnya pada 2, 4, 6, 8 MST; bobot tongkol berkelobot dan tanpa kelobot saat panen; dan bobot total dan biomassa tiap jenis gulma dari pengambilan sampel kuadran.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengamatan dilakukan dengan membandingkan peubah-peubah yang telah diamati terhadap bobot biomassa tanaman jagung dan biomassa gulma. Peubah yang diamati antara lain tinggi jarak tanam dan perlakuan benih, tinggi tanaman, jumlah daun, bobot biomassa jagung berkelobot dan tanpa kelobot, dan biomassa gulma. Peubah tersebut kemudian diamati untuk mengetahui pengaruh peubah bobot terhadap tingkat persaingan antara gulma dan tanaman jagung. Pada perlakuan pengaruh jarak tanaman dan perlakuan benih terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun jagung saat 2, 4, 6, 8, dan 10 MST menghasilkan data bahwa tidak terdapat pengaruh keterkaitan antara jarak tanam dan jumlah benih terhadap tinggi tanaman maupun jumlah daun (Tabel.3). Dari hasil F hitung dengan taraf nyata 95%, korelasi antara jarak tanam dan perlakuan benih menghasilkan angka nol dan kurang dari satu yang membuktikan bahwa tidak ada atau hanya kecil sekali terdapat keterkaitan (Tabel. 1 dan Tabel.2). Terhadap faktor persaingan dengan gulma, terdapat pengeruh yang nyata pada 10 MST dimana dari uji F dengan taraf nyata 95% F, sehingga dapat dibuktikan adanya persaingan dengan gulma dalam memperoleh nutrisi dari lahan yang sama pada jarak tanam berbeda (Tabel. 4). Pengamatan hubungan antara jarak tanam dan perlakuan benih tidak mempengaruhi tinggi dan jumlah daun tanaman. Adengan kata lain, peubah tersebut tidak mempengaruhi fase vegetatif tanaman. Jagung merupakan tanaman C-4 yang dapat beradaptasi baik pada faktor-faktor pembatas dan hasil. Ditinjau dari segi kondisi lingkungan, tanaman C-4 beradaptasi pada terbatasnya banyak faktor seperti intensitas radiasi surya yang tinggi dan suhu siang malam yang tinggi serta kesuburan tanah yang relatif rendah. Sifat yang menguntungkan dari tanaman jagung sebagai tanaman C-4 antara lain aktifitas fotosintesis pada tanaman normal tinggi, fotorespirasi sangan rendah, transpirasi rendahh serta efisien dalam penggunaan air. Sifat-sifat tersebut merupakan sifat fisiologis dan anatomi yang sangat menguntungkan dalam kaitannya dengan hasil (Muhadjir,

1988).

