Anda di halaman 1dari 8

Tugas Hukum Islam

(Aqidah, Syariah, dan Fiqih)

Disusun Oleh:
Ihsan Jani Syamsi
B111 13 083

Fakultas Hukum
Universitas Hasanuddin

Definisi Aqidah
1. Pengertian Aqidah Secara Bahasa (Etimologi)
Kata "Aqidah" diambil dari kata dasar "al-aqdu" yaitu ar-rabth (ikatan), al-Ibraamalihkam (pengesahan), (penguatan), at-tawatstsuq (menjadi kokoh, kuat), asy-syaddu
biquwwah (pengikatan dengan kuat), at-tamaasuk(pengokohan) dan al-itsbaatu (penetapan).
Di antaranya juga mempunyai arti al-yaqiin (keyakinan) dan al-jazmu (penetapan).
"Al-Aqdu" (ikatan) lawan kata dari al-hallu(penguraian, pelepasan). Dan kata
tersebut diambil dari kata kerja: " Aqadahu" "Ya'qiduhu" (mengikatnya), " Aqdan" (ikatan
sumpah), dan " Uqdatun Nikah" (ikatan menikah). Allah Ta'ala berfirman, "Allah tidak
menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah),
tetapi dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja ..." (Al-Maaidah : 89).
Aqidah artinya ketetapan yang tidak ada keraguan pada orang yang mengambil
keputusan. Sedang pengertian aqidah dalam agama maksudnya adalah berkaitan dengan
keyakinan bukan perbuatan. Seperti aqidah dengan adanya Allah dan diutusnya pada Rasul.
Bentuk jamak dari aqidah adalah aqa-id. (Lihat kamus bahasa: Lisaanul Arab, al-Qaamuusul
Muhiith dan al-Mu'jamul Wasiith: (bab: Aqada).
Jadi kesimpulannya, apa yang telah menjadi ketetapan hati seorang secara pasti adalah
aqidah; baik itu benar ataupun salah.
2. Pengertian Aqidah Secara Istilah (Terminologi)
Yaitu perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya,
sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidka tercampuri oleh
keraguan dan kebimbangan.
Dengan kata lain, keimanan yang pasti tidak terkandung suatu keraguan apapun pada
orang yang menyakininya. Dan harus sesuai dengan kenyataannya; yang tidak menerima
keraguan atau prasangka. Jika hal tersebut tidak sampai pada singkat keyakinan yang kokoh,
maka tidak dinamakan aqidah. Dinamakan aqidah, karena orang itu mengikat hatinya diatas
hal tersebut.
Aqidah Islamiyyah:
Maknanya adalah keimanan yang pasti teguh dengan Rububiyyah Allah Ta'ala,
Uluhiyyah-Nya, para Rasul-Nya, hari Kiamat, takdir baik maupun buruk, semua yang
terdapat dalam masalah yang ghaib, pokok-pokok agama dan apa yang sudah
disepakati oleh Salafush Shalih dengan ketundukkan yang bulat kepada Allah Ta'ala
baik dalam perintah-Nya, hukum-Nya maupun ketaatan kepada-Nya serta meneladani
Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam.

Nama lain Aqidah Islamiyyah:


Menurut Ahlus Sunnah wal Jama'ah, sinonimnya aqidah Islamiyyah
mempunyai nama lain, di antaranya, at-Tauhid, as-Sunnah, Ushuluddiin, al-Fiqbul
Akbar, Asy-Syari'iah dan al-Iman.

Defenisi Syariah
Secara etimologi syariah berarti aturan atau ketetapan yang Allah perintahkan kepada
hamba-hamba-Nya, seperti: puasa, shalat, haji, zakat dan seluruh kebajikan. Kata syariat
berasal dari kata syara al-syaiu yang berarti menerangkan atau menjelaskan sesuatu. Atau
berasal dari kata syirah dan syariah yang berarti suatu tempat yang dijadikan sarana untuk
mengambil air secara langsung sehingga orang yang mengambilnya tidak memerlukan
bantuan alat lain. Syariat dalam istilah syari hukum-hukum Allah yang disyariatkan kepada
hamba-hamba-Nya, baik hukum-hukum dalam Al-Quran dan sunnah nabi Saw dari
perkataan, perbuatan dan penetapan. Syariat dalam penjelasan Qardhawi adalah hukumhukum Allah yang ditetapkan berdasarkan dalil-dalil Al-Quran dan sunnah serta dalil-dalil
yang berkaitan dengan keduanya seperti ijma dan qiyas. Syariat Islam dalam istilah adalah
apa-apa yang disyariatkan Allah kepada hamba-hamba-Nya dari keyakinan (aqidah), ibadah,
akhlak, muamalah, sistem kehidupan dengan dimensi yang berbeda-beda untuk meraih
keselamatan di dunia dan akhirat.
Demikian juga istilah hukum Islam sering diidentikkan dengan kata norma Islam
dan ajaran Islam. Dengan demikian, padanan kata ini dalam bahasa Arab barangkali adalah
kata al-syariah. Namun, ada juga yang mengartikan kata hukum Islam dengan norma yang
berkaitan dengan tingkah laku, yang padanannya barangkali adalah al-fiqh.
Penjabaran lebih luas dapat dijelaskan sebagai berikut: bahwa kalau diidentikkan dengan kata
al-syariah, hukum Islam secara umum dapat diartikan dalam arti luas dan dalam arti
sempit.
1. Syari'ah Dalam Arti Luas

