Anda di halaman 1dari 13

PENERAPAN SISTEM INFORMASI

DALAM E-GOVERNMENT INDONESIA


(Studi Kasus Penggunaan E-Audit Pemerintah Provinsi Jawa Timur)

DISUSUN OLEH :
Ananta Dian Pratiwi

125020300111010

Resika Inas Biantari

125020301111022

Mira Kusuma Wati

125020301111028

Himmi Ferdian Kartika

125020301111031

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Perkembangan sistem informasi saat ini sangatlah cepat. Jika membandingkan keadaan
zaman dulu dan sekarang, kita dapat melihat perbedaan yang begitu jauh. Dulu, sebuah
organsiasi sulit untuk mengatur operasi organisasi apalagi jika organisasi memiliki banyak divisi
atau cabang di dalamnya. Kini, dengan sistem informasi yang modern sangat membantu
organisasi dalam mengatur operasi dan pekerjaan tiap individu. Hal ini membuat organisasi dapat
berjalan dengan efektif dan efisien. Karena itu tidak dapat dipungkiri bahwa sistem informasi
telah menjadi salah satu elemen penting dalam mendukung pekerjaan dalam sebuah organisasi.
Setiap organisasi dituntut untuk selalu memperhatikan teknologi yang dimiliki secara
keseluruhan agar dapat terus mengikuti perubahan dari perkembangan teknologi. Dengan
memanfaatkan teknologi informasi, sebuah organisasi dapat menjalankan pekerjaannya dengan
lebih cepat dan dapat mengolah data dengan lebih akurat. Organisasi yang dapat menerapkan
teknologi informasi dengan efektif dan efisien menjadi lebih unggul dibandingkan dengan
perusahaan yang lainnya.
Manfaat dari sistem informasi yang begitu besar nyatanya mendorong pemerintah untuk
menggunakannya dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Sebagai pengelola
sumber daya publik, pemerintah daerah dituntut untuk menjalankan pemerintahan yang
transparan dan akuntabel. Menurut Mardiasmo, transparansi adalah keterbukaan dalam proses
perencanaan, penyusunan dan pelaksanaan anggaran daerah. Transaparansi memberikan arti
bahwa setiap anggota masyarakat memiliki akses untuk mengetahui proses anggaran karena
menyangkutan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Sementara, akuntabilitas adalah prinsip
pertanggungjawaban publik yang berarti proses penganggaran mulai perencanaan, penyusunan
dan pelaksanaan harus benar-benar dapat dilaporkan dan dipertanggungjawabkan kepada DPR
dan masyarakat. Masyarakat memiliki hak untuk menuntut pertanggungjawaban atas rencana
ataupun pelaksanaan anggaran tersebut. Namun sayangnya, banyak terjadi penyimpangan dan
kurangnya transparansi serta akuntabilitas dalam penyajian laporan keuangan daerah
menyebabkan turunnya kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan keuangan pemerintah
daerah.
Karena itu pemerintah Indonesia memanfaatkan sistem informasi untuk menjalankan
pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Penerapan ini dilakukan dalam bentuk eGovernment, yaitu upaya penggunaan teknologi infromasi untuk meningkatkan efisiensi
pemerintah, memberikan pelayanan dan akses informasi cepat kepada publik, serta mewujudkan
pemerintahan yang trasnparan dan akuntabel. E-Government menjajikan efisiensi, kecepatan
penyampaian informasi, jangkauan yang global dan transparansi. Maka dari itu pada tahun 2002,
e-Government mulai diterapkan dalam lingkup internal pemerintahan. Seiring dengan
berjalannya waktu, e-Government mencakup semua aktifitas pemerintahan, mulai dari informasi,
administrasi, pembangunan, pengadaan barang dan jasa, pelayanan publik, dan lain sebagainya.