Peubah lain yang digunakan dalam percobaan yaitu komponen hasil yang meliputi bobot tongkol berkelobot dan tanpa kelobot. Pengamatan tongkol dilakukan pada 2, 4, 6, 8, 10, dan 12 MST. Dari data perhitungan dengan uji F, taraf nyata 95%, pada 2-8 MST tidak terdapat pengaruh jarak tanam dan perlakuan benih pada bobot kering jagung berkelobot. Hal ini dapat dipastikan karena pada masa awal tanam tidak memungkinkan dalam pertumbuhan vegetatif sehingga tongkol tidak terbentuk. Dari data (Tabel.5 dan Tabel.6) juga menunjukkan tidak adanya korelasi antara bobot basah jagung berkelobot dan tanpa kelobot dengan jarak tanam ataupun perlakuan benih. Namun, terhadap persaingan dengan gulma, pada 10 MST menunjukkan perbedaan yang nyata, sehingga terdapat pengaruh jarak tanam dan perlakuan benih terhadap bobot basah jagung berkelobot. Bobot yang dihasilkan pada jarak tanam rapat lebih kecil dibandingkan dengan bobot pada jarak tanam lebar (Tabel.7). Pengamatan terhadap tongkol menunjukkan hasil yang nyata pada 10 MST. Hal ini disebabkan pada 10 MST sudah masuk pada fase generatif yang diawali dengan proses pembungaan jagung hingga pembentukkan tongkol. Pengaruh yang terlihat juga dipengaruhi oleh persaingan tanaman dengan gulma dimana jarak makin besarnya populasi gulma, maka makin besar pula kehilangan hasil yang akan dialami tanaman. Populasi yang besar akan meningkatkan persaingan tanaman dalam mempeoleh nutrisi yang sangat diperlukan pada fase pertumbuhan. Bila telah mengalami banyak kehilangan, maka pada saat pembentukkan hasil (biji) akan mengurangi bobot basahnya. Smith (1981) menyatakan bahwa kerugian yang ditimbulkan gulma pada tanaman budidaya adalah mengurangi hasil dan kualitas produksi tanaman, menjadi inang, hama dan penyakit tanaman, mengurangi efisiensi, peningkatan konsumsi energi dalam pengendaliannya, menghalangi sistem irigasi, menyebabkan keracunan dan luka pada manusia dan hewan serta mengurangi nilai dan produktivitas dan estetika lahan. Pengamatanbeberapa peubah di atas menjelaskan bahwa persaingan tanaman terhadap gulmalah yang menjadi penentu keberhasilan produksi tanaman jagung. Grafik.1 menyatakan hubungan antara hasil nyata dengan densitas gulma per satuan luas.

250 200 150 y = -0.0002x 2 + 0.1142x + 95.973 100 R 2 =
250
200
150
y = -0.0002x 2 + 0.1142x + 95.973
100
R 2 = 0.3136
50
0
0
200
400
600
800
1000
1200
-50
hasil nyata (O)

Densitas (Z)

Grafik.1. Hubungan antara hasil nyata dan densitas per satuan luas

Pada saat kerapatan gula 200, maka hasil nyata yang diperoleh sebesar 171,54. Pada titik kerapatan 300 hasil nyata meningkat menjadi 214,43. Seangkan ketika kerapatan meningkat menjadi 400, maka hasil nyata yang dihasilkan sebesar 65, 584. Secara hiperbolik, grafik menunjukkan peningkatan hasil pada awal pertumbuhan seiring dengan meningkatnya pertumbuhan gulma. Namun, setelah mencapai titik maksimum, maka hasil tidak lagi mengalami peningkatan, melainkan penurunan secara drastis terhadap peningkatan kerapatan gulma. Hal ini dikarenakan pada awal pertumbuhan, gulma beulum mampu menyaingi pertumbuhan tanaman jagung. Namun, pada vase generatif, tanaman sudah mulai mengurangi prosuksi biomassa pertumbuhan dan mengalihkannya unuk fase generatif, sedangkan gulma masih terus melakukan pertumbuhan vegetatif, sehingga pada akhirnya gulma mampu menekan pertumbuhan tanaman jagung (lihat Tabel.8). Penurunan hasil akibat kompetisi jagung dengan gulma dapat berkisar antara 16-62% (Bangun, 1988). Penurunan tersebut dikarenakan adanya persaingan nutrisi dengan tumbuhan gulma yang sangat beragam sesuai dengan jenis tanaman, jenis lahan, populasi tanaman, jenis gulma, dan berbagai faktor bdidaya lainnya.

120 densitas 1 densitas 2 100 densitas 3 densitas 4 densitas 5 80 densitas 6
120
densitas 1
densitas 2
100
densitas 3
densitas 4
densitas 5
80
densitas 6
60
40
20
0
2 MST
4 MST
6 MST
8 MST
10 MST
12 MST
PST

