Anda di halaman 1dari 8

LEMBAR KERJA MAHASISWA

Nama subjek : Veda Chandrika


Umur Subjek : 19 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Hasil pemeriksaan:
1. Pemeriksaan fisik urin
Warna
: kuning jernih
Buih
: tidak ada
Kekeruhan
:Bau
: tidak keras/menyengat
Berat jenis
:
pH
:7
2. Pengukuran dengan urine analisis stripes
Glukosa
:Bilirubin
:Sg
: 1,005
Blo
:Prot
: 15 (0,15)
Leu
: 15
Nit
:Uro
:Ket
:3. Pemeriksaan kimiawi urin
a. Protein
: negative (-) / warna tetap jernih
b. Karbohidrat
: negative (-) / warna tetap biru
c. Bilirubin
: negative (-) / warna menjadi cokelat

Kesulitan

Pembahasan
Urin merupakan hasil metabolisme tubuh yang dikeluarkan melalui ginjal. Dari
1200 ml darah yang melalui glomeruli per menit akan terbentuk filtrat 120 ml per menit.

Filtrat tersebut akan mengalami reabsorpsi, difusi dan ekskresi oleh tubuli ginjal yang
akhirnya terbentuk satu mili liter urin per menit.
Secara umum dapat dikatakan bahwa pemeriksaan urin selain untuk mengetahui
kelainan ginjal dan salurannya juga bertujuan untuk mengetahui kelainan-kelainan di
berbagai organ tubuh seperti hati, saluran empedu, pankreas, korteks adrenal, uterus dan
lain-lain. Selama ini dikenal pemeriksaan urin rutin dan lengkap. Yang dimaksud
dengan pemeriksaan urin rutin adalah pemeriksaan makroskopik, mikroskopik dan
kimia urin yang meliputi pemeriksaan protein dan glukosa. Sedangkan yang dimaksud
dengan pemeriksaan urin lengkap adalah pemeriksaan urin rutin yang dilengkapi dengan
pemeriksaan benda keton, bilirubin, urobilinogen, darah samar dan nitrit.
Pemeriksaan makroskopik meliputi pemeriksaan volume, warna, kejernihan,
berat jenis, bau dan pH urin. Bau urin normal disebabkan oleh asam organik yang
mudah menguap. Bau yang berlainan dapat disebabkan oleh makanan seperti jengkol,
petai, obat-obatan seperti mentol, bau buah-buahan seperti pada ketonuria. Bau amoniak
disebabkan perombakan ureum oleh bakteri dan biasanya terjadi pada urin yang
dibiarkan tanpa pengawet. Adanya urin yang berbau busuk dari semula dapat berasal
dari perombakan protein dalam saluran kemih. Pemeriksaan mikroskopik yaitu
pemeriksaan sedimen urin. Sedangkan pemeriksaan kimia urine meliputi pemeriksaan
pH, protein, glukosa, keton, bilirubin, darah, urobilinogen dan nitrit.
Pada praktikum ini sampel diambil dari salah satu praktikan. Urin yang diambil
adalah urin pada pertengahan urinisasi. Pada praktikum ini dilakukan pemeriksaan fisik
dan kimia urin.
Pada pemeriksaan fisik, didapatkan warna urin yang kuning muda ( jernih) .
Pemeriksaan terhadap warna urin mempunyai makna karena kadang-kadang dapat
menunjukkan kelainan klinik. Warna urin dinyatakan dengan tidak berwarna, kuning
muda, kuning, kuning tua, kuning bercampur merah, merah, coklat, hijau, putih susu
dan sebagainya. Warna urin dipengaruhi oleh kepekatan urin, obat yang dimakan
maupun makanan. Pada umumnya warna ditentukan oleh kepekatan urin, makin banyak
diuresa makin muda warna urin itu. Warna normal urin berkisar antara kuning muda dan
kuning tua yang disebabkan oleh beberapa macam zat warna seperti urochrom, urobilin
dan porphyrin. Bila didapatkan perubahan warna mungkin disebabkan oleh zat warna
yang normal ada dalam jumlah besar, seperti urobilin menyebabkan warna coklat.