Salah satu daerah yang menerapkan e-Government secara efekti adalah Jawa Timut.
Pemprov Jatim sudah mulai melaksanakan e-Government untuk merealisasikan aspek
akuntabilitas dan transparansi dalam manajemen keuangan daerahnya. Pelaksanaan eGovernment dilakukan melalui penggunaan e-Audit dalam manajemen keuangan daerah yang
diharapkan mampu meningkatkan akuntabilitas dan transparansi dalam penyajian laporan
keuangan daerah. Tahap awal yang dilakukan oleh Pemprov Jatim adalah melakukan MoU
(memorandum of understanding) dengan BPK. Harapan Pemprov Jatim dengan menggunakan eAudit dapat melaksanakan e-Government yang efektif sehingga kepercayaan masyarakat dapat
meningkat dan terciptanya hubungan yang sinergis antara pemerinah dan masyarakat untuk
memajukan dan mempercepat pembangunan daerah.

2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka dirumuskan beberapa pertanyaan sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan e-Government, manfaat dan kendalanya?
2. Bagaimana kondisi penerapan e-Government di Indonesia?
3. Mengapa e-Government penting dalam mewujudkan pemerintah yang transparan dan
akuntabel?
4. Bagaimana penerapan e-govermemt di Pemerintah Provinsi Jawa Timur?

BAB II

PEMBAHASAN
1. Pengertian, Manfaat dan Kendala E-Government
E-Government merupakan kependekan dari elektronik pemerintah. E-Governtment biasa
dikenal E-Gov, pemerintah digital, online pemerintah atau pemerintah transformasi. EGovernment adalah suatu upaya untuk mengembangkan penyalenggaraan kepemerintahan yang
berbasis elektronik. Suatu penataan sistem manajemen dan proses kerja di lingkungan
pemerintah dengan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Atau EGoverment adalah penggunaan teknologi informasi oleh pemerintah untuk memberikan
informasi dan pelayanan bagi warganya, urusan bisnis, serta hal-hal lain yang berkenaan dengan
pemerintahan. e-Government dapat diaplikasikan pada legislatif, yudikatif, atau administrasi
publik, untuk meningkatkan efisiensi internal, menyampaikan pelayanan publik, atau proses
kepemerintahan yang demokratis. Ada tiga model penyampaian E-Government, antara lain :
a. Government-to-Citizen atau Government-to-Customer (G2C) adalah penyampaian
layanan publik dan informasi satu arah oleh pemerintah ke masyarakat dan
memungkinkan pertukaran informasi dan komunikasi antara masyarakat dan pemerintah.
Contohnya G2C : pajak online, mencari pekerjaan, Layanan Jaminan sosial, dokumen
pribadi (kelahiran dan akta perkawinan, aplikasi paspor),layanan imigrasi, layanan
kesehatan, beasiswa, dan penanggulangan bencana.
b. Government-to-Business (G2B) adalah transaksi-transaksi elektronik dimana pemerintah
menyediakan berbagai informasi yang dibutuhkan bagi kalangan bisnis untuk
bertransaksi dengan pemerintah.Mengarah kepada pemasaran produk dan jasa ke
pemerintah untuk membantu pemerintah menjadi lebih efisien melalui peningkatan
proses bisnis dan manajemen data elektronik. Aplikasi yang memfasilitasi interaksi G2B
maupun B2G adalah sistem e-procurement. Contoh : pajak perseroan, peluang bisnis,
pendaftaran perusahaan, peraturan pemerintah (hukum bisnis), pelelangan dan penjualan
yang dilaksanakan oleh pemerintah, hak paten merk dagang dan lainnya.
c. Government-to-Government (G2G) adalah sistem yang memungkinkan komunikasi dan
pertukaran informasi online antar departemen atau lembaga pemerintahan melalui
basisdata terintegrasi. Contoh: konsultasi secara online, blogging untuk kalangan
legislatif, pendidikan secara online, dan pelayanan kepada masyarakat secara terpadu.
Penerapan e-Government ini dapat memberikan tambahan manfaat yang lebih kepada
masyarakat, seperti:
a. Memperbaiki kualitas pelayanan pemerintah kepada para stakeholder-nya (masyarakat,
kalangan bisnis, dan industri) terutama dalam hal kinerja efektivitas dan efisiensi di
berbagai bidang kehidupan bernegara;
b. Meningkatkan transparansi, kontrol, dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan
dalam rangka penerapan konsep Good Governance di pemerintahan (bebas KKN);
c. Mengurangi secara signifikan total biaya administrasi, relasi, dan interaksi yang
dikeluarkan pemerintah maupun stakeholdernya untuk keperluan aktivitas sehari-hari;