Grafik.2. Hubungan antara densitas gulma dengan penguasaan sarana tumbuh

Grafik.2 menyatakan hubungan kompetisi antara gulma dan tanaman yang ditunjukkan dari tingkat densitas atau kerapatan gulma dan umur tanaman. Densitas 1 adalah tingkat kerapatan gulma yang ada pada populasi 100 tanaman. Pada populasi ini memiliki jarak tanam yang lebar, sehingga persaingan terhadap gulmanya pun tinggi. Berbeda dengan densitas 6 dengan jumlah populasi 1000 yang memiliki jarak tanam rapat, sehingga persaingan terhadap gulma sedikit. Hal ini disebabkan karena pada jarak tanam yang sempit, terdapat sedikit ruang tumbuh bagi gulma, sehingga menjadi salah satu solusi yang digunakan dalam pengendalian gulma secara kultur teknis. Secara umum dapat dijelaskan bahwa semakin meningkat umur tanaman, maka semakin tinggi pula persaingan antara tanaman dengan gulma, karena tanaman dan gulma sama-sama melakukan pertumbuhan baik generatif maupun vegetatif sehingga membutuhkan nutrisi yang berasal dari sumber yang sama. Persaingan akan sangat tampak terjadi berkaitan dengan jenis tanaman dan jenis gulma. Tingkat persaingan tanaman jagung dengan gulma berdaun lebar umumnya akan menyebabkan kekalahan pada tanaman jagung. Hal ini dikarenakan gulma daun lebar adalah tumbuhan C3 yang lebih boros dalam memanfaatkan nutrisi dibandingkan dengan gulma rumput yang sebagian besar juga merupakan tanaman C4.

BAB V KESIMPULAN

Dari pengamatan yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat beberapa peubah yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman jagung. Perlakuan jarak tanam dan perlakuan benih tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan komponen tumbuh tanaman jagung (tinggi, jumlah daun), namun memberikan hasil nyata pada komponen biomassanya (bobot tanaman). Namun ketiga komponen tersebut berkorelasi dimana semakin lebar jarak tanam atau semakin kecil populasi maka persaingan tumbuh antara tanaman dan gulma meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

Ashton, F. M. adnd T. J. Monaco. 1991. Weed Science: Principles and Pratice. 3 rd Ed. John Wiley and Sons, Inc.: New York. 466 p. Bangun, P.1983. Pengendalian gulma pada tanaman jagung. Hal 83-95. Dalam Subandi, M. Syam, S. O. Manurung, Yuswandi (ed.). Hasil Penelitian Jagung, Sorgum, dan Terigu 1980-1984. Risalah Rapat Teknis Pusat Penelitian Tanaman Pangan. Bogor. Goldsworthy, P. R. dan N.M. Fischer. 1992. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta. 874 hal. Muhadjir, F. 1988. Karakteristik tanaman jagung. Hal 33-38. Dalam Subandi, M. Syam dan A. Widjono (Eds.). Jagung. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bogor. Smith, J. R. 1981. Weed of Majpr Economic Importance in Rice and Yields Loisses Due to Weed Competition. P 19-36. In Procidings of The Conference on Weed Control of Rice. IRRI. Manila. Philippines. Sudjana, A., A. Arifin, dan M. Sudjadi. 1991. Jagung. Buletin Teknik (3): 1- 27. Suprapto dan J. A. R. Marzuki. 2002. Bertanam Jagung. Penebar Swadaya:

Jakarta. 48 hal. Tjirtosoedirdjo, S., I. H. Utomo dan J Wiroatmojo (Eds.) 1984. Pengelolaan Gulma di Perkebunan. PT Gramedia: Jakarta. 218 hal Sukman, Y. Dan Yakup. 1991. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta. 123 hal.

LAMPIRAN

Tabel.1. Tabel sidik ragam tinggi tanaman

Sumber

       

F

   

keragaman

db

JK

KT

Hit

Pr > F

KK

ulangan

 

3

847

282

1.90

0.1876

5,845,089

perlakuan JT

1

0.33264

0.33264

0.00

0.9631

 

perlakuan benih

3

331

110

0.74

0.5486

 

JT*benih

2 MST

1

0.47254

0.47254

0.00

0.9560

 

galat

11

1,632

148

     

total

19

2,733

       

ulangan

 

3

2,908

969

4.94

0.0206

38

perlakuan JT

1

45

45

0.23

0.6418

 

perlakuan benih

3

613

204

1.04

0.4119

 

