Anda di halaman 1dari 3

Prosedur Pelaksanaan Home Care Pada Anak Berkebutuhan Khusus

a. Autis
Terapi yang dilakukan pada anak autis adalah dengan cara sensorik integrasi.
Adapun prosedur operasional pelaksanaan home care pada anak autis ini adalah:
1. Pendekatan kepada keluarga dan klien
2. Membuat jadwal kunjungan dan kontrak waktu
3. Memberikan pengetahuan kepada orangtua tentang proses penyakit dan
metode terapi
4. Pengelolaan proses terapi yang menyangkut pengawasan dan pembinaan
terapis
a. Tindakan
1. Melakukan pengkajian pada klien
2. Melakukan intervensi kepada klien dengan cara mengajarkan anak autis
melatih merawat diri : Kebersihan badan, Makan dan minum, Berpakaian,
Berhias, Keselamatan diri, Adaptasi lingkungan (Mengenal keluarga
dekat, Mengenal guru/pelatih, Mengenal dan bermain bersama teman)
3. Melakukan terapi
a. Terapi okupasi terpusat pada pendekatan sensori atau motorik atau
kombinasinya untuk memperbaiki kemampuan anak untuk merasakan
sentuhan, rasa, bunyi, dan gerakan. Terapi juga meliputi permainan
dan keterampilan sosial, melatih kekuatan tangan, genggaman, kognitif
dan mengikuti arah. Ini juga berlaku untuk anak dengan retardasi
mental dan anak berkebutuhan khusus lainnya.
b. Terapi Sensori Integrasi untuk meningkatkan kematangan susunan
saraf pusat,sehingga lebih mampu untuk memperbaiki struktur dan
fungsi.
c. Terapi bicara
d. Terapi bermain

e. Terapi perilaku
f. Terapi biomedik
g. Terapi perilaku
h. Terapi aktifitas keseharian
4. Memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga terkait perawatan
yang telah dilakukan bersama klien, memotivasi keluarga, dan
menyarankan agar anaknya disekolahkan di SLB

B. Retardasi Mental
Anak dengan retardasi mental perlu penanganan multidimensi. Sebaiknya dibuat
rancangan suatu strategi pendekatan bagi setiap anak secara individual untuk
mengembangkan potensi anak seoptimal mungkin. Prosedur yang dilakukan:
a. Terapi perilaku seperti makan, berpakaian, toileting, dan keterampilan
sosial (bermain dan interaksi dengan orang lain)
b. Reinforcement positif. Memperhatikan, memuji anak dan memberikan
hadiah apabila setiap kali anak menunjukkan perilaku yang diinginkan
atau berusaha untuk belajar
c. Modelling. Menujukkan bagaimana cara melakukan sesuatu dan
mendorong anak untuk memulai melakukan hal yang sama .
d. Chaining. Melatih sebuah kegiatan (seperti mandi), yang dipecah
menjadi beberapa langkah yang berurutan.
e. Pysical Guidance. Jika anak tidak dapat belajar dengan cara modelling,
maka ia dapat diajarkan dengan cara memegang tangan anak dan
menunjukkan bagaimana suatu hal tersebut dilakukan.
f. Terapi

Bicara.

Melatih kemampuan bicara anak sehingga ia mampu

berkomunikasi dengan baik dengan orang-orang disekitarnya.


g. Terapi music. Bertujuan agar dapat meningkatkan kualitas fisik dan mental
dengan rangsangan suara yang terdiri dari melodi, ritme, dan harmoni yang

diorganisir sedemikian rupa


h. Terapi sensori intergrasi. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan ketrampilan
dasar dirumah, seperti membaca, menulis dan berhitung
i. Terapi bermain
Untuk keluarga, berikan pendidikan kepada keluarga untuk melanjutkan terapi ini selama
tidak ada perawat, sehingga bisa dilakukan sesuai dengan kegiatan sehari-hari klien.
Berikan motivasi kepada keluarga dalam melakukan perawatan pada klien. Apabila ada
gangguan kesehatan pada anak, langsung bawa kepada pelayanan kesehatan terdekat.
http://cae-indonesia.com/terapi-anak-autis-di-rumah/. Diakses pada tanggal 21
maret 2015
Jurnal keperawaitan Indonesia, Volume 15, No.2, Juli 2012; hal 89-96. Kemampuan
Perawatan Diri Anak Tuna Grahita Berdasarkan Faktor Eksternal dan
Internal Anak.