d. Memberikan peluang bagi pemerintah untuk mendapatkan sumber-sumber pendapatan


baru melalui interaksinya dengan pihak-pihak yang berkepentingan;
e. Menciptakan suatu lingkungan masyarakat baru yang dapat secara cepat dan tepat
menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi sejalan dengan berbagai perubahan
global dan trend yang ada; dan
f. Memberdayakan masyarakat dan pihak-pihak lain sebagai mitra pemerintah dalam proses
pengambilan berbagai kebijakan publik secara merata dan demokratis.
Dalam menerapkan sesuatu yang baru tentunya banyak juga kendala atau hambatan yang
terjadi. Penerapan e-Government bukan tanpa hambatan. Ada beberapa hambatan secara umum
yang terjadi dalam penerapannya, seperti belum familiarnya kultur berbagi (sharing) infromasi,
kurangnya sumber daya manusia yang ahli, infrastruktur informasi yang belum merata, dan
tempat akese poin yang terbatas. Hambatan seperti ini nyatanya cukup membatasi penerapan eGovernment yang efektif. Tetapi pemerintah harus terus berupaya mengatasi hambatan ini agar
bisa memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dan mewujudkan pemerintahan yang
transparan dan akuntabel.

2. Kondisi Penerapan E-Government di Indonesia


E-Government di Indonesia sudah diatur di dalam Inpres No. 03 tahun 2003 yang mana
menuntut setiap lembaga/instansi public untuk mengimplementasikan e-government . Penerapan
e-government di instansi pemerintahan bervariasi tergantung pada tugas pokok dan fungsi
instansi pemerinthan. Penerapan e-government diharapkan pemerintah memperoleh tata kelola
pemerintahan yang efektif dan efisien.
Perkembangan e-government di Indonesia cukuplah pesat seperti perkembangan Internet
di Indonesia yang pesat. Situs web daerahpun juga sudah terintegrasi dengan internet, bahkan
hampir semua Institusi pemerintahan terlebih yang tingkat kabupaten/kota sudah mempunyai
situs web resmi. Dengan hal tersebut akan memermudah bagaimana menjangkau semua
masyarakat dan bagaimana meningkatkan partisipasi masyarakat.
Memang tidak dipungkiri perkembangan e-government di Indonesia belum secanggih
dengan Negara maju lain yang mana situs tersebut menyediakan informasi yang cukup lengkap.
Hal tersebut karena memang SDM yang belum memadai, masih banyak masyarakat Indonesia
yang hanya bisa menggunakapn tetapi tidak bisa mengoperasikan situs website. Selain itu situs
website juga terkadang masih belum begitu terupdate , padahal update sangatlah penting karena
masyarakat akan semakin percaya kalau pemerintah telah melakukan transparansi, hal ini di
karenakan masih kurangnya kesadaran kenapa dibutuhkan pengelolaan lebih terhadap egovernment.
Model e-government yang diterapkan di negara-negara luar adalah menggunakan model
empat tahapan perkembangan yang meliputi :
a. Fase pertama, berupa penampilan website (web presence) yang berisi informasi dasar
yang dibutuhkan masyarakat.

