Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kelenjar tiroid adalah kelenjar yang berkonsistensi lembut, berwarna
merah coklat, berbentuk H, terbentuk dari dua lobus lateral, kiri dan kanan, dan
bagian ismus1. Kelenjar tiroid termasuk bagian tubuh yang jarang mengalami
keganasan, terjadi 0,85% dan 2,5% dari seluruh keganasan pada pria dan wanita.
Diantara kelenjar endokrin, keganasan tiroid termasuk jenis keganasan kelenjar
endokrin yang paling sering ditemukan2. Berdasarkan data dari Badan Registrasi
Kanker Perhimpunan Dokter Ahli Patologi Indonesia tahun 1998 di 13 rumah
sakit di Indonesia di dapatkan bahwa kanker tiroid menduduki posisi kesembilan
sebesar 3%3.
Prevalensi
Di Amerika Serikat insiden karsinoma tiroid pada tahun 1970 adalah4:
-

5,5/100.000 pada wanita


2,4/100.000 pada laki-laki
Dan terbanyak pada usia 25-65 tahun.
Berdasarkan histopatologi, kanker tiroid dapat diklasifikasikan sebagai

berikut4,5:
1.
2.
3.
4.

Well diferentiated carcinoma


Undifferentiated carcinoma (anaplastic)
Karsinoma meduler
Tumor ganas lainnya

Sebesar 75% kasus kanker tiroid yang sering terjadi merupakan karsinoma
berdiferensiasi baik, 20% merupakan karsinoma berdiferensiasi buruk, 4%
merupakan adenokarsinoma medular, dan sisanya merupakan tumor ganas lain.
Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini dilakukan bertujuan untuk
mengklasifikasikan kanker tiroid berdasarkan histopatologi di Rumah Sakit
Umum Daerah Soedarso pada periode tahun 2009-2012.
B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah klasifikasikan kanker tiroid


berdasarkan histopatologi di Rumah Sakit Umum Daerah Soedarso pada periode
tahun 2009-2012.
C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan umum
Mengetahui klasifikasikan kanker tiroid berdasarkan histopatologi di
Rumah Sakit Umum Daerah Soedarso pada periode tahun 2009-2012.
C.2. Tujuan khusus
C.2.a. Mengetahui jumlah kasus tumor tiroid di RSUD Soedarso pada
periode.
C.2.b. Mengklasifikasikan kanker tiroid berdasarkan histopatologi di
Rumah Sakit Umum Daerah Soedarso pada periode tahun 2009-2012.
D. Manfaat Penelitian
D.1. Bagi Dinas Kesehatan
Memberikan gambaran mengenai klasifikasikan kanker tiroid berdasarkan
histopatologi di Rumah Sakit Umum Daerah Soedarso pada periode tahun
2009-2012.
D.2. Bagi Institusi Pendidikan
Memberikan informasi sebagai bahan kepustakaan untuk penelitian lebih
lanjut mengenai Tumor tiroid dan upaya pencegahannya.
D.3. Bagi Masyarakat
Memberikan informasi mengenai Kanker tiroid.
D.4. Bagi Peneliti
Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan penulisan dalam penelitian
ilmiah di bidang kesehatan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.1. Anatomi Tiroid