JT*benih

4MST

1

23

23

0.12

0.7364

 

galat

11

2,157

196

     

total

19

5,389

       

ulangan

 

3

5,937

1,979

3.74

0.0539

40

perlakuan JT

1

958

958

1.81

0.2113

 

perlakuan benih

3

3,135

1,045

1.98

0.1883

 

JT*benih

6MST

1

1,609

1,609

3.04

0.1151

 

galat

9

4,761

529

     

total

17

12,489

       

ulangan

 

3

10,642

3,547

4.23

0.0324

3,866,478

perlakuan JT

1

9

9

0.01

0.9184

 

perlakuan benih

3

569

190

0.23

0.8765

 

JT*benih

8MST

1

1,712

1,712

2.04

0.1810

 

galat

11

9,230

839

     

total

19

21,360

       

ulangan

 

3

3,873

1,291

0.79

0.5501

51

perlakuan JT

1

18

18

0.01

0.9213

 

perlakuan benih

3

637

212

0.13

0.9384

 

JT*benih

10MST

1

135

135

0.08

0.7853

 

galat

5

8,191

1,638

     

total

13

14,829

       

Tabel. 2. Tabel sidik ragam jumlah daun

sumber keragaman

 

db

JK

KT

F Hit

Pr > F

KK

ulangan

 

3

4

1

2.35

0.1241

21

perlakuan JT

1

2

2

3.27

0.0957

 

perlakuan benih

2

3

3

1

1.73

0.2139

 

JT*benih

MST

1

0.00427287

0.00427

0.01

0.9351

 

galat

12

7.4194382

0.61829

     

total

20

16.50666667

       

ulangan

 

3

13

4

3.55

0.0477

24

perlakuan JT

1

1

1

1.11

0.3136

 

perlakuan benih

4

3

8

3

2.34

0.1246

 

JT*benih

MST

1

0.07814858

0.07815

0.07

0.8022

 

galat

12

14.295125

1.19126

     

total

20

34.50952381

       

ulangan

 

3

17

6

2.32

0.1373

29

perlakuan JT

1

0.58228338

0.58228

0.24

0.6315

 

perlakuan benih

6

3

11

4

1.49

0.2756

 

JT*benih

MST

1

0.20806971

0.20807

0.09

0.7735

 

galat

10

23.79931287

2.37993

     

total

18

48.79684211

       

ulangan

 

3

20.68954054

6.89651

3.43

0.0522

24

perlakuan JT

1

4.16454313

4.16454

2.07

0.1755

 

perlakuan benih

8

3

2.73117364

0.91039

0.45

0.7199

 

JT*benih

MST

1

4.16454313

4.16454

2.07

0.1755

 

galat

12

2411045946

2.0092

     

total

20

5964666667

       

ulangan

 

3

4.68615385

1.56205

0.77

0.5491

25

perlakuan JT

1

0.9351717

0.93517

0.46

0.5212

 

perlakuan benih

10

3

0.19193659

0.06398

0.03

0.9916

 

JT*benih

MST

1

0.64720223

0.6472

0.32

0.5915

 

galat

6

12.09384615

2.01564

     

total

14

18.59733333

       

ulangan

 

3

7.07047619

2.35683

1.13

0.4371

24

perlakuan JT

1

3.6125

3.6125

1.73

0.2585

 

perlakuan benih

12

2

1.54815735

0.77408

0.37

0.7115

 

JT*benih

MST

1

0.675

0.675

0.32

0.5999

 

galat

4

8.34285714

2.08571

     

total

11

19.23666667

       

Tabel 3. Pengamatan tinggi tanaman dan jumlah daun

     

Tinggi tanaman (cm)

   

Jumlah daun (helai)

 

Perlakukan

Kel

2MS

4MS

6MS

8MS

10MS

12MS

2MS

4MS

6MS

8MS

10MS

12MS

T

T

T

T

T

T

T

T

T

T

T

T

JT

A

6.4

54

70

102

108

115

5

5

5

6

7

7

100cmX40c

B

17

22

39

50

45

44

4

4

3

5

4

4

m

                         