b. Fase kedua, fase interaksi yaitu isi informasi yang ditampilkan lebih bervariasi, seperti
fasilitas download dan komunikasi e-mail dalam website pemerintah.
c. Fase ketiga, tahap transaksi berupa penerapan aplikasi/formulir untuk secara online mulai
diterapkan.
d. Fase Keempat, fase transformasi berupa pelayanan yang terintegrasi, tidak hanya
menghubungkan pemerintahdengan masyarakat tetapi juga dengan organisasi lain yang
terkait (pemerintah ke antarpemerintah, sektor nonpemerintah, serta sektor swasta).
Saat ini Indonesia kebanyakan masih mencapai tahap pertama dan kedua dimana
informasi yang ditampilkan masih informasi dasar. Dan fase kedua biasanya telah dilakukan oleh
instansi yang berada di kota besar. Padahal seharusnya Indonesia telah mencapai fase ketiga
maupun keempat dengan perkembangan internet yang cukup cepat sekarang ini. Untuk mencapai
fase ketiga diperlukan keaktifan dan komitmen pihak pemda untuk meningkatkan layanan dalam
situs web kearah tahapan pemantapan. Tingkat kesiapan Indonesia masih rendah jika
dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara lainnya. Tingkat kesiapan Indonesia yang
masih rendah disebabkan karena adanya hambatan di dalam birokrasi, yaitu mulai dari UU,
kebijakan pusat dan daerah, sampai pada organisasi dan tata kerja yang tidak mudah untuk
diubah atau disempurnakan, juga karena keterbatasan yang dimiliki pada kantor pemerintah
mendorong implementasi sistem informasi sesuai dengan batasan yang ada. Selain itu, rendahnya
kesiapan Indonesia dalam menerapkan e-Government disebabkan juga hal-hal berikut ini1:
a. belum adanya satuan kerja di suatu kantor pemerintah yang secara struktural
bertanggungjawab di dalam pembangunan dan pengembangan sistem informasi;
b. rancangan sistem informasi berkembang secara parsial sesuai dengan kebutuhan masingmasing entitas kantor pemerintahan (satuan kerja), sehingga sulit untuk di-integrasikan;
c. sistem informasi dilaksanakan secara mandiri di masing-masing satuan kerja tanpa
adanya koordinasi sistem informasi antar satuan kerja, termasuk membangun informasi
yang bukan menjadi tanggung jawab satuan kerja pembangun sistem;
d. data dan informasi yang dibuat dan berada di luar kewenangan suatu satuan
kerja/lembaga tidak dapat dijamin keakuratan dan tanggungjawab kelayakannya,
sehingga akan menjadi suatu area yang berisiko tertinggi;
e. belum terbangunnya budaya bekerja dengan suatu pola yang saling terintegrsi di
lingkungan kantor pemerintah;
f. keterbatasan kemampuan sumberdaya manusia untuk pengelolaan sistem informasi.
Jadi jika disimpulkan sarana e-government di Indonesia masih berfungsi sebagai media
informatif atau keumasan saja bukan sebagai media interaktif antara pemerintah dan masyarakat.
Website Pemda masih banyak yang berupa organization pofile saja tidak lebih jauh dari hal itu.
Dalam pencarian data mengenai keuangan atau lainnya yang masih sulit dilakukan di website
pemda.
1 Navi, Prhaerdyan dkk. Manajemen Sektor Publik