Dalam arti luas al-syariah berarti seluruh ajaran Islam yang berupa norma-norma
ilahiyah, baik yang mengatur tingkah laku batin (sistem kepercayaan/doktrinal) maupun
tingkah laku konkrit (legal-formal) yang individual dan kolektif.
Dalam arti ini, al-syariah identik dengan din, yang berarti meliputi seluruh cabang
pengetahuan keagamaan Islam, seperti kalam, tasawuf, tafsir, hadis, fikih, usul fikih, dan
seterusnya. (Akidah, Akhlak dan Fikih).
2. Syari'ah Dalam Arti Sempit
Dalam arti sempit al-syariah berarti norma-norma yang mengatur sistem tingkah laku
individual maupun tingkah laku kolektif. Berdasarkan pengertian ini, al-syariah dibatasi
hanya meliputi ilmu fikih dan usul fikih. Syari'ah dalam arti sempit (fikih) itu sendiri dapat
dibagi menjadi empat bidang:

ibadah
muamalah
uqubah dan
lainnya.

DEFINISI FIQIH
1. Pengertian Fiqh
FIQIH secara bahasa Arab berasal dari kata FAQIHA, FAQOHA,
YAFQOHU, artinya faham betul tentang sesuatu. Pengertian ini tercermin pula di dalam surat
Annisa: 78 sbb :

(Artinya : Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak
memahami pembicaraan sedikit pun?)
serta tercermin pula di dalam hadits Muslim No.1437, Hadits Ahmad No.17598, Hadits
Darimi No.1511 yang artinya sbb :
Rosululloh SAW bersabda, Sesungguhnya panjangnya shalat dan pendeknya khutbah
seseorang, merupakan tanda akan kepahamannya (fiqihnya)
2. Fiqih Secara Istilah Mengandung Dua Arti, yaitu :
Pertama, artinya pengetahuan tentang hukum-hukum syariat yang berkaitan dengan
perbuatan dan perkataan mukallaf (mereka yang sudah terbebani menjalankan syariat
agama), yang diambil dari dalil-dalilnya yang bersifat terperinci, berupa nash-nash al Quran

dan As sunnah serta yang bercabang dari keduanya yang berupa ijma dan ijtihad. Dalam
pengertian ini fiqih digunakan untuk mengetahui hukum-hukum (seperti seseorang ingin
mengetahui apakah suatu perbuatan itu wajib atau sunnah, haram atau makruh, ataukah
mubah, ditinjau dari dalil-dalil yang ada).
Kedua, artinya hukum-hukum syariat, yaitu hukum apa saja yang terkandung dalam
shalat, zakat, puasa, haji, dan lainnya berupa syarat-syarat, rukun-rukun, kewajibankewajiban, atau sunnah-sunnahnya).
Fiqh Islam Mencakup Seluruh Perbuatan Manusia, karena kehidupan manusia
meliputi segala aspek. Fiqih Islam adalah ungkapan tentang hukum-hukum yang Allah
syariatkan kepada para hamba-Nya, demi mengayomi seluruh kemaslahatan mereka dan
mencegah timbulnya kerusakan ditengah-tengah mereka, maka fiqih Islam datang
memperhatikan aspek tersebut dan mengatur seluruh kebutuhan manusia beserta hukumhukumnya.
Untuk memudahkan pembahasan maka hukum fiqih diuraikan menjadi beberapa bagian :
1)
Fiqih Ibadah, yaitu hukum-hukum yang berkaitan dengan ibadah kepada Allah. Seperti
wudhu, shalat, puasa, haji dan yang lainnya.
2)
Fiqih Al Ahwal As Sakhsiyah, yaitu hukum-hukum yang berkaitan dengan masalah
kekeluargaan, seperti pernikahan, talaq, nasab, persusuan, nafkah, warisan dan yang lainya.
3)
Fiqih Muamalah, yaitu hukum-hukum yang berkaitan dengan perbuatan manusia dan
hubungan diantara sesama manusia, seperti jual beli, jaminan, sewa menyewa, pengadilan
dan yang lainnya.
4)
Fiqih Siasah Syariyyah, yaitu hukum-hukum yang berkaitan dengan kewajibankewajiban pemimpin (kepala negara), seperti menegakan keadilan, memberantas kedzaliman
dan menerapkan hukum-hukum syariat, serta yang berkaitan dengan kewajiban-kewajiban
rakyat yang dipimpin, seperti kewajiban taat dalam hal yang bukan masiat, dan yang lainnya.
5)
Fiqih Al Uqubat, yaitu hukum-hukum yang berkaitan dengan hukuman terhadap
pelaku-pelaku kejahatan, serta penjagaan keamanan dan ketertiban, seperti hukuman terhadap
pembunuh, pencuri, pemabuk, dan yang lainnya.
6)
Fiqih As Siyar, yaitu hukum-hukum yang mengatur hubungan negeri Islam dengan
negeri lainnya, biasanya berkaitan dengan pembahasan tentang perang atau damai dan yang
lainnya.
7)
Fiqih Akhlak atau Adab, yaitu hukum-hukum yang berkaitan dengan akhlak dan
prilaku, yang baik maupun yang buruk.