1benih/lub

C

39

74

102

137

142

155

5

8

9

9

8

8

ang

D

14

20

25

25

33

44

2.2

2.7

3.2

2.3

3.2

4.2

JT

A

28

37

-

73.5

61

-

3

4

-

7

5

-

100cmX40c

B

-

-

-

-

-

-

4

5

6

6

6

5

m

                         

2benih/lub

C

-

-

-

-

-

-

4

5

6

6

6

5

ang

D

20

42

94

107

120

128

3

5

6

6

6

6

   

20.4

 

52.8

72.4

               

JT

A

1

38.8

8

1

84.45

89.73

2

4

6

5

5

6

100cmX40c

   

28

 

48

51

   

3

 

4

   

m

B

-

-

mati

-

-

5

mati

3benih/lub

C

20

36

58

57.9

mati

mati

3.2

3.6

3.7

4.5

mati

mati

ang

D

14

31

53

65.8

-

-

3

4

4

4

-

-

JT

A

25

46

99

111

124

133

4

6

7

6

6

6

100cmX20c

B

18

24

32

39.8

-

-

4

5

6

7

-

-

m

                         

2benih/lub

C

61

76

99

90.9

91

124

6

7

7

7

6

8

ang

D

3.5

7.4

15

43

77

95

3

4

5

5

6

6

JT

A

17

23

29

48.8

-

-

4

3

3

4

-

-

100cmX20c

B

31.3

48.4

 

1,01

               

m

9

4

70.9

8

1,105

-

4

6

8

9

8

-

5benih/lub

C

18

41

67

129

-

-

4

6

7

9

-

-

ang

D

26

-

46

53.6

50

-

4

-

4

5

5

-

JT

A

18

27

-

-

-

-

4

4

-

-

-

-

100cmX20c

B

18

34

57

68.5

80

85

4

4

4

6

6

7

m

                         

3benih/lub

C

18

41

67

129

-

-

3.6

5.1

6.5

8.7

-

-

ang

D

15

28

33

47.1

50

-

-

-

-

-

-

-

Tabel. 4. Tabel bobot kering gulma

MS

       

F

   

T

Sumber

DB

JK

K T

Hitung

Pr>F

KK

2

Ulangan

2

738.78540517

369.39270258

0.96

0.5852

132.6018

 

Perlakuan

           

JT

1

176.00732827

176.00732827

0.46

0.6215

 

Perlakuan

           

Benih

2

925.97071579

462.98535789

1.20

0.5419

 

JT*Benih

1

595.37520027

595.37520027

1.55

0.4311

 
 

Galat

1

384.86592400

384.86592400

     
 

Umum

8

1865.60521400

       

4

Ulangan

3

15643.4153461

5214.47178203

0.50

0.7197

201.4602

0

 

Perlakuan

1

2234.69611210

2234.69611210

0.21

0.6891

 

JT

 

Perlakuan

3

34718.6637536

11572.8879178

1.11

0.5065

 

Benih

7

9

 

JT*Benih

1

499.40016003

499.40016003

0.05

0.8472

 
 

Galat

2

20880.3406250

10440.1703125

     

7

3

 

Umum

10

87880.8815321

       

8

6

Ulangan

2

19681.8453469

9840.92267346

0.53

0.6957

314.0632

2

 

Perlakuan

1

776.25418282

776.25418282

0.04

0.8713

 

JT

 

Perlakuan

2

24865.5999337

12432.7999668

0.67

0.6528

 

Benih

5

7

 

JT*Benih

1

1202.90724015

1202.90724015

0.07

0.8409

 
 

Galat

1

18463.5102802

18463.5102802

     

5

5

 

Umum

8

64975.2927980

       

0

8

Ulangan

2

1507.09896292

753.54948146

0.67

0.6539

225.5142

 

Perlakuan

1

2.08954682

2.08954682

0.00

0.9726

 