3. Pentingnya E-Government dalam Mewujudkan Pemerintahan yang Transparan dan


Akuntabel
Salah satu ciri good governance adalah transparansi yang dibangun atas dasar arus
informasi yang bebas, dimana seluruh proses pemerintahan dan informasinya dapat diakses oleh
semua pihak yang berkepentingan. Untuk kepentingan transparansi informasi sebagaimana
dimaksud, diperlukan sarana komunikasi yang menjamin kelancaran informasi antara pemerintah
dengan masyarakat dan dunia usaha, dan tentunya komunikasi antara pemerintah pusat dan
pemerintah daerah, serta antar pemerintah daerah.
Menyadari betapa pentingnya arti mewujudkan kepemerintahan yang baik, maka aparatur
negara dituntut harus mampu meningkatkan kinerja. Sasaran yang menjadi prioritas adalah
mewujudkan pelayanan masyarakat yang efisien dan berkualitas, sehingga mampu mendorong
pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya saing. Oleh karena itu, dalam hal ini diperlukan
perhatian pemerintah untuk melakukan perubahan-perubahan secara signifikan melalui
manajemen perubahan menuju ke arah penyelenggaraan kepemerintahan yang baik.
Salah satu upaya untuk mewujudkan tata pemerintahan yang baik adalah mempercepat
proses kerja serta modernisasi administrasi melalui otomatisasi di bidang administrasi
perkantoran, modernisasi penyelenggaraan pelayanan kepada masyarakat melalui E-Government
sebagai salah satu aplikasi dari teknologi informasi. Masalah utama yang dihadapi dalam
implementasi otonomi daerah adalah terbatasnya sarana dan prasarana komunikasi informasi
untuk mensosialisasikan berbagai kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah kepada
masyarakat, agar proses penyelenggaraan pemerintahan, pengelolaan pembangunan, dan
pemberdayaan masyarakat dapat menjadi lebih efektif, efisien, transparan, dan akuntabel.
Oleh karena itu, dalam penyelenggaraan pemerintahan menuju good governance serta
dalam rangka melaksanakan penyelenggaraan otonomi daerah, maka pengembangan dan implementasi E-Government merupakan alternatif yang strategis dalam rangka mengkomunikasikan
informasi secara dua arah antara pemerintah dengan masyarakat dan dunia usaha dan antar pemerintah itu sendiri.
Setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan pentingnya E-Government dalam
pembangunan masyarakat jaringan (network society):
1. Elektronisasi komunikasi antara sektor publik dan masyarakat menawarkan bentuk baru
partisipasi dan interaksi keduanya. Waktu yang dibutuhkan menjadi lebih singkat,
disamping tingkat kenyamanan pelayanan juga semakin tinggi. Disamping itu bentuk
transaksi baru ini akan menyebabkan tingginya tingkat pemahaman dan penerimaan
masyarakat terhadap tindakan yang dilakukan oleh pemerintah
2. Cyberspace dalam pelayanan publik memungkinkan penghapusan struktur birokrasi dan
proses klasik pelayanan yang berbelit-belit. Tujuan realistis yang hendak dicapai melalui
cyberspace adalah efisiensi pelayanan dan penghematan finansial. Disamping itu,
informasi online dalam pelayanan publik dapat meningkatkan derajat pengetahuan
masyarakat mengenai proses dan persyaratan sebuah pelayanan public

3. E-Government menyajikan juga informasi-informasi lokal setempat. Penggunaan internet


dalam sektor publik akan memungkinkan kemampuan kompetisi masyarakat lokal
dengan perkembangan internasional dan global.
Penerapan e-Government diharapkan mampu menggeser paradigmana masyarakat saat
ini. Di bawah ini akan ditunjukkan tabel mengenai harapan pergeseran paradigma di masyarakat.

Orientasi
Proses Organisasi

Prinsip Manajemen

Gaya Kepemimpinan

Paradigma Birokratis
Efisiensi biaya
Merasionalisasikan peranan,
pembagian tugas dan
pengawasan hirarki vertikal
Manajemen berdasarkan
peraturan dan mandat
(perintah)
Memerintah dan mengawasi