HUBUNGAN AKIDAH, SYARIAH DAN AKHLAK


Aqidah, Syariah dan akhlak pada dasarnya merupakan satu kesatuan dalam ajaran
Islam. Ketiga unsur tersebut dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Aqidah sebagai
sistem kepercayaan yang bermuatan elemen-elemen dasar keyakinan, menggambarkan
sumber dan hakikat keberadaan agama. Sementara syariah sebagai system nilai berisi
peraturan yang menggambarkan fungsi agama. Sedangkan akhlak sebagai sistematika
menggambarkan arah dan tujuan yang hendak dicapai agama.
Dalam Qs. Ibrahim : 4-27 Alloh memberkan ilustrasi tentang hubungan
aqidah, syariah dan akhlak, diumpamakan seperti hubungan akar batang dan
buah ( kasajarotin toyyibah )

antara yang

satu dengan yang lain saling

membutuhkan dan tidak dapat dipisahkan.


KESIMPULAN
Aqidah, syariah dan akhlak dalam Al-Quran disebut amal saleh. Iman menunjukkan
makna aqidah sedangkan amal saleh menunjukkan pengertian syariah dan akhlak.
Seseorang yang melakukan perbuatan baik, tetapi tidak dilandasi aqidah,maka
perbuatannya hanya dikategorikan sebagai perbuatan baik. Perbuatan baik adalah perbuatan
yang sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, tetapi belum tentu dipandang benar oleh Allah
SWT. Sedangkan perbuatan baik yang didorong oleh keimanan terhadap Allah sebagai wujud
pelaksanaan syariah disebut amal saleh. Karena itu didalam Al-Quran kata amal saleh selalu
diawali dengan kata iman.
Akidah dengan syariah itu tidak dapat di pisahkan (bisa di bedakan tetapi tidak dapat di
pisahkan). Akidah sebagai akarnya dan syariah sebagai batang dan dahan dahannya.
Seseorang yang beriman tanpa menjalankan syariah adalah fasik. Sedangkan bersyariah tetapi

berakidah yang bertentangan dengan akidah islamiah adalah munafik. Dan seseorang yang
tidak berakidah dan bersyariah islamiah adalah kafir.
Muslim yang baik adalah orang yang memiliki aqidah yang lurus dan kuat yang
mendorongnya untuk melaksanakan syariah yang hanya ditujukan pada Allah sehingga
tergambar akhlak terpuji pada dirinya.
Akidah dengan seluruh cabangnya tanpa akhlak adalah seumpama sebatang pohon yang
tidak dapat dijadikan tempat perlindung kepanasan, untuk berteduh kehujanan dan tidak ada
pula buahnya yang dapat dipetik, sebaliknya akhlak tanpa akidah hanya merupakan
bayangan-bayangan bagi benda yang tidak tetap yang selalu bergerak.
Atas dasar hubungan itu, maka seseorang yang melakukan suatu perbuatan baik, tetapi
tidak dilandasi oleh aqidah atau keimanan, maka orang itu termasuk kedalam kategori kafir.
Seseorang yang mengaku beraqidah atau beriman, tetapi tidak mau melaksanakan syariah,
maka orang tersebut disebut fasik. Sedangkan orang yang mengaku beriman dan
melaksanakan syariah tetapi dengan landasan aqidah yang tidak lurus disebut munafik.