JT

 

Perlakuan

2

1725.61391050

862.80695525

0.77

0.6283

 

Benih

 

JT*Benih

1

163.34010015

163.34010015

0.15

0.7683

 
 

Galat

1

1125.50185225

1125.50185225

     
 

Umum

8

4368.34353622

       

10

Ulangan

2

413.81868292

206.90934146

112.28

0.0666

9.276977

 

Perlakuan

1

892.74251250

892.74251250

484.45

0.0289

 

JT

 

Perlakuan

2

748.67500975

374.33750487

203.13

0.0496

 

Benih

 

JT*Benih

0

0.00000000

       
 

Galat

1

1.84280625

1.84280625

     
 

Umum

7

1553.26124800

       

12

Ulangan

3

3059.30028442

1019.76676147

0.37

0.8016

284.6411

 

Perlakuan

1

185.85920000

185.85920000

0.07

0.8384

 

JT

 

Perlakuan

3

3465.11300442

1155.03766814

0.42

0.7802

 

Benih

     

JT*Benih

0

0.00000000

 

Galat

1

2761.44995025

2761.44995025

Umum

8

9160.58223800

 

Tabel. 5. Sidik ragam jagung berkelobot

sumber keragaman

 

db

JK

KT

F Hit

Pr > F

KK

ulangan

 

2

739

369

0.96

0.5852

133

perlakuan JT

1

176

176

0.46

0.6215

 

perlakuan benih

2

2

926

463

1.2

0.5419

 

JT*benih

MST

1

595

595

1.55

0.4311

 

galat

1

385

385

     

total

8

1,866

       

ulangan

 

2

739

369

0.96

0.5852

133

perlakuan JT

1

176

176

0.46

0.6215

 

perlakuan benih

4

2

926

463

1.2

0.5419

 

JT*benih

MST

1

595

595

1.55

0.4311

 

galat

1

385

385

     

total

8

1,866

       

ulangan

 

2

19,682

9,841

0.53

0.6957

314

perlakuan JT

1

776

776

0.04

0.8713

 

perlakuan benih

6

2

24,866

12,433

0.67

0.6528

 

JT*benih

MST

1

1,203

1,203

0.07

0.8409

 

galat

1

18,464

18,464

     

total

8

64,975

       

ulangan

 

2

1,507

754

0.67

0.6539

226

perlakuan JT

1

2

2

0

0.9726

 

perlakuan benih

8

2

1,726

863

0.77

0.6283

 

JT*benih

MST

1

163

163

0.15

0.7683

 

galat

1

1,126

1,126

     

total

8

4,368

       

ulangan

 

2

414

207

112.28

0.0666

9

perlakuan JT

1

893

893

484.45

0.0289

 

perlakuan benih

10

2

749

374

203.13

0.0496

 

JT*benih

MST

0

0

       

galat

1

2

       

total

7

1,553

       

ulangan

 

3

3,059

1,020

0.37

0.8016

285

perlakuan JT

1

186

186

0.07

0.8384

 

perlakuan benih

12

3

3,465

1,155

0.37

0.7802

 

JT*benih

MST

0

0

 

0.32

0.5999

 

galat

1

2,761

2,761

     

total

8

9,161

       

Tabel. 6. Sidik ragam jagung tanpa kelobot

sumber

             

keragaman

db

JK

KT

F Hit

Pr > F

KK

ulangan

 

2

73,878,540,517

36,939,270,258

0.96

0.5852

1,326,018

perlakuan JT

1

17,600,732,827

17,600,732,827

0.46

0.6215

 

perlakuan benih

2

2

92,597,071,579

46,298,535,789

1.20

0.5419

 

JT*benih

MST

1

59,537,520,027

59,537,520,027

1.55

0.4311

 

galat

1

38,486,592,400

38,486,592,400

     

total

8

186,560,521,400

       

ulangan

 