Komunikasi Internal

Hirarki (berperingkat) dan


top-down

Komunikasi Eksternal

Terpusat, formal dan saluran


terbats

Cara Penyampaian Layanan

Dokumen dan interaksi antar


personal
Terstandarkan, keadilan dan
sikap adil

Prinsip-Prinsip Pemyampaian
Layanan

Paradigma E-Government
Fleksibel, pengawasan dan
kepuasan publik
Hirarki horizontal, jaringan
organisasi dan tukar infromasi
Manajemen bersifat fleksibel,
teamwork antar departemen
dengan koordinasi pusat
Fasilitator, koordinatif, dan
entrepreneurship
Jaringan banyak tujuan
dengan koordinasi pusat dan
komunikasi langsung
Formal dan infromal, umpan
balik langsung, cepat dan
banyak saluran
Pertukaran elektronik dan
interaksi non face to face
Penyeragaman bagi semua
pengguna dan bersifat
personal

4. Penerapan E-Government Pemerintah Provinsi Jawa Timur


Pemanfaatan teknologi informasi (TI) telah menjadi suatu kebutuhan dalam pengelolaan
dan pelaksanaan pelayanan di sektor publik. Hal tersebut dapat dilihat dari semakin luasnya
penggunaan teknologi informasi pada unit-unit pemerintah dan BUMN/BUMD. Selain itu,
keterbukaan informasi menjadi tantangan yang mendorong untuk diberlakukannya sisem e-Audit
ini. Dalam pelaksanaan tugas pemeriksaan, BPK-RI mempunyai kewenangan yang cukup luas
terkait permintaan data kepada audit. Berikut ini adalah beberapa peraturan yang mencantumkan
wewenang BPK-RI dalam memperoleh data dan informasi, yaitu UU No. 15/2006 Pasal 9 huruf
b dan d dan UU No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Secara garis besar
pelaksanaan e-Audit dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Membuat MoU dengan auditee untuk pengembangan sistem informasi dimana BPK dapat
melakukan akses data ke sistem informasi tersebut. MoU tersebut merupakan cara bagi
BPK untuk dapat mengakses data dari auditee.
2. Auditee memberikan akses kepada BPK untuk dapat mengambil data Laporan Keuangan
yang dibutuhkan melalui sistem informasi yang dikelola secara bersama dengan jaringan
internet. Sistem ini dapat diakses oleh BPK secaraonline dan real time.
3. Untuk keamanan, harus dipastikan bahwa akses yang diberikan kepada BPK tersebut
hanya digunakan oleh BPK, serta harus dipastikan juga bahwa akses ke dalam sistem
informasi hanya dilakukan dalam rangka pemeriksaan.
4. BPK melakukan akses ke sistem informasi dari auditee untuk mengambil data file yang
dibutuhkan dalam rangka pemeriksaan laporan keuangan.
5. Pelaksanaan pemeriksaan laporan keuangan dengan TABK (Teknik Audit Berbantuan
Komputer).
Jawa Timur adalah salah satu provinsi yang berprestasi di Indonesia. Salah satu prestasi
yang dicapai yaitu sebagai The Emerging Province, yakni provinsi yang menjadi lokomotif
ekonomi Indonesia. Hal ini dicapai karena Jatim mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi,
jumlah kemiskinan yang menurun, berkurangnya tingkat pengangguran terbuka (TPT), naiknya
indeks pembangunan manusia (IPM) dan mengecilnya disparitas wilayah. Ekonomi Jawa Timur
selama empat tahun terakhir terus tumbuh dengan baik. Pemprov Jatim juga menerima predikat
Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK selama tiga tahun. Kemudian, pada tahun 2011
Pemprov Jatim menempati tempat kedua nasiona sebagai pemerintah yang menjalankan eGovernment dengan baik.
Meskipun pencapaiannya luar biasa, Pemprov tidak mau lengah dan terus bergerak cepat
untuk merealisasikan akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan keuangan daerahnya.
Pemprov Jatim sudah mengelola keuangan secara profesional dan transparan, terutama di badan
pengelolaan keuangan dan aset daerah (BPKAD) serta dinas pendapatan (dispenda). Untuk
meningkatkan transparansi dan akuntabilitasnya sebagai tujuan e-Government, maka upaya yang
dilakukan adalah mulai menerapkan e-Audit. Tahap awal yang dilakukan adalah MoU
(Memorandum of Understanding). Sejak MoU yang ditandatangani pada 19 Mei 2011 di Gedung
BPK Perwakilan Jatim, setiap saat BPK dapat mengakes transaksi keuangan yang dilakukan
SKPD di lingkungan Pemprov Jatim. Dengan demikian, jika terjadi permasalahan, kekeliruan,
dan penyimpangan, BPK bisa mengetahui lebih awal. Dengan e-Audit BPK bisa memeriksa
setiap saat terhadap Pemprov Jatim, mempercepat pelaporan pengguanaan keuangan daerah.
Pemprov Jatim berharap dengan penggunaan e-Audit mampu memenuhi salah satu tuntutan
demokrasi yang wajib ditegakkan saat ini yaitu soal keterbukaan informasi. Terutama masyarakat
yang membayar pajak kepada pemerintah untuk bisa mengetahui sistem pelaporan keuangan
pemerintah. Sementara itu, output yang diharapkan dari e-Audit adalah efektivitas audit
anggaran yang berbasis keuangan. Jadi diharapkan audit anggaran menjadi semakin transparan
dan akuntabel.
Kelebihan Penggunaan E-Audit dalam Manajemen Keuangan Daerah Pemprov Jatim
antara lain:

1. Pelaksanaan pengumpulan data menjadi lebih cepat. Karena pelaksanaan pengumpulan


data dapat dilakukan sewaktu-waktu dan bersifat real time online maka proses
pengumpulan data dapat menjadi lebih cepat dibandingkan dengan cara konvensional.
2. Pemeriksaan laporan keuangan dilakukan lebih cepat karena dilakukan dengan
berbantuan komputer. Dengan data yang diperoleh merupakan data komputer, maka
analisis atau proses pemeriksaan yang dilakukan juga harus dengan menggunakan
komputer (TABK), hal ini membuat pemeriksaan laporan keuangan menjadi lebih cepat.
3. Dapat digunakan untuk mengembangkan cakupan pemeriksaan yang lebih luas dan
mendalam. Cakupan atau coverage pemeriksaan yang lebih luas dan mendalam ini
mengandung pengertian yaitu :
Luas karena dengan proses pemeriksaan yang dilakukan dapat dengan cepat maka
lingkup yang dipeiksa akan menjadi lebih banyak atau lebih luas cakupanya.
Mendalam karena proses pengumpulan data yang lebih cepat maka proses analisisnya
atas data yang diperoleh dan dikumpulkan menjadi lebih mendalam.

4. Karena datanya berupa paperless maka keunggulannya adalah :


Retensi dokumen yang lebih lama dan andal (>10 tahun)
Akses data yang lebih cepat
Analisa cross section lebih mudah
Interoperability
Long distance collaboration & supervision

BAB III
PENUTUP
1. Simpulan
Pemerintah merupakan pengelola aset daerah yang mana dituntut untuk bisa
mempertanggungjawabkan pekerjaannya. Wujud pertanggungjawaban itu adalah melalui