Disamping itu perlu dipertimbangkan kemungkinan adanya zat warna abnormal, seperti
hemoglobin yang menyebabkan warna merah dan bilirubin yang menyebabkan warna
coklat. Warna urin yang dapat disebabkan oleh jenis makanan atau obat yang diberikan
kepada orang sakit seperti obat dirivat fenol yang memberikan warna coklat kehitaman.
Kejernihan dinyatakan dengan salah satu pendapat seperti jernih, agak keruh,
keruh atau sangat keruh. Biasanya urin segar pada orang normal jernih. Kekeruhan
ringan disebut nubecula yang terdiri dari lendir, sel epitel dan leukosit yang lambat laun
mengendap. Dapat pula disebabkan oleh urat amorf, fosfat amorf yang mengendap dan
bakteri dari botol penampung. Urin yang telah keruh pada waktu dikeluarkan dapat
disebabkan oleh chilus, bakteri, sedimen seperti epitel, leukosit dan eritrosit dalam
jumlah banyak. Pada praktikum ini didapatkan sampel urin yang jernih.
Untuk menilai bau urin dipakai urin segar, yang perlu diperhatikan adalah bau
yang abnormal. Bau urin normal disebabkan oleh asam organik yang mudah menguap.
Bau yang berlainan dapat disebabkan oleh makanan seperti jengkol, petai, obat-obatan
seperti mentol, bau buah-buahan seperti pada ketonuria. Bau amoniak disebabkan
perombakan ureum oleh bakteri dan biasanya terjadi pada urin yang dibiarkan tanpa
pengawet. Adanya urin yang berbau busuk dari semula dapat berasal dari perombakan
protein

dalam

saluran

kemih

umpamanya

pada

karsinoma

saluran

kemih.

Bau urin yang didapatkan dalam praktikum ini normal ( tidak menyengat ).
Pemeriksaan fisik yang lain adalah pemeriksaan berat jenis urin. Pemeriksaan
berat jenis urin bertalian dengan faal pemekatan ginjal, dapat dilakukan dengan berbagai
cara yaitu dengan memakai falling drop, gravimetri, menggunakan pikno meter,
refraktometer dan reagens 'pita'. Berat jenis urin sewaktu pada orang normal antara
1,003 -- 1,030. Berat jenis urin herhubungan erat dengan diuresa, makin besar diuresa
makin rendah berat jenisnya dan sebaliknya. Makin pekat urin makin tinggi berat
jenisnya, jadi berat jenis bertalian dengan faal pemekat ginjal. Urin sewaktu yang
mempunyai berat jenis 1,020 atau lebih, menunjukkan bahwa faal pemekat ginjal baik.
Keadaan ini dapat dijumpai pada penderita dengan demam dan dehidrasi. Sedangkan
berat jenis urin kurang dari 1,009 dapat disebabkan oleh intake cairan yang berlebihan,
hipotermi, alkalosis dan kegagalan ginjal yang menahun.
Selanjutnya, dilakukan pula pengukuran pH urin. Penetapan pH diperlukan pada
gangguan keseimbangan asam basa, kerena dapat memberi kesan tentang keadaan

dalam badan. pH urin normal berkisar antar 4,5 -- 8,0. Selain itu penetapan pH pada
infeksi saluran kemih dapat memberi petunjuk ke arah etiologi. Pada infeksi oleh
Escherichia coli biasanya urin bereaksi asam, sedangkan pada infeksi dengan kuman
Proteus yang dapat merombak ureum menjadi atnoniak akan menyebabkan urin bersifat
basa. Dalam pengobatan batu karbonat atau kalsium fosfat urin dipertahankan asam,
sedangkan untuk mencegah terbentuknya batu urat atau oksalat pH urin sebaiknya
dipertahankan basa. pH yang diukur dengan menggunakan pH meter adalah 7 (normal).
Pemeriksaan kimia urin dilakukan dalam 2 cara. Yang pertama menggunakan
Reagens pita ( stripes ) dan yang kedua menggunakan cara konvensional, yaitu dengan
menggunakan reagen-reagen seperti Fehling, Benedict, atau BaCl2.
Pemeriksaan kimia urin dapat dilakukan dengan cara yang lebih sederhana
dengan hasil cepat, tepat, spesifik dan sensitif yaitu memakai reagens pita. Reagens pita
(strip) dari berbagai pabrik telah banyak beredar di Indonesia. Reagens pita ini dapat
dipakai untuk pemeriksaan pH, protein, glukosa, keton, bilirubin, darah, urobilinogen
dan nitrit. Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang optimum, aktivitas reagens harus
dipertahankan, penggunaan haruslah mengikuti petunjuk dengan tepat; baik mengenai
cara penyimpanan, pemakaian reagnes pita dan bahan pemeriksaan.
Urin dikumpulkan dalam penampung yang bersih dan pemeriksaan baiknya
segera dilakukan. Bila pemeriksaan harus ditunda selama lebih dari satu jam, sebaiknya
urin tersebut disimpan dulu dalam lemari es, dan bila akan dilakukan pemeriksaan, suhu
urin disesuaikan dulu dengan suhu kamar. Agar didapatkan hasil yang optimal pada tes
nitrit, hendaknya dipakai urin pagi atau urin yang telah berada dalam buli-buli minimal
selama 4 jam. Untuk pemeriksaan bilirubin, urobilinogen dipergunakan urin segar
karena zat-zat ini bersifat labil, pada suhu kamar bila kena cahaya. Bila urin dibiarkan
pada suhu kamar, bakteri akan berkembang biak yang menyebabkan pH menjadi alkali
dan menyebabkan hasil positif palsu untuk protein. Pertumbuhan bakteri karena
kontaminasi dapat memberikan basil positif palsu untuk pemeriksaan darah samar
dalam