3

1,564,341,534,610

521,447,178,203

0.50

0.7197

2,014,602

perlakuan JT

1

223,469,611,210

223,469,611,210

0.21

0.6891

 

perlakuan benih

4

3

3,471,866,375,367

1,157,288,791,789

1.11

0.5065

 

JT*benih

MST

1

49,940,016,003

49,940,016,003

0.05

0.8472

 

galat

2

2,088,034,062,507

1,044,017,031,253

     

total

10

8,788,088,153,218

       

ulangan

 

2

1,968,184,534,692

984,092,267,346

0.53

0.6957

3,140,632

perlakuan JT

1

77,625,418,282

77,625,418,282

0.04

0.8713

 

perlakuan benih

6

2

2,486,559,993,375

1,243,279,996,687

0.67

0.6528

 

JT*benih

MST

1

120,290,724,015

120,290,724,015

0.07

0.8409

 

galat

1

1,846,351,028,025

1,846,351,028,025

     

total

8

6,497,529,279,800

       

ulangan

 

2

150,709,896,292

75,354,948,146

0.67

0.6539

2,255,142

perlakuan JT

1

208,954,682

208,954,682

0.00

0.9726

 

perlakuan benih

8

2

172,561,391,050

86,280,695,525

0.77

0.6283

 

JT*benih

MST

1

16,334,010,015

16,334,010,015

0.15

0.7683

 

galat

1

112,550,185,225

112,550,185,225

     

total

8

436,834,353,622

       

ulangan

 

2

41,381,868,292

20,690,934,146

112.28

0.0666

9,276,977

perlakuan JT

1

89,274,251,250

89,274,251,250

484.45

0.0289

 

perlakuan benih

10

2

74,867,500,975

37,433,750,487

203.13

0.0496

 

JT*benih

MST

0

0.00000000

.

.

.

 

galat

1

184,280,625

184,280,625

     

total

7

155,326,124,800

       

ulangan

 

3

305,930,028,442

101,976,676,147

0.37

0.8016

2,846,411

perlakuan JT

1

18,585,920,000

18,585,920,000

0.07

0.8384

 

perlakuan benih

12

3

346,511,300,442

115,503,766,814

0.42

0.7802

 

JT*benih

MST

0

0.00000000

.

.

.

 

galat

1

276,144,995,025

276,144,995,025

     

total

8

916,058,223,800

       

Tabel.7. Pengamatan bobot basah (gram) tongkol 10 tanaman contoh

Perlakukan

Kelompok

Berkelobot

Tanpa

kelobot

 

A

22.9

18.763

JT

B

tidak diamati

100cmX40cm

 

1benih/lubang

C

 

D

-

-

 

A

212.5

123.5

JT

B

169.2

117.5

100cmX40cm

     

2benih/lubang

C

tidak diamati

D

132.92

90.4

 

A

tidak ada tongkol

JT

B

 

mati

100cmX40cm

     

3benih/lubang

C

mati

mati

D

tidak diamati

 

A

136.6

95.4

JT

B

59.7

-

100cmX20cm

     

2benih/lubang

C

0.452

0.331

D

 
 

A

tidak diamati

JT

B

100cmX20cm

     

5benih/lubang

C

0.388889

0.302222222

D

tidak diamati

 

A

40.28

14.2

JT

B

tidak diamati

100cmX20cm

     

3benih/lubang

C

0.388889

0.302222222

D

tidak diamati

Tabel.8. Pengamatan bobot kering tanaman jagung

Perlakukan

Kel

           

BK

BK

BK

BK

BK

BK

JT

A

1.65

1.744

23.26

36.79

57.32

64.35

100cmX40c

B

0.8613

1.173

1.51139

1.9963

7.5

 

m

C

0.214

2.48

5.21

7.28

14.31

29.16

1benih/lub

 

0.55366

 

2.39866

   

6.06033

ang

D

7

1.287

7

3.46667

3.864

3

   

0.81974

 

8.09501

12.3832

 

33.1901

2

1.671

4

4

20.7485

1

JT

A

0.861

0.384

 

6.5

77

 

100cmX40c

B

 

m

     

12.4433