Anda di halaman 1dari 3

NAMA

NIM
SHIFT
KELOMPOK

: ABIYYU AHMAD
: 03121403056
: RABU (13:00)
:4

PROSES PEMISAHAN GLISERIN DAN SABUN


Produk hasil reaksi penyabunan atau saponifikasi adalah produk utama
yaitu sabun atau soap dan gliserin sebagai produk samping. Pada dasarnya proses
pemisahan antara sabun dan gliserin dapat dilakukan dengan cara manual yaitu
berdasarkan massa jenis. Karena pada kenyataannya, reaksi saponifikasi
ditambahkan sejumlah garam NaCl sebagai katalis yang berfungsi agar sabun dan
gliserin dapat terpisah. Sehingga produk sabun berfase padat sementara gliserin
berfase cair. Sehingga pemisahan dapat dilakuakan dengan peralatan pemisah
secara fisik seperti centrifuge, corong pemisah, dll.
Pada pembahasan kali ini telah dilakukan penemuan mengenai metode
pemisahan sabun dan gliserin oleh Benjamin H, Thurman pada 1937. Pada
patennya, beliau menjelaskan bahwa pemisahan gliserin pada pembuatan
sabunskala industry biasa dilakukan dengan menggunkan proses penguapan untuk
menghilangkan kandungan gliserin dan air, namun hal tersebut memakan banyak
biaya karena meiliki bayak kekurangan dari segi operasinya. Karena permasalah
utamanya terdapat pada proses pemanasan, dimana apabila suhu yang digunakan
terlalu tinggi ditakutkan kandungan protein yang tidak larut dapat hancur pada
temperature tinggi dan dapat menyebabkan timbulnya warna dan impuritis yang
dapat menurunkan kualitas sabun. Hal tersebut menurut Thurman pada
aplikasinya dapat dihilangkan dengan dengan penguapan atau pencucian pada
tahap akhir treatment sabun, dan akan menambah biaya operasi.
Pada penemuannya kali ini Thurman memperkenalkan sekaligus
menjelaskan tentang beberapa peralatan recovery atau recycle prosuk saponifikasi
pada proses kontinu. Dimana yang dititikberatkan ada pada beberapa hal yaitu
mekanisme pemompaan atau aliran antara tanki berisi zat saponifikasi dengan coil
yang bertindak sebagai pemanas.Pada flowsheet yang disediakan terlihat bahwa
apparatus pembuatan sabun tersebut terdiri dari 2 buah tanki reaktor berpengaduk
dengan jaket pemanas yang digunakan sebagai tempat terjadi reaksi saponifikasi.
Dimana 2 tanki bekerja secara bergantian dengan control valve untuk kelancaran
dalam proses kontinu. Lalu zat keluaran tersebut akan dipompa melalui media

koil-koil yang terdapat pada sebuah bejana untuk dimanfaatkan panasnya.


Terakhir, terdapat sebuah tanki besar tempat terjadinya penguapan senyawa
impuritis seperti gliserin dan air dengan kondisi vakum serta dilengkapi dengan
jaket pemanas. Keluaran atas dari tanki penguapan tersebut akan menuju
kondensor untuk mendinginkan senyawa volatil tersebut, sedangkan keluaran
bawah akan menuju screw conveyor ganda dengan jaket yang berfungsi sebagai
pendingin maupun pemanas, kedua conveyor tersebut berposisi horizontal dan
vertikal sebagai media transport sabun yang berbentuk lelehan atau slurry.
Pada proses pemisahan gliserin di apparatus ini, saat keluaran produk
reactor saponifikasi melalui coil untuk dipanaskan, juga diberi panas apabila akan
dilakukan recovery pada gliserin. Dimana pada tanki tersebut juga terdapat burner
yang fungsinya sebagai pemanas tambahan. Pemanasan ini bertujuan untuk
membentuk uap air dan gliserin pada saat aliran berada pada coil. Sehingga akan
meningkatkan persentase uap gliserin pada tanki penguapan.
Untuk mengurangi resiko terbentuknya sabun dengan bentuk bubuk
dengan kandungan beberapa kandungan impuritis yang tidak menguap yang akan
menjadi kerak dan sulit untuk dihilangkan. Sabun harus segera di keluarkan dari
tanki penguapan. Produk dari saponifikasi yang akan memasuki tanki pemanas
akan masuk dengan metode spray ganda yang tujuannya adalah untuk
memperluas permukaan sehingga menaikkan tekanan uap dan panas laten dari
gliserin dan air. Pada proses kondensasi uap air dan gliserin pun terdapat recyle
apabila masih terdapat padatan yang masuk pada kondensor.
Kondisi operasi yang digunakan pada reactor adalah 150 212 oF dan
suhu pada coil dan tangki penguapan adalah 450 oF dan 620 oF. Tujuan
dilakukannya recovery gliserin ini adalah untuk menghilangkan kandungan zat
warna akibat rusaknya protein maupun dati impuritis, sehingga didapatkan sabun
dengan warna yang jernih.dan waktu penguapan pada tanki penguapan tidak lebih
dari 2 5 menit hal ini dilakukan karena sabun akan meleleh pada suhu 455 oF .
Dengan kondisi tersebut Thomas mengatakan bahwa proses tersebut dapat
diterapkan pada industri sabun, namun masih ada yang harus ditinjau dari segi
waktu reaksi pada reaktor saponifikasi pada proses kontinu tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Thurman, B, H. 1937. Process for The Continuous Recovery of Glycerine from
Soap. United States Patent Office.
http://www.google.com/patent/search/file?file=digital/ US2179001.pdf.
(Diakses pada 15 Maret 2015).