Kelenjar tiroid terletak di leher di antara fasia koli media dan fasia
vertebralis. Di dalam ruang yang sama terdapat trakea, esofagus, pembuluh darah
besar, dan saraf. Kelenjar tiroid melekat pada trakea dan fascia prethachealis, dan
melingkari trakea dua pertiga bahkan sampai tiga perempat lingkaran.
Kelenjar tiroid kaya vaskularisasi, yaitu yang berasal dari empat sumber,
arteri karotis superior kanan dan kiri, cabang arteri karotis eksterna kanan dan kiri,
kedua arteri tiroidea inferior kanan dan kiri, dan cabang arteri bkakialis. Adapun
sistem venanya terdiri atas vena tiroidea superior, yang berjalan bersama
arterinya; vena tiroidea media, yang berada di lateral dan berdekatan dengan arteri
tiroidea inferior, yang berada dalam satu arah dengan arteri tiroidea ima. Terdapat
dua saraf yang mensarafi lating dengan pita suara (plica vocalis), yaitu nervus
rekurens dan cabang nervus laringeus superior5.
A.2. Karsinoma tiroid
Di Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, termasuk urutan kelima
setelah keganasan jenis lainnya. Penyakit ini tumbuuh dan berkembang secara
lambat dan seringkali melakukan residif local, invasi local dengan mortalitas yang
rendah, sebagian kecil dapat pula tumbuh dengan cepat dan berakhir fatal. Karena
variasi yang begitu luas dari derajat keganasan tumor ini timbullah berbagai
macam pertentangan pendapat mengenai penatalaksanaan karsinoma ini di
berbagai pusat penanggulangan penyakit kanker dunia ini5.
A.3. Epidemiologi
Insiden karsinoma tiroid di Indonesia belum diketahui hingga sekarang,
disebabkan belum adanya pendataan keganasan yang terpadu (sentralisasi pada
Badan Litbang Departemen Kesehatan RI. Yang ada ialah pendataan kanker di
berbagai rumah sakit atau lembaga pendidikan di Indonesia yang bervariasi dari
satu angka ke angka yang lan).
Di Amerika Serikat insiden karsinoma tiroid pada tahun 1970 adalah:

5,5/100.000 pada wanita


2,4/100.000 pada laki-laki
Dan terbanyak pada usia 25-65 tahun
Di Indonesia, Tambunan di Jakarta. Menemukan 2,4% kasus keganasan

dari 322 tumor tiroid selama tahun 1963 s/d 1969. Syarwani di Surabaya tahun
1973 menemukan 15% keganasan dari 180 tumor tiroid; Ramli dkk di Jakarta
tahun 1978 menemukan 15% keganasan dari 601 kasus tumor tiroid selama 10
tahun (1969 s/d 1978); Reksoprawiro dkk di Surabaya tahun 1982 menemukan
keganasan 16,12% dari 397 kasus tumor tiroid d Surabaya; SImanjuntak dkk di
Jakarta menemukan 18,3% keganasan pada 60 kasus dengan tonjolan tunggal
pada tiroid pada tahun 1982, dan Tjindarbumi dkk menemukan 10,7% keganasan
dari 964 tumor tiroid selama 5 tahun (1980 s/d 1984) di RS Dr. Cipto
Mangunkusumo Jakarta.
Bila dibandingkan angka yang didapatkan oleh penulis luar negeri seperti
Hirabayashi (1960) dengan angka 6,6%, Winship (1971) dengan angka yang
berkisar antara 3,6% - 17,1% dan Crile (1975) dengan angka 3%, maka angkaangka penulis dari Indonesia menunjukkan frekuensi yang agak lebih tinggi dari
luar negeri, kemungkinan penyebabnya masih harus diteliti lebih lanjut.
Berdasarkan distribusi seks, didapatkan wanita lebih banyak dari laki-laki
= 9:2, penulis-penulis lain seperti Syarwani (1973) menemukan 7:2,
Reksoprawiro (1982) menemukan 5:1. Penulis luar negeri Hazart dkk 3:1,
McKenzie 5:1.
Menurut distribusi umur, kasus-kasus di RSCM Jakarta tersering berkisar pada
umur 40-60 tahun (1984). Winship (1967) mengemukakan umur yang tersering
adalah antara 50-70 tahun.
A.4. Etiologi
Tiga penyebab yang sudah jelas dapat menimbulkan karsinoma tiroid:

1. Kenaikan sekresi hormone TSH (thyroid Stimulating Hormon) dari


kelenjar hipofise anterior disebabkan berkurangnya sekresi hormone T3
dan T4 dari kelenjar tiroid oleh karena kurangnya intake yodium. Ini
menyebabkan tiroid yang abnormal dapat berubah menjadi kanker.
2. Radiai ion pada leher terutama anak-anak yang pernah mendapat terapi
radiasi di leher dan mediastinum.
3. Faktor genetic
A.5. Klasifikasi Karsinoma Tiroid
Banyak cara klasifikasi karsinoma tiroid yang dapat ditemukan dalam
kepustakaan. Klasifikasi terbaru berdasarkan pembagian histopatologi menurut
Brennan dan Bloomer (1982).
1. Well differentiated carcinoma (75%)
- Adenokarsinoma papiler
- Adenokarsinoma folikuler
- Hurthle cell carcinoma
2. Undifferentiated carcinoma (anaplastic) (20%)
- Small cell carcinoma
- Giant cell carcinoma
3. Karsinoma meduler (4%)
4. Tumor ganas lainnya (1%)
- Sarcoma
- Limfoma
- Karsinoma epidermoid
- Metastasis tumor
- Teratoma malignan
Di sini diuraikan dengan ringkas masing-masing tipe yang sering
ditemukan di Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo atau Fakultas kedokteran
Universitas Indonesia.
1. Well differentiated carcinoma
- Adenokarsinoma papiler
Umumnya tipe ini tumbuh lambat, bertahun-tahun, termasuk golongan
yang berdiferensiasi baik, biasanya terdapat pada usia kurang dari 40 tahun
berbeda dengan tipe folikuler yang banyak pada usia di atas 40 tahun,
walaupun dapat terjadi di segala usia.

Tipe ini merupakan golongan terbesar dari karsinoma tiroid (Mckenzie


57%, Ramli M. dkk 48%, Tjindarbumi dkk 52%)
Gambaran histopatologik yang karakteristik, adalah ditemukannya struktur
papiler dari sel-sel ganas yang uniform, baik ukuran maupun intinya.
Kadang-kadang tipe ini disertai adanya struktur folikuler atau psamoma
bodies di tengah-tengah struktur yang papiler. Penyebaran utama melalui
system kelenjar getah bening regional. Dapat juga bermetastatis jauh ke
paru-paru dan tulang.
Occult papillary karinoma hanya diketahui secara kebetulan waktu
operasi; karena ukurannya yang kecil, yaitu kurang dari 1,5 cm. Intra
thyroid papillary carcinoma masih terbatas pada jaringan kelenjar tiroid.
Extra thyroid papillary carcinoma sudah menembus kapsul kelenjar
-

gondok dan menfiltrasi jaringan sekitarnya.


Adenokarsinoma folikuler
Golongan terbanak kedua setelah adenokarsinoma papiler (McKenzie
22,5%), Ramli M. dkk 19,2, Tjindarbumi (26%). Lebih ganas dari
golongan pertama. Dapat ditemukan disemua umur, tapi lebih banyak pada
usia diatas 40 tahun, lebih sering unilateral daripada bilateral.
Histopatologik memperlihatkan struktur sel tiroid yang merupakan folikelfolikel.
Penyebaran terutama melalui system pembuluh darah (hematogen).
Metastatis jauh ke paru-paru, tulang dan alat visera lainnya seperti hepar
dapat cepat terjadi. Kemungkinan untuk menjalani transformasi menjadi
karsinoma anaplastik adalah dua kali lebih besar dari tipe adenokarsinoma

papiler.
2. Undifferentiated carcinoma (anaplastic)
Karsinoma anaplastik
Perjalanan penyakit ini cepat dan biasanya fatal. Dalam beberapa minggu
atau bulan sudah menyebabkan keluhan-keluhan akibat penekanan dan
invasi karsinoma. Keadaan umum cepat mengadakan metastatis jauh. Tipe
ini secara histopatologik terdiri dari anaplastic spindle yang giant cell atau
small cell.