urin

karena

terbentuknya

peroksidase

dari

bakteri.

Reagens pita untuk pemeriksaan protein lebih peka terhadap albumin


dibandingkan protein lain seperti globulin, hemoglobin, protein Bence Jones dan
mukoprotein. Oleh karena itu hasil pemeriksaan proteinuri yang negatif tidak dapat

menyingkirkan kemungkinan terdapatnya protein tersebut didalam urin. Urin yang


terlalu lindi, misalnya urin yang mengandung amonium kuartener dan urin yang
terkontaminasi oleh kuman, dapat memberikan hasil positif palsu dengan cara ini.
Proteinuria dapat terjadi karena kelainan prerenal, renal dan post-renal. Kelainan prerenal disebabkan karena penyakit sistemik seperti anemia hemolitik yang disertai
hemoglobinuria, mieloma, makroglobulinemia dan dapat timbul karena gangguan
perfusi glomerulus seperti pada hipertensi dan payah jantung. Proteinuria karena
kelainan ginjal dapat disebabkan karena kelainan glomerulus atau tubuli ginjal seperti
pada penyakit glomerulunofritis akut atau kronik, sindroma nefrotik, pielonefritis akut
atau kronik, nekrosis tubuler akut dan lain-lain.
Hasil pemeriksaan urin dengan menggunakan cara ini adalah negative untuk

Pemeriksaan glukosa dalam urin dapat dilakukan dengan memakai reagens


pita. Selain itu penetapan glukosa dapat dilakukan dengan cara reduksi ion cupri
menjadi cupro. Dengan cara reduksi mungkin didapati hasil positip palsu pada urin yang

mengandung bahan reduktor selain glukosa seperti : galaktosa, fruktosa, laktosa,


pentosa, formalin, glukuronat dan obat-obatan seperti streptomycin, salisilat, vitamin C.
Cara enzimatik lebih sensitif dibandingkan dengan cara reduksi. Cara enzimatik dapat
mendeteksi kadar glukosa urin sampai 100 mg/dl, sedangkan pada cara reduksi hanya
sampai

250

mg/dl.

Juga cara ini lebih spesifik untuk glukosa, karena gula lain seperti galaktosa, laktosa,
fruktosa dan pentosa tidak bereaksi. Dengan cara enzimatik mungkin didapatkan hasil
negatip palsu pada urin yang mengandung kadar vitamin C melebihi 75 mg/dl atau
benda

keton

melebihi

40

mg/dl.

Pada orang normal tidak didapati glukosa dalam urin. Glukosuria dapat terjadi karena
peningkatan kadar glukosa dalam darah yang melebihi kepasitas maksimum tubulus
untuk mereabsorpsi glukosa seperti pada diabetes mellitus, tirotoksikosis, sindroma
Cushing, phaeochromocytoma, peningkatan tekanan intrakranial atau karena ambang
rangsang ginjal yang menurun seperti pada renal glukosuria, kehamilan dan sindroma
Fanconi.
Benda- benda keton dalam urin terdiri atas aseton, asam asetoasetat dan asam 13hidroksi butirat. Karena aseton mudah menguap, maka urin yang diperiksa harus segar.
Pemeriksaan benda keton dengan reagens pita ini dapat mendeteksi asam asetoasetat
lebllh dari 5--10 mg/dl, tetapi cara ini kurang peka untuk aseton dan tidak bereaksi
dengan asam beta hidroksi butirat. Hasil positif palsu mungkin didapat bila urin
mengandung bromsulphthalein, metabolit levodopa dan pengawet 8-hidroksi-quinoline
yang

berlebihan.