penyelenggaraan yang transparan dan akuntabel. Transaparan memberikan arti bahwa setiap
anggota masyarakat memiliki akses untuk mengetahui proses anggaran karena menyangkutan
pemenuhan kebutuhan masyarakat. Sementara, akuntabilitas adalah prinsip pertanggungjawaban
publik yang berarti proses penganggaran mulai perencanaan, penyusunan dan pelaksanaan harus
benar-benar dapat dilaporkan dan dipertanggungjawabkan kepada DPR dan masyarakat.
Masyarakat memiliki hak untuk menuntut pertanggungjawaban atas rencana ataupun
pelaksanaan anggaran tersebut. Namun sayangnya, banyak terjadi penyimpangan dan kurangnya
transparansi serta akuntabilitas dalam penyajian laporan keuangan daerah menyebabkan
turunnya kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan keuangan pemerintah daerah.
Di tengah krisis kepercayaan masyarakat, pemerintah perlu melakukan suatu gebrakan
demi mengembalikan kepercayaan masyarakat. Melalui e-Government pemerintah ingin
mengembalikan kepercayaan masyarakat bahwa pemerintah telah menjalankan fungsinya dengan
baik dan benar. E-government adalah suatu upaya untuk mengembangkan penyalenggaraan
kepemerintahan yang berbasis elektronik. Salah satu perwujudan e-Government di Indonesia
adalah pemerintah melalui BPK mengeluarkan sebuah sistem baru yaitu e-Audit, dimana audit
anggaran pemerintah daerah menggunakan perangkat elektronik, sehingga semua aktivitas
keuangan daerah dapat terpantau secara detail.
Dari semua pemerintahan daerah di Indonesia, Pemprov Jatim sudah melakukan tahap
awal, yaitu melakukan MoU dengan BPK. ).Ssetiap saat BPK dapat mengakes transaksi
keuangan yang dilakukan SKPD di lingkungan Pemprov Jatim. Dengan demikian, jika terjadi
permasalahan, kekeliruan, dan penyimpangan, BPK bisa mengetahui lebih awal. Dengan eAudit, BPK bisa memeriksa setiap saat terhadap Pemprov Jatim, mempercepat pelaporan
pengguanaan keuangan daerah. Pemprov Jatim berharap dengan penggunaan e-Audit mampu
memenuhi salah satu tuntutan demokrasi yang wajib ditegakkan saat ini yaitu soal keterbukaan
informasi. Terutama masyarakat yang membayar pajak kepada pemerintah untuk bisa
mengetahui sistem pelaporan keuangan pemerintah. Sementara itu, output yang diharapkan dari
e-Audit adalah efektivitas audit anggaran yang berbasis keuangan. Jadi diharapkan audit
anggaran menjadi semakin transparan dan akuntabel.
2. Saran
Penggunaan e-Audit sebagai salah satu implementasi e-Government tentu dapat
membantu pemerintah untuk mewujudkan pemerintahan yang trasnparan dan akuntabel. Maka
saran kami adalah agar setiap pemerintahan di Indonesia dapat mengambil langkah ini agar
masyarakat bisa lebih percaya dan menghargai kinerja pemerintah. Bagi Pemprov Jatim sendiri
diharapkan dapat terus meningkatkan penggunaan e-Audit dan menereapkan implementasi eGovernment lainnya yang bisa meningkatkan efisiensi kinerja pemerintah sehingga bisa
mewujudkan pemerintahan provinsi dan akhirnya Indonesia yang transparan dan akuntabel.

DAFTAR PUSTAKA
Mardiasmo.2002.Otonomi & Manajemen Keuangan Daerah.Yokyakarta: Penerbit Andi
Halim A. dan Kusufi M. S.2011.Akuntansi Sektor Publik: Akuntansi Keuangan Daerah.Jakarta:
Penerbit Salemba Empat

Artikel dari koran Jawa Post edisi Sabtu 17 Agustus 2013 hal. 18
KEMENKOMINFO KEMBALI GELAR PEMERINGKATAN E-GOV Tanggal: 26-03-2013
(http://www.jatimprov.go.id/site/kemenkominfo-kembali-gelar-pemeringkatan-e-gov)
Navi, Praherdyan dkk. 2012. Manajemen Sektor Publik. Juruan Ilmu Administrasi Publik FIA UB
(http://nurjatiwidodo.lecture.ub.ac.id/files/2012/10/Kel-1-Pengertian-dan-Ruang-LingkupManajemen-Sistem-Informasi.pdf)