Sel-sel ini bervariasi dalam ukuran, bentuk dan inti. Banyak ditemukan
mitosis. Penyebaran melalui system kelenjar getah bening dan
bermetastatis jauh.
3. Karsinoma meduler
Sering ditemukan pada penderita usia tua (50-60 tahun). Karsinoma
berasal dari sel C atau parafolikuler kelenjar gondok yang banyak
mengandung amiloid, yang merupakan sifat khasnya, disamping itu tumor
ini mengeluarkan kalsitonin, ACTH, prostaglandin dan histamine. Sel
Cdisebut juga sel APUD (amine precursor up take and decarboxylation
cell) sehingga tipe ini disebut pula APUDOMA. Disebut juga karsinoma
solidum karena jenis ini sangat keras seperti batu. Sering di dapatkan
bersamaan dengan penyakit atau golongan hormonal lainnya seperti
adenoma paratiroid, feokromositoma. Tipe ini bersifat familial dan
herediter. Penyebaran melalui sistem getah bening.
4. Tumor-tumor ganas lainnya
- Sarcoma
- Limfoma
- Karsinoma epidermoid
- Metastatis
- Teratoma malignum
A.6. Cara pemeriksaan untuk membedakan neoplasma dari kelainan lain
1. Ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ini dapat membedakan kista terhadap kelainan lainnya pada
kelenjar gondok. Clark mengemukakan bahwa angka ini sangat rendah.
Keuntungan dari pemeriksaan ini ialah kista dapat dideteksi dengan
penampang 1-2mm.
2. Scanning tiroid
Dasar pemeriksaan ini adalah uptake dan distribusi Yodium radioaktif
dalam kelenjar gondok. Pemeriksaan ini dimulai oleh Cassen dkk tahun
1951. Yang dapat dilihat dari pemeriksaan ini adalah bentuk, besar dan
letak kelenjar tiiroid serta distribusi dalam kelenjar. Juga dapat diukur
uptake yodiumnya dalam waktu 3, 12, 24, dan 24 jam.
Penelitian Asmara dari Jakarta tahun 1977 dengan 124 kasus dilakukan
scanning di rumah sakit CIpto Mangunkusumo, yaitu 22 kasus

menunjukkan karsinoma pada cold nodule dan dari 24 kasus karsinoma


yang diketemukan tidak ada yang menunjukkan hot nodule.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah minimal 1/6 (15%) kasus dengan
cold nodule pada nodul soliter tiroid menunjukkan keganasan. Penulis luar
negeri lain seperti Kazt (1976) menemukan 22,2% keganasan dari cold
nodule pada kelenjar soliter tirod.
Kelemahan pada penggunaan scanning tiroid ialah hasilnya kurang dapat
dipercaya pada nodule yang lebih kecil dari 2cm.
3. Fine nodule aspiration biopsy (FNAB)
Merupakan tindakan yang mudah dan aman hanya harus diperiksa oleh
seorang sitolog yang berpengalaman. Ditangan seorang ahli, hasil
ketepatan FNAB dapat mencapai 75-95%.
4. Biopsy
Yang terbaik adalah pemeriksaan secara biopsy dengan atau tanpa potong
beku. Dengan cara ini dapat dilihat secara makroskopis saja bagian mana
dari nodul yang dikeluarkan itu sudah mengalami perubahan struktur,
sehingga ahli patologi dapat diarahkan untuk pemeriksaan bagian yang
mencurigakan keganasan.

KLASIFIKASI

KANKER TIROID

BERDASARKAN

HISTOPATOLOGI

DI RSUD

SOEDARSO

PADA PERIODE

TAHUN 2009-2012

VANI KARTIKASARI
I11109029
USULAN PENELITIAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2013

1. buku ajar onkologi klinis


2. IPD
3. pedoman pengendalian penyakit kanker
4. kuliah bedah
5. buku ajar bedah