Dalam keadaan normal pemeriksaan benda keton dalam urin negatif. Pada keadaan
puasa yang lama, kelainan metabolisme karbohidrat seperti pada diabetes mellitus,
kelainan metabolisme lemak didalam urin didapatkan benda keton dalam jumlah yang
tinggi. Hal ini terjadi sebelum kadar benda keton dalam serum meningkat.
Pemeriksaan bilirubin dalam urin berdasarkan reaksi antara garam diazonium dengan

bilirubin dalam suasana asam, yang menimbulkan warna biru atau ungu tua. Garam
diazonium terdiri dari p-nitrobenzene diazonium dan p-toluene sulfonate, sedangkan
asam

yang

dipakai

adalah

asam

sulfo

salisilat.

Adanya bilirubin 0,05-1 mg/dl urin akan memberikan basil positif dan keadaan ini
menunjukkan kelainan hati atau saluran empedu. Hasil positif palsu dapat terjadi bila
dalam urin terdapat mefenamic acid, chlorpromazine dengan kadar yang tinggi
sedangkan negatif palsu dapat terjadi bila urin mengandung metabolit pyridium atau
serenium.
Pemeriksaan urobilinogen dengan reagens pita perlu urin segar. Dalam keadaan
normal kadar urobilinogen berkisar antara 0,1 - 1,0 Ehrlich unit per dl urin.
Peningkatan ekskresi urobilinogen urin mungkin disebabkan oleh kelainan hati, saluran
empedu

atau

proses

hemolisa

yang

berlebihan

di

dalam

tubuh.

Dalam keadaan normal tidak terdapat darah dalam urin, adanya darah dalam urin
mungkin disebabkan oleh perdarahan saluran kemih atau pada wanita yang sedang haid.
Dengan pemeriksaan ini dapat dideteksi adanya 150-450 ug hemoglobin per liter urin.
Tes ini lebih peka terhadap hemoglobin daripada eritrosit yang utuh sehingga perlu
dilakukan pula pemeriksaan mikroskopik urin. Hasil negatif palsu bila urin mengandung
vitamin C lebih dari 10 mg/dl. Hasil positif palsu didapatkan bila urin mengandung
oksidator seperti hipochlorid atau peroksidase dari bakteri yang berasal dari infeksi
saluran

kemih

atau

akibat

pertumbuhan

kuman

yang

terkontaminasi.

Dalam keadaan normal urin bersifat steril. Adanya bakteriura dapat ditentukan dengan
tes nitrit. Dalam keadaan normal tidak terdapat nitrit dalam urin. Tes akan berhasil
positif bila terdapat lebih dari 105 mikroorganisme per ml urin. Perlu diperhatikan
bahwa urin yang diperiksa hendaklah urin yang telah berada dalam buli-buli minimal 4
jam, sehingga telah terjadi perubahan nitrat menjadi nitrit oleh bakteri. Urin yang
terkumpul dalam buli-buli kurang dari 4 jam akan memberikan basil positif pada 40%
kasus.

Hasil positif akan mencapai 80% kasus bila urin terkumpul dalam buli-buli lebih dari 4
jam. Hasil yang negatif belum dapat menyingkirkan adanya bakteriurea, karena basil
negatif mungkin disebabkan infeksi saluran kemih oleh kuman yang tidak mengandung
reduktase, sehingga kuman tidak dapat merubah nitrat menjadi nitrit. Bila urin yang
akan diperiksa berada dalam buli-buli kurang dari 4 jam atau tidak terdapat nitrat dalam
urin,

basil

tes

akan

negatif.

Kepekaan tes ini berkurang dengan peningkatan berat jenis urin. Hasil negatif palsu
terjadi bila urin mengandung vitamin C melebihi 25 mg/dl dan konsentrasi ion nitrat
dalam urin kurang dari 0,03 mg/dl.